http://journal. id/index. php/anterior ANALISIS KEGIATAN LITERASI SD NEGERI 3 SUNGAI BESAR KOTA BANJARBARU Analysis of Literacy Activities in Public Elementary Echool 3 Sungai Besar Banjarbaru City Siti Faridah1* Abstrak Ridho Indra Saputra Ihsan Ramadhani *1Universitas Achmad Yani 1. Banjarmasin. Kalimantan Selatan. Indonesia 2Akademi Pariwisata Nasional 2. Banjarmasin. Kalimantan Selatan. Indonesia 3 Universitas Achmad Yani 3. Banjarmasin. Kalimantan Selatan. Indonesia *email: sitifaridah@uvayabjm. Kata Kunci: Analisis Literasi Gerakan Literasi Sekolah Minat Baca Keywords: Analysis Literacy School Literacy Movement Reading Interest Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kegiatan literasi di SD Negeri 3 Sungai Besar Banjarbaru yang telah dilaksanakan selama dua tahun. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan minat baca siswa, namun tantangan masih dihadapi, seperti rendahnya minat baca siswa dan ketertarikan yang lebih pada bermain daripada membaca. Dalam upaya memperbaiki minat baca dan keterampilan literasi, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus dan melibatkan 15 informan yang terdiri dari kepala sekolah, guru, dan siswa. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minat baca siswa mulai membaik, meskipun masih terdapat beberapa kendala. Hambatan yang ditemui meliputi alokasi waktu yang terbatas, kurangnya perhatian dari sebagian orang tua terhadap kegiatan literasi, minat baca yang rendah, ruang baca yang sempit, serta keterbatasan variasi bahan bacaan. Pergantian kurikulum dari K13 ke Kurikulum Merdeka juga turut mempengaruhi perbaikan kemampuan literasi siswa. Berdasarkan hasil ini, beberapa solusi direkomendasikan, antara lain peningkatan kerjasama antara sekolah dan orang tua, penambahan fasilitas seperti ruang baca yang lebih memadai, dan penyediaan bahan bacaan yang lebih beragam. Kesimpulan penelitian menunjukkan adanya peningkatan pada minat baca siswa di SD Negeri 3 Sungai Besar yang terpantau melalui rapor pendidikan yang disusun oleh pemerintah pusat sebagai indikator literasi dan numerasi di sekolah. Abstract This study aims to analyze literacy activities at SD Negeri 3 Sungai Besar Banjarbaru that have been implemented for two years. These activities aim to increase students' interest in reading, but challenges remain, such as students' low interest in reading and more interest in playing than reading. In an effort to improve reading interest and literacy skills, this study used a qualitative case study approach and involved 15 informants consisting of principals, teachers and students. Data was collected through observation, interviews, documentation and questionnaires. The results show that students' interest in reading is improving, although there are still some obstacles. The obstacles include limited time allocation, lack of attention from some parents towards literacy activities, low reading interest, narrow reading rooms and limited variety of reading materials. The curriculum change from K13 to Merdeka Curriculum also affected the improvement of students' literacy skills. Based on these results, several solutions are recommended, including increased cooperation between schools and parents, additional facilities such as a more adequate reading room, and the provision of more diverse reading materials. The research conclusion shows an increase in students' interest in reading at SD Negeri 3 Sungai Besar which is monitored through the education report card compiled by the central government as an indicator of literacy and numeracy in A2025 The Authors. Published by Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya. This is Open Access article under the CC-BY-SA License . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. 