Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 14 No. 1 Tahun 2026 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRI RUMAH TANGGA GULA MERAH DI DESA BETTENG. KECAMATAN PAMBOANG. KABUPATEN MAJENE Sudirman1. Astina2* Nurlaela2. Rizka Aulia Safarni1 1Program Studi Teknologi Hasil Pertanian. Fakultas Pertanian dan Kehutanan. Universitas Sulawesi Barat 2Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian dan Kehutanan. Universitas Sulawesi Barat *email: astina@unsulbar. ABSTRAK Desa Betteng dikenal sebagai salah satu sentra produksi gula merah tradisional berskala rumah Namun, pengembangan industri ini belum berjalan optimal karena menghadapi berbagai permasalahan yang cukup kompleks, sehingga perkembangannya cenderung lambat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan strategi alternatif pengembangan industri rumah tangga gula merah di Desa Betteng. Kecamatan Pamboang. Kabupaten Majene. Metode penelitian menggunakan survei, wawancara, penyebaran dan pengisian kuesioner serta studi pustaka. Analisis data menggunakan SWOT (Strengths. Weaknesses. Opportunities. Threat. dan FAHP (Fuzzy Analytical Hierarchy Proces. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai yang diperoleh dari matriks IFE adalah 2,543, sedangkan nilai matriks EFE sebesar 2,599. Industri rumah tangga gula merah di Desa Betteng berada pada sel V, yang menunjukkan posisi rata-rata baik secara internal maupun eksternal, sehingga strategi yang tepat adalah hold and maintain. Berdasarkan analisis SWOT, dihasilkan 13 strategi Lima prioritas strategi pengembangan utama adalah: Meningkatkan kapasitas produksi gula merah, membuat kemasan sekunder disertai desain kemasan yang menarik dan informatf, memberikan pelatihan kewirausahaan bagi pengrajin, mengembangkan diversifikasi produk gula merah, mengembangkan saluran distribusi pemasaran srcara offline dan online. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pengambilan keputusan bagi pelaku usaha dan pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan pengembangan industri gula merah secara berkelanjutan di Desa Betteng. Kata kunci: Desa_Betteng. Gula_Merah. Majene. Strategi_Pengembangan ABSTRACT Betteng Village is recognized as one of the centers of traditional household-scale palm sugar However, the development of this industry has not yet been optimal, as it faces various complex challenges, resulting in relatively slow progress. This study aims to determine alternative strategies for the development of household palm sugar industries in Betteng Village. Pamboang District. Majene Regency. The research method employed surveys, interviews, questionnaires, and literature studies. Data were analyzed using SWOT (Strengths. Weaknesses. Opportunities. Threat. and FAHP (Fuzzy Analytical Hierarchy Proces. The analysis results indicate that the value obtained from the IFE matrix is 2. 543, while the value of the EFE matrix is 2. The household palm sugar industry in Betteng Village is positioned in cell V, which reflects an average condition both internally and externally. therefore, the appropriate strategy is hold and maintain. Based on the SWOT analysis, 13 alternative strategies were formulated. The five main priority strategies for development are: enhancing palm sugar production capacity, creating secondary packaging accompanied by attractive and informative packaging design, providing entrepreneurship training for artisans, developing product diversification of palm sugar, and expanding marketing distribution channels through both offline and online platforms. The findings of this study are expected to serve as a basis for decision-making for business actors and stakeholders in formulating sustainable palm sugar industry development policies in Betteng Village. Keywords: Betteng_Village. Palm_Sugar. Majene. Development_Strategy Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 14 No. 1 Tahun 2026 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 PENDAHULUAN memperkuat daya saing, dan menjaga keberlanjutan usaha di tengah persaingan yang terus berkembang (Paimash, 2025. Urefe et , 2. Dalam penelitian ini, perencanaan strategi pengembangan usaha adalah dengan menggunakan pendekatan SWOT (Strengths. Weaknesses. Opportunities. Threat. Metode ini sebagai alat analisis kondisi internal dan eksternal yang memengaruhi kinerja usaha (Muwatir et al. , 2. Pendekatan ini