Jurnal Konstruksia | Volume 13 Nomer 1 | [Anggi-Sarwono-Mawardi_Desembe. FAKTOR DAMPAK KETERLAMBATAN PEMBAYARAN KONTRAKTOR KEPADA SUBKONTRAKTOR PADA PROYEK JALAN TOL Anggi Raditya1. Sarwono Hardjomuljadi2. Mawardi Amin3 1Prodi Magister Teknik Sipil. Universitas Mercu Buana. Jl. Meruya Selatan No. 7 Jakarta 11620 Email korespondensi : anggirad123@gmail. 2Prodi Magister Teknik Sipil. Universitas Mercu Buana. Jl. Meruya Selatan No. 7 Jakarta 11620 Email : sarwonohm2@yahoo. 3Prodi Magister Teknik Sipil. Universitas Mercu Buana. Jl. Meruya Selatan No. 7 Jakarta 11620 Email : mawardi. a@gmail. ABSTRAK Kegiatan konstruksi semakin berkembang di Indonesia. Kontraktor yang memenangkan proyek, baik yang diperoleh melalui tender ataupun penugasan negara akan mendapatkan kontrak mengenai detail pekerjaan yang telah disepakati bersama. Kontraktor akan membagi pekerjaan tersebut dan memberikan kesempatan kepada subkontraktor yang akan ikut terlibat baik dengan cara lelang ataupun penunjukan langsung. Pekerjaan konstruksi yang semakin kompleks menyebabkan kontraktor membutuhkan subkontraktor/kontraktor spesialis untuk membantu pekerjaan yang membutuhkan keahlian khusus. Untuk melaksanakan kegiatan tersebut harus didukung oleh suatu kerjasama yang diikat dengan subkontrak yang salah satunya mengatur tentang cara pembayaran. Masalah arus kas kontraktor dan subkontraktor terutama disebabkan oleh keterlambatan pembayaran yang sangat mempengaruhi kinerja Keterlambatan pembayaran pemilik proyek kepada kontraktor merupakan salah satu penyebab keterlambatan proyek. Hal ini berdampak pada keuangan kontraktor menjadi tidak sehat sehingga mengakibatkan kinerja kontraktor turun dan proyek dapat terhenti. Kontraktor akan mengambil langkah terhadap beban keuangannya dengan cara menunda pembayaran kepada subkontraktor. Subkontraktor menjadi tidak mempunyai modal yang cukup dan jika keterlambatan berlangsung lama maka subkontraktor tersebut akan rugi sampai menjadi Berdasarkan rumusan masalah yang penulis paparkan, tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadi dampak keterlambatan pembayaran kontraktor kepada subkontraktor bagi pihak kontraktor dan bagi pihak subkontraktor serta mengidentifikasi faktor paling dominan yang menjadi dampak keterlambatan pembayaran kontraktor kepada subkontraktor bagi pihak kontraktor dan subkontraktor. Studi dilakukan kepada 30 responden yang merupakan gabungan dari kontraktor dan subkontraktor di proyek pembangunan jalan tol di area Jabodetabek. Dengan menggunakan metode analisis faktor dan hasil tingkat dominannya >65%, penulis mendapatkan bahwa penyebab paling dominan bagi pihak kontraktor adalah penurunan produktivitas dan keterlambatan proyek dan bagi pihak subkontraktor terganggunya kesehatan dan kinerja keuangan perusahaan. Kata Kunci : Keterlambatan pembayaran, analisis faktor, faktor dominan ABSTRACT Construction activities are growing in Indonesia. Contractors who win projects, whether obtained through tenders or state assignments, will get a contract regarding the details of the work that has been mutually agreed upon. The contractor will divide the work and provide opportunities for subcontractors who will be involved either by auction or direct appointment. The increasingly complex construction work causes contractors to require subcontractors/specialist contractors to assist with work that requires special skills. To carry out these activities, it must be supported by a cooperation that is bound by a sub-contract, one of which regulates the method of payment. The cash flow problems of contractors and subcontractors were mainly caused by late payments which greatly affected project performance. The delay in payment of the project owner to the contractor . K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 13 Nomer 1 | [Anggi-Sarwono-Mawardi_Desembe. 