Jurnal Surya Beton Volume 9. Nomor 1. Maret 2025 p-ISSN : 2302-5166, e-ISSN : 2776-1606 https://jurnal. id/index. php/suryabeton Analisis Angkutan Sedimen Dasar (Bed Loa. pada Saluran Primer Bendung Kalisemo Riyan Nurrohman1,*. Agung Setiawan1. Muhamad Taufik1 Program Studi Teknik Sipil. Fakultas Teknik. Universitas Muhammadiyah Purworejo1 Jl. Ahmad Dahlan No. Purworejo. Jawa Tengah Email: nurrohmanriyan9@gmail. Abstrak. Saluran Primer Bendungan Kalisemo terletak di Kecamatan Loano. Kabupaten Purworejo. Saluran ini sangat bermanfaat bagi pertanian dan masyarakat sekitar, namun seiring berjalannya waktu saluran ini mengalami pendangkalan sehingga mengakibatkan penurunan debit air irigasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik sedimen dasar berdasarkan ukuran butir pada Saluran Primer Bendung Kalisemo dan memperoleh volume angkutan sedimen dasar pada Saluran Primer Bendung Kalisemo. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang menitikberatkan pada pengumpulan data . engukuran langsung, pengamatan langsung, dan pengujian sampel sedimen dasa. dan analisis data. Sampel sedimen dasar diambil pada lima titik di Saluran Primer Bendung Kalisemo. Analisis volume angkutan sedimen dasar dilakukan dengan menggunakan Metode Meyer Peter Muller dan Metode Einstein. Hasil analisis menunjukkan bahwa karakteristik sedimen dasar berdasarkan ukuran butir pada Saluran Primer Bendungan Kalisemo dari yang terbesar hingga yang terkecil yaitu kerikil sedang, kerikil halus, kerikil sangat halus, pasir kuarsa, pasir sedang, pasir halus, pasir sangat halus, dan lanau. Volume angkutan sedimen dasar di Saluran Primer Bendungan Kalisemo dengan Metode M. M sebesar 3,02 m3/hari dan dengan Metode Einstein sebesar 0,8668 m3/hari. Kata Kunci : karakteristik sedimen, transportasi sedimen, sedimen dasar Abstrack. Kalisemo Dam Primary Channel is located in Loano Sub-district. Purworejo Regency. This channel is very beneficial for agriculture and the surrounding community, but over time this channel has silted up resulting in a decrease in irrigation water discharge. This research aims to analyze the characteristics of bottom sediment based on grain size in the Primary Channel of Kalisemo Weir and obtain the volume of bottom sediment transport in the Primary Channel of Kalisemo Weir. This research uses quantitative methods that focus on data collection . irect measurement, direct observation, and bottom sediment sample testin. and data analysis. Bottom sediment samples were taken at five points in the Kalisemo Weir Primary Channel. Bed sediment transport volume analysis was conducted using the Meyer Peter Muller Method and the Einstein Method. The analysis shows that the characteristics of bottom sediments based on grain size in the Primary Channel of Kalisemo Dam from the largest to the smallest, namely, medium gravel, fine gravel, very fine gravel, quartz sand, medium sand, fine sand, very fine sand, and silt. The volume of bottom sediment transport in the Kalisemo Dam Primary Channel using the M. Method is 3,02 m3/day and with the Einstein Method is 0,8668 m3/day. Keyword : bed Load, characteristics, sediment transport. Riyan Nurrohman dkk. Jurnal Surya Beton. Volume 9. Nomor 1. Maret 2025 . Pendahuluan Sedimentasi