0/). PENDAHULUAN Pendidikan adalah sarana atau jembatan untuk manusia agar dapat mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang didapat. Sebagaimana yang kita ketahui, tertuang di dalam UUD 1945 pasal 31 Ayat 1 yang menyebutkan bahwa: Ausetiap warga negara berhak mendapatkan pendidikanAy. Jadi, sudah jelas bahwa pendidikan itu merupakan hak setiap individu untuk mendapatkannya. Dengan adanya pendidikan diharapkan dapat melahirkan generasi penerus bangsa dengan pribadi yang cerdas dan berkualitas yang artinya generasi yang mampu memanfaatkan kemajuan yang ada dengan sebaik mungkin. Pendidikan juga dapat menciptakan generasi yang memiliki sifat nasionalisme yang tinggi. Tanpa adanya pendidikan, maka tidak akan ada yang namanya kemajuan. Anterior Jurnal. Volume 24 Issue I. Januari 2025. Page 38 Ae 43 p-ISSN: 1412-1395. e-ISSN: 2355-3529 Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah tingkat Semakin tinggi tingkat pendidikan, maka kualitas SDM tersebut semakin lebih baik. SDM inilah yang akan menjadikan suatu negara menjadi negara maju dalam berbagai bidang khususnya dalam bidang pendidikan sehingga dapat bersaing secara global dengan negara lainnya. Untuk mencapai tingkat pendidikan yang tinggi tentulah memerlukan faktor Salah satu faktor pendukung berhasilnya pendidikan khususnya di Indonesia adalah siswa yang mempunyai wawasan dan pengetahuan yang luas. Hal ini dapat terwujud jika siswa mempunyai minat baca yang tinggi. Menurut Salma & Madzanatun . membaca merupakan salah satu aktivitas yang dilakukan dalam kegiatan berliterasi yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam kemajuan suatu pendidikan. Pendidikan dapat dikatakan berhasil jika banyak anak yang gemar membaca, bukan karena mendapatkan nilai tinggi dalam pelajaran. Membaca adalah salah satu kegiatan yang sangat penting dalam hidup. Dengan membaca siswa akan mendapatkan wawasan yang lebih luas, gagasan yang berkembang, dan kreativitas yang meningkat. Agar hal ini dapat terwujud, maka minat baca siswa perlu ditingkatkan. Menurut Darmadi dalam (Faiza & SyaAobani, 2. minat baca merupakan suatu perasaan yang menunjukkan pada kesukaan dan ketertarikan yang berlebih dalam melaksanakan kegiatan membaca yang dilakukan tanpa adanya dorongan dari orang lain, melainkan dengan keinginan dan motivasi yang ada dalam diri individu yang disertai rasa senang. Pendidikan menurut Undang Undang No. 20 Tahun 2003 Bab 1 pasal 1 yang berbunyi: AuPendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negaraAy. Kualitas pendidikan merupakan pemegang peran penting kemajuan suatu negara, yang sebagian besar ditentukan oleh mutu kegiatan belajar mengajar di sekolah. Perbaikan mutu pendidikan di Indonesia telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Terbukti telah terjadi perubahan kurikulum hingga 11 kali sejak pasca kemerdekaan Indonesia, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004 (KBK), 2006 (KTSP), kurikulum 2013 dan yang terbaru yaitu kurikulum Perubahan tersebut bertujuan untuk memperbaiki kualitas pendidikan yang menghasilkan kualitas sumber daya manusia yang lebih baik. Perkembangan zaman yang sangat pesat harus disertai dengan perkembangan kualitas sumber daya manusia. Di era digital ini hampir semua sekolah merasakan bahwa minat baca siswa begitu berkurang. Budaya literasi, yang mencakup kebiasaan membaca, memang belum menjadi budaya di masyarakat Indonesia. Berdasarkan studi AuMost Littered Nation In The WorldAy yang dilakukan oleh Central Connecticut State University tahun 2016. Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara dalam hal minat membaca. Data tahun 2018 menunjukkan bahwa peringkat membaca siswa Indonesia mencapai peringkat ke-72 dari 77. Peringkat Matematika adalah 72 dari 78. Dalam bidang Sains, peringkat ke-70 dari 78. Indonesia konsisten sebagai negara dengan peringkat hasil PISA Skor PISA mengalami stagnan dalam 10-15 tahun terakhir. Fakta ini sangat memprihatinkan, apalagi jika melihat bahwa dari segi penilaian infrastruktur, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa (Gewati, 2. Selain itu International Education Achievement (IEA) melaporkan bahwa kemampuan