JIGE 6 . JURNAL ILMIAH GLOBAL EDUCATION id/index. php/jige DOI: https://doi. org/10. 55681/jige. Kajian Fenomena Overtourism di Kawasan Wisata di Bali dan Pengelolaannya Fhaaris Hm . Meitolo Hulu Magister Pariwisata. Universitas Pelita Harapan. Tangerang. Indonesia *Corresponding author email: fhaarishm037@gmail. Article Info Article history: Received August 05, 2025 Approved August 25, 2025 Keywords: Overtourism. Carrying Capacity. Bali. Visitor Management ABSTRACT The phenomenon of overtourism has become a significant issue in tourism management in Bali, particularly in areas such as Canggu. Kuta. Ubud. Kintamani, and Penglipuran Village. The post-pandemic surge in tourist arrivals has brought positive economic impacts, but it has also exerted pressure on the environment, infrastructure, and the social and cultural life of local communities. This study employs a descriptive qualitative method, with data collected through in-depth interviews, field observations, and documentation. The primary aim of this research is to examine the condition of overtourism in Bali and analyze the management efforts undertaken by local The findings indicate that the management of overtourism remains There is a need for the implementation of the carrying capacity concept and visitor management strategies to prevent further degradation. The recommendations provided include limiting the number of tourists, ensuring a more even distribution of visits, involving local communities in policy-making, and strengthening sustainable tourism regulations. ABSTRAK Fenomena overtourism menjadi isu penting dalam pengelolaan pariwisata di Bali, khususnya di kawasan seperti Canggu. Kuta. Ubud. Kintamani, dan Desa Penglipuran. Lonjakan wisatawan pascapandemi memberikan dampak positif secara ekonomi, namun menimbulkan tekanan pada lingkungan, infrastruktur, serta kehidupan sosial dan budaya masyarakat lokal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi lapangan, dan dokumentasi. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengkaji kondisi overtourism di Bali serta menganalisis upaya pengelolaan yang dilakukan oleh pemerintah daerah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan overtourism masih belum maksimal. Diperlukan penerapan konsep daya dukung . arrying capacit. dan manajemen pengunjung . isitor managemen. untuk mencegah kerusakan lebih Rekomendasi yang diberikan mencakup pembatasan jumlah wisatawan, pemerataan distribusi kunjungan, pelibatan masyarakat lokal dalam pengambilan kebijakan, serta penguatan regulasi pariwisata berkelanjutan. Copyright A 2025. The Author. This is an open access article under the CCAeBY-SA license How to cite: Hm. , & Hulu. Kajian Fenomena Overtourism di Kawasan Wisata di Bali dan Pengelolaannya. Jurnal Ilmiah Global Education, 6. , 2026Ae2034. https://doi. org/10. 55681/jige. Kajian Fenomena Overtourism di Kawasan Wisata di Bali dan PengelolaannyaA - 2026 Hm & Hulu / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . PENDAHULUAN Pariwisata dunia mengalami pemulihan yang kuat setelah pandemi COVID-19. Pada tahun 2023, sektor pariwisata menyumbang 9,1% terhadap PDB global, yang menandai peningkatan yang signifikan, meskipun masih sedikit di bawah puncaknya pada tahun 2019 sebesar 10,4%. Industri ini menambahkan 27 juta pekerjaan baru, memulihkan 98,6% dari tingkat pekerjaan sebelum pandemi. Kedatangan wisatawan internasional diprediksi akan menutup tahun 2023 pada 87% dari tingkat sebelum pandemi, didorong oleh permintaan yang kuat di banyak wilayah. Eropa mencapai 94% dari tingkat kunjungan wisatawan tahun 