JURNAL ILMIAH BINA EDUKASI ISSN 1979-8598 E-ISSN:2655-8373 http://journal. id/index. php/jurnalbinaedukasi Vol. No. Desember 2024, 130 - 142 ANALISIS FAKTOR Ae FAKTOR PENGHAMBAT PENERAPAN KURIKULUM MERDEKA BELAJAR Arwadin Asmar Jaya Gulo1. Wahyutra Adilman Telaumbanua2. Eka Septianti Laoli3. Bezisokhi Laoli4 Universitas Nias1,2,3,4 Jalan Yos Sudarso No. 118 E/S Kec. Gunungsitoli. Kota Gunungsitoli 1,2,3,4 Sur-el Koresponden: asmargulo23@gmail. com1, wahyutelaumbanua@gmail. laoli@gmail. com3, bezisokhilaoli@gmail. Article info Article history: Received: 31-10-2024 Revised : 12-11-2024 Accepted: 18-11-2024 ABSTRACT Keywords: Inhibiting Factors. Independent Learning Curriculum ABSTRAK Kata Kunci: Faktor Penghambat. Kurikulum Merdeka Belajar The results of observations carried out by researchers at UPTD SMP Negeri 1 Ulu Moro'o show that the "Merdeka Belajar" learning system has been implemented at the school since 2022, but in its implementation there are various obstacles and obstacles, one of which is the availability of books, lack of available media. supporting the learning process, independent learning and so on. The aim of this research is to analyze the factors inhibiting the implementation of the Independent Learning curriculum at UPTD SMP Negeri 1 Ulu Moro'o. This research uses descriptive research methods with a qualitative approach. Data collection techniques through observation, interviews and documentation. Based on the results of the research, it is known that the factors inhibiting the implementation of the independent learning curriculum are caused by internal factors such as motivation, attitudes and interests of students as well as external factors including parental support, principal leadership, school facilities, learning systems, learning materials and competent teacher. Hasil observasi yang dilaksanakan oleh peneliti di UPTD SMP Negeri 1 Ulu MoroAoo diketahui bahwa sistem pembelajaran AuMerdeka BelajarAy telah diterapkan di sekolah tersebut sejak tahun 2022, namun dalam penerapannya terdapat berbagai hambatan dan kendala, salah satunya seperti ketersediaan buku, minimnya media yang menunjang proses pembelajaran merdeka belajar dan Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor Ae faktor penghambat penerapan kurikulum Merdeka Belajar di UPTD SMP Negeri 1 Ulu MoroAoo. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa faktor Ae faktor penghambat penerapan kurikulum merdeka belajar disebabkan oleh faktor internal seperti motivasi, sikap dan minat siswa, serta faktor eksternal diantaranya dukungan orang tua, kepemimpinan kepala sekolah, fasilitas sekolah, sistem pembelajaran, materi pembelajaran, dan kompetensi guru. Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Bina Darma. Arwadin Asmar Jaya Gulo. Wahyutra Adilman Telaumbanua. Eka Septianti Laoli, dan Bezisokhi Laoli (Analisis Faktor Ae Faktor Penghambat Penerapan Kurikulum Merdeka Belaja. JURNAL ILMIAH BINA EDUKASI ISSN 1979-8598 E-ISSN:2655-8373 http://journal. id/index. php/jurnalbinaedukasi Vol. No. Desember 2024, 130 - 142 PENDAHULUAN Pendidikan dikenal juga sebagai suatu proses kehidupan dengan tujuan untuk mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki individu agar mampu menghayati dan melaksanakan kehidupan seutuhnya sebagai individu yang terdidik secara kognitif, afektif, dan psikomotorik. Menurut Mubarok . , pendidikan adalah suatu hal yang paling utama dan harus diperhatikan oleh seluruh elemen masyarakat dan senantiasa dijadikan sebagai pijakan bagi pertumbuhan sosial, perkembangan individu dan masyarakat. Menurut Hasanah dkk. , pendidikan merupakan cara untuk membangun peradaban, mendorong kemajuan sosial, dan menghasilkan generasi atau individu yang berketerampilan tinggi. Keberhasilan proses pendidikan akan dapat dirasakan apabila orang-orang terdidik mampu melaksanakan perannya di masa depan. Dan keberhasilan orang-orang terdidik ini juga merupakan bagian dan perencanaan proses pendidikan yang dinamakan dengan kurikulum pendidikan. Kurikulum memegang peranan penting dalam memberikan arah dan tujuan dalam proses penyelesaian pendidikan. Menurut Lazwardi . mendefinisikan kurikulum sebagai Aua plan of learningAy, yaitu sebuah rencana untuk pendidikan anak. Dimana dalam pandangan konvensional, mengartikan kurikulum sebagai sejumlah disiplin ilmu yang wajib diselesaikan oleh siswa untuk mendapatkan sertifikat Menurut Masykur . terdapat tiga prinsip