CARADDE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat https://journal. com/index. php/caradde Volume 8 | Nomor 2 | Desember . 5 e-ISSN: 2621-7910 dan p-ISSN: 2621-7961 DOI: https://doi. org/10. 31960/caradde. Peningkatan Literasi Penggunaan Obat yang Rasional pada Remaja melalui Edukasi Partisipatif Yulius Evan Christian1*. Keysia Rahma Karina2. Grace Nathania Agustine3. Naomi Suci Mantiri4 Kata Kunci: Penggunaan Obat Rasional. Kepatuhan Terapi. Edukasi Farmasi. Keywords : Rational Drug Use. Therapy Adherence. Pharmaceutical Education. Corespondensi Author *Program Studi Farmasi. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya. Jakarta. Indonesia Email: yulius. christian@atmajaya. Article History Received: 20-09-2025. Reviewed: 22-10-2025. Accepted: 25-11-2025. Available Online: 18-12-2025. Published: 28-12-2025. Abstrak. Rendahnya literasi penggunaan obat secara rasional pada remaja masih menjadi permasalahan penting yang berdampak pada ketidaktepatan dosis dan waktu minum obat, sehingga dapat menurunkan efektivitas terapi serta meningkatkan risiko efek Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan literasi penggunaan obat secara rasional pada siswa/i OSIS SMP Negeri 129 Jakarta Utara. Metode yang digunakan adalah pendekatan edukasi partisipatif melalui ceramah interaktif, diskusi kelompok, dan latihan membaca label obat. Evaluasi pengetahuan dilakukan menggunakan pretest dan posttest terhadap 30 peserta dengan instrumen berupa 10 soal pilihan ganda dan 2 soal esai yang dianalisis secara deskriptif komparatif. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan rata-rata skor pengetahuan dari 62% pada pretest menjadi 84% pada posttest, disertai perubahan sikap positif di mana sebagian besar peserta menyatakan akan membaca label obat sebelum mengonsumsi dan mematuhi jadwal minum obat sesuai aturan. Secara kualitatif, peserta juga menunjukkan pemahaman yang lebih baik mengenai pentingnya keteraturan waktu minum obat dan penyesuaian dosis berdasarkan usia serta berat badan. Kegiatan ini membuktikan bahwa edukasi partisipatif efektif dalam meningkatkan literasi penggunaan obat secara rasional pada remaja. Secara ilmiah, hasil ini memperkuat relevansi pendekatan berbasis sekolah sebagai model intervensi edukatif dalam peningkatan literasi farmasi remaja dan dapat dijadikan dasar bagi penelitian lanjutan dengan cakupan yang lebih luas. Abstract. The low level of rational drug use literacy among adolescents remains a critical issue that contributes to inaccurate dosage and medication timing, potentially reducing therapeutic effectiveness and increasing the risk of adverse effects. This community service activity aimed to enhance rational drug use literacy among SMP Negeri 129 Jakarta Utara student council members. The program employed a participatory educational approach through interactive lectures, group Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 2. Desember 2025 discussions, and practical exercises on medication label Knowledge evaluation was conducted using pretest and posttest assessments involving 30 participants, with instruments comprising 10 multiple-choice questions and 2 essay items analyzed using descriptive comparative methods. The results indicated an improvement in the average knowledge score from 62% in the pretest to 84% in the posttest, accompanied by positive behavioral changes, as most participants expressed their commitment to reading drug labels and adhering to prescribed medication schedules. Qualitative findings also revealed improved understanding of the importance of consistent medication timing and appropriate dose adjustments based on age and body This study demonstrates that PE effectively enhances the rational drug use literacy of adolescents. These findings reinforce the relevance of school-based educational interventions as a model for improving pharmaceutical literacy in adolescents and provide a foundation for further research with a broader scope and evaluation design. