PRIMA: Journal of Community Empowering and Services. , 92-100, 2025 URL: https://jurnal. id/prima/issue/view/92583 DOI: https://doi. org/10. 20961/prima. Analisis Pertanian Kopi Menggunakan Good Agriculture Practices (GAP) Pertanian Kopi di Kabupaten Garut Iwan Aminudin1. Nunung Isnaini Dwi Ningsih2*. Darkiman Ruminta1. Phonika Aryati1 Magister Agribisnis Fakultas Sains dan Teknologi. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Banten. Indonesia Pusat Laboratorium Terpadu Fakultas Sains dan Teknologi. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Banten. Indonesia *Corresponding Author : nunung_isnaini@uinjkt. ABSTRAK Good Agriculture Practices on Coffee atau bisa disingkat dengan GAP on Coffee merupakan pedoman pelaksanaan budidaya kopi yang baik dan berkelanjutan. Telah dilakukan analisis pertanian kopi di Kabupaten Garut dilakukan dengan menggunakan GAP on Coffee. Tujuan analisis untuk mengetahui kesesuaian pertanian dengan GAP on Coffee. Ini merupakan penelitian dengan metode deskriptif kuantitatif menggunakan teknik wawancara dan observasi dalam pengumpulan data. Analisis dijalankan pada 11 aspek budidaya kopi yang baik, yaitu pemilihan, kesesuaian, persiapan lahan, penamaman penaung, penggunaan bahan tanam unggul, pembibitan, penanaman, pemupukan, pemangkasan, pengelolaan penaung, pengendalian hama terpadu, dan pemanenan. Pada aspek pemanenan yang terdiri atas panen dan penanganan pascapanen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani kopi Garut telah menerapkan GAP on Coffee 75% ruang lingkup yang telah sesuai atau memenuhi ketentuan dalam GAP on Coffee (Ou 60-100%), yaitu pemupukan, penanaman, pembibitan, penggunaan bibit tanaman unggul, penanaman penaung, kesesuaian lahan, pemilihan lahan (Ou 80100%), dan ruang lingkup panen yaitu pemanenan . %) serta pengendalian hama terpadu . %). Sedangkan ruang lingkup yang belum sesuai atau memenuhi ketentuan yaitu persiapan lahan . %), serta pengelolaan penaung dan pemangkasan . %). Keterbatasan modal, minimnya pengetahuan dan ketrampilan menjadi kendala. Oleh karena itu, untuk memenuhi ketentuan dalam GAP on Coffee pada pertanian kopi di Kabupaten Garut perlu adanya program bantuan pupuk serta pelatihan dan bimbingan teknis, juga penyuluhan yang berkelanjutan dalam menerapkan GAP yang salah satunya dapat dilakukan dengan melibatkan koperasi dan kelompok tani sebagai pendamping. Kata kunci: arabika, budidaya kopi, kesesuaian, petani Analysis of Coffee Farming Using Good Agricultural Practices (GAP) Coffee Farming in Garut Regency ABSTRACT Good Agricultural Practices, or GAP on Coffee, is a guideline for good and sustainable coffee An analysis of coffee farming in Garut Regency was conducted using GAP on Coffee. The purpose of the analysis was to determine the suitability of farming practices with GAP on Coffee. This was a quantitative descriptive study using interviews and observation techniques to collect data. The analysis was conducted on 11 aspects of good coffee cultivation practices, namely selection, suitability, land preparation, shade tree planting, use of high-quality planting materials, seedling production, planting, fertilization, pruning, shade tree management, integrated pest management, and harvesting. The harvesting aspect includes both harvesting and post-harvest handling. The research results indicate that Garut coffee farmers have implemented GAP on Coffee, with 75% of the scope meeting or exceeding the requirements of GAP on Coffee (Ou 60-100%), specifically in fertilization, planting, seedling production, use of high-quality planting materials, shade tree planting, land suitability, and land selection (Ou 80-100%). And the harvesting scope, which includes harvesting . %) and integrated pest management . %). However, the scope that does not yet meet Copyright A 2025 PRIMA: Journal of Community Empowering and Services PRIMA: Journal of Community Empowering and Services Vol 9. , 2025 e-ISSN 2579-5074 the requirements