AL-FATIH: Jurnal Studi Islam Vol. No. Juni, 2024 pp. xAex ISSN: 2354-8576 (Prin. ISSN:0000-0000 . Manajemen Kurikulum Pembelajaran Pesantren dalam Meningkatkan Pendidikan Dakwah (Studi Kasus di Pesantren Fathul Huda Magetan Chori Miftahul Kosidatul Natus1. Riski Amiliyasari2 Sekolah Tinggi Agama MaAoarif Kendal Ngawi2. Indonesiab Sekolah Tinggi Agama MaAoarif Kendal Ngawi 2. Indonesiab E-mail: chorimiftahul@gmai. com1, rmiliyas326@gmail. Abstrak Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang dipimpin oleh kiai, dengan fokus pada pembelajaran kitab-kitab klasik . itab kunin. Selain membekali santri dengan pemahaman mendalam tentang ajaran Islam, pesantren juga menekankan pengamalan nilainilai moral dalam kehidupan sehari-hari, dengan tujuan membentuk kepribadian yang baik. Pesantren memiliki peran ganda, tidak hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai lembaga sosial dan pusat dakwah agama, serta menjadi rujukan moral di Sebagai agen perubahan sosial dan budaya, pesantren memfasilitasi tafaqquh fi al-din . endalaman ilmu agam. , dengan metode pengajaran yang dialogis, kritis, dan terbuka, tanpa pemaksaan dogmatis. Lingkungan pesantren yang heterogen, dengan santri dari latar belakang budaya, sosial, dan ekonomi yang beragam, mendorong terciptanya suasana harmonis, serta penanaman akhlak mulia. Pesantren dianggap sebagai komunitas ideal, terutama dalam membentuk kehidupan moral keagamaan. Kata Kunci: Pendidikan Islam. Pembinaan Akhlak. Agen Perubahan Sosial Abstract A pesantren is an Islamic educational institution led by a kiai . eligious leade. , focusing on the study of classical Islamic texts ( kitab kuning ). In addition to providing students with a deep understanding of Islamic teachings, the pesantren emphasizes the practical application of moral values in everyday life, aiming to shape good character. It serves a dual role, functioning not only as an educational institution but also as a social institution and a center for religious dissemination ( dakwah ), acting as a moral guide for the surrounding As an agent of social and cultural change, the pesantren facilitates tafaqquh fi aldin . eepening religious knowledg. , using a dialogical, critical, and open teaching method without enforcing dogmatic views. The diverse environment, with students from various cultural, social, and economic backgrounds, fosters a harmonious atmosphere and encourages the cultivation of virtuous character. The pesantren is regarded as an ideal community, particularly in fostering religious moral life. Keywords: Islamic Education. Moral Development. Social and Cultural Change PENDAHULUAN Pada Lembaga Pendidikan yang digunakan sebagai acuan untuk mengisi pengajaran, dan mengarahkan proses mekanisme Pendidikan, maka dibutuhkan kurikulum pembelajaran. Adanya kurikulum pembelajaran, dapat menjadi tolok ukur keberhasilan dan kualitas Pendidikan. Manajemen kurikulum adalah salah satu aspek yang dapat mempengaruhi Vol. 12 No. AL-FATIH: Jurnal Studi Islam keberhasilan dalam Pendidikan Nasional. Kurikulum adalah pedoman dalam Pendidikan. Tanpa kurikulum. Pendidikan tidak dapat berjalan dengan baik (Fiandi, dkk, 2023: 3. Selain itu, kurikulum juga memiliki peranan penting dalam mewujudkan Pendidikan yang bermutu dan berkualitas. Lembaga Pendidikan yang menginginkan keberhasilan pembelajaran, harus mengupayakan pemberdayaan bidang manajemen dan pengelolaan Semua Lembaga Pendidikan formal wajib mengacu dan merujuk pada kurikulum, baik Kurikulum Nasional, maupun Kurikulum khusus yang dirancang oleh masing-masing Lembaga Pendidikan, tidak terkecuali pesantren. Kurikulum dapat dijadikan sebagai sarana untuk mencapai tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, harus dilakukan sebuah perencanaan dalam proses pembelajaran untuk jangka waktu tertentu. Hal-hal yang tercantum dalam kurikulum berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar dalam suatu Lembaga Pendidikan. Kurikulum tidak hanya berisikan hal-hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan saja, akan tetapi di dalam kurikulum juga mencakup pengembangan potensi dan