Analisis Pemilihan Tempat MerokokA (Dewi Sintawati. Lolita Sary. Christin A. , dk. Analisis Pemilihan Tempat Merokok Pada Usia 16 Ae 64 Tahun Di Wilayah Merbau Mataram Analisis Selection of Smoking Places At 16 Ae 64 Age in the Work Area Of Merbau Mataram Community Health Center Dewi Sintawati1. Lolita Sary1. Christin Angelina Febriani1. Wayan Aryawati1. Nova Muhani1 Magister Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati. Lampung. Indonesia Korespondensi Penulis: drdewisintawati21@gmail. ABSTRAK Berdasarkan data Global Adult Tobacco Survey (GATS) tahun 2021 diketahui Sebanyak 44,8% orang dewasa terpapar asap tembakau di area tertutup di tempat kerja mereka. Sebanyak 59,3% orang terpapar asap tembakau di dalam rumah mereka. Tujuan penelitian diketahui analisis pemilihan tempat merokok pada 16 Ae 64 tahun di wilayah kerja Puskesmas Merbau Mataram. Jenis penelitian kuantitatif rancangan cross sectional. Populasi adalah masyarakat usia 15-64 tahun sebanyak 27. 864 orang dengan sampel yang digunakan sebanyak 379 responden menggunakan teknik multistage random sampling. Penelitan telah dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Merbau Mataram pada bulan Juli Pengumpulan data menggunakan kuesioner dengan cara angket dan dianalisis menggunakan uji chi square dan regresi logistik. Hasil penelitian diketahui ada hubungan pengetahuan . -value=0. , sikap . -value=0. , orang penting sebagai referensi . -value=0. , fasilitas merokok . -value=0. dengan pemilihan tempat merokok pada usia produktif sedangkan tidak ada hubungan pendapatan . -value=0. dengan pemilihan tempat merokok pada usia produktif di wilayah kerja Puskesmas Merbau Mataram tahun 2024. Variabel fasilitas merokok merupakan faktor dominan dengan nilai p-value=0. OR=3. 753 terhadap pemilihan tempat merokok. Disarankan untuk edukasi mengenai Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dan non KTR kepada masyarakat, agar menimbulkan kesadaran akan pemilihan tempat rokok. Kata Kunci : fasilitas merokok, kawasan tanpa rokok, kebiasaan merokok, perokok pasif, paparan asap merokok ABTRACT Based on Global Adult Tobacco Survey (GATS) data in 2021, it is known that 44. 8% of adults are exposed to tobacco smoke in closed areas at their workplace. As many as 59. of people are exposed to tobacco smoke in their homes. Exposure to cigarette smoke is also experienced by 85. 4% of people who visit restaurants. This study aimed to determine the factors related to the choice of smoking places at 16 - 64 ages in the Merbau Mataram Health Center work area in 2024. This study was quantitative research with cross-sectional The population were all people of productive age 15-64, as many as 27,864 people, with a sample of 379 respondents using the multistage random sampling technique. The research was conducted in the Merbau Mataram Health Center working area in July 2024. Data was collected using a questionnaire and analyzed using the chi-square test and logistic regression. The results of the study showed that there was a relationship between knowledge . -value=0. , attitude . -value=0. , essential people as references . -value=0. , smoking facilities . -value=0. with the choice of smoking places at productive ages. At the same time, there was no relationship between income . value=0. and the choice of smoking places at productive ages in the Merbau Mataram Health Center working area in 2024. The smoking facility variable is a dominant factor with a p-value=0. OR=3. 753 on the choice of smoking places. It is recommended to educate the public about Smoke-Free Areas (KTR) and non-KTR in order to raise awareness of choosing smoking places. Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 165-176 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Pemilihan Tempat MerokokA (Dewi Sintawati. Lolita Sary. Christin A. , dk. Keywords: smoking facilities, smoke-free areas, smoking habits, passive smokers, exposure to cigarette smoke PENDAHULUAN Merokok membakar/menyalakan dan/atau menghisap rokok (Perbup, 2. Perilaku merokok saat ini telah menjadi fenomena yang tidak asing dalam kehidupan. Mudahnya akses untuk mendapatkan rokok dan banyaknya orang merokok ditempat umum, kantor, lingkungan pendidikan bahkan dalam lingkungan keluarga sendiri mengakibatkan perilaku merokok tersebut sulit untuk dihindari (Putriku, 2. Perilaku merokok selain menyebabkan berbagai macam penyakit dapat memperberat sejumlah penyakit lainnya (Dewi, 2. Estimasi jumlah perokok di sejumlah negara diketahui tertinggi ke 3 