yang terjadi pada saluran irigasi menjadi masalah yang perlu ditangani karena dapat menyebabkan pengendapan di saluran irigasi, yang mengarah pada pengurangan kapasitas debit pada penampang saluran irigasi. Berkurangnya kapasitas debit dapat mengakibatkan penurunan produksi pertanian bahkan sampai gagal panen (Hermawan & Afiato, 2. Saluran Primer Bendung Kalisemo berada di wilayah Kecamatan Loano. Kabupaten Purworejo dengan panjang 380 meter dan luas area 504,87 hektar. Saluran ini sangat bermanfaat bagi pertanian dan masyarakat di sekitarnya, tetapi seiring berjalannya waktu saluran ini mengalami pendangkalan karena pengendapan sedimen yang mengakibatkan penurunan debit air irigasi. Sedimen merupakan hasil dari proses erosi, baik itu berupa erosi permukaan, erosi parit, dan jenis tanah lainnya. Sedimen biasanya mengendap di bagian bawah kaki bukit, genangan banjir, saluran air, sungai, dan waduk (Asdak. Sedimentasi adalah pengendapan material yang telah dipecah oleh air melalui proses erosi. Proses pengendapan sedimen adalah proses pengumpulan partikel-partikel tanah yang disebabkan oleh kecepatan arus air pembawa sedimen yang mencapai kecepatan pengendapan. Pada dasarnya sedimen yang terangkut oleh aliran dapat diklasifikasikan sebagai berikut : (Priyantoro, 1. Muatan Cuci (Wash Loa. Partikel yang sangat halus bergerak melayang di bagian atas aliran dan tidak mengendap di dasar aliran. Muatan Layang (Suspended Loa. Partikel yang bergerak dalam pusaran aliran cenderung terus-menerus melayang dengan aliran. Ukuran partikelnya lebih kecil dari 0,1 mm. Muatan Dasar (Bed Loa. Partikel yang bergerak pada dasar saluran dengan cara berguling, meluncur, dan meloncat. Ketiga klasifikasi angkutan sedimen tersebut dapat dilihat pada Gambar 1. berikut ini. Gambar 1. Klasifikasi Angkutan Sedimen. Saluran terbuka, dibagi menjadi dua jenis yaitu : (Priyantoro, 1. Saluran Alami (Natural Channel. Saluran alami adalah saluran yang terbentuk akibat proses alam dan tidak mengalami perubahan yang berarti, seperti saluran kecil, sungai kecil, dan besar yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Saluran Buatan (Artificial Channel. Saluran buatan adalah saluran buatan manusia, termasuk saluran irigasi, saluran pembangkit listrik, saluran drainase, dan lainnya. Debit aliran adalah volume yang mengalir melalui suatu penampang melintang saluran per satuan waktu. Biasanya dinyatakan dalam satuan meter kubik perdetik . 3/d. atau liter perdetik . /d. Debit aliran akan berubahubah menurut waktu (Soewarno, 1. Persamaan yang digunakan untuk menghitung debit aliran saluran adalah: = AOoU Q = debit . 3/d. A = luas penampang basah . Riyan Nurrohman dkk. Jurnal Surya Beton. Volume 9. Nomor 1. Maret 2025 . U = kecepatan aliran . /d. Kemiringan dasar saluran dicari menggunakan persamaan Manning sebagai berikut. = [ nOoU 2 R2/3 I = kemiringan dasar saluran n = koefisien manning pada saluran U = kecepatan aliran . /d. R = jari-jari hidrolis . Harga koefisien manning . pada saluran dapat dilihat pada Error! Reference source not found. Tabel 1. Harga Koefisien Manning pada Saluran Bahan Koefisien Manning . Besi tuang lapis 0,014 Kaca 0,010 Saluran beton 0,013 Bata dilapis mortar 0,015 Pasangan batu disemen 0,025 Saluran tanah bersih 0,022 Saluran tanah 0,030 Saluran dengan dasar batu dan tebing rumput 0,040 Saluran pada galian batu padas 0,040 Sumber : Triatmodjo, 2009 Persamaan yang digunakan untuk menghitung pergerakan sedimen atau untuk memeriksa stabilitas butiran pada permukaan dasar saluran adalah sebagai berikut : = Oog Oo R Oo I ( 3 ) U O = kecepatan geser butiran . /d. , g = percepatan gravitasi . 