Jurnal SAINTEKOM (Sains dan Teknologi Komputas. Vol. No. Maret, 2026 Lembaga Penelitian. Pengembangan, dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNBIN e-ISSN: 3109 Ae 1350 Received: 27 Januari 2026. Accepted: 21 Maret 2026. Published: Maret 2026. DOI: 10. 36350/jskom. Penerapan Metode AHP (Analytical Hierarchy Proces. dalam Menentukan Prioritas Pembangunan Infrastruktur di Kecamatan Mechy Adelia1. Julio Warmansyah 2* Program Studi Sistem Informasi. Fakultas Informatika dan Komputer. Universitas Binaniga Indonesia email: mechyadelia310310@gmail. *) Corresponding Author ABSTRACT Infrastructure development at the sub-district level plays a strategic role in supporting regional development and improving community welfare. However, the determination of infrastructure development priorities in many sub-districts, including Cibinong Sub-district, is still carried out conventionally and tends to rely on subjective considerations, while the number of proposed activities continues to increase and budget availability remains limited. This condition creates a high risk of inaccuracy in determining development priorities that are truly urgent and impactful. This study aims to develop a web-based Decision Support System (DSS) by applying the Analytical Hierarchy Process (AHP) method to determine infrastructure development priorities in Cibinong Sub-district. Data were collected through interviews with sub-district officials, documentation of infrastructure development proposals, and observation of the existing planning process. The criteria used in this study include population impact, level of infrastructure damage, development cost, area coverage, and socio-economic urgency. The system was developed using a prototyping approach with PHP as the programming language and MySQL as the database. The results show that the implementation of the AHP method is able to produce structured and consistent priority rankings, reduce subjectivity in decision-making, and improve transparency and accountability in infrastructure planning. System evaluation indicates that the DSS is feasible to be applied as a decision-support tool for sub-district governments in determining infrastructure development priorities objectively and systematically. Keywords: Analytical Hierarchy Process. Decision Support System. Infrastructure Development. Sub-district Government ABSTRAK Pembangunan infrastruktur di tingkat kecamatan berperan penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan mendukung pertumbuhan Namun, penentuan prioritas pembangunan di Kecamatan Cibinong masih belum sepenuhnya mencerminkan urgensi kebutuhan masyarakat. Hal ini terlihat dari adanya proyek penting yang tertunda, sementara proyek dengan urgensi lebih rendah didahulukan. Selain itu, belum tersedia sistem penilaian berbasis kriteria terukur sehingga keputusan cenderung subjektif dan kurang transparan. Penelitian ini bertujuan merancang dan mengimplementasikan Sistem Pendukung Keputusan (SPK) berbasis web dengan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk membantu menentukan prioritas pembangunan infrastruktur. Data diperoleh dari dokumen Musrenbang dan kuesioner operator kelurahan, dengan kriteria: volume pekerjaan, pagu anggaran, jumlah penduduk, panjang jalan rusak, dan jumlah rumah tidak layak huni. Sistem dibangun menggunakan framework Laravel dengan basis data MySQL, yang secara otomatis menghitung prioritas sesuai tahapan AHP, mulai dari penyusunan hierarki hingga pengujian konsistensi. Hasil uji menunjukkan sistem memperoleh tingkat kelayakan 89% (Sangat Laya. dari Uji Ahli dan lebih dari 90% pada aspek kemudahan, kualitas informasi, dan antarmuka dari Uji Pengguna, sehingga sistem dinilai efektif mendukung pengambilan keputusan. Kata kunci : AHP. Infrastruktur. Kecamatan Cibinong. Prioritas Pembangunan. Sistem Pendukung Keputusan PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan infrastruktur merupakan salah satu faktor utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Di tingkat kecamatan, pembangunan infrastruktur seperti jalan lingkungan, drainase, dan fasilitas umum menjadi kebutuhan mendesak yang secara langsung dirasakan oleh masyarakat. Namun, keterbatasan anggaran dan banyaknya usulan kegiatan pembangunan menyebabkan pemerintah kecamatan harus menentukan prioritas pembangunan secara selektif dan tepat sasaran. Di Kecamatan Cibinong, proses penentuan prioritas pembangunan infrastruktur masih dilakukan secara manual melalui musyawarah dan pertimbangan subjektif aparatur, sehingga berpotensi