2019, sementara Timur Tengah mengungguli dengan melampaui angka sebelum pandemi sebesar 20%. Pariwisata menurut (Undang Ae Undang Republik Indonesia No. 9 Tahun 1990 Tentang Kepariwisataa. pasal 1 . adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata serta usahausaha yang terkait di bidangnya. Perkembangan ekonomi adalah salah satu indikator ekonomi yang menjadi perhatian penting bagi suatu negara. Perkembangan di ekonomi Indonesia saat ini terus berkembang dan menunjukan angka peningkatan dalam pendapatan atau devisa negara. Pariwisata memiliki dampak bagi pertumbuhan ekonomi melalui beberapa jalur (Brida et al. Sektor pariwisata berkontribusi langsung terhadap PDB sebesar 4,8 persen pada tahun 2019, kontribusi ini terutama didukung dengan bertambahnya jumlah kunjungan wisatawan mancanegara maupun wisatawan domestik serta meningkatnya nilai investasi di sektor pariwisata, namun perkembangan pariwisata juga memiliki dampak buruk jika tidak diperhatikan dengan serius disebabkan dapat menimbulkan fenomena-fenomena baru seperti Industri pariwisata sangat penting secara global, karena pariwisata secara positif memengaruhi pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia (Paramati et al. , 2. Efek pengganda untuk indikator pembangunan sosial ekonomi seperti pendapatan, lapangan kerja, pembangunan infrastruktur, perdagangan internasional, arus modal, dan investasi asing langsung. Pariwisata juga dapat membantu negara-negara meningkatkan neraca pembayaran mereka, menyediakan sumber mata uang asing yang penting. Bagi banyak negara, terutama yang memiliki ekspor terbatas di sektor lain, pariwisata sangat penting dalam mengimbangi defisit perdagangan. Selain itu, sektor pariwisata menarik tingkat FDI yang signifikan, berkontribusi pada pembangunan infrastruktur, seperti hotel, resor, dan jaringan transportasi. Indonesia menjadi salah satu negara yang industri pariwisatanya kembali pulih dan terus berkembang. Pariwisata di Indonesia pada saat ini memperlihatkan tanda-tanda pemulihan yang kuat setelah mengalami dampak besar akibat pandemi COVID-19. Pada tahun 2023, tercatat 8,51 juta kunjungan wisatawan asing selama tiga kuartal pertama, menghasilkan devisa sebesar 10,46 miliar USD dengan rata-rata kunjungan menghasilkan 1. 230 USD per wisatawan asing (Indonesia invesmen. Sebagai salah satu wajah dari industri pariwisata Indonesia. Bali menjadi salah satu tujuan utama wisatawan domestik maupun mancanegara. Pada tahun 2023. Bali mengalami perkembangan signifikan dalam sektor pariwisata, terutama dalam hal kunjungan wisatawan mancanegara. Overtourism adalah sebuah fenomena yang terjadi ketika jumlah wisatawan yang mengunjungi suatu destinasi mengalami kelebihan kapasitas daya dukung lingkungan dan sosial, mengakibatkan berbagai dampak negatif. Menurut Milano et al. , . dalam (Dodds dan Butler, 2. dalam jurnal mereka yang berjudul "Overtourism: Impacts. Sustainability and the New Normal", overtourism tidak hanya tentang jumlah wisatawan yang tinggi, tapi juga tentang bagaimana kehadiran mereka mengubah pengalaman dan kualitas hidup masyarakat lokal serta kondisi lingkungan. Overtourism banyak menyebabkan dampak negatif bagi suatu destinasi baik Kajian Fenomena Overtourism di Kawasan Wisata di Bali dan Pengelolaannya A - 2027 Hm & Hulu / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . itu dari segi lingkungan, ekonomi, sosial budaya, lingkungan dan masyarakat, berikut adalah beberapa contoh dampak dari overtourism: Dampak lingkungan. Overtourism dapat menimbulkan polusi udara, air, dan tanah akibat meningkatnya emisi gas rumah