Journal of S. Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Training E-ISSN 2620-7699 | P-ISSN 2541-7126 https://doi. org/10. 37058/sport Eksplorasi Nilai Karakter Moral Pasca Penerapan Pendekatan Intentionally Structuring dalam Pembelajaran PJOK Studi Kualitatif pada Implementasi Kurikulum Merdeka Juhrodin1. Nuriska Subekti2. Agus Mulyadi3. Abdul Narlan4 Pendidikan Jasmani. Universitas Siliwangi Abstrak Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi nilai karakter moral peserta didik pasca penerapan pendekatan Intentionally Structuring dalam pembelajaran PJOK pada Kurikulum Merdeka. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus kolektif, penelitian dilakukan di SMA Kecamatan Cineam Kabupaten Tasikmalaya selama delapan bulan. Subjek penelitian meliputi dua guru PJOK, dua peserta didik, dan satu kepala sekolah. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, fokus grup diskusi, dan analisis dokumen, kemudian dianalisis menggunakan pendekatan tematik Braun dan Clarke. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada empat nilai utama: tanggung jawab . %), kerjasama . %), sportivitas . %), dan integritas . %). Lima fase pembelajaran yang terstruktur berhasil menciptakan lingkungan student-centered dan contextual. Model ideal yang dikonstruksi mengintegrasikan enam komponen strategis: kurikulum spiral, teknologi-enhanced learning, collaborative ecosystem, holistic assessment, peer mentoring, dan sustainability mechanisms, dengan transfer learning efektif ke pembelajaran lainnya. Kata Kunci: Pendidikan karakter. Intentionally Structuring. PJOK. Kurikulum Merdeka. Nilai Moral Abstract This study aims to explore students' moral character values following the implementation of the Intentionally Structuring approach in Physical Education. Sports, and Health learning within the Merdeka Curriculum. Using a qualitative approach with collective case study design, the research was conducted at a senior high school in Cineam District. Tasikmalaya Regency over eight months. Research subjects included two Physical Education teachers, two students, and one principal. Data were collected through participant observation, in-depth interviews, focus group discussions, and document analysis, then analyzed using Braun and Clarke's thematic approach. Results showed significant improvements in four core values: responsibility . %), cooperation . %), sportsmanship . %), and integrity . %). Five structured learning phases successfully created a studentcentered and contextual environment. The ideal model constructed integrates six strategic components: spiral curriculum, technology-enhanced learning, collaborative ecosystem, holistic assessment, peer mentoring, and sustainability mechanisms, with effective transfer learning to other subjects. Keywords: Character education. Intentionally Structuring. Physical Education. Merdeka Curriculum. Moral Values Correspondence author: Juhrodin. Universitas Siliwangi. Indonesia. Email: juhrodin@unsil. Journal of SPORT (Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Trainin. is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Juhrodin. Nuriska Subekti. Agus Mulyadi & Abdul Narlan Eksplorasi Nilai Karakter Moral Pasca Penerapan Pendekatan Intentionally Structuring dalam Pembelajaran PJOK Studi Kualitatif pada Implementasi Kurikulum Merdeka PENDAHULUAN Pendidikan karakter terintegrasi telah menjadi fokus utama dalam sistem pendidikan Indonesia, terutama sejak implementasi Kurikulum Merdeka (Kemendikbudristek BSKAP. Pembelajaran Pendidikan Jasmani. Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) memiliki posisi strategis dalam pengembangan karakter moral peserta didik karena sifatnya yang melibatkan interaksi langsung, kolaborasi, dan penerapan nilai-nilai seperti sportivitas, kejujuran, dan tanggung jawab (Mustafa & Dwiyogo, 2. Namun, penerapan nilai karakter dalam PJOK sering kali bersifat implisit dan kurang terstruktur, sehingga hasil yang dicapai belum optimal (Jahrir et al. , 2024. Nation, 2. Penelitian ini berawal dari hasil treatment yang menunjukkan perbedaan signifikan dalam nilai karakter moral antara kelompok yang menerapkan pendekatan Intentionally Structuring dan kelompok kontrol. Tabel 1. Hasil Analisis Independent Samples Test Group Statistics Kelas Nilai Kelompok eksperimen Kelompok kontrol Temuan Intentionally Structuring Mean Std. Deviation Std. Error Mean pengembangan nilai karakter, yang selanjutnya memunculkan kebutuhan eksplorasi kualitatif mendalam untuk memahami dinamika dan mekanisme perubahan tersebut. Pendekatan Intentionally Structuring pembelajaran yang secara sengaja merancang aktivitas fisik dengan mempertimbangkan aspek pengembangan karakter, tidak hanya fokus pada keterampilan motorik dan kebugaran jasmani (Bean et al. , 2022. Holt et al. , 2. Pendekatan ini dilandasi oleh pemahaman bahwa nilai-nilai moral tidak otomatis terbentuk melalui aktivitas fisik, melainkan perlu direncanakan, difasilitasi, dan direfleksikan secara sistematis. Journal of SPORT (Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Trainin. Vol. 2025 | 602-617 ISSN : 2620-7699 (Onlin. ISSN : 2541-7126 (Prin. Kurikulum Merdeka yang mengusung prinsip fleksibilitas dan pembelajaran berbasis projek menyediakan ruang yang ideal untuk (Kemendikbudristek BSKAP. Intentionally Structuring PJOK Implementasi dioptimalkan melalui berbagai aktivitas fisik yang dirancang khusus untuk memperkuat nilai-nilai karakter seperti kepercayaan diri, sportif, jujur, disiplin, kerja sama, pengendalian diri, kepemimpinan, dan demokratis dalam melakukan aktivitas jasmani sebagai cerminan rasa tanggung jawab personal dan sosial . ersonal and social responsibilit. Sebagai ilustrasi, seperti seorang arsitek yang tidak hanya merancang bangunan yang fungsional tetapi juga estetis dan berkelanjutan, pendekatan Intentionally Structuring memungkinkan guru PJOK untuk merancang aktivitas yang secara bersamaan mengembangkan keterampilan fisik dan karakter moral. Kajian empiris oleh Lyle & Cushion . menunjukkan bahwa PJOK perkembangan karakter dan sikap prososial peserta didik. Meskipun demikian, penelitian tentang efektivitas pendekatan Intentionally Structuring dalam konteks Kurikulum Merdeka di Indonesia masih sangat terbatas, sehingga muncul kebutuhan untuk melakukan eksplorasi mendalam mengenai fenomena ini. Secara yuridis, penelitian ini didukung oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003. Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter, dan Permendikbudristek Nomor 56 Tahun 2022 tentang Pedoman Penerapan Kurikulum Merdeka. Pada tataran internasional, penelitian ini sejalan dengan United Nations Sustainable Development Goal 4 tentang pendidikan berkualitas yang menekankan pentingnya pendidikan karakter dan keterampilan sosial (Nation, 2004. Watanabe, 2. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus kolektif untuk mengeksplorasi nilai karakter moral pasca penerapan pendekatan Intentionally Structuring dalam pembelajaran PJOK Juhrodin. Nuriska Subekti. Agus Mulyadi & Abdul Narlan Eksplorasi Nilai Karakter Moral Pasca Penerapan Pendekatan Intentionally Structuring dalam Pembelajaran PJOK Studi Kualitatif pada Implementasi Kurikulum Merdeka pada implementasi Kurikulum Merdeka. Pendekatan kualitatif bersifat interpretatif dan berorientasi pada pemahaman makna mendalam tentang pengalaman subjek penelitian (Creswell, 2. Penelitian dilaksanakan di SMA Kecamatan Cineam Kabupaten Tasikmalaya yang telah mengimplementasikan Kurikulum Merdeka minimal satu tahun akademik. Pemilihan sekolah menggunakan purposive sampling dengan kriteria: telah menerapkan Kurikulum Merdeka, memiliki program PJOK aktif, dan berkarakteristik sekolah negeri pedesaan. Subjek penelitian meliputi 2 guru PJOK, 2 peserta