Jurnal Agrotech 14 . Desember 2024 e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X RESPON PERTUMBUHAN MISELIA G3 FP005 FAPERTA UNSIKA PADA MEDIA BIAKAN MURNI YANG BERBEDA GROWTH RESPONSE OF G3 FP005 FAPERTA UNSIKA MYCELIA ON DIFFERENT PURE CULTURE MEDIA Astri Dwi Widianingsih1*. Bastaman Syah1. Vera Oktavia Subardja1. Ani Lestari1 Program Studi Agroteknologi. Fakultas Pertanian. Universitas Singaperbangsa Karawang. Jl. HS. Ronggo Waluyo. Puseurjaya. Telukjambe Timur. Karawang. Jawa Barat, 41361 ABSTRAK Wilayah Indonesia memiliki kelembaban udara cukup tinggi dan ideal untuk pertumbuhan jamur merang. Untuk mendapatkan biakan murni pada jamur merang dapat melalui tahapan kultur biakan murni atau G0, kemudian dari G0 dilakukan sub-kultur menjadi G1. G2. G3 dan G4. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan media biakan murni terbaik untuk pertumbuhan miselia G3 FP005 Faperta Unsika. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Singaperbangsa Karawang pada bulan April hingga Mei 2023. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktor tunggal dengan 7 perlakuan dan 5 ulangan: PDA 100% (A). Arang Sekam 100% (B). Sekam 100% (C). PDA 75% Arang Sekam 25% (D). PDA 80% Arang Sekam 20% (E). Arang Sekam 50% Sekam 50% (F), dan PDA 50% Arang Sekam 25% Sekam 25% (G). Perlakuan dianalisis dengan sidik ragam dan uji F taraf 5%, untuk mengetahui perlakuan yang paling baik dilanjutkan dengan uji lanjut DMRT (Duncan Multiple Range Tes. pada taraf 5%. Hasil penelitian adalah terdapat pengaruh nyata penggunaan beberapa biakan murni pada pertumbuhan miselia G3 FP005. Media PDA 75% Arang Sekam 25% memberikan diameter tertinggi pada 2 hsi . ,24 c. , 3 hsi . dan 4 hsi . ,19 c. , laju pertumbuhan tertinggi yaitu sebesar . ,52 c. , regresi diameter dengan R2 0,898 lalu P value 0,052047, dan regresi laju pertumbuhan dengan R2 0,68 kemudian P value sebesar 0,410604. Kata kunci: Jamur merang, arang sekam, sekam padi, biakan murni ABSTRACT The Indonesian region has quite high air humidity and is ideal for the growth of straw mushrooms. obtain pure cultures of straw mushrooms, you can go through the pure culture or G0 culture stage, then from G0 sub-cultures are carried out into G1. G2. G3 and G4. This research aims to obtain the best pure culture media for the growth of G3 FP005 Faperta Unsika mycelia. The research was carried out at the Biotechnology and Plant Breeding Laboratory. Faculty of Agriculture. Singaperbangsa University. Karawang, from April to May 2023. The research method used was a single factor Completely Randomized Design (CRD) with 7 treatments and 5 replications: PDA 100% (A). Charcoal Husk 100 % (B), 100% Husk (C), 75% PDA 25% Husk Charcoal (D), 80% PDA 20% Husk Charcoal (E), 50% Husk Charcoal 50% Husk Charcoal (F), and PDA 50% Charcoal Husk 25% Husk 25% (G). Treatments were analyzed using variance and F test at 5% level, to find out the best treatment followed by further DMRT (Duncan Multiple Range Tes. at 5% level. The results of the research were that there was a real effect of using several pure cultures on the growth of G3 FP005 mycelia. PDA 75% Charcoal Husk 25% media gave the highest diameter at 2 dai . 24 c. , 3 dai . and 4 dai . 19 c. , the highest growth rate was . , diameter regression with R2 0. 898 then P value 0. 