membaca siswa SD di Indonesia berada pada urutan 38 dari 39 negara peserta studi, yang berarti Indonesia menempati urutan ke-38 dari 39 negara (Sulthonie & Rahman, 2. Kegiatan literasi sekolah adalah salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia saat ini, selain mengganti kurikulum yang ada di sekolah. Gerakan literasi sekolah ini memperkuat gerakan budi pekerti sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 tahun 2015. Salah satu program gerakan tersebut adalah Aukegiatan 15 menit membaca buku non pelajaran sebelum waktu belajar dimulaiAy. Program ini dilaksanakan untuk menumbuhkan minat baca siswa dan dapat meningkatkan keterampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik. Materi baca berisi tentang nilai-nilai budi pekerti, berupa kearifan lokal, nasional dan global yang akan disampaikan sesuai dengan jenjang pendidikan siswa. Perpustakaan sekolah merupakan salah satu penunjang untuk pelaksanaan kegiatan literasi sekolah, yang berfungsi sebagai penyedia bahan bacaan ilmu pengetahuan serta sumber informasi bagi pendidik dan siswa. Perpustakaan selain sebagai penyedia bahan bacaan juga berfungsi sebagai penyedia sarana literasi. Selain perpustakaan, yang memiliki fungsi sama yaitu, sudut baca kelas dan area baca. Tempat tersebut dapat mewujudkan lingkungan kaya teks, serta merupakan strategi pengembangan minat baca siswa. Sasaran utama gerakan literasi sekolah yaitu di sekolah pada jenjang sekolah dasar. Siswa di sekolah dasar yang berkisar usia 6-12 tahun masih tergolong mudah untuk dikembangkan minat literasinya. Oleh karena itu pihak sekolah harus mengadakan gerakan literasi sekolah sebagai upaya untuk meningkatkan minat baca siswa dengan cara mengembangkan pengelolaan perpustakaan sekolah. Dalam pelaksanaan gerakan literasi sekolah ini dapat dilihat dari kedisiplinan siswa. Gerakan literasi sekolah di sekolah dasar dilakukan dalam tiga tahap yaitu tahap pembiasaan, tahap pengembangan, dan tahap pembelajaran (Sumual et al. , 2. Berdasarkan buku panduan gerakan literasi sekolah di sekolah dasar menurut Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pelaksanaan program gerakan literasi sekolah pada tahap pertama yaitu tahap pembiasaan. Tahap ini bertujuan untuk menumbuhkan minat baca siswa terhadap bacaan dan terhadap kegiatan membaca. Pada tahap pembiasaan ini kegiatan yang dilakukan sesuai dengan jenjang pendidikan yaitu SD kelas rendah dan SD kelas tinggi, dengan kegiatan seperti menyimak dan membaca buku bacaan/pengayaan. Tahap kedua yaitu pengembangan. Tahap ini bertujuan untuk mempertahankan minat terhadap bacaan dan terhadap kegiatan membaca, serta meningkatkan kelancaran dan pemahaman membaca siswa. Kegiatan yang dilakukan meliputi menyimak. Siti Faridah. Ridho Indra Saputra dan M. Ihsan Ramadhani. Analisis Kegiatan Literasi SD Negeri 3 Sungai Besar Kota Banjarbaru membaca, berbicara, menulis dan memilih informasi. Tahap ketiga yaitu pembelajaran. Tahap ini bertujuan untuk mempertahankan minat terhadap bacaan dan terhadap kegiatan membaca, serta meningkatkan kecakapan literasi siswa melalui buku-buku pengayaan dan buku teks pelajaran. Literasi Dasar . asic literac. yaitu kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung . berkaitan dengan kemampuan analisis untuk memperhitungkan . , mempersepsikan informasi . , mengkomunikasikan, serta menggambarkan informasi berdasarkan pemahaman dan pengambilan kesimpulan pribadi. Literasi Dasar juga dapat diartikan sebagai kemampuan membaca dan pembiasaan kegiatan membaca yang menyenangkan di sekolah. Pembiasaan ini bertujuan untuk menumbuhkan minat terhadap bacaan dan terhadap kegiatan membaca dalam diri warga sekolah. Penumbuhan minat baca merupakan hal fundamental bagi pengembangan kemampuan literasi siswa. Sejak dua tahun terakhir gerakan literasi sekolah sudah dilaksanakan di SD Negeri 3 Sungai Besar Kota Banjarbaru. Kegiatan yang dilaksanakan berjalan sesuai dengan ketentuan yang dibuat sendiri oleh