Junior Medical Journal. Volume 3. No. December 2025 E-ISSN-2964-4968 Intervensi Pengetahuan Terkait ASI dan MPASI terhadap Ibu yang Memiliki Bayi dan Balita di Dusun Lendang Mamben. Desa Anyar. Kecamatan Bayan. Kabupaten Lombok Utara Knowledge Intervention Regarding Breastfeeding and Complementary Feeding for Mothers with Infants and Toddlers in Lendang Mamben Hamlet. Anyar Village. Bayan District. North Lombok Regency Hasanatul Fitriani 1 . Ida Ayu Kirtiasih 2 1,2Program Internship Dokter Indonesia Puskesmas Bayan. Kabupaten Lombok Utara. Provinsi Nusa Tenggara Barat Email : rianyfitri31@gmail. com1 , dayumank10@gmail. KATA KUNCI Pengetahuan. Ibu. ASI dan MPASI ABSTRAK Tujuan penelitian ini untuk melihat pengaruh intervensi pengetahuan ibu yang memiliki bayi dan balita di posyandu dusun Lendang Mamben terkait ASI dan MPASI. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kuasi eksperimen dengan rancangan non randomized pre test and post test noncontrol design. Responden penelitian adalah ibu-ibu yang memiliki bayi balita di posyandu dusun Lendang Mamben, desa Anyar. Kecamatan Bayan. Analisis data dengan menggunakan uji Willcoxon dikarenakan distribusi data tidak normal. Intervensi pengetahuan ibu terkait ASI dan MPASI dilakukan menggunakan media penyuluhan menggunakan Power Point dan pamplet serta workshop menunjukkan secara langsung bagaimana membuat MPASI yang baik dan benar sesuai tekstur berdasarkan usia anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan pengetahuan pre dan post intervensi sebesar 081 . =0,. Saran bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan intervensi dengan metode yang lebih dikembangkan dan lebih kreatif agar ibu-ibu lebih antusias pada saat intervensi. KEYWORDS Knowledge. Mothers. Breastfeeding. Complementary Feeding ABSTRACT The purpose of this study was to examine the effect of an intervention on the knowledge of mothers with infants and toddlers at the integrated health post (Posyand. in Lendang Mamben Hamlet regarding breastfeeding and complementary feeding (MPASI). The study used a quasi-experimental method with a non-randomized pre-test and post-test non-controlled design. The study respondents were mothers with infants and toddlers at the Junior Medical Journal. Volume 3. No. December 2025 E-ISSN-2964-4968 integrated health post (Posyand. in Lendang Mamben Hamlet. Anyar Village. Bayan District. Data analysis used the Willcoxon test due to the non-normal distribution of the data. The intervention to assess mothers' knowledge regarding breastfeeding and complementary feeding (MPASI) was conducted using PowerPoint presentations and pamphlets, as well as workshops that directly demonstrated how to prepare good and correct MPASI, according to the texture and age of the child. The results showed an increase in knowledge of 5,081 points before and after the intervention . =0. Future researchers are advised to develop more creative intervention methods to increase mothers' enthusiasm during the PENDAHULUAN Gizi kurang adalah gangguan kesehatan akibat kekurangan atau ketidakseimbangan zat gizi, salah satu hal terpenting dalam masa ini adalah cara memperian MP-ASI selama masa MP-ASI mengandung zat gizi, diberikan kepada balita atau anak usia 6--24 bulan, dan diberikan secara bertahap sesuai dengan usia serta kemampuan pencernaan balita guna memenuhi kebutuhan gizi, selain ASI. MP-ASI dibutuhkan karena pada usia 6--24 bulan. ASI hanya menyediakan 1/2 kebutuhan gizi balita, dan pada usia 12--24 bulan. ASI menyediakan 1/3 dari kebutuhan gizinya (Kemenkes RI, 2. Peranan seorang ibu dalam keluarga adalah sangat penting dalam MP-ASI. Penanganan yang baik yang dilakukan oleh ibu dalam pemberian MPASI kepada bayinya berpotensi untuk mencapai bayi yang sehat baik dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Namun dalam