Analisis Kebutuhan Literasi Keagamaan Siswa SMP Pengembangan e-Modul Interaktif Berbasis Model RQANI Rangka ISSN:2599-2511 . ISSN:2685-0524 . Analisis Kebutuhan Literasi Keagamaan Siswa SMP dalam Rangka Pengembangan e-Modul Interaktif Berbasis Model RQANI Muchlis1. Andang2* Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Nggusuwaru. Bima Email Corespondensi: andangunswa@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan eAcModul interaktif berbasis model RQANI sebagai media pembelajaran yang mendukung literasi keagamaan dan pembelajaran mendalam siswa SMP. Studi pendahuluan dilakukan di SMPN 2 Kota Bima dengan melibatkan guru PAI dan siswa kelas Vi sebagai responden. Metode penelitian menggunakan pendekatan mixed-methods, terdiri atas analisis kuantitatif melalui angket dan analisis kualitatif melalui wawancara mendalam. Data kuantitatif dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui tingkat literasi digital, preferensi pembelajaran, dan pemanfaatan teknologi, sedangkan data kualitatif dianalisis secara tematik menggunakan kerangka Miles & Huberman untuk mengidentifikasi kendala, strategi pembelajaran, dan peluang pengembangan media interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi digital siswa masih terbatas, dan mayoritas siswa menginginkan pembelajaran digital yang mengintegrasikan nilai moral dan keagamaan. Guru PAI memanfaatkan teknologi sebatas media presentasi dan menghadapi kendala berupa keterbatasan perangkat dan pemahaman teknologi. Analisis tematik wawancara mengidentifikasi bahwa aspek literasi keagamaan yang perlu diperkuat meliputi pemahaman teks, refleksi nilai, dan literasi digital. Temuan ini menunjukkan bahwa pengembangan eAcModul interaktif berbasis RQANI memiliki potensi signifikan untuk meningkatkan literasi digital, motivasi belajar, dan internalisasi nilai moral serta spiritual siswa. Penelitian ini memberikan dasar empiris untuk perancangan media pembelajaran inovatif yang kontekstual dan interaktif, mengintegrasikan teknologi pendidikan dengan pembelajaran keagamaan. EAcModul berbasis RQANI direkomendasikan sebagai strategi efektif untuk mendukung pembelajaran mendalam, membangun karakter, dan meningkatkan literasi digital serta keagamaan siswa SMP di era pendidikan abad ke-21. Kata Kunci : e-Modul interaktif. Model RQANI. Literasi Digital. Pembelajaran Mendalam Abstract This study aims to analyze the need for an interactive e-module based on the RQANI model as a learning media that supports religious literacy and deep learning for junior high school students. preliminary study was conducted at SMPN 2 Kota Bima, involving PAI (Islamic Religious Educatio. teachers and eighth-grade students as respondents. The research employs a mixed-methods approach, consisting of quantitative analysis through questionnaires and qualitative analysis through in-depth Quantitative data were analyzed descriptively to determine the level of digital literacy, learning preferences, and technology utilization, while qualitative data were thematically analyzed using Miles & HubermanAos framework to identify challenges, learning strategies, and opportunities for developing interactive media. The results show that students' digital literacy is still limited, and the majority of students desire digital learning that integrates moral and religious values. PAI teachers use technology mainly as a presentation tool and face challenges such as limited devices and lack of technological understanding. Thematic analysis of interviews identified that aspects of religious literacy that need to be strengthened include text comprehension, value reflection, and digital literacy. These findings indicate that the development of the RQANI-based interactive e-module has significant potential to enhance digital literacy, learning motivation, and the internalization of