2021 is one of the causes of project delays. This has an impact on the contractor's finances to be unhealthy, resulting in a decrease in contractor performance and the project may be halted. The contractor will take steps against his financial burden by delaying payments to subcontractors. The subcontractor will not have sufficient capital and if the delay lasts for a long time, the subcontractor will lose until it becomes bankrupt. Based on the formulation of the problem that the authors describe, the purpose of this study is to identify the factors that impact the contractor's late payment to the subcontractor for the contractor and for the subcontractor and identify the most dominant factors that impact the contractor's late payment to the subcontractor for the contractor and subcontractor. The study was conducted on 30 respondents who are a combination of contractors and subcontractors in toll road construction projects in the Jabodetabek area. using the factor analysis method and the result of dominant level >65%, the authors found that the most dominant cause for the contractors was a decrease in productivity and project delay and for the subcontractor the health and financial performance of the company is disrupted Keywords: Late payment, analysis factor, factors dominant PENDAHULUAN Nilai pekerjaan yang dilaksanakan oleh subkontraktor sekitar 80-90% dari proyek konstruksi . Bahkan bisa lebih dari 90% . Pengendalian hubungan antara kontraktor dengan subkontraktor dan supplier menjadi bagian penting yang harus dilakukan . Hubungan tersebut adalah hubungan yang saling menguntungkan. Hubungan kontraktor dengan beberapa subkontraktor di proyek akan berpengaruh pada target penyelesaian proyek. Hubungan subkontraktor diatur dalam kontrak kerja. Keuntungan yang bisa didapat kontraktor adalah diberikannya layanan jasa oleh Pekerjaan yang diserahkan adalah pekerjaan yang tidak cukup sumber Penggunaan metode konstruksi yang ditawarkan subkontraktor juga menjadi hal yang Metode konstruksi dapat berpengaruh pada produktivitas pekerjaan . , sehingga bisa berpengaruh pada Keuntungan memperoleh kontrak baru untuk pekerjaan Pekerjaan subkontraktor adalah untuk menunjang memiliki keahlian yang spesial/khusus dibidangnya, dan jika subkontraktor melaksanakan pekerjaan tersebut, maka seharusnya dapat diselesaikan dalam waktu yang efektif dengan biaya yang efisien dan mutu yang teliti. Hal ini karena subkontraktor memiliki tenaga ahli pada bidangnya, peralatan, dan bahan yang sesuai, serta didukung oleh metode kerja yang digunakan sesuai dengan persyaratan dan handal. Pekerjaan dan teknologi yang kompleks serta kompetisi pasar yang ketat pada industri konstruksi menjadikan kerjasama antar perusahaan konstruksi merupakan hal yang penting untuk dilakukan. Sedangkan hal lainnya adalah perusahaan tersebut menguntungkan dengan adanya kerjasama Kerjasama antar perusahaan konstruksi tersebut akan meningkatkan efisiensi sehingga keuntungan dapat meningkat . Hubungan subkontraktor merupakan hubungan yang tidak sedang berkompetisi secara langsung, namun hubungan ini digunakan untuk meningkatkan project delivery system dan juga supply chain dalam proyek . Hubungan kontraktor dan subkontraktor dilaksanakan untuk saling menguntungkan . Permasalahan yang sering terjadi dari hubungan kontraktor dan subkontraktor . K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 13 Nomer 1 | [Anggi-Sarwono-Mawardi_Desembe. 2021 adalah keterlambatan pembayaran oleh kontraktor . Hal tersebut juga bisa digambarkan dengan grafik aliran kas dengan perbedaan gap kas keluar dan kas masuk antara pembayaran yang cepat dan pembayaran yang terlambat. Permasalahan keterlambatan pembayaran atas pekerjaan juga akan sangat berpengaruh pada kegiatan proyek, khususnya pada tahap konstruksi, dimana terdapat kegiatan produksi, pengiriman, pekerjaan sipil, instalasi dan Kasus pembayaran pekerjaan subkontraktor oleh kontraktor di Indonesia jumlahnya tidaklah sedikit . Maka diperlukan pemahaman subkontrak seperti apa di dalam pekerjaan konstruksi yang dapat diterapkan di proyek . Tetapi penelitian lainnya terkait hubungan kontraktor dan subkontraktor di Indonesia menyatakan bahwa masih perundangan dalam mengatur ketentuan pembayaran dari hubungan tersebut . Beberapa praktisi beranggapan bahwa keterlambatan pembayaran masih bisa diterima, namun anggapan ini nantinya akan memperburuk keadaan sehingga akan menjadi semakin sulit untuk ditangani . Keterlambatan pembayaran ini sangatlah berpengaruh terhadap arus kas perusahaan dan bisa berakibat kebangkrutan sehingga ketepatan terhadap waktu pembayaran sesuai kesepakatan bersama adalah sangat penting . Dalam hal digunakan pekerjaan, perlu dipahami cara pembayaran oleh kontraktor