menimbulkan ketidakkonsistenan dalam pengambilan keputusan. Tidak adanya sistem pendukung keputusan yang terstruktur menyebabkan proses evaluasi usulan pembangunan menjadi kurang objektif, sulit ditelusuri, dan rawan terhadap bias. Seiring perkembangan teknologi informasi, penerapan Sistem Pendukung Keputusan (SPK) menjadi solusi yang relevan untuk membantu pemerintah kecamatan dalam mengelola data usulan pembangunan dan menentukan prioritas secara objektif. Salah satu metode pengambilan keputusan multikriteria yang efektif adalah Analytical Hierarchy Process (AHP), karena mampu memecahkan permasalahan kompleks ke dalam struktur hierarki dan menghasilkan bobot kriteria berdasarkan perbandingan berpasangan. Jurnal SAINTEKOM (Sains dan Teknologi Komputas. Vol. No. Maret, 2026 Lembaga Penelitian. Pengembangan, dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNBIN e-ISSN: 3109 Ae 1350 Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini mengusulkan penerapan metode AHP dalam SPK berbasis web untuk menentukan prioritas pembangunan infrastruktur di Kecamatan Cibinong secara objektif, transparan, dan akuntabel. Permasalahan Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimana merancang dan mengimplementasikan sistem pendukung keputusan berbasis web menggunakan metode AHP untuk penentuan prioritas pembangunan infrastruktur di Kecamatan Cibinong? Bagaimana hasil penerapan metode AHP dalam menghasilkan prioritas pembangunan infrastruktur secara objektif dan konsisten? Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah: Mengembangkan sistem pendukung keputusan berbasis web dengan metode AHP untuk menentukan prioritas pembangunan infrastruktur di Kecamatan Cibinong. Menganalisis efektivitas metode AHP dalam mendukung pengambilan keputusan pembangunan infrastruktur di tingkat kecamatan. Manfaat Penelitian Manfaat Teoretis: Memberikan kontribusi akademik dalam pengembangan kajian sistem pendukung keputusan dan penerapan metode AHP pada sektor perencanaan pembangunan publik. Manfaat Praktis: Menjadi alat bantu bagi pemerintah kecamatan dalam menentukan prioritas pembangunan infrastruktur secara objektif dan terstruktur. METODE PENELITIAN Model Pengembangan Sistem Penelitian ini menggunakan model prototyping sebagai pendekatan pengembangan sistem, karena memberikan fleksibilitas tinggi dalam interaksi antara pengguna dan pengembang selama proses perancangan (Ogedebe. Ilah, & Afolayan, 2021, p. Pendekatan prototyping memungkinkan identifikasi kebutuhan sistem secara bertahap, terutama ketika spesifikasi awal belum sepenuhnya jelas. Iterasi yang terus menerus antara pengembang dan pengguna memastikan bahwa setiap fitur disesuaikan dengan kebutuhan lapangan, mengurangi risiko kesalahan desain, dan meningkatkan kepuasan pengguna. Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa model prototyping efektif dalam pengembangan sistem berbasis web untuk pengambilan keputusan publik, karena mampu menyesuaikan fungsi sistem dengan kondisi riil di lapangan (Fajar & Utomo, 2022, p. Selain prototyping, tahapan penelitian ini mengacu pada konsep System Development Life Cycle (SDLC), yang terdiri atas serangkaian tahap sistematis mulai dari analisis hingga pemeliharaan (Dwanoko, 2021, p. SDLC dipilih karena menjamin keterlacakan setiap tahap pengembangan dan memudahkan dokumentasi, sehingga meminimalkan risiko kehilangan data atau kesalahan implementasi. Secara umum, alur kegiatan penelitian diillustrasikan dalam Gambar 1 berikut: Gambar 1 Tahapan System Development Life Cycle (SDLC) Sumber : (Dwanoko, 2014, pp. 1Ae. Jurnal SAINTEKOM (Sains dan Teknologi Komputas. Vol. No. Maret, 2026 Lembaga Penelitian. Pengembangan, dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNBIN e-ISSN: 3109 Ae 1350 Menurut Dwanoko . 4, pp. 1Ae. System Development Life Cycle (SDLC) terdiri atas tujuh tahapan utama yang saling berhubungan dan membentuk siklus berkelanjutan, yaitu: Perencanaan (Plannin. Pada tahap perencanaan, ditetapkan tujuan utama pengembangan sistem yaitu membangun Sistem Pendukung Keputusan (SPK) berbasis web yang mampu menentukan prioritas pembangunan infrastruktur di Kecamatan Cibinong menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Ruang lingkup sistem meliputi pengolahan data usulan kegiatan hasil Musrenbang, pembobotan kriteria, perhitungan prioritas alternatif, serta penyajian hasil peringkat secara sistematis dan transparan. Analisis kelayakan dilakukan dari aspek teknis, ekonomi, dan operasional guna memastikan sistem dapat diimplementasikan secara efektif di