Journal of Nursing Invention E-ISSN: 2828-281X DOI: https://doi. org/10. 33859/jni VOL. No. 2 2024 | DOI: https://doi. org/10. 33859/jni. EFEKTIVITAS PSIKOEDUKASI TENTANG MASALAH KESEHATAN JIWA TERHADAP PENERIMAAN KELUARGA PASIEN PASCA PERAWATAN SKIZOFRENIA DI PUSKESMAS KARANG ASAM SAMARINDA Olivia Zahwa Anggriani 1. Muhammad Bachtiar Safrudin1 Program Studi Ilmu Keperawatan. Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur. Samarinda. Indonesia Info Artikel ABSTRAK Submitted: 28 Juli 2024 Revised: 28 Agustus 2024 Accepted: 29 Desember 2024 Latar Belakang: Skizofrenia adalah penyakit gangguan jiwa yang menyebabkan masalah gangguan mental penderitanya baik secara mental, pola pikir maupun secara emsoisonalnya. Masalah perawatan skizofrenia mengakibatkan penderitanya memerlukan bantuan orang lain terutama Keluarga terlibat dalam perawatan sehingga keluarga mesti menerima dengan baik pasien dalam menunjang pengobatan dan Tindakan perawatan yang diupayakan dapat meningkatkan penerimaan keluarga dilakukan dengan psikoedukasi. Tujuan: Mengetahui pengaruh psikoedukasi tetang kesehatan jiwa terhadap penerimaan keluarga pasien pasca perawatan skizofrenia di Puskesmas Karang Asam Samarinda. Metode: Jenis penelitian kuantitatif dengan desain Quasy Experimental one group pre and postetst without control group Design. Teknik total sampling sebanyak 40 keluarga sebagai caregiver pasien skizofrenia di wilayah kerja Puskesmas Karang Asam. Intervensi psikoedukasi akan dilakukan sebanyak 4 sesi dalam 1 minggu. Pengambilan data menggunakan kuesioner yang telah teruji valid dan reliabel. Hasil: hasil analisa data dengan diperoleh nilai mean pre 83,19 dan nilai mean post 113,15, sedangkan selisih mean pre intervensi dan post intervensi setelah 1 bulan sebesar 29,81. Hasil uji Paired t-test diperoleh pvalue 0. 000< . ig<0. Kesimpulan: ada pengaruh Psikoedukasi Tentang Masalah Kesehatan Jiwa Terhadap Penerimaan Keluarga Pasien Pasca Perawatan Skizofrenia di Puskesmas Karang Asam Samarinda *Corresponding author: Olivia Zahwa Anggriani Email: oliviazahwaanggriani@gmail. DOI: https://doi. org/10. 33859/jni. Kata kunci: Keluarga. Penerimaan. Psikoedukasi. Skizofrenia ABSTRACK Background: Schizophrenia is a mental disorder that causes mental disorders in sufferers both mentally, in terms of thought patterns and The problem of schizophrenia treatment causes sufferers to need help from others, especially family. The family is involved in the treatment so that the family must accept the patient well in supporting treatment and care. Treatment actions that are attempted to increase family acceptance are carried out through psychoeducation. Objective: To determine the effect of psychoeducation about mental health on the acceptance of families of patients after schizophrenia treatment at the Karang Asam Samarinda Health Center. Method: Quantitative research type with a Quasy Experimental one group pre and posttest without control group Design. The total sampling technique is 40 families as caregivers of schizophrenia patients in the Karang Asam Health Center work area. Result: Psychoeducational interventions will be carried out in 4 sessions in 1 Data collection uses a questionnaire that has been tested valid and Research results: the results of data analysis obtained a mean pre value of 83. 19 and a mean post value of 113. 15, while the difference in mean pre-intervention and post-intervention after 1 month was 29. The results of the Paired t-test obtained a p-value of 0. 000 < . ig <0. Conclusion: there is an effect of Psychoeducation About Mental Health Problems on Family Acceptance of Post-Schizophrenia Treatment Patients at the Karang Asam Samarinda Health Center Keywords: Family. Acceptance. Psychoeducation. Schizophrenia Journal of Nursing Invention E-ISSN: 2828-281X DOI: https://doi. org/10. 