di Tiongkok dan Indonesia sekitar 110 juta jiwa (Annur, 2. World Health Organization (WHO) memperkirakan lebih dari 8 juta orang meninggal dini setiap tahunnya akibat penggunaan tembakau. Lebih dari penggunaan tembakau secara langsung. Sekitar 1,3 juta orang bukan perokok dan meninggal karena terpapar asap rokok. Sekitar 80% dari 1,3 miliar pengguna tembakau di dunia tinggal di negaranegara menengah (WHO, 2. Persentase Indonesia umur 15 tahun ke atas yang merokok dalam sebulan terakhir kelompok umur 15-24 tahun sebanyak 17,70%, umur 2534 tahun sebanyak 32,68%, umur 35-44 tahun 34,69%, umur 45-54 tahun sebanyak 32,01% dan umur 55-64 tahun sebanyak 28,25% (Riskesdas, 2. Rokok terbukti sebagai faktor risiko utama penyakit stroke dengan kecenderungan 12,1%, hipertensi 31,7%, dan penyakit jantung 0,3% (Kemenkes RI. , 2. Berdasarkan Global Adult Tobacco Survey (GATS, 2. diketahui 63,4% perokok berencana atau sedang 38,9% mengunjungi penyedia layanan kesehatan dalam 12 bulan terakhir disarankan untuk berhenti merokok. Sebanyak 44,8% orang dewasa yang bekerja di dalam ruangan . ,3 juta orang dewas. terpapar asap tembakau di area tertutup di tempat kerja mereka. Sebanyak 59,3% orang dewasa . ,6 juta orang dewas. terpapar asap tembakau di dalam rumah Sebanyak 74,2% orang dewasa . ,1 juta orang dewas. terpapar asap tembakau saat mengunjungi restoran. Sebanyak 43,0% memperhatikan informasi antirokok di televisi atau radio. Sebanyak 45,9% orang promosi rokok di toko-toko yang menjual sebanyak 75,3% orang dewasa memperhatikan iklan rokok, promosi, atau sponsor acara olahraga. sebanyak 85,7% menyebabkan penyakit serius. Sebanyak 80,0% orang dewasa percaya menghirup asap rokok orang lain menyebabkan penyakit serius pada orang yang bukan perokok (GATS, 2. Menurut WHO terdapat 50% anakanak di seluruh dunia terpolusi asap rokok di rumah mereka. Rumah memang menjadi tempat yang ideal bagi perokok pasif terkena penyakit bila salah satu anggota keluarga merokok. Pihak yang paling dirugikan adalah wanita dan anakanak. Sekitar 65,6 juta wanita dan 43 juta anak-anak di Indonesia terpapar asap rokok atau menjadi perokok pasif (Sodik. Persentase Provinsi Lampung umur 15-24 tahun yang merokok dalam sebulan terakhir sebanyak 21,87%, umur 25-34 tahun sebanyak 38,39%, umur 35-44 tahun 39,07%, umur 45-54 tahun sebanyak 37,81% dan umur 55-64 tahun sebanyak 35,57% (BPS, 2. Sedangkan Kabupaten Lampung Selatan meningkat dari tahun 2013 . ,8%) . ,3%) (Riskesdas, 2. Keberadaan orang merokok ditemukan hampir di semua kawasan, kecuali karaoke dan tempat Sementara itu, keberadaan area khusus merokok hanya ditemukan di kafe . ,3%), kantor swasta . ,6%), dan restoran . ,4%) (Ketut Suarjana, 2. Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 165-176 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Pemilihan Tempat MerokokA (Dewi Sintawati. Lolita Sary. Christin A. , dk. Berdasarkan hasil prasurvey yang dilakukan pada bulan Maret 2024, diketahui dari 20 responden yang merokok sebanyak 60% mengetahui bahwa terdapat kawasan khusus untuk Namun karena tidak ada petunjuk bahwa ditempat tersebut boleh merokok atau tidak sehingga responden merokok di ruang publik. Selain itu, tidak ada larangan merokok di tempat kerja membuat responden merokok di tempat Sebanyak 60% dengan pendidikan Sarjana. Sebanyak 50% mengungkapkan METODE Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian pendekatan cross sectional. Penelitian Puskesmas Merbau Mataram, dilaksanakan di Januari - Juli 2024. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh masyarakat usia 16-64 tahun di Puskesmas Merbau Mataram sebanyak 27. 864 responden usia produktif, sampel yang akan diambil bahwa masih sering merokok di fasilitasfasilitas umum, jika di rumah sakit, di perkantoran yang sudah terdapat tanda larangan merokok maka responden tidak Berdasarkan latar belakang tersebut melakukan penelitian tentang faktorfaktor pemilihan tempat merokok pada usia produktif di wilayah kerja Puskesmas Merbau Mataram. menggunakan teknik multistage random Variabel bebas . adalah variabel yang mempengaruhi variabel terkait yang dalam penelitian ini adalah pengetahuan, sikap, orang penting Variabel terkait . adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas yang dalam penelitian ini adalah tempat merokok. HASIL PENELITIAN Analisis Univariat Tabel 1 Distribusi frekuensi pengetahuan rokok di wilayah kerja Puskesmas Merbau Mataram Variabel Pengetahuan Kategori Kurang baik Baik Diketahui . Hasil terhadap variabel pengetahuan