digunakan untuk mengidentifikasi potensi dan keterbatasan internal, sekaligus peluang dan tantangan yang bersumber dari lingkungan eksternal, sehingga menghasilkan gambaran strategis yang komprehensif dan objektif bagi pengambilan keputusan pengembangan usaha (Ghaleb, 2024. Kumar & Praveena, 2. Penentuan prioritas strategi alternatif hasil analisis SWOT dilakukan dengan metode Fuzzy Analytical Hierarchy Process (FAHP). Metode ini memanfaatkan pengembangan kerangka AHP yang menggabungkan konsep logika fuzzy untuk menyusun urutan prioritas FAHP menghasilkan bobot keputusan yang lebih akurat dan memberikan gambaran yang lebih AHP konvensional(Azmiyati & Hidayat, 2017. Kinay & Tezel, 2022. Liu et al. , 2. Integrasi metode SWOT dan FAHP diharapkan dapat memberikan arahan strategis bagi pengembangan industri rumah tangga gula merah secara lebih terstruktur. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan rekomenedasi pengembangan usaha industri rumah tangga gula merah di Desa Betteng. Kabupaten Majene merupakan salah satu daerah potensial penghasil tanaman aren di Provinsi Sulawesi Barat. Luas perkebunan aren di wilayah ini mencapai 119 hektar, dengan produksi nira sekitar 15 ton per tahun (Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Barat, 2. Nira aren menjadi bahan baku utama bagi berbagai produk bernilai ekonomi tinggi, seperti gula merah, sirup, cuka, hingga minuman fermentasi (Anwar et al. , 2023. Effendi & Fitria, 2022. Saputro. AD et al. Dari berbagai olahan tersebut, gula merah memiliki peran sentral dalam struktur ekonomi masyarakat Majene, khususnya di Desa Betteng. Kecamatan Pamboang. Desa Betteng dikenal sebagai salah satu sentra penghasil gula merah tradisional. Kekayaan pohon aren telah dimanfaatkan secara turun-temurun oleh masyarakat Proses pengolahannya masih berskala rumah tangga dan termasuk kategori usaha mikro dan kecil. Rata-rata pelaku usaha memproduksi 5Ae15 buah gula merah per hari yang dipasarkan secara lokal. Industri ini mengurangi kemiskinan, serta melestarikan praktik budaya lokal (Asriani & Dude, 2. Namun demikian, pengembangan industri Hasil menunjukkan sejumlah hambatan, seperti penggunaan teknologi yang masih sederhana dan tradisional yang menyebabkan mutu produk tidak seragam (Misnawati et al. , 2. Rendahnya kualitas gula merah, keterbatasan pemasaran, rendahnya keterampilan akibat minimnya pelatihan, serta harga beli pengepul yang rendah. Persaingan dari produk luar turut keberlangsungan usaha (Wongkar et al. Meski menghadapi tantangan, industri Ketersediaan bahan baku dan semangat wirausaha lokal merupakan aset strategis yang dapat dioptimalkan. Kondisi tersebut menegaskan pentingnya strategi pengembangan yang terarah agar usaha dapat tumbuh dan bersaing secara berkelanjutan. Strategi pengembangan usaha diperlukan untuk memastikan bisnis dapat tumbuh dan mengganggu proses operasional. Strategi yang tepat membantu industri untuk beradaptasi. METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada industri rumah tangga pengolahan gula merah yang berlokasi di Desa Betteng. Kecamatan Pamboang. Kabupaten Majene. Kegiatan penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus hingga September 2025. Tahapan Penelitian Penelitian ini disusun dalam berbagai tahapan utama, yaitu: pengumpulan data, identifikasi faktor strategis, analisis SWOT dan matriks strategi, dan penilaian strategi menggunakan FAHP Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 14 No. 1 Tahun 2026 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 Pengumpulan data : dilakukan dengan survei, wawancara, observasi dan Responden pengetahuan dan otoritasnya terhadap industri rumah tangga yang menjadi objek Respoden terdiri dari: Pelaku Industri rumah tangga gula merah: Sebanyak 17 pelaku usaha gula merah di Desa Betteng responden yang memahami kondisi internal usaha. Dinas Koperasi. Industri Kecil Menengah. Perdagangan Perindustrian Kabupaten majene Sebanyak 2 pakar dari dinas terkait serta satu pelaku industri bertugas memberikan penilaian terhadap SWOT mengevaluasi strategi pengembangan usaha menggunakan pendekatan FAHP. Identifikasi Faktor Strategis : Identifikasi dilakukan untuk menentukan kondisi internal dan eksternal yang berpengaruh terhadap pengembangan Industri rumah tangga gula merah meliputi wawancara mendalam dengan pemilik usaha, studi literature dan observasi langsung. Analisis