pada subkontraktor apakah pay if paid atau pay when paid . Peraturan pelaksanaan Undang-Undang Jasa Konstruksi No. 2 Tahun 2017 (UUJK 2/2. salah satunya adalah kesetaraan pengguna dan penyedia jasa. Masalah yang pembayaran subkontraktor oleh kontraktor. Hasil kajian menyatakan bahwa UUJK 18/1999 dan UUJK 2/2017 mengatur pembayaran subkontraktor antara lain: kontrak harus mencantumkan hubungan kerja kontraktor dan subkontraktor. kontrak harus mengatur cara pembayaran. pengguna memiliki kewajiban untuk memonitor pembayaran kontraktor kepada subkontraktor dan mengintervensi jika terjadi keterlambatan. adanya ketentuan jika terjadi keterlambatan pembayaran. kewajiban kontraktor dalam memenuhi hak-hak Pelaksanaan pembayaran kepada subkontraktor dijamin dengan mencantumkan ketentuan dalam kontrak . Pelaksanaan peraturan perundangan beserta turunannya akan berdampak terhadap bisnis perusahaan di industri konstruksi. Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 Tentang Jasa Konstruksi (UUJK 2/2. yaitu Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2020 (PP 22/2. sebagai pengganti PP 29/2000. Jumlah perusahaan jasa konstruksi yang terdata di Indonesia pada akhir 2019 adalah 868 perusahaan . , dengan tingkat pertumbuhan setiap tahunnya sekitar 7. Semakin banyak perusahaan yang terlibat, maka semakin banyak juga hubungan kerjasama antara perusahaan tersebut pada pekerjaan Hubungan kerjasama tersebut salah satunya adalah hubungan kerja kontraktor dengan subkontraktor. Selain itu terkait dengan objek penelitian, yaitu jalan tol. Pembangunan infrastruktur jalan tol disebuah negara bisa dijadikan ukuran untuk mengetahui kemajuan perekonomian sebuah negara tersebut. Selain itu, industri jalan tol bisa digunakan untuk mengetahui kesiapan sebuah negara dalam menghadapi peradaban yang cepat dan mudah dalam setiap melakukan aktivitasnya . Pemerintah punya target melipatgandakan panjang tol yang beroperasi dalam 5 tahun ke depan. Pemerintah menargetkan panjang tol yang beroperasi mencapai 4. 817 km Angka itu naik 2. 724 km atau lebih panjang dua kali lipat . dari posisi saat ini yang hanya 2. 166 km. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyatakan 166 km adalah panjang tol yang sudah dibangun dan telah beroperasi hingga . K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 13 Nomer 1 | [Anggi-Sarwono-Mawardi_Desembe. 2021 21 Juli 2020. Jalan tol sepanjang itu dibangun pemerintah sejak 1978. Sepanjang 795 km diantaranya dibangun sejak 19782014. Pemerintah berencana membangun jalan tol sepanjang 18. 850 km lagi. Realisasi 166 km per 21 Juli 2020 pun baru 11,49 persen dari total target yang masih ingin dibangun . TINJAUAN PUSTAKA Isi perjanjian didalam kontrak kerja berisi pasal-pasal yang mengatur hak dan kewajiban para pihak yaitu kontraktor dan Dilihat dari tanggung jawab, ketidakseimbangan antara kontraktor dan pasal-pasal kontrak itu hanya menjelaskan perihal kewajiban cenderung tidak dijelaskan, sebaliknya untuk kontraktor lebih banyak perihal hak yang dijelaskan daripada kewajibannya. Disini seolah-olah subkontraktor berperan sebagai bawahannya kontraktor, dimana subkontraktor adalah pihak yang menerima Jika bawahannya kontraktor dan kontraktor menjadi pimpinannya subkontraktor maka hubungan akan menjadi tidak harmonis dan tidak akan mencerminkan kerja sama yang Subkontraktor pihak yang diperintah memerintah serta masing-masing tidak memperlihatkan kewajibannya. Dalam kontrak antara kontraktor dan pemilik proyek mencerminkan hak dan kewajiban antara keduanya . Menurut . , berdasarkan pengajuan penawaran harga dan pengajuan metode teknik serta disetujui oleh pemilik proyek. Subkontraktor bertanggung jawab kepada kontraktor. Subkontraktor yaitu perusahaan konstruksi yang melakukan kontrak dengan kontraktor untuk melakukan beberapa kegiatan khusus/spesifik yang merupakan bagian dari pekerjaan kontraktor tersebut. Menurut Undang-undang Republik Indonesia No. 18 Tahun 1999 . dan Undang-undang Republik Indonesia No. Tahun 2017 . tentang jasa konstruksi menyebutkan bahwa, kontraktor yaitu badan/orang yang menerima pekerjaan dan melaksanakannya menurut biaya yang telah disediakan dan sesuai dengan peraturan dan syarat-syarat tertentu serta sesuai gambar rencana yang telah disetujui. Keterlambatan pembayaran diartikan