Achmad Rafli Isnadi & Almi Novita IMPLIKASI FILSAFAT ETIKA DALAM MEMBANGUN TATA KRAMA GENERASI MUDA MELALUI PENDIDIKAN KARAKTER PRESPEKTIF IBNU MISKAWAIH Achmad Rafli Isnadi1. Almi Novita2 2UIN Sunan Ampel Surabaya Rafliachmad83@gmail. Abstrak This research wants to explore the implications of Ibn Miskawaih's ethical philosophy for the formation of manners of the younger generation using character education. This research involves a philosophical perspective, and the purpose of this research is to analyze the relationship between philosophical values in education and the decline of manners. This research utilizes a qualitative approach study, this study uses the foundation of ethical philosophy and the concept of manners with its foundation. The review used in this research is through philosophical discussion and case studies, identifying research related to the relationship between values contained in philosophy such as wisdom, truth, and justice with the aim of character building in the younger generation by covering aspects of manners. This research tries to show an understanding of the philosophy of ethics from Ibn Miskawaih can be used as a strong foundation to overcome the decline in the manners of the younger generation, and provide a deep understanding of the philosophy of ethics not only as a theory but can be used as a practical guide in developing character education to build morals and ethics in the younger By using a deliberate strategy to incorporate philosophical values into a character-based instructional curriculum, this research contributes to improving the quality of education. Keywords: character education, ethics philosophy, ibnu miskawaih Abstrak Penelitian ini ingin mendalami terkait Implikasi dari filsafat etika dari Ibnu Miskawaih untuk pembentukan tata krama generasi muda dengan mengunakan pendidikan karakter. Penelitian ini melibatkan prespektif filosofis, dan tujuan penelitian ini ialah mengurai hubungan nilai-nilai filososfis pada pendidikan dan kemerosotan tata krama. Penelitain ini memanfatkan studi pendekatan kualitatif, studi ini menggunakan landasan filsafat etika dan tentang konsep tata krama dengan landasannya. Tinjauan yang di gunakan dalam penelitian ini melalui diskusi filosofis dan studi kasus, identifikasi penelitian terkait hubungan anatara nilai-nilai yang terkadung pada filosofis sperti halnya kebijaksanaan, kebenaran, dan keadilan dengan tujuan pembentukan karakter pada generasi muda dengan mencakup aspek Kariman. Vol. 12 No. | 75 Achmad Rafli Isnadi & Almi Novita tata krama. Penelitian ini mencoba untuk menunjukan pemahaman terkait filsafat etika dari Ibnu Miskawaih dapat di jadikan landasan yang kuat guna mengatasi kemerosotan pada tata krama generasi muda, dan memberi pemahaman yang mendalaman terkait Filosofi etika tidak hanya menjadi sebuah teori saja akan tetapi bisa di jadikan suatu panduan praktis dalam mengembangkan pendidikan karakter guna membangun moral dan etika pada generasi muda. Dengan menggunakan strategi yang disengaja untuk memasukkan nilai-nilai filosofis ke dalam kurikulum instruksional berbasis karakter, penelitian ini berkontribusi pada peningkatan kualitas pendidikan. Kata kunci: pendiikan karakter, filsafat etika, ibnu miskawaih Pendahuluan. Bersamaan dengan kemajuan sosial dan teknologi, muncul pula masalahmasalah baru dalam masyarakat yang dinamis dan terus berubah ini. Mengembangkan generasi muda dengan sopan santun dan karakter yang baik untuk menavigasi kesulitan dalam kehidupan modern adalah salah satu perhatian masyarakat yang paling penting. Solusi yang dapat mengatasi kekurangan moral dan etika sangat dibutuhkan mengingat pesatnya perkembangan teknologi dan struktur sosial. Pengembangan karakter muncul sebagai tanggapan kritis terhadap masalah ini. Pendidikan karakter menjadi dasar yang penting untuk membangun manusia yang tidak hanya kompeten secara intelektual tetapi juga memiliki nilainilai moral yang kuat, terutama dalam menghadapi kemajuan teknologi dan perubahan sosial yang cepat. Nilai-nilai kesopanan, moralitas, dan tanggung jawab sosial perlu ditanamkan kepada generasi muda agar dapat menghadapi perubahan dengan Dalam kerangka ini, pembangunan sistem kehidupan memunculkan dugaan mengenai nilai-nilai peradaban yang baru. Meskipun pergeseran-pergeseran ini dapat memberikan prospek baru, masyarakat dapat terjerumus ke dalam anarki dan kebingungan nilai tanpa adanya dasar moral dan etika yang kuat. Oleh karena itu, agar peradaban dapat berkembang dan berevolusi secara berkelanjutan, etika, moralitas, dan moralitas harus dipandang sebagai kerangka spiritual yang memungkinkan berbagai aktivitas sehari-hari. Namun demikian, secara praktis, moralitas, etika, dan standar moral sering kali dipandang sebagai konsep teoritis yang hanya bersifat insidental dalam urusan sehari-hari. Ini adalah momen perubahan yang membutuhkan pertimbangan lebih lanjut tentang bagaimana membina keharmonisan dalam Imam Mawardi. AuKURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM DAN TANTANGAN DINAMIKA PERADABAN GLOBAL (SEBUAH PENDEKATAN PARADIGMATIK)Ay. At-Tajdid : Jurnal Ilmu Tarbiyah. Vol. 6 No. Januari 2017, 70 Kariman. Vol. 12 No. | 76 Achmad Rafli Isnadi & Almi Novita masyarakat global. Untuk mengubah perspektif ini, diperlukan pemikiran kritis dan tindakan praktis, menjadikan prinsip-prinsip etika sebagai landasan dalam setiap kehidupan sehari-hari, bukan hanya sebagai ide teoritis yang terisolasi. Untuk menciptakan masyarakat yang dapat beradaptasi dengan perubahan tanpa kehilangan identitas dan integritas nilai-nilai kemanusiaan, pendidikan