moral and spiritual values among students. This research provides an empirical foundation for the design of innovative, contextual, and interactive learning media that integrates educational technology with religious learning. The RQANI-based e-module is recommended as an effective strategy to support deep learning, character building, and the enhancement of digital and religious literacy for junior high school students in the 21st-century educational era. Keywords : Interactive e-Module. RQANI Model. Digital Literacy. Deep Learning 272 Edusociata Jurnal Pendidikan Sosiologi Volume 8 Nomor 2 Tahun 2025 Analisis Kebutuhan Literasi Keagamaan Siswa SMP dalam Rangka Pengembangan e-Modul Interaktif Berbasis Model RQANI PENDAHULUAN Literasi keagamaan merupakan aspek krusial dalam pembelajaran Pendidikan Agama di sekolah menengah pertama (SMP). Literasi keagamaan tidak sekadar memahami teks keagamaan, tetapi juga mencakup memahami, mengevaluasi, serta menerapkan nilaiAcnilai agama dalam konteks kehidupan nyata, termasuk di era digital yang ditandai dengan melimpahnya sumber informasi (Hasibuan et al. , 2025. Maulidah, 2. Secara teoritis, literasi keagamaan berperan dalam pembentukan karakter religius siswa yang mencerminkan pemahaman konseptual dan aplikasi nilai dalam kehidupan social (Hilaluddin, 2025. Ismaraidha et al. , 2. Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa literasi keagamaan berkontribusi signifikan terhadap keterampilan berpikir kritis dan kreativitas siswa SMP, yang menunjukan keterkaitan kuat antara kompetensi literasi dan kemampuan berpikir tinggi siswa dalam pembelajaran agama (Swanto & Darlis, 2. Namun pada praktiknya, keberhasilan literasi keagamaan di SMP menghadapi pembelajaran yang masih konvensional, dominasi metode hafalan tanpa integrasi konteks kehidupan kontemporer, serta kurangnya pemanfaatan media pembelajaran inovatif (Andang & Subhan, 2023. Ningsih & Zalisman, 2. Tantangan ini semakin nyata ketika siswa harus menavigasi informasi keagamaan digital yang sering kali tidak tervalidasi, sehingga diperlukan keterampilan literasi digital keagamaan agar siswa mampu mengevaluasi relevansi dan keabsahan sumber informasi yang mereka temui secara daring (Safitri et al. , 2025. Srirahmawati et al. , 2024. Taufik et al. , 2. 273 Edusociata Jurnal Pendidikan Sosiologi ISSN:2599-2511 . ISSN:2685-0524 . Penelitian nasional menunjukkan bahwa peran guru Pendidikan Agama Islam (PAI) sangat penting dalam meningkatkan literasi Guru tidak hanya bertugas mentransfer pengetahuan, tetapi juga harus memfasilitasi siswa dalam proses pemahaman dan internalisasi nilaiAcnilai agama melalui berbagai strategi pembelajaran yang efektif (Fahrieyah, 2. Keterlibatan guru dapat berupa penggunaan media pembelajaran yang relevan (Andang et al. , 2. , pembiasaan diskusi reflektif, serta pendekatan kontekstual yang menghubungkan materi keagamaan dengan persoalan kehidupan siswa sehariAchari. Meskipun demikian, sejumlah studi menunjukkan bahwa minat baca siswa terhadap literatur keagamaan masih rendah di beberapa sekolah menengah, yang menjadi pengembangan literasi keagamaan yang Rendahnya minat baca ini dipengaruhi oleh keterbatasan fasilitas literatur, kurangnya koleksi buku keagamaan yang menarik, serta dominasi media digital sebagai sumber utama informasi siswa (Rodin et al. , 2. Kondisi ini mengindikasikan bahwa program literasi keagamaan yang hanya berfokus pada teks tertulis tanpa integrasi media yang beragam kebutuhan belajar siswa masa kini. Lebih jauh, penelitian juga menggarisbawahi tantangan dalam kemampuan literasi digital siswa dalam konteks pembelajaran keagamaan. Seiring dengan perkembangan teknologi dan media digital, siswa kerap menggunakan beragam platform digital untuk mencari informasi keagamaan, namun kemampuan mereka dalam mengevaluasi informasi secara kritis masih