karakter peserta didik. Kurikulum yang telah disebutkan di atas, erat kaitannya dengan manajemen pengembangan kurikulum pesantren. Kurikulum dalam pesantren tidak hanya memakai Kurikulum Nasional saja, tetapi juga menerapkan kurikulum khas pesantren yaitu pengembangan potensi peserta didik melalui kajian spiritual. Karenanya, peserta didik tidak hanya memiliki kemampuan kognitif saja, tetapi juga memiliki kemampuan afektik yang baik, terutama dalam akhlak. Upaya perbaikan pendidikan di pesantren adalah bagian dari manajemen kurikulum yang disesuaikan dengan tuntutan dan perkembangan zaman. Musabab kurikulum bukanlah sesuatu yang bisa sekali jadi, maka kurikulum harus bersifat fleksibel, dinamis dan dapat dikembangkan sesuai dengan kondisi pesantren, karakteristik santri, kondisi sosial budaya masyarakat, dan dengan memerhatikan kearifan lokal. Karena itu, tidak ada kurikulum baku, yang ada adalah kurikulum yang selalu dikembangakan secara terus menerus dan kontekstual. Manajemen kurikulum di pesantren wajib dilaksanakan dengan baik, karena pesantren adalah salah satu Lembaga Pendidikan tertua di Indonesia serta Pendidikan di pesantren mempunyai hubungan fungsional yang bersimbiosis dengan ajaran Islam. Di satu sisi, keberadaan Pesantren dipengaruhi oleh corak dan dorongan keIslaman yang dianut oleh para pendiri dan Kyai Pesantren yang membesarkannya. Tidak hanya itu, pesantren juga menjadi jembatan utama internalisasi dan penyebaran ajaran Islam, meletakkan dasar dan warna bagi Vol. No. | 49 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam semua aspek kehidupan masyarakat, agama, hukum, politik, pendidikan, dan lingkungan (Hana, dkk, 2023:. Salah satu peran dari pesantren adalah sebagai benteng pertahanan umat Islam. Selain itu, pesantren juga dapat menjadi pusat dakwah dan pusat pengembangan umat Islam Indonesia (Bustomi, dkk, 2020: . Maka dari itu, manajemen kurikulum Pendidikan di pesantren harus dikelola dengan baik. Jika manajemen kurikulum dikelola dengan baik, tujuan pembelajaran akan tercapai dan potensi peserta didik semakin berkembang. METODE PENELITIAN Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif yang bersifat . ield researc. penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Untuk dapat memperoleh data yang relevan dengan persoalan yang dibahas, maka penulis menggunakan beberapa metode yaitu dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Aktifitas dalam analisis data yaitu, reduction, display dan conclution. Langkah pertama reduction, yaitu memilah data dari hasil wawancara, observasi dan dokkumentasi. Langkah kedua, display, yaitu menyajikan data dalam bentuk narasi atau paragraph dan yang terakhir conclution, yaitu menarik kesimpulan dari semua rumusan masalah dalam penelitian. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Manajemen Kurikulum Pesantren Menurut Sulistyorini manajemen merupakan suatu hal penting yang menyentuh, memengaruhi, bahkan dapat merasuki hampir semua aspek kehidupan manusia layaknya darah dan raga. Selain itu, manajamen juga dapat memengaruhi manusia sehingga ia dapat mengenali kemampuannya berikut kelebihan dan kekurangannya (Fiandi, dkk, 2023: 3. Sedangkan kurikulum adalah dalam perspektif modern adalah suatu program pendidikan yang difasilitasi oleh lembaga pendidikan. Kurikulum tidak hanya terbatas pada bidang studi dan kegiatan belajar saja, akan tetapi juga mencakup segala sesuatu yang dapat memengaruhi perkembangan dan dapat mengembangkan kepribadian siswa sesuai dengan tujuan Secara terminologi. KH. Imam Zarkasyi mengartikan pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam dengan sistem asrama atau pondok, di mana kyai sebagai figur sentral. Vol. No. | 50 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam masjid sebagai pusat kegiatan yang menjiwainya, dan pengajaran agama Islam . ersumber dari kitab kunin. di bawah bimbingan kyai yang diikuti santri sebagai kegiatan utamanya (Amir Hamzah Wiryosukarto : 1. Berdasarkan pengertian ini tergambarlah bahwa pesantren itu terdiri dari lima unsur, yaitu : kiai, santri, pondok, mesjid dan kitab kuning. