Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 ANALISIS METODE DAN MANFAAT PENDALAMAN KITAB SUCI PADA KELOMPOK EMAUS JOURNEY JALAN GODEAN YOGYAKARTA Bofry Wahyu Samosir. Indra Tanureja Universitas Sanata Dharma Yogyakarta bofriw197@gmail. indratanureja@usd. Abstract This study analyzes the methods and benefits of Bible study for Christian believers. Studying the Bible provides many benefits in the life journey of Christian believers. Still, the various challenges and difficulties that believers face in finding meaning in the Bible's text, as well as the unstructured interpretation methods, often become obstacles to obtaining these benefits. This study uses a qualitative descriptive method with a survey approach to eight . Emmaus Journey Bible Apostolate group members in Jalan Godean. Yogyakarta. Data were collected through a questionnaire containing several written questions about the interpretation method, benefits, and meanings obtained after studying the Bible. The study results show that studying the text of the Bible not only brings people closer to the Bible but also improves the quality of believers' understanding regarding the Bible and increasingly enables believers to live according to the Word of God in everyday life. In this case, believers need to use the right methods and approaches to interpret the text of the Bible according to its literary form and type. Some methods and approaches that can be used are the interpretation method in Dei Verbum 12, the historical-critical method, the narrative method, the sociological approach, the cultural anthropology approach, the psychological and psychoanalytic approach, and the allegorical This study concludes that the study of the Bible has a great opportunity to help Christian believers explore the spiritual riches in the Bible, as long as the believers can interpret the texts in the Bible with the right methods and approaches and based on the three meanings of the texts in the Bible, namely the literal meaning, the spiritual meaning, and the deeper meaning. Recommendations are given to the BibleAos apostolate group to develop the methods and approaches to interpreting the texts of the Bible. Keywords: Bible. Interpretation Method. Dei Verbum. Meaning of Text Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 PENDAHULUAN Pendalaman teks Kitab Suci merupakan salah satu bagian yang penting bagi umat beriman Kristiani untuk meningkatkan pemahaman mengenai Kitab Suci. Baik secara pribadi maupun kelompok, umat memiliki semangat untuk merenungkan dan membagikan hasil permenungannya terkait inspirasi dalam Kitab Suci, salah satunya adalah kelompok kerasulan Kitab Suci Emaus Journey Jalan Godean. Kekhasan dari kelompok ini adalah masing-masing anggota mendalami teks Kitab Suci yang telah ditentukan dalam buku panduan, serta membagikannya dalam pertemuan rutin. Bahkan setiap hari, masing-masing anggota mendalami teks bacaan liturgi harian dan membagikan hasil permenungannya ke dalam Jurnal Harian Emaus Journey. Tujuannya agar bisa saling memperkaya dalam memahami teks Kitab Suci. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, ditegaskan bahwa katekese pendalaman Kitab Suci dapat meningkatkan rasa percaya diri dan keberanian dalam mengungkapkan pengalaman iman (Ason & Septian, 2. Selain itu, penelitian lain menegaskan bahwa pendalaman Kitab Suci yang dilakukan dengan sharing dapat membentuk sikap hidup yang baik dalam kehidupan (Maria, 2. Secara khusus, melalui penelitian yang telah dilakukan peneliti melalui metode survei dengan membagikan kuesioner, peneliti menemukan manfaat yang didapatkan dari masing-masing anggota setelah mendalami teks Kitab Suci. Secara kesuluruhan, anggota mengatakan bahwa pendalaman teks Kitab Suci ini tidak hanya menambah pengetahuan mereka, tetapi juga membantu dalam hidup kesehariannya sesuai dengan Sabda Allah. Namun, dalam proses pendalaman Kitab Suci ini, peneliti melihat bahwa kelompok kerasulan ini juga masih mengalami kesulitan. Kesulitan ini bisa terjadi karena mereka belum mengenal dan belum memiliki metode yang tepat untuk menafsirkan teks Kitab Suci dan juga belum mengetahui makna-makna khusus dalam teks Kitab Suci. Berkaitan dengan hal tersebut, maka artikel ini bertujuan untuk memberikan penjelasan mengenai metode penafsiran dalam teks Kitab Suci serta tiga makna teks Kitab Suci. Pengetahuan yang mendalam tentang metode penafsiran dan tiga makna teks kitab Suci ini tentu akan semakin membantu umat beriman Kristiani, terutama kelompok-kelompok kerasulan Kitab Suci dalam merenungkan teks Kitab Suci secara mendalam. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif untuk memberikan deskripsi atau penjelasan yang detail mengenai metode penafsiran teks Kitab Suci dalam hidup Gereja, tiga makna teks Kitab Suci, serta berbagai manfaat dari pendalaman teks Kitab Suci yang dialami oleh kelompok kerasulan Kitab Suci Emaus Journey Jalan Godean Yogyakarta. Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 II. PEMBAHASAN Kajian Teori Kitab Suci dalam Hidup Gereja Konsili Vatikan II dalam Dei Verbum artikel 25 mendorong kaum beriman Kristiani, terutama mereka yang mendapatkan tugas sebagai pelayan Sabda untuk semakin berpegang teguh pada Kitab Suci serta berupaya untuk menemukan kegembiraan dalam membaca dan mempelajari Kitab Suci. Tujuan utama dari pembacaan Kitab Suci adalah agar umat beriman tidak hanya sekadar memiliki pengetahuan saja, tetapi juga semakin mampu mengenal Yesus secara mendalam, dan mendapatkan pengertian yang mulia mengenai Yesus Kristus (Fil 3:. Berkaitan dengan hal ini. Konsili Vatikan II mendorong umat beriman agar semakin aktif, kreatif dan tekun dalam membaca Kitab Suci, yaitu dengan setia pada liturgi suci, lectio divina, maupun melalui Lembaga atau bantuan lain, seperti Kerasulan Kitab Suci. Dalam hal ini, umat beriman perlu menyadari bahwa doa harus menjadi langkah utama dalam membaca Kitab Suci agar terjadi wawancara Rohani yang mendalam antara Allah dengan umat beriman. Pentingnya Penggunaan Metode Penafsiran Kitab Suci yang Tepat Penafsiran teks Kitab Suci merupakan salah satu hal yang penting bagi umat beriman Kristiani agar bisa memahami dan menemukan makna teks Kitab Suci secara utuh. Berkaitan dengan