didik, dan 1 kepala sekolah yang dipilih berdasarkan keterlibatan langsung dalam implementasi pembelajaran. Pelaksanaan penelitian dilakukan dalam tiga tahap selama delapan bulan mengikuti prosedur penelitian kualitatif sistematis (Miles & Crisp. Tahap persiapan . meliputi penyusunan instrumen, perizinan sekolah, dan pelatihan tim peneliti. Tahap pengumpulan data . melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, fokus grup diskusi, dan analisis dokumen pembelajaran (Yin, 2. Tahap analisis dan pelaporan . mencakup transkripsi data, analisis tematik dengan NVivo, triangulasi data, dan member checking (Yin, 2. Teknik pengumpulan data menggunakan empat metode untuk memastikan triangulasi metodologis (Creswell, 2. Observasi partisipatif Intentionally Structuring dan manifestasi karakter moral peserta didik. Wawancara mendalam semi-terstruktur mengeksplorasi persepsi dan pengalaman informan kunci. Fokus grup diskusi terpisah dengan guru dan peserta didik untuk mengeksplorasi dinamika implementasi (Krueger & Casey, 2. Analisis dokumen sistematis terhadap RPP, modul, instrumen asesmen, dan portofolio peserta didik. Analisis data menggunakan pendekatan analisis tematik Braun dan Clarke . melalui enam fase: familiarisasi data, pengodean awal, pencarian tema, peninjauan tema, pendefinisian tema, dan penulisan Proses dimulai dengan pembacaan berulang untuk pemahaman menyeluruh, dilanjutkan pengodean terbuka untuk mengidentifikasi unit Journal of SPORT (Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Trainin. Vol. 2025 | 602-617 ISSN : 2620-7699 (Onlin. ISSN : 2541-7126 (Prin. makna relevan. Kode-kode dikembangkan menjadi tema bermakna yang ditinjau dan disempurnakan secara iteratif (Braun & Clarke, 2. Penamaan tema dilakukan spesifik untuk karakterisasi jelas, diakhiri dengan pembuatan laporan komprehensif yang didukung kutipan data representatif dan interpretasi mendalam terhadap fenomena yang diteliti. HASIL Implementasi Pendekatan Intentionally Structuring dalam Kurikulum Merdeka Hasil analisis data menunjukkan bahwa implementasi pendekatan Intentionally Structuring dalam pembelajaran PJOK telah berhasil diintegrasikan secara sistematis dengan filosofi Kurikulum Merdeka. Wakasek kesiswaan (WK-. menekankan bahwa dukungan kebijakan institusional menjadi fondasi utama keberhasilan, yang diwujudkan melalui alokasi anggaran untuk infrastruktur olahraga yang memadai, program pelatihan guru berkelanjutan, dan penetapan standar evaluasi karakter yang jelas dan terukur. Guru PJOK (GP-. mengimplementasikan desain pembelajaran terstruktur yang terbagi dalam lima fase sistematis: fase orientasi nilai . , pemanasan berbasis karakter . , aktivitas inti dengan skenario moral . , pendinginan reflektif . , dan evaluasi karakter . Setiap fase dirancang dengan skenario yang memungkinkan siswa menghadapi dilema etis dalam konteks olahraga, seperti situasi pelanggaran aturan, konflik tim, atau kompetisi yang tidak Pendekatan ini menggunakan metode experiential learning yang konsekuensi dari pilihan etis mereka secara langsung dalam lingkungan yang aman dan terkontrol. Juhrodin. Nuriska Subekti. Agus Mulyadi & Abdul Narlan Eksplorasi Nilai Karakter Moral Pasca Penerapan Pendekatan Intentionally Structuring dalam Pembelajaran PJOK Studi Kualitatif pada Implementasi Kurikulum Merdeka Gambar 1. Implementasi Pendekatan Intentionally Structuring dalam PJOK Dinamika Perkembangan Nilai Karakter Moral Analisis longitudinal menunjukkan transformasi karakter yang progresif dan terukur pada peserta didik. Data triangulasi dari observasi self-assessment peningkatan signifikan dalam empat dimensi karakter utama: sportivitas . eningkat 78%), tanggung jawab . eningkat 85%), kerjasama . eningkat 82%), dan integritas . eningkat 71%). Siswa kelas XI (S-. melaporkan perubahan fundamental dalam orientasi kompetisi, dari mentalitas "menang dengan cara apapun" menjadi