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Manajemen kurikulum pesantren adalah usaha sistematis yang dilakukan seseorang melalui aktifitas perencanaan, pengorganisasian, pelaksaan dan evaluasi kurikulum yang tentunya dilandasi nilai-nilai keislaman agar santri dapat mencapai tujuan pembelajran secara efektif dan efisien (Abdurrahman : 2. Karakteristik Manajemen Pendidikan Pesantren Berdasarkan kurikulum atau sistem pendidikan yang dipakai, pesantren mempunyai tiga jenis, yaitu: Pesantren Tradisional Pesantren ini masih mempertahankan bentuk aslinya dengan mengajarkan kitab kuning dengan menggunakan bahasa Arab gundul. Pola pengajarannya dengan menerapkan sistem halaqah yang dilaksanakan di masjid. Hakikat dari sistem pengajaran halaqah ini adalah penghapalan yang titik akhirnya dari segi metodologi cenderung kepada terciptanya santri yang menerima dan memiliki ilmu (Mastuhu : 1. Artinya ilmu tidak berkembang ke arah paripurnanya ilmu itu, melainkan hanya terbatas pada apa yang diberikan kyai. Kurikulum sepenuhnya ditentukan oleh para kyai pengasuh pondok. Di bawah ini merupakan ciri-ciri yang menonjol dari pesantren tradisional di Indonesia: Kurikulum yang digunakan hanyalah mempelajari agama saja yang bersumber dari kitab-kitab klasik. Pesantren tradisional tidak mempelajari kurikulum nasional. Pola pembelajaran menerapkan sistem halaqah. Kurikulum atau kitab yang digunakan biasanya berpedoman kepada salah satu Ketuntasan kurikulum . ntuk mendapatkan ijaza. tidak mengacu kepada sistem kelas, tetapi mengacu kepada penguasaan materi pembelajaran. Pesantren Modern Vol. No. | 51 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam Pondok pesantren modern adalah pesantren yang berusaha mengintegrasikan secara penuh sistem klasikal dan sekolah ke dalam pondok. Pengajian kitab-kitab klasik tetap ada tetapi tidak lagi menonjol bahkan ada yang cuma menjadi pelengkap dan berubah menjadi mata pelajaran seperti Pondok Pesantren Modern Gontor. Pondok Pesantren Modern Jombang. Pondok Pesantren Modern Al-Zaitun, dan sebagainya (Hasbullah. Hal ini merupakan usaha pembaharuan yang dilakukan oleh pondok pesantren agar dapat tetap eksis dalam era modernisasi. Usaha- usaha pembaharuan pesantren tradisional menuju pesantren modern dilaksanakan dengan pembenahan sistem yang Usaha-usaha pembaharuan sistem pendidikan dan pengajaran di pondok pesantren khususnya pesantren modern biasanya ditandai dengan beberapa hal yakni: Mengubah kurikulum yang orientasinya sesuai kebutuhan masyarakat. Peningkatan mutu guru dan prasarana. Melakukan pembaharuan secara bertahap. Kyai seyogyanya selaku pemilik pesantren terbuka dalam usaha pembaharuan yang (M. Ridwan Nasir, 2. Pesantren Modern merupakan pengembangan tipe pesantren karena orientasi belajarnya cenderung mengadopsi seluruh sistem belajar klasikal dan meninggalkan sistem belajar tradisional. Penerapan sistem belajar modern ini terutama tampak pada penggunaan kelas belajar baik dalam bentuk madrasah maupun sekolah. Kurikulum yang dipakai adalah kurikulum nasional (M. Bahri Ghazali : 2. Kedudukan para Kyai sebagai koordinator pelaksana proses pembelajaran dan sebagai pengajar di kelas. Perbedaannya dengan sekolah dan madrasah terletak pada porsi pendidikan agama Islam dan bahasa Arab lebih menonjol sebagai kurikulum lokal. Pesantren ini juga sudah mengadopsi kitab putih sebagai rujukan kurikulumnya. Beberapa ciri khas kurikulum yang menonjol dari pondok pesantren khalafiyah adalah : Kurikulum yang digunakan sudah tidak lagi menunjukkan ke khasan kitab kuning Tapi sudah banyak menggunakan kitab berbahasa arab berwarna putih . itab Muatan kurikulum tidak hanya mempelajari pelajaran agama islam saja, tapi juga telah mempelajari pelajaran umum. Bahkan sudah terintegrasi dengan kurikulum Pola pembelajaran sudah mengunakan pola klasikal. Kurikulum yang dipelajari sudah diatur dengan sistem tingkatan kelas dan tahun Vol. No. | 52 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam Ketuntasan kurikulum . ntuk mendapatkan ijaza. sudah mengacu kepada sistem Pesantren Konverhensif/ Konvergensi Jenis pesantren ini merupakan