penafsiran ini. Konsili Vatikan II, dalam Dei Verbum 12, memberikan petunjuk bahwa ada dua aspek penting yang perlu diperhatikan ketika menafsirkan teks Kitab Suci, yaitu konteks teks Kitab Suci dan kesatuan Kitab Suci dengan Tradisi Gereja. Maka, dalam hal ini, umat beriman tentunya perlu memiliki pengetahuan yang mendalam mengenai metode-metode penafsiran teks Kitab Suci. Dengan demikian, umat bisa menafsirkan teks Kitab Suci secara tepat dan sesuai dengan konteks Kitab Suci. Bahkan penafsiran teks Kitab Suci dengan metode yang tepat ini bisa membentuk habitus umat beriman untuk selalu mendapatkan makna teks Kitab Suci yang bisa memperdalam iman dalam perjalanan hidup sehari-hari (Elizabeth, 2. Kesulitan dan Tantangan dalam Menafsirkan Teks Kitab Suci Penulisan teks Kitab Suci seperti yang ada sekarang ini tentu menjadi hasil dari proses yang sangat panjang, dan mencapai puncaknya pada kanonisasi Kitab Suci. Seringkali istilah-istilah yang digunakan dalam teks Kitab Suci, serta konteks penulisan teks tersebut menjadi dua kesulitan terbesar bagi para pembaca Kitab Suci untuk memahami teks-teks Kitab Suci sesuai dengan intentio textual atau maksud asli dari teks Kitab Suci tersebut. Bahkan, meskipun umat beriman rajin membaca Kitab Suci setiap hari, tetapi kalau tidak didukung dengan metode penafsiran yang tepat, maka umat beriman akan tetap mengalami kesulitan untuk Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 menghubungkan pesan teks Kitab Suci dengan realitas hidup mereka (Kisaciri. Berhadapan dengan kesulitan dan tantangan ini, maka umat beriman perlu melatih diri untuk terus membaca dan menafsirkan teks Kitab Suci dengan metodemetode penafsiran yang telah dikembangkan oleh Gereja secara turun-temurun. Manfaat Pendalaman Teks Kitab Suci dalam Komunitas Iman Pendalaman teks Kitab Suci tentu membawa manfaat rohani bagi umat Dirk J Smit . mengatakan bahwa ketika berhadapan dengan teks Kitab Suci, umat beriman sebaiknya tidak hanya berfokus untuk membaca atau menguasan teks Kitab Suci, tetapi juga perlu membuka diri sepenuhnya untuk AudibacaAy oleh teks. Hal ini berarti bahwa umat beriman perlu membiarkan teks Kitab Suci AuberbicaraAy, yaitu memberikan inspirasi, mengkritik dan mengarahkan serta menuntun umat beriman pada sebuah refleksi iman yang kontekstual. Bagi Dirk J. Smith ini adalah sebuah transformasi dari pembacaan Kitab Suci, yaitu pengalaman membaca Kitab Suci menjadi perjumpaan spiritual yang semakin memperkaya umat beriman dengan pesan-pesan Rohani yang bermanfaat dalam perjalanan hidup sehari-hari. Secara khusus, ketika umat beriman berusaha membaca Kitab Suci dengan kacamata karya penyelamatan Allah, maka teks Kitab Suci itu bisa semakin menginspirasi umat beriman untuk mengupayakan hidup yang lebih adil dan penuh kasih dalam hidup sehari-hari, maupun dalam hidup komunitas (Dirk J Smit, 2. Bagi James W. Fowler, transformasi sikap inilah yang disebut sebagai karakteristik dari universalizing faith atau iman universal. Fowler . menegaskan bahwa iman itu bisa semakin bertumbuh dalam lingkup komunitas iman yang saling Hal ini berarti bahwa pendalaman teks Kitab Suci yang dilakukan dalam komunitas akan membantu umat beriman untuk memiliki iman universal seperti Yesus Kristus yang diwartakan dalam Kitab Suci. Metodologi Penelitian Dalam penelitian ini, ada dua metode yang diterapkan. Pertama, adalah metode studi pustaka yang berfokus untuk membaca dan mencermati berbagai sumber ilmiah yang berkaitan dengan penafsiran Kitab Suci, terutama dokumen Gereja seperti Dei Verbum (Konsili Vatikan II), dokumen Penafsiran Alkitab dalam Gereja (Komisi Kitab Suci Kepausan, 1. , serta berbagai literatur akademik lain yang relevan. Metode studi pustaka ini tentunya menjadi fondasi konseptual dalam memahami pendekatan hermeneutis Gereja dan mengembangkan kerangka teoritis dalam penelitian ini. Kedua, adalah metode penelitian kualitatif deskriptif. Melalui metode ini, peneliti mengumpulkan serta menganalisis data empiris dari anggotaanggota kelompok Emaus Journey. Secara khusus, dalam upaya memilih responden, peneliti menggunakan teknik sampling insidental, yaitu memilih serta Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 melibatkan anggota komunitas yang hadir, aktif dan siap sedia berpartisipasi pada saat penelitian berlangsung (Sugiyono, 2. Dalam penelitian ini, terdapat delapan orang dewasa yang terpilih sebagai informan, dan jumlah ini sesuai dengan struktur kelompok Emaus Journey yang memang dibatasi maksimal sepuluh orang untuk menjaga intensi, kedalaman refleksi, dan dinamika partisipatif dalam kelompok kecil. Setelah mendapatkan informan, peneliti menyusun dan membagikan kuesioner terbuka yang memuat beberapa pertanyaan tertulis, yaitu mengenai manfaat yang dirasakan selama mengikuti pendalaman Kitab Suci, metode atau langkah-langkah yang digunakan dalam menafsirkan teks, serta makna yang ditemukan dari teks Kitab Suci dalam perjalanan hidup sehari-hari. Dengan metode ini peneliti menjadi lebih mudah untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai pengalaman individu dan dinamika kelompok dalam pendalaman Kitab Suci. Setelah hasil kuesioner terkumpul, peneliti menganalisis jawaban dengan menggunakan metode analisis deskriptif, sebagaimana dikemukakan oleh Soejono . Melalui analisis inilah, peneliti mengidentifikasi pola-pola pemahaman, pengalaman spiritual, serta metode yang digunakan oleh setiap anggota dalam mendalami Kitab Suci. Melalui eksplorasi yang mendalam antara metode studi pustaka dengan pendekatan kualitatif deskriptif, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pemahaman tentang pendalaman Kitab Suci dalam konteks komunitas iman umat beriman. Hasil Penelitian dan Diskusi Pendalaman Kitab Suci dalam Kelompok Emaus Journey Manfaat Pendalaman Kitab Suci Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan membuat dan mengirimkan makna atas bacaan Perayaan Ekaristi harian ke dalam Jurnal Harian Emaus Journey memberikan dampak yang mendalam dan positif bagi kehidupan rohani para peserta. Sebagian besar informan menyatakan bahwa mereka menjadi lebih rajin membaca Kitab Suci, memahami serta merenungkannya, dan semakin terdorong untuk menerapkan Sabda Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, informan