mengenai dampak merokok menunjukkan bahwa responden memiliki pengetahuan baik. Berdasarkan data yang diperoleh dari 379 responden didapatkan hasil analisa soal pengetahuan dengan jawaban yang paling banyak benar oleh responden Frekuensi Presentase (%) adalah pertanyaan Tidak ada penyakit yang disebabkan oleh rokok sebanyak 246 responden . %). Dari 379 responden sebanyak 224 orang . %) menjawab salah pada pertanyaan merokok dapat melemahkan daya ingat dan dampak apabila ibu hamil menghirup asap rokok kecuali, adalah meningkatkan imunitas Tabel 2 Distribusi frekuensi Sikap rokok di wilayah kerja Puskesmas Merbau Mataram Variabel Sikap Kategori Negatif Positif Diketahui sebanyak 200 . 8%) responden dengan Frekuensi Persentase (%) sikap positif. Berdasarkan data yang diperoleh dari 379 responden didapatkan Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 165-176 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Pemilihan Tempat MerokokA (Dewi Sintawati. Lolita Sary. Christin A. , dk. hasil analisa soal sikap dengan jawaban yang paling banyak menjawab sangat tidak setuju oleh responden adalah pertanyaan Merokok di kawasan tanpa rokok 182 orang . %). Dan responden paling banyak menjawab sangat setuju pada pertanyaan Saya tidak akan dampak bahaya rokok yang ada sebanyak 125 orang . %). Tabel 3 Distribusi frekuensi orang penting sebagai referensi di wilayah kerja Puskesmas Merbau Mataram Variabel Orang penting sebagai Kategori Tidak ada Ada Diketahui sebanyak 196 . 7%) responden dengan ada orang penting sebagai refrensi. Derdasarkan data yang diperoleh dari 379 Frekuensi Presentase (%) referensi dengan jawaban yang paling banyak menjawab Ya adalah pada pertanyaan Saya melihat orang penting di wilayah saya merokok di tempat umum sehingga saya juga merokok sebanyak 259 responden . ,34%). Tabel 4 Distribusi frekuensi pendapatan di wilayah kerja Puskesmas Merbau Mataram Variabel Pendapatan Kategori Kurang Lebih Frekuensi Presentase (%) Diketahui dari 379 responden sebanyak 194 . 2%) responden dengan pendapatan Tabel 5 Distribusi frekuensi fasilitas di wilayah kerja Puskesmas Merbau Mataram Variabel Fasilitas Kategori Tidak ada Ada Diketahui sebanyak 366 . 6%) responden dengan tidak ada fasilitas. Derdasarkan data yang diperoleh dari 379 responden didapatkan hasil analisa pertanyaan Fasilitas, 368 responden . %) menjawab Tidak ada Fasilitas Apakah Frekuensi Presentase (%) . moking corner, area merokok, kawasan meroko. pada saat anda merokok? Dan pertanyaan Apakah anda merokok di fasilitas khusus area merokok. Dari 379 responden hanya 13 orang . %) yang menjawab Ya. Tabel 6 Distribusi frekuensi fasilitas di wilayah kerja Puskesmas Merbau Mataram Variabel Pemilihan tempat Kategori KTR Non KTR Frekuensi Presentase (%) Diketahui dari 379 responden sebanyak 329 . 8%) responden dengan pemilihan tempat merokok di kawasan KTR. Analisa Bivariat Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 165-176 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Pemilihan Tempat MerokokA (Dewi Sintawati. Lolita Sary. Christin A. , dk. Tabel 7 Hubungan pengetahuan dengan pemilihan tempat merokok pada usia 16 Ae 64 tahun di wilayah kerja Puskesmas Merbau Mataram Pengetahuan Kurang baik Baik Total Pemilihan tempat merokok Jumlah KTR Non KTR 166 100,0 2 213 100,0 2 379 100,0 Diketahui dari 166 responden dengan pengetahuan kurang baik sebanyak 159 . 8%) responden memilih tempat merokok KTR dan sebanyak 170 . responden memilih tempat merokok non KTR. Dari 213 responden dengan pengetahuan baik sebanyak 170 . responden memilih tempat merokok KTR dan sebanyak 43 . 2%) responden memilih tempat merokok non KTR. Hasil uji statistik diperoleh p-value = 0001 yang berarti p< = 0,05 (Ha P-Value 95% CI 745 . diterima dan Ho ditola. , maka dapat pengetahuan dengan pemilihan tempat merokok pada usia produktif di wilayah kerja Puskesmas Merbau Mataram tahun Dengan nilai OR 5. 7 artinya responden dengan pengetahuan kurang baik memiliki peluang 5. 7 kali memilih tempat merokok KTR jika dibandingkan dengan responden pengetahuan baik Tabel 8 Hubungan sikap dengan pemilihan tempat merokok pada usia 16 Ae 64 tahun produktif di wilayah kerja Puskesmas Merbau Mataram Sikap Negative Positif Total Pemilihan tempat merokok Jumlah KTR Non KTR 6 179 100,0 0 200 100,0 2 379 100,0 Diketahui dari 179 responden dengan sikap negatif sebanyak 169 . responden memilih tempat merokok KTR dan sebanyak 10 . 6%) responden memilih tempat merokok non KTR. Dari 200 responden dengan sikap positif . memilih tempat merokok KTR dan sebanyak 40 . 