kurikulum, yaitu kurikulum sebagai substansi, sistem dan bidang studi. Berdasarkan pengertian di atas, peneliti dapat menarik sebuah disimpulkan bahwa Kurikulum merupakan sekumpulan pedoman atau sistem rencana dan pengaturan bahan pembelajaran yang dapat dipergunakan untuk mengarahkan pengajaran dan kegiatan pembelajaran. Mengingat pentingnya kurikulum. Tuerah & Tuerah . mengemukakan bahwa kurikulum merupakan kunci utama dalam berlangsungnya kegiatan belajar. Apabila konsep tersebut baik dan kuat, maka proses pembelajaran bisa berjalan dengan baik dan terarah pada pencapaian yang dikehendaki. Taali dkk. menyebutkan fungsi kurikulum, meliputi fungsi penyesuaian . he adjustive or adaptive functio. , fungsi integrasi . he integrating functio. , fungsi diferensiasi . he differentiating functio. , fungsi persiapan . he propaedeutic functio. , fungsi pemilihan . he selective functio. , dan fungsi diagnostik . he diagnostic functio. Berdasar pada beberapa pendapat yang telah diuraikan, maka peneliti menyimpulkan bahwa kurikulum berfungsi sebagai sarana untuk mengukur kemampuan siswa, pedoman dalam mengembangkan kurikulum lokal dan sebagai pedoman kepada guru dalam memilih metode pengajaran. Agar kurikulum dapat berfungsi dan berhasil dalam penerapannya, kurikulum terdiri dari beberapa Menurut Rahayu dkk. terdapat beberapa komponen dari kurikulum, yaitu: materi ajar, strategi ajar, teknik pembelajaran, dan komponen pembelajaran itu sendiri. Ada empat komponen utama yang menyusun kurikulum yaitu tujuan yang mencakup isi, proses pembelajaran, penggunaan media pembelajaran dan evaluasi dalam pembelajaran. Keempat elemen ini memiliki ikatan yang saling terikat dan Kurikulum harus searah dengan harapan, kenyataan, serta pengembangan sosial dalam Arwadin Asmar Jaya Gulo. Wahyutra Adilman Telaumbanua. Eka Septianti Laoli, dan Bezisokhi Laoli (Analisis Faktor Ae Faktor Penghambat Penerapan Kurikulum Merdeka Belaja. JURNAL ILMIAH BINA EDUKASI ISSN 1979-8598 E-ISSN:2655-8373 http://journal. id/index. php/jurnalbinaedukasi Vol. No. Desember 2024, 130 - 142 Berdasar pada tujuan pendidikan Indonesia dan juga pernyataan Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam Surat Edaran No. 1 Tahun 2020 mengenai kebijakan merdeka belajar, sudah seharusnya setiap jenjang pendidikan mulai dari SD. SMP dan SMA di seluruh wilayah Indonesia untuk menerapkan kurikulum merdeka belajar. Selayaknya juga penerapan kurikulum merdeka belajar harus dilaksanakan secara seragam, jangan ada yang menerapkan hanya setengah atau sebahagian saja atau ada yang sama sekali belum menerapkan. Menurut Hildayati dkk. , kurikulum merdeka belajar adalah suatu program untuk mewujudkan suasana belajar yang menyenangkan dan nyaman bagi siswa maupun guru sebagai pendidik yang orientasinya agar pendidik dan siswa serta orang tua bisa merasakan suasana belajar yang bahagia tanpa ada beban berat yang diakibatkan oleh pencapaian prestasi. Guru dapat mengembangkan pembelajaran secara kreatif dan inovatif dengan melibatkan peserta didik sebagai pelaku belajarnya sendiri sehingga proses pembelajaran menjadi terkendali, sejuk, menyenangkan dan bermakna serta saling Sementara Natalia & Sukraini . mengemukakan bahwa konsep kurikulum merdeka belajar yaitu bertujuan untuk memerdekakan guru dan siswa serta memanusiakan setiap individu yang terlibat dalam dunia pendidikan. Kompetensi guru dapat dijadikan sebagai salah satu faktor penting yang harus diperhatikan dalam mewujudkan pendidikan yang bermutu dan mencapai standar internasional. Pembaharuan kurikulum pada dasarnya memerlukan pondasi yang kuat berdasarkan penelitian dan refleksi yang detail. Perbaikan kurikulum perlu untuk terus dilakukan sebab kurikulum merupakan sesuatu yang bersifat dinamis dan berubah-ubah mengikuti tuntutan perkembangan serta bergantung pada kebutuhan peserta didik. Menurut Miladiah dkk. , satuan pendidikan harus fokus pada tiga tahapan penting untuk memfasilitasi penerapan kurikulum merdeka belajar, yaitu: Membangun lingkungan pendidikan dengan teknologi. Tentu saja, ekosistem pendidikan dengan dukungan teknologi sangat penting untuk menumbuhkan semangat kreativitas, penemuan, dan tekad dalam diri para pendidik. Kerja sama di beberapa lini. Di era digitalisasi, pihak lain dapat menjadi mitra kolaboratif yang saling mendukung dengan ide dan sumber daya sekaligus saling melengkapi dengan kemampuan masingmasing. Inventaris dan pemeliharaan