lingkungan kecamatan. Penyusunan jadwal pengembangan juga dilakukan untuk memastikan setiap tahapan berjalan terstruktur dan terdokumentasi dengan baik sesuai prinsip System Development Life Cycle (SDLC) (Dwanoko, 2014. Pressman, 2. Analisis Kebutuhan (Requirement Analysi. Tahap analisis kebutuhan dilakukan melalui wawancara dengan aparatur Kecamatan Cibinong yang terlibat dalam proses perencanaan pembangunan, studi dokumen Musrenbang, serta observasi proses penentuan prioritas yang selama ini masih dilakukan secara manual. Hasil analisis dituangkan dalam dokumen Software Requirement Specification (SRS) yang memuat kebutuhan fungsional dan nonfungsional sistem. Kebutuhan fungsional mencakup pengelolaan data kriteria dan alternatif, perhitungan AHP otomatis, serta penyajian hasil ranking dan nilai konsistensi. Sementara itu, kebutuhan nonfungsional meliputi kemudahan akses berbasis web, antarmuka yang intuitif, dan akurasi perhitungan Pendekatan ini sejalan dengan praktik pengembangan Decision Support System (DSS) yang menekankan pentingnya pemahaman kebutuhan pengguna sebagai faktor keberhasilan sistem (Turban et , 2018. Rahmawati, 2. Desain Sistem (System Desig. Pada tahap desain sistem dilakukan perancangan arsitektur dan model sistem menggunakan Unified Modeling Language (UML) untuk menggambarkan interaksi antara pengguna dan sistem. Perancangan mencakup use case diagram, activity diagram, perancangan basis data, serta desain antarmuka pengguna . ser interfac. Struktur sistem mengikuti hierarki AHP yang terdiri atas tujuan, kriteria, dan alternatif. Desain antarmuka difokuskan agar memudahkan pengguna dalam melakukan input data perbandingan berpasangan, melihat hasil pembobotan, serta membaca ranking prioritas secara jelas. Desain sistem yang terstruktur dan intuitif terbukti berpengaruh terhadap efektivitas penggunaan sistem serta meningkatkan kepuasan pengguna dalam proses pengambilan keputusan (Putra & Nugroho, 2021. Sommerville, 2. Pengembangan (Developmen. Tahap pengembangan dilakukan dengan mengimplementasikan sistem berbasis web menggunakan bahasa pemrograman PHP dan basis data MySQL. Pemilihan teknologi ini mendukung pembuatan aplikasi yang dinamis, responsif, dan mudah diintegrasikan dengan sistem lainnya. Algoritma Analytical Hierarchy Process (AHP) diintegrasikan ke dalam sistem, mencakup pembentukan matriks perbandingan berpasangan, normalisasi matriks, perhitungan bobot prioritas . , serta pengujian konsistensi menggunakan Consistency Index (CI) dan Consistency Ratio (CR). Integrasi algoritma ini memungkinkan sistem menghasilkan perhitungan prioritas secara otomatis dan mengurangi risiko kesalahan akibat perhitungan manual (Saaty, 1980. Welling & Thomson, 2. Pengujian (Testin. Pengujian dilakukan untuk memastikan bahwa sistem pendukung keputusan berbasis AHP berjalan sesuai dengan spesifikasi yang telah dirancang. Tahap ini bertujuan untuk memverifikasi bahwa seluruh komponen sistem dapat berfungsi dengan baik, menghasilkan perhitungan yang akurat, serta dapat diterima oleh pengguna sebagai alat bantu pengambilan keputusan (Pressman, 2. Pengujian bertujuan memastikan bahwa semua komponen sistem berjalan sesuai spesifikasi. Pengujian dibagi menjadi beberapa jenis: Uji fungsionalitas Uji fungsionalitas dilakukan untuk memastikan bahwa setiap modul dalam sistem berjalan sesuai dengan kebutuhan yang telah ditentukan pada tahap analisis. Modul yang diuji meliputi pengelolaan data kriteria, pengelolaan data alternatif usulan pembangunan, proses input perbandingan berpasangan, perhitungan otomatis metode AHP, pengujian konsistensi (CI dan CR), serta tampilan hasil ranking prioritas. Pengujian dilakukan menggunakan metode Black Box Testing, yaitu dengan memeriksa kesesuaian output sistem terhadap input yang diberikan tanpa menganalisis struktur internal kode program. Hasil pengujian menunjukkan bahwa seluruh fitur sistem berjalan sesuai dengan rancangan dan tidak ditemukan kesalahan fungsional yang signifikan (Pressman, 2020. Sommerville, 2. Jurnal SAINTEKOM (Sains dan Teknologi Komputas. Vol. No. Maret, 2026 Lembaga Penelitian. Pengembangan, dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNBIN e-ISSN: 3109 Ae 1350 Uji keakuratan perhitungan. Uji keakuratan perhitungan dilakukan untuk memastikan bahwa algoritma Analytical Hierarchy Process (AHP) yang diimplementasikan dalam sistem menghasilkan nilai yang konsisten dan sesuai dengan perhitungan manual. Pengujian dilakukan dengan membandingkan hasil sistem dengan perhitungan menggunakan Microsoft Excel. Perbandingan