33859/jni PENDAHULUAN Kesehatan adalah kebutuhan bagi semua manusia, dimana sesorang dapat memuhi kebutuhan dasarnya jika dalam keadaan sehat. Kesehatan menjadi modal utama seseorang dalam menjalankan kehidupan yang layak (Yusuf et al. , 2. Kesehatan Jiwa merupakan bagian dalam mewujudkan kesehatan secara keseluruhan sebagai bagian dari target pembagunan kesehatan di Negara indonesia. Kesehatan jiwa perwujudan dari kemampuan sesorang menjalankan kehidupan secara normal, , produktif dan berperan aktif dilingkungan masyarakat (Wuryaningsih et al. , 2. Kesehatan Jiwa diartikan sebagai kondisi seorang sejahtera yang dimana seseorang tersebut mampu mencapai kebahagiaan, ketenangan, kepuasan, aktualisasi diri, dan mampu optimis atau berpikir positif di segala situasi baik terhadap diri sendiri, orang lain, dan lingkungan (Azizah et al. , 2. Masalah kesehatan jiwa yang lazim terjadi biasa disebut dengan Skizofrenia (Videbeck, 2. Data kasus skizofrenia menurut WHO tahun 2019 menunjukkan sebanyak 21 juta. Prevalensi di skizofrenia di dunia sebnayak 1-1,5% dari total penduudk dunia terutama di negara berkembang (WHO, 2. Data statistik di Indonesia kejadian skizofrenia sebesar 70% (RI, 2. Artinya prosentase masih cukup tinggi penderita skizofrenia dimana angka semakin meningkat setiap Skizofrenia merupakan jenis gangguan psikiatrik yang ditandai gangguan pola pikir dengan tanda utama adalah masalah dalam berkomunikasi dan aspek kognitif (McCutcheon et al. , 2. Data kasus gangguan jiwa di Inonesia berdasarkan Riskesdas tahun 2018 menglaami peningkatan dari 728 tahun 2013 menjadi 282. 654 tahun 2018. Prevalensi skizofrenia di Indonesia menurut Riskesdas tahun 2018 per/1000 rumah tangga tertinggi di Bali sebesar 11,1% dan DIY sebesar 10,4%. (Kemenkes, 2. Kalimantan timur tercatat gangguan jiwa skizofrenia sebanyak 8. 590 orang (Riskesdas, 2. Permasalahan rehabilitasi pasien pasca perawatan menjadi tanggung jawab pelayanan kesehatan dimana pasien tersebut berdomilisi (Yusuf et al. , 2. Perawatan yang diberikan pada pasien skizofrenia pasca perawatan dengan tujuan pengembaklikan fungsi pasien dalam menjalani kehidupan dengan baik walupun tidak akan seperti orang normal secara umum terapi kompetensi pasien dapat ditingkatkan dengan ketreampilan dalam menjalankan dan memenuhi kebutuhan sendiri (Wahyudi et al. , 2. Perawatan pasien skizofrenia membutuhkan intensifitas dan komitmen dalam melakukan kunjungan untuk perawatan rehabiltasi pasien skizofrenia sehingga dapat menekan risiko kekambuhan pasien tersebut. Masih rendahnya komitmen kunjungan dalam perawatan ini menjadi permasalahan sampai saat ini. Pelayanan keperawatan Kesehatan Jiwa merupakan bagian integral pelayanan kesehatan secara holistik dan komprehensif. Intrevensi yang dapat dilakukan berupa tindakan yang bersifat holistik dan komprehensif dengan melibatkan keluarga diantaranya psikoterapi, terapi pengobatan farmakologi, psikosisial dan psikoreligius (Keluarga et al. , 2. Pasien skizofrenia beresiko kambuh sebesar 50% tahun pertama perawatan, selanjutnya sebanyak 70% pada tahun kedua setelah pulang dari rumah sakit dan kekambuhan 100% terjdi di tahun kelima setelah pasien terdiagnosa. Pelayaanan rehabilitatif yang di peroleh pasien skizofrenia pasca perawatan harus diberikan dengan baik sehingga pasien tetap rutin melakukan kunjungan dalam upaya pengobatan yang mesti dilakukan secara rutin dengan melibatkan keluarga. Keluarga sebagai orang terdekat yang mendapingi anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa agar mendapat suport sistem. Penyebab