sekolah, yang mana bertujuan untuk meningkatkan minat baca siswa. Ketentuan pada sekolah tersebut yaitu melaksanakan kegiatan literasi/ membaca buku bersama setiap hari Rabu pagi di halaman sekolah. Kemudian siswa diberikan waktu untuk membaca selama kurang lebih 30 menit, dan diberikan kesempatan kepada siswa yang ingin maju untuk menyampaikan kembali bacaan atau cerita yang Selain itu, siswa yang memiliki kreatifitas membuat puisi, pantun, dan cerpen diperkenankan untuk maju menyampaikan hasil karyanya di depan umum. Menurut (Maulidah et al. , 2. Auminat membaca merupakan dorongan kuat yang diwujudkan melalui keinginan untuk memperoleh materi, pemahaman dan kemudian membacanya dengan suara pelan dan tenang. Ay Seseorang yang mempunyai minat membaca yang besar akan dengan sukarela menunjukkan kemampuannya dalam memperoleh materi pemahaman dari bacaan yang dibacanya. Berdasarkan observasi awal yang dilakukan peneliti, bahan pustaka yang disediakan oleh SD Negeri 3 Sungai Besar masih kurang dan lebih banyak buku pelajaran daripada buku bacaan lainnya. Hal ini membuat kurang menarik minat siswa datang ke perpustakaan untuk membaca, begitupun buku-buku yang disediakan di sudut baca kelas hanya buku mata pelajaran saja sehingga siswa lebih memilih bermain ketika jam istirahat daripada membaca buku bacaan. Selain itu, kegiatan literasi yang dilakukan oleh sekolah ini juga tidak menerapkan pengayaan atau kegiatan menyampaikan kembali bacaan yang telah dibaca sehingga masih banyak siswa yang tidak membaca dengan sungguh-sungguh pada saat kegiatan literasi berlangsung. Kegiatan literasi sekolah dapat terlaksana dengan baik jika melibatkan seluruh warga sekolah seperti, guru, kepala sekolah, siswa, orang tua, dan komite sekolah. Namun terlihat bahwa keterlibatan warga sekolah masih belum optimal. Masih ada guru yang belum memberi arahan kepada siswa untuk membaca buku selama 15 menit sebelum belajar. Masih banyak siswa yang kurang peduli terhadap buku-buku yang ada di sekolah. Mereka lebih memilih bermain daripada membaca buku. Siswa hanya membaca ketika pembelajaran berlangsung, sehingga hal tersebut membuat banyak siswa yang masih lambat dalam membaca. Hal tersebut terjadi karena kurangnya minat baca siswa di sekolah tersebut. Literasi menjadi fokus utama dalam pengembangan Kurikulum Merdeka selain keterampilan numerasi. Keterampilan literasi merujuk pada kemampuan dan keterampilan seorang dalam membaca, menulis, menghitung dan memecahkan masalah pada keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari hari. Sedangkan numerasi merupakan kemampuan untuk mengaplikasikan sebuah konsep bilangan dan juga keterampilan operasi hitung di dalam kehidupan sehari-hari dan juga kemampuan untuk menginterpretasikan informasi kuantitatif yang terdapat di sekeliling (Supriyanto et al. , 2. Perkembangan kemampuan berbahasa merupakan hal yang sangat penting untuk ditingkatkan di berbagai tingkatan sekolah, karena kemampuan dasar seperti ini dapat mempengaruhi keberhasilan hidup seseorang. Dalam pengembangan literasi pada kurikulum merdeka ada beberapa metode pembelajaran yang bisa dilaksanakan guru untuk meningkatkan minat baca siswa. Perubahan kurikulum telah sejalan dengan berbagai kebijakan lainnya. Kemampuan literasi menjadi komponen Standar Kompetensi Lulusan yang diajarkan secara lebih kontekstual melalui Kurikulum Merdeka, dipantau pencapaiannya melalui Asesmen Nasional, dan dilaporkan hasilnya kepada sekolah dan pemerintah daerah melalui platform Rapor Pendidikan sebagai bahan refleksi untuk perbaikan berkelanjutan (Kemendikbud, 2. Berdasarkan kenyataan tentang rendahnya minat baca siswa di sekolah tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul Analisis Kegiatan Literasi Di SD Negeri 3 Sungai Besar Kota Banjarbaru. METODOLOGI Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang dapat digunakan untuk mengeksplorasi dan tahu makna yang berasal dari masalah-masalah sosial atau kemanusiaan. Proses