Pemahaman Taurat dalam Terang Injil: Pendidikan Doktrinal Kontekstual bagi Pemimpin GBI di BPD Palu Gernaida Krisna R. Pakpahan STT Bethel Indonesia Jakarta Email koresponden: gernaidapakpahan@sttbi. Submit: 17-07-2025 Review: 07, 09-08-2025 Direvisi: 20-08-2025 Diterbitkan: 30-08-2025 Keywords: BPD GBI Palu, contextual theology, doctrinal education. Gospel. Torah Kata Kunci: BPD GBI Palu. Injil. Pendidikan doktrin. Taurat. Teologi Kontekstual p: ISSN: 2723-7036 e-ISSN: 2723-7028 A 2025. The Authors. License: Open Journals Publishing. This work is licensed under the Creative Commons Attribution License. https://jurnal. id/index. php/pkm/index Abstract This community service program addresses the theological confusion among GBI leaders in Palu regarding the relevance of the Mosaic Law in the light of the Gospel. The tension between legalistic interpretations and the liberating message of Christ has resulted in doctrinal inconsistencies within congregational teachings, especially concerning dietary laws and ritual observances. This study aims to develop a contextual doctrinal education program that equips church leaders to understand the role of the Torah within the framework of redemptive Using a qualitative-descriptive approach, the program included literature reviews, participatory observations, and semi-structured interviews. Educational interventions were delivered through interactive seminars, casebased discussions, and contextual theological reflections. The program was grounded in Robert BanksAo framework of theological leadership formation, emphasizing the integration of biblical studies, systematic theology, and pastoral The results show significant growth in theological understanding, with participants demonstrating the ability to differentiate between timeless moral principles and ceremonial laws fulfilled in Christ. Participants also showed readiness to implement the new understanding through catechetical materials and contextual teaching plans. This project proves that contextual doctrinal education fosters not only cognitive clarity but also spiritual and pastoral transformation, which is vital for maintaining the integrity and unity of the churchAos witness in pluralistic contexts. Abstrak Program pengabdian kepada masyarakat ini merespons kebingungan teologis di kalangan pemimpin GBI BPD Palu terkait relevansi hukum Taurat dalam terang Injil. Ketegangan antara interpretasi yang octrinal dan pesan pembebasan dari Kristus telah menimbulkan inkonsistensi octrinal dalam pengajaran jemaat, khususnya menyangkut hukum makanan dan ritus ibadah. Penelitian ini bertujuan merancang pendidikan octrinal yang kontekstual guna memperlengkapi para pemimpin gereja agar memahami peran Taurat dalam kerangka sejarah Dengan pendekatan deskriptif-kualitatif, data dikumpulkan melalui studi literatur, observasi partisipatif, dan wawancara semi-terstruktur. Intervensi edukatif dilakukan melalui seminar interaktif, diskusi berbasis kasus, serta refleksi teologis yang Program ini merujuk pada kerangka formasi kepemimpinan teologis dari Robert Banks yang menekankan integrasi kajian biblika, teologi sistematika, dan aplikasi pastoral. Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman teologis, peserta mampu membedakan prinsip moral yang bersifat kekal dari hukum seremonial yang telah digenapi dalam Kristus. Peserta juga menunjukkan kesiapan untuk menerapkan pemahaman ini melalui materi katekisasi dan rencana pengajaran jemaat yang kontekstual. Program ini membuktikan bahwa pendidikan octrinal kontekstual tidak hanya membawa kejelasan kognitif, tetapi juga transformasi spiritual dan pastoral yang penting bagi integritas dan kesatuan kesaksian gereja di tengah masyarakat yang majemuk. Jurnal PkM Setiadharma Volume 6 Nomor 2. Agustus 2025 PENDAHULUAN Hubungan antara Taurat dan Injil telah menjadi isu sentral dalam diskursus teologis sejak era gereja mula-mula. Taurat, sebagai bagian dari wahyu Allah dalam Perjanjian Lama, dipandang oleh banyak teolog sebagai fondasi etika dan kehidupan rohani umat Allah. Namun, kehadiran Yesus Kristus sebagai penggenap Taurat (Mat. telah menimbulkan pembacaan baru terhadap peran dan fungsi hukum Taurat bagi umat percaya dalam Perjanjian Baru (Wahyuni et al. Ketegangan antara kontinuitas dan diskontinuitas antara Taurat dan Injil inilah yang menjadi medan kontestasi dalam sejarah penafsiran gereja, baik dalam tradisi Katolik. Protestan, maupun Pentakostal. Dalam perkembangan pelayanan gereja kontemporer, terdapat kecenderungan munculnya pendekatan literalistik terhadap teks-teks Taurat, terutama dalam hal peraturan makan, hari raya, dan ritus ibadah (Nuri 2. Fenomena ini tidak hanya muncul sebagai bentuk ketekunan spiritual, tetapi juga sebagai akibat dari kurangnya pemahaman menyeluruh terhadap progresivitas pewahyuan Allah dalam Alkitab. Penekanan yang berlebihan terhadap aspek hukum Taurat tanpa memperhatikan konteks sejarah keselamatan sering kali melahirkan praktik pengajaran yang bersifat normatiflegalistik (Eskenazy and Weiss 2008, . Hal ini dapat mengaburkan inti Injil, yakni karya penebusan Kristus yang memberikan kebebasan dari kutuk hukum (Gal. Maka, diperlukan kerangka teologis yang mampu menempatkan Taurat secara tepat dalam terang Injil Kristus tanpa mereduksi nilai moralnya, namun juga tidak mengulang pola perhambaan hukum. Kondisi tersebut juga dirasakan dalam beberapa konteks pelayanan Gereja Bethel Indonesia, termasuk di Badan Pengurus Daerah (BPD) Palu. Terdapat keragaman pandangan di antara warga jemaat dan para pelayan Tuhan terkait relevansi Taurat dalam kehidupan jemaat. Dalam realitas pelayanan yang multikultural dan multisektoral, perbedaan pemahaman terhadap hukum Taurat dapat menimbulkan ketegangan dan kebingungan di tengah jemaat. Ketidaksinkronan ajaran yang berkembang di aras gerejawi menjadi indikasi kurangnya pembinaan doktrinal yang sistematis dan berakar pada pemahaman teologi biblika yang sehat. Hal ini tidak jarang berdampak pada fragmentasi dalam komunitas jemaat, dan apabila dibiarkan tanpa klarifikasi teologis yang memadai, akan mengganggu integritas kesaksian gereja secara keseluruhan. Dhani Kurniawan menegaskan, apabila perbedaan pendapat tidak diberikan ruang untuk berdiskusi, maka akan melahirkan perpecahan (Kurniawan 2. Kemudahan akses terhadap berbagai konten melalui media sosial telah menyebabkan kebingungan di kalangan warga dan pemimpin jemaat, khususnya dalam membedakan ajaran yang alkitabiah dengan pandangan yang bersifat spekulatif atau Salah satu masalah utama karena beberapa pihak . berpendapat, orang non-Yahudi yang percaya kepada Yesus otomatis dipersatukan dengan orang Yahudi, sehingga wajib mengikuti larangan makan daging babi. Mereka mengajukan 1 Pembagian ini tidak dimaksudkan untuk memisahkan tradisi Pentakostal dari kerangka besar Protestanisme, melainkan untuk menggarisbawahi perbedaan karakteristik dan penekanan teologis yang khas dalam masing-masing tradisi. Pemahaman Taurat dalam Terang Injil: A (G. Pakpaha. alasan praktis, seperti menghindari batu sandungan dalam konteks mayoritas nonKristen dan menjaga kesaksian terhadap orang Yahudi. Mereka juga mengacu pada Matius 5:18-19 untuk menegaskan bahwa mengajarkan kebolehan makan daging babi berarti