kaca, limbah padat dan cair, serta penggunaan sumber daya alam yang berlebihan. Salah satu model teori yang digunakan untuk menjelaskan overtourism adalah model DoxeyAos Irridex (Doxey, 1. Teori ini mengusulkan empat tahap sikap warga setempat terhadap wisatawan, yaitu: Euforia: masyarakat menyambut wisatawan yang datang secara antusias dan ramah, karena mereka melihat manfaat pariwisata di bidang ekonomi dan sosial. Apati: masyarakat sekitar mulai bosan dan tidak memperdulikan wisatawan, karena mereka merasa pariwisata sudah menjadi rutinitas dan hal yang biasa sehingga menjadi tidak istimewa. Iritasi: masyarakat mulai merasa terganggu dengan wisatawan, karena mereka merasa pariwisata telah merenggut sumber daya dan ruang mereka, serta merubah tradisi, perilaku, budaya dan gaya hidup mereka Antagonisme: penduduk lokal mulai melakukan penolakan terhadap wisatawan dan bermusuhan dengan mereka di sebabkan karena mereka merasa pariwisata sudah tidak menguntungkan dan mengancam mereka Overtourism juga dapat menyebabkan degradasi dan kerusakan alam, seperti erosi tanah, kehilangan habitat, dan kepunahan spesies. Di kawasan wisata padat seperti Kuta. Seminyak. Canggu. Denpasar, dan Nusa Dua, terjadi eksploitasi air tanah secara masif untuk memenuhi kebutuhan hotel, vila, kolam renang, dan laundry. Dampak sosial. Overtourism dapat menimbulkan ketidakpuasan dan konflik antara wisatawan dan warga setempat, yang merasa terganggu, tersingkir, dan teralienasi oleh perilaku dan budaya wisatawan. Overtourism juga dapat menyebabkan perubahan sosial dan budaya yang tidak diinginkan, seperti gentrifikasi, hilangnya identitas lokal, dan penurunan nilai-nilai tradisional. Selain itu, overtourism dapat menimbulkan masalah keamanan dan kesehatan, seperti kejahatan, terorisme, penyakit menular, dan stres. Dampak sosial overtourism di Bali terasa di berbagai kalangan masyarakat. Erosi nilai-nilai adat semakin tampak di daerah wisata seperti Kuta. Seminyak, dan Ubud. Dampak ekonomi. Overtourism dapat menimbulkan ketimpangan ekonomi antara daerah wisata dan non-wisata, serta antara pelaku usaha pariwisata dan non-pariwisata. Overtourism juga dapat menyebabkan kenaikan harga barang dan jasa, seperti sewa, makanan, dan transportasi, yang merugikan warga setempat dan wisatawan. Secara ekonomi, overtourism di Bali menciptakan ketergantungan yang tinggi terhadap sektor pariwisata, dengan hampir 70% pendapatan daerah bersumber dari industri ini. Namun, ketimpangan antar wilayah sangat terasa. Kawasan seperti Badung. Kuta. Canggu. Nusa Dua menikmati keuntungan besar dari konsentrasi hotel berbintang dan penginapan mewah, sementara wilayah lain seperti Karangasem. Bangli, dan Jembrana tertinggal dan belum merasakan manfaat langsung Mereka menekankan bahwa overtourism dapat menimbulkan kerusakan fisik pada situs wisata, pencemaran, dan pergeseran dalam budaya lokal akibat komersialisasi untuk memenuhi permintaan wisatawan. Overtourism dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti pertumbuhan ekonomi, kemudahan transportasi, promosi pariwisata yang agresif, dan kurangnya pengelolaan destinasi yang berkelanjutan, salah satu model teori yang digunakan untuk menjelaskan overtourism adalah model DoxeyAos Irride (Doxey, 1. Berdasarkan temuan data yang diperoleh dari Badan Statistik Bali, terdapat peningkatan yang signifikan dalam jumlah wisatawan selama beberapa tahun terakhir, khususnya antara tahun 2020 hingga 2024. Pada tahun 2024, jumlah wisatawan yang mengunjungi Bali tercatat mencapai lebih dari 16 juta pengunjung, yang terdiri dari 6 juta wisatawan mancanegara