includes land preparation . %) and shade tree management and pruning . %). Limited capital, lack of knowledge, and skills are the main constraints. Limited capital, lack of knowledge, and skills are obstacles. Therefore, to meet the requirements of GAP on Coffee farming in Garut Regency, there needs to be a fertilizer assistance program as well as training and technical guidance, and ongoing education in implementing GAP, one of which can be done by involving cooperatives and farmer groups as assistants. Keywords: arabica, coffee cultivation, farmers, the suitability PENDAHULUAN Kopi sebagai salah satu komoditas yang memiliki peran penting pada bidang ekonomi dari sektor perkebunan. Kontribusi kopi untuk ekonomi termasuk generasi valuta asing, sumber penghasilan petani, sumber penghasilan bagi petani, pengolahan bahan industri, serta penciptaan lapangan kerja (BPS, 2. Statistik dari Direktorat Umum Perkebunan tahun 2021 menunjukkan luas lahan kopi mencapai 570 hektar dan total produksi mencapai 191 ton. Berdasarkan luas lahan kopi yang dikelola, sekitar 98,1% atau 1. 789 hektar dioperasikan oleh PeopleAos Farms (PR), sedangkan sisanya ditangani oleh perkebunan besar negara (PBN) dan perkebunan besar swasta (PBS) yang masing-masing hanya 0,86%. Secara khusus, sektor perkebunan kopi milik masyarakat masih menghadapi berbagai tantangan, yaitu tingkat produksi yang rendah, produktivitas yang kurang optimal, kualitas produk yang tidak memadai, kelemahan dalam lembaga yang mewakili petani kopi, dan hubungan kemitraan antara petani dan sektor industri sangat terbatas (Widaningsih, 2. Strategi mengembangkan agribisnis kopi dapat diawali dengan penguatan kelembagaan pada petani Melalui kelompok petani kopi berbasis korporasi maka posisi petani kopi akan kuat dan menjadi penyangga utama dalam sistem Melalui korporasi, penguatan petani tidak hanya dilakukan di sektor produksi tetapi juga di sektor bisnis, dengan upaya membangun jaringan bisnis yang kuat. Posisi tawar korporasi yang kuat dalam rantai bisnis akan mendorong terciptanya bisnis yang inklusif, yaitu model bisnis yang akan memberikan nilai ekonomi dan masyarakat dengan pendapatan minimal dalam rantai nilai bisnis. Model ini tidak hanya berfokus pada keuntungan, tetapi juga pada dampak positif bagi masyarakat, seperti pemberdayaan ekonomi dan pengurangan Bisnis inklusif yang baik bagi petani adalah ketika mereka menciptakan produk kopi yang berkualitas baik sehingga mampu menjaga kestabilan harga di pasar. Pemerintah berperan penting menjaga stabilitas sistem agribisnis yang inklusif melalui penguatan peraturan (Junais et , 2. Industri kopi merupakan salah satu rantai nilai komersial terpenting di seluruh Meskipun demikian, industri ini juga terkait dengan beberapa masalah sosial, ekonomi, dan lingkungan yang mengganggu Ulasan ini difokuskan pada masalah keberlanjutan utama ini, mulai dari ladang hingga ke cangkir kopi, serta pada strategi yang dan/atau keberlanjutan dan prinsip-prinsip ekonomi sirkular di berbagai segmen rantai yang berbeda. Dalam konteks ini, berbagai pendekatan berbeda telah diterapkan, seperti sertifikasi berkelanjutan . isalnya, standar keberlanjutan sukarel. , inisiatif keberlanjutan perusahaan, perdagangan langsung, konsep kopi hubungan, indikasi geografis, peraturan perundang-undangan, pengelolaan limbah, dan valuasi produk sampingan, dan lain-lain. Strategi-strategi didiskusikan dalam tinjauan ini, serta keuntungan dan keterbatasannya. Secara keseluruhan, masih ada perjalanan panjang yang tingkat keberlanjutan yang diinginkan dalam rantai kopi, karena itu sangat penting untuk menggabungkan upaya semua aktor dan entitas yang terlibat secara langsung atau tidak pemanggang kopi, pemerintah, lembaga pendidikan . eperti universitas dan lembaga penelitian ilmia. , dan organisasi (Junais et al. Persepsi petani kopi masih menganggap bahwa manajemen pertanian yang baik tidaklah penting, yaitu penggunaan benih berkualitas, praktik budidaya yang tepat, dan