Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. com/gk Volume 17. Nomor 1. Juni 2025 UJI SENSITIVITAS ANTIBIOTIK CIPROFLOXACIN DENGAN CEFIXIME PADA Escherichia coli : STUDI KASUS INFEKSI SALURAN KEMIH Triffit Imasari1. Nita Ermawati1. Frieti Vega Nela1. Salwa Fitri Senjani 1 D4 Teknologi Laboratorium Medis. Fakultas Teknologi dan Manajemen Kesehatan. Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri. Jl. KH Wachid Hasyim No. Bandar Lor. Kediri. Kota Kediri. Jawa Timur. Kode pos 64114 Info Artikel: Disubmit: 17-05-2025 Direvisi: 17-06-2025 Diterima: 17-06-2025 Dipublikasi: 20-06-2025 Penulis Korespondensi: Email: imasari@iik. Kata kunci: Eschericia coli. Cefixime. Ciprofloxacin. Infeksi Saluran Kemih DOI: 10. 47539/gk. ABSTRAK Keberadaan mikroorganisme dalam urin menjadi indikator utama infeksi saluran kemih (ISK). ISK disebabkan oleh berbagai macam bakteri seperti Eschericia coli. Klebsiella sp. Proteus sp. Providensia. Citrobacter. Pseudomonas aeruginosa. Acinetobacter. Enterococcus faecali, dan Staphylococcus saprophyticus. Lonjakan kasus resistensi antibiotik dan kemunculan patogen multidrugresistant (MDR) pada ISK berkorelasi erat dengan tingginya insiden pemberian terapi antibiotik empiris yang kurang tepat. Praktik peresepan antibiotik tanpa diawali uji mengakibatkan inefektivitas penanganan ISK. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bakteri E. coli sebagai penyebab ISK pada urin pasien penderita ISK serta membandingkan tingkat sensitivitas E. coli terhadap dua jenis antibiotik, yaitu Ciprofloxacin dan Cefixime. Metode yang digunakan adalah metode kultur dengan media Eosin Methilen Blue dan disk cakram. Sampel diperoleh sebanyak 13 sampel ISK dengan teknik accidental sampling. Hasil penelitian menunjukkan ada 9 sampel positif E. coli dan dengan tingkat sensitivitas pada antibiotik Ciprofloxacin sebanyak lima sampel . %) sensitif. Intermediet satu sampel . %). Resisten tiga sampel . %) dan uji sensitivitas antibiotik Cefixime resisten sembilan sampel . %). Penelitian ini disimpulkan pada penderita ISK ditemukan bakteri E. coli dan terdapatnya perbandingan antara hasil uji sensitivitas antibiotik Ciprofloxacin dan antibiotik Cefixim terhadap bakteri E. ABSTRACT The presence of microorganisms in urine is a primary indicator of a Urinary Tract Infection (UTI). UTIs are caused by various bacteria such as Escherichia coli. Klebsiella sp. Proteus sp. Providencia. Citrobacter. Pseudomonas aeruginosa. Acinetobacter. Enterococcus faecalis, and Staphylococcus The surge in antibiotic resistance cases and the emergence of multidrug-resistant (MDR) pathogens in UTIs are closely correlated with the high incidence of inappropriate empirical antibiotic The practice of prescribing antibiotics without prior testing leads to the ineffectiveness of UTI This research aimed to identify E. coli bacteria as a cause of UTIs in the urine of patients suffering from UTIs and to compare the sensitivity levels of E. coli to two types of antibiotics: Ciprofloxacin and Cefixime. The method was culture with Eosin Methylene Blue media and disk A total of 13 UTI samples were obtained using an accidental sampling technique. The research results showed that nine samples were positive for E. For Ciprofloxacin, five samples . %) were sensitive, 1 sample . %) was intermediate, and three samples . %) were resistant. For Cefixime, all nine samples . %) were resistant. This research concluded that E. coli bacteria were found in UTI patients, and there was a comparison between the sensitivity test results of Ciprofloxacin and Cefixime antibiotics against E. coli bacteria. Keywords : Eschericia