mencakup proses normalisasi matriks, perhitungan bobot prioritas . , nilai eigen maksimum . , perhitungan Consistency Index (CI). Consistency Ratio (CR), serta nilai akhir prioritas setiap alternatif. Hasil pengujian menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan antara perhitungan sistem dan perhitungan manual, sehingga algoritma AHP yang diterapkan dinyatakan akurat dan valid untuk digunakan dalam proses penentuan prioritas pembangunan (Saaty, 1980. Saaty, 2. Uji penerimaan pengguna . ser acceptance tes. Uji penerimaan pengguna dilakukan untuk mengetahui tingkat kepuasan dan kemudahan penggunaan sistem oleh aparatur Kecamatan Cibinong sebagai pengguna akhir. Evaluasi dilakukan terhadap aspek kemudahan penggunaan, kejelasan informasi, kecepatan proses perhitungan, serta kesesuaian hasil sistem dengan kebutuhan pengambilan keputusan. Uji ini bertujuan memastikan bahwa sistem tidak hanya akurat secara teknis, tetapi juga praktis dan mudah digunakan dalam konteks pemerintahan Hasil evaluasi menunjukkan bahwa sistem dinilai membantu meningkatkan objektivitas dan transparansi dalam menentukan prioritas pembangunan infrastruktur dibandingkan metode manual sebelumnya (Turban et al. , 2018. Lewis, 1. Implementasi (Deploymen. Tahap implementasi dilakukan dengan menerapkan sistem pada data riil usulan pembangunan infrastruktur di Kecamatan Cibinong. Proses ini mencakup input data kriteria dan alternatif, pengisian matriks perbandingan, serta analisis hasil peringkat prioritas. Selain itu, dilakukan pelatihan kepada pengguna untuk memastikan pemahaman terhadap mekanisme perhitungan AHP dan interpretasi hasil yang dihasilkan sistem. Implementasi sistem berbasis DSS pada instansi pemerintah terbukti dapat meningkatkan transparansi dan objektivitas dalam pengambilan keputusan pembangunan (Turban et al. Yuliana & Santoso, 2. Pemeliharaan (Maintenanc. Tahap pemeliharaan dilakukan untuk menjaga keberlangsungan dan kinerja sistem dalam jangka panjang. Kegiatan ini meliputi pembaruan data usulan Musrenbang secara periodik, penyesuaian bobot kriteria apabila terjadi perubahan kebijakan pembangunan, serta perbaikan bug atau kesalahan sistem. Pemeliharaan yang berkelanjutan memastikan sistem tetap adaptif terhadap dinamika perencanaan pembangunan daerah serta mempertahankan akurasi hasil perhitungan AHP (Sommerville, 2016. Fajar & Utomo, 2. Teknik Pengumpulan Data Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh melalui beberapa teknik sebagai berikut: Wawancara Wawancara dilakukan dengan aparatur Kecamatan Cibinong yang terlibat langsung dalam proses perencanaan pembangunan dan pengelolaan usulan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenban. Tujuan wawancara adalah untuk memperoleh informasi mendalam mengenai mekanisme penentuan prioritas pembangunan yang selama ini dilakukan secara manual, kendala yang dihadapi dalam proses pengambilan keputusan, serta pertimbangan-pertimbangan yang digunakan dalam menentukan skala prioritas kegiatan infrastruktur. Selain itu, wawancara juga digunakan untuk menentukan tingkat kepentingan relatif antar kriteria yang akan digunakan dalam metode AHP melalui proses perbandingan Wawancara dilakukan secara semi-terstruktur agar memungkinkan fleksibilitas diskusi namun tetap terarah sesuai kebutuhan penelitian. Teknik ini memungkinkan pengumpulan data yang kontekstual dan sesuai dengan kondisi riil di lapangan (Rahmawati, 2022. Turban et al. , 2. Dokumentasi Dokumentasi dilakukan dengan mengumpulkan dan menelaah dokumen resmi yang berkaitan dengan perencanaan pembangunan infrastruktur di Kecamatan Cibinong. Dokumen yang dikaji meliputi daftar usulan kegiatan hasil Musrenbang, data pagu anggaran, data jumlah penduduk terdampak, data panjang jalan rusak, serta dokumen perencanaan pembangunan daerah yang relevan. Data tersebut digunakan sebagai dasar penyusunan alternatif dan kriteria dalam struktur hierarki AHP, serta sebagai input dalam proses perhitungan prioritas. Dokumentasi juga membantu memastikan bahwa data yang digunakan dalam sistem bersifat faktual, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan secara administratif. Penggunaan data dokumenter dalam penelitian sistem pendukung keputusan penting untuk meningkatkan objektivitas dan transparansi analisis (Sommerville, 2016. Saaty, 1. Jurnal SAINTEKOM (Sains dan Teknologi Komputas. Vol. No. Maret, 2026 Lembaga Penelitian. Pengembangan, dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNBIN e-ISSN: 3109 Ae 1350 Observasi Sistem Observasi dilakukan untuk memahami secara