Dewi . ,HTMJ. Vol. 23 No. HANG TUAH MEDICAL JOURNAL journal-medical. Review article Manajemen Komplikasi Nontrombotik Intradialitik pada Pasien Penyakit Ginjal Kronis SARASWATI LAKSMI DEWI 1 Departmen of Internal Medicine. Faculty of Medicine and Health Sciences. Universitas Warmadewa Alamat email penulis korespondensi: pt. dewi@warmadewa. Abstract Management of intradialytic nonthrombotic complications in patients with chronic kidney disease is a critical component of hemodialysis care because these events substantially impair treatment tolerance, quality of life, and clinical This narrative review aims to summarize the current evidence on the types, pathophysiology, risk factors, and management strategies for intradialytic nonthrombotic complications, including hypotension, hypertension, dialysis disequilibrium syndrome, muscle cramps, nausea and vomiting, and pruritus, in adult hemodialysis patients. Literature was identified through electronic searches of PubMed. Google Scholar, and ScienceDirect for articles published between 2010 and 2024, complemented by selected classic references, focusing on original studies, reviews, guidelines, and case reports relevant to these complications. The evidence shows that intradialytic hypotension is the most frequent complication, followed by intradialytic hypertension, neurologic manifestations of dialysis disequilibrium, painful muscle cramps, gastrointestinal symptoms, and uremic pruritus, all driven by complex interactions between ultrafiltration rate, osmotic shifts, vascular tone, autonomic imbalance, inflammation, and metabolic Effective management requires an individualised, multidisciplinary approach that combines careful assessment of dry weight, optimisation of ultrafiltration and dialysate prescription, appropriate antihypertensive and symptom-directed pharmacotherapy, non-pharmacological measures, and structured patient and family education. In conclusion, standardized protocols and early recognition of high-risk patients are essential for reducing the frequency and severity of intradialytic nonthrombotic complications. Further prospective studies are needed to refine evidence-based algorithms and improve patient-centered Keywords: management, complications, intradialytic, nonthrombotic events, chronic kidney disease Dewi . ,HTMJ. Vol. 23 No. Abstrak Manajemen komplikasi nontrombotik intradialitik pada pasien penyakit ginjal kronis merupakan komponen yang sangat penting dalam perawatan hemodialisis, karena kejadian ini secara bermakna menurunkan toleransi dialisis, kualitas hidup, dan luaran klinis. Tinjauan pustaka naratif ini bertujuan merangkum bukti terkini mengenai jenis, patofisiologi, faktor risiko, serta strategi tatalaksana komplikasi nontrombotik intradialitik, meliputi hipotensi, hipertensi intradialitik, dialysis disequilibrium syndrome, kram otot, mual muntah, dan pruritus pada pasien dewasa yang menjalani hemodialisis. Penelusuran literatur dilakukan melalui PubMed. Google Scholar, dan ScienceDirect untuk publikasi tahun 2010Ae2024, disertai beberapa rujukan klasik, dengan fokus pada artikel asli, tinjauan, pedoman praktik, dan laporan kasus yang relevan. Bukti menunjukkan bahwa hipotensi intradialitik merupakan komplikasi tersering, diikuti hipertensi intradialitik, manifestasi neurologis DDS, kram otot yang nyeri, gejala gastrointestinal, dan pruritus uremik, yang muncul akibat interaksi kompleks antara laju ultrafiltrasi, perubahan osmolalitas, tonus vaskular, ketidakseimbangan otonom, inflamasi, dan gangguan metabolik. Penatalaksanaan yang efektif memerlukan pendekatan multidisipliner dan individual, mencakup penilaian ulang berat kering, optimasi ultrafiltrasi dan resep dialisat, penggunaan obat antihipertensi dan terapi simptomatik yang tepat, intervensi nonfarmakologis, serta edukasi terstruktur bagi pasien dan keluarga. Sebagai kesimpulan, penerapan protokol standar dan deteksi dini pasien berisiko tinggi sangat penting untuk menurunkan frekuensi dan keparahan komplikasi nontrombotik intradialitik, dan diperlukan penelitian prospektif