0%) responden memilih tempat merokok non KTR. P-Value 95% CI 225 . Hasil uji statistik diperoleh p-value = 0001 yang berarti p< = 0,05 (Ha diterima dan Ho ditola. , maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan sikap dengan pemilihan tempat merokok pada usia produktif di wilayah kerja Puskesmas Merbau Mataram tahun 2024. Dengan nilai OR 4. 2 artinya responden dengan sikap negatif memiliki peluang 4. 2 kali memilih tempat merokok KTR jika dibandingkan dengan responden sikap positif Tabel 9 Hubungan orang penting sebagai referensi pemilihan tempat merokok pada usia produktif di wilayah kerja Puskesmas Merbau Mataram Orang penting sebagai refrensi Tidak ada Ada Total Pemilihan tempat Jumlah KTR Non KTR 9 183 100,0 1 41 20. 9 196 100,0 8 50 13. 2 379 100,0 PValue 95% CI 114 . Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 165-176 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Pemilihan Tempat MerokokA (Dewi Sintawati. Lolita Sary. Christin A. , dk. Diketahui dari 183 responden dengan tidak ada orang penting sebagai refrensi . memilih tempat merokok KTR dan sebanyak 9 . 9%) responden memilih tempat merokok non KTR. Dari 196 responden dengan ada orang penting sebagai refrensi sebanyak 155 . responden memilih tempat merokok KTR dan sebanyak 41 . 9%) responden memilih tempat merokok non KTR. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa nilai p-value yang diperoleh adalah Karena p-value ini lebih kecil dari tingkat signifikansi yang ditentukan ( = 0,. , maka hipotesis alternatif (H. diterima dan hipotesis nol (H. Dengan kata lain, terdapat hubungan yang signifikan antara keberadaan orang pemilihan tempat merokok pada individu usia produktif di wilayah kerja Puskesmas Merbau Mataram Selanjutnya, nilai Odds Ratio (OR) yang diperoleh dari analisis ini adalah 5. Interpretasi dari nilai OR ini adalah bahwa individu usia produktif yang memiliki orang penting sebagai referensi dalam pemilihan tempat merokok memiliki 1 kali lebih besar untuk dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki orang penting sebagai referensi. Tabel 10 Hubungan pendapatan dengan pemilihan tempat merokok pada usia 16 Ae 64 tahun di wilayah kerja Puskesmas Merbau Mataram Pendapatan Kurang (< UMR) Lebih (Ou UMR) Total Pemilihan tempat KTR Non KTR Jumlah Diketahui dari 185 responden dengan . 5%) responden memilih tempat merokok KTR dan sebanyak 25 . responden memilih tempat merokok non KTR. Dari 194 responden dengan pendapatan lebih sebanyak 169 . responden memilih tempat merokok KTR PValue 95% CI 947 . dan sebanyak 25 . 9%) responden memilih tempat merokok non KTR. Hasil uji statistik diperoleh p-value = 977 yang berarti p> = 0,05 (Ha ditolak dan Ho diterim. , maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan pendapatan dengan pemilihan tempat merokok pada usia produktif di wilayah kerja Puskesmas Merbau Mataram tahun 2024. Tabel 11 Hubungan hubungan fasilitas dengan pemilihan tempat merokok pada usia 16 Ae 64 tahun di wilayah kerja Puskesmas Merbau Mataram Fasilitas Merokok Tidak ada Ada Total Pemilihan tempat KTR Non KTR Diketahui dari 366 responden dengan tidak ada fasilitas sebanyak 321 . responden memilih tempat merokok KTR dan sebanyak 45 . 3%) responden memilih tempat merokok non KTR. Dari 13 Jumlah PValue 95% CI 458 . responden dengan ada fasilitas sebanyak 8 . 5%) responden memilih tempat merokok KTR dan sebanyak 5 . responden memilih tempat merokok non KTR. Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 165-176 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Pemilihan Tempat MerokokA (Dewi Sintawati. Lolita Sary. Christin A. , dk. Hasil uji statistik diperoleh p-value = 019 yang berarti p< = 0,05 (Ha diterima dan Ho ditola. , maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan fasilitas merokok pada usia produktif di wilayah PEMBAHASAN Pengetahuan Bahaya Merokok terhadap Pemiliha Tempat Merokok Kondisi ini dapat berbagai gangguan kognitif termasuk daya ingat jangka pendek maupun jangka panjang, konsentrasi dan peningkatan risiko Minimnya tentang dampak buruk merokok bagi kesehatan otak perlu menjadi perhatian Edukasi publik harus lebih digencarkan tidak hanya berfokus pada bahaya merokok bagi kesehatan fisik, tetapi juga negatifnya terhadap fungsi kognitif dan kesehatan otak dalam jangka panjang. Penyampaian informasi harus dilakukan secara komprehensif, mudah dipahami dan menjangkau semua kalangan. Dari 379 responden, hanya 157 orang . 