Open Community Service Journal 5 . : 41-47 2026 Contents lists available at openscie. E-ISSN: 2828-1195 Open Community Service Journal DOI: 10. 33292/ocsj. Journal homepage: https://opencomserv. Mendorong Jiwa Wirausaha Sejak Dini: Pelatihan Pembuatan Aksesoris dan Ide Bisnis bagi Siswa Yayasan Sekolah Rakyat Kejawan Refi Renardi1. Satya Yudha Laksono1. Sigit Bantomo Putro1. Sabina Putri Anam1. Reva Azizah Fitriah1. Pipit Putri Adzani1. Sherly Savira1. Rini Oktavera2*. Pismia Sylvi1 Universitas Terbuka. Surabaya. Indonesia Jurusan Teknik Industri. Fakultas Teknik. Universitas WR Supratman. Surabaya. Indonesia *Correspondence E-mail: rini. oktavera@gmail. INFORMASI ARTIKEL ABSTRAK Riwayat Artikel: Disubmit 29 Desember 2025 Diperbaiki 26 Februari 2026 Diterima 1 Maret 2026 Diterbitkan 5 Maret 2026 Latar Belakang: Kegiatan pengabdian masyarakat ini diawali dengan studi pendahuluan melalui observasi langsung, wawancara informal dengan pengurus yayasan, serta diskusi dengan anak-anak binaan untuk memetakan kebutuhan, minat, kemampuan awal, dan kondisi sosialekonomi peserta. Hasil pemetaan menunjukkan bahwa anak-anak di Yayasan Sekolah Rakyat Kejawan. Surabaya, memiliki keterbatasan akses terhadap pendidikan keterampilan hidup dan kewirausahaan, namun menyimpan potensi kreativitas yang belum berkembang secara optimal. Tujuan: Berdasarkan kondisi tersebut, program ini bertujuan untuk meningkatkan kreativitas dan menumbuhkan jiwa kewirausahaan siswasiswi melalui pelatihan ide bisnis berbasis keterampilan sederhana. Metode: Program dirancang menggunakan pendekatan partisipatif dan edukatif melalui metode pelatihan langsung . ands-on trainin. , yang meliputi pengenalan konsep ide bisnis, praktik pembuatan produk aksesoris sederhana, perhitungan harga jual, serta diskusi mengenai nilai ekonomi karya. Kegiatan dilaksanakan oleh tim mahasiswa Universitas Terbuka dengan melibatkan 11 anak binaan Yayasan Sekolah Rakyat. Hasil: Hasil pelatihan menunjukkan peningkatan partisipasi, keberanian menyampaikan ide, kreativitas produk, serta pemahaman dasar Sebanyak 90% peserta menyelesaikan pembuatan produk dan menunjukkan minat untuk mengembangkan ide usaha sederhana Secara keseluruhan, program ini memberikan dampak positif terhadap pengembangan keterampilan, sikap, dan kepercayaan diri peserta, serta berkontribusi pada upaya pemberdayaan anak-anak marginal melalui pendekatan pembelajaran yang kontekstual, inklusif, dan aplikatif. Kata Kunci: Anak marginal. Kewirausahaan. Kreativitas. Pelatihan ide bisnis. Pengabdian masyarakat. Yayasan sosial. Untuk mengutip artikel ini: Renardi. Laksono. Putro. Anam. Fitriah. Adzani. Savira, . Oktavera. Sylvi. Mendorong Jiwa Wirausaha Sejak Dini: Pelatihan Pembuatan Aksesoris dan Ide Bisnis bagi Siswa Yayasan Sekolah Rakyat Kejawan. Open Community Service Journal, 5. , 41Ae47. Artikel ini berada di bawah lisensi: A Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International (CC BY-SA 4. License. Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License Copyright A2026 by author/s Pendahuluan Yayasan Sekolah Rakyat Kejawan, berlokasi di Jl. Kejawan Putih BMA No. Kecamatan Mulyorejo. Kota Surabaya, merupakan lembaga sosial yang didirikan pada 5 April 2012. Berawal dari komunitas pengabdian masyarakat, yayasan ini hadir sebagai respons terhadap kondisi anak-anak di lingkungan sekitarnya yang mengalami keterbatasan akses pendidikan akibat masalah ekonomi, latar belakang pendidikan orang tua yang rendah, serta minimnya pendampingan belajar di rumah. Yayasan ini menjadi alternatif pendidikan nonformal untuk membina semangat belajar anak-anak dari keluarga prasejahtera agar terhindar dari risiko putus sekolah (Trivedi & Patel, 2. Sebagai bentuk implementasi Merdeka Belajar dan peran mahasiswa dalam pengabdian masyarakat, kegiatan pelatihan keterampilan dan pengembangan kreativitas melalui pendekatan ide bisnis dinilai relevan (Sithole, 2. Mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk menerapkan ilmu secara nyata dalam pemberdayaan masyarakat. Oleh karena itu, program Pelatihan dan Pengembangan Kreativitas Siswa-Siswi Yayasan Sekolah Rakyat Kejawan melalui ide bisnis dirancang untuk menggali potensi anak-anak binaan yayasan dan menumbuhkan keberanian mereka dalam menyampaikan ide serta memahami nilai ekonomis dari kreativitas yang dimiliki. Sebelum pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat, dilakukan studi pendahuluan berupa identifikasi kebutuhan dan pemetaan potensi lokal di Yayasan Sekolah Rakyat Kejawan. Kegiatan ini dilakukan melalui observasi langsung, wawancara informal dengan pengurus yayasan, serta diskusi dengan anak-anak binaan untuk menggali minat, kemampuan awal, dan kondisi sosial-ekonomi mereka. Hasil pemetaan menunjukkan bahwa peserta memiliki keterbatasan akses terhadap pendidikan keterampilan hidup dan kewirausahaan, namun memiliki potensi kreativitas yang belum berkembang secara optimal. Temuan ini menjadi dasar perancangan program pelatihan agar sesuai dengan kebutuhan nyata komunitas sasaran dan konteks lokal yang dihadapi. Permasalahan utama yang dihadapi oleh yayasan adalah kompleks dan saling terkait. Secara umum, anak-anak berasal dari keluarga dengan ekonomi rendah. Banyak orang tua tidak mampu secara finansial menyekolahkan anak-anaknya dan tidak memiliki kapasitas mendukung proses belajar mereka. Dampaknya, anak-anak memiliki motivasi belajar yang rendah dan kurang percaya diri, yang pada akhirnya memperkecil peluang mereka untuk berkembang di masa depan. Kondisi ini diperparah oleh minimnya akses terhadap pelatihan kewirausahaan atau kreativitas di lingkungan mereka (El-Tabal. Melalui observasi langsung, ditemukan bahwa anak-anak di yayasan memiliki potensi besar dalam kreativitas dan semangat kemandirian ekonomi, namun belum tersalurkan secara optimal. Mereka cenderung pasif dan tidak terbiasa mengemukakan ide, apalagi dalam konteks dunia usaha (Hermita et , 2023. Ragusa et al. , 2. Di sisi lain, pendekatan tradisional pelatihan kewirausahaan yang selama ini ada, sering kali hanya bersifat satu arah dan berfokus pada teknis pembuatan produk semata, tanpa ruang eksplorasi ide atau proses kreatif. Sebagian besar juga dilakukan di sekolah formal, bukan pada yayasan atau lembaga sosial nonformal. Untuk menjawab gap tersebut, kegiatan ini dirancang dengan pendekatan partisipatif dan dialogis. Program ini tidak hanya mengajarkan cara membuat produk aksesoris sederhana seperti gelang, tetapi juga mengajak anak-anak untuk berani menyampaikan ide bisnis, memahami proses produksi, serta belajar menetapkan harga jual dasar. Mahasiswa berperan sebagai fasilitator yang mendorong peserta menggali potensi dan minat mereka. Proses ini dilakukan melalui tahap perencanaan, pelatihan praktik, hingga diskusi terbuka dan refleksi atas hasil karya dan ide masing-masing peserta (Schwichow et al. Volansky, 2. Kegiatan dilaksanakan di Yayasan