lebih lanjut untuk menyempurnakan algoritme berbasis bukti dan meningkatkan luaran yang berpusat pada pasien. Kata kunci : manajemen, komplikasi, nontrombotik, intradialitik, penyakit ginjal PENDAHULUAN Hemodialisis (HD) merupakan salah satu prosedur medis pilihan sementara sebelum terapi definitive transplantasi ginjal dapat dilaksanakan pada penyakit ginjal kronis (PGK). Hemodialisis perlu dibedakan dengan continuous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD) yang menggunakan peritoneum pasien sendiri sebagai membrane semi permeable. Mesin HD akan mengatasi gejala dan tanda akibat penurunan laju filtrasi glomerulus untuk memperbaiki kualitas hidup dan memperpanjang usia pasien PGK. Hemodialisis akan membersihan darah dan mengeluarkan limbah metabolisme protein, memperbaiki ganguan keseimbangan cairan serta elektrolit dan kelebihan cairan dari darah pada pasien dengan gagal Hemodialisis masih merupakan terapi pengganti ginjal utama hingga saat ini, selain pemberian eritropoetin, vitamin D serta obat pengikat fosfor. Meskipun Dewi . ,HTMJ. Vol. 23 No. hemodialisis dapat menyelamatkan nyawa dan memberikan kualitas hidup yang lebih baik bagi pasien, prosedur ini juga memiliki berbagai komplikasi yang dapat muncul baik selama maupun setelah sesi dialisis. Komplikasi ini dapat dibagi menjadi beberapa kategori seperti komplikasi intradialitik serta komplikasi lainnya (Karimi. Dideban and Heidari, 2. Penggolongan lain dapat berupa komplikasi akut dan komplikasi kronis. Komplikasi akut, seperti hipotensi, kram otot, dan reaksi alergi, sering terjadi selama sesi dialisis. Sementara itu, komplikasi kronis, seperti infeksi, gangguan jantung, dan perubahan metabolik, dapat muncul akibat pengobatan jangka Pemahaman yang baik tentang komplikasi ini sangat penting untuk meminimalkan risiko dan meningkatkan hasil perawatan. Oleh karena itu, artikel ini akan membahas salah satu komplikasi yang mungkin terjadi pada pasien hemodialisis, faktor risiko yang terkait, serta strategi pencegahan dan penanganan yang efektif. METODE Artikel mengenai komplikasi nontrombotik intradialitik pada pasien penyakit ginjal kronis yang menjalani Penelusuran literatur dilakukan secara elektronik melalui basis data PubMed. Google Scholar, dan ScienceDirect dengan menggunakan kata kunci berbahasa Inggris dan Indonesia, antara lain AuhemodialysisAy. Auintradialytic complicationsAy. Auintradialytic hypotensionAy. Auintradialytic hypertensionAy. Audialysis disequilibrium syndromeAy. Aumuscle crampsAy. Aunausea and vomitingAy, dan Aupruritus in dialysisAy. Pemilihan artikel difokuskan pada publikasi tahun 2010Ae2024, namun beberapa artikel klasik yang dianggap relevan tetap disertakan. Kriteria inklusi meliputi artikel asli, review naratif maupun sistematik, guideline, dan laporan kasus yang membahas jenis, mekanisme, faktor risiko, serta tatalaksana komplikasi nontrombotik intradialitik pada pasien dewasa dengan penyakit ginjal kronis. Artikel yang tidak tersedia dalam bentuk full text. Dewi . ,HTMJ. Vol. 23 No. tidak berbahasa Inggris atau Indonesia, atau hanya membahas komplikasi trombotik dan aspek teknis mesin dialisis tanpa kaitan klinis dikeluarkan dari Data dari literatur yang terpilih kemudian disintesis secara deskriptif dan pencegahan dan penanganan setiap jenis komplikasi nontrombotik intradialitik. HASIL DAN PEMBAHASAN KOMPLIKASI NONTROMBOTIK Komplikasi ketidakseimbangan, dan nyeri dada. Kejadian hipotensi berkisar antara 25 hingga 50%, menjadikannya sebagai komplikasi paling umum selama HD. Hipotensi berulang menyebabkan stagnasi darah dan menyebabkan beban kerja jantung pasien yang berlebihan. Studi klinis melaporkan bahwa kejadian hipotensi memiliki korelasi yang tinggi dengan tingkat kematian (Wu et al. , 2. Menyesuaikan natrium dialisat bath untuk mencegah pergeseran cepat dalam keseimbangan cairan selama dialysis. Hati-hati mengontrol laju pembuangan cairan selama Menggunakan dialisat dingin terkadang dapat membantu mengurangi mual pada beberapa pasien dapat dilakukan mencegah hipotensi intradialitik. Pada pasien dengan PGK