teknik pemanenan yang efisien. Banyak tanaman kopi Copyright A 2025 PRIMA: Journal of Community Empowering and Services PRIMA: Journal of Community Empowering and Services Vol 9. , 2025 e-ISSN 2579-5074 yang tampak mengalami kerusakan atau berusia tua, dengan peningkatan serangan hama dan penyakit yang mengkhawatirkan seperti karat daun kopi (Hemileia vastatri. yang menyebabkan bercak kuning dan rontoknya daun dapat menimbulkan kematian cabang dan ranting apabila serangannya berat. Selain itu penyakit yang menyebabkan bercak pada daun kopi dan dapat menyebabkan daun rontok atau disebut penyakit bercak daun kopi (Cercospora Jamur Upas (Upasia salmonicolo. dan kanker batang pada tanaman kopi menyerang jaringan batang dan ranting, yang mengakibatkan kematian tanaman (Harni et al. Situasi ini juga menyumbang pada rendahnya penghasilan yang dapat diperoleh petani, sehingga umumnya mereka kekurangan modal untuk merawat kebun mereka secara intensif, terutama di tanah perkebunan. Berbagai pedoman, yang merupakan solusi, telah diserahkan oleh pemerintah oleh Direktur Jenderal Departemen Pertanian Indonesia, ketegangan kopi dan penggunaan teknis budidaya kopi yang sangat baik untuk petani. Salah satu area yang dicakup oleh Program Pengaturan Kopi terletak di Kabupaten Garut. Jawa Barat, karena potensi besar untuk mengembangkan sistem kopi di Jawa Barat. Tanaman kopi (Coffea sp. ) umumnya terdiri dari kebun milik masyarakat yang menggunakan teknik pertanian yang masih Jika teknik budidaya di kebun kopi masyarakat tersebut ditingkatkan, hasil produksinya berpotensi untuk berkembang. Teknologi budidaya kopi poliklonal adalah Terdapat empat faktor yang menentukan keberhasilan budidaya kopi, yaitu . teknologi untuk menyediakan sistem produksi, . proses produksi/budidaya, . memanen dan memproses teknologi . ndustri agr. sistem pemasaran. Keempat faktor tersebut merupakan kegiatan berkelanjutan yang perlu digunakan dengan benar dan benar. Pada era perdagangan tanpa batas seperti sekarang, kemampuan bersaing produk kopi ditentukan oleh mutu kopinya. Metode penanaman yang paling tepat dapat menghasilkan barang berkualitas unggul . iji kop. dan sesuai dengan permintaan pasar. Ini harus dipertimbangkan oleh penanam kopi untuk memastikan bahwa bisnis pertanian berhasil (Emawati, 2. Kementerian Pertanian mengeluarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 49/Permentan/OT. 140/4/2014 Panduan Teknis untuk Budidaya Kopi yang Baik (Good Agriculture Practices/GAP on Coffe. yang berfungsi sebagai pedoman bagi para pemangku kepentingan dan petugas lapangan dalam melaksanakan kegiatan untuk pembinaan, pengarahan, dan penyuluhan di kalangan petani terkait penerapan teknik budidaya kopi yang benar dan baik, sehingga diharapkan dapat meningkatkan hasil dan kualitas biji kopi. Penerapan GAP yang terstandarisasi di Indonesia menunjukkan bahwa petani yang menerapkan GAP dengan sangat baik berimbas pada tingginya produktivitas kopi yang dihasilkan (Kustiari et al. , 2. Begitu pula penerapan GAP untuk petani kopi Arabika di Kabupaten Enrekang menyebutkan bahwa tingkat penerapan GAP tertinggi pada aspek pascapanen . %), diikuti oleh aspek panen . %). Petani kopi rakyat memiliki tingkat GAP terendah pada aspek budidaya sebesar 24% (Irfansyah, 2. Penelitian terkait strategi penerapan GAP untuk kopi untuk daerah yang sama juga dilakukan dengan menggunakan metode AHP yang menunjukkan bahwa skala prioritas penerapan GAP pada tanaman kopi pada aspek budidaya . ,7%) yang terdiri dari pemangkasan, pemupukan baik jenis maupun cara pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, dan varietas. Prioritas kedua adalah aspek pascapanen . ,9%) diikuti oleh aspek panen sebesar 25,5% (Irfansyah et al. , 2. Keberhasilan program Abdimas dalam pelatihan pengolahan kopi mengacu pada GAP on Coffee, terlihat pada peningkatan pemahaman petani tentang pengelolaan kopi pascapanen serta peningkatan harga jual biji kopi dari harga sebelumnya yang mencapai 