kekambuhan pasien skizofrenia pasca perawatan dari rumah sakit adalah keluarga. Bentuk keterlibatan keluarga dalam perawatan pasca pengobatan dengan melibatkan pasien dalam melakukan pekerjaan rumah, melatih melakukan aktivitas ADL dengan benar, memberikan dukungan yang baik dan meningkatkan pasien dalam melakukan kemandirina di rumah (Kruger. Peran keluarga dalam peneriamaan pada anggota dengan skizofrenia yang kurang tepat dapat menyebabkan kekambuhan. keluarga yang kurang menerima anggota dengan skizofrenia dapat memberikan dampak yang negatif bagi pasien tersebut (Sunaryanti & Lestari, 2. Penerimaan adalah rela atau menyetujui untuk mengambil atau menerima sesuatu sebagai kesenangan, kepuasan atau tugas. Seseorang yang melakukan penerimaan juga memiliki penghargaan yang tinggi terhadap dirinya sendiri dan menerima orang lain tanpa syarat. Penerimaan digunakan untuk menerima kenyataan hidup, semua pengalaman baik dan pengalaman buruk (Sulastri, 2. Sehingga Olivia Zahwa Anggriani1. Muhammad Bachtiar Safrudin 1 Email: oliviazahwaanggriani@gmail. com Vol. 5 No. DOI: https://doi. org/10. 33859/jni. Accepted: 29 Desember 2024 Journal of Nursing Invention E-ISSN: 2828-281X DOI: https://doi. org/10. 33859/jni diperlukan pendidikan khusus dalam meningkatkan penerimaan keluarga dengan angota Salah satunya pendidikan kesehatan keluarga dalam masalah gangguan jiwa adalah pemberian informasi dasar, yang disebut dengan psikoedukasi keluarga (Videbeck, 2. Psikoedukasi merupakan salah satu intervensi yang efektif dalam meningkatkan pemahaman tentang masalah kesehatan jiwa yang dapat dilakukan pada individu, kelompok dan keluarga dimana tidak hanya bertujuan untuk treatment tetapi juga rehabilitasi sehingga pasien tidak mengalami masalah yang sama ketika dihadapkan pada masalah tertentu. Psikoedukasi juga dapat membantu mengurangi stigmatisasi terhadap orang-orang dengan gangguan mental melalui edukasi kepada keluarga atau masyarakat sekitar (Pitayanti & Hartono, 2. Intrevensi psikoedukasi dilakukan dengan memberikan pendidikan kepada cargiver dalam meningktakan pemahaman tentang skizofrenia mencakup pengertian, penyebab, prognosis dan penatalaksaan baik yang dilakukan secera medis maupun yang dapat dilakukan oleh keluarga (Ardiyani & Muljohardjono, 2. Penerapan psikedukasi tentu akan berjalan dengan baikn jika keluarga sebagai caregiver mendukung secera peneuh dan terlibat aktif dalam kegiatan interevensi. Target dari psikoedukasi ini diperoleh keterampilan baik kognitif maupun psikomotorik dalam merawat klien dengan skizofrenia (Novianty et al. , 2. Penelitian yang dilakukan oleh Jayanti et al . menunjukkan pengaruh psikoedukasi keluarga terhadap penerimaan keluarga pasien skizofrenia (Jayanti et al. , 2. Sejalan dengan penelitian Wiyati, et al . terhadap klien isolasi sosial yang menunjukkan ada peningkatan kemampuan kognitif dan psikomotorik keluarga secara bermakna setelah dilakukan psikoedukasi (Wiyati et al. , 2. Hasil penelitian senda yang dilakukan oleh Keliat . menunjukkan intervensi psikoedukasi dengan meningkatkan peran klien dalam melakukan pekerjaan rumah tangga menunjukkan lama rawat yang lebih singkat dibandingkan dengan yang tidak mendapatkan intervensi intervensi psikoedukasi (Keliat et al. , 2. Berdasarkan Studi Pendahuluan di Puskesmas Karang Asam Samarinda berdasarkan wawancaran dengan keluarga sebanyak 4 keluarga di wilayah kerja puskesmas Karang Asam saat melakukan kunjungan rawat jelan mengatakan masih harus beradaptasi dengan dalam menerima anggota keluarganya, masih sering harus mengingatkan dalam hal apapun kepada pasien dan kadang juga merasa capek. Berdasarkan fenomena tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang bagaimana pengaruh Psikoedukasi tentang masalah Kesehatan Jiwa terhadap penerimaan keluarga pasien pasca perawatan skizofrenia di Puskesmas Karang Asam Samarinda. METODE Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari-April 2024 di Puskesmas Karang Asam Samarinda. Penelitian ini merupakan penelitian kuntitatif penelitian ini dilakukan dengan pendekatan Quasy Experimental one group pre and posttest. Sampel penelitian dengan total sampling sebanyak 40 Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner peran keluarga dalam perawatan pasien skizofrenia dengan menggunakan kuesioner modifikasi dari Safrudin . dengan menggunakan skala likert terdiri dari 31 item pertanyaan. Hasil uji kuesioner secara validitas dan reliabilitas dilakukan oleh Safrudin tahun 2018 dimana kuesioner penerimaan keluarga didapatkan nilai masing-masing item pertanyaan>0. 361 sehingga item pertanyaan valid sebanyak 31 pertanyaan. Sedangkan hasil uji reliabilitas diperoleh 0. 922 sehingga pertanyaan reliabel. Intervensi psikoedukasi dilakukan dalam 4 sesi dimana setiap 1 sesi dilakukan dalam 1 minggu sekali mencakup. sesi 1 yakni pengkajian masalah dalam keluarga, sesi ke-2 perawatan keluarga dengan klien dengan masalah skizofrenia, sesi ke-3 dilakukan bagaimana perawatan penderita skizofrenia dan sesi 4 dilakukan mangemen stress pada keluarga dengan skizofrenia. Data yang telah dikumpulkan selanjutnya dianalisis secara univariat dan bivariat. Uji statistik yang digunakan dengan uji paired t-test. Olivia Zahwa Anggriani1. Muhammad Bachtiar Safrudin 1 Email: oliviazahwaanggriani@gmail. com Vol. 5 No. DOI: https://doi. org/10. 33859/jni. Accepted: 29 Desember 2024 Journal of Nursing Invention E-ISSN: 2828-281X DOI: https://doi. org/10. 33859/jni HASIL Karakteristik Responden Tabel 1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Penelitian Karakteristik Responden Jenis kelamin . Laki- laki Perempuan Usia 17-25 Tahun . 26-35 tahun . 36-45 tahun . 46-55 tahun Pendidikan . SMP SMA Perguruan Tinggi Status Pekerjaan . Bekerja . Tidak Bekerja Total Berdasarkan tabel 1 menunjukkan bahwa karakteristik jenis kelamin responden hampir keseluruhan adalah perempuan sebanyak 32 reponden . %), usia responden hampir sebagian usia 26-35 tahun . ewasa awa. , 36-45 tahun . ewasa akhi. dan lansia awal 46-55 tahun masing-masing sebanyak 12 responden . %), pendidikan sebagian pada level pendidikan menengah sebanyak 20 responden . %) dan hampir keseluruhan caregiver bekerja sebanyak 30 responden . %). Gambaran Penerimaan Keluarga Tabel 2 Gambaran Penerimaan keluarga sebelum intervensi, pengukuran setelah pertemuan 1, pertemua 2, pertemuan 3, pertemuan 4 dan post intervensi setelah 1 bulan pada kelaurga di Puskesmas Karang Asam Kota Samarinda Penerimaan Keluarga Mean Median Std. Deviation Min Mak Pre test Pertemuan1 Pertemuan 2 Pertemuan 3 Pertemuan 4 Pos test Pada tabel 2 diatas diperoleh hasil, nilai rata- rata sebelum diberikan intervensi 83. sesudah dilakukan psikoedukasi diukur pada pertemuan pertama dengan rata-rata sama 83. pengukuran pertemuan kedua 86. 51, pengukuran pertemuan ketiga 96. 38, pengukuran pada pertemuan keempat 100. 56 dan post intervensi setelah 1 bulan 113. Sedangkan selisih data pre dan setelah intervensi pertemuan 1 sebesar 0, selisih pertemuan 1 dan pertemuan 2 sebesar 32, selisih antara pertemuan ke-2 dan pertemuan ke-3 sebesar 9. 87, selisih rata-rata pertemuan ke-3 dan ke-4 sebesar 4. Sedangkan selisih rata-rata sebelum intervensi dan post intervensi setelah 1 bulan sebesar 29,81. Pengaruh Psikoedukasi terhadap Penerimaan Keluarga Pasien Skizofrenia Analisis pengolahan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah menggunakan uji parametrik yakni uji Paired t-test, dimana hasil data dalam bentuk tendency central ditampilkan sebagai berikut: Olivia Zahwa Anggriani1. Muhammad Bachtiar Safrudin 1 Email: oliviazahwaanggriani@gmail. com Vol. 5 No. DOI: https://doi. org/10. 