pertama menuturkan bahwa dirinya bukan hanya membaca dan merenungkan firman Tuhan, tetapi juga berdoa dan berusaha menjadi saksi Kristus melalui tindakan nyata. Beberapa informan juga mengalami peningkatan dalam hal pemahaman dan Informan kedua menyampaikan bahwa kegiatan ini menambah pemahaman terhadap makna firman Tuhan, menumbuhkan semangat untuk terus membaca Kitab Suci, dan membuka wawasan bahwa setiap orang bisa memiliki pemaknaan yang berbeda terhadap teks yang sama, namun semuanya tetap bermakna dan membangun. Hal serupa dirasakan oleh informan ketiga yang Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 mengaku semakin terdorong untuk membaca Kitab Suci dan mengalami damai dalam relasi yang semakin akrab dengan Tuhan Yesus. Aspek kerinduan spiritual juga terlihat dalam pernyataan informan keempat, yang mengungkapkan mulai merasakan kerinduan jika tidak membaca Kitab Suci dan juga mengalami ketertarikan untuk terus berbuat kebaikan, dimotivasi oleh kasih dan kebersamaan dengan komunitas Emaus Journey. Informan kelima menambahkan bahwa dirinya menjadi lebih percaya diri dalam membagikan pengalaman iman dan menafsirkan firman Tuhan dalam konteks kehidupan pribadi. Sementara itu, informan keenam menggarisbawahi keyakinannya yang semakin kuat dalam mewartakan Sabda Tuhan, baik melalui kata-kata maupun tindakan. Informan ketujuh mencatat bahwa kegiatan membaca Kitab Suci yang terarah sesuai kalender liturgi membantunya menelaah bacaan dengan lebih reflektif, mengaitkannya dengan pengalaman hidup sehari-hari, dan menuliskan makna personal dari sabda Tuhan. Akhirnya, informan kedelapan menggarisbawahi pentingnya kebersamaan dalam komunitas yang memiliki tujuan rohani serupa, di mana saling mendengarkan dan berbagi pengalaman iman menjadi bagian dari pertumbuhan spiritual bersama. Dirinya juga menambahkan bahwa proses menulis jurnal bukan hanya tentang refleksi, tetapi juga tentang membangun komitmen hidup sesuai firman Tuhan, yang ditutup dengan doa dan aksi nyata sebagai wujud konkret dari iman yang dihidupi. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendalaman teks Kitab Suci memberikan berbagai manfaat yang nyata bagi para Kegiatan ini mendorong mereka untuk semakin rajin dalam membaca Kitab Suci sebagai bagian dari rutinitas spiritual harian. Seiring dengan itu, pemahaman mereka terhadap isi Kitab Suci juga semakin mendalam, dan proses saling berbagi makna dari hasil permenungan pribadi memungkinkan terjadinya pertukaran wawasan yang memperkaya antaranggota komunitas. Selain memperluas pemahaman, kegiatan ini juga membangun iklim saling menguatkan di antara para anggota. Melalui refleksi yang dibagikan, masing-masing pribadi memperoleh kekuatan baru dalam menjalani hidup beriman. Keyakinan akan pewartaan dan kebenaran yang terkandung dalam Kitab Suci pun menjadi semakin teguh, karena mereka mengalami sendiri bagaimana Sabda Tuhan bekerja dalam kehidupan sehari-hari. Lebih jauh lagi, pendalaman Kitab Suci melalui kegiatan ini membentuk pribadi-pribadi yang lebih berani dan percaya diri dalam mewartakan firman Tuhan. Pewartaan ini dilakukan baik secara lisan dalam interaksi sosial maupun secara tertulis melalui Jurnal Harian Emaus Journey. Dengan demikian, kegiatan ini bukan hanya membina kehidupan iman secara pribadi, tetapi juga membentuk komunitas yang aktif dan bertumbuh dalam perutusan sebagai pewarta Sabda Tuhan. Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Langkah-langkah dalam Merenungkan Kitab Suci Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh informan mengalami proses spiritual yang mendalam melalui kegiatan membaca, merenungkan, dan menuliskan makna bacaan harian Kitab Suci ke dalam Jurnal Harian Emaus Journey. Setiap informan memiliki pendekatan yang unik, namun semuanya menunjukkan adanya keterlibatan pribadi dan kesungguhan dalam menggali Sabda Tuhan serta mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari. Informan pertama menekankan pentingnya memohon bimbingan Roh Kudus sebelum membaca Kitab Suci. Dirinya terbiasa mencari Auayat emasAy sebagai inti permenungan, yang kemudian dijadikan pegangan dalam hidup sehari-hari. Hal ini menandakan bahwa bacaan Kitab Suci bukan hanya menjadi bahan bacaan rohani, tetapi menjadi sumber inspirasi nyata dalam tindakan konkret. Informan kedua melakukan pendekatan yang lebih mendalam dan analitis. Dirinya membaca dan mengulang teks, memahami konteks perikop sebelum dan sesudahnya, serta membandingkan dengan tulisan penginjil lain, juga menghubungkan pemaknaan bacaan dengan kehidupan masa kini dan refleksi orang lain. Pendekatan ini menunjukkan upaya yang serius dalam memahami Sabda Tuhan secara Informan ketiga mengungkapkan bahwa dirinya memahami bacaan harian melalui renungan singkat yang dikirim oleh teman-teman lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa komunitas memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman dan membangun spiritualitas bersama. Sementara itu, informan keempat menjelaskan bahwa dirinya tidak hanya membaca dan merenungkan bacaan, tetapi juga berdoa memohon terang Roh Kudus, menuliskan makna bacaan dalam jurnal, dan melakukan refleksi yang berdampak pada perubahan sikap terhadap Tuhan dan sesama. Ini menunjukkan adanya keterlibatan afektif dan transformasi pribadi melalui praktik ini. Informan kelima mengaitkan teks Kitab Suci dengan pengalaman hidupnya. Dirinya merasakan bahwa Sabda Tuhan menjadi AumembumiAy ketika dihayati secara Meski melaksanakan Sabda Tuhan dirasa tidak selalu mudah, namun diakui bahwa ketaatan pada firman membawa kedamaian batin. Informan keenam menekankan pentingnya memahami pesan Tuhan, menikmati dan bersyukur atas Sabda yang diterima, serta menanggapi-Nya dengan niat dan doa, terutama dalam doa keluarga. Kegiatan ini merupakan dialog spiritual yang intim antara dirinya dengan Allah. Informan ketujuh menggunakan pendekatan reflektif dengan membaca perikop secara menyeluruh, mencari latar belakang konteks bacaan, menggali kata kunci, menghubungkan makna teks dengan pengalaman hidup, dan juga mengutamakan refleksi pribadi yang mendalam sebagai bentuk keterlibatan Informan kedelapan menyampaikan bahwa selalu mencari bacaan sesuai kalender liturgi, membacanya