70% (Putra et al. Hasil kegiatan pendampingan Abdimas terkait dengan penerapan GAP on Coffee menunjukkan bahwa GAP tanaman kopi di Bondowoso menyebutkan bahwa petani kopi sudah menerapkan beberapa praktek budidaya kopi yang sesuai dengan GAP (Rosyady et al. Berdasarkan kajian literatur ditemukan bahwa produksi dan produktivitas kopi di wilayah Manggarai mengalami penurunan yang disebabkan oleh curah hujan selama pembungaan kopi, serta minimalnya upaya dalam pengelolaan kebun disebabkan lahan yang miring, serta tingkat adopsi GAP on Coffee yang rendah, dan keterbatasan input dan modal usaha. Copyright A 2025 PRIMA: Journal of Community Empowering and Services PRIMA: Journal of Community Empowering and Services Vol 9. , 2025 e-ISSN 2579-5074 Dari permasalahan tersebut, rekomendasi meningkatkan produksi dan produktivitas kopi di wilayah Manggarai antara lain membangun bisnis inklusif yang melibatkan berbagai pelaku Pemerintah dan swasta berperan penting dalam promosi dan penguatan kelembagaan. Selain itu penerapan GAP on Coffee perlu dioptimalkan pada para petani dengan cara melakukan identifikasi karakter para petani dan atau kelompok tani serta meningkatkan akses informasi di daerah yang terisolir. Implementasi GAP juga diterapkan pada tanaman kopi Arabika oleh para petani di wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan sebagai salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan teknis dalam rangka meningkatkan produksi dan daya saing komoditas tersebut. Hasil yang diperoleh bahwa tingkat motivasi petani dalam budidaya kopi Arabika yang baik di Kabupaten Tapanuli Selatan termasuk dalam kategori tinggi . ,66%). Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat motivasi petani kopi dalam menerapkan budidaya kopi Arabika yang baik adalah umur, pengalaman, dan sifat inovasi. Sementara itu, pendidikan, pendapatan, dan luas lahan berpengaruh tidak signifikan terhadap tingkat motivasi petani dalam menerapkan budidaya kopi Arabika yang baik (Kansrini et al. , 2. Analisis efektivitas penerapan GAP dilakukan pada petani kopi Bali dengan metode Forum Group Discussion hasilnya menunjukkan ternyata penerpan GAP berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas kopi Arabika spesial kintamani (Suwedi et al. , 2. Pengaruh karakteristik inovasi . euntungan relatif, kompatibilitas, kerumitan, trialability, dan observability terhadap penerapan GAP oleh petani kopi di Lembah Gumanti dan Pantai Cermin menunjukkan bahwa secara simultan semua variabel berpengaruh terhadap penerapan GAP. Namun, hanya variabel keuntungan relatif, kesesuaian, dan kemampuan uji coba yang berpengaruh terhadap penerapan GAP secara parsial (Putri at al. , 2. Penelitian lain di Malabar Mountain Coffee memberikan rekomendasi bahwa jika petani menerapkan GAP on Coffee dengan baik maka akan berpengaruh terhadap produksi buah kopi yang dihasilkan, dan dinyatakan pula bahwa penerapan GAP akan menghasilkan tanaman kopi yang lebih sehat dan produktif. Tentunya akan sangat berdampak pada bisnis kopi pada Malabar Mountain Coffee (Adinandra & Pujianto, 2. Telah dilakukan juga melalui program pengabdian masyarakat terkait penerapan GAP pada tahap produksi dan pengolaha hasil panen kopi di Kabupaten Garut, produktivitas yang belum optimal dan pascapanen pada pengolahan hasil panen kopi belum menerapkan prinsip GAP (Tridakusumah et al. , 2. Berdasarkan hal ini maka penelitian kali ini fokus pada penerapan GAP on Coffee pada petani kopi di Kabupaten Garut untuk memberikan rekomendasi agar produktivitas kopi Garut menjadi lebih baik. METODE Penelitian telah dilakukan di Kabupaten Garut. Jawa Barat. Indonesia sebagai salah satu kawasan pengembangan tanaman kopi pada Agustus - November 2023. Sampel penelitian ditentukan menggunakan Rumus Slovin sehingga terpilih 83 petani kopi dari 18 kelompok tani. Pemilihan responden dilakukan dengan pendekatan probabilitas menggunakan teknik acak proporsional dan proses pengambilan sampel dilakukan melalui undian