Journal of Nursing Invention E-ISSN: 2828-281X DOI: https://doi. org/10. 33859/jni VOL. No. 2 2024 | DOI: https://doi. org/10. 33859/jni. HUBUNGAN POLA ASUH. PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU DENGAN PENCEGAHAN STUNTING PADA BALITA DI POSYANDU TUNAS SEGAR 4 KELURAHAN KELAYAN SELATAN BANJARMASIN Alit Suwandewi 1. Yustan Azidin1. Noor Khalilati 1. Hanura Aprilia1. Izma Daud1. Dea Salamiah1 Program Studi S1 Keperawatan. Fakultas Keperawatan dan Ilmu Kessehatan. Universitas Muhammadiyah Banjarmasin. Indonesia Info Artikel ABSTRAK Submitted: 27 November 2024 Revised: 20 Desember 2024 Accepted: 29 Desember 2024 Latar Belakang: Stunting adalah masalah pada anak sejak usia dini dikarena malnutrisi kronis sejak dalam kandungan yang disebabkan karena tidak terpenuhinya acupan gizi, sehingga anak tampak lebih pendek dari anak Masalah stunting masih ditemui diwilayah Kerja Puskesmas Pekauaman Kota Banjarmasin. Tujuan: penelitian ini untuk mengetahui Hubungan Pola Asuh. Pengetahuan dan Sikap Ibu Dengan Pencegahan Stunting Pada Balita di Posyandu Tunas Segar 4 Kelurahan Kelayan Selatan Banjarmasin. Metode: Desain penelitian ini menggunakan analisis korelasi crosectional. Dalam penelitian ini, teknik simple random sampling digunakan untuk memilih 66 ibu yang memiliki balita berusia 0-59 bulan. Dalam penelitian ini, variabel independen adalah pola asuh, pengetahuan, dan sikap Variabel dependen adalah perilaku pencegahan stunting, yang diukur melalui lembar kuesioner dengan nilai r >0,361, diuji dengan analisis rank spearman dengan p value = 0,05. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa pola asuh ibu, pengetahuan dan sikap ibu berhubungan dengan pencegahan stunting pada balita. Hasil analisis pola asuh p value= -0,010, pengetahuan =-0,022 dan sikap =-0,109. Kesimpulan: Kesimpulan dari hasil penelitian ini yaitu ada Hubungan Antara Pola Asuh. Pengetahuan Dan Sikap Ibu Dengan Pencegahan Stunti ng Pada Balita di Posyandu Tunas Segar 4 Kelurahan Kelayan Selatan Banjarmasin. Saran diharapkan untuk ibu yang memiliki balita bisa ruti n untuk mengikuti jadwal posyandu. *Corresponding author: Alit Suwandewi Email: alit_dewi@ymail. DOI: https://doi. org/10. 33859/jni. Kata kunci: Pola asuh. Pengetahuan. Sikap. Pencegahan. Stunting. Balita ABSTRACK Background: Stunting is a problem in children from an early age due to chronic malnutrition in the womb which is caused by inadequate nutritional intake, so that children appear shorter than children their age. The problem of stunting is still encountered in the Pekauaman Community Health Center working area. Banjarmasin City. Objective: This research is to determine the relationship between parenting patterns, knowledge and attitudes of mothers with the prevention of stunting in toddlers at Posyandu Tunas Segar 4. Kelayan Selatan District. Banjarmasin. Method: This research design uses cross-sectional correlation analysis. In this study, a simple random sampling technique was used to select 66 mothers who had toddlers aged 0-59 months. In this research, the independent variables are the mother's parenting style, knowledge and attitudes. The dependent variable is stunting prevention behavior, which is measured through a questionnaire sheet with an r value >0. 361, tested using Spearman rank analysis with p value = 0. Results: Research shows that maternal parenting patterns, maternal knowledge and attitudes are related to preventing stunting in toddlers. The results of the analysis of parenting patterns p value = -0. 010, knowledge = 0. 