coli. Cefixime. Ciprofloxacin. Urinary Tract Infection Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. com/gk Volume 17. Nomor 1. Juni 2025 PENDAHULUAN Keberadaan mikroorganisme dalam urin menjadi indikator utama infeksi saluran kemih (ISK), yang dapat melibatkan bagian atas maupun bawah dari sistem kemih. Dengan sekitar 8,3 juta kasus per tahun, menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). ISK menempati posisi kedua sebagai penyakit menular yang paling umum di seluruh dunia, setelah infeksi pernapasan (Amirudin and Sumariana, 2. Perbedaan anatomi antara pria dan wanita mempengaruhi risiko terjadinya infeksi saluran kemih. Wanita lebih rentan terhadap ISK karena uretranya yang lebih pendek, memungkinkan bakteri lebih mudah mencapai kandung kemih. ISK didiagnosis berdasarkan pertumbuhan dan proliferasi bakteri di saluran kemih, yang tercermin dalam tingginya jumlah bakteri dalam urin (Amirudin and Sumariana, 2. (Mano et al. , 2. Jumlah bakteri 105 CFU atau lebih didefinisikan sebagai ISK dengan ditandai keadaan poliuri, nyeri berkemih, dysuria (Widiyastuti and Soleha, 2. Sepertiga dari 1,7 juta penyakit yang didapat di rumah sakit setiap tahun adalah ISK (Kusbaryanto et al. , 2. Menurut estimasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 222 juta penduduk Indonesia terdiagnosis ISK, yang mengindikasikan tingkat prevalensi yang substansial. Data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia lebih lanjut menguraikan bahwa insidensi tahunan ISK mencapai antara 90 hingga 100 kasus per 100. 000 populasi, setara dengan sekitar 180. 000 kasus baru setiap tahun. Jumlah kasus ISK di Jawa Timur mencapai 3-4 kasus per 100. 000 penduduk per tahun (Nazmatur, 2. Menurut penelitian Widianingsih and Jesus, 2018 kasus ISK di RS Bhayangkara Kediri terdapat pasien ISK terinfeksi bakteri E. coli sebanyak 12 sampel dan Klebsiella spp sebanyak tiga sampel serta sebanyak 15 sampel tidak terdapat pertumbuhan bakteri. Prevalensi ISK juga menunjukkan perbedaan signifikan berdasarkan demografi, dengan wanita berusia di atas 65 tahun memiliki tingkat kejadian yang lebih tinggi 20% dibandingkan dengan populasi umum 11%. Selain itu, diperkirakan bahwa antara 50% hingga 60% wanita dewasa akan mengalami setidaknya satu episode ISK selama masa hidup mereka, dan hampir 10% wanita pascamenopause melaporkan pengalaman ISK dalam satu tahun terakhir (Widiyastuti and Soleha, 2. ISK sendiri disebabkan oleh berbagai macam bakteri seperti Eschericia coli. Klebsiella sp. Proteus sp. Providensia. Citrobacter. Pseudomonas aeruginosa. Acinetobacter. Enterococcus faecali, dan Staphylococcus saprophyticus. Sejumlah 95% ISK disebabkan oleh E. coli dan Enterococcus faecalis yang bertindak sebagai agen utama (Megawati. Prasetya and Sanjiwani, 2. Bakteri Gram negatif yang sering menyebabkan ISK yaitu E. Klebsiella sp. Proteus mirabilis. Pseudomonas sp (Widianingsih and Marcos De Jesus, 2. Terhitung sekitar 80% dari seluruh kasus agen etiologi paling dominan pada ISK adalah E. Sementara itu, bakteri lain seperti K. Citrobacter . Enterobacter spp. aeruginosa, dan Staphylococcus spp. juga berkontribusi pada ISK (Unok and Sabir Mangawing, 2. Secara umum 90% penyebab ISK adalah E. Penyakit ISK seringkali terabaikan oleh penderitanya karena dianggap sebagai penyakit lazim yang tidak memerlukan penanganan hingga tuntas. Kerusakan ginjal permanen merupakan salah satu komplikasi serius dari penundaan atau ketidaktepatan pengobatan ISK. Keberadaan bakteri di saluran Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. com/gk Volume 17. Nomor 1. Juni 2025 kemih, terutama dengan adanya obstruksi menyebabkan