052047, and growth rate regression with R2 0. then P value 0. Keywords: straw mushroom, husk charcoal, rice husk, pure culture -----------------------------------------------------------------*) Penulis Korespondensi: E-mail: 1910631090005@student. Jurnal Agrotech 14 . Desember 2024 Pendahuluan e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X G1. G2. G3 dan G4 (Yuliawati, 2. Salah satu tahapan yang penting dalam proses pembuatan biakan murni yaitu pembuatan media biakan. Media merupakan suatu substrat untuk menumbuhkan jamur. Kandungan substrat ini tentu saja harus disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi untuk pertumbuhan miselia jamur. Adapun kebutuhan nutrisi jamur diantaranya yaitu. nitrogen, mineral . ulfur, potassium, magnesium, besi, zink, mangan, tembaga, dan molibdenu. , dan vitamin (B1. B3. B5, dan B. (Devisa, 2. Salah satu media yang umum digunakan untuk pembiakan adalah media PDA (Potato Dexstrose Aga. Media PDA instan termasuk kedalam kelompok media semi sintetik karena tersusun atas tiga bahan utama yang terdiri dari bahan sintetik dan bahan alami yaitu kentang, dextrosa dan agar. Kentang merupakan sumber karbon (Karbohidra. , vitamin dan energi. Dextrose sebagai sumber gula dan energi. Sedangkan agar berfungsi untuk memadatkan media PDA instan. Ketiga jenis bahan tersebut perkembangbiakan cendawan. Harga media PDA instan yang tergolong mahal menjadi salah satu masalah yang sering dihadapi. Harga media PDA instan ini mencapai Rp. 000,- hingga Rp. 000,- setiap 500 gram (Wantini, 2. Media PDA dapat dibuat dengan sederhana menggunakan bahan alami kentang sebagai bahan dasar utama. Pada saat ini harga kentang cukup mahal sehingga diperlukan alternatif lain mengenai media alami yang bahannya murah, melimpah, dan tersedia di lingkungan. Alternatif yang dapat digunakan adalah jerami dan sekam padi yang tersedia dan melimpah di Karawang dan merupakan media tumbuh jamur merang (Lestari, et al. , 2. Sekam merupakan limbah dari tanaman padi yang melimpah di semua daerah. Sekam memiliki kandungan lignin atau serat kasar, selulosa, karbohidrat, dan serat yang dapat didegradasi menjadi protein. Kandungan yang terdapat pada arang sekam diantaranya, air 9,02%, protein kasar 3,03%, lemak 1,18%, serat kasar 35,68%, abu 17,71% karbohidrat 33,71%, karbon 1,33%, hydrogen 1,54%, oksigen 33,68%, dan silica 16,89% sedangkan sekam terdiri dari 33-44% selulosa, 19-47% lignin, 17-26% hemiselulosa, dan 13% silika (Rahayu, 2. Penelitian ini mengacu pada penggunaan ekstrak arang sekam dan sekam padi sebagai bahan pembuatan media biakan murni jamur merang pada isolat yang sama, yaitu isolat FP005 Budidaya jamur merang di Indonesia tergolong baru dibandingkan dengan negara yang lain seperti Cina. Taiwan. Jepang. Prancis. Italia, dan Amerika. Wilayah Indonesia memiliki kelembaban udara cukup tinggi dan ideal untuk pertumbuhan jamur merang. Bahan baku untuk budidaya jamur merang yang sebagian besar berasal dari limbah pertanian, perkebunan, peternakan, dan kehutanan yang jumlahnya sangat melimpah di Indonesia. Keberlimpahan sumber bahan baku tersebut mendukung untuk dilakukannya budidaya jamur merang di Indonesia (Riduwan, et al. , 2. Budidaya jamur merang umur panennya relatif singkat yaitu sekitar satu bulan sampai dengan tiga bulan sehingga perputaran modal pada usaha ini, berlangsung cukup cepat. Bahan baku untuk produksi jamur merang ini mudah didapat, dan pengusahaannya tidak membutuhkan lahan yang luas. Oleh sebab itu, komoditas jamur merang ini dapat memberikan lebih banyak kesempatan kerja dalam upaya meningkatkan ekonomi masyarakat petani, sehingga dapat meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan petani secara umum (Hagutami, 2001 dalam Mayun, 2. Jamur merang merupakan salah satu jamur yang sangat diminati untuk dikonsumsi, sehingga permintaan pasar jamur merang ini semakin Untuk memenuhi kebutuhan tersebut perlu dilakukan peningkatan produksi, namun banyak kendala yang ditemukan, salah satunya adalah dalam penyediaan biakan murni terkait jenis dan konsentrasi media biakan murni (Lestari, et al. , 2. Pembibitan merupakan tahapan budidaya yang memerlukan ketelitian tinggi karena harus dilakukan dalam keadaan steril dengan menggunakan bahan dan peralatan khusus. Kualitas bibit yang kurang baik juga sangat dipengaruhi oleh kualitas dan komposisi media yang tepat untuk pertumbuhan jamur merang. Beberapa cara dapat dilakukan untuk mengatasi rendahnya kualitas bibit jamur, sehingga meningkatkan kualitas jamur yang dipanen. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan membuat media biakan murni yang tepat (Cahyaningsih, 2. Untuk mendapatkan biakan murni pada jamur merang dapat melalui beberapa tahapan diantaranya kultur biakan murni atau G0, kemudian dari G0 dilakukan sub-kultur menjadi e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Jurnal Agrotech 14 . Desember 2024 jamur merang Faperta Unsika. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan hasil yang nyata, dan dapat diketahui jenis media biakan murni alternative manakah yang terbaik untuk menghasilkan biakan alami yang berkualitas sehingga mampu mensubstitusi media PDA (Potato Dextrose aga. dan meningkatkan produksi jamur merang yang dihasilkan oleh para petani jamur merang. Hasil dan Pembahasan Pengamatan penunjang Suhu udara dalam oven Keadaan suhu harian dalam oven selama percobaan berlangsung berkisar antara 30,7AC Ae 32,5AC dengan suhu rata-rata 31,7AC dan masih di anggap sesuai untuk pertumbuhan miselia jamur Menurut Setiyono et al. , . , jamur merang memerlukan suhu sekitar 30AC-35AC, sebenarnya untuk pertumbuhan miselia jamur merang tinggi suhu sangat tergantung pada strain jamur yang digunakan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa suhu oven selama percobaan mengalami Suhu maksimum selama inkubasi jamur merang V. volvaceae yaitu 32,5AC dengan rata-rata suhu 31,7AC pada pengamatan umur 1 sampai 7 his. Keadaan suhu selama percobaan ini dianggap masih sesuai karena mengalami peningkatan A 2AC dari suhu awal. Kenaikan suhu oven selama masa inkubasi disebabkan oleh tumbuhnya miselia pada media yang jumlahnya meningkat sehingga menyebabkan suhu oven juga meningkat. Miselia jamur merang merombak atau menguraikan senyawa kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana sehingga dapat dengan mudah diserap oleh hifa jamur dan memenuhi kebutuhan nutrisinya, proses penguraian senyawa tersebut menyebabkan suhu menjadi meningkat (Lestari et , 2. Morfologi makroskopis jamur merang Metode Penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Singaperbangsa Karawang yang terletak di Jalan HS Ronggowaluyo. Telukjambe Timur. Karawang. Kegiatan penelitian berlangsung pada bulan April sampai dengan bulan Mei 2023. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah bibit jamur merang isolat FP005, media PDA (Potato Dextrose Aga. instan kemasan merk oxoid, arang sekam padi, sekam, aquades, gula putih, spirtus, alkohol 70%, agar-agar bubuk kemasan. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktor tunggal yang terdiri dari 7 perlakuan dan 5 kali ulangan sehingga didapat 35 satuan percobaan. Setiap satuan percobaan terdiri dari satu miselia G3 FP005 Faperta Unsika. Adapun perlakuan pada percobaan ini yaitu sebagai berikut adalah A (PDA 100%) . B (Larutan arang sekam 100%). C (Larutan sekam 100%). D (PDA 75% larutan arang sekam 25%). E (PDA 80% larutan arang sekam 20%). F (Larutan arang sekam 50% larutan sekam 50%). G (PDA 50% larutan arang sekam 25% larutan sekam 25%). Tahapan penelitian ini meliputi beberapa hal yaitu: Sterilisasi persiapan alat dan bahan. Pembuatan media tanam yaitu media PDA, arang sekam, dan juga sekam. Isolasi dengan kultur jaringan, dan Pengamatan. Pengamatan pada jamur merang meliputi pengamatan penunjang yaitu suhu udara dalam oven, pengamatan morfologi makroskopis dan juga pengamatan morfologi