P-ISSN 1412-0380 E-ISSN 2615-272X PRABANGKARA Jurnal Seni Rupa dan Desain Volume 23 Nomor 2. Desember 2019 p 73 - 79 Gaya Bahasa Personifikasi Dalam Novel Sirkus Pohon Karya Andrea Hirata I Nyoman Payuyasa Program Studi Produksi Film dan Televisi. Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Denpasar payuyasa@isi-dps. Novel merupakan karya sastra yang menjadi wadah berkreasi untuk menuturkan sebuah kisah bagi Novel dibangun dengan berbagai unsur yang salah satunya adalah gaya bahasa. Gaya bahasa menjadikan seorang pengarang memiliki ciri khas yang membuatnya berbeda dengan pengarang lainnya. Salah satu gaya bahasa adalah personifikasi yang diartikan sebagai jenis gaya bahasa yang melekatkan sifat-sifat insani kepada benda yang tidak bernyawa dan ide yang abstrak. Andrea Hirata dalam novel Sirkus Pohon menggunakan banyak gaya bahasa personifikasi dalam menutur ceritanya. Hal ini menjadi daya tarik bagi penulis untuk melakukan kajian penggunaan gaya personifikasi dalam novel Sirkus Pohon. Masalah dan tujuan yang diangkat dalam kajian ini adalah deskripsi gaya bahasa personifikasi dalam novel Sirkus Pohon karya Andrea Hirata. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan metode pengumpulan data berupa dokumentasi dan observasi. Hasil penelitian ini menunjukan gaya bahasa personifikasi diterapkan terhadap berbagai macam bentuk, mulai dari pohon, binatang, dapur, senja, dan lain sebagainya. Gaya bahasa personifikasi dapat memberikan gambaran yang sesuai antara apa yang ingin disampaikan pengarang dan apa yang dibayangkan pembaca, menambah kesan dramatis sekaligus menambah nilai keindahan dalam bertutur. Kata kunci : personifikasi, sirkus pohon The novel is a literary work that is a creative place to tell a story for its author. Novels are built with various elements, one of which is language style. The style of language makes an author have characteristics that make him different from other authors. One style of language is personification which is defined as a type of language style that attaches human traits to lifeless objects and abstract ideas. Andrea Hirata in the novel Circus Pohon uses many styles of personification in telling his story. This is an attraction for writers to study the use of personification style in the novel Circus Tree. The problem and purpose raised in this study is the description of the style of personification in the novel Circus Pohon by Andrea Hirata. The research method used is descriptive qualitative data collection methods in the form of documentation and observation. The results of this study indicate the style of personification language is applied to various forms, ranging from trees, animals, kitchens, twilight, and so forth. The style of personification language can provide an appropriate picture between what the author wants to convey and what the reader imagines, adding to the dramatic impression while adding to the value of beauty in speaking. Keywords: personification, tree circus Proses review : 2 - 30 september 2019, dinyatakan lolos 25 oktober 2019 I Nyoman Payuyasa (Gaya. PENDAHULUAN Novel adalah salah satu bentuk dari berbagai macam jenis karya sastra. Novel merupakan sebuah wadah berkreasi untuk menuturkan sebuah kisah bagi pengarangnya. Payuyasa dalam artikel yang berjudul AuPotret Indonesia dalam Novel Sirkus Pohon Karya Andrea Hirata : Sebuah Kajian Sosiologi SastraAy . menuliskan bahwa novel adalah karya sastra yang memberikan ruang AukekuasaanAy kepada pengarangnya untuk menentukan jalan sebuah cerita seperti yang