kenyataannya masih banyak terjadi masalah pemberian MPASI pada bayi dan hal tersebut didasari oleh banyak faktor terutama dari faktor perilaku ibu sendiri. Asupan gizi balita dipengaruhi oleh bagaimana pengetahuan tentang gizi seimbang ibu dalam pemilihan ragam makanan yang akan diberikan Semakin pengetahuan tentang gizi seimbang ibu maka status gizi anakpun akan semakin Menurut kementrian RI gizi seimbang adalah susunan makanan sehari Ae hari yang mengandung zat Ae zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh. Peran ibu sangatlah penting dalam pemenuhan gizi mempersiapkan makanan yang akan dikonsumsi balita (Uliyanti. Tamtono, & Anantayu, 2. Berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. tahun 2018 terdapat kasus gizi kurang sebanyak 13,8%, dan hasil Riset Kesehatan Dasar NTB, dikabupaten Lombok Utara adalah 11,24%. Sedangkan menurut ePPGBM (Pencatatan dan Pelaporan gizi Berbasis Masyaraka. Provinsi NTB diperoleh jumlah kasus gizi kurang menurut BB/TB di Kabupaten Lombok Utara Junior Medical Journal. Volume 3. No. December 2025 E-ISSN-2964-4968 sebanyak 212 orang atau sebesar 24,16 % dan menurut data dipuskesmas Tanjung sebanyak 53 orang mengalami gizi Kabupaten Lombok Utara merupakan salah satu Kabupaten diwilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan prevalensi gizi kurang yang tinggi, yaitu sebesar 24,16 %. Desa tanjung memiliki kasus gizi kurang terbanyak dibandingkan desa lain yaitu 33 balita atau sebesar 62,2%. Desa Sokong sebesar 3,7%. Desa Medana sebesar 5,6%. Desa Tegal Maja sebesar 13,2%. Desa Teniga sebesar 3,7%, dan Desa Sigar Penjalin sebesar 11,3%. Intervensi dilakukan di desa Anyar. Kecamatan Bayan dikarenakan sasaran tertinggi terdapat pada desa Anyar sebanyak 124 Jumlah stunting tertinggi terdapat pada desa Senaru, akan tetapi desa senaru bukan merupakan wilayah kerja puskesmas Bayan sehingga intervensi dilakukan di desa Anyar yang merupakan wilayah kerja puskesmas Bayan. METODE Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kuasi eksperimen dengan menggunakan rancangan non randomized pre test dan post test non control Kegiatan intervensi ini akan dimonitor dan dievaluasi untuk usaha intervensi dengan pengisian pre-test dan post-test sebanyak 10 soal yang berisi mengenai pengetahuan terkait ASI dan MPASI. Nilai berkisar antara 0 sampai Data tersebut akan diolah menggunakan software Microsoft Excel dan SPSS, serta akan diuji dengan uji normalitas dan uji korelasi antara hasil pre-test dan post-test apakah signifikan atau tidak. Sampel yang digunakan adalah ibu-ibu yang datang ke posyandu dusun Lendang Mamben dengan kriteria ibu yang memiliki bayi dan balita dengan usia anak 0-24 bulan dengan sampel minimal 30 berdasarkan central limit theorem untuk penelitian kuantitatif. Sebelum dilakukannya analisis data, dilakukan terlebih dahulu uji normalitas menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk dikarenakan sampel berjumlah kurang dari 50, dikarenakan data terdistribusi secara tidak normal makan uji analisa yang dilakukan menggunakan uji Willcoxon. Selain itu dilakukan juga uji spearman untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara paritas atau jumlah anak dengan pengetahuan Waktu intervensi dilakukan pada hari selasa, 14 Oktober 2025 di posyandu dusun Lendang Mamben. Desa Anyar. Kecamatan Bayan. Setelah dilakukannya penyuluhan diberikan hadiah bagi ibuibu yang aktif dan mendapatkan nilai postest tertinggi sebanyak 5 orang yang Adapun adalah sebagai berikut: ASI Eksklusif. Pemberian ASI secara eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan dapat mencukupi kebutuhan nutrisi bayi untuk tumbuh dan berkembang. Laktosa dan protein pada ASI dapat diserap lebih baik oleh tubuh bayi dibanding dengan susu Protein yang terkandung dalam ASI perkembangan jaringan otak, saraf. Junior Medical