data. Menyiapkan sumber daya manusia, sarana dan prasarana terbaik yang diperlukan dalam mendukung penerapan kebijakan pendidikan yang berlaku. Dalam penerapan kurikulum merdeka, pemerintah menghendaki setiap guru untuk dapat melaksanakan pembelajaran yang sejalan dengan tuntutan kurikulum yang berlaku. Menurut Shofi & Suwadi . ada beberapa tahapan yang dilakukan untuk menerapkan prinsip merdeka belajar di sekolah yaitu: Kepala Sekolah memberlakukan kebijakan untuk mendorong pelaksanaan merdeka belajar di sekolah. Guru harus terbuka agar dapat melaksanakan pembelajaran yang menyenangkan. Siswa harus siap dan dalam suasana hati yang baik agar bisa berpikir kritis, memiliki rasa ingin tahu, dan tidak pasif dalam pembelajaran Arwadin Asmar Jaya Gulo. Wahyutra Adilman Telaumbanua. Eka Septianti Laoli, dan Bezisokhi Laoli (Analisis Faktor Ae Faktor Penghambat Penerapan Kurikulum Merdeka Belaja. JURNAL ILMIAH BINA EDUKASI ISSN 1979-8598 E-ISSN:2655-8373 http://journal. id/index. php/jurnalbinaedukasi Vol. No. Desember 2024, 130 - 142 Selain aktif mendukung kerja sama antara masyarakat, keluarga, dan sekolah, orang tua juga aktif memantau hasil belajar siswa Dinas Pendidikan menyelenggarakan sejumlah pelatihan untuk meningkatkan kemahiran guru dan mendukung pelaksanaan merdeka belajar. Menurut Alfath dkk. , kompetensi guru dalam merdeka belajar terdiri atas beberapa aspek yakni aspek komitmen, kemandirian dan refleksi. Aspek-aspek tersebut memiliki kedudukan yang sama penting karena saling terikat dan berjalan secara bersamaan sesuai fase perkembangan dan kematangan siswa. Menurut Angga & Iskandar . Kepala sekolah pada lembaga yang diawasinya, mempunyai peran penting dalam mewujudkan merdeka belajar. Kepala Sekolah mempunyai tugas yang mencakup tanggung jawab manajerial, pengawasan, dan pengembangan kewirausahaan. Keterampilan ini dapat membantu sekolah mengadopsi gagasan merdeka belajar. Oleh karena itu, agar berhasil membimbing sekolah dalam menerapkan gagasan tersebut, kepala sekolah harus memiliki pemahaman menyeluruh tentang tugas dan pekerjaannya. Berdasarkan kegiatan pra observasi dan studi pendahuluan yang telah dilaksanakan, peneliti menemukan bahwa di UPTD SMP Negeri 1 Ulu MorAoo telah mengimplementasikan Kurikulum Merdeka Belajar sejak tahun 2022. Tabel 1. Kurikulum yang diterapkan di UPTD SMP Negeri 1 Ulu MoroAoo No. Kelas Kurikulum yang Diterapkan VII & Vi Kurikulum Merdeka Belajar Kurikulum 2013 Sumber: Olahan Peneliti (Tahun 2. Sesuai dengan Tabel 1 di atas, dijelaskan bahwa di UPTD SMP Negeri 1 Ulu MoroAoo, 80% kurikulum yang digunakan merupakan kurikulum merdeka belajar yang diterapkan pada kelas VII dan Vi, sedangkan 20% kurikulum yang digunakan merupakan kurikulum 2013 yang masih diterapkan di kelas IX. Informasi ini didapatkan oleh peneliti melalui wawancara tentang implementasi kurikulum merdeka belajar dengan kepala sekolah dan beberapa guru pada saat pelaksanaan kegiatan Magang 3 di UPTD SMP Negeri 1 Ulu MoroAoo. Di UPTD SMP Negeri 1 Ulu MoroAoo, sistem pembelajaran Merdeka Belajar merupakan suatu kebijakan baru yang mempunyai hambatan serta kendala dalam menerapkannya. Utamanya kepada guru yang merupakan bagian dari pendidikan serta komponen penting dalam pembelajaran dan juga peserta didik yang tentunya memiliki sejumlah permasalahan yang sepatutnya harus diselesaikan. Menurut Bisri dkk. , terdapat beberapa faktor hambatan pada penerapan merdeka belajar, yaitu sumber daya manusia, sarana prasarana, waktu dan pola pikir. Pada penerapan kebijakan kurikulum merdeka belajar,tentunya guru dan siswa harus mempunyai kesiapan dalam menerapkan merdeka belajar di kelasnya serta orang tua siswa yang berperan penting dalam mendukung dan mendorong anak untuk melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan di sekolah. Akan tetapi, pada pelaksanaannya masih ditemukan berbagai permasalahan yang dihadapi, seperti rendahnya motivasi belajar siswa, jumlah buku yang kurang memadai, kurangnya fasilitas yang mendukung berlangsungnya pembelajaran merdeka belajar dan sebagainya. Arwadin Asmar Jaya Gulo. Wahyutra Adilman Telaumbanua. Eka Septianti Laoli, dan Bezisokhi Laoli (Analisis Faktor Ae Faktor Penghambat Penerapan Kurikulum Merdeka Belaja. JURNAL ILMIAH BINA EDUKASI ISSN 1979-8598 E-ISSN:2655-8373 http://journal. id/index. php/jurnalbinaedukasi Vol. No. Desember 2024, 130 - 142 Dari penelitian yang dilaksanakan, terdapat korelasi dengan beberapa