menempati posisi terendah di Kerajaan Sorga. Pandangan ini didukung dengan klaim identitas sebagai Ortodoks Yahudi dan keyakinan bahwa Taurat tidak dihapuskan. Selain itu, mereka menekankan bahwa aturan halal dan haram berasal dari firman Tuhan, bukan sekadar tradisi. Oleh karena itu, urgensi penyusunan pendidikan doktrinal yang kontekstual menjadi semakin nyata dan mendesak. Frans Pantan dkk. , menandaskan pentingnya pendidikan yang seimbang antara prinsip dan ruang untuk berkreasi, sebab sedianya pendidikan harus membebaskan (Pantan et al. Tantangan ini semakin kompleks ketika dijumpai keterbatasan pemahaman hermeneutika kontekstual di kalangan pemimpin gereja, khususnya dalam membedakan antara norma temporer dan prinsip abadi dalam Taurat. Data lapangan menunjukkan, banyak pelayan gereja yang belum terlatih secara akademik dalam membaca Alkitab dengan memperhatikan latar belakang historis, budaya, dan dinamika pewahyuan progresif dari Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru. Akibatnya, pendekatan tafsir cenderung bersifat proof-texting dan literalistik tanpa mempertimbangkan keseluruhan narasi alkitabiah. Kekosongan ini membuka celah bagi masuknya ajaran-ajaran yang tampak alkitabiah namun sebenarnya menggeser sentralitas Injil sebagai kabar baik. Oleh karena itu, pendidikan teologis yang berfokus pada pendekatan hermeneutik kontekstual menjadi kebutuhan esensial bagi gereja yang ingin setia pada kebenaran firman dan kontekstual dalam pelayanannya. Berdasarkan realitas tersebut, diperlukan suatu program pendidikan doktrinal yang dirancang secara khusus dan kontekstual untuk para pemimpin gereja di BPD Palu. Program ini perlu mengintegrasikan kajian teologi biblika, sejarah penafsiran gereja, serta pendekatan hermeneutika kontekstual dalam rangka memperkuat kapasitas teologis para pelayan Tuhan. Fokus utama dari pendidikan ini adalah menolong para pemimpin gereja memahami peran Taurat secara utuh dalam terang Injil, serta mampu menjawab tantangan pengajaran kontemporer secara bijaksana dan penuh kasih. Dengan demikian, program ini bukan hanya menjadi sarana klarifikasi doktrin, melainkan juga sebagai bentuk tanggung jawab gereja dalam menjaga kemurnian ajaran dan kesatuan tubuh Kristus di tengah arus zaman yang terus berubah. Melalui pendidikan doktrinal yang terstruktur dan kontekstual, para pemimpin GBI di BPD Palu diharapkan memiliki kompetensi teologis yang kokoh, kemampuan komunikasi doktrin yang relevan, dan sensitivitas budaya yang tinggi dalam melayani Program ini menjadi kontribusi nyata dalam memperkuat kualitas pelayanan, menghindarkan potensi konflik doktrinal, serta meneguhkan integritas kesaksian gereja sebagai komunitas yang hidup dalam kasih karunia dan kebenaran. Dengan demikian, gereja akan mampu tetap berdiri teguh dalam panggilannya sebagai terang dan garam dunia, sambil terus bertumbuh dalam pengenalan yang benar akan kehendak Allah. Jurnal PkM Setiadharma Volume 6 Nomor 2. Agustus 2025 METODE PELAKSANAAN Penyusunan bahan dan modul Pengabdian kepada Masyarakat ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan tujuan untuk menggambarkan secara mendalam dinamika pemahaman Taurat dalam terang Injil yang dialami oleh para pemimpin GBI di BPD Palu. Data dikumpulkan melalui studi literatur, observasi partisipatif, dan wawancara semi-terstruktur dengan para pemimpin gereja yang mengikuti program pendidikan doktrinal kontekstual. Tentunya respons edukasi ini dikarenakan terdapat kesalahpahaman warga dan pemimpin jemaat tentang ajaran-ajaran menyimpang dalam memahami peran hukum taurat. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk memahami proses internalisasi dogma tidak hanya dari segi pengetahuan teologis, tetapi juga transformasi spiritual dan praksis pelayanan yang dialami oleh para peserta. Model pendidikan yang digunakan mengacu pada kerangka praktik teologis formasi kepemimpinan Robert Banks, yang menekankan integrasi antara refleksi teologis, kehidupan spiritual, dan aplikasi pastoral (Banks 1. Pengabdian kepada Masyarakat ini dilaksanakan di BPD GBI Palu pada Juni 2024 Ae September 2024. Peneliti hadir sebagai pengamat partisipatif dan fasilitator diskusi dalam proses pendidikan doktrinal kontekstual yang dilaksanakan secara bertahap. Tahap pertama dilakukan melalui seminar edukatif berdurasi 50 menit yang bertujuan memperkenalkan pokok-pokok pemahaman hukum Taurat dalam terang Injil kepada para pemimpin GBI BPD Palu. Seminar ini disampaikan dalam tiga sesi utama, masingmasing menyoroti aspek teologis, historis, dan aplikatif dari Taurat yang direfleksikan melalui kacamata Injil. Setelah sesi edukatif tersebut, dilakukan transisi pedagogis untuk membantu peserta memahami dan memaknai secara kontekstual materi yang disampaikan (Chan. Lam, and Adabre 2. Transisi ini dilakukan melalui pemetaan narasi Alkitab, diskusi terbuka, dan ilustrasi kasus pelayanan jemaat. Setelah sesi seminar dan diskusi, kegiatan dilanjutkan dengan forum tanya jawab terbuka, yang memungkinkan para peserta mengklarifikasi pemahaman serta mengaitkan isi doktrinal dengan pengalaman pelayanan mereka sendiri. Tahap akhir dilakukan dalam kelompok kecil, setiap peserta diberi kesempatan untuk menggali lebih dalam pemahamannya melalui pertanyaan reflektif yang telah disusun berdasarkan tujuan pembelajaran (Untung. Tanonggi, dan Pekuwali 2. Dalam kelompok ini, peneliti mendokumentasikan respons peserta secara sistematis, baik melalui catatan lapangan maupun rekaman observasi. Proses ini dilakukan secara berulang selama beberapa minggu untuk menangkap dinamika formasi doktrinal yang berkelanjutan. Seluruh data dianalisis dengan menggunakan pendekatan tematik, guna mengidentifikasi pola-pola pembentukan kepemimpinan teologis yang muncul dari proses internalisasi dogma tersebut. Pemahaman Taurat dalam Terang Injil: A (G. Pakpaha. HASIL DAN PEMBAHASAN Pemahaman Teologis tentang Hukum Taurat dalam Terang Injil Hukum Taurat dalam Perjanjian Lama merupakan manifestasi kehendak Allah bagi umat-Nya, yang mencakup dimensi moral, ritus ibadah, dan struktur sosial Israel. Dalam konteks ini. Taurat tidak hanya dipahami sebagai kumpulan aturan, tetapi sebagai perjanjian Allah yang menyatakan relasi khusus antara Allah dan Israel (Kel. 19:5Ae6. Ul. 5:1Ae. (Sariyanto and Chandra 2. Kata Torah berasal dari akar kata Ibrani yarah yang berarti AumengajarAy atau Aumemberi petunjuk,Ay dan dalam Perjanjian Lama digunakan untuk merujuk pada instruksi ilahi yang diberikan kepada umat Allah melalui Musa (Yes. 1:10. Hag. Dalam perkembangannya, istilah Taurat meliputi lima kitab pertama (Pentateuk. , yang mengandung hukum moral (Dasa Tita. , hukum ritual . ersembahan, kekudusan, dan hari ray. , serta hukum sipil . truktur masyarakat Israe. (Kaiser 2. Namun, pemahaman terhadap hukum Taurat dalam kekristenan tidak bisa dilepaskan dari penggenapannya dalam diri Yesus Kristus. Dalam Khotbah di Bukit. Yesus menegaskan: AuJanganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinyaAy (Mat. Pernyataan ini merupakan titik balik dalam teologi Perjanjian Baru, yang memperlihatkan bahwa Yesus bukan hanya menaati Taurat, tetapi juga menggenapi tujuan terdalamnya. Penggenapan tersebut tidak berarti pembatalan, melainkan pemurnian, hukum moral tetap