022 and attitude = -0. Conclusion: The conclusion from the results of this research is that there is a relationship between parenting patterns, knowledge and attitudes of mothers and the prevention of stunting in toddlers at Posyandu Tunas Segar 4. Kelayan Selatan District. Banjarmasin. Advice is expected for mothers who have toddlers to routinely follow the posyandu schedule. Keywords: Parenting Patterns. Knowledge. Attitudes. Prevention. Stunting. Toddler Journal of Nursing Invention E-ISSN: 2828-281X DOI: https://doi. org/10. 33859/jni PENDAHULUAN Stunting didefinisikan sebagai permasalahan pada anak usia dini berupa malnutrisi kronis akibat malnutrisi pada bayi atau malnutrisi yang berhubungan dengan asupan gizi yang tidak memadai. Anak dapat dikatakan kerdil . ertubuh pende. jika tinggi badannya tidak sesuai dengan usianya. Anak yang mengalami stunting pada dua tahun pertama kehidupannya mempunyai kemungkinan 4,57 kali lebih besar untuk memiliki IQ rendah dibandingkan anak yang tidak mengalami stunting. Oleh karena itu, hal tersebut dapat berdampak pada kurang berhasilnya pembelajaran pada anak (Kusumaningrum et al. Sekitar 150,8 juta . ,2%) anak di bawah usia 5 tahun mengalami stunting di seluruh dunia. Prevalensi bayi stunting sekitar 55%, tertinggi di dunia. Benua Afrika menempati urutan kedua dengan 39% anak-anak. Terdapat 83,6 juta bayi stunting di Asia. Asia Selatan memiliki prevalensi stunting tertinggi yaitu sebesar 58,7%, dan Asia Tengah memiliki prevalensi terendah sebesar 0,9% (Noorhasanah et al. , 2. Data dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2022 menunjukkan bahwa di antara 26 puskesmas di Kota Banjarmasin. Puskesmas Pekauman memiliki jumlah balita yang mengalami stunting tertinggi. Selain itu, puskesmas ini juga mencatat jumlah balita dengan berat badan kurang, pendek, gizi kurang, dan gizi buruk terbanyak Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (Haria et al. , 2. Risiko stunting merupakan hal yang harus diwaspadai karena dapat berdampak langsung maupun jangka panjang terhadap perkembangan anak. Anak yang mengalami stunting akan mengalami gangguan pada perkembangan otaknya, yang berdampak pada kemampuan kognitif seperti kemampuan mengingat, memecahkan masalah, dan berpartisipasi dalam aktivitas mental. Pertumbuhan kognitif yang lambat ini dapat mengakibatkan penurunan fungsi intelektual, kesulitan dalam memproses informasi, dan kesulitan berkomunikasi, yang pada akhirnya mempengaruhi kinerja akademik dan interaksi sosial anak. Permasalahan gizi tidak selalu terjadi pada keluarga miskin, tetapi bisa juga dikarenakan kurangnya pengetahuan ibu serta masih terpacunya dengan sosial budaya yang ada dilingkungan Pola pengasuhan anak mencakup beberapa aspek penting seperti pemberian ASI dan makanan pendamping ASI, stimulasi psikososial, praktik kebersihan dan sanitasi lingkungan, serta perawatan anak ketika sakit dengan praktik kesehatan di rumah dan pola pencarian pelayanan Kebiasaan-kebiasaan dalam keluarga seperti cara memberi makan, memberikan rangsangan psikososial, menjaga kebersihan dan sanitasi lingkungan, serta menggunakan layanan kesehatan, semuanya berhubungan secara signifikan dengan kejadian stunting pada anak usia 0-59 bulan (Bella. Ibu yang memiliki pengetahuan dan sikap yang baik diharapkan mampu mengaplikasikan pengetahuan yang dimiliki dalam kehidupan sehari-hari. METODE Desain penelitian yang digunakan adalah analitik korelatif, yang fokus pada hubungan antara variabel satu dengan yang lain. Model pendekatan yang diterapkan adalah cross-sectional. Populasi seluruh ibu yang mempunyai balita usia 0-59 bulan di posyandu Tunas Segar 4 kelurahan kelayan selatan Banjarmasin yang berjumlah 80 orang. Sampel yang di ambil Di Posyandu Tunas Segar 4 Kelurahan kelayan selatan. Banjarmasin sebanyak 66 responden. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah probability sampling dengan jenis simple random. Penelitian ini dilakukan di Posyandu Tunas Segar 4 Kelurahan Kelayan Selatan Banjarmasin. Uji statistik yang digunakan untuk menganalisis suatu hubungan anatar varaibel menggunakan uji spearman rank. Instrumen yang digunakan yaitu kuesioner pola asuh. Pengetahuan, sikap ibu dan pencegahan stunting. Alit Suwandewi1. Yustan Azidin 1. Noor Khalilati1. Hanura Aprilia 1. Izma Daud 1. Dea Salamiah 1 Email: alit_dewi@ymail. com Vol. 5 No. DOI: https://doi. org/10. 33859/jni. Accepted: 29 Desember 2024 Journal of Nursing Invention E-ISSN: 2828-281X HASIL Hasil Analisa Univariat DOI: https://doi. org/10. 33859/jni Jenis Kelamin 17-25 tahun 26-35 tahun 36-45 tahun 46-55 tahun Total Tabel 1 Usia ibu Balita Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Tabel 2. Jenis Kelamin Balita Tabel 3. Pendidikan Ibu Balita Pendidikan Tidak Sekolah SD tidak tamat SD tamat SMP tidak tamat SMP tamat SMA tidak Tamat SMA tamat PT (S. PT (S. Total Usia 0-24 bulan 25-36 bulan 37-60 bulan Total Pekerjaan IRT Pedagan/wiraswasta Karyawan Total Pola Asuh Baik Cukup Kurang Total Tabel 4 . Usia Balita Tabel 5 . Pekerjaan Ibu Balita Tabel 6. Pola Asuh Alit Suwandewi1. Yustan Azidin 1. Noor Khalilati1. Hanura Aprilia 1. Izma Daud 1. Dea Salamiah 1 Email: alit_dewi@ymail. com Vol. 5 No. DOI: https://doi. org/10. 33859/jni. Accepted: 29 Desember 2024 Journal of Nursing Invention E-ISSN: 2828-281X Pengetahuan Ibu Kurang Total Sikap Ibu Positif Negatif Total DOI: https://doi. org/10. 33859/jni Tabel 7. Pengetahuan Ibu Tabel 8 Sikap Ibu Tabel 9 Perilaku Pencegahan Stunting Pencegahan Stunting Baik Kurang Total Hasil Analisa Bivariat Tabel 10. Hubungan Pola Asuh Dengan Pencegahan Stunting Pada Balita di Posyandu Tunas Segar 4. Kelayan Selatan Banjarmasin Pola Asuh Perilaku Pencegahan Total Jumlah Stunting Baik Kurang Baik Cukup Kurang Jumlah Nilai uji statisktik Spearman rank r hitung= -0,010 (A= 0,. Tabel 11. Hubungan Pengetahuan Ibu Dengan Pencegahan Stunting Pada Balita di Posyandu Tunas Segar 4. Kelayan Selatan Banjarmasin Pengetahuan Perilaku Pencegahan Total Jumlah Stunting Baik Kurang Baik 17,6 13,6 Cukup 11,8 15,2 Kurang 35 71,5 70,6 71,2 Jumlah Nilai uji statisktik Spearman rank r hitung = -0,022 (A= 0,. Alit Suwandewi1. Yustan Azidin 1. Noor Khalilati1. Hanura Aprilia 1. Izma Daud 1. Dea Salamiah 1 Email: alit_dewi@ymail. com Vol. 5 No. DOI: https://doi. org/10. 33859/jni. Accepted: 29 Desember 2024 Journal of Nursing Invention E-ISSN: 2828-281X DOI: https://doi. org/10. 33859/jni Tabel 12. Hubungan Sikap Ibu Dengan Pencegahan Stunting Pada Balita di Posyandu Tunas Segar 4. Kelayan Selatan Banjarmasin Sikap Ibu Perilaku Pencegahan Total Jumlah Stunting Baik Kurang Positif 35 71,4 82,4 74,2 Negatif 14 28,6 17,6 25,8 Jumlah Nilai uji statisktik Spearman rank r hitung= -0,109 (A= 0,. PEMBAHASAN Hubungan Pola Asuh Dengan Pencegahan Stunting Pada Balita di Posyandu Tunas Segar 4. Kelayan Selatan Banjarmasin Hasil uji statistik dengan Spearman rho menunjukkan nilai kemaknaan A = -0,010 dengan taraf signifikansi 0,000 (A < 0,. , yang artinya menunjukkan hubungan berkebalikan sehingga terdapat hubungan antara pola asuh ibu dengan perilaku pencegahan stunting pada