2/d. R = jari-jari hidrolis . I = kemiringan dasar saluran Apabila kecepatan aliran sangat kecil, material dasar tidak bergerak sama sekali. Pada saat kecepatan bertambah secara bertahap, suatu saat akan dicapai di mana sebagian material dasar mulai bergerak. Keadaan ini disebut gerakan awal sedimen . ncipient motio. Pada saat tersebut, gaya geser yang terjadi disebut gaya geser kritis . ritical tractive force : Ecr ) sedangkan aliran pada butiran tersebut disebut kecepatan geser kritis . ritical shear velocity: U* cr ) Menurut Lane . dari teori di atas dapat disimpulkan bahwa bergeraknya butiran dapat dilihat dari perbandingan Eo dengan Ecr dan U* dengan U* cr , apabila : Eo > Ecr : butiran bergerak Eo < Ecr : butiran diam U > U cr : butiran bergerak U* < U* cr : butiran diam Riyan Nurrohman dkk. Jurnal Surya Beton. Volume 9. Nomor 1. Maret 2025 . Nilai kecepatan geser kritis (U* cr ) dan nilai gaya geser kritis (Ecr ) dapat dicari melalui Grafik Shield dengan melihat besar diameter butiran untuk masing-masing percobaan. Grafik Shields dapat dilihat pada Error! Reference source not found. berikut ini. Gambar 2. Grafik Shields Menentukan Nilai Kecepatan Geser Kritis Sumber : Priyantoro, 1987 Ukuran butiran sedimen memiliki bentuk yang tidak teratur. Setiap diameter akan memberikan bentuk kelompok butiran. Analisis saringan adalah metode yang paling umum dan banyak digunakan untuk menganalisis ukuran partikel. Skala kelas pengelompokan partikel yang diusulkan oleh Persatuan Geofisika Amerika (American Geophysical Unio. dapat dilihat pada Error! Reference source not found. Milimeter 4000 Ae 2000 2000 Ae 1000 1000 Ae 500 500 Ae 250 250 Ae 130 130 Ae 64 64 Ae 32 32 Ae 16 16 Ae 8 8Ae4 4Ae2 2Ae1 1 Ae 0,5 0,5 Ae 0,25 0,25 Ae 0,125 0,125 Ae 0,062 0,062 Ae 0,031 0,031 Ae 0,016 0,016 Ae 0,008 0,008 Ae 0,004 0,004 Ae 0,002 Tabel 2. Skala Kelas Pengelompokan Partikel yang Diusulkan Oleh AGU Ukuran Kelas Mikron Inchi 160 Ae 80 Berangkal sangat besar 80 Ae 40 Berangkal besar 40 Ae 20 Berangkal sedang 20 Ae 10 Berangkal kecil 10 Ae 5 Kerakal besar 5 Ae 2,5 Kerakal kecil 2,5 Ae 1,3 Kerakal sangat berkwarsa 1,3 Ae 0,6 Kerikil berkwarsa 0,6 Ae 0,3 Kerikil sedang 0,3 Ae 0,16 Kerikil halus 0,16 Ae 0,08 Kerikil sangat halus 2000 Ae 1000 Pasir sangat berkwarsa 1000 Ae 500 Pasir berkwarsa 500 Ae 250 Pasir sedang 250 - 125 Pasir halus 125 Ae 62 Pasir sangat halus 62 Ae 31 Lanau berkwarsa 31 Ae 16 Lanau sedang 16 Ae 8 Lanau halus 8Ae4 Lanau sangat halus 4Ae2 Lempung berkwarsa Riyan Nurrohman dkk. Jurnal Surya Beton. Volume 9. Nomor 1. Maret 2025 . Milimeter 0,002 Ae 0,001 0,001 Ae 0,0005 0,0005 Ae 0,00025 Sumber : Priyantoro. , 1987 Ukuran Mikron 2Ae1 1 Ae 0,5 0,5 Ae 0,24 Inchi Kelas Lempung sedang Lempung halus Lempung sangat halus Einstein . menetapkan persamaan muatan dasar sebagai persamaan yang menghubungkan material dasar dengan pengaliran setempat . ocal