data yaitu menggunakan SWOT dan Matriks Strategi: Langkah ini bertujuan mengklasifikasi variabel ke dalam matriks SWOT: Analisis SWOT dilakukan dengan menyusun Matriks Internal Faktor Evaluation (IFE) dan External Factor Evaluation (EFE) berdasarkan bobot dan rating yang comparison, untuk menentukan posisi UKM dalam Matriks Internal dan Eksternal (IE). Hasilnya menjadi dasar dalam merumuskan strategi pada Matriks SWOT yang mencakup kombinasi Strenght Opportunity (SO). Weakness Opportunity (WO). Weakness Threats (ST), dan Weakness Threats (WT). Penilaian Strategi Alternatif dengan FAHP : FAHP digunakan untuk menentukan prioritas strategi berdasarkan struktur hierarki keputusan. HASIL DAN PEMBAHASAN Matriks IFE Matrkis IFE adalah matriks yang menyusun daftar faktor internal utama . ekuatan dan kelemaha. , memberikan bobot masing-masing faktor sesuai tingakt perusahaan untuk mengidentifikasi faktor internal yang paling berpengaruh terhadap keberhasilan atau kegagalan. (Az Zahra et , 2021. Nur Aziz et al. , 2021. Syamruddin & Yunita, 2024. Zain et al. Total skor faktor internal menjadi pengembangan usaha. Hasil analisis Matriks IFE disajikan Tabel 1 Berdasarkan Tabel 1, industri gula merah di Desa Betteng memiliki delapan faktor kekuatan. Dari kedelapan variabel tersebut, ketersediaan bahan baku nira yang mudah didapat dan tersedia terus menerus memperoleh bobot tertinggi dengan nilai 0,307. Hal ini menunjukkan bahwa ketersediaan bahan baku nira yang mudah didapat dan tersedia terus menerus menjadi faktor dominan yang berperan penting dalam perumusan strategi pengembangan industri diwilayah tersebut. Pada aspek kelemahan terdapat sepuluh variabel, dengan nilai terendah terdapat pada faktor kemasan yang masih sederhana serta belum ada label merek . Kondisi tersebut mencerminkan bahwa kelemahan utama pelaku industri Adapun hasil nilai total Matriks IFE sebesar 2,543 oleh karena itu posisi dari Industri rumah tangga desa betteng adalah kuat. Henrianto et al. menyatakan bahwa jika total skor Matriks IFE melebihi 2,5, maka perusahaan dinilai memiliki kemampuan di atas ratarata dalam memanfaatkan kekuatan untuk mengatasi kelemahannya. Meski demikian, industri rumah tangga gula merah di Desa Betteng meminimalisasi kelemahan yang ada. Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 14 No. 1 Tahun 2026 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 Tabel 1. Analisis nilai Matriks IFE W10 Faktor Strategi Internal Kekuatan Bahan baku nira mudah didapat dan tersedia terus-menerus Biaya produksi yang terjangkau Gula merah memiliki kandungan nutrisi yang bermanfaat bagi Memiliki cita rasa manis alami Permintaan pasar terhadap produk gula merah cukup tinggi Produk dapat didiversifikasi menjadi berbagai bentuk olahan nira. Usaha bersifat turun-temurun Tenaga kerja dan lahan produksi relatif mudah diakses. Total faktor kekuatan Kelemahan Bahan baku mudah rusak Modal usaha masih terbatas. Proses pengolahan masih manual dan tradisional. Kualitas produk belum stabil dan belum sesuai standar Usaha belum punya izin resmi. Akses pemasaran masih sempit. Sumber daya manusia belum memiliki pengetahuan dan keterampilan yang cukup. Kemasan masih sederhana dan belum ada label merek. Proses produksi cukup rumit dan membutuhkan waktu yang lama Penanganan bahan baku dan sanitasi belum diperhatikan dengan baik Total faktor kelemahan Total Keseluruhan nilai IFE Bobot Rating Skor(B * R) 0,077 0,053 4,000 4,000 0,307 0,214 0,052 0,056 0,052 0,066 0,039 0,044 3,000 3,333 3,333 3,667 1,667 1,667 0,155 0,185 0,174 0,242 0,064 0,074 1,415 0,042 0,076 0,071 0,064 0,059 0,062 2,667 1,333 1,333 1,667 2,333 1,333 0,112 0,101 0,095 0,106 0,137 0,082 0,051 0,062 0,035 0,041 3,333 1,000 3,667 3,333 0,169 0,062 0,128 0,136 1,128 2,543 Tabel 2. Nilai Matriks EFE Industri Gula Merah di Desa Betteng Faktor Strategi Eksternal Peluang Pasar gula merah masih terbuka luas (Kebutuhan industri makanan dan minuman terhadap gula merah tingg. Perkembangan teknologi dan informasi semakin pesat. Terdapat program kemitraan swasta untuk pengembangan produk gula merah. Ketersediaan akses terhadap kredit usaha kecil cukup memadai. Bobot Rating Skor (B * R) 0,11 0,08 3,667 3,000 0,417 0,231 0,08 0,08 3,333 3,000 0,253 0,254 Adanya dukungan dari pemerintah daerah. Adanya bazar untuk mengenalkan produk gula merah di berbagai Harga gula merah nira kelapa mampu bersaing dengan