perlu ditingkatkan (Adedo & Deriwanto, 2024. Azwar et al. , 2. Hal ini selaras dengan temuan literatur yang menyebut bahwa literasi keagamaan masa kini harus mencakup Volume 8 Nomor 2 Tahun 2025 Analisis Kebutuhan Literasi Keagamaan Siswa SMP dalam Rangka Pengembangan e-Modul Interaktif Berbasis Model RQANI berbagai dimensi multiliterasi, termasuk literasi teks, digital, visual, dan kultural, untuk memahami dan menginterpretasikan pesan keagamaan secara menyeluruh (Silvia Putri. Meskipun demikian, pendekatan kurikulum formal sering kali belum secara pemecahan masalah, dan penerapan nilai (Rohbiah & Cahyadi, 2. Penelitian SMP memperlihatkan bahwa strategi pembelajaran yang inovatif, seperti pendekatan flipped classroom atau pembelajaran berbasis proyek dan digital, menunjukkan peningkatan keterlibatan siswa dalam literasi keagamaan. Model pembelajaran yang mendorong keterlibatan aktif siswa, diskusi kolaboratif, dan pemanfaatan media digital dapat membantu menguatkan literasi dari dimensi kognitif hingga afektif (Satrisno et al. , 2. Namun, hambatan lain yang sering dilaporkan dalam implementasi literasi keagamaan adalah ketimpangan akses teknologi, keterbatasan kompetensi digital guru, serta kecenderungan siswa lebih banyak menghabiskan waktu pada konten hiburan daripada literatur keagamaan yang bermakna (Asli, 2024. Haqiqi, 2. Dalam konteks ini, analisis kebutuhan literasi keagamaan menjadi langkah awal yang sangat penting untuk memetakan kondisi aktual, kesenjangan pembelajaran, serta preferensi siswa dan guru terhadap media pembelajaran. Analisis tersebut tidak hanya mengidentifikasi tingkat literasi keagamaan siswa saat ini, meliputi pemahaman teks agama, pemikiran kritis terhadap sumber informasi, serta kemampuan aplikasi nilai keagamaan, tetapi juga mengevaluasi kesiapan lingkungan pembelajaran digital yang inovatif. Data 274 Edusociata Jurnal Pendidikan Sosiologi ISSN:2599-2511 . ISSN:2685-0524 . empiris dari analisis kebutuhan ini menjadi landasan kuat untuk perancangan eAcmodul interaktif berbasis model RQANI (Amin et al. , yang dirancang khusus untuk mendukung pembelajaran mendalam dan meningkatkan literasi keagamaan siswa SMP secara efektif. Dengan demikian, artikel ini bertujuan untuk menggambarkan kebutuhan literasi keagamaan di SMP sebagai bagian dari studi pendahuluan dalam pengembangan media pembelajaran inovatif. Hasilnya diharapkan dapat memberikan rekomendasi strategis bagi pendidik, pengembang kurikulum, dan meningkatkan kualitas literasi keagamaan yang responsif terhadap tantangan pendidikan di era digital. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed-methods, terdiri atas analisis kuantitatif melalui angket dan analisis kualitatif melalui wawancara mendalam (Basiroen et al. , 2. yang bertujuan untuk menggambarkan secara menyeluruh kebutuhan literasi keagamaan siswa SMP sebagai dasar pengembangan eAcModul interaktif berbasis model RQANI. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan peneliti untuk memperoleh gambaran nyata mengenai kondisi siswa, strategi guru, serta fenomena yang terjadi di kelas tanpa melakukan manipulasi terhadap variabel Penelitian dilaksanakan di SMPN 2 Kota Bima. Subjek penelitian terdiri dari siswa kelas Vi dan guru PAI. Siswa dipilih secara purposive untuk mencerminkan variasi kemampuan, minat, dan tingkat literasi keagamaan yang berbeda. Guru dipilih sebagai informan kunci karena memiliki pengalaman mengajar minimal dua tahun di kelas Vi serta terlibat langsung dalam implementasi Volume 8 Nomor 2 Tahun 2025 Analisis Kebutuhan Literasi Keagamaan Siswa SMP dalam Rangka Pengembangan e-Modul Interaktif Berbasis Model RQANI memberikan wawasan mendalam terkait strategi literasi dan kendala yang dihadapi. Data menggunakan dua instrumen utama, yaitu angket untuk siswa dan wawancara semistruktural dengan guru (Aulia et al. , 