langsung alur proses penentuan prioritas pembangunan yang berjalan di Kecamatan Cibinong sebelum adanya sistem berbasis AHP. Observasi ini bertujuan untuk mengidentifikasi tahapan kerja manual, pola pengambilan keputusan, serta potensi subjektivitas yang muncul dalam proses evaluasi usulan kegiatan. Melalui observasi, peneliti dapat menganalisis kebutuhan sistem secara lebih komprehensif dan merancang SPK yang sesuai dengan kebutuhan operasional di Observasi juga membantu dalam merancang antarmuka sistem yang lebih intuitif dan sesuai dengan kebiasaan kerja pengguna. Pendekatan observasional dalam pengembangan DSS membantu memastikan sistem yang dibangun benar-benar mendukung proses kerja organisasi (Putra & Nugroho. Turban et al. , 2. Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) digunakan dalam penelitian ini untuk menentukan prioritas pembangunan infrastruktur di Kecamatan Cibinong berdasarkan tingkat kepentingan relatif antar kriteria dan AHP merupakan metode pengambilan keputusan multikriteria yang dikembangkan oleh Thomas L. Saaty dan digunakan untuk menyelesaikan permasalahan kompleks melalui pendekatan hierarki dan perbandingan berpasangan. Keunggulan AHP terletak pada kemampuannya mengukur konsistensi penilaian serta mengubah preferensi subjektif menjadi bobot kuantitatif yang terstruktur (Saaty, 1980. Saaty, 2. Langkah-langkah penerapan metode AHP dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Menyusun Struktur Hierarki Langkah pertama adalah membentuk struktur hierarki keputusan yang terdiri atas tiga tingkatan, yaitu: Tujuan: Menentukan prioritas pembangunan infrastruktur Kriteria: Oe Volume pekerjaan Oe Pagu anggaran Oe Jumlah penduduk terdampak Oe Luas wilayah terdampak Oe Panjang jalan rusak Alternatif: Usulan kegiatan pembangunan infrastruktur Struktur hierarki ini membantu menyederhanakan permasalahan kompleks menjadi bagian-bagian yang lebih terstruktur sehingga dapat dianalisis secara sistematis (Saaty, 1. Membentuk Matriks Perbandingan Berpasangan Setiap kriteria dibandingkan secara berpasangan menggunakan skala fundamental Saaty . Ae. Matriks perbandingan dinotasikan sebagai: A=. Dimana : = tingkat kepentingan kriteria ke-i terhadap kriteria ke-j Jika , maka Contoh bentuk matriks: Skala ini digunakan untuk mengukur tingkat kepentingan relatif antar elemen keputusan (Saaty, 1. Normalisasi Matriks Perbandingan Nilai setiap elemen pada matriks dibagi dengan jumlah kolomnya untuk memperoleh matriks Jurnal SAINTEKOM (Sains dan Teknologi Komputas. Vol. No. Maret, 2026 Lembaga Penelitian. Pengembangan, dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNBIN e-ISSN: 3109 Ae 1350 Dimana : = nilai matriks ternormalisasi . = nilai matriks perbandingan Normalisasi bertujuan untuk menghilangkan perbedaan skala antar nilai sehingga dapat dihitung bobot prioritas (Saaty, 2. Menghitung Bobot Prioritas (Eigenvecto. Bobot prioritas setiap kriteria diperoleh dengan menghitung rata-rata setiap baris pada matriks Dimana : wi = bobot prioritas kriteria ke-i . n = jumlah kriteria Nilai bobot ini menunjukkan tingkat kepentingan relatif masing-masing kriteria dalam menentukan prioritas pembangunan (Saaty, 1. Menghitung Nilai Eigen Maksimum . Nilai eigen maksimum dihitung dengan: Dimana: A = matriks perbandingan = vektor bobot Nilai ini digunakan untuk mengukur konsistensi penilaian dalam matriks perbandingan (Saaty, 2. Menghitung Consistency Index (CI) Dimana: = jumlah kriteria CI digunakan untuk mengetahui tingkat inkonsistensi dalam perbandingan berpasangan (Saaty, 1. Menghitung Consistency Ratio (CR) Dimana: RI = Random Index . ilai indeks acak berdasarkan jumlah kriteri. Jika: CR C 0,1 Jurnal SAINTEKOM (Sains dan Teknologi Komputas. Vol. No. Maret, 2026 Lembaga Penelitian. Pengembangan, dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNBIN e-ISSN: 3109 Ae 1350 maka matriks dianggap konsisten dan dapat diterima. Jika lebih dari 0,1, maka penilaian perlu diperbaiki (Saaty, 2. Menghitung Nilai Prioritas Alternatif Setelah bobot kriteria diperoleh dan konsisten, dilakukan perhitungan nilai akhir setiap alternatif dengan mengalikan bobot kriteria dengan nilai alternatif pada masing-masing kriteria: Dimana: Si = skor akhir alternatif ke-i wj = bobot kriteria ke-j xij = nilai alternatif ke-i pada kriteria ke-j Alternatif dengan nilai Si tertinggi ditetapkan sebagai prioritas utama pembangunan infrastruktur (Saaty, 1980. Turban et al. , 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Penetapan Kriteria dan Bobot Prioritas Proses pengambilan keputusan