produk 0,06 2,667 0,165 0,06 2,333 0,141 0,09 3,667 0,347 Bobot Rating 1,808 Skor (B * R) Total Faktor Peluang Ancaman Harga produk ditentukan oleh mekanisme pasar 0,09 2,000 0,174 kualitas bahan baku dan rendeman yang tidak menentu 0,08 2,000 0,154 Persaingan dengan produk gula merah sejenis cukup tinggi 0,08 2,000 0,162 Peminat usaha gula merah semakin menurun 0,08 2,000 0,157 Bahan bakar untuk pengolahan gula merah sulit didapat 0,11 1,333 0,145 Total Faktor Ancaman 0,791 Total Keseluruhan Nilia EFE 2,599 Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 Vol. 14 No. 1 Tahun 2026 Gambar 1. Alternatif Strategi Untuk Industri Rumah Tangga Gula Merah di Desa Betteng Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 14 No. 1 Tahun 2026 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 Matriks EFE lingkungan eksternal dengan cukup baik. Dengan demikian, industri rumah tangga gula merah di Desa Betteng dinilai mampu memanfaatkan peluang yang tersedia untuk menghadapi dan mengurangi dampak dari berbagai ancaman yang ada. Matriks EFE digunakan untuk mengidentifikasi peluang dan ancaman eksternal yang signifikan (Maulana et al. Suhendah et al. , 2. Skor total menunjukkan seberapa baik UKM memanfaatkan peluang dan mengatasi ancaman (Majka & Kwilinski, 2. Hasil perhitungan matriks EFE tersaji pada Tabel 2. Berdasarkan hasil analisis matriks EFE pada Tabel 2, industri rumah tangga gula merah di Desa Betteng tercatat memiliki tujuh variabel yang termasuk dalam faktor Dari tersebut, peluang terbesar ditunjukkan oleh O1, yakni pasar gula masih terbuka luas . ebutuhan industri makanan dan minuman terhadap gula merah tingg. dengan skor 0,417. Sementara itu, peluang terendah terdapat pada variabel O6, yaitu Adanya bazar untuk mengenalkan produk gula merah di berbagai event. Temuan ini mengindikasikan bahwa variabel gula masih terbuka luas . ebutuhan industri makanan dan minuman terhadap gula merah tingg. merupakan faktor yang paling menentukan dalam perumusan strategi pengembangan industri rumah tangga gula merah di Desa Betteng. Pada faktor ancaman teridentifikasi lima variabel. Variabel dengan skor terendah adalah bahan bakar untuk pengolahan gula merah sulit didapat, dengan skor 0,145. Sementara itu, ancaman dengan skor tertinggi adalah harga produk ditentukan oleh mekanisme pasar, dengan skor 0,174. Hasil ini menunjukkan bahwa keterbatasan bahan bakar berpotensi keberlangsungan industri gula merah di menimbulkan dampak signifikan terhadap proses produksi. Secara keseluruhan, perhitungan matriks EFE pada lingkungan eksternal industri rumah tangga gula merah di Desa Betteng menghasilkan skor total sebesar 2,599. Munir et al. , . , nilai EFE yang berada di atas rata-rata 2,5 menunjukan kemampuan organisasi dalam merespons Matriks IE Matriks IE adalah instrumen analisis menggambarkan posisi industri rumah tangga gula merah di Desa Betteng dengan mempertimbangkan faktor internal serta faktor eksternal, sehingga dapat menjadi dasar merancang arah pengembangan yang sesuai untuk menjamin keberlanjutan usaha tersebut di masa depan (Febrina et al. Berdasarkan hasil analisis, total skor yang diperoleh dari matriks IFE adalah 2,543. EFE menunjukkan nilai sebesar 2,599. Kedua skor tersebut menjadi dasar dalam pemetaan pada matriks IE yang disajikan pada Gambar 2. Gambar 2. Matriks IE Berdasarkan Gambar 2, posisi industri rumah tangga gula merah di Desa Betteng terletak pada sel ke V, kondisi ini mencerminkan tingkat kinerja internal dan eksternal berada pada kategori rata-rata. Menurut Wahyunawati, . dan Nabila et al. , . , apabila suatu perusahaan berada pada sel i. V, atau VII, maka strategi yang dapat diterapkan adalah hold and maintain. Strategi ini berarti mempertahankan kinerja yang telah dicapai sekaligus memperkuat potensi internal serta memperbaiki kelemahan yang ada. Dalam hal ini, industri rumah tangga gula Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 14 No. 1 Tahun 2026 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 merah di Desa Betteng perlu menjaga ancaman yang mungkin muncul, serta berupaya memanfaatkan peluang yang tersedia agar dapat berkembang lebih baik dari kondisi sebelumnya. Strategi yang diperoleh melalui matriks IE berfungsi sebagai acuan dalam merumuskan alternatif strategi secara umum. Tahapan berikutnya adalah penyusunan matriks SWOT, yang hasil analisisnya akan menjadi dasar dalam