berlaku, tetapi hukum seremonial dan sipil mengalami pembaruan melalui karya salib (Ef. 2:15. Kol. 2:16Ae. Para teolog seperti Douglas Moo menegaskan bahwa Aupenggenapan hukum dalam Kristus tidak menuntut pelaksanaan literal dari setiap perintahnya, tetapi menuntut pemahaman baru berdasarkan otoritas Yesus sebagai MesiasAy (Moo 1994, 358Ae. Rasul Paulus juga menyelaraskan ajaran Yesus dengan menyatakan bahwa iman kepada Kristus tidak membatalkan hukum Taurat, melainkan meneguhkannya (Rm. Namun, dalam Galatia 3:24-25, ia menekankan bahwa hukum berfungsi sebagai AupenuntunAy menuju Kristus, dan setelah iman itu datang, kita Autidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun ituAy (Schnabel 2. Hal ini menunjukkan transisi dari perjanjian lama kepada perjanjian baru, yang berpusat pada relasi dengan Kristus, bukan ketaatan Konsekuensinya, orang percaya tidak lagi diharuskan mengikuti semua ketetapan dalam Taurat secara literal, terutama yang berkaitan dengan ritus seperti sunat, makanan haram, dan kurban binatang (Kis. 15:1-11. Kol. 2:20-. Meskipun demikian, sebagian pelayan gereja masih menerapkan prinsip literal terhadap beberapa bagian Taurat, khususnya dalam isu-isu seperti makanan haram, misalnya larangan makan daging babi. Pendekatan ini didasarkan pada anggapan bahwa orang non-Yahudi yang percaya kepada Yesus otomatis dipersatukan dengan Israel, sehingga wajib menaati seluruh hukum Yahudi. Namun, pendekatan ini mengabaikan realitas teologis bahwa yang terutama adalah pemersatuan dengan Kristus (Kol. bukan dengan etnos Yahudi (Alu 2. Pandangan ini juga bertentangan dengan konsili Yerusalem (Kis. , para rasul secara eksplisit memutuskan bahwa bangsa-bangsa non187 Jurnal PkM Setiadharma Volume 6 Nomor 2. Agustus 2025 Yahudi tidak diwajibkan menaati hukum Musa secara keseluruhan, melainkan hanya diminta menjaga beberapa hal demi kesatuan dan kesucian komunitas (Pakpahan. Hasiholan, and Salman 2. Pendekatan literal terhadap Taurat tanpa mempertimbangkan konteks pewahyuan progresif berisiko menimbulkan kebingungan teologis. Hal ini terbukti dalam praktik sebagian gereja yang menjadikan aturan makanan sebagai tolok ukur kesalehan, yang dalam Perjanjian Baru justru ditolak (Elliott 2. Rasul Paulus dengan tegas menulis bahwa AuKerajaan Allah bukan soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh KudusAy (Rm. Bahkan dalam Markus 7:19. Yesus menyatakan bahwa segala makanan adalah halal, membatalkan hukum ritus yang bersifat Karena itu, penerapan hukum Taurat harus ditafsirkan secara bertanggung jawab dengan menggunakan hermeneutika kontekstual, yang membaca Alkitab dalam terang Kristus dan sejarah keselamatan. Taurat tetap penting sebagai fondasi etika dan moral kekristenan, namun pelaksanaannya harus selaras dengan hukum kasih yang diajarkan Kristus, yakni mengasihi Allah dan sesama (Mat. 22:37Ae. Ajaran ini menjadi ringkasan seluruh hukum dan para nabi, yang dalam terang Injil diterjemahkan bukan dalam bentuk perintah legalistik, melainkan dalam gaya hidup yang penuh kasih, belas kasihan, dan keadilan (Mik. 6:8. Yoh. Sebagaimana dikemukakan oleh Craig Keener. AuYesus memperdalam makna hukum, bukan menambah beban, dengan mengarahkan hati kepada kehendak Allah yang sejatiAy (Keener 2014, 61Ae. Gereja tidak membatalkan Taurat, tetapi menempatkannya secara tepat dalam terang Injil. Hukum moral seperti larangan membunuh, berbohong, atau berzinah tetap berlaku karena bersifat universal dan mencerminkan karakter Allah. Namun, aspek-aspek hukum seremonial dan sipil perlu dipahami dalam kerangka penggenapan Kristus, agar tidak diterapkan secara mekanis yang