target dibandingkan dengan kondisi aktual Atau dengan kata lain waktu pembayaran terlambat dan tidak sesuai aturan pembayaran yang telah disepakati oleh masing-masing pihak. Keterlambatan pembayaran akan mengakibatkan aliran kas menjadi negatif . Aliran kas merupakan aliran uang kas keluar dan masuk akibat dari aktivitas perusahaan serta berapa saldonya setiap periode. Aliran kas kontraktor sudah ada dalam rekayasa biaya kontraktor yang dibuat pada saat penawarann harga yang salah satu perhitungannya bersumber dari penawaran subkontraktor . METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini mendapatkan data dari tempat tertentu dan peneliti melakukan kegiatan pengumpulan data dengan menyebarkan Konsep dari penelitian ini adalah mengumpulkan data sekunder yang terkait dengan topik penelitian sebagai referensi penelitian untuk mendapatkan variabelvariabel, yang kemudian digunakan untuk mengumpulkan data primer dengan Selanjutnya melakukan uji validitas dan reliabilitas dengan SPSS untuk mengetahui kevalidan dan keakuratan alat ukur yang Dari hasil analisis tersebut diketahui faktor dominan melalui analisis faktor untuk selanjutnya melakukan penamaan faktor terbentuk. MasingAemasing variabel terdiri dari faktorAe faktor penyusunnya dan akan menjadi daftar pertanyaan dalam lembar kuesioner . K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 13 Nomer 1 | [Anggi-Sarwono-Mawardi_Desembe. 2021 yang disebarkan kepada responden. Dari berbagai sumber yang diperoleh beberapa terhadap variabel Kontraktor (X. dan Subkontraktor (X. Sebagai menggunakan data sekunder hasil dari sebelumnya didapatkan data sebagai faktor dampak bagi kontraktor (X. faktor dampak bagi subkontraktor (X. Dari berbagai sumber yang diperoleh terdapat total 20 dampak keterlambatan subkontraktor dengan mengambil 2 perspektif yang menjadi dampak yaitu bagi kontraktor dan bagi subkontraktor dengan masingAemasing 10 dampak. INSTRUMEN PENELITIAN Menurut . instrumen merupakan skala penilaian untuk mengukur perilaku orang lain, seseorang melalui individu pada kategori yang bermakna nilai. Kategori tersebut diberi nilai rentang dari rendah ke tinggi dalam bentuk huruf atau Maka instrumen penelitian yaitu alat untuk mengumpulkan data atau informasi yang akan diteliti. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang berisi pernyataan yang akan digunakan untuk memperoleh Sebagai pengukuran nilai kuesioner peneliti menggunakan skala likert. Skala likert menggunakan pertanyaan untuk mengukur perilaku individu dengan merespon 5 . pilihan pada setiap pertanyaan, yaitu, sangat tidak setuju, tidak setuju, netral, setuju, dan sangat setuju. Kuesioner diberikan kepada responden melalui sejumlah pernyataan yang telah Penggunaan kuesioner digunakan respondennya orang yang mengetahui dirinya sendiri, hal-hal yang dinyatakan oleh subyek kepada peneliti adalah benar dan bisa dipercaya, serta interprestasi subyek pertanyaan/pernyataan diajukan adalah sama dengan apa yang dimaksud oleh peneliti . POPULASI DAN SAMPEL Menurut . AuPopulasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari atas objek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannyaAy. Populasi bukan hanya jumlah pada obyek atau subyek yang Tetapi seluruh karakteristik atau sifat yang dimiliki subyek atau obyek itu . Populasi penelitian ini adalah perusahaan kontraktor dan subkontraktor proyek jalan tol di wilayah Jakarta. Bogor. Depok. Tangerang, dan Bekasi. Pengumpulan mengamati seluruh data dari populasi sangat jarang digunakan, karena sangat mahal dan akan menghabiskan waktu dan tenaga yang banyak. Berdasarkan alasan tersebut maka didalam prakteknya, sering digunakan sampling yang akan memberikan nilai taksiran atau perkiraan. Sampling adalah cara pengumpulan sebagian elemen dari populasi yang akan diselidiki. Pengambilan sampel penelitian ini dengan teknik sampling kuota, yaitu teknik untuk menentukan sampel populasi dengan ciriciri tertentu sampai jumlah . yang Kuota sampel yang ditentukan pada penelitian ini adalah minimal 30 orang yang terdiri dari gabungan kontraktor dan Sampel yang diambil pada penelitian ini menggunakan cara acak yaitu suatu cara pemilihan sejumlah elemen dari populasi menjadi anggota sampel, pemilihan dilakukan sehingga setiap elemen mendapat kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel. Menurut . penelitian metode survei, tidak perlu untuk meneliti semua individu dalam populasi, hal itu akan menghabiskan biaya yang sangat besar dan waktu yang lama. K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 13 Nomer 1 | [Anggi-Sarwono-Mawardi_Desembe. ANALISIS DAN PEMBAHASAN Data penelitian didapat dari hasil pihak-pihak di proyek pembangunan jalan tol di area Jabodetabek khususnya pihak Kontraktor dan Subkontraktor Tabel 1. Data Faktor Variabel X1 Var. Faktor X1. Keterlambatan penyelesaian proyek X1. Mempengarui reputasi kontraktor X1. Pengiriman material terhenti X1. Mempengaruhi produktivitas pekerja X1. Dapat menimbulkan perselisihan X1. Owner bisa menahan pembayaran X1. Pabrikasi dan pengetesan material Penundaan pekerjaan X1. Penurunan produktivitas X1. X1. Produktivitas peralatan berkurang X2. X2. Mobilisasi sumber daya . ahan, alat, & tenaga kerj. yang lambat Kurangnya tenaga kerja di lapangan Variabel kontraktor (X. terdiri dari sepuluh pertanyaan seperti pada lampiran Dari 10 faktor tersebut selanjutnya akan dilakukan uji validitasnya, yaitu ukuran yang menunjukkan instrumen/alat ukur mampu mengukur apa yang akan Tujuan uji validitas untuk meyakinkan bahwa kuesioner yang disusun benar-benar baik dalam mengukur gejala sehingga datanya valid. Salah satu metode pertanyaan dengan total skor semua Suatu pertanyaan dikatakan valid jika nilai koefisien korelasi pearson yang dihitung dengan SPSS lebih besar dari nilai koefisien korelasi pearson tabel (Rhitung > Rtabe. Berikut adalah hasil output dari uji dengan menggunakan program SPSS. Uji validitas Tabel 3. Hasil Uji Validitas X1 Tabel 2. Data Faktor Variabel X2 Var. Faktor (X. R . R . Ket. 0,4629 Valid 0,4629 Valid 0,4629 Valid 0,4629 Valid X2. Efek negatif pada supply chain X2. Menyebabkan kebangkrutan X2. Mempengaruhi keuntungan proyek 0,4629 Valid X2. Pertumbuhan perusahaan menjadi 0,4629 Valid 0,4629 Valid X2. Mengurangi kesempatan kerja 0,4629 Valid X2. Arus kas menjadi negatif 0,4629 Valid X2. Dapat menimbulkan perselisihan 0,4629 Valid X2. Keterlambatan akibat telatnya pembayaran pekerja Dari hasil pengujian didapatkan semua . K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 13 Nomer 1 | [Anggi-Sarwono-Mawardi_Desembe. 2021 dinyatakan valid karena nilai korelasi pearson yang dihitung (Rhitun. lebih besar dari koefisien tabel dengan nilai 0,4629 dengan ketelitian 0,01 . %). Tabel 5. Hasil Uji Reliabilitas Var. Koef. Reliabilitas R . Ket. Reliabel Reliabel Tabel 4. Hasil Uji Validitas X2 (X. R . R . Ket. 0,4629 Valid 0,4629 Valid 0,4629 Valid 0,4629 Valid 0,4629 Valid 0,4629 Valid 0,4629 Valid 0,4629 Valid 0,4629 Valid 0,4629 Valid Hasil pengujian didapatkan 10 . pertanyaan dinyatakan valid karena nilai korelasi pearson yang dihitung (Rhitun. lebih besar dari koefisien dari tabel dengan nilai 0,4629 dengan ketelitian 0,01 . %). Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa nilai Cronbach Alpha variabel X1 adalah 0,868 sehingga reliabilitas variabel X1 telah tercapai karena >0,700 dan dari hasil tersebut juga diketahui bahwa nilai Cronbach Alpha variabel X2 adalah 0,814 sehingga reliabilitas variable X2 telah tercapai karena >0,700. Uji normalitas Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah distribusi responden terdistrubusi Untuk mendeteksi normal tidaknya data variabel dapat menggunakan rumus Kolmogorov-Smirnov (K-S). Data terdistribusi normal jika nilai Asymp. Sig. lebih besar dari level of significant . dan dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 6. Hasil Uji Normalitas X1 Uji reliabilitas Setelah diuji validitasnya, data penelitian selanjutnya diuji reliabilitasnya. Uji reliabilitas ini untuk melihat konsistensi dalam mengukur gejala yang sama pada kesempatan yang lain. Konsistensi ini memiliki arti bahwa alat ukur tersebut konsisten untuk mengukur gejala dari suatu kondisi ke kondisi lain. Metode untuk mengukur uji reliabilitas yaitu dengan menggunakan rumus Cronbach Alpha. Instrumen dikatakan reliabel jika nilai reliabilitas > 0,700. Berikut ini adalah hasil uji reliabilitas untuk variabel X1dan X2. One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test TOTAL_X1 Normal Parametersa,b Most Extreme Differences Mean Std. Deviation Absolute Positive Negative Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. -taile. Test distribution is Normal. Calculated from data. Berdasarkan tabel output SPSS, nilai Asymp. Sig . -taile. adalah 0,766 lebih besar dari . K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 13 Nomer 1 | [Anggi-Sarwono-Mawardi_Desembe. 