33859/jni. Accepted: 29 Desember 2024 Journal of Nursing Invention E-ISSN: 2828-281X DOI: https://doi. org/10. 33859/jni Tabel 3 Hasil Pengaruh Psikoedukasi Tentang Masalah Kesehatan Jiwa Terhadap Penerimaan Keluarga Pasien Pasca Perawatan Skizofrenia Di Puskesmas Karang Asam Samarinda Penerimaan Psikoedukasi Mean ASD Keluarga Sebelum 19A 9. Skor Sesudah Berdasarkan hasil uji Paired t-test diperoleh p-value 0. 00< . ig<0. Maka dapat disimpulkan terdapat pengaruh Psikoedukasi Tentang Masalah Kesehatan Jiwa Terhadap Penerimaan Keluarga Pasien Pasca Perawatan Skizofrenia di Puskesmas Karang Asam Samarinda. Sedangkan jika dilhat dari nilai z hitung diperoleh -10. 796 artinya jika dibandingkan dengan z tabel signifaksi 5% maka diperoleh z tabel (-1. 96 sampai 1. Nilai z hitung tersebut berada diluar nilai kritis z tabek sehingga dapat disimpulkan Ha diterima, artinya terdapat pengaruh Psikoedukasi Tentang Masalah Kesehatan Jiwa Terhadap Penerimaan Keluarga Pasien Pasca Perawatan Skizofrenia di Puskesmas Karang Asam. PEMBAHASAN Gambaran Karekteristik Hasil penelitin ini menunjukkan bahwa karakteristik jenis kelamin responden sebagian besar adalah perempuan sebanyak 12 reponden . %), usia anak hampir sebagian besar usia 3645 tahun sebanyak 6 responden . 5%), pendidikan sebagian besar SD dan SMP masing-masing sebanyak 4 responden . %), status pekerjaan baik kategori bekerja atau tidak bekerja masingmasing sama sebanyak 8 responden . %). Pembagian usia berdasarkan Depkes tahun 2009 dimana sebagian besar usia 36-45 tahun masuk kedalam rentang usia dewasa muda. Usia keluarga klien skizofrenia cukup matang dalam menjalani kehidupan dan kesiapan dalam menjalakan regimen terapeutik (Mulyanti et al. , 2. Puncak usia berada pada kelompok usia 25-44 tahun, dan akan semakin menurun seiring pertambahan usia (Dewi & Poerwandari, 2. Sehingga dalam peranan sebagai caregiver dalam penerimaan pasien bisa cukup optimal, dan memahami beban keluarga masih seimbang dengan kemampuan fisik dan psikologisnya. Karateristik jenis kelamin dari hasil penelitian di dominasi oleh perempuan sebanyak 12 responden . %). Menurut Friedman . menjelaskan bahwa anggota keluarga perempuan memiliki peranan penting sebagai caregiver primer dalam keluarga (Friedman, 2. Perempuan biasa berperan sebagai ibu, naluri yang baik dalam merawat dan lebih telaten ketelatenan merawat keluarga atau anggota keluarga yang sakit. Pendapat lain dikemukakan oleh Hartono . pengalaman dalam merawat tidak mengenal jenis kelamin laki-laki atau perempuan tatapi lebih pada kesediaan masing-masing terlibat dalam perawatan pasien skizofrenia (Hartanto. Aspek pendidikan dari hasil penelitian ini menunjukkan sebagian besar responden adalah pendidikan tingkat dasar dan pertama masing-masing sebanyak 4 responden . %). Tingkat pendidikan berpengaruh terhadap pengetahuan seseorang (Notoatmodjo, 2. Pengetahuan yang baik akan memberikan dampak terhadap cara berfikir dan bertindak dalam dalam merawat keluarga dengan skizofrenia (Kustiawan et al. , 2. Hasil penelitian dari status pekerjaan caregiver keluarga menunjukkan proporsi sama baik yang bekerja maupun yang tidak bekerja yakni 8 responden . %). Secara umum pekerjaan memilik kaitan dengan dukungan dan beban keluarga berperan sebagai caregiver anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa untuk mengikuti penerimaan keluaraga tentunya memerlukan waktu luang yang cukup, sehingga bagaimana mengatur antara bekerja dengan peran tersebut (Kartika et al. , 2. Asumsi peneliti dimana karakteristik keluarga sebagai cergiver baik jenis kelamin, usia, pendiidkan dan status pekerjaan memiliki keterkaitan walupun peneliti tidak meilhat hubunga karakteritik tersebut dengan penerimaan keluarga sebagai caregiver. Olivia Zahwa Anggriani1. Muhammad Bachtiar Safrudin 1 Email: oliviazahwaanggriani@gmail. com Vol. 5 No. DOI: https://doi. org/10. 