dalam menentukan prioritas pembangunan infrastruktur di Kecamatan Cibinong dilakukan dengan mempertimbangkan sejumlah kriteria strategis yang mencerminkan kebutuhan riil masyarakat serta kebijakan pembangunan daerah. Penentuan kriteria dilakukan melalui wawancara dengan aparatur kecamatan yang terlibat dalam proses Musrenbang serta studi dokumen perencanaan pembangunan. Pendekatan ini bertujuan agar kriteria yang digunakan benar-benar relevan, objektif, dan sesuai kondisi lapangan (Turban et al. , 2. Enam kriteria utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah: volume pekerjaan, pagu anggaran, jumlah penduduk terdampak, luas wilayah terdampak, indeks pembangunan kelurahan, dan panjang jalan rusak. Kriteria volume pekerjaan dan panjang jalan rusak mencerminkan tingkat kebutuhan fisik infrastruktur, jumlah penduduk terdampak dan luas wilayah menunjukkan aspek sosial dan cakupan manfaat, pagu anggaran mencerminkan keterbatasan fiskal, sedangkan indeks pembangunan kelurahan digunakan untuk mendorong pemerataan pembangunan. Struktur kriteria ini disusun dalam bentuk hierarki AHP untuk memudahkan proses pembobotan dan evaluasi alternatif (Saaty, 1. Penentuan bobot dilakukan menggunakan metode perbandingan berpasangan . airwise compariso. berdasarkan skala fundamental Saaty 1Ae9. Matriks perbandingan dinotasikan sebagai: Tabel 1. Struktur Hierarki Keputusan Metode AHP Level Level1 Level 2 Level 2 Level 2 Level 2 Level 2 Level 2 Level 3 Komponen Kode Keterangan Menentukan Prioritas Pembangunan Tujuan (Goa. Infrastruktur di Kecamatan Cibinong Besaran pekerjaan fisik yang dibutuhkan Kriteria Volume Pekerjaan C1 pada setiap usulan kegiatan Jumlah anggaran yang dibutuhkan dalam Kriteria Pagu Anggaran pelaksanaan kegiatan Kriteria Jumlah Penduduk Banyaknya masyarakat yang menerima Terdampak manfaat langsung Kriteria Luas Wilayah Cakupan wilayah yang memperoleh Terdampak dampak pembangunan Kriteria Indeks Tingkat perkembangan wilayah sebagai Pembangunan Kelurahan indikator pemerataan Kriteria Panjang Jalan Total panjang jalan yang memerlukan Rusak Usulan kegiatan pembangunan hasil Alternatif A1. A2. A3. Musrenbang Kecamatan Sumber: Diolah berdasarkan konsep AHP (Saaty, 1980. Saaty, 2. Jurnal SAINTEKOM (Sains dan Teknologi Komputas. Vol. No. Maret, 2026 Lembaga Penelitian. Pengembangan, dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNBIN e-ISSN: 3109 Ae 1350 Struktur hierarki pada metode Analytical Hierarchy Process (AHP) disusun untuk memecah permasalahan kompleks menjadi beberapa tingkatan yang lebih sederhana dan sistematis. Level pertama merupakan tujuan utama penelitian, yaitu menentukan prioritas pembangunan infrastruktur di Kecamatan Cibinong. Level kedua terdiri dari kriteria yang digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Level terakhir merupakan alternatif usulan kegiatan yang akan diperingkat berdasarkan hasil perhitungan bobot prioritas. Penyusunan hierarki ini merupakan langkah awal yang penting dalam AHP karena menjadi dasar dalam proses perbandingan berpasangan . airwise compariso. dan perhitungan bobot prioritas (Saaty, 1. Hasil Perhitungan Metode AHP Hasil perhitungan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dalam penelitian ini dilakukan secara sistematis melalui beberapa tahapan, yaitu penyusunan matriks perbandingan berpasangan antar kriteria, normalisasi matriks, perhitungan bobot prioritas . igen vecto. , serta pengujian konsistensi keputusan. Tahap awal dimulai dengan membentuk matriks perbandingan berpasangan berdasarkan hasil wawancara dan penilaian responden yang memahami proses perencanaan pembangunan di Kecamatan Cibinong. Setiap kriteria dibandingkan menggunakan skala fundamental 1Ae9 yang dikembangkan oleh Saaty untuk menggambarkan tingkat kepentingan relatif antar kriteria (Saaty, 1. Nilai perbandingan tersebut kemudian dinormalisasi untuk memperoleh bobot prioritas masing-masing kriteria yang menunjukkan tingkat kepentingan relatif dalam menentukan prioritas pembangunan infrastruktur. Setelah bobot kriteria diperoleh, dilakukan pengujian konsistensi untuk memastikan bahwa penilaian yang diberikan responden bersifat logis dan tidak inkonsisten. Pengujian dilakukan dengan menghitung nilai eigen maksimum . Consistency Index (CI), dan Consistency Ratio (CR). Matriks perbandingan dinyatakan konsisten apabila nilai CR O 0,1, sehingga bobot yang dihasilkan dapat digunakan dalam tahap perhitungan selanjutnya (Saaty, 2. Hasil pengujian dalam penelitian ini menunjukkan bahwa nilai Consistency Ratio berada di bawah batas