secara cermat, dan merenungkannya dengan bantuan Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Roh Kudus. Setelah memahami maknanya secara utuh, baru menuliskan hasil permenungan ke dalam jurnal harian. Secara keseluruhan, langkah-langkah yang dilakukan dalam menafsirkan teks Kitab Suci dimulai dengan memohon pertolongan Roh Kudus agar pembaca dibimbing dalam memahami isi firman Tuhan. Selanjutnya, pembaca melakukan pembacaan teks Kitab Suci secara berulang-ulang guna menangkap makna yang lebih mendalam dari bacaan tersebut. Setelah itu, pembaca berusaha menghubungkan isi teks Kitab Suci dengan pengalaman hidup sehari-hari agar maknanya dapat dihayati secara kontekstual dan relevan dengan kehidupan nyata. Berdasarkan hasil penelitian ini, terlihat bahwa sejauh ini belum ditemukan suatu metode atau pendekatan yang khas dan terarah yang digunakan dalam merenungkan, menafsirkan, serta menemukan makna atau pesan tersirat dalam teks Kitab Suci. Oleh karena itu, ketika mengalami kesulitan dalam menemukan makna dari teks Kitab Suci, sebagian besar pembaca cenderung mencari bantuan dari permenungan yang disampaikan oleh orang lain. Tantangan yang muncul dari situasi ini adalah munculnya ketergantungan terhadap tafsir dari luar, sehingga pembaca Kitab Suci sering kali tidak mampu menemukan makna yang khas dan personal dari teks yang sedang direnungkan. Makna Teks Kitab Suci Dalam Hidup Sehari-hari Berdasarkan hasil wawancara, informan pertama mengungkapkan bahwa membaca dan merenungkan Kitab Suci memberikan sukacita dan semangat untuk ambil bagian dalam kehidupan menggereja. Meskipun hidup tidak selalu mudah, melalui sabda Tuhan dirasakan adanya kelancaran dan kemudahan dalam menghadapi kesulitan. Pengalaman tersebut menjadi berkat bukan hanya bagi diri sendiri, melainkan juga bagi orang-orang di sekitar. Informan kedua menyampaikan bahwa makna dalam Kitab Suci sangat kaya. Dalam satu perikop saja dapat ditemukan lebih dari satu pesan, seperti ajakan untuk menyangkal diri dan memanggul salib dalam mengikuti Yesus. Usaha yang dijalani bersama Yesus diyakini akan membuahkan hasil yang baik. Menurut informan ketiga, pesan-pesan Kitab Suci senantiasa mengajarkan untuk menjalani hidup dengan pikiran positif, penuh kebijaksanaan, dan kasih. Kitab Suci menjadi pedoman dalam bersikap dan mengambil keputusan sehari-hari. Informan keempat menegaskan bahwa seluruh isi Kitab Suci merupakan ajakan untuk berbuat baik. Tidak ditemukan satu pun teks yang mendorong kepada Kitab Suci dipahami sebagai sumber utama kehidupan, dengan dasar yang berakar pada Allah sendiri. Sementara itu, informan kelima mengungkapkan bahwa makna yang terkandung dalam Kitab Suci sangat luar biasa. Seluruh isi Alkitab memberikan tuntunan, pengharapan, dan semangat untuk melaksanakan kasih dalam kehidupan. Saat perasaan galau atau sedih melanda, membaca Kitab Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Suci menjadi obat penenang hati. Dalam doa. Roh Kudus dirasakan hadir dan menumbuhkan pengharapan serta kebahagiaan yang menguatkan. Informan keenam menyampaikan bahwa sabda Tuhan dalam Kitab Suci bersifat populer, tetap relevan, dan berlaku hingga kini. Harapan akan keselamatan kekal dari Kristus menjadi penguatan yang membangkitkan semangat untuk tetap setia mengikuti-Nya sebagai Juru Selamat. Informan ketujuh menyimpulkan bahwa makna Kitab Suci adalah kumpulan janji Tuhan yang membawa pengharapan, keselamatan, dan kehidupan kekal. Keyakinan ini menjadi landasan kokoh dalam menjalani kehidupan iman. Terakhir, informan kedelapan berbagi bahwa firman Tuhan sangat membantunya dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam konteks bermasyarakat, bergereja, maupun bernegara. Kebiasaan membaca dan merenungkan Kitab Suci, serta mendengarkan sharing iman dari sesama, menumbuhkan kedekatan yang mendalam dengan Tuhan. Hidup dijalani dengan lebih semangat, kuat, damai, dan penuh sukacita. Bahkan, semangat untuk mewartakan Injil semakin bertumbuh, disertai kerinduan untuk memuliakan Tuhan dan mengasihi sesama secara nyata. Secara keseluruhan, makna teks Kitab Suci yang telah dipahami oleh para informan mencerminkan kekayaan pesan rohani yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Dalam satu perikop Kitab Suci, sering kali terkandung lebih dari satu makna yang dapat dimaknai secara mendalam dan kontekstual dalam perjalanan hidup umat beriman. Teks Kitab Suci juga senantiasa mengajarkan manusia untuk menjalani hidup dengan cara berpikir yang positif, penuh kebijaksanaan, dan dilandasi oleh kasih. Selain itu. Kitab Suci dipahami sebagai ajakan yang terusmenerus mendorong setiap orang untuk melakukan perbuatan baik. Tidak ada satu pun bagian dari Kitab Suci yang mengarah pada tindakan kejahatan atau keburukan. Justru, teks-teks dalam Kitab Suci menjadi sumber inspirasi yang menguatkan, membimbing umat agar hidup dalam pengharapan dan kasih, serta menjadikan hidup lebih bermakna, penuh sukacita, dan semakin dekat dengan Tuhan. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa makna teks Kitab Suci yang dipahami oleh para informan umumnya mengarah pada nilai-nilai praktis untuk dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Makna tersebut bersifat membimbing, meneguhkan iman, serta memampukan umat untuk terus bertumbuh dalam relasi dengan Allah dan sesama. Metode dan Pendekatan dalam Penafsiran Teks Kitab Suci Pada bagian ini, ada beberapa metode dan pendekatan yang akan dibahas sekaligus ditawarkan kepada umat beriman Kristiani, terutama anggota kelompok kerasulan Kitab Susi Emaus Journey, khususnya dalam merenungkan atau menafsirkan teks Kitab Suci secara pribadi serta dalam kelompok. Adapun metode dan pendekatan yang ditawarkan ini tentu tidak menjadi metode dan pendekatan Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 yang utama untuk menafsirkan teks dalam Kitab Suci. Meskipun demikian, masingmasing metode dan pendekatan ini memiliki kekhasan tersendiri yang tentu bisa digunakan untuk menafsirkan teks-teks tertentu dalam Kitab Suci. Metode dan pendekatan ini bisa saling bekerjasama dengan hadir sebagai metode dan pendekatan yang tepat dalam menafsirkan teks-teks tertentu yang terdapat dalam Kitab Suci. Bahkan metode dan pendekatan ini juga