2. Angket siswa dirancang untuk mengukur persepsi, tingkat literasi keagamaan, serta preferensi terhadap media dan strategi Skala Likert 1-5 digunakan untuk menilai pernyataan terkait pemahaman teks, refleksi nilai, literasi digital, minat baca. Wawancara guru dilakukan untuk memperoleh data kualitatif yang mendalam mengenai pengalaman guru dalam meningkatkan literasi keagamaan, strategi yang diterapkan, kendala yang dihadapi, serta masukan terkait pengembangan media pembelajaran interaktif. Wawancara dilakukan secara tatap muka, dicatat, dan direkam dengan izin guru untuk memastikan akurasi data (Aulia et al. , 2025. Khoiriah et al. , 2. Prosedur pengumpulan data dimulai dengan pendistribusian angket kepada siswa kelas Vi di ruang kelas masing-masing, diikuti pengisian secara mandiri dengan supervisi guru (Pangestu, 2. Setelah itu, wawancara dilakukan dengan guru PAI secara tatap muka. Seluruh proses pengumpulan data dilakukan dengan memperhatikan etika penelitian, termasuk persetujuan partisipan, kerahasiaan data, dan perlakuan adil terhadap semua subjek penelitian. Analisis data angket dilakukan secara deskriptif statistik, termasuk persentase untuk memperoleh gambaran distribusi tingkat literasi keagamaan, preferensi media, serta keterlibatan siswa dalam pembelajaran PAI (Maghribi et al. , 2. Data ini digunakan untuk mengidentifikasi kesenjangan literasi serta kebutuhan siswa secara kuantitatif. 275 Edusociata Jurnal Pendidikan Sosiologi ISSN:2599-2511 . ISSN:2685-0524 . Sedangkan data hasil wawancara guru dianalisis menggunakan tahapan Miles dan Huberman, yang mencakup reduksi data untuk menyaring dan merangkum jawaban guru menjadi tema dan kategori utama, penyajian data dalam bentuk tabel, matriks, atau narasi ringkas agar pola dan hubungan antar data terlihat jelas, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi melalui triangulasi dengan data angket untuk memastikan validitas temuan. Temuan dari analisis ini kemudian menjadi dasar empiris dalam merancang eAcModul interaktif berbasis model RQANI yang relevan, kontekstual, dan efektif untuk meningkatkan literasi keagamaan siswa SMP di SMPN 2 Kota Bima. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis kuantitatif menunjukkan beberapa temuan penting terkait literasi keagamaan dan penggunaan teknologi di SMPN 2 Kota Bima. Dari hasil studi awal, sebagian besar siswa kelas Vi belum memiliki literasi digital yang memadai untuk memahami materi keagamaan. Kondisi ini menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam memanfaatkan teknologi sebagai media belajar PAI masih terbatas, sehingga mereka kesulitan mengakses dan memahami materi secara Temuan ini menegaskan perlunya media pembelajaran yang dapat memfasilitasi siswa dalam meningkatkan literasi digital sekaligus memahami nilai-nilai keagamaan secara mendalam. Dari sisi guru, sebagian besar masih memanfaatkan teknologi hanya sebagai media presentasi, dan belum pembentukan karakter siswa. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan teknologi dalam pembelajaran PAI masih bersifat tradisional dan terbatas, sehingga potensi media digital untuk meningkatkan literasi maupun keterampilan berpikir kritis siswa Volume 8 Nomor 2 Tahun 2025 Analisis Kebutuhan Literasi Keagamaan Siswa SMP dalam Rangka Pengembangan e-Modul Interaktif Berbasis Model RQANI belum sepenuhnya tergarap. Kondisi ini juga mengindikasikan perlunya pelatihan dan pendampingan bagi guru agar mampu memanfaatkan media digital secara efektif. Selain itu, kendala yang dihadapi oleh guru dan siswa dalam pembelajaran digital mencakup rendahnya pemahaman teknologi dan keterbatasan perangkat digital. Beberapa siswa dan guru mengalami kesulitan dalam mengoperasikan perangkat serta memahami aplikasi pembelajaran digital, sementara ketersediaan sarana teknologi di sekolah masih Kendala ini