4%) yang menjawab benar bahwa meningkatkan imunitas bayi. Angka ini menandakan bahwa lebih dari separuh responden . 6%) tidak memahami dampak buruk paparan asap rokok selama Penting digaris bawahi bahwa anggapan asap rokok dapat meningkatkan imunitas bayi sama sekali tidak berdasar dan bertentangan dengan bukti ilmiah. Paparan asap rokok selama kehamilan justru dikaitkan dengan berbagai risiko kesehatan serius bagi bayi, seperti: berat badan lahir rendah, kelahiran prematur, masalah pernapasan. Sudden Infant Death Syndrome (SIDS) dan Gangguan (Anderson. Tingginya angka kesalahpahaman ini mengintensifkan edukasi publik, terutama kepada pasangan usia subur, tentang bahaya merokok selama kehamilan. Penyampaian informasi harus dilakukan secara komprehensif, mudah dipahami, dan berkelanjutan. Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dan pemilihan tempat kerja Puskesmas Merbau Mataram tahun Dengan nilai OR 4. 4 artinya responden dengan fasilitas tidak ada memiliki peluang 4. 4 kali memilih tempat merokok KTR jika dibandingkan dengan fasilitas ada. merokok di wilayah kerja Puskesmas Merbau Mataram. Responden dengan peluang lebih besar untuk merokok di area KTR dibandingkan dengan responden yang memiliki pengetahuan baik. Temuan ini didukung oleh teori Health Belief Model penelitian-penelitian perilaku kesehatan. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang berkelanjutan masyarakat tentang bahaya merokok dan peraturan KTR melalui program edukasi dan penegakan regulasi yang lebih efektif. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan perilaku merokok di area KTR dapat berkurang secara signifikan, sehingga tercipta lingkungan yang lebih sehat dan mendukung kesejahteraan masyarakat. Sikap terhadap Perilaku Merokok Hasil variabel sikap di atas menunjukkan temuan yang mengkhawatirkan mengenai perilaku merokok di masyarakat. Ternyata masih banyak individu yang belum memiliki sikap yang baik terkait kebiasaan Hal ini tercermin dari tingginya persentase responden yang menyatakan Ausangat setujuAy dan AusetujuAy . i atas 30%) terhadap beberapa pernyataan yang Mereka mengaku tetap merokok meskipun mengetahui dampak negatifnya tidak segan merokok di dekat orang yang tidak merokok, bahkan mengajak teman untuk merokok di tempat umum walaupun ada larangan. Lebih lanjut, sebagian besar responden memperhatikan sosialisasi tentang bahaya Hasil ini mengisyaratkan perlunya melakukan sosialisasi tentang dampak Mengingat ketidakpedulian yang cukup tinggi di Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 165-176 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Pemilihan Tempat MerokokA (Dewi Sintawati. Lolita Sary. Christin A. , dk. pendekatan yang lebih kreatif dan masyarakat yang setuju dan sangat setuju dengan pernyataan tersebut. Misalnya, pemanfaatan media sosial dan influencer yang memiliki pengaruh kuat di kalangan masyarakat, serta pendekatan personal melalui edukasi langsung di komunitaskomunitas lokal. Sebaliknya, hasil ini juga signifikan untuk meningkatkan kesadaran melalui kelompok responden yang sudah tidak setuju dan sangat tidak setuju. Mereka bisa diberdayakan sebagai agen perubahan yang membantu menyebarkan informasi yang memiliki dampak positif. Fokus pada kelompok ini juga bisa menjadi bagian dari strategi untuk menggerakkan komunitas yang lebih luas, memperkuat pesan-pesan kesehatan, serta membangun lingkungan sosial yang lebih kondusif untuk kampanye antirokok. survei ini memberikan gambaran yang jelas tentang tantangan dan peluang dalam kampanye sosialisasi dampak bahaya rokok di masyarakat. Hal ini juga memberi masukan berharga bagi lembaga pemerintah, organisasi kesehatan dan LSM terkait untuk merancang programprogram menyeluruh untuk mengurangi prevalensi merokok melalui peningkatan kesadaran dan sikap peduli masyarakat terhadap informasi bahaya rokok. Pola sikap atas beberapa pernyataan ini menggambarkan adanya resistensi yang kuat terhadap kesehatan diri sendiri maupun orang lain. Temuan ini mengindikasikan perlunya strategi intervensi yang lebih efektif untuk mengubah sikap dan perilaku merokok, termasuk pendekatan edukasi yang lebih persuasif, penguatan kebijakan tentang area bebas rokok, serta peningkatan terhadap kesehatan publik. Sikap merujuk pada evaluasi individu terhadap berbagai aspek dunia sosial serta memunculkan rasa suka atau tidak suka individu terhadap isu, ide, orang lain, kelompok sosial dan objek. Sikap pada awalnya diartikan sebagai suatu syarat Fenomena sikap adalah mekanisme mental yang mengevaluasi, membentuk pandangan, mewarna: perasaan, dan akan ikut menentukan kecendrungan perilaku kita terhadap manusia atau sesuatu yang kita hadapi, bahkan terhadap diri kita sendiri. Pandangan dan perasaan kita terpengaruh oleh ingatan akan masa lalu, oleh apa yang kita ketahui dan kesan kita terhadap apa yang sedang kita hadapi saat ini (Priyoto, 2. Menurut peneliti diketahui dari 179 responden dengan sikap negatif sebanyak 169 . 