nama pada setiap kelompok tani (Indrawan & Yaniawati, 2. Metode yang diimplementasikan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif, yang menunjukkan bahwa penelitian ini menyajikan gambaran mengenai variabel sesuai dengan kondisi nyata, didukung oleh angka yang merefleksikan keadaan yang sebenarnya. Data yang digunakan bersumber dari data primer yang diperoleh melalui kuesioner dan wawancara untuk menentukan kecocokan GAP on Coffee pada petani kopi di Garut, serta untuk mengidentifikasi penyebab dan solusi terkait. Selain itu juga digunakan data sekunder sebagai ketidaksesuaian yang ada. Cakupan yang ada dalam GAP on Coffee yang dijelaskan dalam Peraturan Menteri Pertanian mencakup produksi kopi yang berkelanjutan, praktik budidaya kopi yang baik, variasi usaha dalam budidaya kopi, serta pengumpulan dan penanganan setelah Pada penelitian ini dibatasi pada dua ruang lingkup yaitu budidaya kopi yang baik dan panen serta penanganan pascapanen. Terdapat 10 aspek dalam ruang lingkup usaha pada budidaya kopi yaitu pemilihan lahan, kesesuaian lahan, pengunaan bahan tanam unggul, pembibitan. Copyright A 2025 PRIMA: Journal of Community Empowering and Services PRIMA: Journal of Community Empowering and Services Vol 9. , 2025 e-ISSN 2579-5074 pengelolaan penaung, dan pengendalian hama terpadu (PHT). Sedangkan pada ruang lingkup panen dan penanganan pascapanen terdapat dua aspek panen dan pascapanen. HASIL DAN PEMBAHASAN Istilah Good Agriculture Practices (GAP) adalah sinonim untuk praktik pertanian berkelanjutan yang menggunakan pendekatan prinsip pertanian yang sangat baik. Penggunaan kesenjangan ini sangat sulit dilakukan di daerah lokal dan pertanian (Adinandra dan Pujianto. GAP on Coffee telah menguraikan mengenai pembangunan, pengarahan, dan pendampingan dalam menjalankan praktik budidaya kopi yang tepat dan benar untuk mencapai peningkatan dalam produksi serta kualitas biji kopi. Penerapan GAP pada komoditas pertanian telah banyak diteliti banyak pihak namun hasilnya menunjukkan penerapan GAP komoditas pertanian di beberapa daerah di Indonesia masih tergolong kategori rendah dan lebih banyak dilakukan dengan hanya melihat aspek budidaya (Wakhid & Suciati, 2. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap petani dalam pelaksanaan praktik pertanian yang baik mencakup usia, pendapatan, pengalaman bertani, keterlibatan dalam kelompok, kontribusi penyuluh, serta frekuensi penyuluhan (Yusifa. Berikut hasil analisis penerapan GAP on Coffee pada pertanian kopi di Kabupaten Garut: Pemilihan Lahan Terdapat persyaratan untuk penanaman kopi Arabika dan Robusta yang berbeda, terutama dalam hal ketinggian wilayah, karakteristik tanah, dan waktu bulan kering (Ditjenbun, 2. Berdasarkan GAP on Coffee temuan di lokasi penelitian, secara umum wilayah Kabupaten Garut memenuhi persyaratan tumbuh dan cocok untuk usaha budidaya tanaman kopi Arabika. Temuan di lapangan, wilayah Cikajang dan Cisurupan berada ketinggian >1000 mdpl, curah hujan tahunan antara 2. 589 mm dengan bulan kering 3 bulan, dan variasi temperatur antara 24AC - 27AC. Tanah Mediteran, yang memiliki lapisan solum yang cukup tebal, memiliki tekstur mulai dari lempung hingga liat, serta rendah akan kandungan bahan Reaksi tanah menunjukkan pH yang berkisar antara 6,0 hingga 7,5. Tanah ini juga mengandung unsur hara dalam jumlah yang lebih banyak. Lahan di lokasi memenuhi syarat tumbuh bagi tanaman kopi Arabika, dan sesuai GAP on Coffee. Kesesuaian Lahan Kelas kesesuaian lahan untuk tanaman kopi jenis Arabika berada di level S1. S2 dan S3 sesuai dengan penelitian (Nugroho et al. tentang usahatani kopi Arabika di Desa Sudalarang. Kabupaten Garut. Persiapan Lahan Hasil temuan GAP on Coffee kegiatan persiapan lahan bahwa petani kopi Garut sudah melakukan kegiatan persiapan lahan tapi belum sesuai GAP on Coffee seperti. pohon/tanaman tua/rusak, membersihkan lahan dari gulma dan membuat lubang tanam. Hasil temuan petani yang melakukan tiga kegiatan persiapan lahan