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 0 International License. @2025 by Author Mereka mengandalkan intuisi, rekomendasi teman, atau iklan, tanpa mengecek informasi valid mengenai obat tersebut. Hal ini sangat riskan karena dapat memicu Drug Related Problems (DRP. dan resistensi obat, terutama jika terjadi pada penggunaan antibiotik atau obat (Christian, 2. (Husnatika. Nurmainah, & Rizkifani, 2. Penggunaan obat dengan dosis tidak sesuai tidak hanya menyebabkan kegagalan terapi, tetapi juga memperburuk kondisi pasien, sebagaimana ditemukan pada pasien penyakit ginjal kronis yang tidak mendapatkan penyesuaian dosis berdasarkan fungsi ginjal mereka (Panggabean. Sriwahyuni, & Aldi. Selain itu, cara dan waktu pemberian obat pun memainkan peran krusial. Sebuah penelitian menemukan bahwa efek samping dari metformin dapat dikaitkan dengan ketidaksesuaian waktu dan cara minum obat, seperti konsumsi tanpa makanan atau pada waktu yang tidak konsisten (Rahayu et al. Edukasi mengenai cara penggunaan obat yang benar belum menjadi bagian dari kurikulum pendidikan formal, padahal usia remaja merupakan fase penting dalam PENDAHULUAN Penggunaan obat yang rasional merupakan fondasi utama dalam menjaga efektivitas terapi dan keselamatan pasien. Kesadaran akan pentingnya penggunaan obat yang tepat, baik dari segi dosis maupun waktu pemberian, masih menjadi tantangan besar di masyarakat, termasuk di kalangan pelajar. Ketidaktahuan mengenai cara minum obat yang benar dapat menyebabkan pengobatan tidak memberikan hasil optimal, bahkan berisiko menimbulkan efek samping Hal ini menjadi lebih penting ketika kita berbicara tentang sediaan farmasi, di mana kesalahan dalam dosis atau waktu konsumsi farmakokinetik dan farmakodinamik obat tersebut (Christian. Fono, & Faiq, 2. Di tengah perkembangan informasi dan aksesibilitas obat yang semakin mudah, penggunaan obat secara mandiri di kalangan remaja, termasuk siswa sekolah menengah pertama, makin meningkat. Banyak siswa yang membeli dan mengonsumsi obat bebas tanpa pemahaman yang memadai mengenai aturan pakai, dosis yang sesuai, dan waktu Christian, et al. Peningkatan Literasi Penggunaan Obat. pembentukan perilaku kesehatan yang akan terbawa hingga dewasa. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat menjadi solusi strategis untuk menutup kesenjangan informasi ini. Pengalaman dari kegiatan pengabdian sebelumnya menunjukkan bahwa pelibatan siswa dalam edukasi farmasi seperti pemanfaatan tanaman obat atau pencegahan stunting dapat secara signifikan meningkatkan (Christian. Panjaitan. Ramadhan. Hardianti, 2. (Christian. Panjaitan, & Tiana, 2. Dalam konteks yang lebih luas, penggunaan obat yang tidak sesuai dosis juga dapat dipengaruhi oleh faktor sosial, psikologis, dan budaya. Misalnya, pendekatan spiritual dalam pengobatan seperti terapi murottal terbukti dapat menurunkan dosis obat anestesi yang diperlukan, menandakan bahwa pengaruh eksternal pun dapat berdampak pada kebutuhan dosis (Abdullah. Amkar. Pranomo. Sommeng, & K, 2. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman tentang obat tidak hanya harus bersifat teknis, tetapi juga holistik dan kontekstual. Berbagai studi pengabdian masyarakat yang telah dilakukan sebelumnya menekankan pentingnya pendekatan edukatif yang menyasar kelompok remaja. Salah satunya adalah pendekatan partisipatif di mana siswa dilibatkan secara aktif dalam diskusi dan praktik edukatif, bukan hanya sebagai Dalam kegiatan serupa yang dilakukan di lingkungan pendidikan, metode ini terbukti efektif dalam meningkatkan kesadaran dan perubahan perilaku jangka panjang (Christian, 2024. (Christian, 2024. Melihat urgensi tersebut, maka dilaksanakan dengan tujuan memberikan sosialisasi dan edukasi kepada siswa/i OSIS SMP Negeri 129 Jakarta Utara mengenai pentingnya penggunaan dosis dan waktu minum obat yang tepat terhadap sediaan Sasaran utama adalah membentuk menanamkan sikap kritis dalam konsumsi obat secara mandiri. Diharapkan melalui kegiatan ini, peserta mampu menjadi agen literasi kesehatan di lingkungan sekolah dan keluarga, sekaligus mendukung program pemerintah dalam meningkatkan penggunaan obat secara rasional dan bertanggung jawab. METODE Kegiatan pengabdian masyarakat ini menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) (Ishaq et al. , 2. yang menekankan pada partisipasi aktif peserta dalam kegiatan edukatif. Strategi ini dipilih karena mampu mendorong keterlibatan langsung peserta . iswa/i OSIS SMP Negeri 129 Jakarta Utar. dalam memahami topik penggunaan dosis dan waktu minum obat pengelolaan obat yang rasional. Pendekatan PAR juga telah digunakan secara efektif dalam kegiatan edukasi serupa, seperti edukasi penyakit kronik dan penggunaan sediaan farmasi pada pasien rawat jalan. Kegiatan ini dilaksanakan secara luring . pada Kamis, 2 November 2023, bertempat di SMP Negeri 129 Jakarta Utara, mulai pukul 13. 