Journal. Volume 3. No. December 2025 E-ISSN-2964-4968 kematangan usus, penyerapan zat besi, dan daya tahan tubuh. Jumlah tersebut lebih besar dibanding dengan susu Lemak pada ASI memiliki profil yang berbeda dibanding dengan lemak dalam susu formula. Lemak diperlukan untuk pertumbuhan jaringan saraf dan retina mata. Selain itu. ASI juga kaya akan vitamin dan mineral yang berperan dalam pembentukan sel dan jaringan. Produksi dan pemberian ASI tidak selalu sama setiap harinya, yaitu antara 450 Ae 1200 ml perhari. Makanan Pendamping ASI (MPASI). Setelah usia 6 bulan. ASI saja tidak dapat memenuhi kebutuhan anak, sehingga diperlukan asupan tambahan Makanan Pendamping ASI (MPASI). Anak dapat diberikan MPASI ketika sudah dapat duduk dengan leher tegak dan mengangkat kepalanya sendiri tanpa menunjukkan ketertarikan terhadap makanan, misalnya mencoba meraih makanan yang ada dihadapannya, serta anak menjadi lebih lapar dan tetap menunjukkan tanda lapar seperti gelisah dan tidak tenang walaupun sudah diberikan ASI secara rutin. Strategi yang perlu diperhatikan ketika memberikan MPASI adalah harus tepat waktu, adekuat, aman dan higienis, serta diberikan secara responsive. Pemberian MPASI dimulai saat anak berusia 6 bulan. MPASI diberikan 2 kali sehari dengan jumlah 2 Ae 3 sendok makanan pendamping ASI dalam sekali makan sebagai awalan. Mulai MPASI dengan makanan yang dihaluskan sehingga menjadi bubur kental. Saat usia 6 Ae 9 frekuensi 2 hingga 3 kali makan dengan 1 sampai 2 kali selingan setiap harinya. Jumlah yang diberikan sebanyak setengah mangkuk berukuran 250 ml dengan tekstur bubur kental atau makanan yang dilumatkan hingga halus. Pemberian MPASI pada usia 9Ae 12 bulan diberikan 3 hingga 4 kali makan dengan 1 sampai 2 kali selingan setiap harinya. Jumlah makanan sebanyak setengah mangkuk berukuran 250 ml. Makan yang dapat diberikan berupa makanan yang dicincang halus, dicincang kasar, atau makanan yang dapat dipegang oleh anak. Makanan Pendamping ASI pada anak usia 12 hingga 24 bulan diberikan 3 hingga 4 kali makan dan 1 sampai 2 kali selingan tiap harinya dengan jumlah tiga perempat mangkuk berukuran 250ml sekali makan. Anak sudah dapat diperkenalkan dengan makanan keluarga yang dihaluskan atau dicincang seperlunya. HASIL Intervensi dilakukan pada hari Selasa, 14 Oktober 2025 di Posyandu Dusun Lendang Mamben pada pukul 09:00 WITA - selesai dengan total responden 40, dengan kriteria ibu-ibu yang memiliki bayi dan balita. Saat pengambilan data, responden diminta mengisi identitas terdiri dari nama, usia, pendidikan terakhir dan paritas. Usia Responden Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan Usia Usia Jumlah Presentasi Junior Medical Journal. Volume 3. No. December 2025 E-ISSN-2964-4968 Total Total Tabel 1. Menggambarkan bahwa jumlah tertinggi terdapat pada usia rentang 25 -34 tahun dengan jumlah 24 responden . %), kemudian diikuti oleh usia 15-24 dan 35-44 tahun dengan jumlah yang sama yaitu 8 responden . %). Pendidikan Terakhir Responden Tabel 2. Distribusi Pendidikan Terakhir Responden Pendidikan Jumlah Presentasi SMP 42,5% SMA 27,5% 2,5% 7,5% Total Tabel 2. Menggambarkan bahwa Sebagian besar responden merupakan lulusan SMP/Sederajat dengan jumlah 17 orang . ,5%) kemudian diikuti dengan lulusan SMA/Sederajat dengan jumlah 11 orang . ,5%). Jumlah terendah terdapat pada Pendidikan terakhir D3 yaitu sebanyak 2 orang . 