diinginkan. Dalam hal ini cerita dan nasib tokoh-tokohnya diatur dan ditentukan oleh pengarang. Pengarang novel juga memiliki kekuasaan penuh dalam menampilkan karakter tokoh, menentukan alur cerita, serta memiliki AuhakAy penuh atas hidup matinya tokoh. Secara materi novel adalah sebuah karya fiktif. Namun, karya sastra ini tidak bisa dibebaskan begitu saja dari realitas kehidupan masyarakat. Hal ini disebabkan karena novel merupakan sebuah refleksi dari kehidupan masyarakat. Tidak jarang pengarang novel mengangkat kisah-kisah yang tengah terjadi di masyarakat. Hal ini secara tidak langsung akan memberikan sebuah cerminan kesadaran terhadap masyarakat sendiri. Hadirnya karya novel tidak terlepas dari unsur-unsur pembentuknya. Terdapat dua unsur utama pembentuk novel, yaitu unsur ekstrinsik dan unsur intrinsik. Unsur ekstrinsik novel terdiri atas latar belakang pengarang, latar belakang masyarakat, dan nilainilai. Unsur intrinsik novel terdiri atas, tema, alur, latar, penokohan, sudut pandang, amanat, dan gaya Salah satu unsur yang mampu menarik kesan pertama seorang penikmat novel adalah gaya bahasa. Hal ini disebabkan karena gaya bahasa adalah gaya pengantar cerita si pengarang. Gaya bahasa menjadikan seorang pengarang memiliki ciri khas yang membuatnya berbeda dengan pengarang lainnya. Menurut Abrams . alam Nurgiyantoro, 2013: . menyatakan gaya atau stile adalah cara pengucapan bahasa dalam prosa, atau cara seorang pengarang mengungkapkan sesuatu yang akan dikemukakan dalam sebuah cerita. Selanjutnya. Baldic bahwa stile adalah penggunaan bahasa secara khusus yang ditandai oleh penulis, aliran, periode, dan genre (Nurgiyantoro, 2013: . Pada hakikatnya stile atau gaya bahasa merupakan teknik pemilihan ungkapan kebahasaan yang digunakan untuk mewakili sesuatu yang akan diungkapkan dan sekaligus untuk mencapai efek keindahan. Menurut Stanton gaya adalah cara pengarang menggunakan bahasa (Nurhayati, 2012: . Gaya ini dapat memberikan kesan realitas, sungguh-sungguh, dan memberi penekanan Volume 23. Nomor 2. Desember 2019 terhadap cerita atau kejadian yang dituturkan dengan gaya narasi. Dari beberapa definisi di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa gaya bahasa adalah sebuah teknik pemilihan ungkapan atau kata yang bertujuan untuk menyampaikan sesuatu yang mampu mewakili kesan realitas yang sesuai dengan keinginan pengarang, dan pemilihan ungkapan ini secara tidak langsung akan menciptakan sebuah ciri khas bagi pengarangnya. Berkaitan dengan gaya bahasa dalam novel, penulis melihat serangkaian definisi gaya bahasa di atas teraplikasikan dalam novel - novel karya Andrea Hirata. Andrea Hirata adalah seorang penulis novel yang karyanya sudah beredar luas ke manca negara. Salah satu novel yang mengantarkan Andrea Hirata ke kancah internasional adalah Laskar Pelangi. Setelah novel ini, kemudian lahir banyak karya-karya lain yang tidak kalah memukau dengan masih menggunakan karakter gaya yang khas. Karakter Gaya bertutur yang khas ini membuat Andrea Hirata memiliki penikmat yang selalu setia menunggu karya-karyanya. Pada tahun 2017 Andrea Hirata kembali menerbitkan novel yang berjudul Sirkus Pohon. Dikutip dari situs CNN Indonesia dengan judul berita AuAoSirkus PohonAo. Novel Terlama Garapan Andrea HirataAy. Andrea Hirata menyatakan bahwa novel Sirkus Pohon adalah novel terbaik yang pernah dibuatnya. Bahkan sang penulis melakukan berbagai riset untuk dapat mengantarkan sebuah realitas dalam bentuk fiksi. Tidak hanya cerita yang menarik, novel ini pastinya didukung kuat dengan gaya bahasa yang Kekuatan bertutur ini membuat para pembaca Sirkus Pohon terperangkap ke dalam kisah yang Secara teori terdapat empat klasifikasi gaya bahasa. Tarigan . 