bisa membantu umat beriman untuk menggunakan latar belakang Pendidikan yang dimiliki dalam menemukan makna teks Kitab Suci secara lebih dekat dalam kehidupan sehari-hari. Secara khusus, berbagai metode yang dibahas pada bagian ini bersumber pada dua dokumen penting dari Gereja, yaitu Konstitusi Dogmatis Dei Verbum, dan Dokumen Komisi Kitab Suci Kepausan yang berjudul Penafsiran Alkitab dalam Gereja sebagai penjabaran baru yang dibuat oleh Komisi Kitab Suci Kepausan atas dokumen Dei Verbum. Pertama. Dei Verbum menegaskan supaya jalan bagi umat beriman untuk dapat menafsirkan teks Kitab Suci perlu dibuka lebar-lebar. Salah satu metode penafsiran yang ditawarkan dari dokumen ini adalah metode Historis Kritis. Namun, metode Historis Kritis ini semakin mendapat perhatian besar dari kalangan para akademisi maupun umat beriman ketika metode ini dijabarkan secara mendalam dalam dokumen Penafsiran Alkitab dalam Gereja. Kedua, melalui dokumen Penafsiran Alkitab dalam Gereja. Komisi Kitab Suci Kepausan menunjukkan berbagai jalan yang tepat digunakan untuk menafsirkan teks Kitab Suci sesuai dengan kekhasan yang terdapat di dalamnya yaitu manusiawi dan Ilahi (Komisi Kitab Suci, 2. Bahkan. Komisi Kitab Suci Kepausan juga menguji dan mengembangkan berbagai metode yang sekiranya dapat membantu banyak orang untuk menemukan kekayaan dalam teks Kitab Suci, termasuk pengembangan terhadap metode Historis Kritis yang ditawarkan dalam Dei Verbum 12. Adapun berbagai metode penafsiran yang terdapat dalam dua dokumen ini adalah sebagai Penafsiran Alkitab Menurut Dei Verbum 12 Kekhasan dari metode penafsiran yang diajarkan dalam Dei Verbum 12 ini adalah memberikan fokus perhatian pada gagasan tentang Kitab Suci sebagai Inspirasi dan kebenaran Kitab Suci yang terdapat dalam Dei Verbum 11. Berkaitan dengan hal ini, maka ada dua hal penting dan mendasar yang perlu diperhatikan dengan cermat dalam penafsiran teks-teks Kitab Suci. Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah apa yang sebenarnya mau disampaikan oleh para penulis suci. Dei Verbum 12 menegaskan bahwa para pengarang suci mengungkapkan kebenaran dalam Kitab Suci dengan cara yang berbeda-beda, yaitu ditulis dalam konteks tertentu, serta disesuaikan dengan situasi zamannya dan kebudayaannya melalui jenis-jenis sastra tertentu. Hal ini berarti bahwa dalam penulisannya. Kitab Suci selalu ada dalam konteks tertentu yang khas dan mendasar. Oleh karena itu. Dei Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Verbum 12 menekankan pentingnya bagi para pembaca Kitab Suci untuk menafsirkan teks-teks Alkitab dengan memberikan perhatian pada Aujenis sastraAy yang dipergunakan oleh pengarang suci. Dalam hal ini, setiap anggota kelompok Emaus Journey perlu untuk semakin familiar dalam mengenali jenis-jenis sastra dalam Kitab Suci. Hal kedua yang perlu diperhatikan adalah apa yang mau ditampakkan oleh Allah dengan kata-kata para penulis suci. Dalam hal ini, perlu disadari peranan Ilahi dalam penulisan Kitab Suci. Berkaitan dengan hal ini, ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan. Pertama, sebagaimana Kitab Suci ditulis dalam Roh Kudus, maka Kitab Suci pun sebaiknya dibaca serta ditafsirkan dengan bantuan serta bimbingan Roh Kudus. Sebab, para pembaca Kitab Suci hanya akan mendapatkan pemahaman yang benar tentang Kitab Suci ketika pembaca Kitab Suci membuka hati kepada bimbingan Roh Kudus. Kedua, penafsiran Kitab Suci harus dilakukan dalam kesatuan dengan seluruh Alkitab. Sebab, hanya melalui kesatuan seluruh Alkitab-lah dapat ditunjukkan kepenuhan pewahyuan dalam diri Kristus, yaitu sejak dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru. Ketiga, penafsiran Kitab Suci juga harus memperhatikan tradisi yang hidup dalam Gereja. Tradisi Gereja merupakan hal yang penting dalam menafsirkan Alkitab. Sebab. Gereja percaya bahwa ajaran dan praktik yang diwariskan oleh para Rasul-Nya selalu memberikan konteks yang benar untuk memahami Kitab Suci. Oleh karena itulah. Gereja senantiasa menjaga tradisi tersebut di sepanjang sejarah, dan Gereja juga menegaskan bahwa penafsiran teks Kitab Suci yang tidak sejalan dengan Tradisi Gereja akan dianggap tidak akurat. Metode Penafsiran Historis Kritis Metode penafsiran Historis Kritis ini merupakan metode yang ditawarkan dan dikembangkan oleh Dei Verbum 12 untuk menafsirkan teks Kitab Suci. Hal ini berarti bahwa metode ini baru berkembang sesudah zaman Patristik dan Abad Pertengahan, tepatnya pada abad ke-XIX (Lukas, 2. Metode Historis Kritis ini bisa digunakan untuk menafsirkan semua teks dalam Kitab Suci sekalipun teksnya sulit untuk dipahami. Biasanya para akademisi, banyak yang menggunakan metode ini untuk mendalami teks-teks kuno, dan juga untuk menafsirkan teks-teks tertentu ke dalam sebuah tulisan ilmiah dalam bentuk skripsi, tesis maupun disertasi. Kekhasan dari metode ini adalah teks-teks Alkitab ditafsirkan dari sudut pandang historis, dan dilakukan secara kritis dengan memberikan kritik tekstual, kritik tradisi dan bahkan kritik redaksi (Biblical Commision:1. Langkah sederhana dalam metode ini dikenal dengan istilah pendekatan diakronis, yaitu meneliti teksteks dalam Kitab Suci dengan memberikan perhatian khusus pada asal-usul serta perkembangan teks Kitab Suci. Hal ini berarti bahwa melalui metode ini, penafsir menerangkan makna dari suatu teks Kitab Suci sebagaimana yang dimaksudkan Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 oleh pengarang kepada orang-orang yang hidup pada zamannya. Dalam menerapkan metode ini, para pembaca Kitab Suci, terutama anggota kelompok Emaus Journey perlu mencari dan mempelajari tulisan-tulisan ilmiah yang membahas teks-teks Alkitab tertentu. Metode Analisis Naratif Metode analisis naratif merupakan metode yang paling tepat digunakan untuk menafsirkan teks-teks Alkitab yang berbentuk kisah maupun kesaksian Kekhasan dari metode ini adalah teks-teks dalam Alkitab dilihat seperti AucerminAy, karena menampilkan gambaran atau kisah narasi tertentu yang memberikan pengaruh kepada cara pandang para pembaca, sehingga pembaca mampu menemukan nilai-nilai tertentu dari kisah tersebut (Biblical Commision:1. Hal ini berarti bahwa melalui metode ini, para pembaca bisa dengan mudah untuk menemukan makna dari setiap