4%) responden memilih tempat KTR ini dikarenakan responden memiliki pandangan yang kurang baik atau negatif terkait dengan merokok, beranggapan bahwa merokok tidak membahayakan orang lain jika saat merokok tidak berdekatan sehingga responden masih merokok di tempat . responden memilih tempat merokok non KTR, hal ini karena adanya fasilitas tempat khusus untuk merokok dan adanya larangan yang jelas untuk tidak merokok merokok di tempat khusus perokok. Menurut peneliti dari 200 responden dengan sikap positif sebanyak 160 . 0%) responden memilih tempat merokok KTR hal ini terjadi karena responden tidak melihat adanya tanda larangan merokok di tempat saat responden merokok dan beranggapan bahwa hanya tempat yang dipasang tanda larangan merokok saja yang tidak boleh Selain itu tidak adanya fasilitas tempat khusus untuk perokok sehingga dan sebanyak 40 . 0%) responden memilih tempat merokok non KTR, hal ini dikarenakan pandangan positif responden terkait dengan dampak negatif yang dapat merugikan orang jika berdekatan dengan perokok sehingga ketika terdapat fasilitas khusus bagi yang perokok, responden merokok di fasilitas yang telah di Orang Penting Sebagai Referensi Untuk Merokok Analisis lebih lanjut mengungkap bahwa sebanyak 196 responden atau 51,7% menyebutkan bahwa ada orang penting dalam hidup mereka memberikan referensi terhadap merokok dan pemilihan tempat merokok. Orang-orang penting ini bisa saja anggota keluarga, teman dekat, atau figur publik yang mereka hormati. Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 165-176 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Pemilihan Tempat MerokokA (Dewi Sintawati. Lolita Sary. Christin A. , dk. Orang penting sebagai referensi ini dapat sangat mempengaruhi keputusan individu untuk mulai atau melanjutkan kebiasaan Ini menunjukkan pentingnya membentuk perilaku merokok. Temuan ini menegaskan pentingnya peran model sosial dalam mempengaruhi kebiasaan orang, terutama dalam konteks perilaku tidak sehat seperti merokok. Oleh karena itu, adanya perhatian khusus diperlukan dalam menangani aspek sosial ini, dengan strategi seperti kampanye mengikutsertakan figur-figur penting atau tokoh masyarakat dalam mempromosikan gaya hidup sehat dan bebas rokok. Upaya yang melibatkan perubahan perilaku dari individu-individu yang memiliki pengaruh besar di komunitas dapat menjadi langkah yang efektif dalam mengurangi prevalensi merokok dan meningkatkan kesehatan masyarakat secara keseluruhan. Implikasi dari hasil ini menunjukkan perlunya perhatian khusus terhadap peran dan tanggung jawab figur publik, pendidik, dan tokoh masyarakat dalam memberikan contoh positif terkait perilaku kesehatan. Selain menggarisbawahi pentingnya kampanye kesehatan masyarakat yang tidak hanya berfokus pada individu, tetapi juga pada mendukung gaya hidup bebas rokok di semua lapisan masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian dari 196 responden dengan orang penting sebagai refrensi positif sebanyak 155 . responden memilih tempat merokok KTR hal ini dikarenakan walaupun orang yang diangap penting tersebut tidak merokok di sembarang tempat namun karena di tempat responden tidak tersedia khusus tempat untuk merokok dan tidak ada larangan merokok maka responden tetap memilih tempat tersebut untuk merokok dan sebanyak 41 . 9%) responden memilih tempat merokok non KTR, hal ini karena pengaruh positif dari orang yang dianggap sebagai panutan oleh responden atau orang yang di anggap penting sehingga responden mengikuti apa yang dilakukan oleh panutannya. Pendapatan Dari aspek ekonomi, sebanyak 194 51,2% memiliki pendapatan lebih. Pendapatan yang lebih besar dapat meningkatkan kemampuan seseorang untuk membeli rokok, meskipun secara teori seharusnya mereka juga lebih mampu mengakses informasi kesehatan dan pendidikan yang mendorong perilaku hidup sehat. Temuan memiliki lebih banyak sumber daya ekonomi, tanpa adanya kesadaran dan prioritas untuk kesehatan, pendapatan lebih tidak serta merta mengurangi prevalensi merokok dalam populasi ini. Berdasarkan hasil penelitian diketahui dari 185 responden dengan pendapatan kurang sebanyak 160 . 