penelitian kualitatif ini melibatkan upaya-upaya penting seperti: mengajukan pertanyaan, menyusun prosedur, dan mengumpulkan data yang spesifik dari para informan atau partisipan. Menganalisis data secara induktif, mereduksi, dan memverifikasi, serta menafsirkan atau menangkap makna dari konteks masalah yang diteliti (Ambarwati, 2. Pada penelitian ini, jenis penelitian yang digunakan dalam bentuk studi kasus. objek penelitian adalah hal hal yang berkaitan dengan kegiatan literasi di sekolah dan desain penelitian deskriptif kualitatif karena peneliti ingin menemukan fakta dan menginterpretasikan tentang kegiatan literasi yang ada di sekolah melalui studi kasus tersebut. Dalam penelitian ini menggunakan triangulasi sumber dan teknik dimana data tersebut nantinya akan di eksplorasi. Melalui eksplorasi data tersebut diharapkan penelitian ini dapat menemukan sekaligus mendeskripsikan data secara menyeluruh Anterior Jurnal. Volume 24 Issue I. Januari 2025. Page 38 Ae 43 p-ISSN: 1412-1395. e-ISSN: 2355-3529 dan utuh mengenai analisis kegiatan literasi di sekolah. Menurut Sugiyono, . mengemukakan bahwa : penelitian jenis studi kasus adalah penelitian yang melakukan eksplorasi secara mendalam terhadap program, kejadian, proses, dan aktivitas, terhadap satu orang atau lebih. Suatu kasus terikat oleh waktu dan aktivitas, dan peneliti melakukan pengumpulan data secara mendetail dengan menggunakan berbagai prosedur pengumpulan data dan dalam jangka waktu yang berkesinambungan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan atau mendeskripsikan suatu keadaan minat baca siswa di SDN 3 Sungai Besar Kota Banjarbaru saat ini. Oleh karena itu, penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Penelitian ini dilakukan pada SD Negeri 3 Sungai Besar yang beralamat di Jl. Sagitarius Raya. Kel. Sungai Besar. Kec. Banjarbaru Selatan. Kota Banjarbaru. Kalimantan Selatan. Kode Pos 70714. Dalam penulisan ini menggunakan teknik pengumpulan data yang berupa data-data lapangan yaitu melalui observasi berulang, diskusi reflektif, wawancara, dokumentasi, dan kuesioner. Kemudian untuk pengecekan keabsahan data pada penelitian ini menggunakan triangulasi. Triangulasi dalam pengujian kredibilitas diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai waktu. Dimana peran peneliti dalam pengamatan adalah memastikan bahwa data yang diperoleh dalam penelitian konsisten dari waktu ke waktu, dan pengamatan yang dilakukan secara mendalam serta menyeluruh. Sedangkan pada penelitian ini, teknik analisis data yang digunakan peneliti menggunakan model Miles and Huberman. Analisis data dalam penelitian kualitatif, dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu. Pada saat wawancara, peneliti sudah melakukan analisis terhadap jawaban yang diwawancarai. Miles and Huberman, mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data, yaitu, data reduction, data display, dan conclusion drowing/verification (Sugiyono, 2. Dalam analisis data, peneliti menggunakan interactive model, yang unsur-unsurnya meliputi reduksi data . ata reductio. , penyajian data . ata displa. , dan conclutions drowing/verifiying. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, peneliti akan membahas secara satu persatu sebagai berikut : Minat Baca Siswa Berdasarkan hasil penelitian, penyebab rendahnya minat membaca siswa adalah kemampuan membaca siswa dan kurangnya kebiasaan membaca. Kemampuan membaca menjadi salah satu penyebab rendahnya minat membaca yang berasal dari dalam diri siswa. Hasil penelitiana ini selaras dengan hasil penelitian Shofaussamawati . yang menjelaskan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi rendahnya minat membaca pada anak adalah rendahnya kemampuan membaca yang dimiliki oleh anak. Hasil penelitian yang dilakukan Tim Program of International Student Assesment (PISA) Badan Penelitian dan Pengembangan Depdikan menunjukkan kemahiran membaca anak di Indonesia sangat memprihatinkan sekitar 37,6 persen hanya bisa