33859/jni. Accepted: 29 Desember 2024 Journal of Nursing Invention E-ISSN: 2828-281X DOI: https://doi. org/10. 33859/jni Penerimaan Keluarga sebelum intervensi Psikoedukasi Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata sebelum diberikan intervensi 83. Hasil penelitian Safrudin analisis penerimaan keluarga menunjukkan sebagian besar penerimaan keluarga baik sebanyak 38 orang . ,5%) dan kurang sebanyak 33 orang . ,5%) (Safrudin. Peranan keluarga dalam merawat pasien gangguan jiwa berupa keterlibatan menjaga dan meningkatkan status kesehatan metal pasien, pemenuhan kebutuhan social ekonomi pasien selama perawatan, memberi motivasi dan memfasilitasi pemenuhan kebutuhan spritual pasien. Penerimaan keluarga berbentuk dukungan pada anggota keluarga lain melalui dukungan pemeliharaan dan emosional dalam meningkatkan kesejahteraan anggota keluarga yang memiliki gangguan jiwa (Keliat et al. , 2017. Stuart and Laraia, 2. Faktor yang mempengaruhi penerimaan keluarga salah satunya dukungan keluarga. Bentuk dukungan yang diberikan pasien dengan skizofrenia dengan penghargaan dan pemberian regimen terapeutik untuk meningkatkan proses rehabilitasi pasien. Pemberian dukungan sosial yang baik membentuk tingkah laku positif pasien sehingga lebih menerima dirinya dengan lebih Menurut Kubler-Ross . 9, dalam Keliat et al, 2. menjelaskan tahapan penerimaan keluarga melalui tahapan penolakan . , dilanjjtkan dengan tahap marah . , tahap tawar menawar . , tahap depresi . dan tahap penerimaan . Dalam mencapai tahap penerimaan, anggota keluarga mulai menerima trekait stigma lingkungan dan masyarakat. Dimana kompetensi koping efektif akan menjadi strategi yang efektif dalam tahapan penerimaan sehingga membantu seseorang dalam mentoleransi, menerima tekana situasi dan tidak mengkhawatirkan yang tidak dapat dikuasainya (Rubbyana, 2. Penerimaan anggota keluarga dilihat dengan sikap positif dengan membantu pasien skizofrenia menjadi lebih baik, memaksimalkan potensi yang dimiliki, meningkatkan harga diri dan motivasi menjalani proses kedupan pasien jiwa (Puspitasari, 2. Aspek karekteristik dari tingkat pengetahuan, ketersedian waktu terkait deteksi dan penanganan yang tepat pada pasien skizofrenia meningkatkan pemulang pemulihan pasien (Hartanto, 2. Bentuk penanganan keluarga dengan skizofrenia dalam aspek pemnatauan pemberian terapi psikofarmakologi, perawatan dirumah dan melatih aspek psikososial dalam melakukan kontak sosial, membangun relasi (Laksmi. Winda Candra & Herdiyanto. Kartika, 2. Asumsi peneliti terkait gambaran penerimaan keluarga dengan pasien skizofrenia dapat dipengaruhi karatkteritik pengetahuan, ketersediaan waktu dalam merawat anggota keluarga menjadi penentu dalam penerimaan pasien dalam perawatan di rumah. Kodisi lingkungan sosial masyarakat juga memliliki pengaruh keluarga dalam melalui tahapan stres sampai membentuk sikap penerimaan . sehingga membentuk koping efektif dalam menyikapi dan memainkan peran sebagai caregiver pada anggota keluarga dengan skizofrenia. Penerimaan Keluarga seteleh intervensi Psikoedukasi Hasil penelitian dilihat dari beberapa pengukuran selama proses intervensi yang dilakukan menjadi 4 sesi tindakan dan pemantauan 1 bulan setelah proses intervensi dilakukan. nilai ratarata sebelum diberikan intervensi 83. 