flo. Persamaan itu menggambarkan keadaan seimbang dari pada pertukaran butiran dasar antara lapisan dasar . ed laye. dan dasarnya. Einstein menggunakan D = D35 untuk parameter angkutan, sedangkan untuk kekasaran digunakan D = D65. Berdasarkan uraian di atas perlu untuk mengadakan penelitian tentang AuAnalisis Angkutan Sedimen Dasar . ed loa. pada Saluran Primer Bendung KalisemoAy yang diharapkan dapat membantu peningkatan efisiensi pengelolaan bendung dan pemeliharaan infrastruktur saluran. Penelitan ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik sedimen dasar . ed loa. berdasarkan ukuran butiran pada Saluran Primer Bendung Kalisemo dan mendapatkan volume angkutan sedimen dasar . ed loa. pada Saluran Primer Bendung Kalisemo. Metode Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yaitu fokus pada pengumpulan data . urvei, pengamatan langsung, pengukuran langsung, dan uji sampel sedime. dan analisis data. Penelitian dilakukan di Saluran Primer Bendung Kalisemo. Kecamatan Loano. Kabupaten Purworejo. Pengujian sampel sedimen dasar dilakukan di Laboratorium Terpadu Universitas Muhammadiyah Purworejo. Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini yaitu: Current meter, digunakan untuk mengukur kecepatan aliran. Cetok, digunakan untuk mengambil sampel sedimen dasar. Botol plastik, digunakan untuk menempatkan sampel sedimen. Tongkat bambu, digunakan untuk mengukur kedalaman air. Rol meter dan meteran, digunakan untuk mengukur. Software autoCAD 2017, digunakan untuk mencari luas dan keliling penampang. Oven, digunakan untuk mengeringkan sampel sedimen. Timbangan dengan ketelitian 0,01 gram. Botol pipet, digunakan untuk uji berat jenis. Termometer, digunakan untuk uji berat jenis. Piknometer tipe ukuran 25 ml, digunakan untuk uji berat jenis. Satu set saringan, digunakan untuk uji analisis saringan. Mesin pengguncang, digunakan untuk uji analisis saringan. Hp, digunakan untuk dokumentasi selama penelitian berlangsung. Alat penunjang lainnya untuk penelitian. Tahapan penelitian meliputi: Persipan yang terdiri atas studi literatur dan survei penelitian. Pengumpulan Data yang terdiri atas data sekunder dan data primer Pengukuran di Lapangan yang terdiri atas pengukuran kecepatan aliran saluran, tinggi muka air, penampang saluran, dan pengambilan sampel sedimen Pengujian di Laboratorium yang terdiri atas uji analisis saringan dan uji berat jenis Analisis Data dengan menganalisis karakteristik Aliran dan Karakteristik Sedimen, permulaan Gerak Sedimen, dan volume Angkutan Sedimen. Hasil dan Pembahasan Riyan Nurrohman dkk. Jurnal Surya Beton. Volume 9. Nomor 1. Maret 2025 . Simpulan dan Saran Hasil Penelitian 1 Deskripsi Data Data diperoleh dari pengukuran dan pengambilan sampel sedimen dasar di bagian hulu Saluran Primer Bendung Kalisemo sebanyak lima titik dengan jarak antar titiknya 15m. Sampel sedimen dasar dilakukan uji berat jenis dan uji analisis saringan yang kemudian diolah dan dilakukan langkah-langkah perhitungan. 