JPMIM Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia Maju Vol. No. Desember, 2025, hal. Pencegahan Penularan TB Di Lingkungan Rumah Tangga Di Wilayah Kerja Puskesmas Tapos 2024 (Prevention Of TB Transmission In The Household Environment In The Working Area Of The Tapos Community Health Center 2. Fajar Saputra, . Sara Mony, . Tiara Safa Aisyah, . Sonia Wahyu Amanda Putri, . Juliyanti Karepesina, . Perdamaian Daeli 1-. Universitas Indonesia Maju. Jakarta. Indonesia Article Info Abstract Corresponding Author: Fajar Saputra Afajar. saputra1988@gmail. Tuberculosis (TB) remains a major public health problem in Indonesia, including the working area of Tapos Primary Health Center. Depok City, where the number of TB cases has increased in recent years. Limited community knowledge regarding TB transmission and prevention is one of the contributing factors to the high risk of household transmission. This community service program aimed to improve community knowledge on tuberculosis prevention through the RUBERTU (Rumah Bebas Tuberkulosis/ TB-Free Hom. program using the Focus Group Discussion (FGD) approach. The program was conducted in July 2024 at RW 06. Tapos Village. Depok City, involving 50 participants consisting of community members and health volunteers. The program included a preliminary assessment, health education through FGD supported by flipchart media, the RUBERTU booklet, educational games, and knowledge evaluation using pretest and posttest questionnaires. The results of the program showed that the participants' mean knowledge score increased 8% in the pretest to 92. 2% in the posttest, representing an improvement of 16. 4 percentage points. In addition, 43 participants . %) demonstrated an increase in their knowledge scores after participating in the educational activities. The RUBERTU program indicates that community-based education using a participatory approach can improve knowledge regarding tuberculosis prevention and has the potential to serve as a promotive and preventive strategy to support TB control at the community level. History: Submitted: 11-10-2025 Review: 15-10-2025 Accepted: 30-11-2025 Published: 30-12-2025 Keyword: tuberculosis, focus group discussion, health education, community service. RUBERTU Kata Kunci: tuberkulosis, focus group discussion, kepada masyarakat. RUBERTU Copyright A 2025 by Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia Maju. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4. Internasional. https://doi. org/10. 33221/jpmim. Abstrak Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, termasuk di wilayah kerja UPTD Puskesmas Tapos. Kota Depok, yang menunjukkan peningkatan jumlah kasus dalam beberapa tahun terakhir. Rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai penularan dan pencegahan TB menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap tingginya risiko penularan di lingkungan rumah tangga. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan tuberkulosis melalui program RUBERTU (Rumah Bebas Tuberkulosi. menggunakan metode Focus Group Discussion (FGD). Kegiatan dilaksanakan pada bulan Juli 2024 di RW 06 Kelurahan Tapos. Kota Depok, dengan melibatkan 50 peserta yang terdiri atas warga dan kader kesehatan. Pelaksanaan kegiatan meliputi observasi awal, edukasi menggunakan metode FGD yang EISSN: 2722-4341 (Onlin. | 108 JPMIM Ae Pencegahan Penularan Tb Di Lingkungan Rumah Tangga Di Wilayah Kerja Puskesmas Tapos 2024 didukung media lembar balik, booklet RUBERTU, dan permainan edukatif, serta evaluasi menggunakan pre-test dan post-test. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa rata-rata pengetahuan peserta meningkat dari 75,8% pada saat pretest menjadi 92,2% pada saat posttest, atau mengalami peningkatan sebesar 16,4 poin persentase. Sebanyak 43 peserta . %) juga mengalami peningkatan skor pengetahuan setelah mengikuti kegiatan edukasi. Program RUBERTU menunjukkan bahwa edukasi berbasis masyarakat dengan pendekatan partisipatif dapat meningkatkan pengetahuan mengenai pencegahan tuberkulosis serta berpotensi menjadi salah satu strategi promotif dan preventif dalam mendukung pengendalian TB di tingkat komunitas. Pendahuluan Tuberkulosis (TB) paru merupakan salah satu penyakit menular yang hingga kini masih menjadi tantangan kesehatan global, terutama di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyebar melalui udara saat penderita TB aktif batuk, bersin, atau berbicara sehingga menghasilkan droplet yang dapat terhirup oleh orang lain. Berdasarkan data global. Indonesia termasuk dalam tiga negara dengan beban tuberkulosis (TB) terbesar di dunia, berada di bawah India dan China. 1 Menurut data profil kesehatan Indonesia tahun 2021, besaran kasus tuberkulosis di Indonesia pada tahun 2021 ditemukan sebanyak 397. 377 kasus (IR= 146/100. 000 pendudu. , hal ini meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2020 yaitu sebesar 351. kasus (IR= 130/100. 000 pendudu. Pemerintah Indonesia telah melaksanakan berbagai program untuk mengendalikan TB, seperti Program Nasional Pengendalian Tuberkulosis (NTP) yang berfokus pada deteksi dini, pengobatan yang efektif, serta edukasi masyarakat. Namun, program-program ini masih menghadapi berbagai kelemahan, terutama dalam hal cakupan dan kesinambungan pelayanan. Banyak wilayah yang masih kekurangan tenaga kesehatan terlatih, fasilitas yang memadai, serta koordinasi yang efektif antar lintas Selain itu, stigma sosial terhadap penderita TB juga menjadi penghalang besar dalam upaya pencegahan dan pengobatan. Keluarga memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya menurunkan tingkat penularan tuberkulosis (TB) paru. Pengetahuan keluarga mengenai pencegahan dan pengobatan TB paru, upaya yang dilakukan untuk menghindari penularan kepada anggota keluarga lainnya, serta dukungan dari keluarga yang dapat menjadi faktor penting sebagai bentuk intervensi dalam pencegahan TB paru. Menurut Hidayat, menjelaskan bahwa peningkatan penularan/penularan yang tidak terkendali menyebabkan peningkatan kasus TB. Hasil ini sejalan dengan Wirakhmi, yang menunjukkan bahwa pengetahuan dan sikap berhubungan secara signifikan dengan perilaku pencegahan tuberkulosis. Semakin baik pengetahuan dan sikap yang dimiliki seseorang, semakin baik pula perilaku pencegahan TB yang dilakukan sehingga risiko penularan penyakit dapat diminimalkan. Kota Depok menjadi salah satu kota di Provinsi Jawa Barat yang mengalami kenaikan angka kasus TB dalam empat tahun terakhir. Berdasarkan data pada tahun 2019 ditemukan jumlah seluruh kasus TB sebanyak 4. 695 kasus, dimana mengalami peningkatan kasus dari tahun sebelumnya yaitu 823 kasus . , 3. 734 kasus . , dan 3. 799 kasus . TB Paru merupakan salah satu dari 10 penyakit yang menjadi 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan rumah sakit di Kota Depok tahun 2019 sehingga menjadi permasalahan yang harus segera diselesaikan. 9,10 Berdasarkan sistem informasi kesehatan (Simpu. yang ada di UPTD Puskesmas Tapos didapatkan bahwa jumlah kasus Tuberkulosis sebanyak 20 kasus pada tahun 2021 dan mengalamai peningkatan sebanyak 46 kasus di tahun 2023. Peningkatan ini mengindikasikan bahwa faktor risiko penularan TB di lingkungan rumah tangga menjadi salah satu penyebab utama lonjakan kasus di EISSN: 2722-4341 (Onlin. | JPMIM Ae Vol. 6 No. 3, 2025 | 109 JPMIM Ae Pencegahan Penularan Tb Di Lingkungan Rumah Tangga Di Wilayah Kerja Puskesmas Tapos 2024 wilayah tersebut. Meskipun berbagai program pengendalian tuberkulosis telah dilaksanakan oleh pemerintah, implementasi edukasi ditingkat masyarakat masih menghadapi berbagai tantangan. Berdasarkan hasil studi pendahuluan pada kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat di RW 06 Kelurahan Tapos. Kota Depok, ditemukan bahwa sebagian masyarakat belum memahami secara tepat mekanisme penularan tuberkulosis, pentingnya ventilasi rumah yang memadai, etika batuk, serta peran keluarga dalam mencegah penularan di lingkungan rumah tangga. Selain itu, masih dijumpai kebiasaan merokok di dalam rumah dan rendahnya keterlibatan anggota keluarga dalam mendukung upaya pencegahan TB. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat belum sepenuhnya diikuti oleh perubahan perilaku pencegahan yang optimal sehingga diperlukan pendekatan edukasi yang lebih Salah satu pendekatan edukasi yang dinilai mampu meningkatkan keterlibatan masyarakat adalah Focus Group Discussion (FGD). Berbeda dengan penyuluhan konvensional yang umumnya berlangsung secara satu arah. FGD memberikan kesempatan kepada peserta untuk berdiskusi, berbagi pengalaman, mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari, serta memperoleh klarifikasi terhadap informasi yang kurang tepat mengenai tuberkulosis. Interaksi dua arah tersebut diharapkan dapat meningkatkan pemahaman, membangun kesadaran, serta mendorong perubahan perilaku pencegahan yang lebih berkelanjutan melalui keterlibatan aktif peserta selama proses edukasi. 11Ae13 Berdasarkan kondisi tersebut, dikembangkan program RUBERTU (Rumah Bebas Tuberkulosi. sebagai inovasi edukasi berbasis keluarga yang mengintegrasikan metode Focus Group Discussion (FGD), media lembar balik, permainan edukatif, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test. Berbeda dengan edukasi tuberkulosis konvensional yang lebih berfokus pada penyampaian informasi. RUBERTU menempatkan keluarga sebagai aktor utama dalam mengidentifikasi faktor risiko di lingkungan rumah dan membangun komitmen bersama untuk menerapkan perilaku pencegahan Melalui pendekatan tersebut, program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan pengetahuan masyarakat, tetapi juga memperkuat partisipasi keluarga dalam menciptakan lingkungan rumah yang lebih sehat dan mendukung pengendalian penularan tuberkulosis. Metode Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini dilaksanakan pada bulan Juli 2024 di RW 06 Kelurahan Tapos. Kota Depok. Sasaran kegiatan adalah 50 orang warga RW 06 yang terdiri atas ibu rumah tangga, anggota keluarga pasien tuberkulosis, kader kesehatan, dan masyarakat yang bersedia mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Pemilihan peserta dilakukan secara purposive dengan mempertimbangkan keterlibatan mereka dalam upaya pencegahan tuberkulosis di lingkungan keluarga dan masyarakat. Metode pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan partisipatif yang meliputi tahap persiapan, identifikasi masalah, pelaksanaan intervensi, evaluasi, dan tindak lanjut. Tahap persiapan diawali dengan koordinasi dan perizinan kepada UPTD Puskesmas Tapos, dilanjutkan dengan diskusi bersama pembimbing lapangan, tenaga kesehatan puskesmas, kader kesehatan, dan Ketua RW untuk menyusun rencana pelaksanaan kegiatan. Selanjutnya dilakukan observasi lapangan melalui wawancara kepada warga yang memiliki riwayat tuberkulosis paru untuk mengidentifikasi tingkat pengetahuan masyarakat mengenai penyebab, cara penularan, pencegahan, dan pengobatan tuberkulosis. Berdasarkan hasil identifikasi tersebut, dilakukan intervensi edukasi menggunakan metode Focus Group Discussion (FGD). Kegiatan FGD dilaksanakan secara tatap muka dengan memanfaatkan media edukasi berupa lembar balik dan booklet RUBERTU (Rumah Bebas Tuberkulosi. yang memuat materi mengenai penyebab tuberkulosis, cara penularan, gejala, pencegahan, pengobatan, etika batuk, pentingnya ventilasi rumah, serta peran keluarga dalam mencegah penularan tuberkulosis. Selama proses FGD, peserta diberikan kesempatan untuk berdiskusi, mengemukakan pengalaman, serta EISSN: 2722-4341 (Onlin. | JPMIM Ae Vol. 6 No. 3, 2025 | 110 JPMIM Ae Pencegahan Penularan Tb Di Lingkungan Rumah Tangga