Sekolah Rakyat Kejawan, yang secara geografis dan sosial berada di kawasan padat penduduk dan rentan secara ekonomi. Yayasan ini telah lama menjadi tempat belajar anak-anak dari keluarga kurang mampu, dan menyimpan potensi besar sebagai tempat pemberdayaan Dalam pelaksanaannya, kegiatan melibatkan 11 anak binaan sebagai peserta. Meskipun sederhana, kegiatan pelatihan menunjukkan hasil yang signifikan, antara lain peningkatan partisipasi, keberanian menyampaikan pendapat, serta munculnya ide-ide usaha yang sesuai dengan minat mereka. Program ini memperlihatkan bahwa dengan pendekatan yang tepat, anak-anak dari kelompok marginal dapat diarahkan menjadi subjek aktif dalam proses pembelajaran dan pemberdayaan. Pelatihan ini tidak hanya memberikan keterampilan teknis, tetapi juga menumbuhkan kepercayaan diri, kemampuan bekerja sama, dan membangun pola pikir produktif. Anak-anak yang sebelumnya pasif, menjadi lebih aktif dan komunikatif. Ini membuktikan bahwa intervensi pendidikan berbasis kreativitas dan bisnis sederhana memiliki potensi besar dalam membentuk karakter dan mentalitas wirausaha sejak Kebaruan dari kegiatan ini terletak pada penekanannya terhadap proses berpikir kreatif dan partisipatif yang jarang diterapkan dalam kegiatan pengabdian masyarakat sebelumnya, terutama di yayasan sosial. Tidak hanya hasil produk yang dihargai, tetapi juga proses berpikir dan keberanian anak dalam mengekspresikan ide menjadi nilai penting dari pelatihan ini. Selain itu, konteks pelaksanaan di yayasan sosial memberikan kontribusi terhadap literatur kegiatan pengabdian yang inklusif dan menyentuh kelompok masyarakat yang selama ini kurang terfasilitasi. Tujuan utama dari program ini adalah mendorong anak-anak untuk menemukan dan mengembangkan kreativitas mereka melalui kegiatan bisnis sederhana yang menyenangkan dan bermakna. Dengan pelatihan yang disesuaikan dengan usia dan karakter mereka, serta lingkungan belajar yang ramah dan inklusif, anak-anak dilatih menjadi individu yang memiliki keberanian, keterampilan dasar, dan semangat kewirausahaan. Pelatihan ini diharapkan menjadi awal dari proses pemberdayaan berkelanjutan yang bisa diperluas ke yayasan sejenis atau komunitas marginal lainnya. Metode Pelaksanaan Program pengabdian ini dirancang dengan pendekatan partisipatif yang menempatkan peserta sebagai subjek aktif dalam seluruh tahapan kegiatan. Pada tahap perencanaan, peserta dilibatkan dalam diskusi awal untuk menyampaikan minat dan gagasan terkait jenis kegiatan kreatif yang ingin dilakukan. Pada tahap pelaksanaan, peserta berperan langsung dalam proses pembuatan produk, pengembangan ide bisnis, serta diskusi kelompok. Sementara itu, pada tahap evaluasi, peserta dan pengurus yayasan dilibatkan dalam sesi refleksi untuk memberikan umpan balik terhadap pelaksanaan kegiatan. Keterlibatan ini memperkuat prinsip pemberdayaan masyarakat dan meningkatkan rasa kepemilikan terhadap program. Kegiatan dilaksanakan pada hari Minggu, 21 Desember 2025, dan melibatkan 9 mahasiswa dari Universitas Terbuka. Kegiatan dilaksanakan pada hari Minggu, 21 Desember 2025, dan melibatkan 9 mahasiswa dari Universitas Terbuka sebagai mitra PKM adalah Yayasan Sekolah Rakyat yang menaungi anak-anak binan sebanyak 11 orang. Sebelum pelaksanaan, mahasiswa berperan sebagai fasilitator, pendamping, dokumentasi, koordinasi dengan pihak mitra sesuai dengan pembagian kerja. Persiapan yang dilakukan adalah koordinasi dengan pengurus