Transformasi Sosial Emosional AUD melalui Lingkungan Belajar Nuke Helia Nurmala dan Erik Wahyudin Mahasiswa Fakultas Pendidikan. Sosial dan Teknologi. Universitas Muhammadiyah Kuningan Universitas Muhammadiyah Kuningan Contributor Email: 214223005@mhs. Abstract This research study is based on the obstacles observed at Al Misbah Cibulan Cidahu Kindergarten in the management of emotions and peer interaction. One of the reasons is an inappropriate strategy and inadequate facilities. With a qualitative approach and case study design, data is collected through structured interviews, observations, and document reviews involving principals, teachers, students, and parents. The findings of the study include three main focuses, namely . the characteristics of the learning environment that support socialemotional development. internal and external factors that support or inhibit this transformation. strategies that educators can use to create a conducive, empathetic, and inclusive learning environment. These findings offer practical insights for educators and policymakers on improving the quality of early childhood education, particularly in terms of the physical, social, and psychological aspects of designing learning environments for young children. Keywords: Early Childhood. Learning Environment. Social Emotional Abstrak Kajian penelitian ini didasarkan pada hambatan yang diamati pada TK Al Misbah Cibulan Cidahu dalam pengelolaan emosi dan interaksi sebaya. Salah satu penyebabnya adalah strategi yang belum sesuai dan fasilitas yang kurang Dengan pendekatan kualitatif dan desain studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur, observasi, dan telaah dokumen yang melibatkan kepala sekolah, guru, peserta didik, dan orang tua. Temuan penelitian mencakup tiga fokus utama, yaitu . karakteristik lingkungan belajar yang mendukung perkembangan sosial emosional. faktor internal dan eksternal yang menjadi pendukung atau penghambat transformasi ini. strategi yang dapat digunakan pendidik untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, empatik, dan inklusif. Temuan ini memberikan wawasan praktis bagi pendidik dan pembuat kebijakan dalam meningkatkan kualitas pendidikan anak usia dini, terutama pada aspek fisik, sosial, dan psikologis dalam merancang pengaturan belajar bagi anak usia dini. Kata kunci: Anak Usia Dini. Lingkungan Belajar. Sosial Emosional Transformasi Sosial Emosional AUD melalui Lingkungan Belajar Nuke Helia Nurmala & Erik Wahyudin Pendahuluan Perkembangan sosial emosional merupakan fondasi penting bagi anak usia dini dalam membentuk kepribadian, keterampilan sosial, dan kesiapan akademik mereka. Namun, lingkungan belajar dibanyak lembaga PAUD masih menitikberatkan pada aspek akademik dan mengabaikan pengembangan aspek sosial emosional. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena di TK Al Misbah Cibulan Cidahu yang terlihat beberapa anak masih mengalami kesulitan dalam mengenali dan mengelola emosi serta dalam menjalin hubungan sosial dengan teman Lingkungan belajar yang kondusif adalah lingkungan belajar di (Zaturrahmi, 2. Situasi belajar yang kondusif ini perlu diciptakan dan dipertahankan agar pertumbuhan dan perkembangan peserta didik efektif dan efisien, sehingga tujuan tercapai optimal (Warsi & Suhaili. Situasi belajar mengajar yang kondusif ini penting dirancang dan diupayakan oleh guru sengaja agar dapat dihindarkan kondisi yang merugikan peserta didik (Ardila & Rigianti, 2. Lembaga pendidikan anak usia dini bertugas memberikan upaya untuk membimbing, menstimulasi, mengasah dan pemberian kegiatan keterampilannya (Masitoh, 2. Pendidikan anak usia dini adalah pendidikan yang diselenggarakan dengan tujuan untuk memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak secara menyeluruh pada pengembangan seluruh aspek kepribadian (Hidayah, 2. Aspek emosional yang mencakup perilaku anak dalam lingkungannya. Oleh mengetahui bagaimana karakteristik lingkungan belajar yang ideal serta faktor-faktor pendukung dan penghambatnya dalam mendukung transformasi sosial emosional anak usia dini. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi Diksi: Jurnal Pendidikan dan Literasi Volume. 4 No. 2 Agustus 2025 e-ISSN: 2829-0101 doi: 10. 