mikroskopis miselia. Kemudian pengamatan utama yaitu diameter miselia arah radial, laju pertumbuhan arah koloni miselia, dan analisis regresi antara pengaruh waktu inkubasi terhadap diameter dan laju pertumbuhan koloni Karakteristik makroskopis pada miselia jamur merang yaitu dengan melihat warna miselia jamur merang yang dapat dilihat secara langsung tanpa menggunakan alat bantu seperti mikroskop. Pengamatan dilakukan setelah miselia tumbuh di permukaan media pada cawan petri. Karakteristik makroskopis miselia jamur merang pada pengamatan selama 7 hari pada miselia G3 FP005 yang terdapat pada 7 macam media menampakan karakteristik makroskopis yang berbeda beda. Berdasarkan hasil pengamatan (Gambar . pada media PDA menunjukan morfologi miselia yang tampak berwarna putih, tebal dan pertumbuhan miselia yang merata serta cepat. Hal ini sejalan dengan penelitian Lestari dan Jajuli . Karakteristik jamur merang memiliki hifa bersekat, dinding hifa tebal, warna hifa putih, arah pertumbuhan sirkuler, dengan tipe percabangan Untuk miselia dengan media ekstrak arang sekam padi menunjukan morfologi yang berwarna putih, sangat tipis dengan pertumbuhan e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Jurnal Agrotech 14 . Desember 2024 yang lambat. Hal ini berbeda dengan hasil dari Yasin . , yang menyatakan bahwa morfologi miselia pada media arang sekam padi memiliki miselia yang tipis, rapat dan pertumbuhannya Untuk media ekstrak sekam padi menunjukan warna yang kekuningan, dengan miselia yang sedikit tipis dan pertumbuan panjangnya lebih cepat di banding dengan media ekstrak arang sekam. Media campuran PDA dengan ekstrak arang sekam dan juga ekstrak sekam memiliki miselia yang tampak berwarna putih, tebal, dan pertumbuhan yang cenderung cepat dan merata. Untuk media campuran ekstrak arang sekam dan ekstrak sekam memiliki warna putih kekuningan, sedikit tebal, dan pertumbuhan yang sedikit cepat. Berdasarkan hasil pengamatan (Gambar . menunjukkan hifa bersekat dan tipe percabangan hifa menggarpu pada semua media biakan murni yang berbeda. Hal ini sesuai dengan penelitian Lestari dan Jajuli. , . bahwa karakteristik mikroskopis jamur merang pada lokasi asal Purwasari. Cilamaya. Lamaran, dan Pacing memperlihatkan hifa yang sama pada semua lokasi yaitu hifa bersekat, dinding hifa tebal, warna hifa putih, arah pertumbuhan sirkuler, dengan tipe pecabangan menggarpu, sedangkan perbedaan yang tampak yaitu rerata laju pertumbuhan jamur merang pada empat lokasi yang berbeda. Gambar 1. Karakter Makroskopis Miselia G3 FP005 Jamur Merang . PDA 100%, . Arang Sekam 100%, . Sekam 100%, . PDA 75% Arang Sekam 25%, . PDA 80% Arang Sekam 20%, . Arang Sekam 50% Sekam 50%, . PDA 50% Arang Sekam 25% Sekam 25%. Gambar 2. Karakter Mikroskopis Miselia G3 FP005 Jamur Merang . PDA 100%, . Arang Sekam 100%, . Sekam 100%, . PDA 75% Arang Sekam 25%, . PDA 80% Arang Sekam 20%, . Arang Sekam 50% Sekam 50%, . PDA 50% Arang Sekam 25% Sekam 25%. Pengamatann mikroskopis jamur merang Karakteristik mikroskopis miselia yaitu warna hifa, pola percabangan hifa, arah hifa, dan hifa bersekat atau tidak. Pengamatan mikroskopis jamur merang G3 FP005 dengan menggunakan mikroskop perbesaran 400x pada media tumbuh yang berbeda yaitu arang sekam, sekam. PDA dan sekam. PDA dan arang sekam. PDA sekam dan arang sekam, arang sekam dan sekam. Pengamatan dilakukan setelah miselia jamur merang telah tumbuh memenuhi cawan petri. Pengamatan utama Diameter Koloni Miselia G3 FP005 Pengamatan diameter koloni miselia jamur merang dilakukan hingga miselia memenuhi cawan petri. Perlakuan media PDA 75% larutan arang sekam 25% (D) dan media PDA 80% larutan arang sekam 20% (E) telah memenuhi cawan petri pada hari ke 5 hsi maka perhitungan hanya sampai pada 5 Berdasarkan analisis ragam taraf 5% e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Jurnal Agrotech 14 . Desember 2024 penggunaan beberapa media biakan murni memberikan pengaruh nyata terhadap diameter koloni miselia G3 FP005. Hasil rata- rata diameter pertumbuhan koloni miselia G3 FP005 dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Pengaruh beberapa biakan murni yang berbeda terhadap diameter koloni miselia G3 FP005 Faperta Unsika umur 2 - 5 hari setelah inokulasi . Kode Perlakuan Rata- rata diameter pertumbuhan hari ke- . 