https://journal. id/widyadidaktika JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Juni 2025. PP 56-61 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 PENERAPAN KATA MAAF. TOLONG DAN TERIMA KASIH DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER SOSIAL ANAK Dani Ahmad Nurul Rizki1*. Mawardah Lina2. Lestari Lutfiana3. Wahyuni Nur4. Rohmaniah Arifatur5 1Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Darul Ulum Islamic Centre Sudirman GUPPI *E-mail: danirizky299@gmail. Abstrak Dalam upaya pembentukan generasi yang berkualitas, pendidikan karakter sejak dini harus dilakukan Akan tetapi, pendidikan ataupun pembelajaran tentang karakter sosial sebagai dasar hidup di masyarakat sumbernya sangat terbatas hanya bisa diperoleh melalui pendidikan di sekolah maupun pendidikan dari orang tua di Penelitian ini menggunakan metode penelitian berbasis studi kepustakaan atau library reseacrh. Penelitian berbasis kepustakaan dilakukan dengan mengkaji literatur atau artikel-artikel yang mendukung judul penelitian. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian . membaca, . mencatat, . pengolahan bahan penelitian dalam mencapai hasil yang relevan. Pengumpulan data data primer pada penelitian ini, dari 17 artikel dan 1 buku. Hasil dari penelitian ini pembiasaan penggunaan kata AuMaafAy, dilakukan melalui bimbingan orang tua ataupun pendidik. Kedua, pembiasaan menggucapkan kata AuTerima kasihAy dilakukan dengan memberikan contoh kegiatan kepada anak untuk selalu mengucapkan kata terima kasih. Ketiga, pembiasan penggunaan kata AuTolongAy dilakukan melaui kegiatan pembiasaan dengan memberikan contoh kepada Keempat, pembiasaan mengucapkan kata AuPermisiAy dilakukan dengan memberikan pemahaman kepada anak. Kata Kunci: maaf. terima kasih. karakter sosial Abstract In an effort to form a quality generation, character education must be carried out from an early age. However, education or learning about social character as the basis of life in society has very limited sources and can only be obtained through education at school or education from parents in the family. This study uses a research method based on library research. Library-based research is conducted by reviewing literature or articles that support the research title. Data collection techniques used in the study are . reading, . taking notes, . processing research materials to achieve relevant results. Primary data collection in this study, from 17 articles and 1 The results of this study: First, the habit of using the word "Sorry", is carried out through the guidance of parents or educators. Second, the habit of saying the word "Thank you" is carried out by providing examples of activities for children to always say thank you. Third, the habit of using the word "Please" is carried out through habituation activities by providing examples to children. Fourth, the habit of saying the word "Permission" is carried out by providing understanding to children. Keywords: sorry. thank you. social character https://journal. id/widyadidaktika PENDAHULUAN Ilmu pengetahuan yang bersifat kognitif pada saat ini bisa didapatkan dari berbagai macam sumber, baik dari hasil pencarian di internet, dari buku, dan juga dari televisi. Akan tetapi, pendidikan ataupun pembelajaran tentang karakter sosial sebagai dasar hidup di masyarakat sumbernya sangat terbatas hanya bisa diperoleh melalui pendidikan di sekolah maupun pendidikan dari orang tua di keluarga. Menurut Aprily, dkk. Peran orang tua ataupun guru, tidak hanya memperhatikan perkembangan kognitif saja, tetapi juga pembentukan karakter yang tercermin dalam sikap, kepribadian, dan perilaku setiap anak (Alifah dkk. ,2. Lingkungan sekitar anak sangat berpengaruh terhadap perkembangan karakter anak. lingkungan sosial sekitar dalam masyarakat masih banyak fenomena negatif yang mengemuka dan sering menjadi contoh dalam kehidupan