berpotensi menjerumuskan gereja kembali ke dalam legalisme yang telah disingkirkan oleh anugerah. Pemahaman yang tidak utuh terhadap Taurat dapat membelokkan arah pengajaran gereja, menciptakan kebingungan di kalangan jemaat, dan berisiko menimbulkan eksklusivisme yang bertentangan dengan semangat misi Kristus. Oleh sebab itu, pendidikan doktrinal yang mendalam dan kontekstual bagi para pemimpin gereja menjadi sangat penting. Pendidikan ini perlu mengintegrasikan studi biblika, teologi sistematik, dan pendekatan hermeneutika yang sensitif terhadap dinamika sosial dan budaya. Dengan demikian, gereja akan semakin mampu mengajarkan firman Tuhan secara bertanggung jawab, membedakan antara yang esensial dan non-esensial, serta menghadirkan Injil yang benar, relevan, dan Berdasarkan kajian di ini, berikut peneliti memberikan perbedaan antara Yudaisme dan Kekristenan: Tabel 1. Perbedaan Yudaisme dan Kekristenan Yudaisme Kristen Pandangan Yudaisme terhadap Allah Dalam teologi Kristen. Tuhan Allah adalah Tuhan Yang Mahakuasa yang dipandang sebagai pribadi Trinitas (Bapa. Pemahaman Taurat dalam Terang Injil: A (G. Pakpaha. diyakini sebagai satu-satunya kekuatan yang menguasai alam semesta dan memberikan hukum-hukum moral kepada Yudaisme menggunakan Taurat sebagai kitab suci utama. Taurat berisi hukumhukum moral dan ritual yang harus diikuti oleh umat Yahudi. Anak dan Roh Kudu. Allah adalah pribadi menganugerahkan keselamatan di dalam melalui Yesus Kristus. Kristen menggunakan Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Perjanjian Lama berisi sejarah Israel, hukum Taurat, nubuat. Perjanjian Baru berisi riwayat hidup Yesus Kristus dan ajaran-ajarannya, pelayanan para rasul dan kekristenan. Dalam Yudaisme, konsep keselamatan Dalam Kristen, konsep keselamatan hanya diperoleh melalui kepatuhan terhadap dapat diperoleh melalui iman pada Yesus hukum-hukum moral dan ritual yang Kristus sebagai Juruselamat. ditetapkan oleh Tuhan seperti dalam Taurat. Yudaisme ritual Kristen menekankan pada kegiatan ibadah keagamaan seperti doa, puasa, dan bersama seperti doa bersama, pujian dan upacara keagamaan lainnya yang harus penyembahan, dll. diikuti oleh umat Yahudi. Dengan demikian, orang kristen tidak mengikuti tradisi dan ajaran Yudaisme. Seluruh doktrin kristen harus terpusat dalam Kristus dan karyaNya. Implementasi dalam Pengajaran dan Pelayanan Gereja Penerapan pemahaman yang tepat mengenai hukum Taurat dalam terang Injil di GBI BPD Palu ditangani melalui strategi pengajaran yang bersifat progresif, kontekstual, dan berorientasi pada partisipasi aktif para pemimpin gereja. Untuk menjawab tantangan literalisme dan kesenjangan pemahaman doktrinal di kalangan pelayan dan warga jemaat, pendidikan dilaksanakan bukan hanya dalam bentuk seminar satu arah, tetapi dirancang sebagai learning process berbasis pengalaman . xperiential theological learnin. (Leonard 2. Pendekatan ini menghindari model klasikal satu arah yang pasif, dan diganti dengan strategi multi-tahap yang berfokus pada eksplorasi, klarifikasi, penerapan, dan internalisasi (Nyrnberger 2. Langkah awal dilakukan melalui seminar pemantik berdurasi 50 menit yang disusun dalam tiga sesi utama: teologis . elasi Taurat-Inji. , historis . ungsi hukum Taurat dalam konteks Israe. , dan aplikatif . mplikasi bagi pelayanan gereja masa kin. Masingmasing sesi dilengkapi dengan visualisasi diagram interaktif, termasuk bagan kategori hukum Taurat . oral, sipil, seremonia. dan peta penggenapan Kristus terhadap setiap kategori tersebut. Pendekatan ini bertujuan untuk membuka wawasan peserta terhadap struktur internal Taurat dan bagaimana