Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 166 - 173 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/444 Pengaruh Dual Task Training Terhadap Konsentrasi Pada Anak Usia 7 Ae 9 Tahun di SD Muhammadiyah Mlangi The Effect of Dual Task Training on Concentration in Children Aged 7 Ae 9 Years at Muhammadiyah Mlangi Primary School *Adellia Putri1. Lailatuz Zaidah2. Rizky Wulandari3 Universitas AoAisyiyah Yogyakarta Email Korespondensi: *adelliaaputrii30@gmail. Diterima: 03 Oktober 2024 | Ditinjau: 23 Desember 2024 | Disetujui: 15 Paril 2025 | Publikasi Online: 15 Mei 2025 ABSTRAK Konsentrasi berperan penting dalam mencapai keberhasilan belajar pada anak. Pada anak berusia 7 hingga 9 tahun, perkembangan kognitif seringkali ditandai oleh kesulitan dalam fokus perhatian dan keterbatasan dalam dorongan untuk berpikir secara mendalam. Ketika anak memiliki konsentrasi yang rendah maka anak akan kesulitan dalam memahami informasi yang dapat menyebabkan ketidakseriusan dalam belajar. Dual task training mengharuskan seseorang untuk melakukan aktivitas yang kompleks secara bersamaan, dan menekankan peran kognisi dan Sehingga dapat diberikan kepada anak untuk melatih tingkat konsentrasi ketika melakukan suatu aktivitas yang dilakukan secara bersamaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dual task training terhadap konsentrasi pada anak usia 7 Ae 9 tahun. Metode penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain quasi eksperimental dan rancangan pre and post test one group design. Sampel dalam penelitian ini terdiri dari 34 orang anak berusia 7 hingga 9 tahun dari SD Muhammadiyah Mlangi yang diberikan perlakuan dual task training sebanyak 3 kali perminggu dengan total 12 pertemuan dalam 4 minggu. Penelitian ini menggunakan kuesioner konsentrasi belajar sebagai alat ukur dalam penelitian. Hasil uji hipotesis dengan menggunakan Paired Samples T-Test menunjukkan nilai p = 0. 001 ( p < 0. yang berarti bahwa Ha diterima dan Ho ditolak. Dari pernyataan tersebut bahwa ada pengaruh dual task training terhadap konsentrasi pada anak usia 7 Ae 9 tahun. Diharapkan penelitian selanjutnya menggunakan kelompok kontrol dan dapat menerapkan dual task training lebih dari 4 minggu, sehingga hasil yang didapatkan lebih maksimal. Kata kunci : Dual Task Training. Konsentrasi. Anak ABSTRACT Concentration plays an important role in achieving learning succes in children. In children aged 7 to 9 years, cognitive development is often characterized by difficulty in focusing attention and limitations in the drive to think When a child has low concentration, the child will have difficulty understanding information which can cause a lack of seriousness in learning. Dual task training requires a person to carry out complex activities simultaneously, and emphasizes the role of cognition and concentration. Thus, it can be given to children to train their level of concentration when carrying out activities simultaneously. This study aims to determine the effect of dual task training on concentration in children aged 7 - 9 years. This research method is quantitative research with a quasi-experimental design and a pre and post test one group design. The sample for this research was children aged 7 Ae 9 years at Muhammadiyah Mlangi Primary School. The subjects of this research were 34 people and were given dual task training treatment for 12 meetings over 4 weeks with a frequency of 3 times a week. This research uses a questionnaire measuring learning concentration. The test result using Paired Samples T-Test were p = 0. < 0. which means that Ha is accepted and Ho is rejected. From this statement, there is an influence of dual task training on concentration in children aged 7 - 9 years. It is expected that future research will use a control group and can apply dual task training for more than 4 weeks, so that the results obtained will be more optimal. Keyword : Dual Task Training. Concentration. Children PENDAHULUAN Masa kanak-kanak merupakan masa dimana anak akan dihadapkan pada berbagai proses baik itu pertumbuhan maupun perkembangan yang pesat