1,60a 0,47b 0,93b 2,24a 2,19a 0,81b 1,86a 3,82bc 1,31d 1,53d 4,76a 4,20ab 1,75d 3,25c 6,50b 2,54e 3,26d 7,19a 6,85ab 3,00de 5,70c 7,31a 2,88d 3,93c 7,28a 7,60a 4,06c 6,69b KK (%) 3,99 2,70 1,81 1,48 Rata-rata diameter koloni jamur merang paling tinggi pada 2 Ae 4 hsi terdapat pada perlakuan media PDA 75% larutan arang sekam 25% (D) dengan rata-rata diameter sebesar 2,24 cm, 4,76 cm dan 7,19 cm. Sedangkan, pada 5 hsi perlakuan media PDA 80% larutan arang sekam 20% (E) memberikan hasil rata-rata diameter koloni miselia tertinggi sebesar 7,60 cm. Namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan media PDA 100% dan media PDA 75% larutan arang sekam Hasil pengamatan pertumbuhan diameter koloni miselia selama 2-5 hsi (Hari Setelah Inokulas. , penggunaan media biakan murni PDA 75% larutan arang sekam 25% (D) dan media biakan murni PDA 80% larutan arang sekam 20% (E) merupakan media yang mampu melampaui media larutan PDA 100% sebagai Hal ini dipengaruhi oleh kandungan nutrisi yang terkandung dalam media tumbuh miselia dan juga beberapa faktor seperti faktor lingkungan yaitu pH dan suhu yang sesuai untuk pertumbuhan jamur merang yaitu dengan pH 6,8 dan suhu rata-rata 31,7AC. Menurut Fadillah . Selain membutuhkan media, serat dan nutrisi guna menunjang pertumbuhan miselia mempengaruhi terhadap pertumbuhan miselia Jamur merang pada pertumbuhan dan perkembangannya membutuhkan nutrisi dalam bentuk selulosa, lignin, glukosa, protein, dan senyawa pati (Kinasih et al, 2. Bahan makanan ini kemudian akan diuraikan menjadi senyawa yang dapat diserap oleh jamur merang dengan bantuan enzim pada hifa jamur merang. Pada karbohidrat sebagai sumber karbon untuk menyusun bagian tubuh atau badan buah sebagai Arang sekam memiliki kandungan karbon yang tinggi yang terkandung dalam selulosa, glukosa, dan juga lignin (Lestari, 2. Jamur merang (Volvariella volvace. merupakan organisme yang bersifat saprofit, yaitu menggunakan sumber karbon yang berasal dari bahan organik untuk diuraikan menjadi senyawa karbon sederhana kemudian diserap masuk ke dalam miselia jamur (Yenie, 2. Hal ini juga sesuai dengan hasil penelitian Lestari . Hasil pertumbuhan miselia jamur merang mencapai tingkat tertinggi ketika arang sekam Penggunaan berbagai konsentrasi arang sekam padi juga menunjukkan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan miselia jamur merang. Kandungan karbon pada media larutan arang sekam 100% tinggi, tetapi pada pertumbuhannya tidak lebih cepat dari media lainnya, ini disebabkan oleh kandungan silika yang berlebih. Hal ini sejalan dengan Hartati . Silika yang terlalu berlebih akan menghambat pertumbuhan miselia karena mengganggu proses degredasi ligninselulosa. Berdasarkan hasil pengamatan diameter miselia, media yang terdapat campuran PDA memiliki pertumbuhan yang lebih cepat Jurnal Agrotech 14 . Desember 2024 dibandingkan dengan media biakan murni larutan sekam 100 %, media larutan arang sekam 100%, dan media larutan arang sekam 50% larutan sekam 50%. Salah satu penyebabanya karena nutrisi yang terkandung dalam PDA cukup mendukung pertumbuhan miselia. Dengan adanya penambahan bahan arang sekam pada media tumbuh dapat mempercepat