2 Analisis Karakteristik Aliran Kecepatan Aliran (U) Pengukuran kecepatan aliran pada penelitian ini menggunakan current meter. Metode pengukuran kecepatan aliran menggunakan metode tiga titik karena kedalaman aliran di saluran lebih dari 6 kali diameter baling-baling current meter. Baling-baling current meter diletakkan pada kedalaman 0,2h. 0,6h. dan 0,8h dari muka air. Hasil pengukuran kecepatan aliran dapat dilihat pada Tabel 3 berikut ini. Tabel 3. Hasil Pengukuran Kecepatan Aliran 0,8h . /d. /d. 13,048 12,349 11,654 11,060 12,077 13,032 0,9794 10,089 12,605 0,8662 0,9517 13,060 10,723 0,9354 12,466 12,176 10,743 10,780 11,869 12,208 0,7975 0,8064 12,088 0,8604 0,9290 11,034 0,9492 0,9009 13,105 12,459 11,511 11,069 12,098 12,946 0,9735 10,239 12,560 0,8669 0,9479 12,681 10,516 0,9327 0,9309 0,8684 0,9214 Kecepatan Aliran . /d. 0,2h 0,6h 0,66 0,66 0,62 0,58 0,60 0,60 0,37 0,53 0,63 0,55 0,60 0,59 0,61 0,72 13,857 12,961 11,994 11,377 12,367 13,512 11,375 12,714 12,941 0,8746 0,9590 13,568 11,124 0,9589 Kiri 0,67 0,9554 Sumber: Hasil Perhitungan Data Primer Titik Pias Kanan Tengah Kiri Kanan Tengah Kiri Kanan Tengah Kiri Kanan Tengah Kiri Kanan Tengah 12,358 12,038 10,845 10,276 0,9686 Luas Penampang (A). Keliling Basah (P), dan Jari-jari Hidrolis (R) Luas penampang dan keliling basah didapatkan setelah melakukan pengukuran di lapangan selanjutnya dengan memanfaatkan fasilitas area software AutoCAD 2017 didapatkan luas penampang dan keliling basah. Hasil perhitungan luas penampang (A), keliling basah (P), dan jari-jari hidrolis (R) dapat dilihat pada Tabel 4 berikut ini. Tabel 4. Hasil Perhitungan Luas Penampang. Keliling Basah, dan Jari-jari Hidrolis Titik . 25,8080 9,7428 2,6489 23,8900 9,6949 2,4642 Riyan Nurrohman dkk. Jurnal Surya Beton. Volume 9. Nomor 1. Maret 2025 . 19,7070 21,8850 23,5880 Sumber: Hasil Perhitungan Data Primer . 9,0494 9,0881 9,0614 Titik Debit Aliran (Q). Kemiringan Dasar Saluran (I), dan Kecepatan Geser Butiran (U*) Hasil perhitungan debit aliran, kemiringan dasar saluran, dan kecepatan geser butiran dapat dilihat pada Tabel 5 berikut ini. Tabel 5. Hasil Perhitungan Debit Aliran Titik Q . 3/d. (I) 31,8935 0,00026 28,7588 0,00027 21,3722 0,00026 22,4890 0,00020 22,8473 0,00016 Sumber: Hasil Perhitungan Data Primer . 2,1777 2,4081 2,6031 U* . /d. 0,0822 0,0808 0,0745 0,0687 0,0639 Analisis Karakteristik Sedimen Berat Jenis (Bulk Densit. Hasil perhitungan berat jenis sedimen dasar dapat dilihat pada Tabel 6 berikut ini. Tabel 6. Hasil Perhitungan Berat Jenis di Tiap-tiap Titik Nomor Piknometer Berat Jenis Berat Jenis Rata-rata 2,8549 2,8178 2,7807 2,8907 2,8437 2,7967 2,7751 2,8302 2,8853 2,8978 2,8345 2,7711 2,8610 2,8074 2,7537 Sumber: Hasil Perhitungan Data Primer Titik Ukuran (Siz. Hasil analisis saringan butiran sedimen dasar di titik 1 dapat dilihat pada Tabel 7 berikut ini. Tabel 7. Hasil Analisis Saringan Butiran di Titik 1 Berat Diameter Berat Tertahan Berat Total Berat Total No. Saringan Saringan Tertahan Lolos Tertahan Lolos Saringan Saringan . (%) (%) 466,73 466,73 0,00 988,43 0,00 100,00 3/4" 396,22 396,22 0,00 988,43 0,00 100,00 1/2" 382,75 403,01 20,26 968,17 2,05 97,95 3/8" 431,21 446,94 15,73 952,44 1,59 96,36 1/4" 452,11 522,12 70,01 882,43 7,08 89,28 4,75 400,92 454,41 53,49 828,94 5,41 83,86 2,36 399,44 587,58 188,14 640,80 19,03 64,83 Jenis Butiran Kerikil berkwarsa Kerikil berkwarsa Kerikil sedang Kerikil sedang Kerikil halus Kerikil halus Kerikil sangat halus Riyan Nurrohman dkk. Jurnal Surya Beton. Volume 9. Nomor 1. Maret 2025 . Berat Diameter Berat Tertahan Berat No. Saringan Saringan Tertahan Saringan Saringan . 