diberbagai aspek bagi keberlangsungan kehidupan, salah satunya yaitu kognitif. Kemampuan anak untuk berkonsentrasi dan fokus sangat penting dalam perkembangan kognitif, karena perkembangan kognitif ini mencakup kemampuan berpikir abstrak, pemecahan masalah, pemrosesan informasi dan kemampuan dalam mengingat . Pengaruh Dual Task Training Terhadap Konsentrasi Pada AnakA| Adellia Putri dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 166 - 173 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/444 Konsentrasi adalah upaya untuk me pikiran atau perhatian individu pada suatu objek atau materi yang sedang dipelajari dengan mengabaikan gangguan lainnya . Pada dasarnya, konsentrasi adalah kemampuan individu dalam mengatur pikiran, perasaan dan kemauan. Dengan konsentrasi, seseorang dapat memusatkan perhatian dan fokus utama pada hal-hal yang Jika seseorang dapat menikmati apa yang sedang dilakukannya, maka hal tersebut dapat mempermudah dalam mengendalikan kemauan, pikiran dan perasaan . Berdasarkan penelitian di Belanda dengan jumlah sebanyak 708 siswa sekolah dasar usia berkisar antara 7 Ae 13 tahun, didapatkan hasil bahwa siswa dengan konsentrasi rendah berjumlah 46%, siswa dengan konsentrasi campuran . berjumlah 13,8% dan siswa dengan konsentrasi tinggi berjumlah 40,2% . Penelitian pada siswa sekolah dasar di SDN Babakan Loa Padalarangyang berjumlah 25 orang dengan persentase peningkatan konsentrasi siswa berdasarkan observasi yaitu siswa dengan konsentrasi belajar kategori tinggi sebanyak 8%, siswa dengan konsentrasi belajar sedang 32% dan siswa dengan konsentrasi belajar rendah 60% . Konsentrasi berperan penting dalam mencapai keberhasilan belajar pada anak. Pada anak berusia 7 hingga 9 tahun, perkembangan kognitif seringkali ditandai oleh kesulitan dalam fokus perhatian dan keterbatasan dalam dorongan untuk berpikir secara mendalam . Konsentrasi yang buruk dapat menyebabkan anak kesulitan dalam mengikuti pelajaran, kurang memahami informasi atau pelajaran, dan kesulitan mengingat apa yang telah dipelajari. Terkait dengan tingkat konsentrasi belajar anak, jika rata-rata konsentrasi anak rendah, maka kualitas pembelajaran mereka juga akan menurun. Hal ini akan mempengaruhi pemahaman anak tentang materi dan menyebabkan ketidakseriusan mereka dalam belajar . Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 65 Tahun 2015 tentang Standar Pelayanan Fisioterapi, fisioterapi berperan dalam mengembangkan, memelihara dan memulihkan gerak dan fungsi tubuh dengan menggunakan penanganan secara manual, peningkatan gerak, peralatan . isik, elektroterapeutis dan mekani. , fungsi dan komunikasi. Di dalam penelitian ini, fisioterapi mempunyai peran pada bidang pediatri. Fungsi kognitif berkaitan erat dengan perkembangan pada anak-anak. Saat terjadi gangguan pada kognitif, fisioterapi dapat berperan dengan memberikan Salah satu upaya meningkatkan konsentrasi pada anak adalah dengan dual task training. Dual task training merupakan suatu metode latihan yang menggabungkan dua tugas yaitu tugas motorik dan tugas kognitif dalam waktu bersamaan . Dual task training mengharuskan seseorang untuk melakukan aktivitas yang kompleks secara bersamaan, dan menekankan peran kognisi dan konsentrasi menggunakan metode dual task training yang melibatkan tugas kognitif yang dikombinasikan dengan motorik. Biasanya, kinerja motorik dan kognitif yang dilakukan secara bersamaan dalam dual task training dapat mempengaruhi kinerja salah satu atau kedua tugas tersebut . Sehingga cocok untuk diberikan kepada anak untuk melatih tingkat konsentrasi ketika melakukan suatu aktivitas yang dilakukan secara bersamaan. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimental dengan desain pre and post test one group design. Tujuan untuk mengetahui pengaruh dual task training terhadap konsentrasi pada anak usia 7 Ae 9 tahun. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah siswa/i SD Muhammadiyah Mlangi. Gamping. Sleman. Yogyakarta berusia 7 Ae 9 tahun yang berjumlah 52 orang. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling yaitu sampel dipilih oleh peneliti melalui serangkaian proses assesment sehingga benar-benar mewakili populasi yang sesuai dengan kriteria inklusi. Sampel pada penelitian ini adalah siswa/i SD Muhammadiyah Mlangi Gamping yang memenuhi kriteria inklusi. Pengaruh Dual Task Training Terhadap Konsentrasi Pada AnakA| Adellia Putri dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 166 - 173 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/444 Kriteria Inklusi Siswa/i SD Muhammadiyah Mlangi usia 7 Ae 9 Tahun. Memiliki interpretasi skor konsentrasi belajar O 75. Bersedia menjadi responden dan mengikuti prosedur penelitian. Mendapat persetujuan dari orangtua/wali murid . nformed consen. Mampu berkomunikasi, membaca dan menerima instruksi yang diberikan dengan baik Kriteria Ekslusi Responden tidak kooperatif. Sedang dalam kondisi sakit atau cedera. Besar Sampel Besaran sampel yang akan diteliti sebagai berikut: 1 NeA 1 52 . 1,52 = 34,21 Keterangan : n : jumlah sampel N : jumlah populasi e : batas toleransi kesalahan . enggunakan 10% atau 0,. Maka jumlah sampel dalam penelitian ini berdasarkan rumus slovin adalah 34,21 dibulatkan menjadi 34. Prosedur Pengumpulan Data Adapun prosedur yang diterapkan dalam penelitian ini antara lain : Melakukan observasi dan studi pendahuluan. Sebelum dilakukan penelitian, peneliti melakukan proses perizinan pada Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Mlangi. Menentukan jumlah sampel dari SD Muhammadiyah Mlangi yang sesuai dengan kriteria inklusi dan hasil kuesioner. Pelaksanaan penelitian selama 4 minggu. Setelah data terkumpul kemudian dilakukan pengelolaan data dengan menggunakan Prosedur Pelaksanaan Intervensi Waktu Tugas Motorik Tugas Kognitif C Menghitung maju angka Berjalan pada garis 1 Ae 100 Minggu ke-1 lurus dengan jarak 10 C Menghitung angka 100 Ae 1 C Menyebutkan teman, nama keluarga . yah, ibu, saudara Berjalan pada lintasan Minggu ke-2 perempuan/laki-lak. zig-zag C Menyebutkan namanama buah, hewan, bunga atau makanan Pengaruh Dual Task Training Terhadap Konsentrasi Pada AnakA| Adellia Putri dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 166 - 173 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/444 Mengeja kata mulai dari Berjalan ke samping Minggu ke-3 hingga akhir mengikuti pola C Menjumlahkan mengurangi angka C Menghitung kelipatan Berjalan pada garis dua dari angka 2 sampai Minggu ke-4 derngan angka 100 C Melakukan 2/3/4 Dosis dalam pelaksanaan dual task training berdasarkan penelitian sebelumnya yaitu dilakukan 3 kali seminggu selama 4 minggu atau sebanyak 12 kali pemberian latihan . HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilaksanakan di SD Muhammadiyah Mlangi selama 4 minggu dengan jumlah sampel sebanyak 34 orang yang diberikan perlakuan dual task training. Pengukuran konsentrasi belajar dilakukan menggunakan kuesioner konsentrasi belajar, baik sebelum . re tes. maupun setelah . ost tes. intervensi dual task training diberikan. Hasil penelitian kemudian ditampilkan dalam bentuk tabel dan penjelasan sebagai berikut: Karakteristik Responden Tabel 1. Karakteristik Responden Karakteristik Frekuensi Persen (%) Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Usia 7 Tahun 8 Tahun 9 Tahun Dari tabel diatas, terlihat distribusi responden berdasarkan pada jenis kelamin menujukkan bahwa sebanyak 22 responden . 7%) berjenis kelamin laki-laki dan 12 responden . berjenis kelamin perempuan. Berdasarkan usia, sebanyak 19 responden . 9%) berusia 7 tahun, 10 responden . 4%) berusia 8 tahun, dan 5 responden . 7%) berusia 9 tahun. Pengukuran Konsentrasi Tabel 2. Hasil Pengukuran Kuesioner Konsentrasi Belajar Responden Kelompok Dual Task Training Sebelum Sesudah Selisih MeanASD 23A3. 64A3. 38A0. Berdasarkan tabel diatas, rata-rata hasil pengukuran kuesioner konsentrasi belajar pada kelompok yang menjalani dual task training sebelum perlakuan adalah 67. 23 dengan standar Setelah perlakuan, rata-ratanya meningkat menjadi 68. 64 dengan standar Selisih rata-rata antara sebelum dan setelah perlakuan pada kelompok dual task training adalah 1. 