balita di Posyandu Tunas Segar 4 Kelayan Selatan Banjarmasin. Hasil penelitian ini memberikan gambaran tentang pola asuh orang tua di Posyandu Tunas Segar 4 Kelayan Selatan. Kota Banjarmasin, yang dibagi menjadi tiga kategori: baik, cukup, dan kurang. Dari 66 responden yang diteliti, mayoritas menerapkan pola asuh orang tua dengan kategori baik, yakni 28 orang atau 42,4%. Sebanyak 9 responden menerapkan pola asuh dengan kategori cukup, yang setara dengan 13,6%. Sementara itu, pola asuh dengan kategori kurang juga cukup banyak, yaitu 29 responden dengan persentase 43,9%. Pola asuh orang tua mencakup cara orang tua mengasuh anak balita dan dapat berpengaruh terhadap kejadian stunting pada balita. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Meliasari . yang berjudul "Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Kejadian Stunting pada Balita di PAUD Al Fitrah Kecamatan Sei Rempah Kabupaten Serdang Bedagai". Penelitian tersebut menyatakan bahwa penerapan pola asuh pada balita sebagian besar berada dalam kategori baik, mencapai 56,2%. Faktor-faktor seperti pendidikan dan pekerjaan juga diidentifikasi sebagai faktor yang berpotensi mempengaruhi status gizi anak. Pola asuh orang tua yang tidak memadai atau buruk memiliki peluang lebih besar untuk menyebabkan anak terkena stunting dibandingkan dengan orang tua yang menerapkan pola asuh yang baik (R. A, 2. Pola pengasuhan anak mencakup beberapa aspek penting seperti pemberian ASI dan makanan pendamping ASI, stimulasi psikososial, praktik kebersihan dan sanitasi lingkungan, serta perawatan anak ketika sakit dengan praktik kesehatan di rumah dan pola pencarian pelayanan kesehatan. Kebiasaan-kebiasaan dalam keluarga seperti cara memberi makan, memberikan rangsangan psikososial, menjaga kebersihan dan sanitasi lingkungan, serta menggunakan layanan kesehatan, semuanya berhubungan secara signifikan dengan kejadian stunting pada anak usia 0-59 bulan (Bella, 2. Peneliti berasumsi bahwa pola asuh baik yang ditunjukkan oleh responden dapat terjadi karena berbagai faktor, salah satunya adalah tingkat pendidikan. Dalam penelitian ini, diketahui bahwa pendidikan terakhir ayah dari balita didominasi oleh lulusan SMA sebanyak 24 ayah dan lulusan SD sebanyak 13 ayah. Sedangkan pendidikan terakhir ibu didominasi oleh lulusan SMA sebanyak 21 ibu dan lulusan SMP sebanyak 11 ibu. Peneliti meyakini bahwa tingkat pendidikan responden dapat mempengaruhi pengetahuan mereka mengenai pola asuh orang tua. Responden dengan pendidikan yang lebih tinggi cenderung lebih mudah dalam mencari, memperoleh, dan menerima informasi, sehingga dapat meningkatkan pengetahuan mereka secara tidak langsung yang kemudian berdampak pada pola asuh orang tua mereka. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Hasbiah . yang berjudul "Hubungan Pengetahuan. Pendapatan Keluarga, dan Pola Asuh dengan Kejadian Stunting pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Pekauman Kota Banjarmasin Tahun 2021". Dalam penelitian tersebut, diketahui bahwa proporsi responden dengan pola asuh yang tepat sebagian besar memiliki balita yang tidak mengalami stunting, yaitu sebanyak 65 responden . %), dengan 56 responden Alit Suwandewi1. Yustan Azidin 1. Noor Khalilati1. Hanura Aprilia 1. Izma Daud 1. Dea Salamiah 1 Email: alit_dewi@ymail. com Vol. 5 No. DOI: https://doi. org/10. 33859/jni. Accepted: 29 Desember 2024 Journal of Nursing Invention E-ISSN: 2828-281X DOI: https://doi. org/10. 33859/jni memiliki balita tidak stunting . ,2%) dan 9 responden memiliki balita stunting . ,8%). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas responden yang menerapkan pola asuh yang tepat memiliki lebih banyak balita yang tidak mengalami stunting, sementara responden dengan pola asuh yang tidak tepat cenderung memiliki lebih banyak balita yang mengalami stunting. Hasil penelitian yang dilakukan Veronika dkk . menunjukkan bahwa stunting dapat dicegah dengan beberapa hal, seperti memberikan ASI eksklusif, memberikan makanan bergizi sesuai kebutuhan tubuh, membiasakan kebiasaan hidup bersih, melakukan aktivitas fisik, dan menyeimbangkan pengeluaran energi dan asupan nutrisi ke dalam tubuh dan menyatukan tumbuh kembang anak secara teratur (Millenium Challenga Account Indonesia,2. Tobing . dengan judul pola asuh ibu dengan kejadian stunting pada anak usia 24-59 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Kelurahan Sekupang Kota Batam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh ibu berdasarkan pemberian makanan, sebagian besar ibu tidak memberikan ASI eksklusif, anak diberikan makanan dan minuman di bawah usia 6 bulan, ibu memberikan sarapan pagi namun anak kesulitan makan. dan lebih menyukai jajanan di warung, sebagian besar ibu menyiapkan makanan anak dan sebagian besar ibu hanya memberikan bubur nasi. Asumsi peneliti terhadap hasil penelitian ini adalah bahwa tidak adanya stunting pada balita dapat disebabkan oleh tingkat kesadaran yang tinggi dari responden tentang pentingnya pemberian gizi yang baik kepada balita. Kesadaran yang baik mengenai pola asuh orang tua berkontribusi pada terbentuknya pola asuh yang sehat, termasuk pemberian makanan bergizi, sehingga pola asuh orang tua cenderung menjadi lebih baik. Sebaliknya, kurangnya kesadaran dapat berdampak negatif pada balita yang mengalami stunting karena pola asuh orang tua yang kurang optimal. Berdasarkan temuan peneliti dan dukungan dari literatur terdahulu, dapat disimpulkan bahwa stunting pada balita secara signifikan terkait dengan kesadaran orang tua tentang kekurangan gizi pada anak. Namun, penting untuk dicatat bahwa pola asuh orang tua yang baik belum tentu mencakup kebutuhan gizi yang memadai, sehingga anak dari orang tua dengan pola asuh yang baik belum tentu terbebas dari risiko kekurangan gizi. Hubungan Pengetahuan Dengan Pencegahan Stunting Pada Balita di Posyandu Tunas Segar 4. Kelayan Selatan Banjarmasin Hasil uji statistik dengan Spearman rho menunjukkan nilai kemaknaan A = -0,022 dengan taraf signifikan 0. 000 (A < 0. yang artinya menunjukkan hubungan berkebalikan sehingga terdapat hubungan antara pengetahuan ibu dengan perilaku pencegahan stunting pada balita di posyandu tunas segar 4 kelayan selatan Banjarmasin Hasil penelitian menunjukkan hubungan pengetahuan dengan perilaku pencegahan stunting pada balita sebanyak 35 responden menurut penelitian ini perilaku pencegahan stunting dapat ditingkatkan melalui pembinaan orang tua dengan diberikan penyuluhan atau edukasi pengetahuan secara rutin tentang pencegahan stunting pada balita karena dengan pengetahuan yang baik keluarga dapat melaksanakan bagaimana cara pencegahan stunting pada balita. Sejalan dengan penelitian tersebut, pengetahuan cukup yang dimiliki oleh orang tuaa balita di posyandu Tunas Segar 4, kelayan selatan Banjarmasin, dalam pencegahan stunting pada balita kemungkinan dipengaruhi oleh faktor pengalaman orang tua dalam merawat balita dengan berat badan lahir rendah, atau faktor keturunan yang memiliki tubuh pendek sehingga keluarga menganggap anaknya bertubuh pendek karena keturunan. Hasil penelitian dengan nilai pengetahuan terbanyak