280,90 376,36 95,46 0,85 375,39 574,31 198,92 0,425 361,27 547,36 186,09 0,25 393,61 496,88 103,27 0,18 360,48 400,15 39,67 0,15 350,17 365,58 15,41 0,075 347,50 348,45 0,95 Pan 321,45 322,48 1,03 Total 988,43 Sumber: Data Primer Analisis Saringan Total Lolos Berat Tertahan Total Lolos Jenis Butiran . 545,34 346,42 160,33 57,06 17,39 1,98 1,03 0,00 (%) 9,66 20,12 18,83 10,45 4,01 1,56 0,10 0,10 100,00 (%) 55,17 35,05 16,22 5,77 1,76 0,20 0,10 0,00 Kerikil sangat halus Pasir berkwarsa Pasir sedang Pasir sedang Pasir halus Pasir halus Pasir sangat halus Lanau Nilai D35. D55. D65, dan D90 Hasil perhitungan interpolasi D35. D55. D65, dan D90 dapat dilihat pada Tabel 8 berikut ini. Tabel 8. Hasil Perhitungan D35. D55. D65, dan D90 D35 D55 D65 Titik 0,8489 1,9902 2,3813 0,7865 1,7861 2,2584 0,7892 1,7333 2,2196 0,7779 1,7048 2,1479 0,7338 1,6213 2,1527 Sumber: Hasil Perhitungan Data Primer 4 Analisis Permulaan Gerak Butiran D90 . 6,6271 6,3891 6,3065 5,8678 5,7686 Riyan Nurrohman dkk. Jurnal Surya Beton. Volume 9. Nomor 1. Maret 2025 . Nilai kecepatan geser lebih besar daripada nilai kecepatan geser kritis (U* > U*c. berarti butiran sedimen tersebut bergerak. Hasil analisis stabilitas butiran di titik 1 dengan menggunakan Grafik Shields dapat dilihat pada Gambar 3. Analisis Volume Angkutan Sedimen Metode M. Hasil perhitungan volume angkutan sedimen dasar Metode M. M dapat dilihat pada Tabel 9 berikut ini. Tabel 9. Hasil Perhitungan Volume Angkutan Sedimen Dasar Metode M. Titik S . 3/d. 470,900 662,566 0,5992 0,1141 0,1391 5,2153 x 10-5 466,696 659,764 0,5949 0,1199 0,1575 5,0727 x 10-5 455,768 651,087 0,1047 0,1047 0,1109 3,3813 x 10-5 468,244 664,599 0,0913 0,0913 0,0746 2,2182 x 10-5 474,612 672,029 0,0844 0,0844 0,0579 1,5897 x 10-5 Sumber: Hasil Perhitungan Data Primer S . 3/har. 45,060 43,828 29,214 19,165 13,735 Riyan Nurrohman dkk. Jurnal Surya Beton. Volume 9. Nomor 1. Maret 2025 . 0,075 0,039 0,033 0,021 0,8489 1,9902 2,3813 6,6271 D35 D65 D90 D55 Gambar 3. Grafik Shields Kontrol Stabilitas Butiran Metode Einstein Hasil perhitungan volume angkutan sedimen dasar Metode Einstein dapat dilihat pada Tabel 10 berikut ini. Tabel 10. Hasil Perhitungan Volume Angkutan Sedimen Dasar Metode Einstein Titik S . 3/d. 47,0900 74,2578 0,5050 0,2254 0,1152 1,2032 x 10-5 46,6696 74,1015 0,4998 0,2283 0,1160 1,0954 x 10-5 45,5768 73,2749 0,4905 0,1921 0,1062 9,9920 x 10-5 46,8244 74,3115 0,5002 0,1684 0,0994 9,1860 x 10-5 47,4612 74,9202 0,5042 0,1592 0,0967 8,0000 x 10-5 Sumber : Hasil Perhitungan Data Primer S . 3/har. 1,0396 0,9464 0,8633 0,7937 0,6912 Dari hasil perhitungan kedua metode yaitu Metode M. M dan Metode Einstein dapat dibuat grafik yang dapat dilihat pada Gambar 4. Berdasarkan Gambar 4. dapat dilihat bahwa angkutan sedimen dasar di Saluran Primer Bendung Kalisemo dengan Metode M. M lebih besar dari pada Metode Einstein. Selisih volume angkutan sedimen dasar Metode M. M dan Metode Einstein pada titik 1 sebesar 3,4664 m 3/hari, pada titik 2 sebesar 3,4364 m3/hari, pada titik 3 sebesar 2,0581 m3/hari, pada titik 4 sebesar 1,1228 m3/hari, pada titik 5 sebesar 0,6823 m3/hari. Ratarata volume angkutan sedimen dasar dengan Metode M. M sebesar 3,02 m 3/hari dan dengan Metode Einstein sebesar 0,8668 m3/hari. Volume angkutan sedimen dasar dari hulu ke hilir semakin kecil karena dipengaruhi oleh kecepatan aliran air yang semakin kecil dari hulu ke hilir. Riyan Nurrohman dkk. Jurnal Surya Beton. Volume 9. Nomor 1. Maret 2025 . Volume . 