toleransi 0,1, sehingga penilaian antar kriteria dinyatakan konsisten dan dapat dipertanggungjawabkan secara metodologis. Bobot prioritas kriteria yang telah dinyatakan konsisten kemudian digunakan untuk menghitung nilai akhir masing-masing alternatif usulan pembangunan yang diperoleh dari hasil Musrenbang Kecamatan Cibinong. Nilai prioritas alternatif diperoleh dengan mengalikan bobot setiap kriteria dengan nilai alternatif pada kriteria tersebut, kemudian menjumlahkannya untuk mendapatkan skor akhir. Alternatif dengan nilai skor tertinggi ditetapkan sebagai prioritas utama pembangunan karena memiliki tingkat kepentingan relatif paling tinggi berdasarkan seluruh kriteria yang telah ditentukan. Hasil ini menunjukkan bahwa metode AHP mampu mengintegrasikan berbagai aspek pertimbangan secara objektif, sistematis, dan transparan, sehingga dapat membantu pihak kecamatan dalam menentukan urutan prioritas pembangunan infrastruktur secara lebih rasional dan terukur (Turban et al. , 2. Hasil akhir ditampilkan pada tabel berikut : Tabel 2. Hasil Perhitungan Menggunakan Metode AHP No. Alternatif Hasil Ranking Cirimekar Cibinong Ciriung Pabuaran Harapan Jaya Pondok Rajeg Tengah Sukahati Karadenan Nanggewer Nanggewer Mekar Pakansari Pabuaran Mekar Sumber: Hasil perhitungan sistem AHP, 2025 Jurnal SAINTEKOM (Sains dan Teknologi Komputas. Vol. No. Maret, 2026 Lembaga Penelitian. Pengembangan, dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNBIN e-ISSN: 3109 Ae 1350 Hasil Uji Sistem Uji Ahli (Expert Judgmen. Uji ahli dilakukan untuk mengevaluasi kesesuaian penerapan metode AHP dan struktur database dalam Pengujian melibatkan dua ahli sistem informasi dari Universitas Binaniaga Indonesia. Instrumen penilaian menggunakan skala Likert 1Ae5 dengan aspek evaluasi meliputi kesesuaian proses AHP, keakuratan implementasi rumus, relevansi hasil, kelengkapan fitur, transparansi proses, serta kualitas struktur database. Berdasarkan hasil penilaian, diperoleh: Total skor Dosen 1: 43 Total skor Dosen 2: 41 Total skor keseluruhan: 84 dari 100 Berdasarkan kriteria kelayakan . Ae100% = Sangat Laya. , sistem dinyatakan Sangat Layak. Hasil ini menunjukkan bahwa implementasi metode AHP dalam sistem telah sesuai dengan tahapan teoritis, perhitungan telah akurat, serta struktur basis data mendukung penyimpanan dan pengolahan data secara efisien dan terstruktur. Uji Pengguna (Post-Study System Usability Questionnaire/PSSUQ) Uji pengguna dilakukan untuk mengetahui tingkat penerimaan dan kepuasan pengguna terhadap Sistem Pendukung Keputusan (SPK) Prioritas Pembangunan Infrastruktur yang dikembangkan menggunakan metode AHP. Instrumen yang digunakan adalah Post-Study System Usability Questionnaire (PSSUQ) dengan skala Likert 7 poin . = Sangat Tidak Setuju hingga 7 = Sangat Setuj. Pengujian melibatkan dua responden yang memahami proses perencanaan pembangunan di Kecamatan Cibinong. Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh persentase kelayakan pada masing-masing kategori sebagai Oe System Usefulness: 95,23% Oe Information Quality: 91,67% Oe Interface Quality: 97,61% Oe Overall Satisfaction: 92,85% Seluruh kategori memperoleh nilai di atas 90%, sehingga berdasarkan kriteria kelayakan Arikunto . Ae 100%), sistem termasuk dalam kategori AuSangat LayakAy. Hasil ini menunjukkan bahwa sistem dinilai membantu pengguna dalam menentukan prioritas pembangunan secara efektif, menyediakan informasi yang jelas dan relevan, serta memiliki antarmuka yang mudah dipahami dan stabil saat digunakan. Uji Hasil (Hit Rati. Uji hasil dilakukan untuk mengukur tingkat kesesuaian antara peringkat prioritas yang dihasilkan oleh sistem menggunakan metode AHP dengan peringkat manual yang diberikan oleh aparatur kelurahan berdasarkan pengalaman dan pertimbangan subjektif. Dari 13 alternatif. Nilai hit ratio sebesar 69,23% menunjukkan bahwa sebagian besar hasil peringkat sistem selaras dengan penilaian manual. Perbedaan yang terjadi pada beberapa alternatif disebabkan oleh pendekatan sistem yang menggunakan pembobotan kriteria secara terstruktur dan kuantitatif, sedangkan penilaian manual lebih didasarkan pada pengalaman subjektif. Hal ini menunjukkan bahwa sistem mampu memberikan rekomendasi yang objektif dan konsisten, serta layak digunakan sebagai alat bantu pendukung pengambilan keputusan dalam menentukan prioritas pembangunan infrastruktur di Kecamatan Cibinong. Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode TOPSIS dalam sistem pendukung keputusan Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dalam sistem pendukung keputusan mampu membantu proses penentuan prioritas pembangunan infrastruktur di Kecamatan Cibinong secara lebih sistematis dan terstruktur. Proses perhitungan dilakukan melalui penyusunan hierarki keputusan, perbandingan berpasangan antar kriteria, normalisasi matriks, perhitungan bobot prioritas, serta pengujian konsistensi. Nilai Consistency Ratio (CR) yang diperoleh berada di bawah batas toleransi 0,1, sehingga matriks perbandingan dinyatakan konsisten dan dapat digunakan dalam penentuan prioritas alternatif. Hal ini menunjukkan bahwa metode AHP efektif dalam mengubah pertimbangan subjektif menjadi nilai Jurnal SAINTEKOM (Sains dan Teknologi Komputas. Vol. No. Maret, 2026 Lembaga Penelitian. Pengembangan, dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNBIN e-ISSN: 3109 Ae 1350 kuantitatif yang terukur dan rasional dalam pengambilan keputusan multikriteria (Saaty, 1980. Saaty, 2. Berdasarkan hasil perhitungan sistem, diperoleh urutan prioritas pembangunan yang pada beberapa alternatif berbeda dengan penilaian manual aparatur kelurahan. Perbedaan tersebut terjadi karena sistem melakukan pembobotan kriteria secara objektif berdasarkan perbandingan berpasangan, sedangkan penilaian manual lebih dipengaruhi oleh pengalaman dan persepsi individu. Meskipun demikian, hasil uji kesesuaian . it rati. sebesar 69,23% menunjukkan bahwa sebagian besar hasil sistem sejalan dengan pertimbangan praktis di Hal ini menegaskan bahwa sistem pendukung keputusan berbasis metode kuantitatif mampu meningkatkan konsistensi dan transparansi dibandingkan pendekatan konvensional (Turban et al. , 2. Dari sisi penerimaan pengguna, hasil uji coba menggunakan instrumen Post-Study System Usability Questionnaire (PSSUQ) menunjukkan bahwa seluruh kategori memperoleh tingkat kelayakan di atas 90%, yaitu System Usefulness sebesar 95,23%. Information Quality sebesar 91,67%. Interface Quality sebesar 97,61%, dan Overall Satisfaction sebesar 92,85%. Berdasarkan kriteria interpretasi persentase kelayakan, nilai tersebut termasuk dalam kategori AuSangat LayakAy. Hal ini menunjukkan bahwa sistem tidak hanya akurat dalam perhitungan, tetapi juga mudah digunakan, informatif, dan memiliki antarmuka yang jelas serta stabil bagi pengguna (Lewis, 2002. Arikunto, 2. Selain itu, hasil uji ahli menunjukkan persentase kelayakan sebesar 84%, yang termasuk dalam kategori AuSangat LayakAy. Para ahli menilai bahwa implementasi metode AHP telah sesuai dengan tahapan teoritis, perhitungan telah mengikuti rumus dan logika yang benar, serta struktur basis data telah mendukung pengolahan data secara efisien dan terorganisir. Evaluasi oleh pakar merupakan tahapan penting dalam memastikan kualitas sistem dari sisi fungsionalitas, akurasi metode, dan desain teknis sebelum sistem diterapkan secara luas (Pressman & Maxim, 2. Secara keseluruhan, penerapan metode AHP dalam sistem pendukung keputusan ini mampu meningkatkan objektivitas, konsistensi, dan transparansi dalam proses penentuan prioritas pembangunan infrastruktur. Sistem memberikan pendekatan berbasis data yang dapat membantu aparatur kecamatan dalam mengambil keputusan secara lebih rasional dan terukur, sehingga mendukung tata kelola pemerintahan yang lebih akuntabel dan efektif (Saaty, 2008. Turban et al. , 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan implementasi sistem pendukung keputusan berbasis metode Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS) untuk pemilihan penyedia barang di Kecamatan Sukaraja, dapat disimpulkan bahwa: Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) berhasil diterapkan dalam sistem pendukung keputusan untuk menentukan prioritas pembangunan infrastruktur secara sistematis dan terstruktur (Saaty, 1. Hasil uji konsistensi menunjukkan nilai CR O 0,1 sehingga bobot kriteria dan peringkat alternatif dinyatakan valid dan dapat dipertanggungjawabkan (Saaty, 2. Uji pengguna menggunakan instrumen PSSUQ menunjukkan tingkat kelayakan di atas 90% pada seluruh kategori, sehingga sistem dinyatakan AuSangat LayakAy untuk digunakan (Lewis, 2. Uji ahli memperoleh persentase kelayakan sebesar 84% yang termasuk kategori AuSangat LayakAy, menunjukkan bahwa sistem telah sesuai dengan kaidah metodologis dan teknis pengembangan sistem (Pressman & Maxim, . Uji hasil dengan metode hit ratio sebesar 69,23% menunjukkan bahwa sistem mampu menghasilkan rekomendasi yang relevan dan cukup selaras dengan penilaian manual, namun lebih objektif dan konsisten karena menggunakan pembobotan kriteria terstruktur (Turban et al. , 2. DAFTAR PUSTAKA