62719/diksi. nyata dalam pengembangan praktik pendidikan anak usia dini, khususnya dalam menciptakan lingkungan belajar yang tidak memperhatikan penguatan aspek sosial emosional anak. Melalui pemahaman terhadap karakteristik lingkungan belajar yang kondusif serta faktor-faktor yang memengaruhinya, lembaga PAUD dapat merancang strategi pembelajaran yang lebih holistik sehingga mampu menghasilkan generasi anak yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang dalam pengelolaan emosi dan keterampilan sosialnya. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif (Somantri, 2. dengan desain studi kasus (Mulyadi, 2. Lokasi penelitian dilakukan di TK Al Misbah Cibulan Cidahu. Subjek penelitian terdiri dari kepala sekolah, guru, peserta didik, dan orang tua. Teknik terstruktur, dan dokumentasi. Data dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan Validitas data dilakukan dengan teknik triangulasi sumber dan teknik. Hasil dan Pembahasan Hasil Hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan belajar di TK Al Misbah terdiri dari tiga komponen utama, yaitu lingkungan fisik, sosial, dan psikologis. Dari sisi lingkungan fisik, kondisinya sudah tergolong memadai, namun belum sepenuhnya optimal karena masih ada kebutuhan terhadap sarana bermain yang lebih bervariasi perkembangan motorik, sosial, dan emosional anak. Transformasi Sosial Emosional AUD melalui Lingkungan Belajar Nuke Helia Nurmala & Erik Wahyudin Pada aspek lingkungan sosial, terlihat adanya interaksi positif antara guru dan siswa, yang merupakan fondasi penting dalam menciptakan suasana belajar kondusif. Akan tetapi, kelemahannya pembelajaran yang responsif terhadap emosi anak oleh semua guru. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kualitas interaksi sosial yang baik dengan kebutuhan dukungan emosional yang lebih Secara keseluruhan, lingkungan belajar di TK Al Misbah sudah berada pada kategori cukup baik, namun masih memerlukan peningkatan pada dua aspek utama, yaitu penyediaan sarana bermain yang lebih variatif dan penerapan strategi pembelajaran yang responsif terhadap perkembangan emosional anak. Upaya perbaikan kedua aspek tersebut diyakini dapat memperkuat kualitas lingkungan belajar yang holistik sehingga mampu mendukung perkembangan anak secara optimal. Ketiga Secara suasana kelas di TK Al Misbah sudah relatif hangat dan mampu memberikan rasa aman serta kenyamanan bagi anak dalam mengikuti kegiatan belajar. Anak merasa diterima dan dapat mengekspresikan diri tanpa tekanan yang berlebihan, sehingga tercipta hubungan emosional yang positif antara guru dan siswa. Namun, kondisi ini belum sepenuhnya optimal dalam membentuk keterampilan regulasi emosi anak, karena guru masih terbatas dalam memberikan stimulasi dan strategi pembelajaran yang secara khusus mengekspresikan emosinya dengan tepat. Hal ini menunjukkan pengembangan regulasi emosi agar anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang mampu menghadapi konflik, berempati, dan menjalin hubungan sosial secara sehat. Diksi: Jurnal Pendidikan dan Literasi Volume. 4 No. 2 Agustus 2025 Terdapat e-ISSN: 2829-0101 doi: 10. 62719/diksi. transformasi sosial emosional anak, antara lain kepedulian dan sensitivitas guru terhadap kebutuhan peserta didik, dukungan kebijakan serta fasilitasi dari kepala sekolah, serta keterlibatan aktif orang tua dalam mendampingi perkembangan anak. Di sisi lain, terdapat pula faktor penghambat yang perlu mendapat perhatian, seperti keterbatasan sarana pembelajaran, minimnya pelatihan guru dalam pengembangan kompetensi sosial emosional, serta ketiadaan program khusus yang secara sistematis mengintegrasikan aspek sosial emosional dalam kurikulum. Oleh karena itu, strategi yang disarankan mencakup penguatan kapasitas guru melalui pelatihan berkelanjutan, optimalisasi pemanfaatan media pembelajaran yang kontekstual dan sesuai dengan kebutuhan anak, serta perancangan kegiatan kelompok yang mampu menstimulasi interaksi sosial dan pembelajaran kolaboratif secara lebih efektif. Pembahasan Menurut Hidayat . lingkungan belajar terdiri atas lingkungan fisik, hubungan sosio-emosional, lingkungan teman sebaya dan tetangga, serta pengaruh masyarakat umum dan lingkungan asing yang mempengaruhi anak. Hal ini diperkuat oleh Kartika . yang menyatakan bahwa lingkungan belajar yang kondusif mampu menumbuhkan dan mengembangkan motivasi belajar secara baik dan produktif melalui tiga aspek: fisik, sosial, dan Studi Mufida Hibana pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan pada satuan PAUD, yang ditunjang oleh keamanan fisik, kebijakan anti