kedua yaitu pengetahuan ibu cukup sebanyak 8 responden Pengetahuan keluarga yang kurang dapat dinilai menurut hasil jawaban responden dengan skor terendah pada kuesioner pengetahuan nomor 11 mengenai bagaimana cara untuk mengetahui anak stunting. Pendidikan terakhir ayah baita yang memiliki pengetahuan kurang didominasi pendidikan SMA tamat sebanyak 24 ayah dan SD tamat sebanyak 13 ayah. Sedangkan pendidikan terakhir dari ibu didominasi pendidikan SMA tamat sebanyak 21 ibu dan SMP tamat 11 ibu. Semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin mudah pula bagi keluarga untuk menyerap informasi, maka tingkat pendidikan dapat mempengaruhi tingkah laku seseorang salam memperbaiki kondisi kesehatannya (Hiswani, 2. Peneliti berasumsi bahwa pengetahuan keluarga balita yang kurang disebabkan karena keluarga sudah menerima informasi melalui pendidikan kesehatan mengenai stunting yang dilakukan oleh petugas kesehatan Puskesmas Alit Suwandewi1. Yustan Azidin 1. Noor Khalilati1. Hanura Aprilia 1. Izma Daud 1. Dea Salamiah 1 Email: alit_dewi@ymail. com Vol. 5 No. DOI: https://doi. org/10. 33859/jni. Accepted: 29 Desember 2024 Journal of Nursing Invention E-ISSN: 2828-281X DOI: https://doi. org/10. 33859/jni Pekauman dan kader posyandu tetapi keluarga balita tidak dapat memahaminya sehingga hanya menganggap informasi tersebut seperti tidak penting. Nilai tingkat pengetahuan baik dengan kategori perilaku pencegahan baik sebanyak 6 responden . ,2%), pengetahuan baik dengan kategori perilaku pencegahan kurang sebanyak 3 responden . ,6%). Pengetahuan ibu yang baik ditunjukkan melalui jawaban skor tertinggi pada pertanyaan kuesioner pengetahuan nomor 4,12,15 mengenai definisi stunting, ciri-ciri stunting, dan penetalakasaan stunting. Tingkat pengetahuan ibu yang baik tidak menjamin memiliki balita dengan status gizi yang normal. Keluarga khususnya ibu yang memiliki pengetahuan baik diharapkan mampu mengaplikasikan pengetahuan yang dimiliki dalam kehidupan sehari-hari. Namun, perilaku selain dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti sosial ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan (Cholifatun & Lailatul Muniroh, 2. Peneliti berasumsi meskipun keluarga balita memiliki pengetahuan yang baik akan tetapi masih memiliki prinsip tidak mau mengajak balitanya ke posyandu dikarenakan merasa nantinya tetap ada kunjungan dari kader ke rumah- rumah, padahal kalau sesaui pengamatan dari peneliti hal tersebut tidak lah efektif, sehingga masih ada balita yang imunisasinya tidak lengap bahkan adanya yang dengan sadar tidak mau membawa anaknya keposyandu untuk imunisasi sedangkan imunisasi yang tidak lengkap merupakan salah satu faktor penyebab balita stunting. Hubungan Sikap Dengan Pencegahan Stunting Pada Balita di Posyandu Tunas Segar 4. Kelayan Selatan Banjarmasin Hasil uji statistik dengan Spearman rho menunjukkan nilai kemaknaan A = -0,109 dengan taraf signifikan 0. 000 (A < 0. yang artinya menunjukkan hubungan berkebalikan sehingga terdapat hubungan antara pengetahuan ibu dengan perilaku pencegahan stunting pada balita di posyandu tunas segar 4 kelayan selatan Banjarmasin. Hasil penelitian sikap positif kategori perilaku pencegahan stunting kurang pada balita sebanyak 14 responden . ,4%). Peneliti menilai sikap positif responden pada kategori kurang dalam perilaku pencegahan stunting kemungkinan besar disebabkan karena ibu masih sangat bergantung pada bimbingan kader atau petugas Sikap positif yang ditunjukkan ibu masih belum bisa membuat ibu percaya diri dan berinisiatif untuk datang ke posyandu secara mandiri karena pihak keluarga merasa masih ada kader yang akan melakukan kunjungan ke rumah selama kegiatan posyandu. Sikap negatif terbanyak pada kategori pencegahan stunting baik yaitu 14 responden . 