kemampuan sistem pertahanan alami saluran kemih untuk melawan infeksi dapat menurun. ISK yang tidak terkontrol berpotensi memicu inflamasi pada kandung kemih, yang kemudian dapat menyebar dan merusak ginjal (Yusnita et al. , 2. Munculnya bakteri MDR sebagai penyebab ISK dan resistensi antibiotik yang semakin mengkhawatirkan diperburuk oleh tingginya frekuensi penggunaan antibiotik empiris. Tanpa adanya uji kerentanan, antibiotik yang diresepkan seringkali tidak mampu mengatasi infeksi secara efektif (Unok and Sabir Mangawing, 2. Pemeriksaan kultur urin dianjurkan jika keluhan ISK berlanjut meski sudah diobati. Selain itu, jika gejala ISK sempat mereda namun kambuh lagi, penting untuk melakukan kultur urin beserta uji sensitivitas antimikroba. Meskipun gejala ISK sering kali ringan, pemberian antimikroba yang tidak tepat dapat memicu resistansi bakteri (Rinawati and Aulia, 2. Dalam penanganan infeksi saluran kemih yang umumnya dipicu oleh E. coli, pilihan antibiotik utama meliputi golongan fluoroquinolone dan nitrofurantoin. Alternatif lain yang dapat dipertimbangkan adalah trimetoprim-sulfametoksazol, sefalosporin, dan fosfomisin (Yanis et al. , 2. Dilatarbelakangi oleh permasalahan di atas penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bakteri E. coli sebagai penyebab ISK pada urin Penderita ISK serta membandingan tingkat sensitivitas coli terhadap dua jenis antibiotik yaitu Ciprofloxacin dan Cefixime. METODE Penelitian ini menggunakan studi cross-sectional. Pengambilan sampel dilakukan di RS Kabupaten Kediri, pengujian dilakukan di Laboratorium Bakteriologi Institut Ilmu Kesehatan Bakti Wiyata Kediri. Waktu pengerjaan dilakukan selama bulan Maret 2024. Sampel berupa urin dari pasien ISK dengan jumlah populasi sebanyak 30 orang. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara accidental sampling dengan sampel yang didapat sebanyak 13 sampel. Skrining awal untuk identifikasi E. coli dilakukan mengkultur urin pasien ISK pada media Eosin Methylene Blue (EMB) dengan interprestasi hasil terdapat perubahan warna hijau metalik pada media EMB dan pewarnaan Gram dengan menunjukkan batang Gram negatif, dilanjutkan dengan uji sensitivitas antibiotik Ciprofloxacin dan Cefixime terhadap bakteri E. coli pada penderita ISK. Uji Sensitivitas dilakukan pembuatan suspensi bakteri E. coli diambil dari media EMB ditanam pada NB. Kekeruhan NB dibandingkan dengan standart McFarland kemudian di swab pada media Mueller Hinton Agar (MHA). Disk antibiotik diletakan pada permukaan plate media MHA dan diinkubasi 37EE 24 jam. Zona hambat diamati dan diukur menggunakan jangka sorong (Kurniawan. Zuhdi and Nasution, 2. (Nazmatur, 2. Interpretasi hasil mengacu pada CLSI 2024 (Clinical and Laboratory Standarts Institu. Analisis data dilakukan untuk mengetahui perbandingan uji sensitivitas antibiotik Ciprofloxacin dan Cefixime terhadap bakteri E. coli pada penderita ISK. Teknik analisis dilakukan dengan bantuan IBM SPSS for Windows menggunakan uji T-Test untuk mengetahui perbedaan dari nilai yang diperkirakan dengan nilai hasil perhitungan statistika. Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. com/gk Volume 17. Nomor 1. Juni 2025 HASIL Hasil penelitian ini terdapat 9 sampel teridentifikasi E. coli dari 13 sampel urine penderita ISK, hasil pengamatan disajikan pada Tabel 1 dan akan dilanjutkan untuk pemeriksaan perbandingan sensitivitasnya pada antibiotik Ciprofloxacin dan Cefixime. Tabel 1. Identifikasi E. coli pada urine ISK Nama P01 P02 P03 P04 P05 P06 P07 P08 P09 P10 P11 P12 P13 Bakteri Tidak tumbuh bakteri Klebsiella sp Tidak tumbuh bakteri Klebsiella sp Hasil identifikasi E. coli pada urin penderita ISK di media EMB terdapat warna koloni bakteri hijau metalik seperti yang terlihat pada Gambar 1. Gambar 1 : Pertumbuhan E. coli diamati pada medium EMB Zona hambat pada antibiotik Ciprofloxacin dan Cefixime terhadap bakteri E. coli beragam Level antibiotik Ciprofloxacin terhadap bakteri E. coli terdiri dari resisten, intermediete, dan sensitif sedangkan pada antibiotik Cefixime berada pada level resisten. Hasil pengamatan tersebut disajikan pada Tabel 2. Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. com/gk Volume 17. Nomor 1. Juni 2025 Tabel 2. Hasil pengamatan zona hambat pada antibiotik Ciprofloxacin dan Cefixime pada bakteri E. Ciprofloxacin Cefixime Kode Sampel Hasil Zona Hambat Hasil Zona Hambat P02 Sensitif Resisten P03 Resisten Resisten P04 Resisten Resisten P05 Resisten Resisten P07 Intermediete Resisten P08 Sensitif Resisten P09 Sensitif Resisten P10 Sensitif Resisten P11 Sensitif Resisten Hasil zona hambat Ciprofloxacin dan Cefixime pada media MHA yang terlihat pada Gambar 2. Gambar 2 : Zona Hambat Ciprofloxacin dan Cefixime pada media MHA Analisis data hasil uji independent sampel T-test didapatkan nilai signifikan pada antibotik Ciprofloxacin dan Cefixime = 0. 043 yang menunjukkan nilai sangat berbeda secara signifikan. Hal ini menunjukkan terdapat perbandingan antara hasil uji sensitivitas antibiotik Ciprofloxacin dan antibiotik Cefixim terhadap bakteri E. BAHASAN Hasil Penelitian dari 13 sampel penderita ISK teridentifikasi bakteri E coli pada media EMB sebanyak sembilan sampel, dua sampel Klebsiella sp, dan dua sampel tidak terdapat pertumbuhan Hasil penelitian ini sependapat dengan penelitian (Prabhala. Sundaresan and Varaiya, 2. , isolasi dari pasien ISK paling sering teridentifikasi adalah bakteri E. Tahun 2022 sejumlah 50,6% Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. com/gk Volume 17. Nomor 1. Juni 2025 ditemukan E. coli, diikuti 27,84% spesies Klebsiella. coli merupakan agen utama sebagian besar kasus ISK. Bakteri ini memiliki kemampuan untuk menempel pada sel-sel saluran kemih melalui struktur yang disebut pili. Risiko ISK dapat meningkat karena berbagai alasan, termasuk kebiasaan kebersihan diri yang kurang optimal, penundaan berkemih dalam waktu lama misalnya saat sibuk dengan kegiatan belajar, dan asupan cairan yang tidak mencukupi (Artanti. Rohmayani and Kunsah. Klebsiella sp. , bakteri lain yang dapat menyebabkan infeksi, sering ditemukan pada individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Keberadaan kapsul pada Klebsiella sp. juga meningkatkan Selain itu. Klebsiella sp. dikenal sebagai penyebab signifikan dari infeksi yang diperoleh di rumah sakit . Hasil penelitian juga didapatkan dua sampel tidak ada pertumbuhan Hal ini sejalan dengan penelitian (Sulistiani et al. , 2. bahwa pemeriksaan urin penderita ISK tidak ada pertumbuhan bakteri dikarenakan jumlah bakteri dalam sampel urin mungkin terlalu rendah untuk mencapai ambang batas yang dianggap signifikan dalam kultur standar yaitu >10. 000 CFU/ml. Antibiotik Ciprofloxacin merupakan antibiotik golongan fluoroquinolone generasi kedua, efektif melawan bakteri Gram positif dan Gram negatif serta bersifat bakterisidal terhadap bakteri Gram Pada penelitian ini terdapat lima sampel sensitif terhadap infeksi E. Sejalan dengan (Hermawati et al. , 2. tentang kerentanan ini kemungkinan besar berkaitan dengan mekanisme kerja ciprofloxacin yang efektif dalam menekan aktivitas topoisomerase II (DNA giras. dan topoisomerase IV, dua enzim penting yang dibutuhkan E. coli untuk proses replikasi DNA. Dalam penelitian ini juga teridentifikasi resistensi terhadap