menekankan bahwa kemudahan penggunaan, agar semua siswa dapat belajar secara efektif tanpa hambatan Kondisi ini sekaligus menguatkan temuan lain yang menunjukkan perlunya pengembangan media pembelajaran digital yang lebih interaktif dan kontekstual untuk memenuhi kebutuhan literasi digital dan nilai moral siswa, yang data hasil analisis angketnya dijelaskan pada Gambar 1 berikut. Berdasarkan gambar 1, menunjukan sejumlah temuan terkait literasi digital, preferensi pembelajaran, dan kendala yang dihadapi oleh siswa dan guru dalam menggunakan teknologi dalam pembelajaran. Temuan pertama menunjukkan bahwa literasi digital siswa dalam memahami materi 276 Edusociata Jurnal Pendidikan Sosiologi ISSN:2599-2511 . ISSN:2685-0524 . keagamaan masih belum memadai, dengan 61% siswa mengalami kesulitan dalam memanfaatkan teknologi untuk memahami materi Pendidikan Agama Islam (PAI). Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun siswa memiliki akses ke teknologi, mereka belum cukup terampil dalam menggunakan perangkat digital untuk mendalami materi keagamaan dengan baik. Sementara itu, preferensi pembelajaran siswa menunjukkan bahwa 67% dari mereka menginginkan pembelajaran digital yang mengintegrasikan nilai moral dan Para siswa berharap agar media pembelajaran yang digunakan tidak hanya menyampaikan materi secara akademik, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai moral dan keagamaan yang bisa membentuk karakter Ini menunjukkan bahwa siswa membutuhkan pembelajaran yang lebih holistik, di mana nilai-nilai agama dan moral diajarkan seiring dengan materi pelajaran Kendala lain yang ditemukan adalah rendahnya pemahaman teknologi baik dari sisi guru maupun siswa. Sebanyak 59% responden merasa bahwa baik guru maupun siswa memerlukan peningkatan kompetensi dalam penggunaan teknologi pendidikan. Kurangnya pemahaman ini menghambat penggunaan teknologi secara maksimal dalam proses Selain itu, terdapat keterbatasan perangkat digital yang tersedia, yang dialami oleh 68% responden. Keterbatasan sarana dan prasarana ini menjadi hambatan signifikan dalam menerapkan pembelajaran berbasis Sebagai implikasi dari temuan-temuan ini, disarankan untuk mengembangkan emodul interaktif yang berbasis pada nilai moral dan spiritual. Media ini diharapkan dapat meningkatkan literasi digital siswa sekaligus mendukung pembelajaran yang lebih Volume 8 Nomor 2 Tahun 2025 Analisis Kebutuhan Literasi Keagamaan Siswa SMP dalam Rangka Pengembangan e-Modul Interaktif Berbasis Model RQANI mendalam dan bermakna. E-modul interaktif yang mengintegrasikan nilai moral dan keagamaan akan membantu siswa tidak hanya dalam memahami materi pelajaran, tetapi juga dalam membangun karakter dan kesadaran spiritual mereka, yang sejalan dengan kebutuhan mereka akan pembelajaran yang lebih bernuansa moral dan religius. Hasil wawancara dengan guru PAI di SMPN 2 Kota Bima menunjukkan beberapa tema utama terkait literasi keagamaan siswa dan Tema-tema ini memberikan pemahaman mendalam yang melengkapi data kuantitatif dari angket siswa, dijelaskan Tingkat Literasi Keagamaan Siswa Guru menilai bahwa literasi keagamaan siswa kelas Vi masih perlu ditingkatkan. Sebagian siswa hanya memahami materi secara dasar dan cenderung fokus pada hafalan, sedangkan kemampuan mereka untuk menggunakan teknologi dalam mencari dan mengevaluasi informasi keagamaan masih Pemahaman siswa terhadap nilai moral dan kemampuan mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari juga terbatas, sehingga menekankan perlunya strategi pembelajaran yang dapat mengembangkan pemahaman konseptual dan refleksi nilai secara lebih Kendala dalam Pembelajaran Beberapa kendala utama muncul dalam proses pembelajaran. Guru menyebutkan keterbatasan perangkat digital di kelas, rendahnya pemahaman siswa maupun guru terkait pemanfaatan teknologi secara optimal, dan metode pembelajaran