3: . membedakan gaya bahasa menjadi empat : gaya bahasa perbandingan, gaya bahasa pertentangan, gaya bahasa pertautan, gaya bahasa Dari masing-masing klasifikasi gaya bahasa ini dibagi lagi menjadi beberapa bagian. Dalam kajian ini penulis fokuskan kajian terhadap gaya bahasa perbandingan, secara lebih khusus gaya bahasa Hal ini disebabkan karena novel Sirkusi Pohon dalam penuturan ceritanya lebih banyak didominasi oleh gaya bahasa personifikasi. Gaya bahasa personifikasi dapat diartikan sebagai jenis majas yang melekatkan sifat-sifat insani kepada benda yang tidak bernyawa dan ide yang abstrak (Nurgiyantoro, 2013: . Sejalan dengan pendapat ini. Keraf . 0: . menyatakan gaya bahasa per- Volume 23. Nomor 2. Desember 2019 sonifikasi adalah gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat-sifat kemanusiaan. Pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa personifikasi adalah gaya bahasa yang memberikan gambaran benda mati yang seolah-olah hidup atau memiliki sifat seperti manusia. Sebagai contoh gaya bahasa personifikasi dalam novel Sirkusi Pohon karya Andrea Hirata adalah AuKembang sepatuku berbunga merona-rona dan selalu berteriak, aku di sini, aku di sini! Au (SP : . AuAmboi! Anggrek bulanku telah berbunga rupanya! Pengharum kebun yang emosional itu, suka menangis tanpa sebab yang jelas, lalu mendadak tertawa gembira tanpa sebab yang jelas pula. Ay (SP : . Kedua kutipan cerita di atas merupakan pengungkapan benda-benda yang seolah-olah seperti manusia. Pernyataan kembang sepatuku berbunga merona-rona dan selalu berteriak, aku di sini, aku di sini!, dan amboi! Anggrek bulanku telah berbunga rupanya! Pengharum kebun yang emosional itu, suka menangis tanpa sebab yang jelas, lalu mendadak tertawa gembira tanpa sebab yang jelas pula, adalah pengungkapan tumbuhan yang seolah-olah nampak berlaku seperti manusia. Penggunaan gaya bahasa ini sangat membantu para pengarang untuk dapat mengantarkan realitas keadaan benda-benda yang tidak bisa bicara. Dengan pengungkapan benda-benda berlaku seperti manusia mampu membuat pembaca memahami keadaan seperti apa yang ingin digambarkan pengarang. Sehingga terjadi kesepemahaman situasi oleh pengarang dalam hal ini Andrea Hirata dan penikmat karyanya. Kajian ini sangat penting dilakukan untuk dijadikan pijakan atau pembelajaran bagi para penulis-penulis dalam menerapkan gaya bahasa yang indah dalam karyanya. Karya Andrea Hirata dapat dijadikan acuan dalam menulis dan kajian ini akan membantu memberikan pemahaman dan ketepatan penggunaan gaya bahasa khususnya gaya bahasa personifikasi dalam setiap karya yang akan dibuat. Masalah dan tujuan yang diangkat dalam kajian ini adalah deskripsi gaya bahasa personifikasi dalam novel Sirkus Pohon karya Andrea Hirata. LANDASAN TEORI Bagian ini penulis akan memberikan landasan teori secara singkat untuk memberikan kesepahaman terkait materi yang dikaji. Novel Novel dalam hal ini diambil dari pernyataan Nurhayati . 