00 Ae 00 WIB. Kegiatan terdiri dari sesi sosialisasi interaktif, diskusi kelompok kecil, serta pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan Materi mencakup pentingnya dosis sesuai usia dan berat badan, pemahaman label obat, serta jadwal minum obat yang konsisten. Teknik pengumpulan data dilakukan menggunakan kuisioner yang dibagikan sebelum dan sesudah kegiatan . re-test dan post-tes. Instrumen terdiri dari 10 pertanyaan pilihan ganda dan dua pertanyaan esai, disusun berdasarkan topik edukasi yang Kuisioner telah divalidasi secara isi melalui diskusi dengan ahli farmasi klinik dan pendidik bidang farmasi. Reliabilitas diuji dengan uji coba terbatas pada siswa dengan karakteristik serupa di sekolah lain. Kriteria inklusi adalah siswa/i OSIS SMPN 129 yang hadir dan bersedia mengikuti kegiatan secara aktif dari awal hingga akhir. Pemilihan sampel dilakukan secara purposive terhadap 30 siswa OSIS, dengan pertimbangan bahwa kelompok ini memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan informasi kepada siswa lainnya, sehingga diharapkan menjadi agen perubahan dalam lingkungan sekolah. Teknik ini mengadopsi prinsip dari penelitian serupa dalam pengkajian penggunaan obat pada pasien stroke dan gagal ginjal, yang menggunakan metode purposive dan data retrospektif untuk memastikan representasi kelompok dengan kebutuhan spesifik edukasi Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 2. Desember 2025 (Sari. Shofiatul. Ambarwati, & Yunita, 2. (Made et al. , 2. Analisis data dilakukan secara deskriptif komparatif dengan membandingkan hasil pre-test dan post-test dalam bentuk persentase peserta yang menjawab benar untuk setiap butir soal. Analisis ini digunakan untuk mengidentifikasi sejauh mana peningkatan pengetahuan peserta setelah mengikuti Selain itu, penjabaran kualitatif dilakukan terhadap dua soal esai untuk menilai kemampuan berpikir kritis dan pemahaman mendalam peserta. Secara metode yang bertujuan menjawab kebutuhan literasi mengintegrasikan partisipasi aktif, validitas instrumen yang baik, serta teknik analisis berbasis peningkatan pemahaman. Melalui pendekatan ini, diharapkan hasil pengabdian dapat memberikan dampak nyata dan berkelanjutan bagi siswa dan lingkungan sekolah (Rusdi. Sari, & Wulandari, 2. Sebelum kegiatan dilaksanakan, para peserta diberikan pre-test untuk mengukur pemahaman awal mereka terhadap topik. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar siswa belum memiliki pemahaman yang memadai mengenai prinsip penggunaan obat yang benar. Rata-rata skor pre-test berada pada 74%, dengan distribusi jawaban benar yang bervariasi pada setiap soal. Setelah dilakukan partisipatif, peserta kembali diberikan posttest, yang menunjukkan peningkatan skor ratarata menjadi 98%. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambar 2. Distribusi hasil pre test dan post Salah satu indikator keberhasilan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini terlihat dari peningkatan pemahaman peserta terhadap materi edukasi mengenai waktu yang tepat untuk mengonsumsi obat. Berdasarkan hasil pre-test, hanya 43% peserta yang dapat menjawab dengan benar pertanyaan tentang waktu minum obat. Setelah diberikan edukasi, hasil post-test menunjukkan peningkatan yang signifikan, yaitu sebanyak 80% peserta mampu menjawab dengan benar. Sebelum diberikan pemahaman, mayoritas peserta memberikan jawaban secara acak atau didasarkan pada kebiasaan pribadi dan pengaruh lingkungan, seperti aturan orang tua atau pengalaman Hal ini mencerminkan adanya miskonsepsi di masyarakat mengenai prinsip dasar farmakoterapi, khususnya terkait farmakokinetika obat. Selama kegiatan edukasi, peserta diperkenalkan pada konsep bahwa waktu minum obat tidak bersifat universal, tetapi bergantung pada karakteristik farmakokinetik Gambar 1. Distribusi peserta kegiatan Kegiatan pengabdian masyarakat bertema AuPentingnya Penggunaan Dosis dan Waktu Minum Obat yang Tepat terhadap Sediaan FarmasiAy dilaksanakan secara langsung di SMP Negeri 129 Jakarta Utara dengan peserta sebanyak 30 siswa/i OSIS, terdiri dari 17 laki-laki . %) dan 13 perempuan . %). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai pentingnya mematuhi dosis obat serta waktu konsumsi yang tepat agar tercapai efek terapi yang optimal dan menghindari risiko efek samping atau resistensi. Christian, et al. Peningkatan Literasi Penggunaan Obat. dari masing-masing obat, seperti proses absorpsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi. Prinsip-prinsip ini menentukan bagaimana kadar obat dipertahankan dalam plasma darah agar tetap berada dalam rentang terapeutik, yaitu kadar yang efektif untuk menghasilkan menimbulkan toksisitas. Misalnya, antibiotik seperti amoksisilin memerlukan pemberian setiap 8 jam secara teratur untuk mempertahankan efektivitas antibakteri dan mencegah resistensi. Demikian pula, obat antihipertensi sebaiknya diminum pada pagi hari untuk mengontrol tekanan darah selama aktivitas harian, sedangkan obat-obat yang berisiko mengiritasi lambung, seperti obat non-steroid, dikonsumsi setelah makan. Peningkatan skor peserta dalam post-test menunjukkan bahwa penyampaian edukasi yang dilakukan secara interaktif, dengan pendekatan partisipatif dan penggunaan bahasa yang disederhanakan, mampu meningkatkan pemahaman mereka. Edukasi dilengkapi dengan analogi sehari-hari, visualisasi grafik kadar obat dalam tubuh, serta studi kasus sederhana, yang memudahkan peserta dalam memahami konsep waktu minum obat secara lebih Hasil ini diperkuat oleh temuan (Amalia Rosyada & Murti Andayani, 2. yang menyatakan bahwa edukasi berbasis prinsip farmakokinetik yang disampaikan secara kontekstual mampu meningkatkan literasi masyarakat mengenai kepatuhan dalam penggunaan obat. Oleh karena itu, pendekatan edukatif dalam pengabdian masyarakat ini terbukti efektif dalam mengubah persepsi dan perilaku peserta dalam penggunaan obat yang rasional. (Amalia Rosyada & Murti Andayani, 2. Peningkatan pemahaman juga terlihat dari hasil evaluasi pada soal nomor 2 yang berkaitan dengan efek apabila seseorang lupa mengonsumsi obat, di mana terjadi peningkatan jawaban benar dari 50% saat pretest menjadi 86% pada post-test. Hasil ini menunjukkan adanya peningkatan kesadaran peserta mengenai dampak signifikan dari ketidakteraturan konsumsi obat, terutama dalam pengobatan penyakit kronis. Sebelum dilakukan edukasi, sebagian besar peserta menganggap bahwa lupa satu kali minum obat tidak berpengaruh besar terhadap proses Namun setelah diberikan penjelasan berbasis ilmiah, peserta mulai konsumsi obat adalah salah satu faktor kunci dalam keberhasilan terapi jangka panjang. Penekanan diberikan pada bagaimana obat-obatan untuk penyakit kronik seperti asma, hipertensi, dan diabetes mellitus bekerja secara kumulatif dan berkelanjutan untuk mempertahankan kestabilan fisiologis tubuh. Melupakan satu dosis, meskipun tampak sepele, dapat menyebabkan fluktuasi kadar obat dalam darah sehingga mengganggu menimbulkan komplikasi atau kekambuhan Sebagai contoh, pada penderita hipertensi, tidak mengonsumsi obat selama satu hari saja dapat menyebabkan lonjakan tekanan darah yang meningkatkan risiko stroke atau serangan jantung. Demikian pula, pada pasien diabetes, ketidakteraturan konsumsi obat antidiabetik dapat mengganggu kontrol glikemik yang berdampak pada komplikasi jangka panjang. Edukasi . dalam terapi jangka panjang, bukan hanya dalam konteks rutin, tetapi juga dalam memahami konsekuensi klinis dari Peserta pemahaman tentang strategi sederhana untuk menggunakan pengingat harian, menyusun jadwal minum obat, atau menyatukan waktu minum obat dengan aktivitas harian lainnya. Pengetahuan ini tidak hanya menambah literasi kesehatan peserta, tetapi juga berkontribusi pada terbentuknya perilaku pengobatan yang lebih bertanggung jawab. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Sonya Wening Parwhantika. Niken Luthfiyanti, 2. , yang konsumsi obat dapat meningkatkan kepatuhan pasien terhadap rejimen terapi, khususnya pada terapi jangka panjang. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian ini tidak hanya berperan dalam meningkatkan pengetahuan peserta, tetapi juga mendorong perubahan sikap dan perilaku kesehatan yang positif dan (Sonya Wening Parwhantika. Niken Luthfiyanti, 2. Pemahaman menunjukkan peningkatan yang signifikan. Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 2. Desember 2025 Pada pre-test, hanya 56% peserta yang memberikan jawaban benar, namun angka ini meningkat menjadi 83% setelah sesi edukasi Sebelum diberikan pemahaman, sebagian besar peserta beranggapan bahwa mempertimbangkan perbedaan fisiologis antara individu. Misalnya, beberapa peserta menyatakan bahwa Auanak-anak diberi setengah tabletAy atau Auobat orang tua sama saja dengan obat orang dewasa muda,Ay yang mencerminkan kesalahpahaman mendasar dalam prinsip farmakoterapi yang aman. Melalui edukasi, peserta diperkenalkan pada konsep bahwa usia dan berat badan menentukan dosis obat yang tepat, terutama pada populasi rentan seperti anak-anak dan Pada anak, fungsi metabolik dan enzimatik belum sepenuhnya matang, sementara pada lansia terjadi penurunan fungsi ginjal dan hati, yang dapat farmakodinamik obat. Oleh karena itu, pemberian dosis standar dewasa pada kelompok ini berisiko menyebabkan overdosis, toksisitas, atau efek samping yang berat. Selama sesi edukasi, pendekatan yang digunakan adalah dengan analogi visual dan membandingkan "ukuran tubuh dan kapasitas organ" layaknya kapasitas gelas kecil dan besar untuk menampung cairan. Dengan analogi tersebut, peserta lebih mudah memahami bahwa Ausatu ukuran dosis tidak cocok untuk semua orangAy. Sebuah simulasi kasus juga parasetamol dengan dosis dewasa pada balita dapat menyebabkan gangguan hati akut, meskipun obat tersebut tergolong aman jika diberikan sesuai aturan. Strategi penyampaian ini membuat peserta lebih responsif dan penyesuaian dosis berdasarkan karakteristik Penemuan ini diperkuat oleh studi (Alexxander & Pratiwi, 2. , yang menunjukkan bahwa edukasi berbasis studi kasus dengan pendekatan visualisasi dan pemahaman masyarakat terhadap prinsip dosis individualisasi, khususnya di kalangan pelajar dan masyarakat umum. Dengan meningkatnya kesadaran peserta terhadap pentingnya penyesuaian dosis, kegiatan ini telah berkontribusi dalam membentuk perilaku penggunaan obat yang lebih rasional dan aman, yang merupakan salah satu pilar utama dalam praktik farmasi klinik. (Alexxander & Pratiwi, 2. Pemahaman peserta mengenai alasan obat harus dikonsumsi hingga habis sesuai anjuran juga menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan. Pada saat pre-test, hanya 60% peserta yang mampu menjawab dengan benar, sementara setelah sesi edukasi jumlah tersebut meningkat menjadi 90%. Temuan ini mengindikasikan bahwa masih terdapat kesalahpahaman awal di kalangan peserta, di mana sebagian besar beranggapan bahwa jika gejala penyakit sudah berkurang atau tubuh terasa lebih sehat, maka obat dapat dihentikan. Pandangan ini terutama terlihat dalam konteks penggunaan antibiotik, di mana penghentian terapi sebelum waktunya justru berpotensi meningkatkan risiko kekambuhan penyakit. Melalui dijelaskan bahwa prinsip dasar dalam terapi obat, khususnya antibiotik, adalah menjaga kadar obat dalam plasma darah tetap berada pada level terapeutik selama jangka waktu yang dianjurkan. Apabila obat dihentikan lebih awal, konsentrasi obat dapat turun di bawah kadar minimal hambat . inimum inhibitory concentration/MIC), sehingga bakteri yang belum sepenuhnya tereradikasi dapat kembali berkembang biak dan bahkan menjadi kebal terhadap antibiotik. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada pasien secara individual, tetapi juga memiliki konsekuensi kesehatan masyarakat yang lebih luas berupa resistance (AMR). Selain itu, edukasi diberikan dengan pendekatan kontekstual melalui contoh nyata. Misalnya, peserta diminta membayangkan seorang pasien yang menghentikan konsumsi antibiotik ketika gejala demam hilang, padahal bakteri penyebab infeksi masih ada dalam Dengan cara ini, siswa lebih mudah memahami bahwa perasaan sembuh bukanlah indikator bahwa pengobatan dapat dihentikan. Penyampaian informasi yang sederhana, menggunakan ilustrasi klinis yang dekat dengan pengalaman sehari-hari, terbukti efektif dalam membentuk kesadaran baru pada Christian, et al. Peningkatan Literasi Penggunaan Obat. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Fahriati et al. , yang menekankan bahwa edukasi mengenai pentingnya menyelesaikan pengobatan sesuai anjuran dokter mampu meningkatkan pemahaman dan kepatuhan pasien dalam penggunaan antibiotik. Oleh karena itu, peningkatan pemahaman dari 60% ke 90% pada peserta kegiatan ini tidak hanya penyuluhan, tetapi juga memperlihatkan kontribusi nyata kegiatan pengabdian dalam mendorong perilaku penggunaan obat yang rasional dan bertanggung jawab. (Fahriati et , 2. Pemahaman peserta mengenai cara yang tepat dalam mengonsumsi obat tablet dan kapsul mengalami peningkatan yang cukup Pada saat pre-test, hanya 66% peserta yang mampu menjawab pertanyaan dengan benar, sedangkan pada post-test terjadi peningkatan hingga 93%. Sebelum edukasi diberikan, sebagian besar peserta beranggapan bahwa semua obat dalam bentuk tablet atau kapsul dapat dikunyah, dihancurkan, atau bahkan dibuka isinya sebelum diminum. Kesalahpahaman ini cukup berisiko karena tidak semua sediaan obat dapat diperlakukan Melalui sesi edukasi, peserta diberikan penjelasan bahwa beberapa obat memiliki lapisan khusus . atau formulasi tertentu yang berfungsi penting, misalnya untuk mengatur pelepasan obat secara lambat . ustained release/controlled releas. atau Menghancurkan tablet jenis ini atau membuka kapsul berisi granul dapat mengganggu profil pelepasan obat, menurunkan efektivitasnya, bahkan meningkatkan risiko efek samping. Contoh kasus sederhana diberikan, seperti tablet enterik yang dirancang agar tidak hancur di lambung tetapi larut di usus halus. jika tablet ini dihancurkan, pasien akan mengalami iritasi lambung yang seharusnya bisa dicegah. Selain penjelasan teoritis, kegiatan juga melibatkan praktik langsung membaca informasi pada kemasan dan leaflet obat, yang sering kali diabaikan oleh pasien. Peserta diajak untuk mengenali tanda-tanda khusus pada kemasan, seperti keterangan "jangan dikunyah/dihancurkan", "telan utuh", atau simbol farmasi lainnya. Pendekatan ini terbukti efektif karena peserta tidak hanya menerima pengetahuan secara pasif, tetapi juga terlatih untuk lebih kritis dalam memperhatikan informasi resmi yang tersedia pada setiap produk obat. Hasil kegiatan ini sejalan dengan penelitian Andriani. Rahmawati, & Andayani . , yang menegaskan bahwa edukasi disertai praktik membaca kemasan obat masyarakat terhadap tata cara konsumsi obat yang benar. Dengan peningkatan pemahaman dari 66% ke 93%, dapat disimpulkan bahwa metode penyuluhan berbasis praktik dan simulasi sederhana sangat efektif dalam meningkatkan literasi kesehatan peserta, sekaligus mendukung upaya penggunaan obat secara rasional, aman, dan bertanggung jawab. (Andriani. Rahmawati, & Andayani, 2. Dua soal isian yang diberikan sebagai bentuk pengukuran pemahaman mendalam juga menunjukkan perubahan signifikan. Salah satunya menanyakan alasan pentingnya meminum obat pada waktu yang sama setiap Sebelum kegiatan, hanya 30% yang menjelaskan bahwa keteraturan waktu penting untuk menjaga kestabilan kadar obat dalam tubuh dan mencegah efek samping atau ketidakefektifan obat Gambar 3. Peserta kegiatan mendengarkan pemaparan materi dan foto bersama Gambar 4. Peserta kegiatan mendengarkan pemaparan materi dan foto bersama Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 2. Desember 2025 Selain soal pilihan ganda, dua soal isian yang diberikan sebagai bentuk pengukuran pemahaman mendalam juga menunjukkan peningkatan yang signifikan. Salah satunya adalah pertanyaan mengenai alasan pentingnya meminum obat pada waktu yang sama setiap hari. Sebelum kegiatan, hanya 30% peserta yang mampu memberikan jawaban mendekati benar. Namun, setelah dilakukan penyuluhan, jumlah tersebut meningkat menjadi 83%, dengan jawaban yang lebih tepat, yaitu bahwa keteraturan waktu minum obat penting untuk menjaga kestabilan kadar obat dalam tubuh serta mencegah timbulnya efek samping maupun Hasil memperlihatkan bahwa kegiatan edukasi berbasis farmasi mampu memperbaiki pemahaman konseptual peserta mengenai farmakoterapi, terutama dalam hal kepatuhan dan konsistensi penggunaan obat. Dampak kegiatan juga terlihat dari perubahan perilaku. Sebelum kegiatan, mayoritas peserta mengaku tidak membaca label kemasan obat, belum memahami arti instruksi sederhana seperti Audiminum setelah makanAy menghentikan konsumsi obat begitu gejala Setelah penyuluhan, sebanyak 90% peserta menyatakan akan mulai membaca label obat sebelum mengonsumsinya, dan 86% berkomitmen untuk meminum obat sesuai waktu dan dosis yang dianjurkan. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran dari pengetahuan menuju praktik nyata yang lebih bertanggung jawab. Temuan ini konsisten dengan kegiatan pengabdian masyarakat serupa yang melaporkan bahwa penyuluhan farmasi berbasis partisipatif mampu mengubah perilaku konsumsi obat masyarakat (Tri Arianingsih, 2. Lebih jauh, kegiatan ini juga memperlihatkan peran remaja sebagai agen edukasi dalam lingkungannya. Banyak siswa menyatakan kesediaannya untuk menyampaikan kembali informasi yang diperoleh kepada teman sebaya maupun anggota keluarga, sehingga proses transfer pengetahuan menjadi lebih luas dan Hal ini sejalan dengan hasil penelitian (Azzahra & Yulianti, 2. yang menegaskan bahwa remaja dapat berperan sebagai katalis dalam menyebarkan Dalam keberlanjutan, kegiatan ini berpotensi untuk dikembangkan pada kelompok usia lain dengan pendekatan serupa. Metode edukatif berbasis visual, diskusi terbuka, dan studi kasus terbukti efektif tidak hanya dalam meningkatkan pemahaman kognitif, tetapi juga dalam membangun sikap kritis terhadap penggunaan obat (Yudiana. Zulmansyah, & Garna, 2. Secara keseluruhan, kegiatan ini mendorong perilaku rasional dalam konsumsi obat pada remaja. Hal ini penting karena remaja berada pada fase transisi yang rawan mengadopsi kebiasaan yang kurang tepat dari Dengan pengetahuan yang benar, mereka tidak hanya mampu melindungi dirinya sendiri, tetapi juga penggunaan obat di lingkungan sekolah maupun rumah. Sebagaimana ditegaskan oleh Wijiani Yanti & Andayani . , literasi obat pada usia remaja merupakan modal penting dalam pembentukan kebiasaan sehat yang berkelanjutan hingga dewasa. (Wijiani Yanti & i Andayani, 2. SIMPULAN DAN SARAN Kegiatan pengabdian masyarakat ini berhasil meningkatkan pemahaman siswa OSIS SMP Negeri 129 Jakarta Utara mengenai pentingnya penggunaan dosis dan waktu minum obat yang tepat. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan skor ratarata dari 74% . re-tes. menjadi 98% . Kegiatan ini membuktikan bahwa pendekatan edukatif yang interaktif dan partisipatif efektif membentuk perilaku rasional dalam penggunaan obat pada remaja Kegiatan edukasi serupa sebaiknya direplikasi di sekolah-sekolah lain untuk memperluas jangkauan literasi penggunaan obat yang rasional di kalangan pelajar. Kolaborasi antara institusi pendidikan dan tenaga kesehatan . eperti apoteker atau puskesma. dapat menyosialisasikan prinsip penggunaan obat yang aman dan tepat guna sejak usia dini. DAFTAR RUJUKAN Abdullah. Amkar. Pranomo. Christian, et al. Peningkatan Literasi Penggunaan Obat. Sommeng. , & K. Pengaruh Murottal Al-QurAoan tehadap Dosis Obat Anestesi Umum dan Waktu Pulih Sadar pada Pasien Operasi di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar. Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi, 24. , 980Ae990. https://doi. org/10. 33087/jiubj. Kalangan Masyarakat : Mencegah Resistensi Bakteri Sejak Dini. Mitramas, 03. , 11Ae26. https://doi. org/https://doi. org/10. 0/mitramas. Christian. Fono. , & Faiq. Membangkitkan Semangat Pancasila Untuk Generasi Muda Bangsa di RW 04 Kelurahan Kalibaru Kecamatan Cilincing Jakarta Utara. BERDIKARI, 6. , 56Ae65. Alexxander. , & Pratiwi. Evaluasi Tepat Pasien. Tepat Obat Dan Tepat Dosis Antipsikotik Pasien Rawat Inap Skizofrenia Paranoid Di RSJ Sambang Lihum. Jurnal Insan Farmasi Indonesia, 7. , 1Ae12. https://doi. org/10. 36387/jifi. Christian. Panjaitan. Ramadhan, , & Hardianti. Edukasi Peningkatan Kesehatan dan Pencegahan Masalah Stunting Pada Anak Di Desa Pantai Bakti . Muaragembong. Pharmacy Action Journal, 3. , 1Ae11. Amalia Rosyada. , & Murti Andayani. Penyesuaian Dosis Obat Pasien Penyakit Ginjal Kronik di RSUD Kardinah Tegal. Majalah Farmaseutik, 19. , 237Ae245. https://doi. org/10. 