penelitian terdahulu yang memiliki topik yang sama, diantaranya penelitian yang dilakukan oleh Vannisa dkk. dengan judul penelitian AuAnalisis Faktor-Faktor yang Menghambat Para Guru Saat Menerapkan Kurikulum MerdekaAy SD Negeri 3 Lumpat yang terletak di Desa Lumpatan 1. Kecamatan Sekayu. Kabupaten Banyuasin. Provinsi Sumatera Selatan adalah sekolah dasar yang banyak diminati oleh orang tua. Dengan lokasi yang strategis, fasilitas yang memadai, dan risiko banjir yang minim, sekolah ini memiliki satu kelas untuk setiap tingkat dan jumlah siswa sekitar 26 hingga 30 orang per kelas. Sekolah ini telah mulai mengimplementasikan Kurikulum Merdeka di sebagian besar kelas, kecuali kelas 3 dan 6. Namun, penerapan kurikulum baru ini menghadapi berbagai tantangan, seperti kesulitan guru dalam menyusun modul ajar yang kompleks dan kurangnya pelatihan yang memadai. Selain itu, keterbatasan fasilitas teknologi serta kemampuan guru dalam memanfaatkan teknologi juga menjadi hambatan. Perubahan kurikulum yang sering terjadi di Indonesia juga mengharuskan adanya waktu dan pelatihan tambahan bagi guru. Selain itu, keterampilan non-teknis . oft skil. seperti empati dan komunikasi yang efektif pada guru turut menjadi kendala dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka. Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut, beberapa solusi yang disarankan meliputi penyediaan infrastruktur teknologi, pelatihan bagi guru, program pengembangan profesional berkelanjutan, serta peningkatan kolaborasi antara guru, orang tua, dan masyarakat melalui seminar dan forum diskusi. Dukungan menyeluruh dari berbagai pihak diharapkan dapat memperlancar pelaksanaan Kurikulum Merdeka di SD Negeri 3 Lumpatan. Penelitian terdahulu selanjutnya dilakukan oleh Miladiah dkk. dengan judul penelitian AuAnalisis Penerapan Kurikulum Merdeka Di SMP Bina Taruna Kabupaten BandungAy. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persiapan, pelaksanaan serta kendala dalam penerapan kurikulum merdeka di SMP Bina Taruna Kabupaten Bandung. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara, dan Data yang dikumpulkan setelahnya diolah melalui teknik triangulasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan pada tahap perencanaan seluruh stakeholder sekolah diprakarsai oleh Wakasek Bidang Kurikulum menyusun hal-hal yang diperlukan dalam pembelajaran. Mulai dari perangkat pembelajaran, media dan kesiapan guru dalam melaksanakan pembelajaran dalam jangka waktu satu tahun ajaran yang dilaksanakan sesuai kurikulum. Pada tahap pelaksanaan, penerapan kurikulum merdeka menimbulkan dampak terhadap siswa, guru, dan juga tenaga kependidikan lainnya. Dampak yang dirasakan berupa dampak positif dan dampak negatif. Faktor yang menjadi kendala pada penerapannya yaitu rendahnya pemahaman yang dimiliki pendidik, siswa, juga orang tua sehingga menghambat proses penerapan merdeka belajar serta kurangnya sarana dan prasarana yang Simpulan penelitian tersebut yaitu, kurikulum merdeka yang digunakan di SMP Bina Taruna Bandung sudah berjalan sebagaimana mestinya, hanya perlu pembenahan dari segi pemahaman dan sarana bahan ajar untuk menopang terlaksananya kurikulum merdeka. Kesamaan penelitian ini dibanding penelitian terdahulu adalah kesamaan dalam menganalisis penerapan kurikulum merdeka dan faktor-faktor penghambat dalam penerapan kurikulum merdeka belajar. Arwadin Asmar Jaya Gulo. Wahyutra Adilman Telaumbanua. Eka Septianti Laoli, dan Bezisokhi Laoli (Analisis Faktor Ae Faktor Penghambat Penerapan Kurikulum Merdeka Belaja. JURNAL ILMIAH BINA EDUKASI ISSN 1979-8598 E-ISSN:2655-8373 http://journal. id/index. php/jurnalbinaedukasi Vol. No. Desember 2024, 130 - 142 serta penggunaan metode kualitatif. Pembeda penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah objek, lokasi, dan tahun pelaksanaan penelitiannya. Tujuan dari diadakannya penelitian ini di SMP Negeri 1 Ulu Moro'o yaitu untuk mengetahui faktorfaktor penghambat dalam penerapan kurikulum merdeka belajar, serta bagaimana penerapan dan hasil yang terlihat baik dari siswa maupun dari para guru yang memberikan pembelajaran. Kiranya penelitian ini dapat bermanfaat dalam memberikan ruang keilmuan baik kepada para siswa maupun kepada para pemangku kepentingan . dan sekolah yang menerapkannya. METODOLOGI PENELITIAN Metode Penelitian Penelitian ini adalah penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif. Menurut Adlini et al. , 2. penelitian