38 dengan standar deviasi 0. Hasil Uji Normalitas Pengaruh Dual Task Training Terhadap Konsentrasi Pada AnakA| Adellia Putri dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 166 - 173 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/444 Tabel 3. Uji normalitas shapiro wilk test Variabel Nilai p Sebelum Perlakuan Setelah Perlakuan Nilai Kuesioner Konsentrasi Pada penelitian ini, uji normalitas dilakukan menggunakan metode Shapiro Wilk Test dengan SPSS 29. Hasilnya menunjukkan bahwa nilai p sebelum adanya perlakuan adalah 141, sedangkan setelah adanya perlakuan adalah 0. Karena nilai p sebelum dan setelah perlakuan lebih dari 0. >0. maka dapat diartikan bahwa data dalam kelompok perlakuan tersebut berdistribusi normal. Hasil Uji Hipotesis Tabel 4. Uji hipotesis paired samples t-test Sampel MeanASD Kelompok Dual 411A0. Task Training Uji hipotesis dilakukan menggunakan Paired Samples T-Test dengan SPSS 29. Berdasarkan tabel yang ada, nilai p diperoleh sebesar 0. < 0. , sehingga menunjukkan bahwa Ha diterima dan Ho ditolak. Sehingga menunjukkan bahwa pemberian dual task training memiliki pengaruh terhadap konsentrasi pada anak usia 7 Ae 9 tahun. Pembahasan Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Penelitian ini melibatkan 34 responden dengan rentang usia antara 7 hingga 9 tahun, dimana usia yang paling banyak dalam penelitian adalah 7 tahun yaitu sebanyak 19 orang. Perilaku dan sikap anak dikelas terhadap aktivitasnya di kelas dapat menunjukkan seberapa fokus dan konsentrasi anak pada saat kegiatan belajar sedang berlangsung. Hal ini sejalan dengan Mindari . yang menyatakan bahwa kurangnya konsentrasi pada anak saat melakukan aktivitas belajar dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang berasal dari lingkungan eksternal maupun dari dalam diri anak tersebut. Pada rentang usia 7 Ae 9 tahun, otak anak masih dalam tahap perkembangan, dan perkembangan ini memiliki hubungan erat dengan berbagai aspek perkembangan lainnya seperti kognitif . Kemampuan kognitif seperti kontrol perhatian . berkembang sepanjang masa kanak-kanak sejalan dengan perkembangan korteks prefrontal dan meningkatnya diferensiasi jaringan otak. Dalam hal ini, penelitian yang meneliti dengan rentang usia Ou 7 Ae 9 tahun menemukan bahwa masih kurang efektifnya anak dalam menanggapi suatu rangsangan, waktu reaksi lebih lama dan lebih banyak melakukan kesalahan dibandingkan orang dengan usia diatasnya . Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Dumontheil . yang menyatakan bahwa pada anak-anak, perkembangan perubahan materi abu-abu dicapai pada lobus temporal pada usia 10 Ae 15 tahun. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh . menyatakan bahwa lobus frontal merupakan salah satu wilayah terakhir di otak yang mengalami kematangan. Di otak yang sedang berkembang, materi abu-abu di banyak wilayah di lobus frontal mencapai volume maksimum pada usia sekitar 10 Ae 12 tahun. Pembahasan Responden Berdasarkan Usia Karakteristik responden dalam penelitian ini menjukkan bahwa jumlah responden perempuan lebih sedikit dibandingkan responden laki-laki. Perbedaan jenis kelamin merupakan salah satu penyebab perbedaan lintasan pertumbuhan perkembangan, dimana pematangan otak memuncak lebih awal pada anak perempuan dibandingkan dengan anak laki-laki. Perkembangan otak selama masa kanak-kanak ini ditandai Pengaruh Dual Task Training Terhadap Konsentrasi Pada AnakA| Adellia Putri dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 166 - 173 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/444 dengan peningkatkan volume materi putih progresif yang terjadi lebih cepat pada anak perempuan. Peningakatan kepadatan materi abu-abu juga terjadi secara bertahap, dimana lebih cepat terjadi pada anak perempuan sehingga anak perempuan memiliki kepadatan materi abu abu lebih tinggi dibandingkan anak laki Ae laki diseluruh otak setelah usia 8 tahun . Selain itu, berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa volume hipokampus lebih besar pada perempuan. Namun, laki-laki memiliki volume amigdala dan thalamus yang jauh lebih besar dibandingkan perempuan dan secara keseluruhan