dan 10 juta wisatawan domestik. Kajian Fenomena Overtourism di Kawasan Wisata di Bali dan Pengelolaannya A - 2028 Hm & Hulu / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Tabel 1. Jumlah Kunjungan Mancanegara dan Domestik Data Kunjungan Mancanegara 1,069,473 2,155,747 5,273,258 6,333,360 Domestik 4,596,157 4,301,592 8,052,974 9,877,911 10,120,786 Jumlah 5,665,630 4,301,643 10,208,721 15,151,169 16,454,146 Sumber: Diolah Penulis dari data terbitan Badan Pusat Statistika Provinsi Bali . Lonjakan kunjungan wisatawan tersebut juga menimbulkan fenomena yang dikenal sebagai overtourism. Overtourism terjadi ketika jumlah wisatawan yang berkunjung ke suatu destinasi melebihi kapasitas fisik, lingkungan, dan sosial tempat tersebut, yang pada akhirnya memengaruhi kualitas hidup masyarakat lokal. Dampak overtourism di Bali, menciptakan berbagai tantangan serius yang mengganggu keseimbangan antara pariwisata dan keberlanjutan lingkungan serta sosial. Salah satu dampak paling mencolok adalah Dampak overtourism terhadap kesejahteraan sosial dan budaya lokal. Jumlah wisatawan yang terus meningkat setiap tahunnya membawa dampak positif, terutama dalam hal pertumbuhan ekonomi lokal melalui sektor Masyarakat lokal mulai merasakan dampak negatif dari dampak pariwisata (Bali. Konsep carrying capacity dan visitor management adalah hal yang harus diperhatikan untuk mencegah fenomena ini menurut penelitian oleh Gymez dkk. dalam (Wall, 2. , carrying capacity dapat dipandang sebagai alat untuk menghindari overtourism, di mana pengelolaan yang tepat dapat mencegah kerusakan ekosistem dan pelestarian budaya lokal. Memang konsep carrying capacity perlu diperdalam untuk mencakup aspek lingkungan, untuk menentukan batas di mana dampak pada ekosistem alami menjadi permanent atau tidak dapat dipulihkan (Briguglio, 2. Dalam konteks pariwisata, carrying capacity sangat penting untuk menentukan batasan jumlah wisatawan yang dapat diterima suatu lokasi tanpa mengorbankan kualitas pengalaman dan keberlanjutan sumber daya lokal. Visitor management berkaitan dengan pengaturan pengunjung, termasuk kontrol jumlah dan ukuran kelompok, serta penerapan strategi komunikasi dan penegakan peraturan. Visitor management merupakan salah satu cara untuk mengelola dampak dari pariwisata, terutama dalam aspek lingkungan, namun juga secara sosial dan kultural dan ekonomi (Mason, 2. Mengacu kepada Kuo . dalam (Mason, 2. Pengelolaan pengunjung juga mencakup pengaturan penggunaan dan jumlah tertentu yang diizinkan untuk mengakses situs, serta pembatasan ukuran kelompok dan lama tinggal di lokasi tertentu Hall & McArthur . dalam Mason . Sementara itu soft visitor management dilakukan melalui pendekatan secara edukasi (Mason, 2. untuk menyebarkan informasi kepada pengunjung mengenai kegiatan tertentu, seperti penunjukan lokasi yang sesuai dan kegiatan yang direkomendasikan, bersamaan dengan panduan tentang kegiatan dan perilaku yang dilarang Hall & McArthur . dalam (Mason Berikut merupakan data persebaran jumlah kunjungan di Bali berdasarkan daerah adapun daerah yang menjadi fokus pada penelitian ini antara lain Kab. Badung. Kota. Denpasar. Kab. Gianyar dan Kab. Buleleng, dengan mengunjungi kawasan-kawasan wisata yang menjadi pusat kunjungan wisatawan di daerah-daerah tersebut peneliti memilih kawasan-kawasan ini dinilai sangat cocok menjadi lokasi penelitian dikarenakan jumlah kunjungannya tertinggi diantara yang lain sehingga cocok menjadi objek penelitian overtourism (Bali, 2025. Kajian Fenomena Overtourism di Kawasan Wisata di Bali dan Pengelolaannya A - 2029 Hm & Hulu / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Tabel 2. Jumlah Kunjungan Wisatawan Berdasarkan Daerah Kabupaten/Kota Kab. Jembrana 591,346 675,711 828,046 1,038,371 946,771 Kab. Tabanan 911,255 897,066 991,864 1,397,417 1,920,249 Kab. Badung 1,947,336 2,260,548 4,631,992 6,606,807 6,745,502 Kab. Gianyar 918,217 1,057,811 1,271,999 1,759,141 2,193,135 Kab. Klungkung 576,157 694,888 764,254 1,037,433 1,037,570 Kab. Bangli 753,697 764,282 922,264 1,486,887 1,079,658 Kab. Karangasem 863,036 1,066,839 1,319,339 1,916,732 1,972,943 Kab. Buleleng 1,167,720 1,308,959 1,545,531 2,063,981 2,270,462 Kota Denpasar 1,090,766 1,259,006 1,984,425 3,526,734 4,478,649 Provinsi Bali 8,819,530 9,985,110 14,259,714 20,833,503 22,644,939 Sumber: Diolah Penulis dari data terbitan Badan Pusat Statistika Provinsi Bali . Gambar 1. Peta jumlah kunjungan Sumber: Diolah oleh Penulis . Dapat diperhatikan dari tabel diatas beberapa jumlah kunjungan dari kabupaten/kota di kawasan Bali, tercatat kabupaten badung memiliki jumlah kunjungan paling tinggi mencapai 6 juta kunjungan pada tahun 2024 bahkan dibandingkan dari tahun sebelumnya mengalami peningkatan, lalu kota Denpasar mencapai 4 juta kunjungan pada tahun 2024 meningkat jauh dari tahun sebelumnya. Dapat diperhatikan dari gambar 1 zonasi dari jumlah kunjungan kabupaten yang berada di Bali dari tingkat kunjungan wisatawan terlihat kawasan Badung dan Denpasar adalah kawasan yang paling tinggi tingkat kunjungan wisatawannya (Bali, 2. METODE Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif Menurut Sugiyono . bahwa AuMetode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alami, dimana peneliti adalah instrumen penting, teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan triangulasi . , analisis data yang bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih berfokus kepada makna dari pada generalisasiAy. Sedangkan penelitian deskriptif menurut Sugiyono . AuAdalah penelitian yang dilakukan untuk memahami nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih . tanpa melakukan perbandingan, atau menghubungkan dengan variabel yang lainAy. Penelitian ini terfokus pada beberapa divisi pemerintahan yang dirasa memiliki kewenangan terkait dengan fenomena overtourism seperti Dinas Pariwisata. Dinas Perhubungan. Dinas Kehutanaan dan Lingkungan Hidup dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang. Kajian Fenomena Overtourism di Kawasan Wisata di Bali dan Pengelolaannya A - 2030 Hm & Hulu / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang telah diolah menggunakan software NVIVO, peneliti menemukan bahwa kondisi overtourism di Bali terbagi ke dalam 4 . aspek, yakni aspek sosial, aspek fisik dan infrastruktur, aspek ekologis, dan aspek ekonomi seperti pada grafik di bawah ini. Gambar 2. Grafik Pengolahan Data menggunakan Software NVIVO Sumber: Diolah Penulis . Permasalahan overtourism di kawasan wisata provinsi Bali semakin menjadi sorotan sejak terjadinya lonjakan arus kunjungan wisatawan mancanegara pasca-pandemi COVID-19. Berdasarkan data kunjungan tahun 2023, tercatat peningkatan signifikan, khususnya selama periode musim ramai antara bulan Juli hingga September. Pada periode tersebut, jumlah wisatawan yang datang ke kawasan wisata provinsi Bali mencapai lebih dari 9. 000 orang per hari, dengan rata-rata harian berkisar antara 8. 000 hingga 10. 