2021 level of significant . maka data variabel kontraktor (X. terdistribusi Normal. Bartlett's df Test of Sphericity Sig. Tabel 7. Hasil Uji Normalitas X2 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test TOTAL_X2 Normal Parametersa,b Most Extreme Differences Mean Std. Deviation Absolute Positive Negative Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. -taile. Test distribution is Normal. Calculated from data. Berdasarkan tabel di atas nilai Asymp. Sig -taile. adalah adalah 0,433 lebih besar dari level of signifikan . , sehingga Subkontraktor (X. dikatakan terdistribusi Normal. Hasil analisis faktor Variabel X1 Uji Kecukupan Data Sampel: Langkah yang dilakukan setelah faktorfaktor telah terbentuk adalah pengujian kecukupan sampel melalui indeks KaiserMeyer-Olkin (KMO). Measure of Sampling Adequacy dan nilai signifikansi Bartlett's Test of Sphericity. Untuk dapat melanjutkan ketahap berikutnya nilai KMO harus >0,5. Berikut ini adalah output nilai KMO sebelum pengurangan factor. Tabel 8. KMO dan BartlettAos Test Tahap 1 KMO and Bartlett's Test Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. Approx. Chi-Square Diketahui nilai KMO MSA sebesar 0,741 > 0,5 dan nilai BartlettAos Test of Sphericity (Sig. ) 0,000 < 0,05, maka analisis faktor dalam penelitian ini dapat dilanjutkan karena sudah memenuhi persyaratan. Uji Korelasi Antar Variabel: Anti Image Matrices untuk mengetahui dan menentukan variabel yang layak pakai dalam analisis faktor. Anti-image Correlation pada tabel tersebut terdapat kode huruf . yang berarti tanda untuk Measure of Sampling Adequacy (MSA). Persyaratan yang harus dipenuhi dalam analisis faktor adalah nilai MSA > 0,50. Jika nilai MSA semua variabel yang diteliti > 0,50, maka semua variabel layak dilakukan analisis faktor. Jika ada variabel yang memiliki nilai MSA < 0,50 maka dilakukan proses analisis ulang hanya untuk variabel yang memiliki nilai MSA > 0,50 Tabel 9. Nilai MSA Variable X1 Tahap 1 Anti-image Matrices X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 X1. 41 - - . 01 - - . 03 0 . 06 5 . 03 9 1 9 . - . 04 - - . 01 - - . X1. 13 3 3 . 07 2 1 . - . 29 - - - - - . X1. 06 3 3 . 07 3 6 7 2 4 3 6 Antiimage Covaria 01 - - . 16 - - . 01 X1. 03 9 . 00 0 4 7 . - - - - . 10 - - . 03 - . X1. 04 8 . 03 2 . 2 1 2 6 - . 08 - - - . 11 - - X1. 03 2 . 02 1 0 . 4 6 9 9 1 9 K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 13 Nomer 1 | [Anggi-Sarwono-Mawardi_Desembe. 2021 Anti-image Matrices X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 X1. 01 - . 00 - . 13 - . 02 9 1 . 03 0 . 03 0 1 . 10 2 . X1. 01 - - . 03 - - . 13 - . 07 4 2 . 10 8 . X1. 03 - . 01 - - . 02 - . 03 9 . 02 3 7 . 00 2 . 01 4 . - . 00 - . 02 - - . 01 - . X1. 04 1 6 . 03 4 . 02 4 . X1. - . 86 - - - - - . X1. 17 1 5a . 37 6 9 5 1 8 7 6 05 - - . 87 - - . 22 9 . 16 1a . 01 3 2 3 . - - - - . 78 - - . 26 - . X1. 33 2a . 32 1 . 6 0 1 8 Antiimage - . 20 - - - . 41 - - X1. Correlat 08 0 . 12 7a 9 . 8 9 1 1 0 7 X1. Tabel 10. Total Variance Explained Variabel Total Variance Explained Com Initial Extraction pon Eigenvalues Sums of Squared Loadings 82 - - . 05 - - . 33 7a . 17 9 . 08 0 5 4 . - . 14 - - . 05 - - . X1. 35 2a 1 . 38 0 1 . X1. Nilai tertinggi adalah 0,865 sedangkan nilai MSA terendah adalah 0,568. Dari tabel diatas sudah memadai untuk dianalisis lebih Maka disimpulkan bahwa seluruh variabel memenuhi syarat karena nilai table di atas >0,5 sehingga dapat ke tahap 05 - . 00 - . 61 - . 32 0 1 . 16 3 . 32 9 9a . 75 9 . X1. 04 - - . 26 - - . 56 - . 37 2 1 . 75 8a . X1. 33 - . 22 - - . 32 - . 69 4 . 21 6 3 . 01 9 . 22 8a . - . 05 - . 38 - - . 19 - . X1. 33 8 9 . 44 7 . 36 8 . 89 0a Measures of Sampling Adequacy(MSA) Rotation Sums of Squared Loadings To % Cum To % Cum To % Cumu tal of ulati tal of ulati tal of lative Vari ve % Vari ve % Vari % 49 93 3 49 493 93 79 793 3 41 11 4 41 411 04 11 111 4 Extraction Method: Principal Component Analysis. Pada tabel Total Variance Explained di atas terdapat 2 faktor yang terbentuk dari 10 faktor yang dimasukkan. Masing-masing faktor eigenvalue >1. K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 13 Nomer 1 | [Anggi-Sarwono-Mawardi_Desembe. 