merumuskan strategi alternatif sebagai rekomendasi bagi pengembangan diwilayah matriks IE, yaitu pada strategi hold and Dalam matriks SWOT, terdapat empat alternatif strategi yang dapat dihasilkan, yakni SAeO. WAeO. SAeT. dan WAe Alternatif strategi untuk industri rumah tangga gula merah selengkapnya disajikan pada Gambar 1. Analisis Prioritas Strategi Alternatif Pengembangan Usaha Industri Rumah Tangga Gula Merah di Desa Betteng Perencanaan strategi pengembangan usaha gula merah di Desa Betteng menghasilkan tiga belas alternatif strategi yang diperoleh melalui analisis matriks SWOT serta telah disesuaikan dengan kondisi aktual industri gula merah di wilayah tersebut. Setelah dirumuskan, strategi alternatif tersebut kemudian dinilai untuk menentukan tingkat prioritas masingmasing dengan menggunakan metode FAHP. Proses melibatkan responden yang terdiri atas dua pakar dari Dinas Koperasi. Industri Kecil Menengah. Perdagangan, dan Perindustrian Kabupaten Majene, serta seorang pelaku industri gula merah. Hasil perhitungan prioritas strategi alternatif pengembangan usaha gula merah di Desa Betteng selengkapnya disajikan pada Tabel 3. Matriks SWOT Strategi pengembangan usaha industri rumah tangga gula merah di Desa Betteng disusun berdasarkan hasil analisis faktor diidentifikasi melalui matriks IFE dan EFE. SWOT merupakan tahapan akhir dalam perumusan strategi pengembangan usaha, yang bertujuan untuk mengoptimalkan kekuatan dan peluang yang dimiliki sekaligus meminimalkan kelemahan serta ancaman yang dihadapi oleh industri rumah tangga gula merah di Desa Betteng. Penyusunan strategi pada matriks SWOT didasarkan pada posisi perusahaan dalam Tabel 3. Penilaian Prioritas Strategi Alternatif Pengembangan Usaha Industri Gula merah di Desa Betteng Alternatif Strategi Skor Rating Meningkatkan kapasitas produksi gula merah 0,119 Mengembangkan diversifikasi produk gula merah 0,104 Melakukan promosi, branding dan kampanye produk unggulan daerah 0,060 Mengoptimalkan pemanfaatan kredit usaha kecil 0,039 Meningkatkan keterampilan Sumber Daya Manusia 0,063 Menerapkan teknologi sederhana dan tepat guna 0,082 Membuat kemasan sekunder disertai desain kemasan yang menarik dan 0,113 Mengembangkan saluran distribusi offline dan online 0,102 Membangun kemitraan dengan pihak swasta dan pemerintah 0,038 Memberikan pelatihan kewirausahaan bagi pelaku industri gula merah 0,110 Mengoptimalkan dukungan pemerintah dan tenaga kerja lokal untuk mencari 0,069 serta menggunakan bahan bakar alternatif yang lebih mudah diperoleh Meningkatkan kualitas produk, pengelolaan sanitasi dan standar produksi 0,047 Mengurus izin dan legalitas usaha secara resmi 0,053 Berdasarkan Tabel 3, dirumuskan 13 strategi dengan tingkat prioritas tertinggi strategi pengembangan yang selanjutnya dipilih untuk dibahas lebih lanjut karena disusun berdasarkan urutan tingkat prioritas. dinilai memiliki pengaruh paling signifikan Dari keseluruhan strategi tersebut, lima terhadap pengembangan industri gula merah di Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 14 No. 1 Tahun 2026 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 Desa Betteng. Strategi dengan prioritas utama adalah meningkatkan kapasitas produksi gula merah dengan nilai bobot sebesar 0,119, diikuti oleh pembuatan kemasan sekunder disertai desain kemasan yang menarik dan informatif . , pemberian pelatihan kewirausahaan bagi pelaku industri gula merah . , pengembangan diversifikasi produk gula merah . , serta pengembangan saluran distribusi pemasaran secara offline dan online . Dengan peningkatan kapasitas produksi, pelaku industri gula merah di Desa Beteng tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pasar lokal, tetapi juga berpotensi menjadi penyuplai bagi kebutuhan gula merah nasional yang hingga kini masih belum terpenuhi secara Selain itu, terdapat kesenjangan antara permintaan dan kapasitas produksi yang pada kondisi tertentu mengakibatkan kelebihan permintaan tidak dapat dipenuhi oleh produsen lokal (Pambudi et al. , 2. Fakta ini mengindikasikan masih luasnya peluang bagi industri rumah tangga gula merah, termasuk di Desa Betteng, untuk memperbesar kapasitas produksi sehingga dapat meningkatkan daya mendukung ketahanan pangan nasional. itu, peningkatan produksi gula merah juga kesejahteraan masyarakat desa. Peningkatan kapasitas produksi akan membuka lebih banyak lapangan kerja, memperkuat ekonomi