kualitatif merupakan tahapan penelitian yang menghasilkan data deskriptif dalam berbentuk narasi tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diteliti. Menurut Yuliani . , menyatakan bahwa metode deskriptif yaitu sebuah metode penelitian yang dilakukan terhadap sekumpulan manusia, objek, keadaan, manajemen pemikiran dan peristiwa yang sedang terjadi. Tujuan penelitian deskriptif kualitatif yaitu untuk mendeskripsikan suatu keadaan dalam bentuk narasi atau kata-kata tentang suatu fenomena yang Tujuan penelitian ini yaitu mendeskripsikan, melukiskan, dan menggambarkan suatu fenomena mengenai faktor-faktor penghambat pengaplikasian kurikulum merdeka belajar di UPTD SMP Negeri 1 Ulu MoroAoo. Variabel Penelitian Variabel didefinisikan sebagai segala komponen yang menjadi objek pengamatan dalam penelitian. Kerap juga dikatakan bahwa variabel penelitian merupakan faktor-faktor yang berperan pada peristiwa atau gejala yang hendak diteliti. Adapun pada penelitian ini hanya terdapat satu variabel, yaitu faktor-faktor penghambat penerapan kurikulum merdeka belajar. Penelitian ini dilaksanakan di UPTD SMP Negeri 1 Ulu MoroAoo yang terletak di Desa Lawelu. Kecamatan Ulu MoroAoo. Kabupaten Nias Barat. Alasan peneliti memilih lokasi tersebut karena sekolah ini sangat mendukung pembahasan yang dipilih, karena peneliti menemukan bahwa di lokasi ini kurikulum merdeka belajar telah diterapkan dan kurikulum tersebut sebagai suatu kebijakan baru yang tentunya memiliki hambatan dan kendala dalam menerapkannya. Peneliti ingin mengetahui hambatan dan kendala yang dialami dalam proses penerapan kurikulum merdeka belajar. Sumber Data Penelitian Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari sumber data primer dan sumber data sekunder. Menurut Sarosa . , data primer adalah dokumen asli yang didapatkan melalui pengumpulan data yang dilaksanakan secara langsung di lokasi penelitian atau objek yang diteliti untuk memudahkan dalam mendapatkan data yang dibutuhkan . okumen lega. Data primer pada penelitian ini dikumpulkan berupa hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. Menurut Jogiyanto Hartono . , menyatakan bahwa data sekunder adalah data yang dikumpulkan dari tangan kedua atau dari sumber lain yang sudah ada sebelum penelitian dimulai. Sumber data Arwadin Asmar Jaya Gulo. Wahyutra Adilman Telaumbanua. Eka Septianti Laoli, dan Bezisokhi Laoli (Analisis Faktor Ae Faktor Penghambat Penerapan Kurikulum Merdeka Belaja. JURNAL ILMIAH BINA EDUKASI ISSN 1979-8598 E-ISSN:2655-8373 http://journal. id/index. php/jurnalbinaedukasi Vol. No. Desember 2024, 130 - 142 sekunder merupakan data yang diperoleh atau dikumpulkan dari sumber bacaan yang telah ada. Data sekunder digunakan untuk mendukung data primer yang telah diperoleh. Maka data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari buku,jurnal dan sebagainya yang mendukung permasalahan penelitian ini. Informan dan Instrumen Penelitian Teknik dalam menentukan informan pada penelitian ini yaitu dengan menggunakan purposive sampling. Menurut Lenain . , purposive sampling adalah pengambilan sampel sebagai sumber data dengan berbagai perbandingan atau tolak ukur tertentu. Menurut Asrulla dkk. mengemukakan bahwa informan pada penelitian meliputi informan kunci, dan informan tambahan. Adapun yang menjadi informan kunci dalam penelitian ini, yaitu: Kepala Sekolah. Wakil Kepala Sekolah,PKS Kurikulum. PKS Kesiswaan,PKS Sarpras. PKS Humas. Informan tambahan dalam penelitian ini, yaitu 10 orang peserta didik di UPTD SMP Negeri 1 Ulu MoroAoo dan 3 orang dari orang tua siswa yang memahami tentang faktor-faktor penghambat penerapan kurikulum merdeka belajar. Menurut Makbul . , instrumen penelitian adalah alat atau sarana untuk mengumpulkan data. Instrumen penelitian merupakan alat-alat diperlukan atau yang digunakan untuk mengumpulkan informasi data Dalam penelitian ini,peneliti sendiri yang mengumpulkan informasi dengan cara datang ke lapangan dengan melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi. Berdasarkan pada pengumpulan data yang dilakukan, maka instrumen yang dipergunakan yaitu berupa alat kamera, alat tulis dan pedoman wawancara yang ditanyakan secara lisan kepada informan. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data merupakan tahapan yang sangat signifikan dalam penelitian, sebab tujuan utama dari penelitian yaitu untuk memperoleh data. Cara yang diterapkan dalam menganalisis data yaitu menggunakan metode kualitatif, dimana data akan dideskripsikan dengan kata-kata dan tidak berbentuk angka. Teknik Pengumpulan Data yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Data dalam penelitian ini dianalisis dengan mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain. HASIL DAN PEMBAHASAN Peneliti menggunakan segitiga teknis untuk menganalisis data penelitian. Peneliti dalam teknik triangulasi mengumpulkan data dari observasi . , wawancara, dan dokumen yang sebelumnya telah disampaikan oleh peneliti, yang kemudian dapat dianalisis dan ditarik kesimpulannya. Kesimpulan dapat ditarik dari hasil penelitian yang sudah dilaksanakan. Tahap analisis data diawali dengan penelaahan serta evaluasi terhadap seluruh data observasi . , wawancara, dan dokumentasi yaitu meliputi guru, orang tua, dan siswa di UPTD SMP Negeri 1 Ulu MoroAoo sebagai subjek penelitian. Kemudian data tersebut Arwadin Asmar Jaya Gulo. Wahyutra Adilman Telaumbanua. Eka Septianti Laoli, dan Bezisokhi Laoli (Analisis Faktor Ae Faktor Penghambat Penerapan Kurikulum Merdeka Belaja. JURNAL ILMIAH BINA EDUKASI ISSN 1979-8598 E-ISSN:2655-8373 http://journal. id/index. php/jurnalbinaedukasi Vol. No. Desember 2024, 130 - 142 terus menerus diolah oleh peneliti selama penelitian dilakukan. Pendekatan yang diterapkan yaitu pendekatan deskriptif kualitatif, merupakan gambaran atau penceritaan tentang suatu peristiwa atau tempat yang diakhiri dengan tulisan di lapangan. Berdasarkan hasil observasi . dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti dapat diketahui dari berbagai pihak untuk mengumpulkan informasi terkait penelitian faktor-faktor penghambat penerapan kurikulum merdeka belajar di UPTD SMP Negeri 1 Ulu MoroAoo yaitu guru, orang tua dan siswa sebagai subjek. Maka pada bahasan ini peneliti mendeskripsikan sesuai pada rumusan masalah penelitian dan tujuan penelitian tentang faktor-faktor penghambat penerapan kurikulum merdeka belajar menunjukkan bahwa di UPTD SMP Negeri 1 Ulu MoroAoo mengalami beberapa faktor-faktor penghambat penerapan kurikulum merdeka belajar baik pada faktor internal dan faktor eksternal. Dalam mengimplementasikan kurikulum merdeka belajar tentu adanya faktor-faktor yang menjadi penghambat dan akan dihadapi dalam penerapannya, karena kurikulum merdeka merupakan kurikulum yang Jadi peneliti melakukan wawancara terhadap beberapa guru dan siswa di UPTD SMP Negeri 1 Ulu MoroAoo serta orang tua siswa mengenai apa faktor Ae faktor penghambat penerapan kurikulum merdeka belajar. Faktor Internal Penghambat Penerapan Kurikulum Merdeka Belajar terdiri dari tiga aspek yaitu motivasi, sikap siswa, serta minat dan bakat siswa. Dari hasil wawancara dengan Kepala Sekolah dan PKS Humas SMP Negeri 1 Ulu MoroAoo. diketahui bahwa motivasi belajar siswa masih kurang, guru yang kurang dalam meningkatkan kemampuan serta kompetensi dan mengikuti perkembangan dalam penerapan kurikulum merdeka belajar. Selanjutnya hasil wawancara dengan salah seorang siswa bernama Kevin Jonathan Harryson Siregar, diketahui bahwa motivasi siswa dalam belajar masih rendah, dikarenakan siswa dalam merespon dan memahami pembelajaran masih kurang dan siswa masih memilih mata pelajaran untuk disukai, sedangkan pada konsepnya semua mata pelajaran sama pentingnya untuk dipelajari oleh peserta didik. Dengan motivasi siswa yang rendah tersebut akan menjadi faktor penghambat dalam penerapan kurikulum merdeka belajar dikarenakan siswa akan kesulitan dan terkendala dalam memahami dan mencerna materi pembelajaran. Dilihat dari sikap siswa, salah seorang guru yang merupakan PKS kesiswaan, ketika diwawancarai mengungkapkan sikap dan respon siswa dalam pembelajaran dikelas ada yang dapat mengikuti dengan baik dan ada juga kurang memahami karena kemampuan siswa yang tidak sama dan berbeda-beda. Hal tersebut dilatarbelakangi para siswa masih belum memahami dan mengerti tentang kurikulum merdeka belajar karena merupakan kurikulum baru dan guru juga kurang menguasai pengelolaan kelas oleh karena itu siswa kurang tertarik dan tidak fokus dalam belajar. Dari hasil wawancara yang dilakukan kepada guru PKS Sarpras dan salah seorang orangtua siswa terkait minat dan bakat siswa, dapat disimpulkan bahwa pengelompokkan siswa berdasarkan minat dan bakat siswa sangatlah penting namun di UPTD SMP Negeri 1 Ulu MoroAoo pengelompokkan tersebut masih belum maksimal dan belum adanya penerapan secara khusus dan ini tentunya