5%) responden memilih tempat merokok KTR hal ini dapat terjadi karena sudah menjadi kebiasaan responden untuk merokok di tempat yang dikarenakan jenis pekerjaan responden serabutan sehingga responden tetap merokok di tempat yang bukan khusus tempat merokok, dan sebanyak 25 . 5%) responden memilih tempat merokok non KTR hal ini karena adanya fasilitas di tempat responden bekerja sehingga responden saat merokok di fasilitas yang memang khusus untuk Berdasarkan hasil penelitian diketahui dari 194 responden dengan pendapatan lebih sebanyak 169 . 1%) responden memilih tempat merokok KTR hal ini dikarenakan kebiasaan responden yang memang merokok di saat ada keinginan merokok tanpa melihat apakah tempat tersebut ada larangan atau tidak dan sebanyak 25 . 9%) responden memilih tempat merokok non KTR, hal ini karena responden bekerja di tempat yang memang di siapkan untuk merokok sehingga responden merokok di tempat yang telah di sediakan Fasilitas Tempat Merokok Ketika merokok, ditemukan bahwa sebanyak 366 responden atau 96,6% menyatakan tidak Ini mengindikasikan bahwa hampir seluruh responden berada di lingkungan yang tidak menyediakan tempat khusus untuk Penolakan untuk menyediakan fasilitas merokok di berbagai tempat umumnya bertujuan untuk mengurangi Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 165-176 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Pemilihan Tempat MerokokA (Dewi Sintawati. Lolita Sary. Christin A. , dk. kebiasaan merokok dan melindungi nonperokok dari paparan asap rokok. Namun, efektivitas dari kebijakan ini perlu ditinjau lebih lanjut mengingat tingginya angka orang yang tetap merokok meski tanpa adanya fasilitas khusus. Hasil survei yang dilakukan terhadap mengenai keberadaan fasilitas merokok seperti smoking corner, area merokok, atau kawasan merokok menunjukkan bahwa mayoritas besar responden tidak menemukan fasilitas tersebut saat mereka Dari total responden, hanya 13 3,4% mengatakan bahwa mereka menemukan fasilitas merokok. Sebaliknya, sebanyak 88,7% menyatakan tidak menemukan fasilitas Hasil ini mengindikasikan bahwa fasilitas merokok belum banyak tersedia atau mungkin tidak cukup terlihat di area yang sering dijadikan tempat merokok oleh para responden. Ketidakhadiran fasilitas merokok bisa menjadi perhatian bagi pengelola area publik, mengingat pentingnya penyediaan fasilitas merokok yang memadai guna mengatur dan meredam penyebaran asap rokok agar tidak mengganggu nonperokok. Lebih lanjut, data ini juga dapat menjadi dasar untuk mengkaji kembali kebijakan terkait ruang merokok di tempat-tempat Ketidakhadiran fasilitas merokok yang memadai juga dapat berimplikasi pada kepatuhan perokok terhadap aturan yang ada, mengingat bahwa area khusus merokok adalah bagian dari infrastruktur yang mendukung perilaku merokok yang lebih tertib dan Dari hasil pertanyan Apakah anda merokok di fasilitas khusus area merokok. Hasil yang diperoleh dari 379 responden menunjukkan bahwa hanya 13 orang atau sekitar 3,43% dari total responden yang menyatakan bahwa mereka merokok di area yang telah disediakan khusus untuk Sebaliknya, sebanyak 336 responden atau 88,65% mengakui bahwa mereka tidak merokok di fasilitas yang Data responden tidak memanfaatkan fasilitas Hal ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kurangnya kesadaran tentang pentingnya merokok di area yang ditentukan untuk mengurangi dampak negatif pada perokok pasif, atau mungkin keberadaan fasilitas tersebut belum cukup menarik atau nyaman bagi perokok. Selain itu, bisa saja ada kesalahan dalam desain atau penempatan area merokok yang membuat para perokok enggan menggunakan fasilitas yang ada. Temuan ini juga memberikan sinyal bagi pengelola fasilitas bahwa diperlukan evaluasi lebih keberlanjutan dari area merokok yang mereka sediakan, serta peningkatan sosialisasi mengenai kebijakan tersebut untuk memastikan bahwa fasilitas dapat digunakan sesuai dengan tujuan yang Fasilitas Smoking Area adalah suatu tempat di dalam cafe ataupun restoran yang diijinkan untuk merokok yang diposisikan sedemikian rupa sehingga terdapat sistem ventilasi dan penghalang yang digunakan untuk menghalangi asap rokok agar asap rokok tidak dapat memasuki area yang lain (Wandira. Berdasarkan hasil penelitian diketahui dari 366 responden dengan tidak ada fasilitas sebanyak 321 . responden memilih tempat merokok KTR hal ini dikarenakan tidak adanya fasilitas responden merokok di sembarang tempat dan sebanyak 45 . 