2 : . yang mengartikan novel merupakan pengungkapan dari fragmen kehidupan manusia PRABANGKARA Jurnal Seni Rupa dan Desain . alam jangka yang lebih panjan. Hal ini memberikan pemahaman bahwa novel adalah sebuah cerita kehidupan manusia dalam media sastra. Gaya Bahasa Personifikasi Menurut Abrams . alam Nurgiyantoro, 2013: . menyatakan gaya atau stile adalah cara pengucapan bahasa dalam prosa, atau cara seorang pengarang mengungkapkan sesuatu yang akan dikemukakan dalam sebuah cerita. Selanjutnya. Baldic bahwa stile adalah penggunaan bahasa secara khusus yang ditandai oleh penulis, aliran, periode, dan genre (Nurgiyantoro, 2013: . Pada hakikatnya stile atau gaya bahasa merupakan teknik pemilihan ungkapan kebahasaan yang digunakan untuk mewakili sesuatu yang akan diungkapkan dan sekaligus untuk mencapai efek keindahan. Menurut Stanton gaya adalah cara pengarang menggunakan bahasa (Nurhayati, 2012: . Gaya ini dapat memberikan kesan realitas, sungguh-sungguh, dan memberi penekanan terhadap cerita atau kejadian yang dituturkan dengan gaya narasi. Dari beberapa definisi di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa gaya bahasa adalah sebuah teknik pemilihan ungkapan atau kata yang bertujuan untuk menyampaikan sesuatu yang mampu mewakili kesan realitas yang sesuai dengan keinginan pengarang, dan pemilihan ungkapan ini secara tidak langsung akan menciptakan sebuah ciri khas bagi pengarangnya. Secara teori terdapat empat klasifikasi gaya bahasa. Tarigan . 3: . membedakan gaya bahasa menjadi empat : gaya bahasa perbandingan, gaya bahasa pertentangan, gaya bahasa pertautan, gaya bahasa Dari masing-masing klasifikasi gaya bahasa ini dibagi lagi menjadi beberapa bagian. Dalam kajian ini penulis fokuskan kajian terhadap gaya bahasa perbandingan, secara lebih khusus gaya bahasa Hal ini disebabkan karena novel Sirkusi Pohon dalam penuturan ceritanya lebih banyak didominasi oleh gaya bahasa personifikasi. Gaya bahasa personifikasi dapat diartikan sebagai jenis majas yang melekatkan sifat-sifat insani kepada benda yang tidak bernyawa dan ide yang abstrak (Nurgiyantoro, 2013: . Sejalan dengan pendapat ini. Keraf . 0: . menyatakan gaya bahasa personifikasi adalah gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat-sifat Pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa personifikasi adalah gaya bahasa yang memberikan gambaran benda mati yang seolah-olah hidup atau memiliki sifat seperti manusia. I Nyoman Payuyasa (Gaya. Volume 23. Nomor 2. Desember 2019 METODE PENELITIAN Dalam kajian ini penulis menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Arikunto . 6: . menyatakan penelitian deskriptif adalah sebuah penelitian untuk mengumpulkan informasi mengenai suatu gejala yang ada, yaitu menurut keadaan pada saat penelitian dilakukan. Penelitian deskriptif ini akan membuat penjelasan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai gaya bahasa personifikasi yang muncul dalam novel Sirkus Pohon karya Andrea Hirata. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Kekualitatifan penelitian ini berkaitan dengan data penelitian yang tidak berupa angka-angka, tetapi berupa kualitas bentuk verbal yang berwujud tuturan. Subjek penelitian berkaitan dengan benda, hal, atau orang tempat variabel melekat, dan yang dipermasalahkan dalam penelitian (Suandi, 2008:. Berkaitan dengan definisi ini maka subjek penelitian dalam kajian ini adalah novel Sirkus Pohon karya Andrea Hirata. Objek penelitiannya adalah gaya bahasa personifikasi yang muncul dalam novel. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode dokumentasi dan observasi. Metode pengumpulan data dibantu dengan instrumen penelitian berupa kartu data yang fungsinya untuk mencatat halaman novel yang dikaji, deskripsi data, serta analisis data. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan prosedur model interaktif Milles . dengan tahapan tiga analisis data, yaitu . reduksi data, . penyajian data, dan . verifikasi atau penarikan Pada tahap akhirnya penulis juga menggunakan metode pemeriksaan keabsahan data dengan menggunakan temat sejawat untuk menghindarkan data beserta analisisnya dari subjektivitas penulis. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada bagian pembahasan ini akan disajikan identitas novel, sinopsis novel Sirkus Pohon dan data-data kutipan dari novel Sirkus Pohon yang mengandung gaya bahasa personifikasi, sekaligus analisis datanya. Data akan disajikan dari kemunculan awal halaman sampai akhir. Sinopsis Novel Sirkus Pohon Berkaitan dengan sinopsis novel Sirkus Pohon, penulis mengambil hasil sinopsis dari hasil penelitian yang dilakukan sebelumnya oleh Payuyasa pada Hasil sinopsis tersebut penulis kutip secara langsung dan uraikan pada bagian ini agar pembaca yang belum membaca, dapat memahami gambaran besar cerita novel Sirkus Pohon. Identitas Novel Sirkus Pohon Judul : Sirkus Pohon Penulis : Andrea Hirata ISBN : 9786022914099 Penerbit : Bentang Pustaka Terbit : Agustus - 2017 Halaman : 424 Kategori : Fiksi Novel Sirkus Pohon adalah sebuah novel yang mengambil latar belakang cerita kehidupan masyarakat di Tanjong Lantai. Belitung. Kondisi perekonomian yang kurang baik menjadi salah satu poin cerita yang dituturkan oleh pengarang. Novel ini menceritakan seorang tokoh bernama Sobri yang kemudian dikenal dengan nama Hob. Sobri adalah seorang pemuda tamatan SMP yang berjuang keras untuk mendapatkan Bernasib sebagai pengangguran membuatnya selalu mendapatkan tekanan dari adiknya. Azizah. Kehidupan Sobri sempat menjadi runyam bersangkut paut dengan polisi karena terjebak dengan salah satu Mafia Geng bernama Taripol, teman Sobri sendiri. Dalam perjalanan mencari kerja Sobri bertemu dengan Dinda, seorang perempuan yang membuatnya jatuh cinta. Pertemuan dengan Dinda membuat semangatnya meletup untuk mendapatkan pekerjaan tetap. Memiliki pekerjaan tetap adalah syarat mutlak dari seorang Dinda untuk Sobri jika ingin menjalin hubungan ke jenjang yang lebih serius. Perjalanan karir seorang Sobri akhirnya terlabuh di sebuah sirkus keliling. Di sirkusi keliling Sobri bertemu dan diwawancarai seorang Ibu Bos dan seorang mandor cilik, yang kemudian menerima dan memperkerjakan Sobri sebagai seorang Badut Sirkus. Kehidupan sebagai sorang badut sirkus membuatnya sangat bahagia. Namun sirkus keliling mengalami berbagai macam tantangan. Tantangan muncul dari salah satu tokoh dalam novel, yaitu Gastori. Gastori dalam cerita ini mengambil peran penokohan antag- Volume 23. Nomor 2. Desember 2019 onis sebagai seorang politikus yang bengis. Novel Sirkus Pohon memiliki dua kisah cinta. Selain kisah cinta memilukan dari Sobri dan Dinda, novel ini juga menceritakan kisah cinta seorang tokoh bernama Tegar dan Tara. Tegar dan Tara bertemu di pengadilan agama. Kedua tokoh ini dipertemukan dalam momen perceraian orang tua mereka masing-masing. Dari pengadilan agama inilah kedua tokoh ini saling tidak bisa melepaskan diri. Tegar menjelma menjadi seorang pembela bagi Tara kecil saat bermain di pengadilan. Belum sempat berkenalan mereka berpisah dan saling merindukan dalam waktu yang lama. Tegar dan Tara saling mencari namun tak saling menemukan. Sampai akhirnya Tegar dan Tara bertemu di sirkus tempat tokoh Sobri bekerja sebagai badut, yang tak lain adalah sirkus milik Tara si mandor cilik. Kisah Tegar dan Tara juga tak berjalan baik. Mereka sempat berpisah saat sirkus mengalami masalah. Sirkus ditutup karena terlilit utang piutang dengan Gastori. Setelah mengalami perjalanan yang sulit sirkus bangkit, sehingga Tara. Tegar, dan Sobri hidup