sistem pendidikan dan pengajaran gabungan antara tradisional dan modern (M. Bahri Ghazali : 2. Pendidikan diterapkan dengan pengajaran kitab kuning dengan metode sorongan, bandongan dan wetonan yang biasanya diajarkan pada malam hari sesudah salat Magrib dan sesudah salat Subuh. Proses pembelajaran sistem klasikal dilaksanakan pada pagi sampai siang hari seperti di madrasah/sekolah pada umumnya. Evaluasi Manajemen Kurikulm Pesantren Evaluasi menurut Mahrens dan Lehmann tahun 1978 adalah suatu proses merencanakan, memperoleh dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatifalternatif keputusan (M. Ngalim Purwanto, 1. Evaluasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui sejauh mana program yang di rencanakan berjalan sesuai yang Kegiatan ini berupa penilaian dan perbaikan-perbaikan dari kegiatan yang kurang berjalan sesuai yang diinginkan (Rounaqun RaAona, 2. Manajemen evaluasi madrasah dan pesantren adalah suatu proses evaluasi atau penataan dan pengelolaan lembaga pendidikan madrasah dan pesantren yang melibatkan sumber daya manusia dan non-manusia dalam menggerakannya mencapai tujuan pendidikan, mengetahui seberapa persen hasil yang dicapai, serta untuk menilai seberapa jauh program pendidikan telah berjalan seperti yang telah direncanakan secara efektif dan efisien. Adanya manajemen evaluasi akan memudahkan pesantren dan madrasah untuk menilai berjalannya program. Evaluasi yang dimaksud bukan hanya sekedar penilaian, tetapi evaluasi program secara Evaluasi tersebut berguna untuk menentukan apakah program layak diteruskan, direvisi atau diberhentikan karena dianggap sudah tidak bermanfaat. Evaluasi yang sering dipahami selama ini dalam dunia pendidikan adalah terbatas pada penilaian saja. Ketika sudah dilakukan penilaian, dianggap sudah melakukan evaluasi. Pemahaman demikian tidaklah terlalu tepat. Pelaksanaan penilaian cenderung hanya melihat capaian tujuan pembelajaran saja. Padahal, dalam proses pendidikan tersebut bukan hanya nilai yang dilihat, tetapi ada banyak faktor yang membuat berhasil atau tidaknya sebuah Penilaian hanya bagian kecil dari evaluasi. Evaluasi juga harus dipahami sebagai bagian dari supervisi. Evaluasi tidak hanya berurusan pada nilai yang diukur berdasarkan penyelesaian soal-soal, tetapi evaluasi program Vol. No. | 53 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam pendidikan akan mengkaji banyak faktor. Dengan demikian evaluasi program perlu diperkenalkan kepada seluruh pendidik, karena evaluasi sangat penting dalam pengembangan mutu pendidikan. Evaluasi juga akan mengukur ketercapaian setiap program yang sudah Evaluasi bisa diterapkan di dalam proses pembelajaran dalam kelas, evaluasi kebijakan, evaluasi proses, evaluasi dampak, atau evaluasi untuk pengembangan. Menurut Jody L. Patrick, dkk . 3:173-. ada tiga langkah untuk menentukan apakah suatu program dapat dievaluasi atau tidak: Mengklarifikasi teori dan model program yang diinginkan. Mengkaji implementasi program untuk menentukan apakah cocok dengan model atau teori program dan dapat mencapai tujuan program dengan tepat. Menggali pendekatan-pendekatan evaluasi yang berbeda untuk menentukan derajat dimana evaluasi tersebut memenuhi kebutuhan informasi stakeholder dan layak untuk Menyepakati prioritas-prioritas evaluasi dan penggunaan dari hasil evaluasi yang Implementasi Manajemen Pendidikan Dakwah di Pesantren Pesantren merupakan bagian integral dari struktur internal pen didikan Islam di Indonesia yang diselenggarakan secara tradisional yang telah menjadikan Islam sebagai pandangan hidup (Amin dan Abdullah, 2. Pesantren yang tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan . , tetapi berfungsi pula sebagai lembaga sosial . jtimAiyya. , dan penyiaran agama . akwah untuk tafaqquh fi al-din, telah memainkan peran penting dalam proses perubahan sosial seirama dengan dinamika masyarakat. Perubahan ini memang menjadi suatu keniscayaan dimana kompleksitas kebutuhan manusia modern sepertinya menjadi pendorong kemunculan beragam orientasi dan kebutuhan jenis pendidikan dan dakwah, yang berimplikasi pada lahirnya beragam tingkat dan