sehari-hari. Melalui pergaulan, lingkungan sekitar, maupun peran orang tua dijumpai kasus-kasus anak usi dini sudah mulai sering berkelahi dengan teman, berbicara kurang sopan, mengambil barang milik orang lain, tidak mau bergantian saat sedang mengantri dan Dalam Bab 1 Pasal 1 Ayat 14 UndangUndang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dikemukakan. AuPendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir hingga usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan ruhani agar anak memilik kesiapan lanjutAy(Nurhayati Ida, dkk. , 2. Pendidikan anak, khususnya yang masih dalam usia dini seharusnya banyak ditekankan tentang dasardasar kesopanan sesuai nilai karakter budaya Indonesia yang menjunjung tinggi sopan santun. Perkembangan sosial merupakan proses pembentukan sosial self . ribadi dalam masyaraka. oleh seseorang untuk memperoleh JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Juni 2025. PP 56-61 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 kemampuan berperilaku sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku di lingkungan sosialnya (Aprily dkk. , 2. Perkembangan sosial juga merupakan bagian dari proses belajar berprilaku, berhubungan atau berinteraksi dengan individu untuk hidup sebagai bagian dari kelompoknya. Perkembangan kemampuan sosial. Kemampuan sosial yaitu kecakapan anak untuk merespon dan mengikat perasaan positif serta memiliki kemampuan tinggi untuk menarik perhatian di lingkungan Faktor-faktor perkembangan sosial anak usia dini menurut Hurlock dalam (Aprily dkk. , 2. Pertama, faktor lingkungan keluarga. Untuk mencapai kematangan sosial, seorang anak harus belajar tentang bagaimana cara menyesuaikan diri dengan orang lain. Kemampuan ini diperoleh anak melalui kesempatan dan pengalaman bergaul dengan orang-orang dilingkungannya, baik orang tua, saudara, teman sebaya, ataupun orang dewasa lainnya. Perkembangan sosial dilingkungan keluarga juga dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: . Status di keluarga, sosial seorang anak akan dipengaruhi oleh apa statusnya didalam keluarga tersebut. Apakah seorang kakak, adik, anak dan lainnya. Hal ini akan mempengaruhi proses sosialnya, seperti bagaimana harus berperan ketika menjadi seorang anak, ketika menjadi seorang kakak, dan ketika menjadi seorang adik. Keutuhan keluarga, jika sebuah keluarga memiliki keutuhan yang bagus dan jarang terdengar konflik didalamnya, maka sosial anak akan berjalan dengan lancar karena tidak ada faktor yang mengganggu berjalannya proses sosial anak . Sikap dan kebiasaan orang tua, kebiasaan orang tua akan menurun kepada Jika orang tua yang memiliki sikap ramah dan hubungan yang baik selalu terjalin dengan orang-orang sekitar, maka dapat dipastikan sosial anak juga akan bagus. Kedua, faktor dari luar rumah sebagai wadah bagi anak untuk bersosial. Di luar rumah anak akan bertemu https://journal. id/widyadidaktika dengan orang banyak, seperti teman sebaya, orang yang lebih muda dari usianya, dan orang dewasa, sehingga sosialnya akan berjalan sesuai dengan sebagai apa perannya dilingkungan Ketiga, faktor pengaruh pengalaman sosial anak. Apabila seorang anak memiliki pengalaman sosial yang buruk, seperti tidak diperbolehkan main keluar rumah oleh orang tuanya, ini akan berpengaruh bagi proses social dilingkungan sekitar luar rumahnya. Hal ini, akan menyebabkan anak menjadi tidak tahu dan kurang bersosial dengan lingkungan diluar Mengingat perkembangan sosial pada masa ini, masih banyak fenomena negatif yang sering dijumpai dan menjadi contoh dalam kehidupan sehari-hari melalui pergaulan maupun lingkungan sekitar. Seperti banyak dijumpai kasuskasus anak usia dini mulai dari berkelahi dengan teman sebayanya, berbicara kurang sopan, bersikap kurang sopan kepada orang yang lebih tua, bersifat egosentris atau tidak mau bergantian saat mengantri dan masih banyak kasus yang lainnya. Perkembangan