p Ae ISSN : 2721 Ae 7752 | e Ae ISSN : 2721 Ae 9704 Buletin GAW Bariri (BGB) Volume 1 | Nomor 2 | Desember 2020 : 87 Ae 93 Buletin GAW Bariri Pemodelan Run Ae up Tsunami di Wilayah Pesisir Pantai Sulawesi Barat Erwan Susanto1*. Inna Nurana2. Akbar Rian Setyahagi 3 Stasiun Geofisika Gowa. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Sulawesi Selatan, 92112 Stasiun Geofisika Aceh Besar. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Stasiun Geofisika Nganjuk. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Jawa Timur, 64475 Email: erwansusanto0305@gmail. Naskah Masuk: 16 Juni 2020 | Naskah Diterima: 12 November 2020 | Naskah Terbit: 01 Desember 2020 Abstrak. Wilayah Indonesia memiliki tatanan tektonik yang kompleks, sehingga menjadikan wilayahnya rawan terhadap kejadian gempa bumi. Gempa bumi merupakan salah satu faktor terbesar penyebab terjadinya tsunami. Wilayah pesisir Pantai Sulawesi Barat memiliki tingkat bahaya tinggi terhadap kejadian gempa bumi dan tsunami karena berdekatan dengan Sesar Naik Makassar yang merupakan salah satu sesar aktif yang ada di wilayah Sulawesi Barat. Dari beberapa latar belakang diatas penulis akan melakukan penelitian tentang pemodelan run Ae up tsunami di wilayah pesisir Pantai Sulawesi Barat. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data parameter sesar pembangkit tsunami, data batimetri dari GEBCO (General Bathymetric Chart of The Ocea. dan data topografi Digital Elevation Medel (DEM) SRTM. Dalam pemodelan ini menggunakan bantuan perangkat lunak TUNAMI Ae N2. Hasil dari pemodelan ini menunjukkan bahwa run Ae up maksimum di wilayah pesisir Pantai Sulawesi Barat mencapai 11. 75453 meter di titik observasi Pelabuhan Cinoka Mamuju Utara. Kata Kunci: Pemodelan Tsunami. TUNAMI Ae N2. Run Up Abstract. The terriotory of Indonesia has a complex tectonic arrangement, making it prone to Earthquakes are one of the biggest factors causing tsunamis. The coastal area of the West Sulawesi coast has a high level of danger from earthquakes and tsunamis because it is close to the Makassar Rise Fault, which is one of the active faults in the West Sulawesi region. From the above background, the writer will conduct research on tsunami run-up modeling in the coastal area of the West Sulawesi coast. The data used in this research are tsunami generator fault parameter data, bathymetric data from GEBCO (General Bathymetric Chart of The Ocea. and SRTM Digital Elevation Medel (DEM) topography data. In this modeling using the help of the TUNAMI Ae N2 software. The results of this modeling indicate that the maximum run Ae up in the coastal area of the West Sulawesi coast reaches 11. 75453 meters at the observation point of Cinoka Mamuju Utara Port. Keywords: Tsunami Modeling. TUNAMI Ae N2. Run Up Pemodelan Run Ae up Tsunami a. AA. Erwan Susanto, dkk Hal | 87 Pemodelan Run Ae up Tsunami a. AA. Erwan Susanto, dkk Pendahuluan Wilayah Indonesia memiliki tatanan tektonik yang kompleks. Hal ini dikarenakan Indonesia berada pada pertemuan tiga lempeng besar yaitu lempeng Pasifik. Indo Ae Australia, dan Eurasia. Pertemuan lempeng tersebut menyebabkan terbentuknya zona subduksi. Selain itu. Indonesia juga memiliki ratusan sesar yang masih aktif bergerak. Berdasarkan tatanan tektonik tersebut. Indonesia menjadi salah satu negara yang rawan terhadap gempa bumi . Gempa bumi merupakan salah satu faktor terbesar penyebab terjadinya tsunami. Di Indonesia, tercatat beberapa kejadian tsunami yang disebabkan oleh gempa bumi. Kejadian tsunami tersebut sebagian besar disebabkan oleh gempa Ae gempa tektonik di sepanjang daerah subduksi dan daerah seismik aktif lainnya. Seperti dalam penelitian Diposaptono . , disebutkan bahwa dalam kurun waktu tahun 1600 sampai 2007, terjadi kurang lebih 109 Dari jumlah tersebut, 90% di antaranya disebabkan oleh gempa tektonik, 9% akibat letusan gunung berapi, dan hanya 1% yang dipicu oleh longsoran. Pulau Sulawesi merupakan salah satu