2021 Faktor 1 eigen value sebesar 5,149 dengan variance . ,493%) dan Faktor 2 eigenvalue sebesar 2,341 dengan . ,411%). Dengan mengekstraksi variabel-variabel awal menjadi 2 faktor telah dihasilkan variansi total kumulatif yang cukup besar yaitu 74,904%, artinya dari 2 faktor yang terbentuk sudah dapat kontraktor (X. Tahap selanjutnya adalah rotasi komponen matriks, proses ini bertujuan untuk mendapatkan faktor-faktor dengan factor loading yang cukup jelas untuk diinterpretasikan. Dalam proses ini faktor mana yang masuk kedalam kelompok faktor mana ditentukan. Tabel 11. Rotated Component Matrix Variabel X1 Rotated Component Matrixa Component Faktor 1 terdiri dari: Keterlambatan Mempengarui Mempengaruhi produktivitas pekerja, dapat menimbulkan perselisihan. Owner bisa Penurunan produktivitas. Produktivitas peralatan berkurang sehingga nama faktor yang dapat mewakili anggotanya adalah faktor keterlambatan proyek. Faktor 2 terdiri dari: Pengiriman material terhenti. Pabrikasi dan pengetesan material terhenti. Penundaan pekerjaan, sehingga nama faktor yang dapat mewakili anggotanya adalah faktor terhentinya progress pekerjaan. Variabel X2 Uji Kecukupan Data Sampel: Langkah yang dilakukan setelah faktorfaktor telah terbentuk adalah pengujian kecukupan sampel dengan menggunakan indeks Kaiser- Meyer-Olkin (KMO). Measure of Sampling Adequacy dan nilai signifikansi Bartlett's Test of Sphericity. Untuk dapat melanjutkan ketahap berikutnya nilai KMO harus >0,5. Berikut adalah output nilai KMO sebelum pengurangan faktor. X1. X1. X1. Tabel 12. KMO dan BartlettAos Test Tahap 1 X1. KMO and Bartlett's Test X1. X1. X1. X1. X1. X1. Extraction Method: Principal Component Analysis. Rotation Method: Varimax with Kaiser Normalization. Rotation converged in 3 iterations. Penamaan faktor terbentuk Berdasarkan hasil dari rotasi komponen Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. Approx. ChiSquare Bartlett's Test of Sphericity df Sig. Diketahui nilai KMO MSA sebesar 0,735 > 0,5 dan nilai BartlettAos Test of Sphericity (Sig. ) 0,000 < 0,05, maka analisis faktor pada penelitian ini dapat dilanjutkan karena memenuhi persyaratan. Uji Korelasi Antar Variabel: Anti Image Matrices berguna untuk mengetahui dan menentukan variabel yang layak pakai dalam analisis faktor. Anti-image 10 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 13 Nomer 1 | [Anggi-Sarwono-Mawardi_Desembe. 2021 Correlation pada table tersebut terdapat kode huruf . yang berarti tanda untuk Measure of Sampling Adequacy (MSA). Persyaratan yang harus dipenuhi dalam analisis faktor adalah nilai MSA > 0,50. Jika nilai MSA semua variabel yang diteliti > 0,50, maka semua variabel layak dilakukan analisis faktor. Jika ada variabel yang memiliki nilai MSA < 0,50 maka dilakukan proses analisis ulang hanya untuk variabel yang memiliki nilai MSA > 0,50 Tabel 13. Nilai MSA Variabel X2 Tahap 1 Anti-image Matrices X2. X2. X2. X2. X2. X2. X2. X2. X2. X2. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 22 - - - - - . 01 - - . X2. 11 7 . 2 2 1 4 8 - . 41 - - - . 09 - - . X2. 00 3 . 15 6 . 01 6 7 8 5 4 - - . 06 - - - . 01 - X2. 18 0 2 . 01 5 . 8 7 3 - - . 02 - . 00 X2. 07 2 5 3 1 . 07 3 5 . - - - . 05 - . 02 X2. 12 3 2 3 3 . 01 7 . 4 4 8 Antiimage Covaria - . 09 - . 45 - - . 06 X2. 11 6 . 01 1 3 9 . 02 0 . 01 - - - . 05 - . 15 - . X2. 07 3 . 01 3 . 04 4 9 0 3 6 - - . 02 - - - . 02 - X2. 01 5 3 . 04 6 . 4 5 4 - . 02 - . 02 - . 03 X2. 00 6 . 02 5 7 0 4 . 02 6 . Anti-image Matrices X2. X2. X2. X2. X2. X2. X2. X2. X2. X2. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 92 - - - - - . 09 - - . X2. 36 0 . 7 5 1 3 6 - . 62 - - - . 22 - - . X2. 00 8a . 34 0 . 12 5 6 2 0 4 - - . 19 - - - . 14 - X2. 45 0a 0 . 04 1 . 5 9 9 - - . 06 - . 05 X2. 23 0 8a 3 2 . 38 1 4 . - - - . 19 - . 20 X2. 28 3 7a 3 7 . 12 1 . Anti- 5 3 4 5 Correlat - . 22 - . 64 - - . 46 X2. 36 0 . 03 2 3 9a . 22 2 . X2. 09 - - - . 19 - . 72 - . 38 7 . 05 1a . 70 1 0 8 9 7 - - . 28 - - - . 70 - X2. 12 1 1 . 70 6a . 6 5 0 - . 21 - . 32 - . 71 X2. 02 5 . 16 4 1 2 1 . 81 4a . X2. 08 - - - - . 32 - - . 9 6 . 35 0 . 