apresiasi terhadap proses pembelajaran dan fair play. Transformasi ini termanifestasi dalam perilaku konkret seperti kemampuan menerima keputusan wasit tanpa protes berlebihan, memberikan apresiasi kepada lawan yang bermain baik, dan secara proaktif membantu menegakkan aturan permainan. Siswa kelas X (S-. menunjukkan internalisasi nilai melalui kepemimpinan situasional yang spontan, seperti mengorganisir teman untuk membersihkan lapangan, menengahi konflik antar pemain, dan menunjukkan empati kepada teman yang mengalami cedera atau Guru PJOK mengkonfirmasi observasi ini melalui dokumentasi penilaian autentik yang mencatat evolusi perilaku moral siswa. Data Journal of SPORT (Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Trainin. Vol. 2025 | 602-617 ISSN : 2620-7699 (Onlin. ISSN : 2541-7126 (Prin. menunjukkan penurunan drastis insiden pelanggaran aturan . % dalam 6 bula. , peningkatan inisiatif positif siswa . %), dan peningkatan kualitas interaksi sosial dalam aktivitas kelompok . %). Yang menarik, transfer learning juga terjadi di luar konteks PJOK, dengan laporan dari guru mata pelajaran lain tentang peningkatan perilaku pro-sosial siswa di kelas Gambar 2. Transpormasi Karakter Siswa Melalui PJOK Faktor Fasilitasi dan Hambatan Faktor yang memfasilitasi efektivitas pendekatan meliputi komitmen kepemimpinan sekolah yang konsisten, kompetensi pedagogis guru yang terus dikembangkan melalui pelatihan berkala, antusiasme siswa terhadap pendekatan pembelajaran yang interaktif dan relevan dengan kehidupan, serta dukungan sarana prasarana yang memungkinkan variasi aktivitas Kultur sekolah yang menghargai pengembangan karakter juga menjadi katalis penting dalam proses internalisasi nilai. Namun, implementasi menghadapi hambatan signifikan. Resistensi awal dari sebagian siswa yang terbiasa dengan pembelajaran konvensional memerlukan strategi adaptasi khusus selama 2-3 minggu pertama. Keterbatasan alokasi waktu untuk refleksi mendalam menjadi tantangan, mengingat kebutuhan untuk menyeimbangkan pencapaian kompetensi fisik dan pengembangan karakter. Guru juga menghadapi kompleksitas dalam mengukur perkembangan karakter secara objektif, karena memerlukan instrumen penilaian yang komprehensif dan valid. Dukungan orang tua yang bervariasi juga mempengaruhi konsistensi reinforcement nilai-nilai yang dipelajari di sekolah. Juhrodin. Nuriska Subekti. Agus Mulyadi & Abdul Narlan Eksplorasi Nilai Karakter Moral Pasca Penerapan Pendekatan Intentionally Structuring dalam Pembelajaran PJOK Studi Kualitatif pada Implementasi Kurikulum Merdeka Gambar 3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Efektivitas Pendekatan Pembelajaran Model Ideal Penerapan Berdasarkan sintesis temuan dari seluruh informan, penelitian ini mengkonstruksi model ideal yang terintegrasi dalam enam komponen Pertama, desain kurikulum spiral yang mengintegrasikan pengembangan karakter dari level dasar hingga kompleks, dengan progresivitas yang jelas setiap semester. Kedua, implementasi teknologi pembelajaran untuk real-time monitoring dan feedback, termasuk aplikasi mobile untuk self-reflection dan peer assessment. Ketiga, sistem kolaborasi ekosistem pendidikan yang melibatkan guru, orang tua, dan komunitas dalam reinforcement nilai-nilai karakter. Keempat, mengkombinasikan observasi behavioral, portfolio refleksi, dan authentic assessment dalam situasi nyata. Kelima, program mentoring sebaya yang memberdayakan siswa senior sebagai role model dan fasilitator pengembangan karakter untuk junior. Keenam, mekanisme sustainability melalui evaluasi berkala, penyesuaian strategi berdasarkan feedback, dan dokumentasi best practices untuk replikasi. Journal of SPORT (Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Trainin. Vol. 2025 | 602-617 ISSN : 2620-7699 (Onlin. ISSN : 2541-7126 (Prin. Gambar 4. Model Ideal Pengembangan Karakter Terintegrasi PEMBAHASAN Implementasi Pendekatan Intentionally Structuring Pembelajaran PJOK pada Kurikulum Merdeka Temuan penelitian menunjukkan bahwa implementasi pendekatan Intentionally Structuring dalam pembelajaran PJOK telah berhasil diintegrasikan dengan filosofi Kurikulum Merdeka melalui pendekatan yang sistematis dan terstruktur. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Bean & Forneris . , di mana pengembangan karakter memerlukan latihan yang disengaja dan terstruktur dalam konteks yang bermakna. Implementasi lima fase pembelajaran yang ditemukan dalam penelitian ini . rientasi nilai, pemanasan berbasis karakter, aktivitas inti dengan skenario moral, pendinginan reflektif, dan evaluasi karakte. mencerminkan aplikasi praktis dari teori pembelajaran experiential. Setiap fase dirancang untuk memberikan pengalaman moral yang konkret, observasi reflektif, konseptualisasi abstrak, dan eksperimentasi aktif. Pendekatan ini particularly efektif karena menggunakan konteks olahraga sebagai real-life laboratory untuk pengembangan moral reasoning. Integrasi dengan Kurikulum Merdeka tampak dalam penerapan prinsip student-centered learning dan contextual education. Guru PJOK berhasil menciptakan learning environment yang memberikan kebebasan Juhrodin. Nuriska Subekti. Agus Mulyadi & Abdul Narlan Eksplorasi Nilai Karakter Moral Pasca Penerapan Pendekatan Intentionally Structuring dalam Pembelajaran PJOK Studi Kualitatif pada Implementasi Kurikulum Merdeka kepada siswa untuk membuat keputusan moral sambil tetap dalam struktur yang jelas. Hal ini mengkonfirmasi proposisi tentang pentingnya balance antara autonomy dan structure dalam pembelajaran yang efektif. Aspek yang menarik dari implementasi adalah penggunaan skenario dilema moral yang authentic dalam konteks olahraga. Siswa dihadapkan pada situasi seperti konflik aturan, ketidakadilan kompetisi, atau tekanan untuk menang dengan cara tidak fair. Pendekatan ini sejalan dengan moral education framework yang menekankan pentingnya moral knowing, moral feeling, dan moral action sebagai komponen terintegrasi. Dukungan kebijakan institusional yang kuat dari pihak sekolah menjadi faktor kunci keberhasilan implementasi. Penyediaan infrastruktur, pelatihan guru, dan standardisasi evaluasi menunjukkan komitmen sistemik yang essential untuk sustainability program. Dinamika Perkembangan Nilai Karakter Moral Peserta Didik Analisis transformasi yang progresif dan multidimensional, dengan peningkatan signifikan dalam empat nilai utama: sportivitas . %), tanggung jawab . %), kerjasama . %), dan integritas . %). Pola perkembangan ini mengkonfirmasi teori moral development tentang tahapan perkembangan moral yang sequential dan hierarchical. Peningkatan tertinggi dalam dimensi tanggung jawab dapat dijelaskan melalui lensa self-determination theory. Structured environment PJOK mendukung pengembangan autonomy, competence, & relatedness. Siswa tidak hanya belajar tentang tanggung jawab secara kognitif, tetapi mengalaminya secara langsung melalui consequences dari pilihan mereka dalam aktivitas olahraga. Transformasi dalam dimensi sportivitas menunjukkan pergeseran. Siswa mulai menghargai proses pembelajaran dan fair play dibandingkan sekedar winning at all costs. Hal ini particularly penting dalam konteks mengkompromikan nilai-nilai moral. Journal of SPORT (Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Trainin. Vol. 2025 | 602-617 ISSN : 2620-7699 (Onlin. ISSN : 2541-7126 (Prin. Perkembangan kerjasama yang signifikan mencerminkan successful implementation dari cooperative learning principles. Aktivitas team-based dalam PJOK menciptakan positive interdependence di mana kesuksesan individual bergantung pada kesuksesan kelompok. Hal ini mengembangkan empathy, communication skills, dan conflict resolution abilities yang essential untuk moral development. Yang menarik, integritas menunjukkan peningkatan terendah . %), yang dapat dipahami sebagai complexity dari konsep ini. Integritas melibatkan consistency antara values, beliefs, dan actions across different contexts, yang memerlukan higher-order moral reasoning. Hal ini sejalan dengan moral complexity theory yang menunjukkan bahwa nilai-nilai yang lebih abstrak memerlukan developmental time yang lebih lama. Transfer learning dari konteks PJOK ke pembelajaran lain memberikan evidence kuat untuk far transfer phenomena. Hal ini mengkonfirmasi situated learning theory bahwa pembelajaran yang authentic dan contextual dapat ditransfer ke berbagai situasi ketika terdapat structural similarities dalam moral demands. Physical education, dengan natural social interactions dan moral dilemmas, terbukti menjadi ideal context untuk developing transferable character traits. Faktor Fasilitasi dan Hambatan Efektivitas Pendekatan Analisis faktor fasilitasi mengungkapkan kompleksitas sistemik dalam implementasi pendidikan karakter. Komitmen kepemimpinan sekolah, kompetensi pedagogis guru, antusiasme siswa, dan dukungan infrastruktur menjadi primary enablers yang saling reinforcing. Hal ini sejalan dengan systems thinking approach dalam educational change, di mana multiple factors harus aligned untuk mencapai successful implementation. Peran guru sebagai moral exemplar dan facilitator terbukti critical dalam keberhasilan program. Hal ini mengkonfirmasi social cognitive theory tentang pentingnya modeling dalam moral learning. Guru PJOK tidak hanya mengajarkan skills dan values secara verbal, tetapi mendemonstrasikan moral behavior dalam daily interactions dengan siswa. Juhrodin. Nuriska Subekti. Agus Mulyadi & Abdul Narlan Eksplorasi Nilai Karakter Moral Pasca Penerapan Pendekatan Intentionally Structuring dalam Pembelajaran PJOK Studi Kualitatif pada Implementasi Kurikulum Merdeka Kultur sekolah yang supportive terhadap character development menjadi contextual factor yang significant. Organizational culture yang menghargai moral values, integrity, dan holistic student development menciptakan reinforcing environment untuk internalisasi karakter. Hal ini sejalan dengan school effectiveness research yang menunjukkan pentingnya shared values dan collective commitment dalam achieving educational goals. Hambatan yang ditemukan primarily berkaitan dengan change management challenges. Resistensi awal siswa terhadap pendekatan baru mencerminkan normal reaction dalam innovation diffusion process. Laidoune et al. mengidentifikasi bahwa adopsi inovasi memerlukan periode adaptasi dan requires credible change agents untuk overcome Keterbatasan waktu untuk refleksi mendalam menghadirkan classic dilemma dalam pendidikan antara breadth dan depth. Time constraints dalam curriculum implementation seringkali mengkompromikan reflective components yang essential untuk moral internalization. Hal ini menunjukkan perlunya curriculum redesign yang mengalokasikan sufficient time untuk character development activities. Variability consistency dalam reinforcement nilai-nilai yang dipelajari. Hal ini menekankan pentingnya home-school partnership dalam character education, sejalan dengan ecological perspective yang menunjukkan interconnectedness antara different developmental contexts. Tantangan dalam objective assessment of character development mencerminkan inherent complexity dalam measuring intangible outcomes. Traditional assessment methods yang focus pada cognitive aspects tidak adequate untuk capturing moral development yang melibatkan affective dan behavioral dimensions. Hal ini menuntut development of authentic assessment tools yang dapat measure character growth secara holistic. Journal of SPORT (Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Trainin. Vol. 2025 | 602-617 ISSN : 2620-7699 (Onlin. ISSN : 2541-7126 (Prin. Model Ideal Penerapan Pendekatan Intentionally Structuring Berdasarkan synthesis temuan penelitian, model