yayasan, pengumpulan alat dan bahan, serta penyusunan modul pelatihan sederhana yang disesuaikan dengan usia dan karakter peserta. Pelatihan dilakukan dalam beberapa tahapan. Tahap pertama dilaksanakan selama 30 menit berupa pengenalan konsep kewirausahaan dasar melalui diskusi ringan dan interaktif mengenai ide usaha Tahap ini bertujuan untuk merangsang imajinasi dan minat siswa terhadap dunia bisnis. Tahap kedua dilakukan selama dua kali pertemuan setiap pertemuan berdurasi 2-3 jam, peserta diberikan pelatihan pembuatan produk aksesoris sederhana seperti gelang dan hiasan tangan (MasAoud et al. , 2. Dalam tahap ini, peserta dilatih membuat pola, merangkai bahan, dan menyelesaikan produk hingga tahap akhir (Chilenga et al. , 2022. Wardana et al. , 2. Sebelum pelaksanaan, dilakukan persiapan berupa koordinasi dengan pengurus yayasan, pengumpulan alat dan bahan, serta penyusunan modul pelatihan sederhana yang disesuaikan dengan usia dan karakter peserta. Pelatihan dilakukan dalam beberapa tahapan. Tahap pertama adalah pengenalan konsep kewirausahaan dasar melalui diskusi ringan dan interaktif mengenai ide usaha sederhana. Tahap ini bertujuan untuk merangsang imajinasi dan minat siswa terhadap dunia bisnis. Selanjutnya, peserta diberikan pelatihan pembuatan produk aksesoris sederhana seperti gelang dan hiasan tangan. Dalam tahap ini, peserta dilatih membuat pola, merangkai bahan, dan menyelesaikan produk hingga tahap akhir (Chilenga et al. , 2022. Wardana et al. , 2. Setelah pembuatan produk, peserta diajak untuk mempelajari cara menentukan harga jual secara sederhana berdasarkan bahan dan waktu pengerjaan. Tahap ini dimaksudkan untuk menanamkan pemahaman tentang nilai ekonomis suatu produk serta logika dasar dalam berwirausaha. Kegiatan ditutup dengan sesi refleksi dan diskusi, di mana siswa diminta untuk menceritakan ide bisnis yang mereka miliki berdasarkan hasil pelatihan. Sesi ini dilaksanan secara lisan, masing-masing anak bercerita mengenai gagasan produk yang mereka ingin wujudkan. Selama kegiatan berlangsung, anak-anak juga difasilitasi dengan konsumsi dan alat tulis untuk menunjang kenyamanan belajar. Kegiatan dilaksanakan di lingkungan Yayasan Sekolah Rakyat Kejawan yang telah disiapkan secara sederhana menjadi ruang pelatihan kreatif. Dengan metode pelatihan yang menyenangkan dan berbasis praktik, kegiatan ini tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga mendorong kepercayaan diri, kemampuan komunikasi, dan keberanian siswa dalam mengemukakan ide serta gagasan kreatifnya. Hasil dan Pembahasan Kegiatan pelatihan dan pengembangan kreativitas siswa-siswi Yayasan Sekolah Rakyat Kejawan melalui ide bisnis memberikan hasil yang menggembirakan. Seluruh peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi sejak awal hingga akhir kegiatan. Hal ini terlihat dari partisipasi aktif mereka saat diskusi, proses pembuatan produk, hingga presentasi ide bisnis sederhana yang mereka rumuskan sendiri. Pada tahap pelatihan pembuatan aksesoris, siswa-siswi mampu mengikuti instruksi dengan baik, mulai dari mengenali alat dan bahan, menyusun pola, hingga merangkai bahan menjadi produk jadi. Meskipun beberapa peserta mengalami kendala teknis, seperti kesulitan merangkai atau menghitung bahan, namun dengan pendampingan dari tim, mereka dapat menyelesaikan produk mereka secara mandiri (Magasi et al. , 2. Produk yang dihasilkan cukup bervariasi dan menunjukkan adanya kreativitas individu, seperti penggunaan