membaca tanpa menangkap maknanya dan 24,8 persen hanya bisa mengaitkan teks yang dibaca dengan satu informasi pengetahuan. Kurangnya kebiasaan membaca juga menjadi faktor internal penyebab rendahnya minat membaca siswa. Kurangnya kebiasaan membaca siswa diketahui dari beberapa hal yaitu siswa tidak meluangkan waktu untuk membaca, siswa hanya membaca atas perintah guru, siswa jarang mengunjungi perpustakaan untuk membaca buku, dan siswa belum memiliki inisiatif untuk mencari bahan bacaan yang dibutuhkan. Kurangnya kebiasaan membaca pada siswa ini terjadi karena dalam diri siswa belum mempunyai kesadaran tentang pentingnya membaca buku. Artana . mengemukakan bahwa minat membaca ialah keinginan yang kuat disertai usahausaha seseorang untuk membaca. Seseorang yang mempunyai minat membaca yang kuat akan terlihat pada kesediaannya dalam meluangkan waktu untuk sering melakukan aktivitas membaca atas kesadaran dirinya. Berdasarkan pendapat Rahim, diketahui bahwa seseorang yang mempunyai minat membaca yang rendah tidak akan bersedia meluangkan waktunya untuk membaca buku atas kesadaran dirinya. Rendahnya minat membaca pada siswa bisa disebabkan oleh beberapa faktor lainnya, termasuk lingkungan sekolah yang tidak mendukung, peran perpustakaan sekolah yang belum optimal, keterbatasan buku dan bahan bacaan, lingkungan keluarga yang kurang mendukung, serta pengaruh penggunaan handphone. Lingkungan sekolah yang kurang kondusif dapat memengaruhi minat membaca siswa, dengan salah satu faktornya adalah peran perpustakaan sekolah yang belum Petugas perpustakaan sering kali memiliki tugas tambahan di luar mengelola perpustakaan, yang mengurangi fokus pada upaya meningkatkan minat membaca siswa. Koleksi buku yang tidak lengkap, termasuk buku yang sudah kadaluwarsa atau buku pelajaran yang tidak menarik, serta fasilitas yang kurang memadai, dapat membuat siswa malas menggunakan perpustakaan. Selain itu, ketersediaan buku dan bahan bacaan yang menarik bagi siswa masih kurang lengkap, berkontribusi pada rendahnya minat membaca. Uraian di atas sesuai dengan pendapat Soeatminah (Idris & Ramdani, 2. yang mengungkapkan bahwa sekolah memiliki peran yang besar terhadap usaha menumbuhkan dan membina minat baca anak. Dengan demikian, lingkungan sekolah yang belum mampu berperan dalam menumbuhkan minat membaca dapat menjadi salah satu penyebab rendahnya minat membaca siswa. Bangsawan . kondisi perbukuan di Indonesia belum banyak mengundang minat membaca, jumlah buku bacaan yang tersedia belum memenuhi kebutuhan penduduk Indonesia. Ketika di luar sekolah masih mengalami kesulitan dalam memperoleh buku/bahan bacaan yang mereka inginkan. Dari aspek kesadaran tentang pentingnya buku, ternyata siswa belum mempunyai kesadaran akan pentingnya membaca buku dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini berdampak pada siswa yang rata-rata tidak memiliki koleksi buku/bahan bacaan apapun kecuali dari sekolah yang dapat dibaca oleh siswa. Pembelajaran yang diterapkan oleh guru Siti Faridah. Ridho Indra Saputra dan M. Ihsan Ramadhani. Analisis Kegiatan Literasi SD Negeri 3 Sungai Besar Kota Banjarbaru juga menjadi salah satu faktor penyebab rendahnya minat membaca siswa, hal ini karena pembelajaran yang diterapkan guru di kelas dominan menyuruh siswa untuk mengerjakan soal. Setiap hari siswa disuguhi dengan soal-soal maupun tugas yang harus dikerjakan, kemudian guru dan siswa membahas soal tersebut. Pembelajaran seperti itu terjadi hampir setiap hari di kelas. Hal tersebut menyebabkan siswa merasa bosan dalam pembelajaran dan membuat siswa malas membaca pada waktu luang karena pikiran mereka telah terkuras untuk pembelajaran. Kemampuan Literasi Siswa Kemampuan literasi pada siswa SD Negeri 3 Sungai Besar menjadi sasaran dalam penelitian ini. Sebagaimana hasil wawancara yang dilakukan peneliti ditandai dengan siswa yang memiliki kegemaran membaca dan tidak suka membaca buku di waktu luang mereka. Rendahnya minat baca dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang mempengaruhi kemampuan literasi pada siswa adalah intelegensi dan kemampuan membaca. Siswa yang memiliki tingkat intelegensi tinggi memiliki minat baca yang tinggi, begitu juga sebaliknya. Selain intelegensi, kemampuan membaca juga berpengaruh terhadap minat baca, siswa yang belum memiliki kemampuan membaca yang baik, memiliki minat baca yang rendah dibandingkan dengan siswa lain yang sudah memiliki kemampuan membaca yang baik. (Fathurrahman et al. menyatakan minat menjadi pangkal dari semua aktivitas dalam memenuhi kebutuhan manusia, dimana setiap manusia memiliki berbagai macam kebutuhan. Sehingga dengan adanya usaha pemenuhan kebutuhan itu, timbul niat kuat dalam dirinya untuk mencapai kebutuhan yang dimilikinya tanpa ada paksaan dari orang lain. Selain faktor internal, ada beberapa faktor eksternal yang mempengaruhi literasi, diantaranya, pengaruh orang tua dan teman sebaya serta imbas era globalisasi. Banyak orang tua siswa yang tidak menanamkan minat baca pada anak mereka sejak dini. Keberadaan teman sebaya yang memiliki minat baca yang rendah juga mempengaruhi minat baca. Selain itu, semakin berkembangnya teknologi menjadikan siswa lebih suka mengisi waktu luangnya dengan bermain handphone daripada membaca buku. Minat baca tidak muncul dan tumbuh dengan sendirinya, tetapi sangat dipengaruhi oleh stimulasi yang diperoleh dari lingkungan anak (Nufus et al. , 2. Keluarga merupakan lingkungan paling awal dan dominan dalam menanamkan, menumbuhkan dan membina minat baca. Orangtua perlu menanamkan kesadaran akan pentingnya membaca dalam kehidupan anak, baru setelah itu guru di lingkungan sekolah, teman sebaya dan masyarakat. Kendala yang dihadapi dalam kegiatan literasi Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa siswa SD Negeri 3 Sungai Besar Banjarbaru menemukan kurangnya kesadaran mereka akan pentingnya membaca buku. Dapat dilihat dari siswa yang jarang berkunjung ke perpustakaan untuk membaca buku mereka lebih memilih aktivitas bermain dan membeli jajan ketika jam istirahat. Kurangnya kesadaran ini menjadi hambatan dalam mendorong literasi membaca, karena siswa tidak menyadari pentingnya membaca sejak dini. Mereka kurang termotivasi untuk mengunjungi perpustakaan dan membaca beragam buku yang tersedia, termasuk buku cerita dan buku pelajaran. Hasil penelitian menunjukkan beberapa kendala dalam implementasi kebijakan gerakan literasi di SD Negeri 3 Sungai Besar Banjarbaru, termasuk kurangnya perhatian orang tua terhadap literasi, ruang perpustakaan dan pojok baca yang tergolong sempit, dan kurangnya variasi bahan bacaan. Analisis peneliti mengenai kendala dalam pemanfaatan pojok baca menyoroti kondisi kelas yang kurang luas, buku yang rusak dan hilang disebabkan kurangnya tata tertib dalam penggunaan pojok baca di kelas, dan pentingnya penataan dan desain yang menarik. Penataan serta desain pojok baca yang menarik sangat penting untuk membangkitkan ketertarikan siswa untuk membaca. Oleh karena itu, guru bisa mengajak peserta didik untuk berperan aktif dalam menghias pojok baca. Dengan begitu, peserta didik dapat menyalurkan kekreatifan mereka untuk menghias pojok baca yang ada di kelas mereka. Keberadaan pojok baca diharapkan dapat meningkatkan minat baca siswa melalui keteresediaan buku untuk dibaca kapanpun oleh siswa dan pengaruh sosial dari teman sebaya yang dengan melihat teman mereka membaca, bisa mempengaruhi siswa lain untuk ikut membaca. Strategi dalam meningkatkan literasi Analisis peneliti terhadap strategi peningkatan literasi pada Siswa SD Negeri 3 Sungai Besar adalah sebagai berikut: Keberhasilan suatu program dipengaruhi oleh dukungan dari pihak-pihak yang berkaitan. Hal inilah menjadikan warga sekolah memiliki peranan penting dalam suksesnya pelaksanaan pemanfaatan pojok baca. Kepala sekolah sebagai pemimpin dalam suatu lembaga pendidikan memiliki peranan yang sangat penting dalam keberhasilan suatu program, salah satunya yang