kisah yang terdapat dalam teks Kitab Suci. Langkah sederhana yang biasa digunakan dikenal dengan istilah pendekatan sinkronis, yaitu dengan memberikan perhatian besar terkait kaidah Bahasa, komposisi, serta struktur narasi. Secara khusus, dalam menganalisis struktur narasi, ada beberapa yang perlu diperhatikan yaitu jenis teksnya, tokohtokoh, karakter dan pola relasinya, pokok permasalahannya, waktu dan tempat, serta kebenaran yang terdapat pada narasi (Sostenis, 2. Lalu, para pembaca, terutama anggota kelompok Emaus Journey dapat mengambil makna dari kisah tersebut dengan berfokus pada karakter-karakter tokoh, serta plot maupun alur narasi yang dikisahkan dalam teks tersebut. Pendekatan Sosiologis Pendekatan sosiologis merupakan salah satu pendekatan yang digunakan untuk menafsirkan teks Kitab Suci melalui ilmu humaniora. Pendekatan ini dikembangkan karena adanya kesadaran bahwa terdapat hubungan timbal balik antara asal teks Kitab Suci dengan masyarakat di dalamnya (Biblical Commision:1. Oleh karena itu, selama dua puluh tahun terakhir ini, pendekatan ini mengakui bahwa dalam tradisi Alkitabiah terdapat tanda-tanda yang berasal dari lingkungan sosio-budaya yang meneruskan tradisi tersebut kepada para Rasul dan Gereja. Hal ini berarti bahwa teks-teks dalam Kitab Suci dapat digali makna atau pesannya berdasarkan pada konteks atau situasi Masyarakat yang meneruskan tradisi Alkitabiah. Kekhasan dari pendekatan ini adalah mempelajari hubungan yang erat antara teks-teks Alkitabiah dengan pola maupun dinamika kehidupan yang dihayati oleh Masyarakat tertentu (Biblical Commision:1. , seperti Bangsa Israel maupun Gereja Perdana, terutama yang mencakup aspek ekonomis serta aspek institusional. Langkah sederhana dalam pendekatan ini adalah para pembaca, terutama anggota Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 kelompok Emaus Journey dapat menelurusi konteks kehidupan Masyarakat dari teks Alkitabiah tertentu, dan kemudian menggali makna positifnya untuk kehidupan Masyarakat di sekitar. Pendekatan Antropologi Budaya Pendekatan antropologi budaya mendekati Kitab Suci dengan memberikan perhatian pada berbagai aspek yang lebih luas dalam kehidupan manusia, yaitu mencakup bahasa, seni, agama, perayaan, tarian, dan semua hal yang berkaitan dengan etnografi (Biblical Commision:1. Kekhasan yang dapat dilihat dari pendekatan ini adalah mempelajari secara mendalam konteks sosial suatu Masyarakat, terutama pada nilai-nilai yang dihidupi oleh Masyarakat yang dikisahkan dalam teks Alkitabiah. Biasanya pendekatan ini diterapkan untuk mempelajari konteks sosial yang berkembang dalam Perjanjian Lama, seperti tentang kekerabatan, kedudukan Perempuan dalam Masyarakat, dan lain sebagainya (Biblical Commision:1. Selain itu, pendekatan ini juga sangat cocok digunakan untuk menafsirkan ajaran-ajaran Yesus dalam Alkitab yang disampaikan-Nya dalam bentuk perumpamaan-perumpamaan. Langkah sederhana dalam pendekatan ini adalah para pembaca, terutama anggota kelompok Emaus Journey bisa mempelajari konteks sosial yang berkembang dalam Masyarakat yang dibahas dalam teks-teks Alkitabiah. Pendekatan Psikologis dan Psikoanalisis Pendekatan psikologis dan psikoanalisis semakin digunakan dalam mendekati teks Alkitabiah karena adanya dialog terus-menerus antara psikologi dengan teologi (Biblical Commision:1. Penelitian-penelitian psikologi modern yang semakin luas, mendalam, dan sekaligus terdapat beranekaragam aliran, terutama pada penelitian yang terkait dengan struktur dinamis dunia bawah sadar telah menjadi jembatan untuk menafsirkan teks-teks kuno, termasuk teks Alkitab. Kekhasan dari pendekatan ini adalah memahami teks-teks Alkitab dengan berfokus pada pengalaman-pengalaman hidup manusia, norma-norma tingkah laku manusia, serta pemahaman baru mengenai Bahasa simbolis (Biblical Commision:1. Langkah sederhana dalam penggunaan pendekatan ini adalah para pembaca, terutama anggota kelompok Emaus Journey perlu menggali makna dari suatu teks dalam Kitab Suci dengan memberikan perhatian besar pada pengalaman hidup manusia, pola tingkah laku ataupun Bahasa simbolis yang digunakan dalam teks Alkitab tertentu. Metode Penafsiran Allegoris Metode penafsiran allegoris merupakan salah satu metode untuk memahami Kitab Suci yang merupakan sumber wahyu utama dalam kehidupan umat beriman Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Kristiani (Widodo: 2. Metode ini dikembangkan oleh para filsuf Kristiani, seperti Klemens. Origenes dan Bapa Gereja lainnya (Edison: 2. Hal ini berarti bahwa metode ini berkembang pada zaman Patristik dan Abad Pertengahan. Oleh karena itu, metode ini dapat disebut sebagai metode tertua terkait metode penafsiran Alkitab. Melalui metode allegoris ini, ada empat . makna yang dapat digali dalam teks Kitab Suci, yaitu literer . akna literal atau harafia. , allegoris . akna yang lebih mendalam dari tek. , moralis . indakan bermora. , dan anagogia . nalogi dalam bertinda. (Biblical Commision, 1. Secara khusus, pada abad pertengahan, metode ini semakin berkembang karena hanya metode allegoris ini yang diyakini dapat membantu umat untuk menafsirkan teks Kitab Suci sesuai dengan tujuannya yaitu meningkatkan iman, tropologis untuk memelihara cinta, dan anagogis untuk meningkatkan harapan (Yohanes, 2. Oleh karena itu, kekhasan dari metode ini adalah menemukan makna spiritual atau makna yang mendalam dari teks Kitab Suci. Berkaitan dengan hal ini, maka langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk menggunakan metode ini adalah para pembaca, terutama anggota kelompok Emaus Journey perlu membaca teks-teks Alkitab dengan berfokus untuk menemukan maknanya yang berhubungan dengan kehidupan spiritual sebagai umat beriman kristiani. Tiga Makna Teks Kitab Suci Berhadapan dengan masalah pluralitas dan berbagai pendapat yang muncul terkait dengan makna dalam teks Kitab Suci, maka Komisi Kitab Suci Kepausan menawarkan beberapa prinsip umum yang dapat digunakan untuk menemukan makna teks KS. Dalam hal ini, peran metode penafsiran mendapat peran yang Adapun ketiga makna ini akan menjadi gambaran mengenai bentuk dari buah-buah atas penafsiran yang dilakukan pada teks Kitab Suci. Makna Literal Makna Literal menunjuk pada makna teks yang sesuai dengan maksud