keluarga (Alatas et al. , 2. Dengan sinergi antara kekuatan internal dan peluang eksternal, serta dukungan pelatihan dan teknologi, industri gula merah di Desa Beteng dapat tumbuh berkelanjutan dan berdaya saing tinggi di pasar nasional maupun internasional. Meningkatkan Kapasitas Produksi Gula Merah Strategi meningkatkan kapasitas produksi gula merah di Desa Betteng didasarkan pada pengoptimalan kekuatan internal yang tersedia (S1. S2. S3. S4. S5. dengan peluang eksternal (O1. O2. O3. O4. Ketersediaan bahan baku nira yang mudah diperoleh merupakan fondasi utama bagi keberlanjutan Tanpa pasokan bahan baku yang stabil dan mudah diperoleh, proses produksi dapat terganggu, biaya meningkat, dan keberlanjutan jangka panjang terancam (Lewicka et al. , 2021. Zanoletti et al. , 2. sehingga pengelolaan persediaan bahan baku yang efektif menjadi faktor penting dalam kesinambungan produksi pada usaha skala rumah tangga (Zaharuddin et al. , 2. Faktor lain yang mendukung strategi peningkatan kapasitas produksi adalah biaya produksi yang relatif terjangkau, kandungan nutrisi gula merah yang bermanfaat, cita rasa manis alami, serta permintaan pasar yang terus meningkat. Selain itu, ketersediaan tenaga kerja dan lahan produksi memberikan dukungan nyata terhadap kelancaran proses pengolahan. Dari sisi eksternal, terbukanya peluang pasar seiring dengan tingginya kebutuhan industri makanan dan minuman (O. menunjukan urgensi peningkatan kapasitas Perkembangan teknologi informasi (O. juga menjadi faktor pendukung dalam memperluas promosi dan pemasaran. Akses terhadap kredit usaha kecil (O. , dukungan pemerintah daerah (O. , serta kesempatan memperkenalkan produk melalui bazar (O. semakin memperkuat landasan strategi ini. Membuat Kemasan Sekunder Disertai Desain Kemasan Yang Menarik Dan Informatif Strategi sekunder disertai desain yang menarik dan informatif untuk gula merah di Desa Betteng didasarkan pada upaya meminimalkan kelemahan internal (W4. W6. dengan memanfaatkan peluang eksternal (O1. O2. O6. Selama ini, gula merah di Desa Betteng hanya menggunakan kemasan primer berupa daun pisang kering, disatu sisi menjaga nilai tradisional, namun disisi lain belum mampu memberikan perlindungan optimal terhadap produk dan kurang menarik secara visual. Kualitas produk yang belum stabil dan belum sesuai standar (W. , akses pemasaran yang masih sempit (W. , serta kemasan yang sederhana tanpa label merek (W. menjadi hambatan utama dalam meningkatkan daya saing di pasar yang semakin kompetitif. Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 14 No. 1 Tahun 2026 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 Peluang pasar gula merah yang masih terbuka luas (O. , terutama karena kebutuhan industri makanan dan minuman yang tinggi, dapat dimaksimalkan dengan kemasan sekunder yang menarik dan informatif, sehingga produk lebih mudah diterima di pasar modern dan industri(Alhamdi, 2020. Sayyida et al. , 2018. Yeo et al. , 2. Perkembangan teknologi dan informasi yang pesat (O. memungkinkan promosi dan pemasaran produk gula merah secara digital, di mana kemasan yang informatif dan visual yang menarik sangat berperan dalam menarik minat konsumen baru (Ignacia et al. , 2025. Wardah et al. , 2. Adanya bazar dan event promosi (O. juga menjadi kesempatan strategis untuk memperkenalkan produk dengan kemasan meningkatkan citra dan daya tarik produk di mata konsumen. Selain itu, harga gula merah nira kelapa yang mampu bersaing dengan produk sejenis (O. akan semakin bernilai jika didukung oleh kemasan yang memenuhi standar, informatif, dan menarik, sehingga konsumen tidak hanya mempertimbangkan harga, tetapi juga kualitas dan kepercayaan terhadap produk (Javeed et al. , 2022. Sari Ayu et al. , 2. Kemasan sekunder berfungsi sebagai pelindung tambahan yang menjaga kualitas dan keamanan produk selama distribusi, serta sebagai media komunikasi yang efektif untuk menyampaikan informasi penting kepada konsumen (Eddine et al. , 2024. Suryaningrat et al. , 2. Dengan tetap mempertahankan kemasan primer dari daun pisang kering sebagai identitas lokal, dan penambahan memenuhi standar modern akan menciptakan sinergi antara pelestarian tradisi dan inovasi Strategi ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing gula merah Desa Betteng, memperluas jangkauan pasar, serta mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang berdampak pada peningkatan