karakter dan penguatan cita-cita etika dan moral menjadi semakin penting seiring dengan perubahan zaman. Dalam kerangka pendidikan di Indonesia, pendidikan karakter merupakan topik yang sangat strategis. Hal ini berkaitan dengan dilema moral yang terjadi saat ini. Hampir di semua situasi, kegagalan pendidikan karakter yang ditawarkan oleh lembaga pendidikan menjadi penyebab terjadinya peristiwa tersebut. lembaga pendidikan. Sebagai contoh, banyak kasus di tingkat nasional yang disebabkan oleh siswa yang tidak menginternalisasi pendidikan moral yang mereka terima di kelas. Tidak adanya proses internalisasi ajaran moral yang diajarkan di sekolah. Pendidikan moral yang baik sangat diperlukan di lingkungan kontemporer untuk membentuk generasi pemimpin masa depan. Untuk membentuk karakter generasi muda yang dikembangkan oleh pendidikan. Seperti halnya Hal ini disebabkan karena masalah moral dan etika yang dihadapi manusia kontemporer telah berubah menjadi prinsip-prinsip eksistensi sosial. Mengingat kapasitasnya yang sangat besar untuk mengarahkan pendidikan karakter, kerangka kerja ini membuat meditasi pada warisan pemikiran etika Islam menjadi sangat penting. Filsuf Muslim. Ibnu Miskawaih, yang hidup pada abad kesepuluh, terkenal karena mencurahkan seluruh perhatiannya pada kemajuan moralitas dan etika. Penelitian tentang pentingnya teori etika Ibnu Miskawaih dalam membentuk perilaku generasi muda melalui pendidikan karakter sangat relevan dan perlu dilakukan mengingat kesulitan moral yang kompleks yang dihadapi masyarakat modern. Ibnu Miskawaih, yang sering dikenal sebagai Al-Farabi, adalah seorang pemikir terkemuka dalam filsafat Islam yang memiliki pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan etika Islam. Kehadirannya menunjukkan kontribusi besar terhadap perkembangan nilai moral tradisi Islam. Ibnu Miskawaih menggali lebih dalam gagasan etika dalam karyanya yang terkenal, menawarkan kerangka kerja yang solid untuk mengembangkan karakter moral. Ia dikenal sebagai salah satu moralis terkemuka karena gagasan-gagasannya, terutama di bidang etika dan Melalui tulisan-tulisannya, termasuk Jawidan Khirat. Tahzib al Akhlaq, 2 Harpan Reski Mulia. AuPENDIDIKAN KARAKTER: ANALISA PEMIKIRAN IBNU MISKAWAIHAy. Jurnal Tarbawi: Jurnal Ilmu Pendidikan. Vol. No. Juli 2019. Kariman. Vol. 12 No. | 77 Achmad Rafli Isnadi & Almi Novita dan Tartib as Sa'ada. Ibnu Miskawaih membahas berbagai dilema moral dengan sangat rinci. 3 Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki implikasi dari filosofi etika Ibnu Miskawaih sebagai kerangka kerja yang berguna untuk pendidikan Pengajaran moral menjadi semakin penting di dunia yang memiliki nilai dan budaya yang begitu beragam. Meskipun globalisasi menciptakan peluang, namun juga menimbulkan kesulitan baru dalam melestarikan karakter moral generasi berikutnya. Teori etika Ibnu Miskawaih menonjol sebagai benteng yang dapat membantu mereka menemukan dasar yang tepat dalam menghadapi ketidakpastian moral. Kita memasuki pusaran informasi yang tampaknya tak ada habisnya berkat kemajuan teknologi. Kita harus waspada terhadap kemungkinan terpapar oleh ide-ide yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam, meskipun akses yang tidak terbatas ini mendorong pertukaran ide secara terbuka. Melalui perenungan terhadap doktrin etika Ibnu Miskawaih, generasi muda dapat membangun pemahaman yang kuat tentang prinsip-prinsip yang seharusnya mengarahkan mereka. Perubahan sosial dan budaya yang cepat membuat dilema moral menjadi lebih kompleks. Karakter dapat menjadi tidak stabil karena hidup di kota yang padat penduduk, meningkatnya individualisme, dan tekanan materialisme. Oleh karena itu, mengarahkan generasi muda ke jalan yang benar membutuhkan metode yang komprehensif dan berharga. Mempelajari bagaimana teori etika Ibn Miskawaih diterapkan dalam pendidikan karakter akan memberikan gambaran sekilas tentang prinsip-prinsip moral yang dapat membentuk prinsip-prinsip moral yang sejalan dengan ajaran Islam. Hal ini tidak hanya memberikan wawasan yang menyeluruh, tetapi juga menjadi dasar untuk menciptakan inisiatif pendidikan karakter yang lebih berhasil dan sesuai dengan dinamika kontemporer. Dengan cara ini, generasi mendatang dapat berkembang menjadi orang-orang yang memiliki keyakinan moral yang mendalam di samping kecemerlangan intelektual. Metode Penelitian. Dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif. para peneliti menggunakan pendekatan kualitatif untuk mengumpulkan data dalam bentuk kata-kata dan tulisan. 4 Sumber data untuk pengumpulan data adalah tinjauan literatur online, yang meliputi buku dan artikel jurnal serta penelitian. Pengaruh penurunan tata krama pada generasi muda menjadi topik penelitian. Penelitian ini 3 Ahmad Amin. Dhuhr al- Islam. Jus II (Beirut: Dar Al Kitab Al Araby, 1. 4 Lexy J. Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2. , 11. Kariman. Vol. 12 No. | 78 Achmad Rafli Isnadi & Almi Novita menggunakan analisis data deskriptif-analitis. Melalui penggunaan metode deskriptif-analitis, perilaku dan data yang dikumpulkan dalam bentuk kata-kata dianalisis dan diekspos pada kondisi yang diteliti melalui deskripsi naratif. 