akan menjadi faktor penghambat dalam penerapan kurikulum merdeka belajar, terlebih guru masih belum memahami setiap minat dan bakat siswanya dan juga siswa kurang percaya diri dalam menentukan minat dan bakatnya sendiri. Arwadin Asmar Jaya Gulo. Wahyutra Adilman Telaumbanua. Eka Septianti Laoli, dan Bezisokhi Laoli (Analisis Faktor Ae Faktor Penghambat Penerapan Kurikulum Merdeka Belaja. JURNAL ILMIAH BINA EDUKASI ISSN 1979-8598 E-ISSN:2655-8373 http://journal. id/index. php/jurnalbinaedukasi Vol. No. Desember 2024, 130 - 142 Selain faktor internal, faktor eksternal juga dapat menjadi penghambat penerapan kurikulum merdeka belajar di UPTD SMP Negeri 1 Ulu MoroAoo. Dari observasi dan wawancara yang dilakukan, komponen utama yang menjadi faktor penghambat adalah dukungan orangtua, kepemimpinan kepala sekolah, fasilitas sekolah, sistem pembelajaran, materi pembelajaran, dan kompetensi guru. Terkait dukungan orang tua, salah seorang orang tua siswa ketika diwawancarai mengatakan bahwa orang tua sangat mendukung anak dalam melaksanakan kegiatannya di sekolah, tetapi tentu adanya kendala dan hambatan yang dihadapi orang tua terlebih kurikulum merdeka belajar ini merupakan kurikulum yang baru dan pastinya orang tua dalam memenuhi kebutuhan anak di sekolah akan berbeda dengan kurikulum sebelumnya dan kebutuhan anak pasti banyak yang akan beragam sesuai dengan kebutuhan anak dalam belajar. Terkait kepemimpinan kepala sekolah, hasil wawancara dengan kepala sekolah secara langsung dan juga kepada guru selaku PKS Humas dapat disimpulkan bahwa adanya dukungan dari Kepala Sekolah terhadap penerapan kurikulum merdeka belajar serta setiap guru diharuskan dalam mengembangkan kemampuan dan kompetensi serta mengembangkan hal-hal baru demi peningkatan kualitas pendidikan secara universal dan mutu sekolah secara Namun terdapat kendala dari lingkungan yaitu pemerintah daerah yang kurang memberikan dukungan serta perhatian terhadap sekolah. Fasilitas sekolah ataupun sarana dan prasarana dapat mempermudah guru, siswa, dan anggota sekolah lainnya untuk bersama-sama menggunakan dan melaksanakan pembelajaran tanpa hambatan ruang dan waktu Terkait dengan fasilitas. Wakasek dan PKS Humas ketika diwawancarai mengatakan bahwa fasilitas ataupun sarana dan prasarana sekolah tidak memadai serta tidak lengkap, dan juga kelengkapan alat dan bahan serta alat peraga dan alat Ae alat laboratorium yang tidak lengkap. Di balik fasilitas sekolah yang kurang memadai yang menjadi faktor penghambat selanjutnya karena siswa tidak dapat mengoperasikan dan Selain itu salah seorang siswa bernama F. Gulo juga mengatakan bahwa siswa masih belum sepenuhnya dapat mengikuti pembelajaran, dikarenakan terkendala karena tidak tersedianya fasilitas ataupun alat dalam proses pembelajaran, dimana juga siswa masih kurang mahir dalam menggunakan alat teknologi seperti komputer. Dari hasil wawancara dengan PKS Kesiswaan dan PKS Sarpras terkait dengan sistem pembelajaran, dapat disimpulkan bahwa adanya kendala yang dihadapi guru dikarenakan kemampuan siswa yang berbeda Ae beda dengan begitu guru dituntut untuk membuat serta mengembangkan gaya belajar sesuai dengan kebutuhan siswa untuk menyukseskan kegiatan belajar mengajar, siswa dapat mengikuti dan memahami dengan baik dan juga terdapat kendala karena siswa dalam menggunakan teknologi masih terbatas dan adanya siswa yang tidak memiliki alat teknologi. Selain itu menurut PKS Humas ketika diwawancarai, beliau menjelaskan bahwa guru memiliki hambatan dalam menyiapkan konten pembelajaran dan guru kewalahan karena tidak adanya panduan secara spesifik dalam menerapkan kurikulum merdeka belajar. Terkait materi pembelajaran, salah seorang guru yang menangani bidang PKS kurikulum mengatakan bahwa adanya hambatan guru dalam menyiapkan materi pembelajaran dikarenakan dan adanya kekurangan sarana dan prasarana sekolah seperti alat dan bahan dalam belajar dan buku sebagai sumber referensi yang belum lengkap di sekolah. Untuk menciptakan proses belajar yang sesuai, inovatif, kreatif dan disukai oleh Arwadin Asmar Jaya Gulo. Wahyutra Adilman Telaumbanua. Eka Septianti Laoli, dan Bezisokhi Laoli (Analisis Faktor Ae Faktor Penghambat Penerapan Kurikulum Merdeka Belaja. JURNAL ILMIAH BINA EDUKASI ISSN 1979-8598 E-ISSN:2655-8373 http://journal. id/index. php/jurnalbinaedukasi Vol. No. Desember 2024, 130 - 142 peserta didik harus ada motivasi dari guru serta keprofesionalan dan kompetensi