pendapatan dan kualitas hidup masyarakat desa. Memberikan Pelatihan Kewirausahaan Bagi Pelaku Imdustri Gula Merah Strategi pelatihan kewirausahaan bagi pelaku industri gula merah di Desa Betteng didasarkan pada upaya memaksimalkan kekuatan internal (S1. S2. S3. S4. S5. S6. sekaligus menjawab berbagai ancaman eksternal (T1. T2. T3. T4. yang selama ini menghambat perkembangan usaha. Selama ini, pengrajin gula merah di Desa Betteng belum pernah mendapatkan pelatihan kewirausahaan, baik secara individu maupun kelompok, sehingga proses produksi dan pemasaran masih berjalan secara tradisional dan turuntemurun. Padahal, ketersediaan bahan baku nira yang melimpah dan biaya produksi yang terjangkau (S1. merupakan modal besar untuk pengembangan usaha, apalagi didukung permintaan pasar yang tinggi dan potensi diversifikasi produk (S5. Namun, tanpa pengetahuan manajemen usaha, pemasaran, inovasi produk, dan pemanfaatan teknologi, pelaku usaha sulit bersaing dan rentan terhadap fluktuasi harga, kualitas bahan baku yang tidak menentu, serta menurunnya minat generasi muda (T1. T2. T3. Industri rumah tangga gula merah dapat menjalin kerja sama dengan Dinas Koperasi. Usaha Kecil Menengah. Perdagangan, dan Perindustrian Kabupaten Majene dalam kewirausahaan bagi para pelaku usaha. Bentuk pelatihan yang dapat diberikan meliputi teknik produksi dan manajemen mutu, inovasi produk, pengemasan, pemasaran digital, manajemen keuangan dan perhitungan labarugi, manajemen usaha, legalitas usaha, komputerisasi, serta motivasi kewirausahaan. Pelatihan terbukti mampu meningkatkan pemahaman, motivasi, dan keterampilan pelaku usaha, memperbaiki kualitas produk, memperluas jangkauan pasar, serta mendorong peningkatan pendapatan dan daya saing industri gula merah di berbagai daerah (Munira et al. , 2022. Munthe & Dewi, 2024. Tang et al. , 2021. Wardah et al. , 2023. Wisdaningrum et al. , 2018. Yasser et al. Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 14 No. 1 Tahun 2026 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 utama, yaitu akses pemasaran yang masih sempit (W. , sekaligus memanfaatkan peluang eksternal seperti pasar gula merah yang masih terbuka luas (O. , perkembangan teknologi informasi (O. , adanya bazar untuk mengenalkan produk (O. , dan harga gula merah nira kelapa yang mampu bersaing (O. Selama ini, pemasaran gula merah di Desa Betteng masih terbatas pada penjualan di pasar tradisional dan melalui tengkulak, sehingga jangkauan pasar dan volume penjualan belum Padahal, kebutuhan industri makanan dan minuman terhadap gula merah sangat memberikan peluang besar untuk memperluas pasar melalui saluran online seperti media sosial dan marketplace (Munthe & Dewi. Rufaida Asnidar. Pengembangan saluran distribusi yang lebih beragam dan efisien menjadi faktor kunci dalam meningkatkan akses pasar dan kinerja pemasaran produk pertanian skala kecil, berpengaruh terhadap efisiensi biaya, margin pemasaran, dan bagian harga yang diterima produsen (Syafiruddin, 2020. Syafiruddin & Siregar, 2. Industri gula merah di Desa Betteng dalam mengembangkan saluran distribusi secara offline dengan menitipkan produk di toko oleh-oleh, toko retail besar, toko sembako, dan franchise, serta memanfaatkan event bazar atau pameran produk yang difasilitasi oleh dinas terkait. Sementara itu, pemasaran online dapat dioptimalkan melalui promosi dan penjualan di platform digital seperti WhatsApp. Instagram. TikTok. Tokopedia. Bukalapak, dan Shopee. Penerapan strategi digital marketing terbukti mampu meningkatkan pemahaman pelaku usaha, meningkatkan pendapatan serta daya saing produk (Ainy, 2024. Sharabati et al. , 2. Kerja sama dengan Dinas Koperasi. Industri Kecil Menengah. Perdagangan, dan Perindustrian Kabupaten Majene sangat penting untuk mendukung promosi dan memfasilitasi keikutsertaan dalam pameran Mengembangkan Diversifikasi Produk Gula Merah Pengembangan diversifikasi produk gula merah di Desa Betteng merupakan strategi yang sangat relevan untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing industri gula merah Ketersediaan bahan baku nira yang melimpah, biaya produksi yang terjangkau, kandungan nutrisi yang bermanfaat, serta cita rasa manis alami menjadi kekuatan utama yang dapat dioptimalkan. Selain itu, permintaan pasar yang tinggi dan tradisi usaha yang turun-temurun memberikan fondasi kuat bagi pengembangan usaha. Peluang eksternal seperti