yang menjalani hemodialisis atau dialisis peritoneal (PD), hipertensi sering terjadi dan seringkali tidak terkontrol secara Hipertensi intradialitik, yang mengacu pada peningkatan tekanan darah selama atau tak lama setelah sesi dialisis. Kondisi ini dapat terjadi hingga 15% pasien HD, dikaitkan dengan tingkat rawat inap yang lebih tinggi dan penurunan kelangsungan hidup. Beberapa faktor dapat berkontribusi terhadap hipertensi intradialitik, termasuk usia yang lebih tua, berat badan kering yang lebih rendah, peningkatan penggunaan obat antihipertensi, dan kadar kreatinin serum yang lebih rendah (Inrig, 2. Patofisisologi hipertensi intradialisis bersifat multifaktor seperti overload cairan, arterial stiffness, peningkatan aktifitas sistem renin angiotensin aldosterone dan sistem simpatis, disfungsi endotel, stimulasi dari hormon eritropoitin (Gambar . Dewi . ,HTMJ. Vol. 23 No. Gambar 1. Patofosiologi hipertensi intradialisis (Bansal et al. , 2. Manajemen strategi untuk mengatasi hipertensi intra dialitik diantaranya pemantauan tekanan darah rawat jalan adalah standar baku emas, tetapi pemantauan tekanan darah di rumah dapat menjadi alternatif yang berguna. Perencanaan dialisis harus disesuaikan untuk mencapai keseimbangan negative natrium dan zat terlarut lainnya dan meminimalkan intake natrium. Berbagai obat, termasuk penghambat angiotensin converting enzyme (ACE), angiotensin receptor blocker (ARB), penghambat saluran kalsium, dan beta-blocker, dapat digunakan, dengan mempertimbangkan komorbiditas pasien per individu dan karakteristik obat. Hemodialisis yang lebih lama, lebih sering, atau nokturnal dapat dipertimbangkan pada pasien dengan hipertensi refrakter. Mengelola kelebihan volume, kekakuan arteri, dan faktor berkontribusi lainnya sangat penting untuk pengendalian hipertensi yang efektif (Inrig, 2010. Stern et al. Bansal et al. , 2. Dialysis disequilibrium syndrome (DDS) ditandai dengan gejala neurologis seperti sakit kepala, mual, muntah, kebingungan, dan dalam kasus yang berat, pasien dapat mengalami kejang atau koma, yang diakibatkan karena pergeseran cepat dalam konsentrasi cairan dan zat terlarut antara darah dan otak menciptakan gradien osmotik antara darah dan otak (Zepeda-Orozco and Quigley. Dewi . ,HTMJ. Vol. 23 No. Gradien ini menyebabkan air bergerak ke otak, menyebabkan edema serebral dan peningkatan tekanan intrakranial (Benabdelouahab et al. , 2. Beberapa kasus melaporkan vertigo sebagai salah satu manifestasi klinis DDS (Benabdelouahab et al. , 2024. Yahya . et al. , 2. Pada pasien berisiko tinggi, mulai dengan sesi dialisis yang lebih lambat dan secara bertahap meningkatkan laju pembuangan urea dapat membantu mencegah DDS. Pemantauan yang cermat terhadap status neurologis pasien selama dan setelah dialisis sangat Jika DDS dicurigai, intervensi segera seperti mengurangi tingkat dialisis atau pemberian obat untuk mengurangi tekanan intrakranial mungkin diperlukan (Evans et al. , 2. Kram otot intradialitik adalah komplikasi umum dari hemodialisis, yang terjadi selama atau segera setelah perawatan dialisis. Kram ini ditandai dengan kontraksi otot yang menyakitkan dan tidak disengaja, paling sering di kaki, tetapi dapat juga terjadi pada lengan atau otot perut, menyebabkan ketidaknyamanan dan kecemasan (Ulu and Ahsen, 2. Prevalensi kram intradialitik dilaporkan sebesar 35-86% pasien HD. Penyebab kram intradialitik diperkiran sebagai akibat pembuangan cairan tubuh yang cepat yang mengganggu keseimbangan cairan dan elektrolit, hipotensi, hipoosmolaritas, atau perubahan berat badan antar sesi HD. Tata lakasana serta pencegahan kram otot intra dialitik diantaranya dengan melakukan waktu HD yang lebih lama atau lebih sering. Menyelesaikan sesi dialisis sesuai perencanaan dokter, serta batasi asupan natrium . 