guru yang baik sangat penting dalam berlangsungnya pendidikan yang berkualitas baik. Terkait kompetensi guru. Wakasek dan PKS Humas ketika diwawancarai mengatakan bahwa dengan diterapkannya kurikulum merdeka belajar seorang guru memiliki hambatan dalam melaksanakannya yaitu karena kurikulum merdeka masih dalam tahap penguasaan dan baru dipahami oleh guru karena merupakan kurikulum baru dan guru adanya hambatan karena tidak ada pedoman dan pembekalan dalam melaksanakan kurikulum merdeka belajar. Dalam implementasi kurikulum merdeka belajar pastinya ada faktor yang akan menjadi penghambat dalam penerapannya, terlebih karena kurikulum merdeka belajar merupakan kurikulum yang baru diterapkan dan masih dalam tahap penguasaan untuk melaksanakannya di sekolah dan secara khusus bagi siswa, guru dan serta orang tua siswa di UPTD SMP Negeri 1 Ulu MoroAoo tentunya ada kendala dan hambatan yang dihadapi. Berdasarkan hasil penelitian menurut Vannisa dkk. bahwa tantangan lain yang dihadapi adalah terbatasnya fasilitas teknologi dan kurangnya kemampuan guru dalam memanfaatkan teknologi. Seringnya perubahan kurikulum di Indonesia juga mengharuskan guru untuk menginvestasikan waktu dan mengikuti pelatihan tambahan guna memahami konsep dan metode yang baru. (Aprillia et al. , 2. Kemampuan nonteknis . oft skil. guru, seperti empati dan keterampilan komunikasi yang efektif, juga menjadi hambatan dalam penerapan Kurikulum Merdeka. Selain itu menurut Handayani et al. , 2023, dalam upaya mengembangkan potensi penerapan kurikulum merdeka belajar, guru juga harus dapat menguasai penggunaan teknologi informasi, sehingga setiap ilmu yang diajarkan kepada siswa dapat lebih terupdate. Pengembangan keterampilan dan skill dalam mengajar juga harus dibarengi dengan pelatihan-pelatihan, baik pelatihan tatap muka maupun pelatihan mengajar yang sering dilakukan secara online melalui media zoom meeting. Pelaksanaan ini diharapkan mampu mengevaluasi seluruh rangkaian prosedur teknis yang dilakukan oleh guru dalam proses belajar mengajar sehingga harapannya tercipta perubahan dan peningkatan kemampuan guru dalam memahami dan menguasai pembelajaran. (Aulia et al. , 2. Hal ini juga terungkap pada hasil wawancara dengan siswa F. Gulo yang mengatakan bahwa siswa masih belum sepenuhnya dapat mengikuti pembelajaran, dikarenakan terkendala karena tidak tersedianya fasilitas ataupun alat dalam proses pembelajaran, dimana juga siswa masih kurang mahir dalam menggunakan alat teknologi seperti komputer. Sebagaimana juga terungkap pada hasil wawancara dengan PKS Humas mengatakan bahwa dalam sistem pembelajaran masih terdapat hambatan pada tahap penyiapan konten atau materi yang Bermacammacam sesuai dengan karakteristik siswa serta tidak ditemukan panduan pelaksanaan penerapan kurikulum merdeka belajar. Demikian juga diungkapkan oleh Bapak T. Gulo bahwasanya guru menjadi fasilitator dalam kegiatan pembelajaran di dalam kelas walaupun kompetensi dalam penerapan kurikulum merdeka belajar masih dalam proses penguasaan. Arwadin Asmar Jaya Gulo. Wahyutra Adilman Telaumbanua. Eka Septianti Laoli, dan Bezisokhi Laoli (Analisis Faktor Ae Faktor Penghambat Penerapan Kurikulum Merdeka Belaja. JURNAL ILMIAH BINA EDUKASI ISSN 1979-8598 E-ISSN:2655-8373 http://journal. id/index. php/jurnalbinaedukasi Vol. No. Desember 2024, 130 - 142 SIMPULAN Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa faktor penghambat penerapan kurikulum merdeka belajar terdiri dari faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal, yaitu: motivasi belajar siswa masih rendah, respon sebagian siswa masih terlihat kurang fokus dan pengelompokkan minat dan bakat siswa masih belum diterapkan. Faktor eksternal yang menghambat seperti peran orang tua, kepemimpinan kepala sekolah, fasilitas sekolah, sistem pembelajaran, materi pembelajaran serta kompetensi Dari penelitian tersebut disarankan agar sekolah dapat berkoordinasi dengan pemerintah daerah dalam menyediakan fasilitas sarana dan prasarana, serta diharapkan kiranya guru dapat lebih kreatif dan inovatif dalam menerapkan pembelajaran kurikulum merdeka belajar. Arwadin Asmar Jaya Gulo. Wahyutra Adilman Telaumbanua. Eka Septianti Laoli, dan Bezisokhi Laoli (Analisis Faktor Ae Faktor Penghambat Penerapan Kurikulum Merdeka Belaja. JURNAL ILMIAH BINA EDUKASI ISSN 1979-8598 E-ISSN:2655-8373 http://journal. id/index. php/jurnalbinaedukasi Vol. No. Desember 2024, 130 - 142 DAFTAR PUSTAKA