pertumbuhan miselia karena adanya unsur karbon yang terkandung pada arang sekam. Pertumbuhan miselia pada pada media biakan murni PDA 50% larutan arang sekam 25 % larutan sekam 25 % lebih lambat dibandingkan dengan media biakan murni PDA 75% larutan arang sekam 25% dan PDA 80% larutan arang sekam 20%. Penyebabnya karena konsentrai media sekam lebih dari 20% sehingga kandungan nutrisi yang terkandung kuantitasnya terlalu berlebihan, sehingga nutrisi yang diserap oleh jamur merang membutuhkan waktu yang lebih lama karena perlu adanya penguraian Berdasarkan hasil penelitian (Rosnina et al. , 2. menyatakan bahwa perlakuan penambahan sekam 20% dapat meningkatkan produktivitas jamur tiram putih. Sehingga dapat dikatakan penggunaan konsentrasi media sekam yang bagus untuk meningkatkan pertumbuhan jamur sekitar 15 20%. Hasil penggunaan media biakan murni PDA 75% arang sekam 25% (D) merupakan media dengan respon terbaik pada miselia G3 FP005 Faperta Unsika di duga memberikan komposisi nutrisi yang optimal terlihat dari umur 2 hst sampe dengan 5 hst pertumbuhannya semakin baik dan tidak mengalami penurunan. Penggunaan beberapa konsentrasi media yang dibuat semuanya memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuh miselia jamur merang, hal ini sesuai dengan hasil penelitian Handiyanto . , bahwa perbedaan konsentrasi dapat memberikan perbedaan pengaruh nyata terhadap kecepatan pertumbuhan miselia karena di perkirakan terdapat perbedaan kandungan nutrisi yang terdapat pada masing-masing konsentrasi. Data hasil pengamatan diameter koloni miselia kemudian akan di analisis mengunakan uji regresi linear sederhana tujuannya untuk mengetahui ada tidakanya pengaruh waktu inkubasi terhadap pertumbuhan diameter miselia G3 FP005 (Gambar . e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Gambar 3. Hubungan Diameter Koloni dengan Waktu Inokulasi Berdasarkan hasil analisis regresi (Gambar . hubungan antara diameter koloni miselia G3 FP005 dengan waktu inkubasi pada semua perlakuan menunjukkan nilai R2 sebesar 0,898 Ae 0,997 yang berarti bahwa sebesar 89,8 Ae 99,7% diameter koloni miselia G3 FP005 dipengaruhi oleh waktu inkubasi. Perlakuan media PDA 100%, larutan arang sekam 100%, larutan sekam 100%. PDA 80% larutan arang sekam 20%, larutan arang sekam 50% larutan sekam 50% dan PDA 50% larutan arang sekam 25% larutan sekam 25% menunjukkan nilai P value sebesar 0,001431 Ae 0,020518 yang berarti waktu inkubasi berpengaruh secara signifikan terhadap diameter koloni miselia G3 FP005 karena nilai P value kurang dari 0,05. Sedangkan pada media PDA 75% larutan arang sekam 25% menunjukan P value sebesar 0,052047 yang berarti waktu inkubasi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap diameter koloni miselia G3 FP005 karena nilai P value lebih dari 0,05. Hasil regresi (Gambar . tersebut memberikan pengaruh secara signifikan dari waktu inkubasi terhadap diameter pertumbuhan koloni miselia jamur merang. Menurut Efendi et , . pengaruh media dan pemberian air leri memebrikan pengaruh yang nyata dengan persamaan y = 50. 03x dengan r = 0. Sejalan juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Lestari et al. , . yang menyatakan bahwa adanya pertambahan hari menyebabkan semakin banyak miselia yang terbentuk pada cawan petri. Faktor lainnya yang dapat memepengaruhi merupakan faktor-faktor pembatas seperti suhu, kelembapan, maupun kadar O2 (Jariah et al. Jurnal Agrotech 14 . Desember 2024 Laju Pertumbuhan Arah Koloni Radial Miselia e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X jamur merang yang dilakukan sejak inokulasi spora jamur. Hasil analisis ragam taraf 5% menujukan bahwa terdapat pengaruh nyata bahan alternatif media secara in vitro terhadap laju pertumbuhan