5%). Paritas Responden Tabel 3. Distribusi Paritas Responden Jumlah Anak Jumlah Presentasi 32,5% 67,5% Tabel 3. Menggambarkan bahwa Sebagian besar responden memiliki anak lebih dari 1 yaitu dengan jumlah 27 responden . ,5%). Hasil Intervensi Hasil Nilai Pre-test dan Post-test Responden diberikan 10 soal mengenai ASI dan MPASI. Mengisi soal pre-test dilakukan sebelum dilakukannya pembuatan MPASI. Setelah materi mengerjakan soal post-test dengan soal yang sama untuk menilai keberhasilan dari intervensi yang dilakukan. Tabel 4. Distribusi Hasil Nilai Pre-test Responden Nilai Jumlah Frekuensi Presentasi 7,5% 7,5% 22,5% 7,5% Tabel 4. menggambarkan bahwa nilai terendah yaitu 40 sebanyak 4 pengetahuan buruk mengenai ASI dan MPASI. Terdapat nilai tertinggi 100 sebanyak 3 responden . ,5%). Mayoritas responden memiliki nilai 70 sebanyak 12 responden . %). Tabel 5. Distribusi Nilai Post-test Responden Junior Medical Journal. Volume 3. No. December 2025 E-ISSN-2964-4968 Nilai Jumlah Frekuensi Presentasi 2,5% 32,5% 1 responden . ,5%). Terdapat nilai tertinggi 100 sebanyak 13 responden . ,5%). Mayoritas responden memiliki nilai 90 sebanyak 14 responden . %). Tabel bahwa nilai terendah yaitu 70 sebanyak Tabel 6. Perbandingan Nilai Pre-test dan Post-test Hasil Mea Mini Maksim 72,25 Pretest Posttest 89,75 Tabel 6. bahwa terdapat perbedaan pada hasil pre-test dan post-test. Hasil pengerjaan pre-test menghasilkan nilai minimum 40 dengan nilai rata-rata pre-test 72,25 dan nilai maksimum 100. Hasil pengerjaan post-test menghasilkan nilai minimum 70 dengan nilai rata-rata 89,75 dan nilai Hasil Uji Normalitas Pre-test dan Post-test Tabel 7. Uji Normalitas Nilai Pre-test dan Post-test Pretest Posttest KolmogorovSmirnov Shapiro-Wilk Stat Sig. Stat Sig. Tabel 7. menunjukkan hasil uji normalitas dari nilai pre-test dan posttest. Uji normalitas yang digunakan adalah Uji normalitas Shapiro-Wilk. Hal ini disebabkan karena responden berjumlah kurang dari 50 responden. Hasil nilai signifikan (Sig. ) yang didapatkan pada pre-test sebesar 0. sedangkan pada post-test 0. Asumsi normalitas tidak terpenuhi karena nilai signifikansi didapatkan p-value < 0,05 sehingga dapat dikatakan bahwa distribusi atau persebaran data terdistribusi secara tidak normal. Uji Korelasi Hasil Pre-test dan Post-test Uji korelasi yang digunakan kali ini merupakan uji korelasi Willcoxon. Hal ini disebabkan karena data terdistribusi secara tidak normal Tabel 8. Uji Korelasi Hasil Pre-test dan Post-test Mean Rank Sum of Ranks Negative Ranks Positive Ranks Ties Total Junior Medical Journal. Volume 3. No. December 2025 E-ISSN-2964-4968 Test Statistics POST-PRE Asymp. Sig. Pada tabel 8. didapatkan bahwa nilai signifikasi atau p-value yang didapatkan adalah sebesar 0. -value < 0. Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan signifikan antara hasil pretest dan post-test dengan signifikansi Uji Korelasi Hasil Pre-test dan Paritas Responden Pada tabel 9. didapatkan bahwa nilai signifikasi atau p-value didapatkan 954 . -value > 0. Hal ini menunjukkan tidak ada hubungan antara hasil pre-test dengan jumlah anak atau paritas responden. DISKUSI Analisa Univariat dilakukan untuk melihat distribusi karakteristik dari responden berdasarkan usia, pendidikan terakhir, dan paritas jumlah tertinggi terdapat pada usia rentang 25 -34 tahun dengan jumlah 24 responden . %), hamper setengah dari responden merupakan lulusan SMP/Sederajat dengan jumlah 17 orang . ,5%), dan sebagian besar responden memiliki anak lebih dari 1 yaitu dengan jumlah 27 responden . ,5%). Setelah dilakukan intervensi di Posyandu Dusun Lendang Mamben. Tabel 9. Uji Korelasi Hasil Pre-test dan Paritas Responden SpearmanAos Pre-test Correlation Coefficient Sig. Anak Correlation Coefficient Sig. PRE Anak pengetahuan tentang pentingnya ASI dan MPASI menunjukkan peningkatan yang signifikan. Sebelum intervensi dilakukan, responden diberikan pret-test untuk menilai tingkat pengetahuannya terkait topik tersebut. Hasil pre-test menunjukkan nilai rata-rata 72,25 dengan nilai terendah 40. Setelah workshop, hasil post-test mengalami peningkatan dengan nilai rata-rata 89,75 dan nilai terendah 70. Peningkatan ini menunjukkan bahwa intervensi edukasi berhasil meningkatkan pengetahuan responden tentang ASI dan MPASI. Uji normalitas menggunakan