daerah yang tersusun oleh tatanan tektonik yang kompleks dengan stuktur Ae struktur teridentifikasi yang hingga saat ini masih aktif bergerak dan sering menghasilkan Salah satu sesar aktif di Sulawesi adalah Sesar Naik Makassar atau yang sering dikenal dengan Makassar Thrust. Sesar ini terbagi menjadi 4 segmen yaitu North. Central. Mamuju dan Somba dengan mekanisme pergerakannya adalah reverse. Makassar Thrust memiliki pergerakan antara 1 Ae 5 mm per tahun . Kota Mamuju merupakan Ibukota dari Provinsi Sulawesi Barat. Hal ini menjadikan Kota Mamuju memiliki jumlah penduduk yang cukup padat. Kota Mamuju memiliki obyek wisata yang sangat terkenal dan banyak dikunjungi banyak wisatawan yaitu Pantai Manakara. Wilayah Pantai Manakara merupakan daerah yang padat penduduk dan memiliki banyak bangunan berupa hotel, mall, ruko, restoran, dan pemukiman penduduk. Beberapa faktor tersebut menjadikan wilayah Pantai Manakara rentan terhadap kejadian tsunami. Wilayah Pantai Manakarra memiliki tingkat bahaya tinggi terhadap kejadian gempa bumi dan tsunami karena berdekatan dengan Sesar Naik Makassar yang merupakan salah satu sesar aktif yang ada di wilayah Sulawesi Barat. Data historis menyebutkan bahwa terdapat tiga gempa bumi yang membangkitkan tsunami bersumber dari sesar tersebut. Tsunami yang dibangkitkan melanda beberapa wilayah termasuk Pantai Manakara dan menyebabkan banyak kerugian material maupun korban Dari beberapa latarbelakang diatas penulis akan melakukan penelitian tentang pemodelan run Ae up tsunami di wilayah pesisir Pantai Sulawesi Barat. Rumusan masalah yang ingin dipecahkan dalam penelitian adalah berapa run Ae up maksimum gelombang tsunami di pesisir Pantai Sulawesi Barat?. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui run Ae up maksimum gelombang tsunami di pesisir Pantai Sulawesi Barat. Pengertian Tsunami Istilah tsunami berasal dari bahasa Jepang yaitu tsu yang artinya pelabuhan dan nami yang artinya Tsunami dapat didefinisikan sebagai rangkaian gelombang yang dibangkitkan akibat pergerakan kolom air dalam arah vertikal secara tiba Ae tiba . Beberapa penyebab terjadinya tsunami adalah aktifitas seismik, letusan gunung api di bawah laut atau gunung api pulau, tanah longsor di laut, benda jatuh dari luar angkasa, dan karena adanya fenomena meteorologi (Bryant. Tsunami disebabkan karena adanya kenaikan air laut secara tiba Ae tiba. Kenaikan tersebut disebabkan karena adanya deformasi dasar laut yang memindahkan volume air diatasnya . Pergerakan sesar secara vertikal pada dasar lantai Samudera akan menaikkan dan menurunkan air laut dalam skala yang besar . Kecepatan penjalaran gelombang tsunami merupakan salah satu bentuk gelombang yang bergantung pada kedalaman perairan dan tidak bergantung pada periode gelombang tersebut . Secara matematis hubungan antara korelasi tersebut sebagai berikut . C = Oogh dan L = T x C Buletin GAW Bariri (BGB) Vol. 1 No. 2 Tahun 2020 : 87 Ae 93 Hal | 88 Buletin GAW Bariri Pemodelan Run Ae up Tsunami a. AA. Erwan Susanto, dkk : kedalaman bathimetri . : periode gelombang . : kecepatan gelombang tsunami . : percepatan gravitasi Bumi . 81 m/s. : panjang gelombang tsunami . Istilah dalam Tsunami Gelombang tsunami yang memasuki daratan memiliki beberapa istilah yang biasa disebut dengan parameter tsunami. Parameter tsunami ini merupakan catatan penting yang dapat dianalisa dan digunakan dalam studi paleotsunami, pemodelan tsunami dan pembuatan jalur evakuasi . Tabel 1. Istilah dalam tsunami Istilah Run Ae up Height adalah ketinggian tsunami pada titik inundasi maksimum di daratan dihitung dari referensi muka air laut saat terjadinya tsunami. Inundasi adalah jarak horizontal terjauh yang dijangkau oleh gelombang tsunami dari garis pantai. Semakin landai pantai maka jarak jangkauan inundasi semakin jauh dan panjang dari garis pantai. Flow depth adalah ketinggian tsunami di atas daratan dihitung dari ketinggian topografi, setiap jangkauan flow depth