dibahas penelitian ini adalah pemanfaatan pojok baca. Kepala sekolah bisa melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap pelaksanaan pemanfaatan pojok baca, sehingga tujuan pojok baca untuk meningkatkan minat baca dapat tercapai secara efektif. Selain kepala sekolah, peranan guru juga sangat penting. Guru sebagai pemberi teladan di kelas harus senantiasa mendorong siswa untuk membaca buku-buku yang ada di pojok baca. Selain itu guru juga harus bisa mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif dalam memanfaatkan pojok baca agar minat baca siswa semakin meningkat. Antusiasme siswa harus senantiasa ditingkatkan agar minat baca mereka semakin meningkat. Guru dapat mengajak siswa dengan berpartisipasi aktif dalam memanfaatkan pojok baca. Partisipasi aktif siswa dapat dimanfaatkan dalam hal pemilihan koleksi buku, penataan dan dekorasi pojok baca serta pembuatan tata tertib dalam pemanfaatan pojok baca. Dengan partisipasi aktif siswa, antusiasme siswa juga semakin meningkat sehingga tujuan pojok baca untuk meningkatkan minat baca dapat tercapai dengan efektif. Orang tua memiliki peran penting dalam menanamkan minat baca anak sejak dini. Keluarga merupakan sekolah pertama yang dikenal oleh siswa. Oleh karena itu kerjasama antara sekolah dan orang tua siswa sangat diperlukan dalam Anterior Jurnal. Volume 24 Issue I. Januari 2025. Page 38 Ae 43 p-ISSN: 1412-1395. e-ISSN: 2355-3529 hal peningkatan minat baca anak. Partisipasi orang tua dapat dimaksimalkan dalam mendukung program pemanfaatan pojok baca agar tujuan pojok baca untuk meningkatkan minat baca siswa dapat tercapai. Partisipasi orang tua dapat disalurkan melalui berbagai hal seperti donasi buku, infaq pengembangan pojok baca, dan lain sebagainya. Keberadaan pojok baca memudahkan peserta didik dalam mengakses buku bacaan. Sehingga mereka tidak perlu selalu datang ke perpustakaan untuk membaca. Keberadaan pojok baca yang berada di dalam kelas menjadikan siswa dapat dengan mudah membaca buku setiap harinya. Dengan adanya kemudahan dalam mengakses buku bacaan melalui pojok baca, minat baca siswa menjadi semakin meningkat. Hal ini sebagaimana dibuktikan oleh penelitian yang dilakukan oleh Handayani . beberapa hambatan dalam implementasi pojok baca adalah sarana dan prasarana yang kurang memadai, contoh kurangnya koleksi buku, rak buku dengan penataan yang mengganggu tempat melakukan kegiatan membaca di sudut baca tersebut, tidak adanya hiasan di dinding sudut baca. Hal-hal ini menjadikan peserta didik kurang berminat untuk membaca di pojok baca. KESIMPULAN Berdasarkan uraian di atas pada paparan data dan temuan, peneliti dapat mengambil suatu kesimpulan diantaranya sebagai berikut: Minat baca siswa SD Negeri 3 Sungai Besar Banjarbaru dikatakan sudah mulai membaik, tetapi pemahaman bacaan masih perlu ditingkatkan. Hal ini dapat dilihat melalui rapor pendidikan sekolah yang di kelola oleh pemerintah pusat sebagai acuan literasi dan numerasi di sekolah serta sebagai pemetaan bagi sekolah dengan kegiatan literasi dan numerasi yang memadai. Kemampuan literasi di SDN 3 Sungai Besar sedang dalam tahap perbaikan pasca COVID-19, terutama dengan penerapan Kurikulum Merdeka yang menekankan literasi dan numerasi. Kemampuan literasi siswa sudah baik, terlihat dari rapor pendidikan yang diperbarui setiap tahun. Kendala yang dihadapi dalam kegiatan literasi SD Negeri 3 Sungai Besar Banjarbaru tahun pelajaran 2023/2024 adalah minat membaca siswa yang masih rendah, fasilitas yang masih kurang, serta sarana dan prasarananya masih minim. Adapun beberapa strategi gerakan literasi sekolah dalam meningkatkan Program Literasi Membaca SD Negeri 3 Sungai Besar Banjarbaru tahun pelajaran 2023/2024. Terdapat beberapa solusi yang dilakukan untuk meningkatkan literasi tersebut diantaranya ialah, melakukan pendekatan baik peserta didik maupun orang tua, penambahan dan perbaikan sarana dan prasarana, memberikan penguatan dan buku Ae buku yang bervariasi. REFERENSI