miselia. Rata-rata laju pertumbuhan arah koloni radial dapat dilihat pada Tabel 2. Pengamatan laju pertumbuhan arah koloni radial miselia jamur merang dianalisis berdasarkan data diameter pertumbuhan miselia Tabel 2. Pengaruh beberapa biakan murni yang berbeda terhadap laju pertumbuhan arah koloni radial miselia G3 FP005 Faperta Unsika Rata-rata Laju pertumbuhan arah koloni radial . m/har. Kode Perlakuan 2 ke 3 3 ke 4 4 ke 5 2,20b 2,68a 0,82ab 0,84de 1,23c 0,41b 0,59e 1,73b 1,78a 2,52a 2,43a 0,09b 2,01b 2,65a 0,75b 0,93de 1,25c 1,07ab 1,39c 2,45d 0,99ab KK (%) 1,76 1,79 7,46 Pada hari 2 ke 3 hsi menunujukan media perlakuan PDA 75% larutan arang sekam 25% (D) memberikan rata-rata laju pertumbuhan arah koloni radial tertinggi yaitu sebesar 2,52 berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Pada hari 3 ke 4 hsi menunujukan media perlakuan PDA 100% (A) memberikan rata-rata laju pertumbuhan arah koloni radial tertinggi yaitu sebesar 2,68 berbeda nyata dengan perlakuan larutan arang sekam 100% (B), larutan sekam 100% (C), larutan sekam 50% larutan arang sekam 50% (F) dan PDA 50% larutan arang sekam 25% larutan sekam 25% (G). Namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan PDA 75% larutan arang sekam 25% (D) dan PDA 80% larutan arang sekam 20% (E). Pada hari 4 ke 5 hsi menunujukan media perlakuan larutan sekam 100% (C) memberikan rata-rata laju pertumbuhan arah koloni radial tertinggi yaitu sebesar 1,78 berbeda nyata dengan perlakuan media larutan arang sekam 100% (B), perlakuan media PDA 75% larutan arang sekam 25% (D), dan perlakuan media PDA 80% larutan Arang Sekam 20% (E). Namun tidak berbeda nyata dengan media perlakuan PDA 100% (A), media perlakuan larutan arang sekam 50% larutan sekam 50% (F), dan media perlakuan PDA 50% larutan arang sekam 25% larutan sekam 25% (G). Laju pertumbuhan koloni miselia di hari 2 ke 3 hsi memiliki perlakuan paling tinggi pada perlakuan D (PDA 75% Arang sekam 25%) dan perlakuan C (Sekam 100%) yang memiliki laju pertumbuhan terendah. Pada hari 3 ke 4 hsi perlakuan yang laju pertumbuhan koloni miselianya tertinggi yaitu perlakuan A (PDA 100%) dan perlakuan yang memiliki laju pertumbuhan terendah yaitu B (Arang sekam 100%). Pada hari 4 ke 5 hsi terlihat bahwa laju pertumbuhan miselia jamur merang V. mengalami penurunan saat telah mencapai titik Menurut Listyawati . pertumbuhan mikrorganisme mengacu pada 4 fase pertumbuhan yaitu fase log, fase lag, fase stasioner dan fase Fase lag merupakan fase adaptasi yang menunjukkan mikroorganisme dalam kondisi penyusuain terhadap lingkungan. Fase log merupakan fase pertumbuhan mikroorganisme dan kecepatan pertumbuhannya dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Selanjutnya, fase stasioner merupakan fase yang menunjukkan pertumbuhan mikrorganisme dalam keadaan konstan yang akan berakhir menuju fase penurunan. Fase terakhir yaitu fase kematian yang menunjukkan penurunan, hal ini dapat disebabkan karena nutrisi pada media yang digunakan sudah habis. Perbedaan laju pertumbuhan koloni radial miselia jamur merang pada beberapa media yang berbeda diduga terjadi karena perbedaan berbagai faktor, termasuk efisiensi penyerapan nutrisi, kesesuaian nutrisi, kualitas bibit, serta variabel eksternal seperti suhu dan kelembaban lingkungan tempat miselia dibiakkan. Pertumbuhan miselia juga sangat dipengaruhi oleh komposisi dan konsentrasi media yang digunakan dalam proses e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Jurnal Agrotech 14 . Desember 2024 perkembangan (Handiyanto, 2. Faktor-faktor yang memengaruhi laju pertumbuhan koloni biakan murni mencakup kemampuan penyerapan nutrisi yang efisien, kesesuaian nutrisi, kualitas bibit, serta variabel eksternal seperti suhu dan