5Para peneliti mengorganisir dan mengumpulkan data dengan menggunakan pendekatan studi literatur dengan mengumpulkan informasi dari buku-buku dan artikel jurnal/penelitian yang ditemukan secara online. Tinjauan Pustaka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki bagaimana filsafat etika, khususnya yang berkaitan dengan sudut pandang Ibnu Miskawaih, dapat digunakan untuk mengembangkan perilaku generasi penerus melalui pendidikan Mengingat perspektifnya yang khas tentang sifat manusia, pemilihan Ibnu Miskawaih sebagai dasar untuk perspektif filsafat etika memberikan dimensi yang signifikan untuk metode ini. Pemahaman Ibnu Miskawaih yang mendalam tentang hakikat manusia inilah yang membuatnya menjadi fokus perhatian. Prinsip dasar dari penelitian ini adalah gagasannya tentang karakter tabi'i . dan karakter yang dapat diciptakan melalui instruksi. Ibnu Miskawaih berpendapat bahwa ada dua cara untuk melihat karakter manusia: melalui pendidikan dan pembelajaran, seseorang dapat berubah dari karakter bawaan sejak lahir menjadi karakter yang berbeda. Tujuan dari tinjauan literatur ini adalah untuk mengetahui bagaimana perspektif intelektual Ibnu Miskawaih tentang etika dapat digunakan untuk mengembangkan perilaku generasi berikutnya melalui pendidikan karakter. Menurut Ibnu Miskawaih, karakter tabi'i berfungsi sebagai fondasi untuk memahami orang lain. Gagasan tentang karakter tabi'i mengacu pada kualitas bawaan yang dimiliki manusia sejak lahir. Teori etika Ibnu Miskawaih menjadi jauh lebih menarik karena keyakinannya bahwa sifat manusia tidak statis. Sebaliknya, pendidikan, pelatihan, dan instruksi dapat mengubah karakter. 7 Teori etika Ibnu Miskawaih dan konsekuensinya dalam konteks khusus ini memberikan wawasan tentang pendidikan karakter sebagai sarana transformasi. Metode ini menunjukkan bahwa mengembangkan kepribadian yang kuat dan signifikan sama pentingnya dengan pendidikan karakter seperti halnya menyampaikan fakta atau Proses pendidikan berubah menjadi alat untuk mengarahkan dan membentuk karakter setiap orang untuk mewujudkan potensi terbesar mereka. 5 S. Margono. Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2. , 39. 6 Harpan Reski Mulia. AuPendidikan Karakter: Analisa Pemikiran Ibnu MiskawaihAy. Jurnal Tarbawi: Jurnal Ilmu Pendidikan. Vol. No. Juli 2019, h, 43-44 7 Ibid Kariman. Vol. 12 No. | 79 Achmad Rafli Isnadi & Almi Novita Akibatnya, perilaku generasi muda dipengaruhi oleh upaya yang disengaja untuk mengarahkan dan membentuk karakter melalui cita-cita etis di samping karakter yang melekat atau alami. Menurut Ibnu Miskawaih, pendidikan karakter berubah menjadi pengaturan untuk mengembangkan sikap, nilai, dan tindakan yang konsisten dengan keyakinan moral yang dipegang teguh. Dalam hal ini, pendidikan karakter tidak hanya mencakup pengajaran prinsip-prinsip moral, tetapi juga implementasi praktisnya dalam kehidupan sehari-hari. Untuk membantu generasi muda membangun karakter yang kuat, pendidik, orang tua, dan lingkungan pendidikan memainkan peran penting. Mereka diajarkan untuk mengenali, menghargai, dan menyerap prinsip-prinsip etika dalam semua aspek kehidupan mereka melalui pendidikan karakter yang didasarkan pada teori etika Ibnu Miskawaih. Dasar bagi pengembangan tata krama generasi muda diletakkan oleh pentingnya cita-cita etika dalam pendidikan karakter. Generasi muda diberikan alat untuk menjadi orang yang bertanggung jawab, adil, dan penuh kasih sayang selain diajarkan perilaku yang sesuai. Menurut Ibnu Miskawaih, pendidikan karakter menciptakan orang-orang yang berakhlak dan beretika baik, selain orangorang yang berbakat secara akademis. Sebagai hasilnya, teori etika Ibnu Miskawaih menawarkan dasar konseptual yang kuat untuk pendidikan karakter yang komprehensif dan tahan lama. Secara tersirat, teori ini mengembangkan model pendidikan yang bermanfaat bagi masyarakat secara keseluruhan dengan membentuk karakter yang berintegritas dan juga mendidik pikiran. Hasil Penelitian Dinamika unik muncul di rumah ketika perilaku anak yang menurun ditafsirkan sebagai manifestasi dari kesenjangan sosial orang tua dengan anak. seperti halnya Kehadiran seorang adik, misalnya, dapat membuat seorang anak merasa kurang diperhatikan, yang dapat memicu perilaku yang tidak pantas pada Selain itu, perbandingan orang tua terhadap anak mereka dengan anak orang lain yang dianggap lebih berprestasi daripada anak mereka sendiri juga dapat menjadi penyebab merosotnya perilaku sopan santun anak. Peran orang tua dalam menyelesaikan masalah ini sangatlah penting. Orang tua diharapkan untuk memperlakukan setiap anak secara adil selain mengelola kesenjangan sosial dengan cara yang tepat. Salah satu cara penting untuk mencegah menurunnya perilaku sopan santun pada anak-anak adalah dengan membantu mereka memahami bahwa memiliki adik bukan berarti perhatian orang tua akan Salah satu strategi pencegahannya adalah dengan melakukan percakapan Kariman. Vol. 12 No. | 80 Achmad Rafli Isnadi & Almi Novita yang aktif dan jujur dengan anak-anak. Orang tua harus menghormati kebutuhan dan perasaan setiap anak sebagai individu, menahan diri untuk tidak membuat perbandingan yang tidak baik, dan mengajari mereka cara mengendalikan emosi. Orang tua dapat membantu menghentikan timbulnya tindakan yang tidak pantas yang dapat menyebabkan penurunan sopan santun dengan mengajarkan anakanak mereka nilai ekspresi diri yang sehat dan penyelesaian sengketa. Penting juga untuk menekankan betapa pentingnya menyediakan suasana rumah yang adil dan Bergantung pada kebutuhan dan minat mereka, orang tua dapat memberikan perhatian secara individual kepada setiap anak. Dorongan orang tua dapat membantu anak-anak mengatasi perasaan tidak diakui atau diabaikan, yang dapat menghentikan penurunan tata krama. Secara keseluruhan, dasar yang kuat untuk membangun tata krama yang baik di dalam keluarga diletakkan oleh upaya orang tua untuk memenuhi kebutuhan dan perasaan anak-anak mereka tanpa menarik kesimpulan yang tidak Orang tua