Di Wilayah Kerja Puskesmas Tapos 2024 mengajukan pertanyaan sehingga proses pembelajaran berlangsung secara aktif dan partisipatif. Evaluasi kegiatan dilakukan menggunakan instrumen pretest dan posttest berupa kuesioner yang terdiri atas 10 pertanyaan mengenai pengetahuan tuberkulosis. Setiap jawaban benar diberikan skor 1 dan jawaban salah diberikan skor 0, sehingga skor total berada pada rentang 0Ae10. Kuesioner diberikan sebelum dan sesudah pelaksanaan edukasi untuk mengukur perubahan tingkat pengetahuan peserta. Data hasil pre-test dan post-test dianalisis secara deskriptif dengan menghitung nilai rata-rata, nilai minimum, nilai maksimum, serta persentase peningkatan skor pengetahuan peserta setelah mengikuti kegiatan edukasi. Persentase peningkatan dihitung berdasarkan perubahan nilai rata-rata pretest dan post-test. Sebagai tindak lanjut, booklet RUBERTU diserahkan kepada kader kesehatan dan peserta sebagai media edukasi yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan posyandu maupun penyuluhan kesehatan secara berkelanjutan sehingga informasi mengenai pencegahan tuberkulosis tetap dapat disebarluaskan kepada masyarakat. Hasil dan Pembahasan Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat melalui program RUBERTU (Rumah Bebas Tuberkulosi. dilaksanakan pada Rabu, 24 Juli 2024, di Posyandu RW 06 Kelurahan Tapos dengan melibatkan 50 peserta. Rangkaian kegiatan diawali dengan registrasi peserta, dilanjutkan dengan pengisian pre-test untuk mengukur tingkat pengetahuan awal mengenai tuberkulosis. Selanjutnya, peserta mengikuti sesi edukasi menggunakan metode Focus Group Discussion (FGD) yang didukung media lembar balik, permainan edukatif sebagai sarana penguatan materi, serta pemberian jus sebagai bentuk edukasi mengenai pentingnya pemenuhan gizi bagi kesehatan. Kegiatan diakhiri dengan pengisian post-test untuk mengevaluasi peningkatan pengetahuan peserta setelah mengikuti edukasi. Gambar 1. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat: Registrasi Kegiatan. Pengisian Pre-Test & Post-test dan Pemberian Materi EISSN: 2722-4341 (Onlin. | JPMIM Ae Vol. 6 No. 3, 2025 | 111 JPMIM Ae Pencegahan Penularan Tb Di Lingkungan Rumah Tangga Di Wilayah Kerja Puskesmas Tapos 2024 Pelaksanaan kegiatan berlangsung dengan baik dan memperoleh partisipasi aktif dari seluruh Metode FGD yang dipadukan dengan media edukatif mampu menciptakan suasana pembelajaran yang interaktif, sehingga mendorong peserta untuk berdiskusi, mengajukan pertanyaan, dan berbagi pengalaman terkait tuberkulosis. Materi yang disampaikan meliputi faktor risiko, mekanisme penularan, upaya pencegahan tuberkulosis di lingkungan rumah tangga, serta pentingnya kepatuhan dalam menjalani pengobatan bagi penderita TB. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pendekatan edukasi partisipatif dapat meningkatkan keterlibatan peserta dalam proses pembelajaran dan mendukung peningkatan pemahaman mengenai pencegahan tuberkulosis. Hasil evaluasi kegiatan yang dilakukan melalui penyebaran kuesioner pre-test dan post-test kepada 50 peserta menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan tuberkulosis setelah mengikuti program RUBERTU. Adapun hasil pengukuran tingkat pengetahuan peserta disajikan pada Tabel 1: Tabel 1 . Hasil Nilai Pre-Post Test Peserta Fasilitas RUBERTU Variabel Pretest (%) Posttest (%) Pengetahuan Pencegahan Tuberkulosis Peningkatan (%) Tabel diatas menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan masyarakat setelah diberikan intervensi melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dan edukasi menggunakan media lembar balik serta booklet RUBERTU. Sebelum intervensi, total skor pre-test sebesar 379 atau 75,8% dari skor maksimum, dengan nilai rata-rata 7,6. Setelah intervensi, total skor post-test meningkat menjadi 461 atau 92,2%, dengan nilai rata-rata 9,2. Dengan demikian, terjadi peningkatan sebesar 16,4 poin persentase atau peningkatan rata-rata nilai sebesar 1,6 poin, yang menunjukkan bahwa program RUBERTU efektif dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan tuberkulosis di lingkungan rumah tangga. Hasil kegiatan ini sejalan dengan Putra yang menunjukkan bahwa edukasi kesehatan yang komprehensif mampu meningkatkan partisipasi masyarakat dalam deteksi dini tuberkulosis dibandingkan edukasi standar. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pendekatan edukasi yang melibatkan masyarakat secara aktif dapat meningkatkan pemahaman sekaligus mendorong keterlibatan peserta dalam upaya pencegahan tuberculosis. 14 Peningkatan pengetahuan peserta pada kegiatan ini juga mendukung hasil Kaaffah yang menyatakan bahwa peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai tuberkulosis merupakan salah satu komponen penting dalam pengendalian TB. Edukasi kesehatan yang tepat dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap cara penularan, pencegahan, dan pentingnya pengobatan TB sehingga mendukung keberhasilan program pengendalian Selain metode diskusi, penggunaan media booklet pada program RUBERTU diduga turut mendukung peningkatan pengetahuan peserta karena materi dapat dipelajari kembali setelah kegiatan Penelitian mengenai penggunaan media e-booklet pada pasien tuberkulosis juga menunjukkan bahwa media edukasi tersebut berkontribusi terhadap peningkatan perilaku pengobatan dan pemahaman pasien mengenai tuberkulosis. Peningkatan pengetahuan peserta pada program RUBERTU diduga dipengaruhi oleh beberapa Pertama, penggunaan metode Focus Group Discussion (FGD) memungkinkan peserta berpartisipasi secara aktif melalui diskusi, berbagi pengalaman, dan mengajukan pertanyaan sehingga materi lebih mudah dipahami. Kedua, penggunaan media lembar balik dan booklet membantu peserta memahami materi melalui penyajian visual yang sederhana dan mudah diingat. Ketiga, permainan edukatif yang disisipkan selama kegiatan meningkatkan perhatian dan motivasi peserta dalam mengikuti proses pembelajaran. Keempat, keterlibatan kader kesehatan dan Ketua RW dalam pelaksanaan kegiatan menciptakan suasana belajar yang lebih kondusif serta mendukung keberlanjutan edukasi di masyarakat. Faktor-faktor tersebut diduga berkontribusi terhadap peningkatan pengetahuan EISSN: 2722-4341 (Onlin. | JPMIM Ae Vol. 6 No. 3, 2025 | 112 JPMIM Ae Pencegahan Penularan Tb Di Lingkungan Rumah Tangga Di Wilayah Kerja Puskesmas Tapos 2024 peserta setelah mengikuti program RUBERTU. Simpulan Program RUBERTU (Rumah Bebas Tuberkulosi. yang dilaksanakan melalui metode Focus Group Discussion (FGD) dengan dukungan media lembar balik dan booklet menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan tuberkulosis di lingkungan rumah tangga. Rata-rata nilai pengetahuan peserta meningkat dari 7,6 pada saat pretest menjadi 9,2 pada saat posttest, serta sebanyak 43 peserta . %) mengalami peningkatan pengetahuan setelah mengikuti kegiatan Hasil tersebut menunjukkan bahwa pendekatan edukasi berbasis masyarakat dapat menjadi salah satu strategi promotif dan preventif dalam mendukung upaya pengendalian tuberkulosis di tingkat Untuk mendukung keberlanjutan program, diperlukan pembentukan dan penguatan kader peduli tuberkulosis yang berperan sebagai edukator serta pendamping masyarakat dalam kegiatan pencegahan TB. Selain itu, monitoring kontak serumah pada pasien tuberkulosis perlu dilakukan secara berkala melalui kolaborasi antara puskesmas, kader kesehatan, dan keluarga untuk meningkatkan deteksi dini serta mencegah penularan di lingkungan rumah tangga. Program RUBERTU juga direkomendasikan untuk diintegrasikan kedalam kegiatan Posyandu. Posbindu, maupun forum kesehatan masyarakat lainnya sehingga edukasi mengenai pencegahan tuberkulosis dapat dilaksanakan secara rutin, berkelanjutan, dan menjangkau masyarakat yang lebih luas. Daftar Pustaka