laki-laki memiliki total volume otak yang lebih besar dibandingkan perempuan . Berkaitan dengan hal tersebut, perempuan memiliki keterampilan verbal yang lebih baik dan kecepatan persepsi yang lebih cepat dibandingkan lakilaki. Sedangkan laki-laki memiliki keterampilan visuospasial yang lebih baik dibandingkan perempuan . Pengaruh Dual Task Training Terhadap Konsentrasi Pada Anak Usia 7 Ae 9 Tahun Berdasarkan hasil uji hipotesis menggunakan paired samples t-test pada penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh dual task training terhadap konsentrasi pada anak usia 7 Ae 9 tahun di SD Muhammadiyah Mlangi. Dual task training dapat menghasilkan efek gabungan dari pelatihan motorik dan pelatihan Kinerja simultan dari kedua jenis pelatihan dapat memberikan peningkatan yang saling melengkapi dalam hal peningkatan neurogenesis dan peningkatan plastisitas pada otak. Dimana pelatihan motorik dianggap berkontribusi terhadap plastisitas sinaptik, sementara pelatihan kognitif memandu neuron baru ini kedalam sinapsis dengan jaringan saraf yang sudah ada sebelumnya . Pelatihan motorik memfasilitasi neuroplastisitas dan pelatihan kognitif memandu Faktor neurotropik yang diturunkan dari otak yaitu BDNF (Brain-Derived Neurotropic Fact. adalah faktor potensial yang memediasi neurogenesis yang disebabkan oleh aktivitas fisik. BDNF dikenal sebagai pengatur sinapsis dan memainkan peran penting dalam mekanisme yang mendasari pembelajaran dan memori, serta potensiasi jangka panjang hipokampus . eningkatan kemanjuran sinapti. Kedua tugas tersebut menginduksi neurogenesis melalui mekanisme yang berbeda namun saling melengkapi karena aktivitas fisik merangsang proliferasi sel prekursor, sedangkan rangsangan kognitif meningkatkan kelangsung hidup sel yang baru lahir . Pada tahap awal latihan, anak akan mengalami kesulitan untuk menerima instruksi sehingga membutuhkan beberapa kali pengulangan. Intensitas pengulangan latihan dapat membantu memperkuat jaras-jaras yang sudah terbentuk, sehingga pada sesi latihan berikutnya, waktu yang diperlukan untuk pengulangan akan lebih singkat dibandingkan saat pertama kali Neuron dan sinaps yang terbentuk sejak awal dan terus diaktifkan secara berulang akan dipertahankan, sementara yang tidak diaktifkan akan kehilangan fungsinya . Salah satu mekanisme potensial dari dual task training adalah peningkatan otomatisitas motorik setelah Otomatisitas motorik adalah kemampuan untuk melakukan tugas motorik tanpa perhatian sadar atau kendali eksekutif dan memainkan peran penting dalam melakukan dual task . Dalam dual task training, biasanya dua tugas dilakukan secara bersamaan, yang mengharuskan subjek untuk memodulasi persaingan antara tugas kognitif dan motorik menggunakan fungsi eksekutif, seperti perhatian terbagi dan perhatian selektif. Selain itu, studi neuroimaging menunjukkan bahwa dual task training menyebabkan aktivasi di korteks prefrontal, area otak yang terutama menjalankan fungsi eksekutif . SIMPULAN DAN SARAN Pengaruh Dual Task Training Terhadap Konsentrasi Pada AnakA| Adellia Putri dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 166 - 173 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/444 Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang telah dibahas maka kesimpulan yang dapat diambil adalah adanya pengaruh dual task training terhadap konsentrasi pada anak usia 7 Ae 9 tahun di SD Muhammadiyah Mlangi. Berdasarkan kesimpulan yang telah disampaikan, maka saran yang dapat peneliti berikan yaitu diharapkan bahwa penelitian ini dapat menambah serta memperluas referensi dan memberikan kontribusi bagi ilmu pengetahuan dan keterampilan dibidang fisioterapi dalam memberikan intervensi fisioterapi terkait permasalahan konsentrasi pada anak. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan untuk dapat mengembangkan penelitian ini lebih lanjut dengan variasi variabel terikat yang lebih luas. Selain itu, disarankan untuk melibatkan jumlah sampel yang lebih besar dan melaksanakan penelitian dalam periode waktu yang lebih lama untuk memperoleh hasil yang lebih optimal. DAFTAR PUSTAKA