kelembapan di lingkungan tempat miselia Tak hanya itu, komposisi dan konsentrasi media yang digunakan dalam proses perkembangan juga memainkan peran krusial dalam mengatur pertumbuhan miselia (Lestari et al, 2. Namun, secara umum terlihat bahwa laju pertumbuhan koloni miselia G3 FP005 mengalami penurunan saat telah mencapai titik stationer. Fase stasioner merupakan fase dimana jamur merang dalam keadaan konstan kemudian akan mengalami penurunan. Hal ini bisa disebabkan karena nutrisi didalam media tumbuh yang menipis atau ada sesuatu yang dapat menghambat Menurut Listyawati . , pertumbuhan mikroorganisme mengacu pada empat fase pertumbuhan yaitu fase lag, fase log, fase stationer dan fase kematian. Pertambahan waktu pada pertumbuhan miselia tidak berpengaruh secara signifikan terhadap laju pertumbuhan miselia G3 FP005 dipengaruhi oleh kondisi isolat dan didukung oleh faktor lingkungan. Tjenemundan et al. , . menyatakan bahwa kecepatan laju pertumbuhan miselium pada beberapa isolat dan asal kebun pengambilan sampel yang berbeda menujukan perbedaan laju pertumbuhan, kecepatan laju pertumhuhan yang berbeda-beda ini disebabkan oleh kondisi masing-masing isolat itu sendiri dan didukung oleh kondisi lingkungan yang cocok seperti suhu, kelembapan, pH, dan cahaya. Kecepatan pertumbuhan miselia dipengaruhi oleh faktor internal yaitu genetik dan kualitas dari tetua jamur merang tersebut (Lestari et al. , 2. Data hasil pengamatan diameter koloni miselia kemudian akan di analisis mengunakan uji regresi linear sederhana tujuannya untuk mengetahui ada tidakanya pengaruh waktu inkubasi terhadap laju pertumbuhan miselia G3 FP005 (Gambar . Gambar 4. Hubungan Laju Pertumbuan Miselia dengan Waktu Inkubasi Kesimpulan Terdapat pengaruh nyata penggunaan beberapa media biakan murni pada pertumbuhan miselia G3 FP005 Faperta Unsika. Penggunaan media PDA 75% arang sekam 25% merupakan media biakan murni dengan respon terbaik pada miselia G3 FP005 Faperta Unsika terhadap diameter koloni pada 2 hsi . ,24 c. , 3 hsi . ,78 c. dan 4 hsi . ,19 c. , laju pertumbuhan arah radial pada 2 ke 3 hsi yaitu sebesar . ,52 c. , regresi diameter dengan R2 0,898 yang berarti 89,8% pertumbuhan diameter miselia dipengaruhi oleh waktu inkubuasi lalu P value 0,052047 yang berarti waktu inkubasi tidak berpengaruh terhadap diameter miselia, dan regresi laju pertumbuhan dengan R2 0,68 yang berarti 68% laju pertumbuhan dipengaruhi oleh waktu inkubasi kemudian P value sebesar 0,381185 yang berarti waktu inkubasi tidak berpengaruh terhadap laju pertumbuhan miselia. Berdasarkan hasil analisis regresi (Gambar . hubungan antara pertumbuhan laju miselia G3 FP005 dengan waktu inkubasi pada semua perlakuan menunjukkan nilai R2 sebesar 0,638 Ae 0,999 yang berarti bahwa sebesar 63,8 Ae 99,9% pertumbuhan laju miselia G3 FP005 dipengaruhi oleh waktu inkubasi. Perlakuan PDA 100%, larutan sekam 100%. PDA 75% larutan arang sekam 25%. PDA 80% larutan arang sekam 20%, larutan arang sekam 50% larutan sekam 50% dan PDA 50% larutan arang sekam 25% larutan sekam 25% menunjukkan nilai P value sebesar 0,106658 Ae 0,410604 yang berarti waktu inkubasi tidak berpengaruh terhadap laju pertumbuhan miselia G3 FP005 karena nilai P value lebih dari 0,05. Sedangkan pada media larutan arang sekam 100% menunjukkan nilai P value sebesar 0,009672 yang berarti waktu inkubasi berpengaruh secara signifikan terhadap laju pertumbuhan miselia G3 FP005 karena nilai P value kurang dari 0,05. Jurnal Agrotech 14 . Desember 2024 e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Hartati. Tini & A. Ayu. Kajian Pertumbuhan dan Hasil Cendawan Tiram Putih (Pleurotus ostreatu. pada Berbagai Komposisi Medium Tanam. Jurnal Pembangunan Pedesaan, 11. : 37-44. Daftar Pustaka