prinsip-prinsipnya relevan atau telah digenapi dalam Kristus. Jurnal PkM Setiadharma Volume 6 Nomor 2. Agustus 2025 Gambar 1. Tim Menyampaikan Seminar Setelah seminar, transisi ke pembelajaran dialogis dilakukan dalam bentuk diskusi berbasis studi kasus pelayanan warga jemaat. Peserta dibagi dalam kelompok-kelompok kecil dan diberi narasi pastoral nyata, seperti kasus jemaat yang mempertanyakan hukum makanan atau praktik ibadah di zaman Perjanjian Lama. Setiap kelompok diminta menilai kasus tersebut dengan menggunakan lensa Kristologis dan hermeneutik kontekstual. Strategi ini terbukti efektif untuk melatih keterampilan menafsirkan Taurat dalam konteks jemaat yang plural secara budaya, sebagaimana disoroti dalam pendekatan dialogis-transformasional. Untuk menghindari kejumudan dogmatik, fasilitator kemudian menggunakan alat bantu visual berupa AuPeta Pewahyuan ProgresifAy, sebuah kronologi interaktif dari hukum Taurat dalam Perjanjian Lama hingga penggenapannya dalam Kristus, disusun dalam garis waktu. Peserta diminta menempatkan elemen-elemen hukum . ontoh: sunat, makanan haram, persembaha. ke dalam fase sejarah keselamatan yang relevan. Strategi ini memberi pemahaman bahwa tidak semua elemen Taurat berlaku secara permanen, dan perlu dilihat dalam terang keseluruhan narasi Alkitab. Gambar 2. Peta Pewahyuan Progresif Sumber: (Pantastico 2. Tahapan selanjutnya adalah forum klarifikasi publik, setiap peserta diberikan kesempatan menyampaikan pertanyaan atau keberatan. Forum ini dijaga agar tetap inklusif dan mengedepankan pendekatan kasih dalam perbedaan pandangan. Sebagai Pemahaman Taurat dalam Terang Injil: A (G. Pakpaha. fasilitator, peneliti menggunakan teknik clarifying questions dan metode Socratic questioning untuk membantu peserta menyelami asumsi dasar dari pemahamannya sendiri (Venkatesan 2. Metode ini memperlihatkan, sebagian besar penolakan atau ketaatan literal terhadap hukum tertentu didasarkan pada ketidaktepatan pembacaan naratif, bukan pada penolakan eksplisit terhadap Kristus. Pada tahap penguatan, peserta diminta menyusun Rencana Aksi Pengajaran Jemaat (RAPJ), yaitu rencana implementasi materi doktrinal Taurat-Injil dalam konteks pelayanan lokal masing-masing. Dalam RAPJ ini, peserta diminta menjawab: . prinsip Taurat apa yang relevan diajarkan di jemaat saya?. metode apa yang sesuai dengan konteks sosial budaya jemaat saya?. Apa tantangan penerimaan terhadap doktrin ini di jemaat saya, dan bagaimana saya akan menjawabnya? RAPJ ini dikonsultasikan dalam sesi mentoring 1-on-1 antara peserta dan fasilitator. Proses ini bukan hanya menghasilkan dokumen rencana, tetapi juga menjadi ruang dialog reflektif untuk mengevaluasi praktik pengajaran yang selama ini dijalankan. Pendekatan ini mengikuti prinsip formasi teologis yang berorientasi pada transformasi praktis, bukan hanya pemahaman kognitif. Sebagai penutup dari seluruh proses, dilakukan tahap refleksi tertulis dan verbal, peserta diminta menjawab pertanyaan: AuBagaimana pemahaman saya tentang hukum Taurat berubah setelah program ini, dan apa dampaknya bagi gaya pengajaran saya?Ay Hasil refleksi ini dianalisis secara tematik dan menunjukkan bahwa mayoritas peserta mengalami perubahan dari pendekatan hukum yang statis menjadi pendekatan yang naratif dan relasional. Hal ini tercermin dalam kesadaran mereka untuk mulai mengajarkan Taurat bukan sebagai sistem hukum mati, tetapi sebagai bagian dari cerita besar Allah yang mencapai puncaknya dalam Kristus (Mat. 5:17. Kol. 2:16Ae. Dengan strategi-strategi yang konkret ini, implementasi pendidikan doktrinal di GBI BPD Palu bukan hanya berhasil meluruskan pemahaman yang