dapat membantu menghentikan penurunan sopan santun anakanak mereka dengan memberikan perhatian yang adil, mengajari mereka cara mengatur emosi, dan menciptakan lingkungan yang mendukung. Hubungan antara orang tua dan anak sangat penting untuk pembentukan moral anak. Kebiasaan yang baik dapat membantu anak-anak tumbuh dan berubah dari dalam ke luar berkat pemahaman yang diberikan oleh orang tua melalui interaksi ini. Istilah "akhlak" sering digunakan dalam studi Islam untuk merujuk pada perilaku manusia, yang sebenarnya lebih dari sekadar tindakan - tetapi lebih dari itu, akhlak mewakili keadaan jiwa yang stabil. Kita dapat menyimpulkan bahwa akhlak adalah keadaan jiwa yang stabil dan bukan hanya sekumpulan perilaku. Keadaan jiwa ini melahirkan aktivitas yang dilakukan dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran yang matang. Keadaan jiwa ini mungkin sudah menjadi kualitas bawaan dan asli pada beberapa orang. Sebaliknya, pada orang lain, kecenderungan awal ini mungkin tidak akan terwujud kecuali jika dilakukan dengan sengaja, pengulangan, kebiasaan, dan kerja keras. Akhlak mulai terbentuk ketika proses ini menghasilkan kondisi mental yang stabil yang berfungsi sebagai dasar untuk tindakan tanpa berpikir. 8 Bimbingan orang tua, latihan, dan pembiasaan yang disengaja dapat membantu anak-anak dalam bertindak dengan pertimbangan sejak usia dini. Perkembangan moral anak-anak dimulai pada titik ini. Anak-anak belajar nilai-nilai yang baik dan perilaku yang diinginkan melalui pelatihan dan pembiasaan yang konstan. Orang tua dapat 8 Nur Rahmad Yahya Wijaya. AuPerbuatan Moral Dan Pertimbangan Batin Ideal: Menelusuri Filsafat Etika Di Dalam Studi IslamAy. Kariman. Volume07,Nomor01. Juni2019, h, 111-112 Kariman. Vol. 12 No. | 81 Achmad Rafli Isnadi & Almi Novita membentuk karakter anak-anak mereka, menciptakan lingkungan mental yang bahagia, dan membantu mereka berkembang menjadi orang dewasa yang bermoral melalui interaksi yang penuh kasih dan pengawasan yang cermat. Pembahasan. Filsafat Etika Ibnu Miskawaih Lahir di Ray pada tahun 320 H/932 M. Ibnu Miskawaih, atau lebih tepatnya Abu Ali Ahmad Ibn Muhammad Ibn Ya'kub, wafat di Isfahan pada tanggal 9 Shafar 412 H/16 Februari 1030 M. 9 Beliau adalah tokoh terkemuka di zamannya, dan periode keemasan keilmuan dunia Islam berakhir dengan kelahirannya. Kehidupan awal Ibnu Miskawaih merupakan topik diskusi, namun beberapa penulis, seperti Jurji Zaidan, mempertanyakan sejarahnya dan apakah ia seorang musyrik atau tidak sebelum masuk Islam. Meskipun demikian, jelas dari nama Muhammad, ayahnya, bahwa Ibnu Miskawaih dibesarkan di sebuah rumah tangga Muslim. Tentang neneknya, tidak banyak yang diketahui, namun diperkirakan dia adalah seorang Majusi pada awalnya, kemudian masuk Islam. Ibnu Miskawaih menjadi terkenal di dunia Islam dan sangat dikenal karena pencapaian ilmiahnya, menurut catatan sejarah. Ibnu Miskawaih adalah orang yang memiliki banyak sisi yang mencapai prestasi di berbagai bidang pengetahuan dan terkenal dengan tulisan-tulisan sejarah dan filsafatnya. Di antara beberapa gelar yang dimilikinya adalah dokter, penyair, filsuf, ahli bahasa, dan peneliti kimia. Abu Bakar Ahmad bin Kamil al Qadi mengajari Ibnu Miskawaih tentang sejarah, khususnya yang berkaitan dengan Tarikh al Tabari (Sejarah yang dicatat oleh Tabar. Setelah menerima pelajaran ini pada tahun 350 H/960 M, ia memulai penyelidikan ilmiahnya terhadap urutan kronologis peristiwa-peristiwa sejarah. Filsafat adalah fokus utama pemikiran Ibnu Miskawaih, dan ia memperoleh konsep-konsep ini dari mufasir terkenal Ibnu Khamar. Karya-karya tulis dan pemikirannya memiliki corak filosofis karena penyelidikannya terhadap isu-isu filosofis. Meskipun memiliki pengetahuan yang luas dalam bidang bahasa, filsafat, kedokteran, dan sejarah. Ibnu Miskawaih lebih dikenal sebagai filsuf moral daripada filsuf ketuhanan. Iklim sosial yang bergejolak pada masanya, yang penuh dengan masalah seperti minum terlalu banyak alkohol, melakukan perselingkuhan, menjalani gaya hidup yang mencolok, dan masalah-masalah lainnya, tampaknya telah mempengaruhi dorongan hatinya. Dia menjadi tertarik pada etika sebagai 9 Dewan Redaksi Ensiklopedia Islam. AuEnsiklopedia IslamAy. Jilid 2 (Cet. Jakarta: Ich Baru Van Hoeve, 1. , h. Kariman. Vol. 12 No. | 82 Achmad Rafli Isnadi & Almi Novita hasil dari kondisi sosial ekonomi ini. Abu at Tayyib ar Razi adalah guru kimia Ibnu Miskawaih. Ketertarikannya pada ilmu kimia menunjukkan kepada komunitas ilmiah betapa mudahnya ia beradaptasi dan memperluas perspektif ilmiahnya. Selain itu. Ibnu Miskawaih juga memegang posisi lain di tempat kerjanya, seperti bendahara, sekretaris, pustakawan, dan instruktur bagi para pemimpin masa depan dinasti Buwaihi. Selain itu, ia juga mengelola pendidikan anak-anak bangsawan, dengan fokus utama pada penyelidikan intelektual dan pengembangan Ibnu Miskawaih tidak hanya menjalin hubungan yang erat dengan raja, tetapi juga berteman dengan para ilmuwan terkenal pada masa itu, termasuk Abu Hayyan at Tauhidi. Yahya Ibnu Adi, dan Ibnu Sina. Ibnu Miskawaih membahas secara mendalam tema-tema moral dalam karya-karyanya seperti "Tartib as Sa'ada", "Tahzib al Akhlaq", dan "Jawidan Khirat Karyanya di bidang ini menunjukkan bagaimana ia berkembang sebagai seorang filsuf Islam dan seberapa dalam ia mempelajari etika11. Ibnu Miskawaih memberikan perhatian pada sejumlah masalah etika, termasuk yang berikut ini: Dalam karya Ibnu Miskawaih menyoroti beberapa isu etika, termasuk penekanan pada masalah moral, praktik kontekstual Islam, mengangkat etika dari praktis ke