39 7a 7 9 2 8 Measures of Sampling Adequacy (MSA) Nilai tertinggi adalah 0,921 sedangkan nilai MSA terendah adalah 0,628. Dari tabel diatas sudah memadai untuk dianalisis lebih Maka disimpulkan bahwa seluruh variabel memenuhi syarat dengan nilai table di atas > 0,5 sehingga dapat ke tahap 01 - - - - . 03 - - . X2. 9 7 . 07 9 . 6 5 5 6 11 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 13 Nomer 1 | [Anggi-Sarwono-Mawardi_Desembe. 2021 Tabel 14. Total Variance Explained Varibel Total Variance Explained Comp Initial onent Eigenvalues Extraction Rotation Sums Sums Squared Squared Loadings Loadings To % ofCumu To % ofCumu To % ofCumu tal Vari lative tal Vari lative tal Vari lative faktor-faktor dengan factor loading yang cukup jelas untuk diinterpretasikan. Dalam proses ini faktor mana yang masuk kedalam kelompok faktor mana ditentukan. Tabel 15. Rotated Component Matrix Variabel X2 Rotated Component Matrixa Component X2. 38 81 9 38 81 9 00 00 9 X2. X2. X2. X2. X2. X2. X2. X2. X2. 61 08 8 61 08 8 99 89 9 Extraction Method: Principal Component Analysis. Pada tabel Total Variance Explained di atas ada 2 faktor yang terbentuk dari 10 faktor yang dimasukkan. Masing-masing faktor eigenvalue > 1. Faktor 1 eigen value sebesar 5,061 dengan variance . ,608%) dan Faktor 2 eigenvalue sebesar 1,938 dengan variance . ,381%). Dengan mengekstraksi variabel-variabel awal menjadi 2 faktor, dihasilkan variansi total kumulatif yang cukup besar yaitu 69,989%, artinya dari 2 faktor yang terbentuk dapat mewakili 10 pembayaran bagi kontraktor (X. Tahap selanjutnya adalah rotasi komponen matriks, proses ini untuk mendapatkan Extraction Method: Principal Component Analysis. Rotation Method: Varimax with Kaiser Normalization. Rotation converged in 3 Penamaan Faktor Terbentuk Berdasarkan hasil dari rotasi komponen Faktor 1 terdiri dari: Efek subkontraktor. Pertumbuhan perusahaan menjadi lamban. Arus kas menjadi negatif. Dapat Keterlambatan akibat telatnya pembayaran pekerja. Mobilisasi sumber daya . ahan, alat, & tenaga kerj. yang lambat. Kurangnya tenaga kerja di lapangan, sehingga nama faktor yang dapat mewakili anggotanya adalah faktor melemahnya kesehatan dan kinerja perusahaan. Faktor 2 terdiri dari: 12 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 13 Nomer 1 | [Anggi-Sarwono-Mawardi_Desembe. 2021 Menyebabkan Mempengaruhi Mengurangi kesempatan kerja, sehingga nama faktor yang dapat mewakili anggotanya adalah faktor kebangkrutan Analisis hasil Berdasarkan tahapan metode analisis faktor yang peneliti lakukan, diperoleh hasil perhitungan kecukupan data dan korelasi antar faktor, penentuan jumlah faktor, rotasi faktor, dan intepretasi faktor. Untuk masingmasing variabel, yaitu pihak kontraktor (X. dan subkontraktor (X. diperoleh 2 faktor terbentuk berdasarkan hasil dari rotasi komponen matriks. Pada perhitungan analisis di sub bab sebelumnya, tidak ada faktor yang harus dikeluarkan atau dikurangkan, semua faktor memadai untuk dianalisis lebih lanjut. Berdasarkan hasil tersebut, peneliti menilai perlu adanya usulan solusi yang dilakukan untuk pembayaran dari kontraktor bagi pihak kontraktor dan bagi subkontraktor, antara lain dengan membuat forum komunikasi, mengevaluasi track record pembayaran kontraktor, dibuatkan matriks komitmen masing-masing pihak, perbaikan prosedur KESIMPULAN Analisis faktor untuk variabel X1 dan X2 mendapatkan kesimpulan sebagai berikut: Faktor terbentuk bagi pihak kontraktor (X. Faktor produktivitas dan keterlambatan Faktor 2: terhentinya progress Faktor subkontraktor (X. Faktor 1: melemahnya kesehatan dan kinerja perusahaan Faktor 2: kebangkrutan perusahaan Faktor paling dominan: Bagi pihak kontraktor (X. adalah penurunan produktivitas, dengan detail nilai factor loading dari rotasi A Keterlambatan proyek . A Mempengarui kontraktor . A Mempengaruhi pekerja . A Dapat perselisihan . A Owner pembayaran . A Penurunan . A Produktivitas berkurang . bagi pihak subkontraktor (X. telatnya pembayaran pekerja, dengan detail nilai factor loading dari rotasi komponen matriks, sebagai berikut: A Efek negatif pada supply chain A Pertumbuhan menjadi lamban . A Arus kas menjadi negatif . A Dapat perselisihan . A Keterlambatan akibat telatnya pembayaran pekerja . A Mobilisasi sumber daya . ahan, alat, & tenaga kerj. yang lambat A Kurangnya tenaga kerja di lapangan . DAFTAR PUSTAKA