dari jarak inundasi berbeda Ae beda tergantung topografi permukaan pantai Tsunami Height adalah jumlah dari flow depth dan tinggi muka tanah dihitung dari referensi muka air Referensi muka air laut atau Mean Sea Level (MSL) adalah rata Ae rata nilai tinggi muka air laut pada jangka waktu yang lama. Gambar 1. Ilustrasi istilah yang digunakan dalam pembahasan tsunami Gempa Bumi Pembangkit Tsunami Tidak semua gempa bumi dapat membangkitkan tsunami. Untuk membangkitkan tsunami, sumber gempa bumi harus berada di bawah atau dekat dengan Samudera sehingga menyebabkan terjadinya pergerakan vertikal dari permukaan air di atas sebuah area yang luas . Tsunami besar yang merusak disebabkan oleh gempa bumi dangkal . urang dari 70 k. dan hiposenter gempa berada di sekitar zona subduksi . Menurut BMKG, gempa bumi yang memicu terjadinya tsunami mempunyai parameter yang disajikan pada Tabel 2. Buletin GAW Bariri (BGB) Vol. 1 No. 2 Tahun 2020 : 87 Ae 93 Hal | 89 Buletin GAW Bariri Pemodelan Run Ae up Tsunami a. AA. Erwan Susanto, dkk Tabel 2. Parameter gempa bumi pembangkit tsunami Parameter Mempunyai magnitudo (M) yang besar yaitu M Ou 7. Sumber gempa bumi berada di bawah laut dengan dangkal . O 70 k. Terjadinya deformasi atau perubahan dasar laut secara vertikal yang bisa dilihat dari mekanisme pusat gempa bumi yang berupa sesar turun . ormal faul. dan sesar naik . hrust faul. Jarak pusat gempa bumi dari pantai yang memungkinkan terbentuknya tsunami. Jika gempa bumi terjadi tepat di tepi pantai, kecil kemungkinan terjadinya tsunami walaupun dampak dari gempa bumi tersebut akan besar. Kedalaman air juga memainkan peran penting di sini. Metode Penelitian Lokasi penelitian berada di pesisir Pantai Sulawesi Barat yang berada. Segitiga merah pada Gambar 2 adalah lokasi observasi run Ae up tsunami. Titik observasi di sepanjang pesisir Pantai Sulawesi Barat terdiri dari 10 titik observasi yang penentuanya berdasarkan pada daerah yang strategis seperti tempat wisata dan pelabuhan. Gambar 2. Lokasi penelitian Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa data parameter sesar pembangkit tsunami, data batimetri dari GEBCO (General Bathymetric Chart of The Ocea. dan data topografi dari Digital Elevation Medel (DEM) SRTM . Fauth Length . Faults Width . Tabel 3. Parameter sesar naik Makassar Strike Dip . Rake . Depth . Dalam pemodelan penjalaran tsunami, penulis menggunakan bantuan software TUNAMI Ae N2 (Tohoku UniversityAos Numerical Analysis Model Investigation of Tsunami No . untuk mendapatkan estimasi run Ae up gelombang tsunami . Pemodelannya TUNAMI Ae N2 menggunakan skema numerik leap Ae frog untuk menyelesaikan persamaan Ae persamaan dasar perambatan gelombang linear di laut dalam dan laut dangkal. Sedangkan dalam penentuan resolusi wilayah yang lebih tinggi digunakan skema grid bersarang . ested gri. Pemodelan dari TUNAMI Ae N2 menggunakan input data parameter Sesar Naik Makassar berupa fault lenght, rake, dip, dan strake sebagai skenario pembangkit tsunami . Data parameter sesar tersebut selanjutnya akan menghasilkan skenario gempa bumi yang mungkin bisa terjadi. Data skenario gempa bumi selanjutnya ditambah dengan data bathimetri dan topografi lalu dimodelkan dengan TUNAMI Ae N2, pemodelan ini menghasilkan run Ae up gelombang Buletin GAW Bariri (BGB) Vol. 1 No. 2 Tahun 2020 : 87 Ae 93 Hal | 90 Buletin GAW Bariri Pemodelan Run Ae up Tsunami a. AA. Erwan Susanto, dkk HASIL DAN PEMBAHASAN Perangkat lunak TUNAMI Ae N2 digunakan untuk melakukan pemodelan tsunami wilayah pesisir Pantai Sulawesi Barat untuk mendapatkan run Ae up gelombang tsunami dengan menggunakan skenario gempa bumi yang dikeluarkan oleh Pusat Studi Gempa Nasional. Skenario gempa bumi yang digunakan dalam pemodelan ini adalah gempa bumi tektonik yang disebabkan oleh pergerakan Sesar Naik Makassar. Pada penelitian ini pemodelan tsunami dilakukan selama 120 menit. Estimasi penjalaran gelombang tsunami setelah gempa bumi terjadi