19, sesudah dilakukan psikoedukasi diukur pada pertemuan pertama dengan rata-rata sama 83. 19, pengukuran pertemuan kedua 86. 51, pengukuran pertemuan ketiga 96. 38, pengukuran pada pertemuan keempat 100. 56 dan post intervensi setelah 1 bulan 113. Sedangkan selisih data pre dan setelah intervensi pertemuan 1 sebesar 0, selisih pertemuan 1 dan pertemuan 2 sebesar 3. 32, selisih antara pertemuan ke-2 dan pertemuan ke-3 sebesar 9. 87, selisih rata-rata pertemuan ke-3 dan ke-4 sebesar 4. Sedangkan selisih ratarata sebelum intervensi dan post intervensi setelah 1 bulan sebesar 29,81. Intervensi Psikoedukasi diberikan terstruktur selama 4 sesi dimana setiap sesi diberikan dengan konsisten misalnya pemberian reward ketika responden mampu menceritakan tentang keadaan keluarga. Psikoedukasi diperlukan keluarga dalam perawatan anngota keluarga dengan skizofrenia dimana mampi menekan resiko kekambuhan, peningkatan fungsi dan menyiapkan keluarga dalam membatu pasien kembali masyarakat (Wiyati et al. , 2. Penelitian Jayanti et al . menunjukkan perubahan penerimaan keluarga yang diwujudkan dalam pengasuhan pasien menajdi kategori baik sebanyak 13 orang atau 65%. Olivia Zahwa Anggriani1. Muhammad Bachtiar Safrudin 1 Email: oliviazahwaanggriani@gmail. com Vol. 5 No. DOI: https://doi. org/10. 33859/jni. Accepted: 29 Desember 2024 Journal of Nursing Invention E-ISSN: 2828-281X DOI: https://doi. org/10. 33859/jni sebanyak 7 orang atau 35% dalam kategori cukup dan tidak ada yang memiliki penerimaan dalam kategori kurang (Jayanti et al. , 2. Penelitian Sulistiowati . menunjukkan pemberian psikoedukasi keluarga meningkatkan kemampuan keluarga secara kognitif sebesar 1,34 dan psikomotor sebesar 2,16 dalam merawat anggota keluarga dengan gangguan jiwa. Psikoedukasi merupakan terapi modalitas yang mnegkombinasikan aspek edukasi dengan pendekatan spikomotorik melalui edukasi kesehatan (Videbeck, 2. Pelaksaan psikoedukasi dalam penelitian ini dilakukan 4 sesi dimana selama pelaksaan keterlibatan keluarga secara aktif menjadi indikasi keberhasilan intervensi. Perawat membangun BHSP sebelum melakukan pengkajian dan menjelaskan manaaf psikoedukasi dengan kompetensi, pengetahuan, mangemen stress dan koping yang efektif sehingga meningkatkan performa dalam penerimaan yang akhirnya meningktakan peran dalam pengasuhan pasien skizofrenia di rumah dalam menunjang tahapan rehabilitasi pasien di keluarga (Nurmalisyah, 2. Hasil penelitian ini menunjukkan puncak keberhasilan dengan selisih rata-rata dari kuesioner pengukuran penerimaan sebesar 9. pelaksaan pada sesi 3 ini dapat dilihat dengan pemberian terapi komplementer yang diajakrakan dalam menurunkan stress bagi caregiver yang merawat pasien melalui relaksasi otot progresif. Hasil penelitian ini menjadi acuan dimana pelaksaan program terkait dengan keluarga belum menerapkkan kegiatan tersebut. Metode ini memberikan kesempatan keluarga berperan secara aktif dalam perawatan penderita skizofrenia karena mendapatkan referensi tindakan dari responden lain yang terlibat penelitian. Responden yang awalnya tidak tahu harus bertindak seperti apa, setelah mengikuti psikoedukasi keluarga ini dapat secara aktif dan mandiri dalam merawat penderita skizofrenia di rumah. Pengaruh psikoedukasi terhadap penerimaan keluarga Hasil uji bivariad dengan Paired t-test diperoleh nilai sig lebih kecil dari 0. ig<0. Sehingga dapat disimpulkan terdapat pengaruh Psikoedukasi tentang Masalah Kesehatan Jiwa Terhadap Penerimaan Keluarga Pasien Pasca Perawatan Skizofrenia di Puskesmas Karang Asam Samarinda. Hasil penelitian Hasil penelitian ini menunjukan adanya pengaruh psikoedukasi keluarga terhadap peran keluarga sebagai