ciprofloxacin, hal ini bisa berpotensi muncul melalui mutasi Perubahan genetik ini mengakibatkan berkurangnya kemampuan ciprofloxacin untuk berikatan dengan targetnya, yaitu enzim DNA girase dan topoisomerase IV. Konsekuensinya, efikasi obat menurun, dan mikroorganisme yang seharusnya dihambat menjadi resisten. Lebih lanjut, penelitian ini mengamati adanya tahapan intermediet, di mana mikroorganisme berada dalam kondisi antara sensitif dan resisten penuh (Artati. Hurustiaty and Armah, 2. Hasil uji sensitivitas antibiotik Cefixime pada penelitian ini didapatkan hasil resisten 100%. Cefixime adalah antibiotik golongan sefalosporin. Obat ini menghambat pembentukan dinding sel bakteri, khususnya pada tahap transpeptidasi ketiga, yang merupakan langkah utama dalam sintesis dinding sel bakteri. Kasus resisten antibiotik cefixime sejalan dengan penelitian (Arivo and Dwiningtyas, 2. tentang pola kepekaan Escherichia coli penyebab infeksi saluran kemih terhadap antibiotik dengan hasil menunjukan bahwa cefixime adalah antibiotik yang resisten terhadap bakteri E. Fenomena resistensi teramati melalui beragam mekanisme bakteri. Mekanisme-mekanisme ini meliputi produksi enzim oleh bakteri yang mampu menonaktifkan atau merusak antibiotik, perubahan pada permeabilitas membran sel bakteri terhadap obat, evolusi struktur target obat pada bakteri, pengembangan jalur metabolisme alternatif yang tidak lagi bergantung pada proses yang dihambat oleh obat, serta modifikasi enzim bakteri sehingga fungsinya tetap terjaga namun menjadi kurang rentan terhadap pengaruh obat dibandingkan dengan enzim pada bakteri yang sensitif Bakteri mengembangkan enzim yang dimodifikasi sehingga dapat menjalankan fungsi metabolismenya tetapi sensitivitas E. Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. com/gk Volume 17. Nomor 1. Juni 2025 terhadap cefixime disebabkan oleh kemampuan antibiotik ini menghambat sintesis dinding sel bakteri, namun efektivitasnya sangat dipengaruhi oleh faktor konsentrasi, pola penggunaan antibiotik, dan status resistensi strain E. coli yang bersangkutan (Etebu and Ibemologi Arikekpar, 2. Penggunaan antibiotik yang meluas dan tidak tepat merupakan pemicu utama resistensi bakteri terhadap obat ini, di samping mekanisme-mekanisme lain yang berperan. Contoh praktik penggunaan yang kurang bijak meliputi durasi pengobatan yang terlalu singkat, dosis yang tidak memadai, kesalahan diagnosis awal, serta pemilihan potensi antibiotik yang kurang tepat. Keberhasilan terapi ISK sangat bergantung pada identifikasi akurat bakteri penyebab infeksi. Kegagalan dalam mengidentifikasi patogen secara tepat tidak hanya memperburuk kondisi pasien dan memperpanjang masa pemulihan, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak negatif berupa peningkatan resistensi bakteri akibat penggunaan antibiotik yang tidak sesuai. Riwayat penggunaan antibiotik sebelumnya, terlepas dari indikasinya, juga menjadi salah satu faktor risiko resistensi antibiotik pada kasus ISK. Selain itu, resistensi dapat muncul akibat mutasi pada gen target bakteri maupun melalui perolehan gen resistensi dari bakteri lain (Unok and Sabir Mangawing, 2. SIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini mengidentifikasi sembilan bakteri E. coli dan dua Klebsiella sp pada penderita infeksi saluran kemih, serta menemukan perbedaan signifikan dalam sensitivitas antibiotik Ciprofloxacin dan Cefixime terhadap E. coli berdasarkan uji Independent Sample T-test. Penelitian selanjutnya dapat meningkatkan kualitas dengan menggunakan metode terbaru dan memperluas jumlah responden untuk uji sensitivitas antibiotik yang lebih akurat. RUJUKAN