karakter anak dikatakan belum berkembang secara maksimal, hal ini dikarnakan oleh beberapa faktor, salah satunya tidak ada pembiasaan pendidikan karakter kepada anak yang dilakukan oleh orang tua, karena sebagian orang tua lebih anak-anaknya keunggulan di bidang akademik, sehingga aspek perkembangan sosial anak kurang diperhatikan. Diperlukan pembentukan karakter yang kuat kepada anak, supaya ketika anak memasuki kehidupan sosialnya, dapat berperilaku sesuai dengan nilai/norma yang ada di masyarakat. Dengan begitu melalui penelitian ini, maka penulis tertarik untuk melakukan kajian literatur mengenai metode pembiasaan mengucapkan kata maaf, tolong, dan terimakasih bagi anak usia dini dan implementasinya, yang merupakan landasan atau modal dasar bagi upaya pembiasaan dan pembentukan karakter sosial anak. JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Juni 2025. PP 56-61 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode penelitian berbasis studi kepustakaan atau library reseacrh. Penelitian berbasis kepustakaan dilakukan dengan mengkaji literatur atau artikel-artikel yang mendukung judul Pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif analaitis. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian . membaca, . mencatat, . pengolahan bahan penelitian dalam mencapai hasil yang relevan. Pengumpulan data data primer pada penelitian ini, dari 17 artikel dan 1 buku. Sumber data kemudian direduksi yang terkait dengan topik Dari hasil studi literatur dari beberapa artikel tersebut penulis dapat memperoleh temuan dan Dalam penelitian ini, peneliti mencoba mengeksplorasi dan memberikan argumen yang berkaitan dengan Tiga kata ajaib dalam pembentukan karakter anak di kehidupan Pengumpulan data penelitian dimulai dengan menggali informasi-informasi yang mendukung pembahasan mengumpulkan data yang sesuai. Adapun sumber data artikel yang digunakan yaitu: AuImplementasi Metode Pembiasaan Berkata Tolong. Maaf. Terimakasih Untuk Pembentukkan Karakter Pada Anak 5-6 Tahun Di Tk Islam Dzakra Lebah MaduAy oleh Liana Alifah. Debibik Nabilatul Fauziah. Rina Syafrida, 2021. Implementasi pembiasaan berkata AotolongAo. AomaafAo. Aoterima kasihAo,dan AopermisiAo dalam pembentukan karakter anak usia 5-6 tahun di kober sartika asih oleh Ida Nurhayati. Yusuf Hidayat. Lastari. Neng Kurniasih. Susi Susanti, 2024. Maaf. Terima Kasih. Tolong dan Permisi: Empat Kata Ajaib Dalam Pembentukan Karakter Sosial Anak oleh Nuraly Masum https://journal. id/widyadidaktika Aprily. Anfa Kamilatul Rosidah. Hani Hashipah, 2023. Pembentukan karakter anak didik ra . audhatul athfa. melalui pembiasaan Aukata ajaibAy oleh Asniar Fajarini. Fauzi, 2023. Penerapan Empat Kata Ajaib Sebagai Bentuk Peningkatan Moral Siswa di UPT SDN 060921 Medan Sunggal oleh Citra Mutiara Nst. Fajar Utama Ritonga, 2023. Penggunaan 3 Kata Ajaib Terhadap Pembentukan Karakter Pada Siswa Kelas V SD Negeri 19 Pemulutan oleh Mutia Mawarda. Zaski Ummaya, 2024. HASIL DAN PEMBAHASAN Abas, 2006 dalam (Mutaqin MA, 2. menyatakan Pendidikan karakter merupakan sebuah usaha sadar yang sudah terstruktur dan tersistem yang berasal dari lingkungan pembelajaran untuk perkembangan potensi manusia secara menyeluruh yang memiliki watak bermoral dan berakhlak, berkepribadian baik, serta bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat pendidikan karakter di sekolah berfungsi untuk membentuk karakter peserta didik agar menjadi pribadi yang berakhlak mulia, tangguh, berperilaku baik, bermoral, dan menjadi orang yang penuh dengan toleransi antar sesama. Sikap toleransi yang ditanamkan di sekolah diharapkan bisa diterapkan ketika anak menjalani kehidupan di masyarakat. Pada bagian ini dimulai dengan menyajikan hasil penelitian yang dapat disajikan dalam bentuk grafik, tabel, atau deskriptif. Analisis dan interpretasi hasil ini diperlukan sebelum dibahas. Dewasa ini tentunya pembelajaran sudah banyak