ditunjukkan pada snapshot hasil pemodelan dengan perubahan waktu setiap 1 menit. Warna merah pada snapshot hasil pemodelan merupakan pergerakan gelombang tsunami uplift . dan warna biru merupakan pergerakan gelombang tsunami subsidence . Gelombang yang berbahaya adalah gelombang naik yang bisa mencapai daratan dan merendam pemukiman masyarakat. Hasil snapshot penjalaran gelombang tsunami tiap layernya adalah seperti yang ditampilkan pada Gambar 2. Gambar 2. Pemodelan tsunami pada layer 1 . t = 0 menit, . t = 3 menit, . t = 6 menit, . t = 9 menit, . t = 12 menit dan . t = 15 menit Gambar 2. Ae . menunjukkan estimasi penjalaran gelombang tsunami pada t = 0, 3, 6, 9, 12 dan 15 menit setelah gempa bumi terjadi pada layer 1. Warna merah pada Gambar 2 merupakan pergerakan gelombang tsunami uplift . dan warna biru merupakan pergerakan gelombang tsunami subsidence . Dalam pemodelan tsunami ini deformasi muka laut terjadi pada waktu t = 0 yang berarti deformasi lantai samudra yang dianggap merepresentasikan deformasi muka air laut di permukaan. Ketika sesaat setelah gempa bumi terjadi deformasi bidang patahan di dasar laut yang menyebabkan turunnya muka air laut bagian timur patahan yang ditandai dengan warna biru dan kenaikan di bagian barat patahan yang ditandai dengan warna merah. Pola penjalaran tsunami akibat gempa bumi ini dominan ke arah barat dan timur dari patahan sesuai dengan slip angle atau sudut pergerakan patahan yang tegak lurus terhadap arah strike. Selanjutnya run Ae up gelombang tsunami di setiap titik observasi dibuat kedalam tabel agar mudah dipahami seperti pada Tabel 2. Buletin GAW Bariri (BGB) Vol. 1 No. 2 Tahun 2020 : 87 Ae 93 Hal | 91 Buletin GAW Bariri Pemodelan Run Ae up Tsunami a. AA. Erwan Susanto, dkk Tabel 2. Run Ae up tsunami di titik observasi Longitude Latitude Ae1. Ae1. Ae2. Ae2. Ae2. Pantai Tanjung Babia. Mamuju Utara Pelabuhan Cinoka. Mamuju Utara Kelurahan Kire. Mamuju Pelabuhan Belang Ae belang. Mamuju Dermaga Pulau Ujung Bulo Run Ae up . Ae2. Ae2. Ae3. Ae3. Pantai Manakarra. Mamuju Pantai Tapandulu. Mamuju Pelabuhan Palipi. Majene Pantai Barene. Majene Ae3. Pelabuhan Tanjung Silopo. Polewali Mandar Lokasi Tabel 2 merupakan tabel lokasi observasi terhadap run Ae up tsunami pada titik lokasi observasi. Dari tabel tersebut terlihat bahwa setiap lokasi observasi memiliki run Ae up tsunami yang bervariasi, hal ini dipengaruhi oleh kondisi bathimetri, topografi dan morfologi pantai masing Ae masing wilayahnya. Berdasarkan data diatas wilayah pesisir Pantai Sulawesi Barat memiliki run Ae up tsunami dengan kategori awas yaitu dengan run Ae up tsunami >3 meter meliputi tujuh lokasi observasi, kategori siaga yaitu dengan run Ae up tsunami antara 0. 5 Ae 3 meter meliputi satu lokasi observasi. Run Ae up tsunami tertinggi adalah pada lokasi observasi di Pelabuhan Cinoka yang mencapai 11. 76453 meter. Hal tersebut menunjukkan bahwa daerah pesisir Pantai Sulawesi Barat merupakan daerah yang memiliki tingkat bahaya yang tinggi terhadap kejadian tsunami. Kesimpulan Berdasarkan hasil pemodelan tsunami yang dibangkitkan oleh sesar naik Makassar menggunakan perangkat lunak TUNAMI Ae N2 dapat diperoleh kesimpulan bahwa run Ae up maksimum gelombang tsunami di wilayah pesisir Pantai Sulawesi Barat mencapai 11. 76453 meter, tepatnya di Pelabuahan Cinoka. Mamuju Utara. Saran Saran dari penulis adalah supaya penelitian Ae penelitian sejenis dapat dilakukan di daerah lain yang memiliki resiko terhadap bencana tsunami sehingga diketahui potensi bencana tsunaminya. Selanjutnya dapat digunakan oleh pemerintah daerah, praktisi, serta pihak Ae pihak yang terkait di dalamnya sebagai salah satu pertimbangan utamanya yang berkenaan dengan mitigasi bencana Ucapan Terima Kasih Alhamdulillah, ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini. Ucapan terima kasih selanjutnya penulis sampaikan kepada kedua Orang Tua, tim penelitian, instansi BMKG dan Stasiun Geofisika Gowa. Daftar Pustaka