bahagia. Analisis Gaya Bahasa Personifikasi Analisis gaya bahasa personifikasi akan disajikan sebagai berikut. Gaya bahasa personifikasi muncul di berbagai halaman. Penulis mengambil gaya bahasa personifikasi mulai dari halaman dua. AuLihatlah pohon kampungan itu, ia macam kena Pokoknya berbongkol-bongkol, dahannya murung, ranting-rantingnya canggung, kulit kayunya keriput, daun-daunnya kusutA. Ay (SP : . Halaman dua novel ini telah muncul penggunaan gaya bahasa personifikasi oleh Andrea Hirata. Gaya bahasa personifikasi pada kutipan di atas digunakan untuk menggambarkan pohon delima. Pohon delima adalah salah satu bagian cerita yang muncul dalam Pada kutipan di atas gaya bahasa personifikasi muncul untuk menghidupkan atau memberikan perlakuan seperti manusia untuk pohon delima. Kata-kata dahannya murung, kulit kayunya keriput, dan daun-daunnya kusut, merupakan sebuah tanda digunakannya gaya bahasa personifikasi. Bagian-bagian dari pohon dituturkan dengan kondisi seperti Secara logika dahan pohon tidak bisa dikatakan murung, begitu juga daun-daun yang kusut. Kata-kata murung dan kusut lebih pantas disandangkan pada manusia bukan pohon. Namun hal ini dapat dilakukan oleh pengarang untuk menampilkan kesan realitas dan rasa yang kuat kepada pembaca. AuLabu siamku yang tekun dan pendiam, kesenangan keluarga jalak. Ay (SP : . PRABANGKARA Jurnal Seni Rupa dan Desain Kutipan selanjutnya masih di halaman dua, masih bersangkut paut dengan pohon. Dalam konteks kutipan cerita ini digambarkan labu siam yang tekun dan pendiam. Penggambaran inilah yang merupakan penanda digunakannya gaya bahasa personifikasi. Labu siam digambarkan seolah-olah seperti manusia dengan munculnya kata tekun dan pendiam. Pengarang dalam hal ini mengajak para pembaca untuk berimajinasi tentang kondisi labu siam. Agar dapat memberi imajinasi yang pas pada pembaca labu siam dinyatakan dengan kata tekun yang artinya labu siam ini rajin berbuah, dan pendiam untuk memberikan gambaran kebaikan dari labu siam seperti manusia pada umumnya. Hal ini sangat membantu para pembaca untuk menangkap bayangan seperti apa yang ingin penulis sampaikan. AuKembang sepatuku berbunga merona-rona dan selalu berteriak, aku di sini, aku di sini! Au (SP : . Halaman awal novel Sirkus Pohon, banyak menggunakan gaya bahasa personifikasi. Hal ini bertujuan untuk mendapat kesan pertama bagi para pembaca. Seperti yang tampak pada kutipan di atas yang terdapat pada halaman dua novel. Kembang sepatu yang berbunga merona-rona digambarkan selalu berteriak memanggil manggil . aku di sini, aku di sini. Ini merupakan salah satu penggunaan gaya bahasa menghidupkan seperti manusia terhadap benda-benda. Kembang sepatu dituturkan seperti manusia yang mampu berbicara dan berteriak. Makna sebenarnya yang ingin diungkapkan dengan gaya bahasa personifikasi tersebut di atas adalah, keindahan kembang sepatu yang begitu menggoda, sehingga membuat si kembang sepatu selalu tampil percaya diri sampai memanggil-manggil. Dengan tujuan setiap manusia yang lewat bisa menikmati AuAmboi! Anggrek bulanku telah berbunga rupanya! Pengharum kebun yang emosional itu, suka menangis tanpa sebab yang jelas, lalu mendadak tertawa gembira tanpa sebab yang jelas pula. Ay (SP : . Pada bagian halaman tiga ditemukan kembali penggunaan gaya bahasa personifikasi seperti pada kutipan di atas. Anggrek bulan yang dinyatakan begitu emosional sehingga menangis dan tertawa tanpa alasan yang jelas. Ungkapan tertawa dan menangisnya bunga anggrek adalah sebuah penanda digunakannya gaya bahasa personifikasi. Memberikan