teoritis-filosofis, kesinambungan dengan aspek praktis, dan tujuan fundamental ajaran Nabi Muhammad dalam konteks Islam. Ia memandang etika sebagai komponen fundamental dalam kehidupan seorang Muslim, mengingat tujuan Nabi Muhammad SAW adalah untuk meningkatkan moralitas ketiga. Ibnu Miskawaih juga membangun dasar filosofis yang kuat untuk memahami ide-ide moral secara keseluruhan, sambil menyoroti sisi praktis etika. Usaha Miskawaih adalah mempertemukan ajaran syariat Islam dengan teori-teori etika dalam filsafat dan pendidikan. Oleh karena itu, penelitian Ibnu Miskawaih tentang etika tidak hanya memajukan peran filsafat dalam Islam tetapi juga menjadikan etika sebagai perhatian utama dalam pemikiran dan kehidupan sehari-hari umat Islam. Pendekatannya yang menyeluruh menciptakan hubungan antara teori dan praktik, yang membuat kontribusinya relevan dalam konteks etika Islam modern. Khususnya dalam buku Tahdzib al-Akhlak wa Tathir al-A'raq, filosofi moral Ibn Miskawaih, yang didasarkan pada gagasan tentang doktrin jalan tengah, menunjukkan pendekatan yang menyeluruh dan mendalam terhadap masalah Miskawaih mendefinisikan jalan tengah sebagai keunggulan, kebajikan, 10 Hasan Tamin. Ayal MuqaddimahAy dalam Tahzib al Akhlaq wa Tathbir al AAoraqAy (Cet. II. Beirut: Mansyurat Dar al Hayat, 1398 H), h. 11 Nizar. AuPEMIKIRAN ETIKA IBNU MISKAWAIHAy. JURNAL AQLAM -- Journal of Islam and Plurality -Volume 1. Nomor 1. Juni 2016, hal 38 Kariman. Vol. 12 No. | 83 Achmad Rafli Isnadi & Almi Novita harmoni, keseimbangan, moderasi, dan jalan tengah di antara dua hal yang Konsep ini telah diakui oleh para cendekiawan yang lebih tua seperti Mencius. Plato. Aristoteles. Al-Kindi, dan Ibnu Sina. Pandangan Miskawaih tentang "jalan tengah" dalam hal kebajikan moral menunjukkan pemahamannya yang mendalam tentang kebijaksanaan dalam perilaku manusia. Dia menggarisbawahi bahwa posisi tengah adalah keseimbangan antara kelebihan dan kekurangan dalam semua aspek jiwa manusia. Secara praktis, ini berarti menjaga keseimbangan antara berbagai atribut moral dan emosional sambil menghindari kelebihan atau kekurangan. Gagasan "jalan tengah" Miskawaih menyatakan bahwa etika adalah upaya untuk membuat kehidupan sehari-hari menjadi lebih harmonis dan seimbang. Teori-teorinya menawarkan sudut pandang yang mendalam dan relevan tentang bagaimana individu dapat menyelaraskan jiwa dan hubungan interpersonal mereka dengan kebajikan dan kesempurnaan melalui tindakan mereka. oleh karena itu, pendidikan moral anak usia dini memprioritaskan pertumbuhan karakter moral sambil membantu anak-anak untuk menjadi lebih seperti Allah. Tujuan ini menjadi contoh bagaimana ajaran Islam menggabungkan moralitas, spiritualitas, dan kesempurnaan manusia12. Ibnu Miskawaih berpendapat bahwa memahami jiwa manusia adalah langkah pertama untuk memahami etika. Dia menegaskan bahwa ilmu jiwa berbeda dari ilmu-ilmu lain dan lebih unggul dari ilmu-ilmu tersebut. Karena seseorang tidak dapat sepenuhnya memahami suatu ilmu pengetahuan tanpa terlebih dahulu memahami ilmu jiwa, maka jiwa dianggap sebagai fondasi yang sangat penting. Landasan fundamental untuk memahami ilmu-ilmu seperti logika, etika, dan agama adalah pemahaman tentang kondisi jiwa, atau ahwal al-nafs. Ibnu Miskawaih menegaskan bahwa pengetahuan tentang jiwa memberi seseorang instrumen yang kuat untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk dalam hal keyakinan. Adalah mungkin untuk membedakan antara yang baik dan yang salah ketika seseorang menyadari esensi mereka. Dengan kata lain, evolusi prinsip-prinsip moral dan etika dipandu oleh jiwa manusia. Menurut etika Islam, pemahaman yang lebih dalam tentang ajaran moral, keyakinan, dan perbedaan antara yang baik dan yang buruk hanya dapat dicapai oleh jiwa. Teori-teori Ibnu Miskawaih memberikan kerangka kerja untuk memahami bagaimana pendidikan moral tidak hanya membentuk perilaku moral, tetapi juga mencakup aspek spiritual dan keberlanjutan manusia sebagai bahan penting untuk 12 Suwito. AuFilsafat Pendidikan Akhlak Ibn MiskawaihAy, ( Yogyakarta. Belukar: 2. , h, 91. 13 Ahmad Amin. Dhuhr al- Islam. Jus II (Beirut: Dar Al Kitab Al Araby, 1. , hlm. Kariman. Vol. 12 No. | 84 Achmad Rafli Isnadi & Almi Novita mencapai tujuan akhir pendidikan moral. Pendidikan moral bagi manusia berusaha untuk mencapai tiga tujuan, menurut Ibnu Miskawaih: moral, spiritual, dan keberlanjutan manusia sebagai ciptaan Allah SWT. Pertama dan terutama, pendidikan moral berusaha menanamkan standar moral, menumbuhkan kualitas karakter yang lurus secara moral, dan membentuk perilaku moral dalam diri Tujuan kedua adalah untuk mengangkat manusia dari kondisi yang paling rendah sehingga mereka dapat hidup sesuai dengan ajaran Islam dan mendapatkan pahala. Ketiga, pendidikan akhlak bertujuan untuk menjadikan manusia sebagai makhluk yang sempurna . l-insyn al-kymi. Pendidikan akhlak harus diterima sejak dini agar dapat membentuk perilaku moral, spiritualitas, dan tugas-tugas sosial. Ibnu Miskawaih percaya bahwa pengembangan karakter manusia membutuhkan penggunaan prinsip Golden Mean, yang terdiri dari empat fitur Kualitas-kualitas ini berfungsi sebagai landasan untuk pengembangan karakter manusia yang bermoral. Al-Iffat, atau kesucian atau pengendalian diri: Kualitas ruh al-bahimiyyah adalah pengendalian diri, atau alIffah. Kesucian diri adalah kemampuan manusia untuk mengendalikan dan menyeimbangkan kebutuhan dan keinginannya. Al-Iffat mengajarkan manusia bagaimana menahan hawa nafsu dan menjaga kesucian diri dalam segala kondisi. Al-Syaja'at, atau keberanian: Manusia mendapatkan sifat ini ketika