000 kunjungan (Bali, 2025. Lonjakan ini memberikan tekanan besar terhadap kapasitas fisik wilayah yang terbatas Salah satu dampak paling nyata dari peningkatan kunjungan wisatawan adalah kepadatan lalu lintas yang semakin parah. Jalan-jalan utama di kawasan wisata provinsi Bali, seperti Jalan Raya Ubud. Jalan Monkey Forest, dan Jalan Hanoman, mengalami kemacetan yang signifikan, terutama pada jam-jam sibuk menjelang sore hari. Infrastruktur jalan di kawasan ini pada dasarnya dirancang untuk melayani kebutuhan mobilitas masyarakat lokal, bukan untuk menghadapi volume kendaraan yang tinggi dari wisatawan. Kombinasi antara kendaraan pribadi, bus pariwisata, dan sepeda motor sewaan menciptakan kondisi lalu lintas yang padat dan tidak Fenomena overtourism di kawasan wisata provinsi Bali tidak hanya menimbulkan tekanan fisik terhadap infrastruktur dan lingkungan, tetapi juga berdampak serius terhadap aspek sosial dan psikologis masyarakat lokal. Salah satu bentuk dampak yang paling dirasakan adalah semakin sempitnya ruang publik yang dapat diakses oleh warga. Area-area yang dulunya menjadi tempat berkumpul, berinteraksi sosial, atau sekadar menikmati suasana khas pedesaan, kini telah dipenuhi oleh aktivitas pariwisata komersial. Kebisingan akibat lalu lintas kendaraan wisatawan, kegiatan hiburan malam, serta meningkatnya interaksi dengan budaya luar dalam intensitas tinggi, memicu perasaan terasing di kalangan masyarakat lokal terhadap lingkungannya sendiri. Kekhawatiran akan kehilangan jati diri dan nilai-nilai budaya tradisional pun mulai mencuat, terutama di kalangan generasi tua yang merasakan pergeseran makna terhadap berbagai aktivitas adat dan sosial. Adapun penerapan konsep carrying capacity atau daya dukung di kawasan wisata di Provinsi Bali hingga saat ini belum dilakukan secara menyeluruh, sistematis, maupun berbasis kebijakan formal. Meskipun konsep tersebut telah banyak dibahas dan diangkat dalam berbagai literatur mengenai pariwisata berkelanjutan, implementasinya di lapangan masih menghadapi sejumlah tantangan. Kesadaran terhadap pentingnya batas daya dukung lebih banyak muncul dari inisiatif komunitas lokal, pelaku pariwisata, dan organisasi Kajian Fenomena Overtourism di Kawasan Wisata di Bali dan Pengelolaannya A - 2031 Hm & Hulu / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . masyarakat sipil yang menyadari dampak negatif dari overtourism, seperti kemacetan, tekanan terhadap sumber daya air, degradasi lingkungan, dan pergeseran nilai budaya lokal. Beberapa komunitas di wisata provinsi Bali bahkan telah memulai pendekatan berbasis kearifan lokal untuk membatasi aktivitas pariwisata di wilayah tertentu, baik melalui pembatasan kegiatan pariwisata massal maupun dengan mengarahkan wisatawan pada kegiatan yang lebih berorientasi pada keberlanjutan. Merespons tantangan overtourism secara efektif, diperlukan sebuah model pengelolaan yang bersifat holistik dan sesuai dengan konteks lokal. Pendekatan ini harus mengintegrasikan aspek regulasi, keterlibatan masyarakat, pemanfaatan teknologi informasi, serta prinsip pembangunan berkelanjutan. Pertama, regulasi yang diterapkan harus mempertimbangkan dimensi spasial dan sektoral. Pemerintah daerah disarankan untuk menetapkan zonasi pariwisata berdasarkan kapasitas dukung ekologis maupun sosial. Contohnya, area yang memiliki nilai konservasi atau makna religius seperti Pura Gunung Lebah perlu diberi batasan jumlah kunjungan harian dan aturan etika yang jelas bagi wisatawan. Kedua, keterlibatan aktif masyarakat lokal harus diperkuat, tidak hanya dalam pelaksanaan kegiatan pariwisata, tetapi juga dalam proses perencanaan dan pengawasan. Sebagai respons terhadap permasalahan overtourism yang semakin kompleks di kawasan wisata Provinsi Bali, pemerintah provinsi Bali melalui Dinas Pariwisata. Dinas perhubungan. Dinas