22146/farmaseutik. Christian. Panjaitan. , & Tiana. Sosialisasi Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga di Desa Pantai Bakti Kecamatan Muaragembong. Pharmacy Action Journal, 3. , 1Ae8. Fahriati. Fadilah. Rahmawati, . Denisa. Chasanah. Sahara, . A Fauziah. Analisis Efektivitas Biaya Obat Antihipertensi Dosis Tunggal Pada Pasien Hipertensi Tanpa Penyakit Penyerta: Systematic Literature Review. Pharmaceutical Science Journal, 04. , 140Ae151. Andriani. Rahmawati. , & Andayani. Penyesuaian Dosis Obat pada Pasien Gagal Ginjal Kronis Rawat Inap di Rumah Sakit Kabupaten Tegal. Indonesia. Majalah Farmaseutik, 17. , 46Ae53. https://doi. org/10. 22146/farmaseutik. Husnatika. Nurmainah. , & Rizkifani. Hubungan Drug Related Problems (DRP. Kategori Dosis Obat Amlodipin dan Kaptopril Terhadap Kondisi Tekanan Darah Pada Pasien Hipertensi. Jurnal Ilmiah Ibnu Sina (JIIS), 8. , 216Ae229. https://doi. org/10. 36387/jiis. Azzahra. , & Yulianti. Identifikasi Drug Related Problems (Drp. Kategori Pemilihan Obat dan Dosis pada Pasien Preeklampsia dan Eklampsia di Instalasi Rawat Inap Rsup Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten Tahun Usadha Journal of Pharmacy, 1. , 37Ae53. https://doi. org/10. 23917/ujp. Ishaq. Mubassir. Arifin. Saiful, . Prasetiya. Islam. , & Dahlan, . Membangun Kesadaran Masyarakat Lingkungan Perkampungan Desa Transisi Kota: Pendekatan Participatory Action Research. Naafi: Jurnal Ilmiah Mahasiswa, 2. , 71Ae79. https://doi. org/10. 62387/naafijurnalilm Christian, . Edukasi Pemanfaatan Sampah Anorganik menjadi Ecobrick sebagai Upaya Pengurangan Sampah Plastik. Mitra, 8. , 199Ae214. Christian. Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah melalui Gerakan Mengubur Sampah. Prima Abdika, 4. , 521Ae529. Made. Ratnasari. Dhrik. Rizqy. Kadek. , & Rosita. Evaluasi Kesesuaian Dosis dan Interaksi Christian. Edukasi Kepatuhan Penggunaan Suspensi Antibiotik di Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 2. Desember 2025 Obat Potensial pada Pasien Gagal Ginjal Kronik di Rumah Sakit Swasta Denpasar Bali. Jurnal Ilmiah MEDICAMENTO, 10. , 109Ae123. https://doi. org/10. 36733/medicamento. Hang Tuah Tanjungpinang, 11. , 35Ae46. Retrieved from https://jurnal. com/index. php/jurkep/article/view/ Wijiani Yanti. , & i Andayani. Evaluasi Tepat Pasien. Tepat Obat, dan Tepat Dosis Penggunaan Antipsikotik Pasien Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Provinsi NTB. Jurnal Insan Farmasi Indonesia, 4. , 111Ae120. https://doi. org/10. 36387/jifi. Panggabean. Sriwahyuni. , & Aldi. Penyesuaian Dosis Obat pada Pasien Penyakit Ginjal Kronis serta Hubungannya dengan Outcome Terapi. Jurnal Prima Medika Sains, 5. , 25Ae31. https://doi. org/10. 34012/jpms. Yudiana. Zulmansyah. , & Garna. Hubungan Kepatuhan Terapi Obat Anti-Tuberkulosis Kombinasi Dosis Tetap (OAT-KDT) dengan Kesembuhan Pasien Tuberkulosis Paru Dewasa di Puskesmas Patokebeusi Subang. Jurnal Integrasi Kesehatan & Sains, 4. , 52Ae55. https://doi. org/10. 29313/jiks. Rahayu. Julaiha. Ardini. Indriyani, . Farmasi. Kemenkes. Lampung. Gambaran Efek Samping Obat Beradasarkan Usia . Cara Minum , dan Dosis Obat Metformin pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2. Journal of Pharmaceutical Sciences and Technology, 1. , 7Ae16. Rusdi. Sari. , & Wulandari. Ketepatan Obat. Dosis, dan Potensi Interaksi Obat pada Pasien Kanker Paru di Rumah Sakit X Jawa Barat Periode 2019-2021. Jurnal Sains Dan Kesehatan, 5. , 313Ae323. https://doi. org/10. 25026/jsk. Sari. Shofiatul. Ambarwati. , & Yunita. Analisa Pola Penggunaan dan Ketepatan Dosis Obta Pasien Stroke Iskemik di RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar. Indonesian Journal of Pharmaceutical Education, 3. , 548Ae556. https://doi. org/10. 37311/ijpe. Sonya Wening Parwhantika. Niken Luthfiyanti. Identifikasi Drug Related Problems (Drp. pada Kategori Salah Obat. Dosis Rendah. Dosis Lebih dan Interaksi Obat Antihipertensi Pasien Gagal Ginjal Kronik Di Instalasi Rawat Jalan RSUD Dr. Moewardi Surakarta Tahun 2023. Jurnal Ilmiah Multidisipliner (JIM), 8. , 207Ae229. Tri Arianingsih. Penggunaan Smartphone Untuk Mendeteksi Panjang Badan Dan Berat Badan Anak Sebagai Dasar Penentu Dosis Obat : Tinjauan Literatur. Jurnal Keperawatan STIKES