jiwa dan nathiqah membimbing nafs-nya. Al-Syaja'at menanamkan keberanian yang bijaksana dan tidak terlalu takut atau gegabah. Al-Hikmat, atau Kebijaksanaan: Kebijaksanaan berada di tengah-tengah kebodohan dan kelancangan. Ini menghasilkan pengetahuan logis yang dapat membuat keputusan tentang apa yang harus dilakukan dan apa yang harus Keadilan, atau Al-Adalah: Menggabungkan tiga atribut Al-Nafs menghasilkan keadilan. Manusia dapat bertindak adil dan seimbang ketika mereka diberkahi dengan keadilan. Keadilan, dalam kata-kata Ibnu Miskawaih, adalah sikap dan cara hidup yang menahan diri dari perbuatan zalim dan aniaya, yang mengarah pada jalan tengah yang seimbang saat berurusan dengan harta orang Implikasi Filsafat Etika Ibnu Miskawaih Dalam Pendidikan Karakter Pendidikan karakter memiliki tujuan untuk membantu orang memperoleh 14 Rosnita. "Pembentukan Akhlak Anak Usia Dini Menurut Ibnu Miskawaih. " MIQOT xVII, no. uli-desember 2. : h,396-414. 15 Nizar. AuPEMIKIRAN ETIKA IBNU MISKAWAIHAy. JURNAL AQLAM -- Journal of Islam and Plurality -Volume 1. Nomor 1. Juni 2016, hal, 40-41 Kariman. Vol. 12 No. | 85 Achmad Rafli Isnadi & Almi Novita prinsip-prinsip moral, etika, dan sikap yang konstruktif. Metode ini tidak hanya menekankan pada kualitas kognitif, tetapi juga pengembangan kepribadian, integritas, dan karakter seseorang. Prinsip-prinsip pengajaran dan pembelajaran seperti kejujuran, tanggung jawab, keadilan, kerja sama, rasa hormat, dan kasih sayang adalah bagian dari pendidikan karakter. Istilah "pendidikan karakter" merupakan gabungan dari kata "pendidikan" dan "karakter". Para ahli yang berbeda memiliki definisi yang berbeda tentang pendidikan tergantung pada disiplin ilmu, sudut pandang, paradigma, dan metode. Pendidikan didefinisikan dalam pengertian ini oleh D. Rimba sebagai "bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. "16 Namun. Koesoema memandang pendidikan sebagai sarana untuk mencapai peradaban melalui internalisasi kebudayaan ke dalam diri manusia dan Pendidikan, menurut beberapa orang, juga tentang mempersiapkan generasi penerus untuk navigasi kehidupan yang sukses dan efisien dan pencapaian tujuan. Dengan demikian, pendidikan karakter adalah upaya sadar untuk mengarahkan dan membentuk kepribadian siswa dengan menanamkan moralitas, nilai-nilai budaya, dan kemampuan vital yang diperlukan untuk manajemen kehidupan yang efisien. Sedangkan karakter muncil Pada akhir abad ke-18, kata "karakter" mulai digunakan terutama dalam lingkungan pendidikan. Karakter merujuk pada teori pendidikan normatif, nama lain dari pendekatan idealis spiritualis. Metode ini menempatkan prioritas yang lebih tinggi pada nilainilai transenden, yang dipandang sebagai penguasa dan pendorong sejarah, baik dalam hal transformasi individu maupun masyarakat. Kata karakter pertama kali muncul dari Yunani yang berasal dari kata charassein . ang berarti "mengukir" atau "mengukir"). sedangkan Pengembangan karakter sendiri diibaratkan seperti mengukir di atas permukaan besi atau batu permata yang keras. Perumpamaan ini menggambarkan gagasan bahwa pengembangan karakter, seperti halnya mengukir, membutuhkan ketekunan dan pengerahan tenaga, terutama ketika dihadapkan pada rintangan atau tekanan. Oleh karena itu, gagasan untuk menanamkan cita-cita dan prinsip-prinsip moral dalam diri seseorang untuk membantu mereka mengembangkan kepribadian yang kuat dan bermakna termasuk dalam definisi karakter dalam konteks pendidikan. Dalam Pendidikan karakter sangat dipengaruhi oleh peran orang tua dalam membentuk karakter anak. Fardiansyah menekankan betapa pentingnya peran 16 Samrotul Fikriyah. Annisa Mayasari. AuPeran Orang Tua Terhadap Pembentukan Karakter Anak Dalam Menyikapi BulyingAy. Jurnal Tahsinia Vol. No. April 2022, h, 12 17 Ibid, h, 12-13 Kariman. Vol. 12 No. | 86 Achmad Rafli Isnadi & Almi Novita orang tua untuk menjadi inspirasi dan teladan bagi anak-anak mereka. Tidak hanya sebagai panutan, namun juga menjadi model pengembangan karakter anak sejak dini. Maifani menyoroti bahwa dalam situasi ini, ibu berperan sebagai madrasah pertama bagi anak, membimbing mereka dalam mengeksplorasi prinsipprinsip moral, sementara ayah berperan sebagai penasihat, memberikan bimbingan dan arahan. 18 Pepatah "Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya" menunjukkan bagaimana interaksi dengan orang tua secara organik membentuk karakter anak. Akibatnya, orang tua memiliki kewajiban moral untuk mendidik anak-anak mereka di samping kewajiban fisik dan keuangan mereka. Perkembangan moral dan karakter anak sangat dipengaruhi oleh interaksi, citacita, dan pola perilaku orang tua mereka sehari-hari. Orang tua memiliki potensi untuk menjadi agen perubahan utama dalam pengembangan pendidikan karakter. Dengan memasukkan cita-cita positif ke dalam rutinitas keluarga sehari-hari, mereka dapat mengambil sikap proaktif. Orang tua dapat membantu anak-anak mereka mempelajari prinsip-prinsip moral, etika, dan tanggung jawab dengan berkomunikasi secara terbuka dengan Mereka juga dapat melibatkan anak-anak dalam kegiatan keluarga yang membangun karakter seperti menjadi sukarelawan, berbagi, dan menghormati satu sama lain. Gagasan "Tri Pusat Pendidikan" yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara juga selaras dengan pentingnya peran orang tua dalam pertumbuhan pendidikan karakter. 