model dakwah di tengah masyarakat. Ciri perubahan pesantren dan hubungan timbal balik dengan sistem di luarnya terjadi melalui proses adaptasi, inovasi, bahkan adopsi sistem pendidikan yang berasal dari luar pesantren (Puslitbang Pendidikan Agama dan Diklat Keagamaan. Kaitannya dengan fungsi pesantren sebagai pendidikan sekaligus sebagai lembaga dakwah tafaqquh fi al-din, maka diharapkan dari pesantren memunculkan ulama- ulama kelas yang berkomitmen dengan keilmuwan dan keislaman serta dewasa secara spiritual dan Dasar keilmuan pesantren yang berdsarakan al-QurAoan dan hadis sebagai Vol. No. | 54 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam pendorong bagi bangkitnya ilmu pengetahuan dan peradaban Islam masa depan. Olehnya itu, perlu adanya sebuah terobosan yang sistematis sebagai sebuah solusi baru untuk menghasilkan konsep yang mengakar pada basis epistemologi yang kuat untuk pesantren dan lulusannya benar-benar mampu menjawab tantangan zaman dan mampu memenuhi kebutuhan umat dalam berdakwah. Adapun fungsi pesantren, tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan . , tetapi juga berfungsi sebagai lembaga sosial . jtimAiyya. , dan penyiaran agama . akwah dniyya. , yakni: Pertama. Sebagai lembaga tarbawiyyah, pesantren menyelenggarakan pendidikan formal . adrasah, sekolah umum, dan perguruan tingg. , dan pendidikan nonformal yang secara khusus mengajarkan agama yang sangat kuat dipengaruhi oleh pikiran-pikiran ulama fiqh, hads, tafsr, dan tasawuf. Kedua. Sebagai lembaga ijtimAiyyah, pesantren menampung anak dari segala lapisan masyarakat muslim, tanpa membeda-bedakan tingkat sosial-ekonomi mereka. Sementara itu, setiap hari menerima tamu yang datang dari masyarakat umum, baik dari masyarakat sekitar maupun dari masyarakat Mereka yang datang bertamu mempunyai motif yang berbeda-beda. ada yang ingin bersilaturrahmi, ada yang berkonsultasi, meminta nasehat, memohon doa, berobat, dan ada pula yang meminta jimat untuk penangkal gangguan dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga. Sebagai lembaga dakwah dniyyah, mesjid pesantren juga berfungsi sebagai mesjid umum, yakni sebagai tempat belajar agama dan ibadah bagi para jamaah. Mesjid pesantren sering dipakai untuk majlis taAolim . , diskusi-diskusi keagamaan, dan sebagainya. Selain itu, kiai dan santri santri senior disamping mengajar juga berdakwah baik di dalam kota maupun di luarnya, bahkan sampai ke daerah-daerah pedalaman. SIMPULAN Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam dibawah pimpinan seorang kiai, baik melalui jalur formal maupun non formal yang bertujuan untuk mempelajari, memahami, mendalami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam yang bersumber dari kitab-kitab klasik . itab kunin. dengan menekankan pembinaan akhlak dan kepribadian sebagai pedoman kehidupan sehari-hari, serta semangat pengabdian mencari nilai-nilai ilAhiyyah. Pesantren memiliki tingkat integritas yang tinggi dengan masyarakat sekitarnya, fungsi pesantren, tidak hanya sebagai lembaga pendidikan . , tetapi juga berfungsi sebagai lembaga sosial . jtimAiyya. , dan penyiaran agama . akwah dniyya. , serta menjadi rujukan moral bagi kehidupan masyarakat umum. Vol. No. | 55 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam Masyarakat umum memandang pesantren sebagai komunitas khusus yang ideal terutama dalam bidang kehidupan moral keagamaan. Sebagai agen perubahan sosial budaya, pesantren memainkan peran dalam tiga jalur, yaitu: . Tafaqquh fi al-din melalui lembaga pendidikan dan dakwah, sebagai upaya menguasai ilmu-ilmu agama secara maksimal dan mendalam, dan melengkapinya dengan ilmu pengetahuan umum untuk menambah wawasan yang lebih luas. Pengajaran kitab kuning melalui pendekatan dialogis, kritis dan terbuka, tanpa upaya dogmatis untuk memaksakan doktrin dan pendapat tertentut. menanamkan akhlak al-karimah dalam lingkungan pesantren dengan latar belakang santri yang majemuk dan relatif heterogen dari segi budaya, suku, gender, adat kebiasaan, pola pikir, latar belakang sosial dan ekonomi mendorong terciptanya lingkungan pergaulan yang harmonis. DAFTAR PUSTAKA