pasar yang masih terbuka luas, adanya pemerintah daerah, bazar promosi, serta harga produk yang kompetitif semakin memperkuat urgensi diversifikasi produk. Selama ini, pelaku usaha di Desa Betteng cenderung hanya memproduksi gula merah dalam bentuk cetakan konvensional, sehingga nilai jual produk belum optimal. Untuk meningkatkan nilai ekonomi dan memperluas jangkauan pasar, industri rumah tangga gula merah di Desa Betteng perlu melakukan diversifikasi produk. Bentuk diversifikasi tersebut dapat berupa gula merah cair dalam kemasan botol, gula merah kemasan recengan, gula semut, aneka minuman berbasis gula merah, maupun berbagai olahan kue berbahan dasar gula merah. Diversifikasi produk bertujuan mendorong pertumbuhan usaha, memperluas pangsa pasar, mengurangi risiko usaha, serta meningkatkan kepuasan dan loyalitas konsumen. Melalui diversifikasi. UMKM dapat lebih responsif terhadap kebutuhan dan selera konsumen yang beragam, sehingga mampu menarik minat lebih banyak pelanggan dan meningkatkan volume penjualan (Budiman et al. , 2022. Fajar et al. , 2020. Irianto & Rozci, 2023. Septiawati et al. , 2. Mengembangkan Saluran Distribusi Pemasaran Srcara Offline Dan Online Strategi pengembangan saluran distribusi pemasaran gula merah di Desa Betteng didasarkan pada upaya mengatasi kelemahan Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 14 No. 1 Tahun 2026 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 atau pelatihan pemasaran digital. Dengan demikian, pengembangan saluran distribusi pemasaran secara offline dan online tidak hanya menjawab kelemahan akses pemasaran, pertumbuhan industri gula merah di Desa Betteng di era digital. Alatas. Pontoh. , & Morad. Strategi Kebijakan Pemerintah Daerah: Peningkatan Kapasitas Produksi. Penyerapan Tenaga Kerja dan Peningkatan Pendapatan UMKM. Ekonomi. Keuangan. Investasi Dan Syariah (EKUITAS), 4. , 705Ae710. https://doi. org/10. 47065/ekuitas. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis SWOT dan FAHP, dapat disimpulkan bahwa industri rumah tangga gula merah di Desa Betteng memiliki kondisi internal dan eksternal yang relatif seimbang. Kekuatan utama industri ini terletak pada ketersediaan bahan baku nira yang mudah diperoleh dan tersedia secara berkelanjutan, meskipun masih dihadapkan pada sejumlah kelemahan dan ancaman, terutama pada aspek pengemasan, akses pemasaran, serta ketersediaan pendukung Hasil pemetaan Matriks InternalAe Eksternal (IE) menempatkan industri rumah tangga gula merah di Desa Betteng pada sel V, sehingga strategi pengembangan yang tepat untuk diterapkan adalah hold and maintain. Sejalan dengan tujuan penelitian, analisis SWOT menghasilkan 13 strategi alternatif pengembangan usaha yang selanjutnya diprioritaskan menggunakan metode FAHP. Hasil FAHP menunjukkan lima strategi dengan tingkat prioritas tertinggi, yaitu meningkatkan kapasitas produksi gula merah, mengembangkan kemasan sekunder dengan desain yang menarik dan informatif, memberikan pelatihan kewirausahaan bagi pelaku industri gula merah, mengembangkan diversifikasi produk gula merah, serta memperluas saluran distribusi pemasaran baik secara offline maupun online. Alhamdi. Role of packaging in Management Science Letters, 10. , 1191Ae1196. https://doi. org/10. 5267/j. Anwar. Puspitasari. , & Fatriasari. Alcohol concentration from fermentation and distillation of Palm sap (Arenga pinnat. in North Halmahera. Indonesia. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 1255. , 1Ae9. https://doi. org/10. 1088/17551315/1255/1/012064 Asriani, & Dude. Analisis Struktur Biaya dan Pendapatan Usaha Gula Aren di Desa Ponre Waru Kecamatan Wolo Kabupaten Kolaka. Tekper: Jurnal Teknologi Dan Manajemen Industri Pertanian, 1. , 151Ae154. https://doi. org/http://dx. org/10. 2/tekper. Az Zahra. Wahyudin. , & Nugraha, . The Implementation of the Strategy of Marketing Management through a SWOT Analysis with the Matrix of IFE. EFE and IE. Jurnal Serambi Engineering, 6. , 1721Ae1729. https://doi. org/10. 32672/jse. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada LPPM Universitas Sulawesi Barat yang telah memberikan pendanaan atas penelitian ini. Azmiyati. , & Hidayat. Pengukuran Kinerja Rantai Pasok pada PT. Louserindo Megah Permai Menggunakan Model SCOR dan FAHP. JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI SAINS DAN TEKNOLOGI, 3. , 163. https://doi. org/10. 36722/sst. DAFTAR PUSTAKA