sekaligus meliputi. menebang tanaman tua, membersihkan gulma dan membuat lubang tanam ada 16 orang . ,28%). Petani yang melakukan dua kegiatan persiapan lahan. tanaman tua dan membersihkan gulma ada 28 orang . ,73%). Petani yang hanya melakukan satu kegiatan dalam persiapan menebang tanaman tua atau membersihkan gulma atau membuat lubang tanam sebanyak 39 orang . ,99%). Kegiatan persiapan lahan oleh petani kopi umumnya masih belum sesuai GAP on Coffee. Petani kopi yang menerapkan kegiatan persiapan lahan secara baik dan sesuai GAP sebesar 19,28% dan sisanya menerapkan tapi tidak lengkap. Hal ini menyesuaikan dengan kondisi lahan masing-masing yang tidak sama antar petani satu dengan lainnya. Petani juga masih belum mengetahui teknik persiapan yang sesuai dan dianjurkan pedoman GAP, sehingga tingkat penerapan masih rendah. Penamanam Penaung Hasil temuan untuk tanaman penaung sudah terdapat di lokasi. Sebagian besar tanaman kopi di Kabupaten Garut menggunakan lahan Perum Perhutani. Kopi ditanam dengan cara tumpang sari, dalam hal ini varietas kopi disesuaikan dengan tanaman Tanaman naungan terdiri dari Pinus. Jati. Mahoni, serta tanaman hutan campuran lainnya. Kopi yang ditanam di lahan kosong diberi tanaman naungan diantaranya adalah Sengon. Jabon. Akasia, dan tanaman hutan lainnya. Penentuan Copyright A 2025 PRIMA: Journal of Community Empowering and Services PRIMA: Journal of Community Empowering and Services Vol 9. , 2025 e-ISSN 2579-5074 tanaman naungan ditentukan dengan varietas kopi yang ditanam. Jika mengacu pada GAP on Coffee maka tanaman penaung yang ada termasuk dalam penaung Pengunaan Bahan Tanam Unggul Pemanfaatan benih berkualitas tinggi merupakan tindakan krusial dalam penerapan teknik penanaman kopi yang Penggunaan benih unggul perlu lingkungan tanam agar dapat diperoleh mutu cita rasa dan produktivitas kopi yang Hasil penelitian menunjukkan bahwa para petani telah mengikutii program peremajaan tanaman kopi sehingga mendapatkan bahan tanam atau bibit unggul langsung dari pemerintah melalui bantuan bibit kopi gratis. Oleh karena itu bibit kopi yang digunakan petani bisa dipastikan bibit tanaman kopi yang unggul sesuai pedoman teknis budidaya kopi yang baik. Hasil penelitian ditemukan bahwa petani kopi Garut sudah melakukan penanaman bibit kopi sesuai dengan GAP on Coffee yaitu varietas unggul bibit kopi berasal dari bantuan pemerintah dan bibit kopi unggul lokal anjuran dimana para petani menyebutnya dengan nama Sigala Runtang dan Linias. Pembibitan Bibit tanaman kopi diperoleh dari produsen bibit kopi yang tersertifikasi. Jenis tanaman kopi Arabika dengan berbagai varietas, diantaranya varietas Ateng. Bibit kopi yang ditanam mempunyai spesifikasi bibit unggul, bersertifikat sebagai bibit penyebar, dan berlabel biru. Umur bibit yang ditanam minimal 8 bulan. Hal ini sesuai dengan GAP on Coffee, aspek pembibitan diperoleh secara generatif dari produsen yang Penanaman Hasil temuan, untuk penamanan kopi dapat dinyatakan 80% telah dilakukan sesuai dengan GAP on Coffee. Sisanya . %) belum sesuai dengan GAP yaitu dalam proses pembuatan lubang tanam, tahap persiapan lubang tanam dan penutupan lubang tanam setinggi dua pertiga bagian ditutupi dengan tanah atas yang telah dicampur dengan bahan organik, pupuk kandang, atau kompos serta pemotongan akar tunggang yang terlalu panjang tidak Pemupukan Sesuai dengan yang tertuang dalam GAP on Coffee bahwa pemberian pupuk dilakukan dua kali dalam setahun, yaitu di awal dan di akhir musim hujan. Di kawasan dengan kelembaban yang tinggi atau curah hujan yang besar, sebaiknya pemupukan dilakukan lebih dari dua kali untuk mengurangi risiko kehilangan pupuk akibat pencucian air atau pelindian (Ditjenbun. Temuan yang diperoleh berdasarkan pemupukan secara beragam. Ada petani yang tidak melakukan pemupukan atau hanya satu kali pemupukan, sebanyak 16 petani . %) dan sisanya 67 petani . %) melakukan pemupukan lebih dari 2-3 kali dalam setahun. Berdasarkan jenis pupuk, para