ideal yang dikonstruksi mengintegrasikan six strategic components yang saling reinforcing dan complementary. Model ini merefleksikan comprehensive approach yang menggabungkan best practices dalam character education dengan innovative pedagogical strategies. Pertama, mengaplikasikan prinsip Bruner . tentang revisiting moral concepts Pendekatan memastikan progressive development dari basic moral awareness hingga complex ethical reasoning. Setiap level memberikan scaffolding yang appropriate untuk developmental stage siswa, dengan careful attention pada readiness dan individual differences. Kedua, teknologi-enhanced mengintegrasikan digital tools untuk real-time monitoring, feedback, dan self-reflection. Mobile applications untuk character self-assessment, peer evaluation platforms, dan digital portfolios memberikan opportunities untuk personalized moral education dan continuous improvement. Technology data-driven development interventions. Ketiga, collaborative ecosystem approach yang melibatkan semua stakeholders dalam reinforcing character values. Partnership antara sekolah, keluarga, dan komunitas menciptakan consistent messaging dan support system untuk moral development. Hal ini sejalan dengan social capital theory yang menekankan network relationships sebagai resources untuk individual dan community growth. Keempat, holistic assessment system yang mengkombinasikan multiple methods untuk measuring character development. Observational self-reflection evaluations, dan authentic performance tasks memberikan comprehensive picture tentang moral growth. Assessment design juga incorporates Juhrodin. Nuriska Subekti. Agus Mulyadi & Abdul Narlan Eksplorasi Nilai Karakter Moral Pasca Penerapan Pendekatan Intentionally Structuring dalam Pembelajaran PJOK Studi Kualitatif pada Implementasi Kurikulum Merdeka formative dan summative components untuk supporting continuous Kelima, peer mentoring program yang memberdayakan senior students sebagai character development facilitators untuk juniors. Hal ini menciptakan positive role models, develops leadership skills, dan reinforces character values melalui teaching others. Near-peer mentoring terbukti particularly effective karena relatable examples dan reduced authority Keenam, sustainability mechanisms melalui continuous evaluation, adaptive strategies, dan institutional memory preservation. Regular evidence-based improvements memastikan long-term effectiveness. Documentation of best practices dan lessons learned memfasilitasi knowledge transfer dan program replication. Model ini juga incorporates flexibility untuk adaptation terhadap different school contexts, student populations, dan local cultural values. Customization approaches sesuai dengan specific needs sambil mempertahankan core principles dan structural integrity. KESIMPULAN Implementasi PJOK Intentionally Kurikulum Structuring Merdeka mengembangkan karakter moral peserta didik. Penelitian menunjukkan peningkatan signifikan pada empat nilai utama: tanggung jawab . %), kerjasama . %), sportivitas . %), dan integritas . %). Lima fase pembelajaran . rientasi nilai, pemanasan berbasis karakter, aktivitas inti dengan skenario moral, pendinginan reflektif, dan evaluasi karakte. berhasil menciptakan lingkungan pembelajaran yang student-centered dan Faktor kunci keberhasilan meliputi komitmen kepemimpinan sekolah, kompetensi pedagogis guru, antusiasme siswa, dan dukungan Model ideal yang dikonstruksi mengintegrasikan enam komponen strategis: kurikulum spiral, teknologi-enhanced learning. Journal of SPORT (Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Trainin. Vol. 2025 | 602-617 ISSN : 2620-7699 (Onlin. ISSN : 2541-7126 (Prin. collaborative ecosystem, holistic assessment, peer mentoring, dan sustainability mechanisms. Pendekatan ini membuktikan transfer learning yang efektif dari konteks PJOK ke pembelajaran lainnya. REFERENSI