3%) responden memilih tempat merokok non KTR hal ini dampak dari merokok di sembarang sehingga di saat tidak ada fasilitas tempat untuk merokok, maka responden tidak merokok dan akan merokok ketika menemukan tempat untuk merokok. Berdasarkan hasil penelitian dari 13 responden dengan ada fasilitas sebanyak 8 . 5%) responden memilih tempat merokok KTR hal ini dikarenakan adanya sembarang tempat sehingga walaupun ada fasilitas namun karena kebiasaan responden sehingga tetap merokok di tempat yang bukan khusus perokok dan sebanyak 5 . 5%) responden memilih tempat merokok non KTR hal ini karena adanya fasilitas dan di tunjang dari Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 165-176 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Pemilihan Tempat MerokokA (Dewi Sintawati. Lolita Sary. Christin A. , dk. pengetahuan yang baik dan sikap yang positif sehingga responden merokok di fasilitas yang telah di sediakan. Pemilihan Tempat Merokok Dalam merokok, sebanyak 329 responden atau 86,8% memilih untuk merokok di kawasan tanpa rokok (KTR). Hal ini sangat mengkhawatirkan karena KTR seharusnya menjadi area yang steril dari aktivitas merokok untuk melindungi masyarakat dari bahaya asap rokok. Banyaknya responden yang tetap merokok di KTR menunjukkan bahwa penegakan aturan di kawasan tersebut lemah, atau mungkin ketidakpedulian terhadap peraturan yang Hasil penelitian ini juga memberikan wawasan berharga mengenai pemilihan tempat merokok di kalangan responden. Temuan ini menjadi sangat relevan dalam konteks upaya pengendalian tembakau dan implementasi kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Data dikumpulkan menunjukkan pola yang SIMPULAN Diketahui dari 379 responden . pengetahuan baik, sebanyak 200 . responden dengan sikap positif, sebanyak 196 . 7%) responden dengan orang penting sebagai refrensi positif, sebanyak . pendapatan lebih, sebanyak 366 . responden dengan tidak ada fasilitas, dan sebanyak 329 . 8%) responden dengan pemilihan tempat merokok di kawasan KTR. Ada hubungan pengetahuan dengan pemilihan tempat merokok pada usia produktif di wilayah kerja Puskesmas Merbau Mataram tahun 2024 . -value = Ada hubungan sikap dengan pemilihan tempat merokok pada usia produktif di wilayah kerja Puskesmas Merbau Mataram tahun 2024 . -value = SARAN Dapat menambah pengetahuan dan wawasan dalam pemilihan tempat merokok, responden mencari informasi tempat Ae tampat atau fasilitas yang diperbolehkan untuk merokok sehingga tidak mengganggu masyarakat lain yang mengkhawatirkan dalam pemilihan lokasi merokok di antara responden. Dari total sampel perokok, ditemukan bahwa sebanyak 329 orang memilih untuk merokok di kawasan tanpa rokok, sementara hanya 50 orang yang memilih untuk merokok di non-kawasan tanpa Temuan ini mengindikasikan tingginya tingkat pelanggaran terhadap kebijakan Kawasan Tanpa Rokok dan menunjukkan adanya tantangan serius terhadap regulasi yang ada. Temuan tantangan signifikan dalam implementasi Kawasan Tanpa Rokok. Hal multi-dimensi yang melibatkan edukasi, penegakan hukum, perubahan norma sosial, dan perbaikan infrastruktur. Upaya yang lebih intensif dan terkoordinasi diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung kepatuhan terhadap Kawasan Tanpa Rokok, kesehatan masyarakat, dan menghormati hak non-perokok untuk bernapas udara Ada hubungan orang penting sebagai referensi dengan pemilihan tempat merokok pada usia produktif di wilayah kerja Puskesmas Merbau Mataram tahun 2024 . -value = 0. Tidak ada hubungan pendapatan dengan pemilihan tempat merokok pada usia produktif di wilayah kerja Puskesmas Merbau Mataram tahun 2024 . -value = 0. Ada hubungan fasilitas merokok dengan pemilihan tempat merokok pada usia produktif di wilayah kerja Puskesmas Merbau Mataram tahun 2024 . -value = Ada faktor dominan pemilihan tempat merokok pada usia produktif di wilayah kerja Puskesmas Merbau Mataram tahun 2024 adalah fasilitas . -value = 038. OR = 3. terganggu dengan asap rokok, selain itu responden mencari informasi terkait responden dapat mengurangi rokok. Perlunya meningkatkan kesadaran masyarakat terkait kawasan tanpa rokok Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 165-176 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Pemilihan Tempat MerokokA (Dewi Sintawati. Lolita Sary. Christin A. , dk. dan kawasan merokok, langkah pertama yang dapat dilakukan adalah memberikan penyuluhan atau sosialisasi tentang pemilihan tempat merokok. Penyuluhan ini bisa diadakan dengan bekerja sama pemerintah daerah, dinas kesehatan, lembaga pendidikan, dan organisasi Program DAFTAR PUSTAKA