menyimpang, tetapi juga menciptakan ruang aman bagi dialog iman yang sehat. Pendekatan ini dapat direplikasi di wilayah lain, terutama dengan tetap menyesuaikan metode dan alat bantu pembelajaran dengan karakteristik sosial budaya jemaat setempat. Gambar 3. Pemaparan materi Jurnal PkM Setiadharma Volume 6 Nomor 2. Agustus 2025 Dampak Program Pendidikan Doktrinal terhadap Para Pemimpin Gereja Pelaksanaan program pendidikan doktrinal kontekstual di lingkungan GBI BPD Palu membawa dampak yang sangat positif, baik dalam hal pemahaman teologis maupun dalam praktik pelayanan para pemimpin gereja. Berdasarkan umpan balik yang dihimpun selama sesi evaluasi, para peserta menunjukkan pemahaman yang mendalam terhadap materi, khususnya mengenai relasi antara Taurat dan Injil. Mereka mengakui bahwa pelatihan ini membuka wawasan baru tentang bagaimana hukum Taurat harus dipahami dalam terang karya keselamatan Yesus Kristus. Tidak sedikit peserta yang menyatakan bahwa mereka kini lebih mampu membedakan prinsip-prinsip kekal dalam Taurat . isalnya nilai moral dan keadila. dari ketentuan ritus yang telah digenapi dalam Kristus. Lebih dari sekadar pemahaman kognitif, para peserta menunjukkan respons Sebagian besar menyampaikan komitmen untuk menyampaikan kembali materi ini kepada warga jemaat di gereja lokal mereka. Mereka melihat pentingnya pewartaan Injil yang tidak terjebak pada legalisme, namun tetap menghormati akar Perjanjian Lama sebagai bagian dari narasi keselamatan yang utuh. Bahkan, beberapa peserta telah mulai menyusun ulang bahan ajar katekisasi dan pengajaran dasar bagi jemaat dengan pendekatan yang lebih naratif-redemptif dan kontekstual. Dalam refleksi kelompok, peserta juga berbagi pengalaman tentang tantangan mengajar di tengah keberagaman latar belakang jemaatAibaik dari sisi budaya, tingkat pendidikan, maupun tradisi keagamaan sebelumnya. Dengan bekal dari pelatihan ini, mereka merasa lebih siap menyampaikan pengajaran Alkitab secara dialogis dan empatik. Gaya komunikasi pastoral yang mereka kembangkan kini lebih menekankan kasih karunia daripada hukuman, lebih menekankan relasi dalam Kristus daripada ketaatan pada hukum lahiriah. Gambar 4. Dokumentasi dengan peserta Pemahaman Taurat dalam Terang Injil: A (G. Pakpaha. Secara spiritual dan strategis, pelatihan ini telah membentuk pemimpin yang tidak hanya memahami isi ajaran Kristen secara utuh, tetapi juga mampu mengontekstualisasikannya dengan bijaksana. Program ini berhasil menumbuhkan kesadaran baru bahwa pendidikan doktrinal bukan sekadar transmisi doktrin, melainkan proses transformasi pemikiran dan cara melayani. Karena itu, banyak peserta mendorong agar pelatihan ini direplikasi di wilayah lain dalam sinode, agar dampaknya semakin KESIMPULAN Program pendidikan doktrinal kontekstual di GBI BPD Palu terbukti efektif dalam menjawab kebingungan teologis jemaat terkait relasi antara Taurat dan Injil, khususnya isu-isu yang muncul akibat pendekatan literal terhadap hukum Taurat. Melalui penerapan hermeneutika kontekstual dan desain pembelajaran yang transformatif, para pemimpin gereja mengalami perubahan paradigma dari pemahaman yang legalistik menuju cara pandang yang relasional dan redemptif, sehingga doktrin tidak hanya dipahami secara kognitif tetapi juga dihayati dalam praksis pelayanan. Hal ini menegaskan urgensi pendidikan doktrinal berkelanjutan yang berakar kuat pada Alkitab dan peka terhadap konteks budaya, agar gereja mampu menjaga integritas pelayanan serta memperkuat kesatuan dalam kesetiaan kepada Injil di tengah tantangan arus informasi yang berpotensi menyesatkan pemahaman iman umat. DAFTAR PUSTAKA