kekerasan, dan ketersediaan fasilitas pendukung seperti P3K. Berdasarkan beberapa implikasi praktis yang dapat diterapkan di TK Al Misbah maupun lembaga PAUD lain. Pertama, pada aspek lingkungan fisik. Transformasi Sosial Emosional AUD melalui Lingkungan Belajar Nuke Helia Nurmala & Erik Wahyudin pihak sekolah perlu menambah serta memperbarui sarana bermain perkembangan anak, seperti permainan yang mendorong kerja sama, kreativitas, dan kemampuan motorik. Kedua, pada aspek lingkungan sosial, guru perlu diberikan pelatihan berkelanjutan mengenai strategi pembelajaran yang responsif terhadap emosi anak, misalnya melalui pendekatan social-emotional learning (SEL), komunikasi empatik, serta manajemen kelas yang ramah anak. Ketiga, aspek lingkungan psikologis juga harus diperkuat dengan menciptakan suasana belajar yang menumbuhkan rasa aman, dihargai, dan percaya diri pada anak. Dengan langkah-langkah tersebut, lembaga PAUD tidak hanya dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran, tetapi juga berkontribusi dalam membangun generasi anak yang lebih siap menghadapi tantangan sosial, emosional, maupun akademik di masa Beberapa rekomendasi konkret yang dapat penulis sampaikan adalah sebagai berikut: Untuk Guru . Mengikuti social-emotional learning (SEL), komunikasi empatik, dan strategi regulasi emosi anak. Mengintegrasikan aktivitas sederhana dalam pembelajaran, seperti permainan peran, bercerita, dan diskusi kelompok kecil yang melatih empati dan keterampilan sosial. Memberikan umpan balik positif secara konsisten untuk memperkuat kepercayaan diri anak serta melatih kemampuan mengendalikan emosi. Untuk Kepala Sekolah . Menyediakan sarana bermain yang lebih variatif, aman, dan sesuai dengan tahap perkembangan anak, seperti permainan Diksi: Jurnal Pendidikan dan Literasi Volume. 4 No. 2 Agustus 2025 e-ISSN: 2829-0101 doi: 10. 62719/diksi. uzzle permainan outdoor yang melatih kerja sam. Membuat keseimbangan antara aspek akademik dan sosial emosional dalam setiap perencanaan pembelajaran. Mengalokasikan pengembangan sosial emosional, termasuk pelatihan guru dan pengadaan media pembelajaran kontekstual. Untuk Orang Tua . Menjalin perkembangan sosial emosional anak di sekolah. Membiasakan interaksi positif di rumah, seperti melatih anak mengungkapkan perasaan, menyelesaikan konflik sederhana, dan bekerja sama dalam aktivitas keluarga. Mendukung program sekolah dengan berpartisipasi aktif dalam kegiatan parenting, seminar, atau kelas orang tua. Untuk Lembaga PAUD secara Umum . Mengembangkan mengintegrasikan penguatan sosial emosional ke dalam setiap kegiatan belajar. Melakukan evaluasi berkala terhadap efektivitas pembelajaran sosial emosional, termasuk melalui observasi perilaku anak. Membangun jejaring kerja sama dengan lembaga pelatihan memperkaya program pengembangan sosial emosional. Transformasi Sosial Emosional AUD melalui Lingkungan Belajar Nuke Helia Nurmala & Erik Wahyudin Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa lingkungan belajar di TK Al Misbah terdiri dari tiga aspek utama, yakni lingkungan fisik, sosial, dan Lingkungan fisik sudah cukup memadai namun masih Lingkungan sosial ditandai oleh interaksi positif antara guru dan siswa, meskipun belum semua guru menerapkan pendekatan pembelajaran yang responsif terhadap emosi anak. Sementara itu, lingkungan psikologis sudah menciptakan suasana kelas yang hangat, tetapi belum sepenuhnya mampu mendukung keterampilan regulasi emosi anak. Faktor pendukung transformasi sosial emosional anak mencakup kepedulian guru, dukungan kepala sekolah, serta keterlibatan orang tua, sedangkan faktor penghambat meliputi keterbatasan sarana, pengembangan sosial emosional. Temuan penelitian ini memiliki implikasi penting bagi dunia pendidikan anak usia dini. Pertama, lingkungan belajar yang kondusif bukan hanya mencakup sarana fisik, tetapi juga kualitas interaksi sosial dan dukungan psikologis bagi anak. Kedua, transformasi sosial emosional tidak dapat dicapai tanpa kolaborasi antara guru, sekolah, dan orang tua. Ketiga, perlunya intervensi programatik yang lebih terarah agar PAUD mampu menghasilkan generasi anak yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang dalam keterampilan sosial dan emosional, sehingga siap menghadapi tantangan kehidupan di masa depan. Diksi: Jurnal Pendidikan dan Literasi Volume. 4 No. 2 Agustus 2025 e-ISSN: 2829-0101 doi: 10. 62719/diksi. Daftar Pustaka