3/Har. Titik (Lokas. Einstein Gambar 4. Grafik Perbandingan Volume Angkutan Sedimen Dasar Metode M. M dan Metode Einstein Sumber: Hasil Perhitungan Data Primer Berdasarkan Gambar 4. dapat dilihat bahwa angkutan sedimen dasar di Saluran Primer Bendung Kalisemo dengan Metode M. M lebih besar dari pada Metode Einstein. Selisih volume angkutan sedimen dasar Metode M dan Metode Einstein pada titik 1 sebesar 3,4664 m3/hari, pada titik 2 sebesar 3,4364 m3/hari, pada titik 3 sebesar 2,0581 m3/hari, pada titik 4 sebesar 1,1228 m3/hari, pada titik 5 sebesar 0,6823 m3/hari. Rata-rata volume angkutan sedimen dasar dengan Metode M. M sebesar 3,02 m3/hari dan dengan Metode Einstein sebesar 0,8668 m3/hari. Volume angkutan sedimen dasar dari hulu ke hilir semakin kecil karena dipengaruhi oleh kecepatan aliran air yang semakin kecil dari hulu ke hilir. 6 Pembahasan Kecepatan aliran air menjadi faktor terpenting angkutan sedimen dasar dapat bergerak. Pada penelitian ini kecepatan aliran air di titik 1 sebesar 1,2358 m/dt, titik 2 sebesar 1,2038 m/dt, titik 3 sebesar 1,0845 m/dt, titik 4 sebesar 1,0276 m/dt, dan titik 5 sebesar 0,9686 m/dt. Karakteristik angkutan sedimen dasar . ed loa. berdasarkan ukuran butiran dari yang paling besar ke yang paling kecil yaitu, kerikil sedang, kerikil halus, kerikil sangat halus, pasir berkwarsa, pasir sedang, pasir halus, pasir sangat halus, dan lanau. Volume angkutan sedimen dasar di Saluran Primer Bendung Kalisemo dengan Metode M. M di titik 1 sebesar 4,5060 m 3/hari, titik 2 sebesar 4,3828 m3/hari, titik 3 sebesar 2,9214 m3/hari, titik 4 sebesar 1,9165 m3/hari, dan titik 5 sebesar 1,3735 m3/hari. Volume angkutan sedimen dasar dengan Metode Einstein sebesar 1,0396 m3/hari, titik 2 sebesar 0,9464 m3/hari, titik 3 sebesar 0,8633 m3/hari, titik 4 sebesar 0,7937 m3/hari, dan titik 5 sebesar 0,6912 m3/hari. Rata-rata volume angkutan sedimen dasar dengan Metode M. M sebesar 3,02 m3/hari dan dengan Metode Einstein sebesar 0,8668 m3/hari. Simpulan dan Saran 1 Simpulan Karakteristik angkutan sedimen dasar . ed loa. berdasarkan ukuran butiran di Saluran Primer Bendung Kalisemo dari yang paling besar ke yang paling kecil yaitu, kerikil sedang, kerikil halus, kerikil sangat halus, pasir berkwarsa, pasir sedang, pasir halus, pasir sangat halus, dan lanau. Volume angkutan sedimen dasar . ed loa. di Saluran Primer Bendung Kalisemo dengan Metode MeyerPeter & Muller (M. M) diperoleh rata-rata volume angkutan sedimen dasar sebesar 3,02 m3/hari dan dengan Metode Einstein diperoleh rata-rata volume angkutan sedimen dasar sebesar 0,8668 m3/hari. Riyan Nurrohman dkk. Jurnal Surya Beton. Volume 9. Nomor 1. Maret 2025 . 2 Saran Penelitian selanjutnya dapat menambah jumlah titik lokasi penelitian di saluran supaya hasil yang didapat lebih akurat. Penelitian selanjutnya dapat menambah metode perhitungan volume angkutan sedimen dasar . ed loa. seperti Metode Du Boys . dan Metode Kalinske . Daftar Pustaka