yang masih terbatas pada pendekatan konvensional. Selain itu, mengoperasikan media digital membuat 277 Edusociata Jurnal Pendidikan Sosiologi ISSN:2599-2511 . ISSN:2685-0524 . pembelajaran secara efektif. Tema ini pembelajaran digital yang interaktif dan mudah diakses oleh seluruh siswa. Strategi dan Metode Pembelajaran Guru menggunakan berbagai strategi untuk meningkatkan pemahaman siswa, termasuk diskusi kelompok, tanya jawab interaktif, dan studi kasus yang relevan dengan kehidupan siswa. Guru juga mendorong siswa melakukan refleksi dan analisis nilai-nilai moral dari teks agama, sehingga pembelajaran tidak hanya berfokus pada hafalan, tetapi juga pemahaman makna dan konteks nilai-nilai Tema ini menunjukkan bahwa strategi pembelajaran aktif dan reflektif menjadi kunci dalam membangun literasi keagamaan yang lebih mendalam. Media Pembelajaran dan Respon Siswa Media yang digunakan guru saat ini meliputi buku teks, modul cetak, dan presentasi digital sederhana. Siswa lebih antusias ketika materi disajikan secara visual atau interaktif, tetapi pemanfaatan media digital masih terbatas pada penyampaian Tema ini menekankan perlunya pengembangan eAcModul interaktif yang mampu menggabungkan konten digital dengan pendekatan reflektif dan kontekstual untuk meningkatkan keterampilan literasi digital dan pemahaman nilai keagamaan. Aspek Literasi yang Perlu Diperkuat Guru menekankan beberapa aspek literasi keagamaan yang perlu ditingkatkan, antara lain pemahaman teks keagamaan, kemampuan refleksi terhadap nilai moral dan spiritual, serta literasi digital. Aspek ini penting agar siswa dapat mengevaluasi informasi keagamaan secara kritis dan mengaplikasikan nilai-nilai yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari. Volume 8 Nomor 2 Tahun 2025 Analisis Kebutuhan Literasi Keagamaan Siswa SMP dalam Rangka Pengembangan e-Modul Interaktif Berbasis Model RQANI Peluang dan Saran Pengembangan eAcModul Interaktif Guru melihat eAcModul interaktif sebagai peluang untuk meningkatkan motivasi, keterlibatan, dan pembelajaran mandiri siswa. Media ini memungkinkan eksplorasi materi lebih dalam dan integrasi nilai moral dengan pembelajaran digital. Guru menyarankan agar eAcModul dikembangkan secara interaktif dan kontekstual, memuat ilustrasi visual, kuis, aktivitas reflektif, serta studi kasus nyata. Selain itu, pelatihan guru dalam penggunaan pemanfaatan eAcModul dapat optimal dan mendukung peningkatan literasi keagamaan serta pembentukan karakter siswa. Hasil SMPN 2 Kota Bima menunjukkan bahwa literasi digital dan literasi keagamaan siswa SMP masih memiliki keterbatasan signifikan, meskipun ada preferensi kuat dari siswa terhadap pembelajaran digital yang mampu memadukan nilai moral dan spiritual. Temuan ini penting untuk dibahas dalam konteks teori dan praktik pembelajaran yang sudah digagas dalam literatur pendidikan agama dan literasi digital. Pertama, soal ketidakmampuan siswa dalam memanfaatkan teknologi untuk memahami materi keagamaan, ini sejalan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa literasi digital dalam pendidikan agama merupakan kompetensi esensial yang perlu dikembangkan secara eksplisit, terutama di era teknologi yang Nurdiah menyatakan bahwa pembelajaran PAI berbasis literasi digital dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan pemahaman keagamaan dengan cara yang lebih interaktif sesuai perkembangan Penelitian ini menegaskan bahwa literasi digital bukan hanya tentang kemampuan teknis, tetapi juga tentang kemampuan mengevaluasi dan memahami 278 Edusociata Jurnal Pendidikan Sosiologi ISSN:2599-2511 . ISSN:2685-0524 . konten keagamaan secara kritis, yang diperlukan agar siswa tidak hanya menjadi konsumen pasif informasi. Hal ini didukung oleh studi yang menegaskan bahwa literasi mengevaluasi, dan memanfaatkan konten digital secara bijak dalam konteks