petani kopi Garut sudah melakukan pemupukan sesuai GAP on Coffee yaitu dengan menggunakan dua jenis pupuk, pupuk anorganik berupa NPK dan pupuk organik berupa pupuk kandang. Petani yang menggunakan kombinasi dua jenis pupuk NPK dan pupuk organik dalam pemupukan ada sebanyak 30-40%, sisanya sebanyak 60-70% petani hanya menggunakan satu jenis pupuk saja dalam pemupukan. pupuk NPK atau pupuk kandang. Dosis pupuk organik sesuai anjuran dari GAP on Coffee sebesar 10-20kg/pohon/tahun, sedangkan dosis pupuk anorganik berupa NPK adalah untuk umur tanaman satu tahun sebanyak 75g/pohon/tahun dan seterusnya. Sedangkan berdasarkan dosis, sebagian petani kopi Garut belum melakukan pemupukan sesuai dosis yang dianjurkan. Sebagian besar petani . -75%) melakukan pemupukan NPK dengan dosis <75 kg/tahun/ha. Ada pula yang masih belum mematuhi rekomendasi jumlah yang dianjurkan untuk penggunaan pupuk organik, yaitu antara 10 hingga 20 kg per pohon setiap tahunnya, atau sekitar 10 hingga 20 ton per hektar setiap tahunnya. Sebagian besar . -85%) melakukan pemupukan organik dengan dosis <1. Kg/Ha. GAP on Coffee merekomendasikan metode pemupukan yang efektif, yaitu dengan menempatkan pupuk dalam pola melingkar sejauh 75 cm dari batang utama, dengan kedalaman antara 2 hingga 5 cm. Petani yang sudah melakukan cara pemupukan sesuai GAP ada sebanyak 60% dan sisanya 40% cara pemupukannya Copyright A 2025 PRIMA: Journal of Community Empowering and Services PRIMA: Journal of Community Empowering and Services Vol 9. , 2025 e-ISSN 2579-5074 belum sesuai. Hasil rata-rata secara umum di lapangan menunjukkan bahwa para petani kopi sudah menerapkan praktik GAP on Coffee walaupun masih ada sedikit yang belum sesuai yakni dalam hal dosis pemakaian pemupukan tanaman kopi baik untuk dosis pupuk anorganik maupun pupuk organik, dikarenakan keterbatasan keuangan/modal rumah tangga petani kopi untuk membeli pupuk sesuai anjuran GAP on Coffee. Pemangkasan Hasil temuan diperoleh sebanyak 81% petani kopi sudah melakukan pemangkasan tanaman kopi dan hanya 19% petani yang tidak melakukan pemangkasan tanaman. Petani yang melakukan pemangkasan satu kali sebanyak 57%, petani yang melakukan dua kali pemangkasan dalam setahun ada sebanyak 27% dan petani yang melakukan pemangkasan >2 kali selama setahun sebesar 16%. Hasil wawancara, sebagian besar petani kopi belum mengetahui cara pemangkasan tanaman kopi sesuai GAP. Pengelolaan penaung Tanaman penaung yang ada penaung sementara dan penaung tetap. Keduanya belum dikelola dengan baik, tidak ada perlakuan yang sesuai dengan GAP on Coffee. Saat musim hujan penaung sementara belum ada kegiatan pengurangan Tanaman penguat yang ada tidak dilakukan pendongkelan dan tidak dilakukan pemangkasan secara periodik. Selama ini yang dilakukan oleh petani adalah pendongkelan tanaman-tanaman yang tumbuh liar di sekitar pohon kopi, misalnya tanaman Mahang (Macarang. Kirinyuh (Chromolaena odorata L. ), dan Sedangkan untuk jenis penaung tetap seperti Lamtoro dilakukan pemangkasan secara tidak terjadwal. Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Hasil temuan dijumpai bahwa sebagian besar petani kopi . %) sudah melakukan penyiangan/pengendalian gulma dan hanya sebagian kecil petani . %) yang tidak melakukan pengendalian gulma. Jika dilihat dari cara pengendalian guma, sebagian besar petani kopi . %) melakukannya secara mekanis atau manual menggunakan peralatan pertanian seperti cangkul, parang, sabit dan hanya 18% petani yang menggunakan cara kimiawi dengan obat- obatan pertanian/herbisida. Petani yang menggunakan cara kimiawi sangat sedikit, hal ini karena biaya untuk beli obat-obatan pertanian/herbisida cukup mahal bagi rumah tangga petani. Secara umum di lapangan menunjukkan bahwa para petani kopi Garut sudah menerapkan praktek GAP on Coffee walaupun masih ada sedikit yang belum sesuai yakni dalam hal dosis pemakaian bahan kimiawi untuk digunakan pengendalian gulma di sekitar tanaman Pengelolaan hama secara menyeluruh sangat