pengungkapan seperti sifat manusia terhadap bunga anggrek, adalah sebuah wujud menghidupkan benda-benda selayaknya manusia. Gaya bahasa personifikasi dalam kutipan ini untuk membuat para pembaca memiliki imajinasi terhadap bunga anggrek. AuA belalang kunyit mencibirnya, burung-burung Ay (SP : . I Nyoman Payuyasa (Gaya. Kutipan di atas pada halaman tiga novel ini menceritakan tentang situasi sebuah pohon delima. Pohon delima diceritakan adalah pohon yang pada awalnya membawa sial. Pohon yang membawa Sobri . okoh utam. mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Pengarang. Andrea Hirata, mencoba memberikan gambaran tentang betapa buruknya pohon delima dengan menggunakan gaya bahasa personifikasi. Gaya bahasa personifikasi ini ditandai dengan tuturan belalang kunyit yang dinyatakan mencibir, dan burung-burung yang memusuhi selayaknya sifat atau tingkah manusia. Penggunaan gaya bahasa ini membuat para pembaca dapat lebih mudah sekaligus teribur untuk membayangkan keadaan seperti apa yang ingin disampaikan pengarang. AuSatu-satunya hewan yang mendiaminya adalah seekor tokek yang sangat besar, tua, buncit, dan gampang tersinggung. Ay (SP : . Gaya bahasa personifikasi muncul di dalam halaman empat novel. Gaya bahasa ini masih digunakan untuk memberikan gambaran terkait pohon delima. Pernyataan tokek yang gampang tersinggung, adalah sebuah bentuk penggunaan gaya personifikasi. Hal ini disebabkan karena tokek dinyatakan atau diutarakan seperti manusia dengan kata tersinggung. Penggunaan gaya bahasa ini memberikan penekanan bahwa pohon delima yang dituturkan dalam novel, benar-benar adalah pohon yang tak bersahabat. AuKedua kalimat itu melakukan persekongkolan gelap untuk membekuk nasib orang-orang tak berpendidikan macam aku. Ay (SP : . Kutipan di atas menggambarkan gaya bahasa personifikasi dengan ungkapan persekongkolan gelap oleh kalimat. Hal ini menyatakan benda mati seolah-olah hidup seperti manusia. Konteks kutipan di atas adalah saat Sobri sebagai tokoh utama hendak melamar kerja. Namun karena hanya berijazah SMP dia tidak bisa mengisi semua lowongan pekerjaan yang ditawarkan. Setiap akan melamar kerja Sobri selalu menemui persyaratan berupa kalimat yang selalu menggagalkan dirinya mendapat kerja. Kalimat yang dimaksud adalah pendidikan minimal SMA. Pengarang yang berusaha menggambarkan kekejaman persyaratan itu terhadap seorang yang hanya berpendidikan SMP, menggunakan gaya bahasa personifikasi untuk menambah kesan dramatis. Pembaca diajak untuk mampu membayangkan bahwa kalimat atau persyaratan itu sungguh menjadi semacam persengkokolan jahat yang menggagalkan Sobri mencari kerja. AuDapur sunyi senyap, pekarangan merana. Ay (SP : . Kutipan dengan gaya bahasa personifikasi di atas terdapat pada halaman 65. Kutipan ini menyatakan benda mati seperti dapur seolah-seolah bersikap sep- Volume 23. Nomor 2. Desember 2019 erti manusia. Hal ini diungkapkan dengan pernyataan sunyi dan merana. Merana adalah ungkapan yang artinya lama menderita sakit, atau selalu menderita Kemeranaan di kutipan di atas dinyatakan untuk memberikan kemudahan para pembaca untuk dapat membayangkan keadaan yang ingin disampaikan pengarang. AuTegar terpana karena aroma itu melemparnya ke taman bermain pengadilan agama terdahulu. Ay (SP : . Gaya bahasa personifikasi kembali digunakan pada halaman 81 dalam novel ini. Penggunaan gaya bahasa personifikasi dapat dilihat dari kata melempar. Aroma dalam hal ini dinyatakan mampu melempar bayangannya ke dalam suatu tempat lain. Ini merupakan hal yang memberikan