keagamaan (Hasanah & Sukri, 2023. Tahir et al. , 2024. Yahya, 2. Kedua, data menunjukkan bahwa siswa menginginkan pembelajaran digital yang memadukan nilai moral dan spiritual. Temuan ini konsisten dengan kajian yang menunjukkan bahwa integrasi nilai-nilai keagamaan dalam media pembelajaran digital meningkatkan relevansi pendidikan bagi siswa modern (Zainuddin, 2. Misalnya, penelitian tentang pengembangan e-Modules berbasis integrasi nilai religius dalam pembelajaran matematika menemukan bahwa penggabungan elemen agama dalam media digital membuat materi lebih bermakna dan kontekstual bagi Alasan di balik keinginan siswa ini dapat dipahami dari sudut pandang pedagogik bahwa pembelajaran agama yang efektif harus normatif . eks agam. dengan pengalaman kehidupan nyata siswa (Ningsih & Zalisman. Ketiga, dari sudut pandang guru, masih terdapat pemanfaatan teknologi yang terbatas, yaitu hanya pada aspek presentasi, tanpa optimalisasi untuk pembentukan karakter dan literasi digital. Temuan ini mendapat dukungan dari literatur yang menunjukkan bahwa guru seringkali mengalami kendala dalam integrasi teknologi secara mendalam di pembelajaran agama karena keterbatasan kompetensi profesional serta ketersediaan Penelitian Aifalesasunanda et al. Febrianda & Sesmiarni . menunjukkan bahwa kemampuan guru PAI Volume 8 Nomor 2 Tahun 2025 Analisis Kebutuhan Literasi Keagamaan Siswa SMP dalam Rangka Pengembangan e-Modul Interaktif Berbasis Model RQANI dalam mengembangkan literasi digital keagamaan siswa sangat bergantung pada profesionalisme dan penguasaan teknologi pendidikan yang memadai. Hal ini penting karena menurut studi lain, peran guru tidak hanya memfasilitasi informasi tetapi juga menjadi mediator yang membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis, reflektif, dan moral melalui penggunaan alat digital dengan strategi didaktik yang tepat (Manasikana & Pratama, 2. Keempat, teknologi di antara siswa dan keterbatasan perangkat digital di sekolah menjadi hambatan lain yang signifikan. Literatur pendidikan menyatakan bahwa kesenjangan digital, digital peningkatan literasi digital siswa jika tidak ditangani secara sistematis (Lestari et al. Hal ini lebih terasa dalam konteks sekolah menengah, di mana pemanfaatan media digital seharusnya lebih intensif tetapi sering terhambat oleh faktor infrastruktur dan Penelitian menegaskan bahwa pemanfaatan media digital interaktif dalam pembelajaran PAI dapat meningkatkan literasi keislaman siswa ketika dukungan infrastruktur, pelatihan guru, dan desain media yang efektif tersedia secara bersamaan (Sahyan et al. , 2025. Zainuddin. Kelima, berkaitan dengan strategi dan metode yang efektif, wawancara menyebutkan beberapa pendekatan yang sudah dilakukan guru, seperti diskusi kelompok, tanya jawab interaktif, dan studi kasus yang relevan. Pendekatan ini senada dengan rekomendasi dari literatur yang menekankan bahwa pembelajaran agama harus bersifat interaktif dan kontekstual agar mampu menumbuhkan literasi keagamaan yang mendalam. Penelitian Nurdiah 279 Edusociata Jurnal Pendidikan Sosiologi ISSN:2599-2511 . ISSN:2685-0524 . pembelajaran PAI berbasis literasi digital dapat meningkatkan keterlibatan siswa secara emosional dan kognitif terhadap materi pembelajaran, menunjukkan bahwa strategi teknologi, refleksi nilai, dan keterlibatan aktif Keenam, terkait aspek literasi yang perlu diperkuat, pemahaman teks, kemampuan refleksi nilai, dan literasi digital, temuan ini sesuai dengan hasil kajian sebelumnya yang menyatakan bahwa literasi keagamaan adalah gabungan antara kemampuan membaca, memahami dan menafsirkan teks keagamaan serta kemampuan mengevaluasi konteks sosial dan digital. Pendidikan agama yang efektif harus mengintegrasikan literasi keagamaan dengan strategi pedagogik yang merangsang refleksi kritis dan internalisasi nilai (Khoiriah et al. , 