Shapiro-Wilk menunjukkan bahwa data Junior Medical Journal. Volume 3. No. December 2025 E-ISSN-2964-4968 pre-test dan post-test berdistribusi tidak normal sehingga menggunakan uji non Selanjutnya, uji korelasi Willcoxon perbedaan yang signifikan antara hasil pre-test dan post-test dengan nilai signifikansi sebesar 0,000. Hasil tersebut penyuluhan dan workshop memberikan dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan responden. Hasil pre-test dan post-test pengetahuan yang signifikan, hal ini menunjukkan bahwa metode edukasi yang digunakan efektif. Penyuluhan yang dilakukan dengan menggunakan media power point dan pemeragaan langsung bagaimana cara pembuatan MPASI sesuai dengan usia terbukti berhasil dalam menyampaikan informasi tentang ASI dan MPASI kepada ibu-ibu yang memiliki bayi dan balita. Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa edukasi kesehatan melalui media visual dan kesadaran responden terhadap topik kesehatan tertentu. Hasil uji korelasi antara paritas dan nilai pre-test responden menunjukkan tidak ada korelasi atau hubungan dengan nilai pvelue hasil 0. -value > 0. Hal ini sesuai dengan penelitian (Adelia,2. yang didapatkan p-value . ,237 > 0,. , artinya tidak ada hubungan antara paritas dengan pemberian MPASI. Penelitian yang dilakukan oleh Namira et al. menemukan bahwa demonstrasi langsung lebih efektif dalam meningkatkan pengetahuan ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI. Penelitian ini sejalan dengan hasil yang kami peroleh, dimana penggunaan media visual dan memperagakan secara langsung dalam penyuluhan terbukti Mayoritas responden mengalami signifikan setelah dilakukan intervensi. Nilai rata-rata post-test yang lebih tinggi menunjukkan bahwa informasi yang disampaikan selama penyuluhan dapat diterima dengan baik oleh responden. Selain itu, sesi tanya jawab yang dilakukan kemudian pemberian hadian untuk ibu-ibu yang aktif dan mendapat nilai tertinggi setelah penyuluhan juga turut meningkatkan antusiasme para Berdasarkan hal tersebut jenis meningkatkan pengetahuan ibu di memanfaatkan media cetak . ooklet, leaflet, poster dan lembar bali. , penyuluhan dengan menggunakan audio visual, penyuluhan dengan film metode presentasi. Serta edukasi yang penglihatan dan indra pendengaran Dengan berbagai jenis edukasi tersebut kita dapat meningkatkan pengetahuan ibu mengenai MP-ASI lebih efektif. KESIMPULAN Junior Medical Journal. Volume 3. No. December 2025 E-ISSN-2964-4968 Berdasarkan hasil pre-test dan post-test kegiatan ini dapat disimpulkan bahwa penyuluhan dan workshop pengetahuan responden. Adanya sesi tanya jawab membuat responden mendalami materi penyuluhan yang diberikan sehingga informasi yang diberikan tersampaikan dengan baik. Selain menggunakan power point,pamphlet, dan emperagakan secara langsung semakin responden untuk menerima informasi yang diberikan. Pemberian hadiah yang diberikan pada responden yang aktif dan dengan nilai post-test tertinggi dapat kegiatan intervensi berjalan. SARAN Bagi pemegang program gizi di puskesmas, penyuluhan dengan metode demonstrasi dapat menjadi salah satu cara penyampaian pesan gizi yang menarik dan mudah untuk Petugas puskesmas dapat melatih kader dengan materi pemberian Makanan Pendamping ASI bayi yang baik dalam upaya penanggulangan masalah gizi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan. Sehingga penyampaian pesan gizi kepada kelompok sasaran bisa Dengan kegiatan tersebut diharapkan dapat menekan angka stunting yang ada di wilayah kerja puskesmas Bayan. Bagi responden agar lebih teliti pendamping ASI pada bayi terutama pada masa pengenalan 6-8 bulan, makanan selain ASI. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan intervensi dengan metode yang lebih dikembangkan dan lebih kreatif agar ibu-ibu lebih antusias pada saat intervensi. UCAPAN TERIMA KASIH