krusial dalam penanaman kopi. Hama dan penyakit yang sering menyerang tanaman kopi termasuk hama bubuk buah (Hypotenemus Keberadaan buah yang tidak terputus di kebun memfasilitasi progresi serangan hama bubuk buah kopi dari satu generasi ke generasi berikutnya. Untuk dampak dari serangan nematoda, tanaman akan menunjukkan ciri-ciri seperti ukuran yang tidak memadai, pertumbuhan yang terhambat, daun serta cabang primer yang kecil, daun yang tua secara bertahap menjadi kuning, dan pada akhirnya mengalami kematian (Sianturi & Wachjar. Berdasarkan temuan, sebagian besar . %) pengendalian hama terpadu dan sisanya . %) tidak melakukan pengendalian hama Walaupun belum sesuai dosis dan anjuran GAP tetapi para petani sadar bahwa pengendalian hama terpadu sangat penting dalam merawat dan pemeliharaan tanaman Hal ini dibuktikan dengan petani rela membeli obat-obatan pertanian demi menjaga tanaman kopinya tetap sehat dan bisa berproduksi. Pemanenan Menurut GAP on Coffee panen biji kopi harus dilakukan pada biji kopi sudah masak/matang yang ditandai dengan warna Hasil penelitian petani pelaksana program sebagian besar sudah melakukan pemanenan sesuai dengan GAP on Coffee. Jumlah petani kopi Garut yang memanen pada saat buah kopi sudah semua berwarna merah sebanyak 72% dan sisanya yang panen pada saat buah kopi baru sebagian berwarna merah benar sebagian ada sebanyak 28%. Copyright A 2025 PRIMA: Journal of Community Empowering and Services PRIMA: Journal of Community Empowering and Services Vol 9. , 2025 e-ISSN 2579-5074 Secara keseluruhan hasil penerapan GAP on Coffee pada pertanian kopi di Kabupaten Garut ditampilkan pada Gambar 1. Gambar 1. Keseluruhan hasil penerapan GAP pertanian kopi di Kabupaten Garut Berdasarkan Gambar 1 terlihat bahwa ruang lingkup yang belum sesuai atau memenuhi ketentuan dalam GAP on Coffee yaitu persiapan lahan . %), pengelolaan penaung dan pemangkasan . %), dan ruang lingkup panen yaitu pemanenan . %) dan pengendalian hama terpadu . %). Ruang lingkup yang telah sesuai atau memenuhi ketentuan dalam GAP on Coffee (Ou80-100%) yaitu pemupukan, penamaman, pembibitan, penggunaan bibit tanaman unggul, penanaman penaung, kesesuaian lahan, dan pemilihan lahan. KESIMPULAN Hasil penelitian memberikan simpulan bahwa petani kopi secara umum sudah menerapkan GAP on Coffee . %). Ruang lingkup yang telah sesuai atau memenuhi ketentuan dalam GAP on Coffee (Ou60-100%), yaitu pemupukan, penamaman, pembibitan, penggunaan bibit tanaman unggul, penanaman penaung, kesesuaian lahan, pemilihan lahan (Ou 80-100%), dan ruang lingkup panen yaitu pemanenan . %) dan pengendalian hama terpadu . %). Sedangkan ruang lingkup yang belum sesuai atau memenuhi ketentuan yaitu persiapan lahan . %), serta pengelolaan penaung dan pemangkasan . %). Beberapa aktivitas yang dilakukan oleh petani kopi tidak sepenuhnya sesuai dengan praktik yang diharapkan, yang diduga disebabkan oleh keterbatasan modal yang dimiliki para petani. Hal ini membuat mereka tidak mampu memberikan upah untuk pekerja, membeli pupuk, dan memperoleh obat-obatan pertanian dalam dosis yang dianjurkan sesuai dengan standar GAP. Selain itu, terbatasnya menyebabkan cara, persiapan lahan, pemupukan dan cara pemangkasan belum sesuai dengan GAP. Oleh karena itu diperlukan program berupa bantuan pupuk atau fasilitasi permodalan bagi petani sehingga petani dapat melakukan pemupukan sesuai dosis anjuran. Petani kopi peningkatan kapabilitas petani seperti pelatihan, bimbingan teknis dan penyuluhan untuk meningkatkan keterampilan petani dalam melakukan praktek budidaya kopi sesuai Penelitian lanjutan bisa dilakukan dengan studi perilaku dan persepsi petani terhadap GAP on Coffee. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan penghargaan ditujukan kepada Pusat Penelitian dan Penerbitan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan bantuan finansial dalam melaksanakan kegiatan riset ini, serta kepada semua orang yang tidak bisa disebutkan satu per satu. DAFTAR PUSTAKA