20 Sebagai institusi terkecil dalam masyarakat, keluarga memiliki peran penting dalam pembentukan moral anak. Oleh karena itu, pendidikan karakter terjadi baik di rumah maupun di kelas. Pendidik pertama yang membantu anak-anak tumbuh secara moral adalah orang tua mereka. Pengembangan pendidikan karakter dapat lebih berhasil dimasukkan ke dalam lingkungan keluarga dengan menyadari bahwa model perilaku dan interaksi antara orang tua dan anak merupakan faktor penting dalam membentuk karakter Dengan menyadari posisi mereka sebagai orang tua, mereka dapat membentuk anak-anak yang tidak hanya berbakat secara akademis, tetapi juga anak-anak yang sehat secara moral dan kuat yang akan bermanfaat bagi masyarakat secara keseluruhan. 21 Peran orang tua yang sangat dekat tidak hanya 18 Ibid, h, 17 19 Tia Indrianti. AuSkripsi ( Peran Orang Tua Dalam Membentuk Karakter Anak Di Desa Kedaton Induk Kecamatan Batanghari Nuban Lampung Timu. Ay. Jurusan: Pendidikan Agama Islam Fakultas: Tarbiyah dan Ilmu Keguruan INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) METRO 1441 H/2020 M, h, 20 Ki Hajar Dewantara. Pendidikan, (Yogyakarta. Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, 2. ,h, 7071 21 Ibid, h, 71 Kariman. Vol. 12 No. | 87 Achmad Rafli Isnadi & Almi Novita menjadi ciri penting, namun juga mencerminkan filosofi yang mirip dengan Ibnu Miskawaih dalam upaya mengembangkan karakter anak melalui pendidikan Menurut Ibnu Miskawaih, karakter dapat diarahkan dan dibentuk melalui proses pendidikan dan pembiasaan yang bersumber dari diri sendiri dan melibatkan peran krusial individu terdekat, terutama orang tua. Karakter tidak semata-mata ditentukan oleh sifat bawaan alami. Ibnu Miskawaih membagi pemahaman filosofisnya tentang karakter manusia ke dalam dua kategori utama: tabi'i, atau karakter alamiah, dan karakter yang dikembangkan melalui kebiasaan dan latihan. Dia berpendapat bahwa dasar dari sifat manusia adalah keberadaan karakter tabi'i, bukan karakter alami yang dianugerahkan pada seseorang saat lahir. Menurut Ibnu Miskawaih, karakter tabi'i hanyalah sebuah titik awal dan bahwa pendidikan dan pengajaran memiliki kekuatan untuk mengubah sifat manusia. Dalam kerangka ini, pendidikan dicirikan sebagai kekuatan dari luar yang membentuk dan membimbing kepribadian Karakter manusia dapat berkembang dan berubah dengan latihan, pendidikan, dan pengalaman. 22 Ibnu Miskawaih memilih sudut pandang ini karena sesuai dengan kenyataan yang sering diamati dalam kehidupan sehari-hari. Pengaruh lingkungan, cita-cita yang diperoleh melalui pendidikan, dan pelatihan yang diterima, semuanya dapat memiliki peran yang signifikan dalam membentuk karakter seseorang. Sebagai hasilnya, sudut pandang ini menunjukkan pemahaman mendalam Ibnu Miskawaih tentang dinamika karakter manusia dan pentingnya pendidikan dalam mengembangkan kepribadian yang lebih kuat. Pandangan ini menekankan bahwa pendidikan karakter pada anak muncul dari interaksi yang intens dengan lingkungan, terutama keluarga, dan dari faktor bawaan. Adalah tugas orang tua, yang merupakan pendidik utama dalam keluarga, untuk menanamkan prinsip-prinsip moral, etika, dan perilaku yang diinginkan pada anak-anak mereka. Dengan kata lain, karakter seorang anak dapat menjadi dinamis dan dibentuk oleh efek positif dari lingkungannya, dan bukannya statis. Dalam hal ini, peran orang tua lebih dari sekadar menetapkan aturan atau memberikan bimbingan, mereka juga termasuk harus memberi contoh perilaku dan memberikan contoh spesifik dalam interaksi sehari-hari. Nilai-nilai positif ditanamkan kepada anak-anak melalui interaksi sehari-hari di dalam keluarga, yang menjadi dasar penting bagi pengembangan karakter. Sebagai hasilnya, orang tua berperan sebagai panutan sekaligus fasilitator pendidikan karakter, memberikan contoh yang baik untuk diikuti oleh anak-anak mereka. Pendidikan 22 Harpan Reski Mulia. AuPendidikan Karakter: Analisa Pemikiran Ibnu MiskawaihAy. Jurnal Tarbawi: Jurnal Ilmu Pendidikan. Vol. No. Juli 2019, h, 43-44 23 Said Suhil Achmad. Pengantar Pendidikan, (Bandung: Remaja Rasda Karya, 2. , hlm. Kariman. Vol. 12 No. | 88 Achmad Rafli Isnadi & Almi Novita karakter merupakan pendekatan yang lebih komprehensif dan melibatkan keluarga untuk berpartisipasi secara aktif ketika disadari bahwa karakter anak dapat dikembangkan melalui kombinasi pendidikan dan pengalaman sehari-hari yang melibatkan peran orang tua. Hal ini meletakkan dasar yang kuat untuk pertumbuhan moral anak-anak, membantu mereka dalam mengembangkan kebajikan, kepribadian yang menyeluruh, dan sikap moral yang akan memperkaya kehidupan mereka dan bermanfaat bagi masyarakat luas. Ibnu Miskawaih menekankan pentingnya memiliki pemahaman yang menyeluruh tentang kebijaksanan untuk membuat keputusan moral dengan memposisikan kebijaksanaan sebagai nilai etika yang mendasar. Pusat dari jiwa yang bernalar, atau al-Hikmat, adalah Kebijaksanaan . l nafs al nathiqa. Jiwa nalar yang tertinggi dan maha tahu . l nafs al nathiqa. - yang mencakup sifat-sifat ketuhanan dan kemanusiaan - serta kesadaran penuh akan segala sesuatu . l 25 Fokus pada kebijaksanaan menciptakan kemungkinan bagi anak-anak untuk tumbuh dalam kesadaran moral dan pemahaman mereka tentang konsekuensi etis dari tindakan mereka dalam kerangka pendidikan karakter. Proses pendidikan karakter dapat memasukkan elemen-elemen yang mengajarkan siswa untuk mempertimbangkan konsekuensi etis dari keputusan yang mereka ambil. Kegiatan ini mencakup studi kasus, percakapan etis, dan skenario bermain peran di mana siswa harus membuat keputusan moral. Mereka dapat memperoleh pemahaman tentang kompleksitas masalah dan belajar bagaimana memasukkan cita-cita kebijaksanaan ke dalam pengambilan keputusan mereka melalui latihan-latihan semacam itu. Penyertaan tugas dan pertanggung jawaban juga dapat berfungsi untuk menekankan