Lingkungan hidup dan kehutanan dan dinas PUPR telah merancang sebuah wacana dalam bentuk model pengelolaan yang menyeluruh. Model ini dirancang tidak hanya sebagai solusi teknis, tetapi juga sebagai kerangka kerja kolaboratif yang memperhatikan nilai-nilai budaya, dinamika sosial, serta perkembangan teknolog. Ay. Model AuTRI UDAYAAy (Tata Ruang. Kearifan Lokal. Teknologi Adapti. Model Tri Hita Karana atau Tri Udaya dikembangkan berdasarkan tiga pilar utama yang saling melengkapi dan membentuk dasar untuk pengelolaan pariwisata berkelanjutan yang terintegrasi. Ketiga pilar tersebut tata ruang yang berbasis daya dukung, pelibatan kearifan lokal, dan penerapan teknologi adaptif diharapkan dapat memberikan arah baru dalam meredam dampak negatif pariwisata sekaligus memperkuat nilai-nilai lokal yang menjadi daya tarik utama wisata Provinsi Bali. Tata Ruang Berbasis Daya Dukung dan Zonasi Spesifik Integrasi Kearifan Lokal dalam Sistem Pengelolaan. Teknologi Adaptif untuk Pengaturan Kunjungan dan Edukasi Wisatawan. Keunggulan utama dari model AuTri UdayaAy adalah sinergi antara ketiga pilar yang membentuk satu sistem pengelolaan yang dinamis dan responsif terhadap perubahan. Tata ruang menjadi fondasi spasial yang mengatur batas dan kapasitas penggunaan lahan. KESIMPULAN Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui fenomena overtourism yang terjadi di beberapa kawasan pariwisata di Bali. Bali dipilih dikarenakan menjadi salah satu pusat wisata paling banyak dikunjungi oleh wisatawan mancanegara dan wisatawan lokal. Berdasarkan hasil penelitian dengan memperhatikan data sekunder dan premier yang sudah dikumpulkan kemudian diproses maka diperoleh kesimpulan: Kondisi Fenomena Overtourism di Beberapa Kawasan Wisata Bali. Tingginya lonjakan kunjungan wisatawan di Bali memberikan tekanan yang besar terhadap aspek-aspek ekologi, ekonomi hingga sosial di kawasan Bali. Di antara kondisi lingkungan yang dapat ditemukan di kawasan Bali akibat fenomena overtourism antara lain: tingginya volume kendaraan yang menyebabkan kepadatan lalu lintas, terganggunya keseimbangan dan kelestarian lingkungan dengan banyaknya sampah-sampah yang dihasilkan, menurunnya kualitas air karena tingginya Kajian Fenomena Overtourism di Kawasan Wisata di Bali dan Pengelolaannya A - 2032 Hm & Hulu / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . tingkat penggunaan air dan meningkatnya pengalihan fungsi lahan untuk tujuan pariwisata (Bali. Pengelolaan Overtourism Oleh Pemerintah Daerah Bali. Dalam merespons tantangan overtourism secara efektif, diperlukan sebuah model pengelolaan yang bersifat holistik dan sesuai dengan konteks lokal, pemerintah provinsi Bali melalui Dinas Pariwisata. Dinas perhubungan. Dinas Lingkungan hidup dan kehutanan dan dinas PUPR telah merancang sebuah wacana dalam bentuk model pengelolaan yang menyeluruh yang memperhatikan nilai-nilai budaya, dinamika sosial, serta perkembangan teknologi Model pengelolaan berkelanjutan yang sesuai adalah Model AuTRI UDAYAAy (Tata Ruang. Kearifan Lokal. Teknologi Adapti. Tri Hita Karana atau model Tri Udaya dikembangkan berdasarkan tiga pilar utama yang saling melengkapi satu sama lain dan menjadi dasar pengelolaan pariwisata berkelanjutan yang yang terfokus pada Tata Ruang. Kearifan Lokal. Teknologi Adaptif menjadi hal yang harus dipertimbangkan dengan benar sebagai salah satu pilihan untuk mencegah terjadinya fenomena overtourism di kawasan Bali dikarenakan pariwisata menjadi salah satu aspek penting baik pemerintah dan masyarakat, sehingga mencegah fenomena tersebut menjadi hal yang wajib DAFTAR PUSTAKA