caregiver (Jayanti et al. , 2. Psikoedukasi keluarga dapat meningkatkan pengetahuan keluarga dalam merawat pasien Aspek pengetahuan mencakup konsep penyakit, tanda dan gejala yang muncul dan dukungan bagi anggota keluarga itu sendiri. Tujuan psikoedukasi keluarga dicapai melalui program komprehensif baik aspek kognitif, keterampilan meliputi kemampuan komunikasi, penyelesaian konflik, sikap asertif, manajemen perilaku dan manajemen stress bagi caregiver (Stuart and Laraia, 2. Aspek penting dalam intervensi psikoedukasi keluarga dengan mengidentifikasi kebutuhan, bertukar pikiran dan bersosialisasi dengan anggota yang lain. Peningkatan kemampuan terjadi karena terapi psikoedukasi keluarga terkait dengan komponen keterampilan yang diajarkan seperti komunikasi, latihan menyelesaikan konflik, latihan asertif, dan mengatasi stress (Wiyati et , 2. Keberhasilan intervensi ini ditunjang dengan meningkatnya penerimaan keluarga dimana salah satu komponen managemen yang diajarkan di sesi 3. Pemberian intervensi relaksasi otot progresif dalam yang dilakukan dapat menekan tingkat stress keluarga dalam merawat penderita skizofrenia di rumah. Selain tidak membutuhkan biaya besar relaksasi ini dapat dilakukan mandiri oleh caregiver dimana saja dan kapan saja. Asumsi peneliti bahwa intervensi Psikoedukasi merupakan wadah dalam meningkatkan pengetahuan bagi keluarga dalam proses pengobatan. Sehingga meningkatkan penrimaan keluarga pada anggota keluarga dengan skizofrenia Psikoedukasi ini dapat mempengaruhi penerimaan keluarga. Dimana pada awal rata-rata skor penerimaan rendah menjadi meningkat. Penerimaan keluarga yang baik dapat mengurangi kecemasan, kekhawatiran maupun stress yang dirasakan penderita skizofrenia sehingga kesembuhan yang diharapkan dari penderita skizofrenia bisa tercapai dengan baik. Olivia Zahwa Anggriani1. Muhammad Bachtiar Safrudin 1 Email: oliviazahwaanggriani@gmail. com Vol. 5 No. DOI: https://doi. org/10. 33859/jni. Accepted: 29 Desember 2024 Journal of Nursing Invention E-ISSN: 2828-281X DOI: https://doi. org/10. 33859/jni KESIMPULAN Gambaran karakteristik jenis kelamin responden Berdasarkan tabel 1 menunjukkan bahwa karakteristik jenis kelamin responden hampir keseluruhan adalah perempuan sebanyak 32 reponden . %), usia responden hampir sebagian usia 26-35 tahun . ewasa awa. , 36-45 tahun . ewasa akhi. dan lansia awal 46-55 tahun masing-masing sebanyak 12 responden . %), pendidikan sebagian pada level pendidikan menengah sebanyak 20 responden . %) dan hampir keseluruhan caregiver bekerja sebanyak 30 responden . %). Nilai rata- rata sebelum diberikan intervensi 83. 19, sesudah dilakukan psikoedukasi diukur pada pertemuan pertama dengan rata-rata sama 83. 19, pengukuran pertemuan 51, pengukuran pertemuan ketiga 96. 38, pengukuran pada pertemuan keempat 100. 56 dan post intervensi setelah 1 bulan 113. Sedangkan selisih data pre dan setelah intervensi pertemuan 1 sebesar 0, selisih pertemuan 1 dan pertemuan 2 sebesar 3. 32, selisih antara pertemuan ke-2 dan pertemuan ke-3 sebesar 9. 87, selisih rata-rata pertemuan ke-3 dan ke-4 sebesar 4. Sedangkan selisih rata-rata sebelum intervensi dan post intervensi setelah 1 bulan sebesar 29,81. Hasil uji Paired t-test diperoleh nilai sig lebih kecil dari 0. ig<0. maka dapat disimpulkan terdapat pengaruh Psikoedukasi Tentang Masalah Kesehatan Jiwa Terhadap Penerimaan Keluarga Pasien Pasca Perawatan Skizofrenia Di Puskesmas Karang Asam Samarinda. Psikoedukasi merupakan wadah dalam meningkatkan pengetahuan bagi keluarga dalam proses pengobatan. Sehingga meningkatkan penerimaan keluarga pada anggota keluarga dengan skizofrenia Psikoedukasi ini dapat mempengaruhi penerimaan keluarga DAFTAR PUSTAKA