2. Selain itu, peluang dan rekomendasi pengembangan e-Modul interaktif seperti yang disampaikan guru sangat relevan dengan dinamika pendidikan kontemporer yang menuntut media pembelajaran yang responsif, adaptif, dan relevan dengan gaya belajar siswa. Penelitian tentang pengembangan e-modul untuk meningkatkan literasi digital dalam PAI menunjukkan bahwa e-Modul dapat secara signifikan meningkatkan keterampilan digital dan pemahaman agama siswa ketika dirancang diintegrasikan ke dalam kurikulum secara sistematis (Asra, 2025. Kafi, 2. Dengan demikian, pembahasan ini menunjukkan bahwa hasil penelitian di SMPN 2 Kota Bima konsisten dengan temuan dan rekomendasi dari berbagai literatur, dan juga menegaskan bahwa literasi keagamaan dan digital bukanlah dua kompetensi yang berdiri sendiri. Keduanya harus diintegrasikan melalui media pembelajaran yang interaktif. Volume 8 Nomor 2 Tahun 2025 Analisis Kebutuhan Literasi Keagamaan Siswa SMP dalam Rangka Pengembangan e-Modul Interaktif Berbasis Model RQANI reflektif, dan kontekstual seperti e-Modul berbasis model RQANI yang diusulkan. Integrasi ini diharapkan tidak hanya meningkatkan pemahaman agama siswa, tetapi juga kemampuan mereka dalam mengevaluasi dan menggunakan teknologi secara etis dan bijak sesuai tuntutan abad ke-21. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian di SMPN 2 Kota Bima mengenai literasi keagamaan siswa dan pemanfaatan media digital dalam pembelajaran PAI, dapat ditarik beberapa kesimpulan penting. Pertama, tingkat literasi keagamaan siswa kelas Vi masih perlu Meskipun sebagian siswa mampu memahami materi secara dasar, kemampuan mereka untuk mengakses, mengevaluasi, dan memanfaatkan informasi keagamaan melalui media digital masih Hal ini menunjukkan bahwa literasi digital menjadi aspek penting yang harus dikembangkan bersamaan dengan literasi menginternalisasi nilai-nilai moral dan spiritual secara lebih mendalam. Kedua, siswa menunjukkan kebutuhan yang jelas terhadap pembelajaran digital yang memadukan nilai moral dan keagamaan. Preferensi ini menegaskan bahwa media pembelajaran yang hanya bersifat tekstual atau presentasi sederhana kurang menarik bagi siswa dan tidak cukup untuk membangun keterampilan berpikir kritis dan refleksi nilai. Ketiga, temuan dari guru menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran PAI masih terbatas, umumnya hanya sebagai media presentasi. Guru menghadapi kendala berupa keterbatasan perangkat digital dan rendahnya pemahaman teknologi, baik pada guru maupun siswa. Keempat, analisis tematik dari wawancara guru menegaskan beberapa aspek literasi yang perlu diperkuat, yaitu 280 Edusociata Jurnal Pendidikan Sosiologi ISSN:2599-2511 . ISSN:2685-0524 . pemahaman teks keagamaan, kemampuan refleksi terhadap nilai moral dan spiritual, serta literasi digital. Kelima, pengembangan eModul interaktif berbasis nilai moral dan spiritual memiliki peluang besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Media ini memungkinkan siswa belajar secara mandiri, mengeksplorasi materi lebih dalam, dan mengintegrasikan pembelajaran digital dengan internalisasi nilai. E-Modul yang kontekstual, dengan fitur ilustrasi visual, kuis, aktivitas reflektif, serta studi kasus nyata, meningkatkan literasi digital dan literasi keagamaan secara simultan. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa literasi keagamaan dan literasi digital tidak dapat dipisahkan dalam konteks pendidikan abad ke-21. Integrasi kedua kompetensi tersebut melalui media pembelajaran yang inovatif seperti e-Modul interaktif berbasis model RQANI merupakan strategi yang relevan dan efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan Temuan ini memberikan dasar empiris yang kuat bagi guru, pengembang media pembelajaran, dan pemangku kebijakan penggunaan teknologi dalam pendidikan agama di tingkat SMP. DAFTAR PUSTAKA