kesan situasi yang abstrak seolah-olah hidup seperti manusia. Pada dasarnya ungkapan gaya personifikasi dalam kutipan ini untuk menghadirkan dramatisme kepada pembaca. Untuk mendapat rasa dramatis pada cerita penggunaan gaya bahasa personifikasi dalam kutipan di atas terasa sangat tepat. AuAkhirnya, pohon lemah mendongakan kepala untuk menyapa dunia,. Ay (SP : . Kutipan di atas termasuk dalam gaya bahasa personifikasi. Penggunaan gaya personifikasi ini ditandai dengan kata mendongakan kepala untuk menyapa Hal ini dinyatakan terhadap benih pohon delima yang baru tumbuh. Pengungkapan tumbuhnya benih pohon delima ini dinyatakan dengan berupa analogi seperti manusia. Pilihan kata mendongakan kepala untuk menyapa dunia untuk memberikan gambaran realitas yang lebih gamlang dibayangkan oleh para pembaca. Sehingga pembaca memiliki kesepemahaman dengan pengarang cerita itu sendiri. AuSenja pun turun. Ay (SP : . Kutipan yang terakhir yang dibahas dalam kajian ini terdapat di halaman 175. Kutipan ini juga merupakan penggunaan gaya bahasa personifikasi. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan tentang senja pun turun. Senja dalam kutipan cerita ini dinyatakan turun seolah-olah seperti manusia. Hal ini yang membuat kutipan di atas tergolong dalam gaya bahasa personifikasi. Gaya bahasa personifikasi selain untuk mempermudah para pembaca untuk membayangkan apa yang ingin disampaikan oleh pengarang, juga dapat digunakan untuk menambah kesan keindahan. Keindahan dalam bertutur sangat memberi pengaruh yang baik terhadap pembaca. SIMPULAN Gaya bahasa personifikasi banyak bermunculan dalam novel Sirkus Pohon karya Andrea Hirata. Mulai dari awal penceritaan sampai bagian akhir ceri- Volume 23. Nomor 2. Desember 2019 PRABANGKARA Jurnal Seni Rupa dan Desain Gaya bahasa personifikasi diterapkan terhadap berbagai macam bentuk, mulai dari pohon, binatang, dapur, senja, dan lain sebagainya. Gaya bahasa personifikasi pada intinya digunakan untuk dapat memberikan gambaran yang sesuai antara apa yang ingin disampaikan pengarang dan apa yang dibayangkan Gaya bahasa personifikasi ini juga dapat memberikan ruang imajinasi yang baik bagi para Selain itu penggunaan gaya bahasa personifikasi juga bertujuan untuk menambah kesan dramatis sekaligus menambah nilai keindahan dalam Andrea Hirata dalam karya novel Sirkus Pohon ini mampu menggunakan gaya bahasa personifikasi dengan sangat baik sehingga gaya bahasa ini benar-benar dapat membantu para pembaca memahami dan membayangkan cerita yang dituturkan. DAFTAR RUJUKAN Arikunto. Suharsimi. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rhineka Cipta. Juniman. Puput Tripeni. AoSirkus PohonAo. Novel Terlama Garapan Andrea Hirata. CNNIndonesia. https://w. hiburan/20170818094938-241-235563/sirkus-pohon-novel-terlama-garapan-andrea-hirata. Keraf. Gorys. Diksi dan Gaya bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Matthew. Milles. Analisis Data Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Nurgiyantoro. Burhan. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Nurhayati. Apresiasi Prosa Fiksi Indonesia. Surakarta: Cakrawala Media. Nurhayati. Pengantar Ringkas Teori Sastra. Yogyakarta: Media Perkasa. Payuyasa. I Nyoman. AuPotret Indonesia dalam Novel Sirkus Pohon Karya Andrea Hirata: Sebuah Kajian Sosiologi SastraAy. Sirok Bastra. Vol 7. No 1 https://sirokbastra. id/index. php/sirokbastra/article/view/157 Suandi. I Nengah. Pengantar Metodologi Penelitian Bahasa. Singaraja: Undiksha. Tarigan. Henry Guntur. Pengajaran Gaya Bahasa. Bandung: Angkasa.