6%). Hasil skor terendah pada penyataan negatif dapat dinilai dari kuesioner sikap dengan komponen Kognitif yang berada di nomor 3 yaitu Aukeluarga anak stunting tidak perlu diberikan penyuluhan dan pengarahanAy dengan rata rata ibu menjawab Sangat Setuju (SS) dan Setuju (S) dan pertanyaan dengan komponen Konatif no 13 mengenai keluarga hanya Aumemberikan anak susu formula dengan harga yang terjangkauAy mayoritas ibu menjawab sangat setuju (SS) dan setuju (S) pada pernyataan negatif tersebut yang mana seharusnya diberikan jawaban berkebalikan dikarenakan pernyataan-pernyataan tersebut bersikap negatif. Pekerjaan ayah yang memiliki sikap negatif dengan perilaku pencegahan Stunting didominasi ayah bekerja sebagai pekerja swasta sebanyak 30 ayah, pedagang sebanyak 13 ayah, buruh, kuli, bangunan sebanyak 1 ayah, dan lainnya sebanyak 22 ayah, menurut (Yesi, 2. status pekerjaan berhubungan dengan aktualisasi diri seseorang lebih percaya diri dan bertanggung jawab untuk menyelesaikan tugas. Peneliti menilai, pekerjaan ayah balita juga mempengaruhi sikap orang tua dalam melaksanakan pencegahan stunting pada balita, karena ayah merupakan kepala keluarga yang tidak hanya mencari nafkah namun juga perlu memberikan arahan kepada keluarganya. Namun ayah balita kemungkinan besar masih belum memiliki rasa percaya diri dan keinginan untuk mengarahkan ibu dan keluarga balita agar lebih baik lagi dalam rutin mengikuti kegiatan posyandu. Hasil penelitian sikap negatif dengan kategori pencegahan stunting kurang sebanyak 3 responden . ,6%). Sikap merupakan kecenderungan untuk berperilaku namun masih merupakan reaksi tertutup, bukan reaksi terbuka seperti perilaku, sikap merupakan kesiapan individu untuk bereaksi dan reaksi yang ditunjukkan akan berbeda-beda tergantung pada objek sebagai penghayatannya (Notoadmojo, 2. Peneliti beranggapan bahwa sikap negatif dalam mencegah stunting ini merupakan reaksi yang tidak tepat dalam menyikapi stunting pada anak. Sikap keluarga yang Alit Suwandewi1. Yustan Azidin 1. Noor Khalilati1. Hanura Aprilia 1. Izma Daud 1. Dea Salamiah 1 Email: alit_dewi@ymail. com Vol. 5 No. DOI: https://doi. org/10. 33859/jni. Accepted: 29 Desember 2024 Journal of Nursing Invention E-ISSN: 2828-281X DOI: https://doi. org/10. 33859/jni negatif kemungkinan besar akan berubah jika keluarga mengetahui cara mencegah stunting pada KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa, hasil uji statsistik menggunakan uji Spearman rank menunjukkan bahwa Ada hubungan sikap dengan perilaku pencegahan stunting nilai p value -0,109 value < 0,05 sehingga Ha diterima artinya ada hubungan antara variabel hubungan sikap ibu dengan pencegahan stunting pada balita di posyandu tunas segar 4 kelurahan kelayan selatan. Banjarmasin. Saran bagi kader Posyandu dan petugas kesehatan Puskesmas dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya pola asuh dan sikap ibu dalam memantau kebutuhan gizi balitanya, pemberian pendidikan Kesehatan, cara mencegah serta memberikan penatalaksanaan stunting agar tidak terjadi stunting pada balita. Para orang tua yang mempunyai balita usia 0 Ae 60 bulan dapat meningkatkan keaktifannya dalam datang ke posyandu untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan gizi balita agar tidak terjadi peningkatan lagi kejadian stunting pada balita. DAFTAR PUSTAKA