berpusat pada pembentukan moral peserta didik khususnya pada beberapa mata pelajaran bidang sosial. Pembentukan moral peserta didik pada hakikatnya agar menciptakan peserta didik yang baik serta mampu menjadi generasi penerus bangsa yang berkarakter agar terciptanya jati diri bangsa yang memiliki Adapun menciptakan hal tersebut perlu adanya JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Juni 2025. PP 56-61 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 implementasi pendidikan karakter. Penanaman pendidikan karakter kepada anak merupakan jembatan penghubung untuk menjembatani perubahan antara lingkungan maupun psikis anak saat akan masuk ke lingkungan sosial Implementasi pembentukan karakter anak untuk selalu menerapkan dan mengucapkan tiga kata ajaib yaitu dengan menggunakan metode pembiasaan. Dalam kehidupan seharihari anak harus dibiasakan untuk selalu bersikap sopan dan santun ketika berinteraksi sosial baik di lingkungan keluarga maupun di lingkungan Karakter yang dikembangkan pada anak dapat berupa . pembiasaan mengucapkan kata AuMaafAo, . pembiasaan mengucapkan kata AuTerima kasihAy, . pembiasaan mengucapkan kata AuTolongAy. Menurut Gunawan dalam (Aprily dkk. cara dalam melakukan pembiasaan yang baik pada anak yaitu dengan cara: . melatih anak agar paham dan bisa dalam melakukan sesuatu tanpa adanya rasa kesulitan yang dirasakan oleh Sesuatu hal baru tentu tidak akan mudah dilakukan oleh anak, maka dengan itu perlu pelatihan melalui pembiasaan yang dilakukan kepada anak, sampai anak mampu melakukannya . mengingatkann anak ketika lupa melakukan sesuatu yang sudah diajarkan. Anak harus diingatkan apabila lupa melakukan pembiasaan positif yang sudah diajarkan. memberikan suatu apresiasi kepada anak secara Pemberian apresiasi akan membuat anak bahagia, tetapi dalam melakukan hal ini tentu saja harus memperhatikan anak-anak yang lainnya, supaya tidak ada rasa kecemburuan sosial pada . hindari hal yang bersifat mencela anak. Dalam hal ini orang tua dan pendidik dituntut untuk peka dan sabar dalam menghadapi anak, karena terkadang orang tua maupun pendidik ketika melakukan pembiasaan tidak sadar dan tidak sengaja mengucapkan kata yang dapat mencela anak, juga melakukan tindakan yang berbeda tidak sesuai dengan apa yang dikatakan kepada anak, maka hal ini akan berdampak https://journal. id/widyadidaktika JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Juni 2025. PP 56-61 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 hilangnya rasa kepercayaan anak terhadap orang tua maupun pendidik, sehingga anak tidak akan mendengarkan dan menuruti apa yang dikatakan orang tua maupun pendidik. Membiasakan halhal yang baik termasuk dalam membiasakan mengucapkan kata-kata sopan kepada anak sejak dini memang sangat tepat dilakukan, karena pada usia ini anak sedang mengenal kata-kata sopan dan belajar beinteraksi sosial. Inti dari Misalnya pendidik senantiasa mengingatkan pada peserta didik atau siswa dalam berkata baik seperti mengatakan maaf, tolong, terimakasih kepada guru, orang tua dan teman sebayanya. Yang sesuai dengan tuntunan agama dan mendapat pahala yang mengikutinya serta ganjaran atas sanksi bagi yang Pada masa ini, sifat sosial mulai tumbuh kepada anak dan mulai bisa Kata-kata sopan yang mendasar untuk diajarkan sebagai bekal dalam berinteraksi dalam masyarakat yaitu AuMaafAy. AuTolongAy. AuTerima kasihAy. Hidayat & Hafiar, 2019 dalam (Aprily , 2. menyatakan Kata maaf sebagai wujud kerendahan hati seseorang, biasanya dipegang teguh oleh suatu kelompok masyarakat yang meyakini pola budaya konteks tinggi . igh contex cultur. Secara implisit kata AuMaafAy memiliki tujuan untuk memberikan suatu penghargaan kepada mitra tutur yang dihormati. Pentingnya dalam membiasakan mengucapkan kata maaf adalah supaya anak memiliki kesadaran diri saat ada tindakan salah yang dilakukannya, ketika anak sudah memahi apa makna