St. Thomas Aquinas merupakan salah satu tokoh yang menegaskan pentingnya makna ini (Komisi Kitab Suci Kepausan,2. Makna literal Kitab Suci itu adalah makna yang telah diungkapkan secara langsung oleh para pengarang manusia yang mendapatkan inspirasi dari Roh Kudus yaitu ketika menuliskan teks tersebut (Biblical Commision, 1. Secara sederhana makna literal dapat dipahami sebagai makna yang dimaksudkan oleh Allah sebagai pengarang Langkah sederhana untuk menemukan makna literal ini adalah dengan menganalisis teks secara teliti dengan memberikan perhatian pada konteks literer dan sejarahnya. Berkaitan dengan hal ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, pembaca Kitab Suci harus memahami teks berdasarkan kesepakatan Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 literer yang berlaku pada waktu itu. Jika suatu teks bersifat metaforis, maka makna literer-nya bukanlah yang muncul langsung dari terjemahan kata demi kata. Misalnya, kata-kata Auhendaklah pinggangmu tetap berikatAy dalam Lukas 12:35, jangan diterjemahkan kata demi kata, melainkan harus dipahami dengan konsep metaforis yang sepadan yaitu AuBersiap-siaplah untuk bertindakAy. Kedua, kita juga perlu menyadari bahwa pada umumnya teks hanya memiliki satu makna, namun hal ini tidak bersifat mutlak karena pada saat yang bersamaan, seorang pengarang dapat memaksudkan lebih dari satu situasi peristiwa, seperti dalam teks yang berbentuk puisi, maupun dalam Injil Yohanes. Selain itu, sekalipun ungkapan manusia tampaknya hanya memiliki satu makna, namun inspirasi Ilahi dapat mengarahkan ungkapan itu memiliki lebih dari satu makna. Misalnya, perkataan Kayafas dalam Yohanes 11:50 yang berbunyi. AuDan kamu tidak Insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasaAy, itu dapat disebut memiliki dua makna karena Kayafas tidak hanya mau menegaskan manuver politik yang immoral, tetapi juga pewahyuan Ilahi terkait peran Yesus dalam karya keselamatan Allah. Kedua aspek itu sama-sama termasuk makna literal karena keduanya diperjelas oleh konteks (Biblical Commision, 1. Namun, perlu disadari bahwa pembaca Kitab Suci tidak bisa memberikan makna pada suatu teks secara bebas atau dengan cara yang melulu subjektif. Hal itu berarti pembaca Kitab Suci mencabut pesan teks-teks Alkitabiah tertentu dari akarnya, yaitu Sabda Allah dalam komunikasi historisnya. Oleh karena itu, metode yang paling tepat digunakan untuk menemukan makna literal adalah metode historis-kritis dan pendekatanpendekatan ilmu humaniora, khususya psikologi. Makna Spiritual Dalam terang Iman Kristiani, makna spiritual dalam Alkitab dapat dipahami sebagai makna yang diungkapkan oleh teks alkitabiah yang dibaca serta ditafsirkan di bawah bimbingan Roh Kudus, terutama ketika teks-teks dalam Kitab Suci ditafsirkan dalam konteks misteri Paskah Kristus dan dalam konteks kehidupan baru yang mengalir dari misteri Paskah (Biblical Commision, 1. Oleh karena itu, prinsip penting dalam menemukan makna spiritual ini adalah bahwa makna spiritual tidak boleh disalahartikan sebagai penafsiran subjektif yang berasal dari imajinasi atau spekulasi intelektual. Sebab, makna spiritual merupakan buah dari permenungan, khususnya ketika seseorang menempatkan teks dalam hubungannya dengan fakta-fakta yang telah diketahui dan diimani, misalnya: peristiwa Paskah dengan segala kekayaan yang tak habis-habisnya sekaligus yang menjadi puncak campur tangan Ilahi dalam Sejarah Israel demi kebaikan seluruh umat manusia. Berkaitan dengan hal ini, salah satu aspek yang perlu diperhatikan dari makna spiritual adalah aspek tipologis, yaitu menemukan hubungan teks dalam Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru. Aspek ini biasanya tidak melekat pada Kitab Suci itu sendiri, melainkan pada realitas yang diungkapkan oleh Kitab Suci, misalnya Adam sebagai gambar Kristus . Rm. Air Bah sebagai gambaran pembaptisan . 1Ptr 3:20Ae. , dan lain sebagainya. Makna Lebih Penuh Makna Aulebih penuhAy dapat dipahami sebagai makna yang lebih dalam dari sebuah teks yang dimaksudkan oleh Allah, tetapi tidak diungkapkan secara jelas oleh pengarang manusia (Biblical Commision, 1. Secara lebih lanjut, makna yang Aulebih penuhAy dapat dipahami juga sebagai makna yang diberikan oleh seorang pengarang alkitabiah pada suatu teks terdahulu dengan menempatkannya pada suatu konteks yang baru. Dasar utama untuk menemukan makna Aulebih penuhAy ini adalah kenyataan bahwa Roh Kudus, pengarang Alkitab yang utama, dapat membimbing pengarang manusia dalam memilih ungkapan-ungkapan yang dipakai sedemikian rupa sehingga pengarang manusia tersebut akan mengungkapkan suatu kebenaran, yang makna terdalamnya tidak disadari oleh pengarang itu sendiri. Kebenaran yang lebih dalam ini akan terungkap seiring berjalannya waktu, di satu sisi, melalui campur tangan Ilahi yang memperjelas makna teks, dan di sisi lain, melalui masuknya teks tersebut dalam kanon Alkitab. Melalui cara inilah tercipta suatu konteks baru yang memunculkan kemungkinan-kemungkinan makna baru yang tersembunyi dalam konteks asli sebuah teks. Sebagai contoh, pertama, konteks dalam Mat. 1:23 itu memberikan makna yang Aulebih penuhAy bagi nubuat dalam Yes 7:14 yaitu mengenai almah yang akan mengandung, dengan menggunakan terjemahan Septuaginta (Partheno. : Sang Perawan akan Kedua, ajaran Patristik dan ajaran Konsili tentang Tritunggal mengungkapkan makna yang Aulebih penuhAy dari ajaran Perjanjian Baru tentang Allah Bapa. Putra dan Roh Kudus. Ketiga, ajaran konsili Trente mengenai dosa asal merupakan makna yang Aulebih penuhAy bagi ajaran Paulus dalam kitab Roma 5:1221. Implikasi Metode Penafsiran dalam Pendalaman Teks Kitab Suci Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa pendalaman teks Kitab Suci membawa banyak manfaat bagi perkembangan pemahaman umat beriman terhadap makna-makna yang terkandung dalam Kitab Suci. Selain itu, pendalaman tersebut juga memberikan inspirasi rohani bagi pertumbuhan spiritual umat dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan pendalaman Kitab Suci, khususnya dalam kelompok kerasulan Kitab Suci, memiliki potensi besar untuk menumbuhkan kedekatan dan relasi yang lebih akrab antara umat beriman dengan Kitab Suci itu sendiri. Namun demikian, kesulitan dan tantangan yang Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 muncul dalam proses perenungan dan penafsiran teks Kitab Suci sering menjadi hambatan bagi umat untuk menemukan makna atau pesan yang hendak disampaikan oleh Allah. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa umat beriman, terutama para anggota Kelompok Kerasulan Kitab Suci Emaus Journey Jalan Godean, belum memiliki metode penafsiran yang khusus dan terarah. Oleh karena itu, pengetahuan dan pemahaman tentang metode penafsiran menjadi hal penting yang perlu diperkenalkan dan dikembangkan lebih lanjut. Sebagai upaya untuk menjawab kebutuhan tersebut, peneliti menawarkan beberapa metode dan pendekatan penafsiran Kitab Suci yang dapat dimanfaatkan oleh umat untuk menafsirkan serta menemukan makna teks-teks dalam Kitab Suci. Setiap metode yang ditawarkan memiliki kekhasan dan prinsip penafsiran tertentu yang dapat digunakan sesuai dengan bentuk, isi, dan jenis sastra yang dimiliki oleh teks yang sedang direnungkan. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah pendekatan yang diajarkan dalam Dei Verbum artikel 12, yang menekankan dua hal pokok: pertama, merenungkan apa yang hendak disampaikan oleh pengarang suci, dan kedua, memahami apa yang hendak dinyatakan oleh Allah melalui tulisan pengarang tersebut. Dalam proses ini, keterlibatan Roh Kudus menjadi kunci utama agar makna dan pesan dalam teks Kitab Suci dapat diterima sebagai inspirasi ilahi. Untuk teks-teks yang memuat istilah atau ajaran khusus seperti kisah "pokok anggur yang benar" (Yoh. 15:1-. , "Roti Hidup" (Yoh. 6:25-. , atau "Yesus membasuh kaki para murid" (Yoh. 13:1-. , umat beriman dapat menggunakan metode historis-kritis. Metode ini memungkinkan pemahaman yang lebih kaya dengan merujuk pada teks-teks kuno, khususnya Perjanjian Lama, serta memanfaatkan hasil-hasil studi dan literatur terdahulu untuk memperdalam makna yang terkandung dalam teks. Untuk teks Kitab Suci yang berbentuk kisah atau narasi seperti kisah Perempuan Kanaan (Mat. 15:21-. atau Yesus di jalan ke Emaus (Luk. 24:13-. , pendekatan naratif dapat digunakan. Pendekatan ini membantu umat berfokus pada analisis karakter-karakter positif yang muncul dalam narasi, serta nilai-nilai yang dapat diteladani dari kisah tersebut. Jika teks Kitab Suci berkaitan dengan dinamika kehidupan sosial, seperti tentang membayar pajak kepada kaisar (Luk. 20:20-. atau pola hidup jemaat perdana (Kis. 2:41-. maka pendekatan sosiologis dapat diterapkan. Dengan pendekatan ini, umat dapat memahami konteks sosial di balik teks dan pesan yang hendak disampaikan dalam relasi masyarakat. Untuk teks yang mengandung simbol atau kekhasan budaya tertentu seperti perumpamaan tentang penggarap kebun anggur (Luk. 20:9-. atau domba yang hilang (Mat. 18:12-. , pendekatan antropologis-budaya menjadi relevan. Pendekatan ini berfokus pada makna simbolik yang terkandung dalam budaya zaman Kitab Suci ditulis, dan bagaimana simbol tersebut berbicara kepada konteks iman masa kini. Sementara itu, untuk teks-teks yang berkaitan dengan pola perilaku Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 tokoh tertentu, seperti kisah pertobatan Saulus (Kis. 9:1-19. atau persembahan janda miskin (Luk. 21:1-. , umat dapat menerapkan pendekatan psikologis dan Pendekatan ini membuka pemahaman terhadap motivasi, reaksi emosional, serta nilai-nilai moral yang diungkap melalui tindakan para tokoh. Bagi umat yang memiliki ketertarikan dan waktu lebih untuk menggali makna yang lebih dalam, dapat digunakan metode penafsiran alegoris. Metode ini tidak hanya melihat makna literal, tetapi juga memperhatikan tiga makna lain yang disebut dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK 115Ae. , yaitu makna alegoris, moral, dan anagogis. Sebagai contoh, kisah penyeberangan Laut Teberau (Kel. 14:15-. secara alegoris dimaknai sebagai lambang kemenangan Kristus dan tanda Makna moral muncul dalam ajakan untuk melakukan yang baik . 1Kor. , dan makna anagogis mengarah kepada gambaran surgawi, seperti Gereja di dunia ini sebagai lambang Yerusalem surgawi. Seluruh metode dan pendekatan penafsiran ini dapat sangat membantu umat dalam kelompok kerasulan Kitab Suci untuk menemukan makna literal maupun makna spiritual yang lebih dalam dari teks-teks Kitab Suci. Dengan demikian, sebagaimana yang ditekankan dalam Dei Verbum 12 dan dokumen AuPenafsiran Alkitab dalam Gereja,Ay umat beriman, khususnya kelompok Kerasulan Kitab Suci Emaus Journey Jalan Godean, memiliki akses yang lebih luas untuk memahami teks-teks Kitab Suci secara relevan dan bermakna dalam kehidupan mereka. Metode-metode ini bukan hanya sarana akademis, tetapi menjadi jalan rohani untuk menggali kekayaan sabda Allah demi pertumbuhan iman yang semakin mendalam. PENUTUP Kesimpulan Pendalaman teks Kitab Suci dalam kelompok Kerasulan Kitab Suci dapat menjadi salah satu wadah yang berpeluang besar untuk memperkaya pemahaman umat beriman terkait Kitab Suci, serta menumbuhkan iman umat beriman dalam hidup sehari-hari maupun dalam hidup bermasyarakat. Secara khusus, berhadapan dengan kesulitan serta tantangan dalam menafsirkan teks Kitab Suci, ada beberapa metode dan pendekatan sederhana dan penting yang bisa membantu umat beriman untuk menemukan makna teks Kitab Suci sebagaimana yang dimaksudkan oleh Allah melalui pengarang suci-Nya. Beberapa metode dan pendekatan yang ditawarkan dalam artikel ini adalah metode historis-kritis, metode naratif, pendekatan sosiologi, pendekatan antropologi budaya, pendekatan psikologis dan psikoanalisis, pendekatan allegoris, dan yang paling utama adalah metode penafsiran dalam Dei Verbum 12. Secara khusus, apabila berbagai metode dan pendekatan yang digunakan dalam menafsirkan teks Kitab Suci sesuai dengan bentuk dan jenis sastra teksnya, maka umat beriman akan semakin mampu untuk menemukan makna literal, makna Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 spiritual atau bahkan makna yang lebih penuh dari teks Kitab Suci tersebut. Dengan demikian, seluruh umat beriman, terutama seluruh anggota kelompok Kerasulan Kitab Suci Emaus Journey Jalan Godean Yogyakarta akan semakin mampu menjalani dinamika pertemuan dan sharing mereka dengan saling memperkaya mutiara rohani yang terdapat dalam teks Kitab Suci. DAFTAR PUSTAKA