000 mg atau kurang. Terlalu banyak natrium dapat mengganggu keseimbangan natrium dan air dalam tubuh dan dapat memicu rasa haus, yang dapat menyebabkan penambahan berat badan cairan. Peritoneal dialysis juga menjadi pilihan untuk mengurangi risiko kram otot intradialitik (J. Abraham and Malarvizhi, 2. Mual dan muntah adalah komplikasi umum selama hemodialisis (HD), mempengaruhi 5-15% pasien (Asgari et al. , 2. Hipotensi intradialisis sering menjadi pemicu. Dimana terbuangnya cairan dan terjadi respon vasodilatasi pada saat dialysis (Rafi Fathurrohman and Suparti, 2. Dialisis Disequilibrium Syndrome (DDS) yang dapat terjadi ketika perubahan cepat dalam komposisi cairan darah dan otak selama dialisis menyebabkan gejala seperti mual, muntah, sakit kepala, dan kebingungan (Greenberg and Choi, 2. Beberapa individu Dewi . ,HTMJ. Vol. 23 No. mungkin mengalami mual dan muntah sebagai reaksi terhadap membran dialyzer (Arghide et al. , 2. Kondisi gastroparesis di mana perut kosong perlahan, berpotensi diperburuk oleh uremia dan diabetes (Rao et al. , 2. Pola makan yang tidak memadai atau tidak tepat, seperti asupan garam atau (Rafi Fathurrohman and Suparti, 2. Faktor-faktor lain seperti obat tertentu, usia, jenis kelamin, durasi dialisis, dan asupan cairan berlebih juga dapat memengaruhi tingkat keparahan gejala. Manajemen mual muntah intradialisis dapat dengan stabilisasi tekanan darah, menggunakan obat anti emesis, konsumsi produk jahe . eh, tablet, ginger al. mungkin membantu, dan makan makanan porsi kecil tapi sering, kaya kalori dapat membantu mengelola rasa lapar dan mual (Rao et al. , 2. Posisi kepala lebih tinggi setelah makan saat HD bisa menjadi salah satu Solusi menurunkan kejadian mual muntah intra Gatal intradialitik, juga dikenal sebagai pruritus uremik, adalah gejala umum dan mengganggu yang dialami oleh banyak pasien dialysis (Prasad. Gagarinova and Sharma, 2. Hal ini ditandai dengan rasa gatal yang hebat, seringkali lebih buruk di malam hari, dan dapat dikaitkan dengan berbagai faktor termasuk kadar mineral abnormal, peradangan, kulit kering, dan faktor neurologis. Kadar fosfor dan hormon paratiroid (PTH) yang tinggi sering terlibat dalam pruritus uremik . an der Willik et al. , 2. Dialisis mungkin tidak secara efektif menghilangkan fosfor, membutuhkan pembatasan diet dan pengikat fosfat. Peradangan kronis dalam tubuh dapat menyebabkan gatal. Kulit kering, yang umum terjadi pada pasien dialisis, dapat memperburuk rasa gatal. Jalur saraf yang terlibat dalam rasa sakit dan gatal dapat dipengaruhi pada penyakit ginjal, yang menyebabkan gatal Proses dialisis sendiri terkadang dapat memicu atau memperburuk gatal karena perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit. Pilihan pengobatan berkisar dari emolien topikal dan antihistamin hingga obat untuk nyeri saraf seperti gabapentin atau pregabalin (Santos-Alonso et al. , 2. dan terapi khusus seperti difelikefalin, agonis reseptor opioid kappa, secara khusus disetujui untuk mengobati gatal pada pasien dialisis ketika perawatan lain tidak efektif (Saeed et , 2. Selain itu fototerapi dengan sinar ultraviolet B juga dilaporkan cukup menjanjikan dalam tata laksana gatal intradialitik (Prasad. Gagarinova and Sharma, 2. Dewi . ,HTMJ. Vol. 23 No. Edukasi pada pasien maupun keluarga pasien sangat penting dalam Keluarga berkepanjangan, gejala hipotensi yang berat seperti pusing dan berkeringat dingin, sakit kepala yang berlebihan, muntah dan mual berlebihan, serta gejala alergi berat (Bello, et al. , 2. KESIMPULAN Manajemen komplikasi nontrombotik intradialitik pada pasien dengan Komplikasi seperti hipotensi, hipertensi. DDS, kram otot, mualmuntah keselamatan pasien. Oleh karena itu, identifikasi dini dan penanganan yang tepat sangat penting. Penerapan protokol yang baik, termasuk pengaturan volume cairan, penggunaan obat-obatan yang sesuai, dan pemantauan ketat selama sesi dialisis, dapat membantu mengurangi frekuensi dan keparahan komplikasi ini. Edukasi pasien dan keluarga juga berperan penting dalam meningkatkan pemahaman mengenai risiko yang mungkin terjadi serta tindakan yang dapat diambil untuk meminimalkan dampaknya. Dengan manajemen yang efektif, pasien hemodialisis dapat menjalani perawatan dengan lebih baik, meningkatkan kualitas hidup, dan mengurangi angka morbiditas yang terkait dengan komplikasi nontrombotik intradialitik. DAFTAR PUSTAKA