warna yang harmonis, bentuk unik, dan kombinasi material yang menarik. Gambar 1. Kegiatan bersama siswa-siswi Sekolah Kerakyatan Hasil evaluasi menunjukkan kemampuan peserta menyelesaikan hasil kerajinan sebanyak 10 anak dari 11 orang peserta . %). Kemampuan mereka untuk merefleksikan kegiatan dan ide baik sebanyak 100% peserta. Mereka mampu menjelaskan secara lisan ide dan gagasan produk yang ingin diwujudkan. Dari segi pemahaman konsep kewirausahaan, mereka mulai memahami cara sederhana dalam menentukan harga jual berdasarkan total biaya bahan dan tenaga (Kaplanidi et al. , 2. Mereka juga dapat menjelaskan potensi produk yang mereka buat sebagai barang bernilai jual. Dalam sesi diskusi ide bisnis, sebagian besar peserta mampu menyampaikan gagasan sederhana yang mencerminkan ketertarikan mereka terhadap usaha kecil berbasis kreativitas, seperti usaha aksesoris, makanan ringan, dan kerajinan tangan. Pelatihan dan pendampingan yang dilakukan tidak hanya bertujuan untuk memberikan keterampilan jangka pendek, tetapi juga untuk memperkuat kapasitas lokal secara berkelanjutan. Keterampilan pembuatan aksesoris, penentuan harga jual sederhana, dan pengembangan ide usaha dikaitkan dengan peluang penerapan nyata dalam kehidupan sehari-hari peserta. Manfaat lain yang diperoleh dari kegiatan ini adalah meningkatnya kepercayaan diri peserta. Anak-anak yang sebelumnya pemalu mulai berani mengungkapkan pendapat dan bertanya. Sikap ini menunjukkan bahwa pendekatan pelatihan yang interaktif dan menyenangkan sangat efektif dalam membangun keberanian dan komunikasi siswa. Selain itu, kegiatan ini juga memperkuat solidaritas antar peserta karena mereka saling membantu dan bekerja sama selama proses pelatihan, hal tersebut sejalan dengan kegiatan yang dilaksanakan oleh Hartanto et . Dari hasil observasi dan umpan balik yang diterima dari peserta maupun pengurus yayasan, kegiatan ini dinilai sangat bermanfaat dan relevan dengan kebutuhan anak-anak binaan. Pihak yayasan berharap kegiatan serupa dapat dilakukan secara berkelanjutan dan diperluas ke bentuk pelatihan kewirausahaan Keberhasilan program ini menjadi indikator bahwa pemberdayaan ekonomi dan kreativitas bagi anak-anak marjinal sangat mungkin dilakukan dengan pendekatan yang tepat dan partisipatif, hasil tersebut serupa dengan kegiatan pengabidan yang dilaksanakan oleh Najib et al. dan Adifitri et Gambar 2. Penutupan kegiatan pelatihan. Kesimpulan Program pelatihan dan pengembangan kreativitas berbasis ide bisnis di Yayasan Sekolah Rakyat Kejawan bertujuan untuk mendorong anak-anak menemukan serta mengembangkan kreativitas mereka melalui kegiatan bisnis sederhana yang menyenangkan dan bermakna, sekaligus meningkatkan kreativitas dan menumbuhkan jiwa kewirausahaan siswa-siswi yayasan tersebut. Hasil pelaksanaan menunjukkan bahwa pendekatan partisipatif dan edukatif yang diterapkan mampu membangun keterampilan dasar pembuatan produk, pemahaman nilai ekonomi karya, kepercayaan diri, serta pola pikir awal kewirausahaan yang relevan dengan kondisi peserta. Dengan demikian, kegiatan ini dapat disimpulkan berhasil mencapai tujuan program dan berkontribusi sebagai upaya pemberdayaan anakanak dari kelompok marginal melalui pendidikan kewirausahaan yang kontekstual dan aplikatif. Ucapan Terimakasih Penulis mengucapkan terima kasih kepada pimpinan Universitas Terbuka dan Yayasan Sekolah Rakyat Kejawan atas izin yang diberikan untuk kelancaran kegiatan ini. Daftar Pustaka