dari kata maaf tersebut, maka akan muncul sikap saling menghargai, menghormati, sikap bertanggungjawab, tidak akan mengulangi kesalahan yang sama dan mendorong anak untuk selalu melakukan kebaikan. Akan tetapi, memaksakan anak untuk melakukan meminta maaf tidak baik bagi perkembangan mentalnya. Anak hanya perlu belajar kapan dan bagaimana cara meminta maaf. Maka dalam hal ini, penting sekali bimbingan orang tua maupun bimbingan pendidik dalam melakukan pembiasaan kepada anak untuk selalu mengucapkan kata maaf setiap anak melakukan kesalahan. Pengertian meminta maaf tidak harus ketika melakukan kesalahan yang terlihat harus ditanamkan kepada anak. Karena permintaan maaf itu bisa diartikan sebagai penghormatan terhadap lawan bicara sebagai gambaran kita untuk rendah hati. Pembiasaan mengucapkan kata AuTerima kasihAy. Kata terima kasih merupakan dua kata satu makna. Terima kasih dapat diartikan pada saat seseorang mendapatkan sesuatu yang bernilai baik (Mutaqin, 2. Sebagai ucapan rasa syukur atau memberikan sesuatu terhadap orang yang sudah memberi. Bisa juga rasa syukur tersebut diberikan pada orang lain. Melakukan pembiasaan mengucapkan kata terima kasih kepada anak dapat dilakukan oleh orang tua maupun pendidik melalui kegiatan memberikan contoh dalam kehidupan seharihari. Misalnya, orang tua atau pendidik meminta tolong kepada anak untuk melakukan sesuatu, ketika anak sudah melakukan apa yang diperintahkan, maka orang tua atau pendidik harus mengucapkan terima kasih, sehingga anak akan meniru dan melakukan hal yang sama ketika anak menerima bantuan dari orang lain. Terima dapat diartikan kita menerima sesuatu, sedangkan kasih kalau kita sudah menerima hendaknya juga bisa mengasih atau memberi kepada orang lain sebagai wujud rasa syukur karena sudah menerima. Kata AutolongAy menurut (Mutaqin, 2. merupakan kata yang diucapkan pada saat kita meminta sesuatu, dengan menambahkan kata tolong, kita sudah menghargai orang yang kita suruh atau minta, dengan begitu orang yang diminta tersebut merasa dihargai. Melakukan pembiasaan mengucapkan kata tolong kepada anak dapat dilakukan oleh orang tua atau pendidik dengan memberikan contoh dalam kehidupan sehari-hari yang diterapkan kepada Saat seseorang membutuhkan bantuan orang lain hendaknya disertai dengan https://journal. id/widyadidaktika JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Juni 2025. PP 56-61 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 mengucapkan kata AutolongAy terlebih dahulu sekalipun seseorang meminta tolong kepada orang yang lebih muda. Misalnya ketika orang tua pendidik menyuruh anak untuk membawakan sesuatu tidak lupa mengucapkan kata tolong terlebih dahulu kepada anak. Kebanyakan anak ataupun orang tua tidak suka disuruh, karena dengan disuruh mereka merasa lebih rendah atau Maka dengan kata tolong bisa diartika kita sebagai orang yang tidak mampu, sehingga mereka merasa dibutuhkan oleh kita ketika kita meminta tolong. Ungkapan kata AutolongAy. AuMaafAy, dan AuTerima KasihAy ketika diajarkan sebagai pembiasaan terhadap anak diharapkan dapat membentuk karakter sosial yang rendah hati, tidak sombong dan sebagai pengantar pergaulan dalam masyarakat. untuk meminta maaf mungkin tidak bermanfaat bagi perkembangan mental mereka. "Terima kasih" adalah kata terima kasih, dan orang tua dan pendidik dapat mengajarkan anak-anak untuk mengekspresikan rasa terima kasih melalui kegiatan contoh dalam kehidupan sehari-hari. Kata "bantuan" menunjukkan penghargaan untuk seseorang yang meminta Menggunakan "sila" saat meminta bantuan membuat orang yang diminta merasa dihargai dan dibutuhkan. Mengajarkan anak-anak kata-kata ini sebagai kebiasaan membentuk karakter sosial kerendahan hati, bukan kebanggaan, dan mempersiapkan mereka untuk koeksistensi Implementasi pendidikan karakter membutuhkan pengulangan dan kesabaran dari orang tua dan pendidik. SIMPULAN DAFTAR PUSTAKA