pentingnya kebijaksanaan dalam Hal ini memungkinkan untuk menginstruksikan siswa tentang fakta bahwa kebijaksanaan tidak hanya mencakup pemahaman tentang prinsip-prinsip moral tetapi juga kemampuan untuk mengendalikan hasil dari keputusan mereka. Oleh karena itu, pendidikan karakter yang berorientasi pada kebijaksanaan akan mengembangkan orang-orang yang mampu menggunakan pengetahuan moral mereka dengan cara yang cerdas dalam kehidupan sehari-hari. Perspektif etika Miskawaih menawarkan wawasan penting dalam pengembangan pendidikan karakter, terutama yang berkaitan dengan kecerdasan emosional dan pengendalian diri. Etika Miskawaih memberikan penekanan kuat pada pengembangan kualitas moral. pendekatan kontemporer terhadap 24 Samrotul Fikriyah. Annisa Mayasari, dkk AuPeran Orang Tua Terhadap Pembentukan Karakter Anak Dalam Menyikapi BulyingAy. Jurnal Tahsinia Vol. No. April 2022, h, 117 25 Nizar. AuPEMIKIRAN ETIKA IBNU MISKAWAIHAy. JURNAL AQLAM -- Journal of Islam and Plurality -Volume 1. Nomor 1. Juni 2016, hal, 41 Kariman. Vol. 12 No. | 89 Achmad Rafli Isnadi & Almi Novita pendidikan karakter dapat mengambil gagasan ini ke dalam hati. Menurut pandangan Ibnu Miskawaih, pengendalian diri dikenal sebagai Al-Iffah. Teori ini menjunjung tinggi bahwa keutamaan ruh al-bahimiyyah adalah ego, atau Al-Iffah. Ketika pemikiran seseorang mampu mengendalikan hasrat emosionalnya, maka akan muncul kebajikan dalam dirinya. Hal ini menunjukkan bahwa manusia mampu membuat pilihan yang tepat untuk membebaskan diri dari belenggu ego dan mengendalikannya. 26 Tujuan utama dari melibatkan siswa dalam proses pendidikan karakter adalah pengendalian diri dan kesadaran emosional. Hal ini memungkinkan untuk memasukkan latihan-latihan tertentu ke dalam kurikulum untuk mendukung anak-anak dalam mengembangkan kecerdasan emosional Hal ini tidak hanya membutuhkan kemampuan untuk mengenali dan mengendalikan emosi seseorang, namun juga melatih pengendalian diri terhadap ego, yang sangat penting bagi pertumbuhan kepribadian yang menyeluruh. Pendidikan karakter dapat memberikan latihan konkret yang membantu siswa mengenali dan mengelola emosi mereka. Ini bisa termasuk aktivitas refleksi diri, dialog kelompok, atau latihan meditasi yang dirancang untuk memperkuat pengendalian diri dan membangun kesadaran terhadap perasaan. Melalui pendekatan ini, siswa dapat belajar untuk tidak hanya mengenali emosi mereka tetapi juga mengelolanya dengan bijak, tanpa terpengaruh oleh ego yang Pengendalian ego menjadi aspek penting karena dapat membantu siswa mengatasi sikap egois atau narsistik yang mungkin muncul. Dengan memahami bahwa kepentingan individu tidak selalu harus mengalahkan kepentingan kolektif, siswa dapat mengembangkan sikap yang lebih seimbang dan bertanggung jawab dalam interaksi sosial mereka. Selain itu, latihan-latihan ini dapat membantu siswa mengembangkan empati, kemampuan untuk memahami dan merasakan perasaan orang lain. Ini menciptakan lingkungan di mana siswa tidak hanya fokus pada kepentingan pribadi mereka tetapi juga memahami dampak tindakan mereka pada orang lain. Dengan mengintegrasikan konsep etika Miskawaih ke dalam pendidikan karakter, kita tidak hanya membantu siswa menjadi individu yang memiliki pengendalian diri dan kesadaran emosional yang baik tetapi juga membentuk generasi yang dapat berkontribusi secara positif pada masyarakat melalui perilaku dan keputusan moral mereka. Kesimpulan 26 Abdul Hakim. AuFILSAFAT ETIKA IBN MISKAWAIHAy. Ilmu Ushuluddin. Juli 2014. Vol. No. Kariman. Vol. 12 No. | 90 Achmad Rafli Isnadi & Almi Novita Dari tulisan-tulisan di atas memberikan gambaran lengkap tentang pendidikan karakter dan cita-cita yang melandasinya. Tujuan dari pendidikan karakter adalah untuk membantu orang dalam mengembangkan nilai-nilai moral, standar etika, dan sikap positif. Hal ini tidak hanya mengembangkan intelektualitas, tetapi juga kepribadian, integritas, dan sifat-sifat karakter. Pendidikan karakter dikatakan mencakup nilai-nilai seperti tanggung jawab, rasa hormat, kebaikan, kerja sama, kejujuran, dan keadilan. Metode yang digunakan untuk pendidikan karakter konsisten dengan pandangan Ibnu Miskawaih tentang sifat dasar manusia. Ia menekankan bahwa meskipun karakter tabi'i . berfungsi sebagai fondasi, pendidikan dan pelatihan memiliki kekuatan untuk mengubah sifat manusia. Sudut pandang ini dipilih karena dapat menangkap realitas yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari. Sudut pandang ini juga menekankan nilai kebijaksanaan dalam pengembangan etika dan karakter, dengan fokus pada kapasitas seseorang untuk mengambil keputusan yang baik secara moral. Hal ini menjadi dasar bagi tumbuhnya kesadaran moral dan pemahaman akan konsekuensi moral dari Kesimpulan ini juga menyoroti peran penting yang dimainkan orang tua dalam pendidikan karakter. Mereka memiliki peran penting dalam membentuk moral anak-anak melalui pemodelan perilaku, komunikasi yang jujur, dan keterlibatan dalam kegiatan keluarga yang membangun karakter. Mereka dianggap sebagai agen perubahan utama. Terakhir, kesimpulannya menghubungkan metode pendidikan karakter kontemporer dengan gagasan filosofis Ibnu Miskawaih, seperti karakter tabi'i dan kebijaksanaan. Hal ini memberikan pemahaman yang menyeluruh tentang bagaimana pendidikan karakter dapat membentuk orang menjadi orang yang cakap, sadar diri, dan pengambil keputusan yang bermoral. Oleh karena itu, pendidikan karakter bertujuan untuk mengembangkan kepribadian yang kuat dan terarah selain memberikan pengetahuan. Kariman. Vol. 12 No. | 91 Achmad Rafli Isnadi & Almi Novita DAFTAR PUSTAKA