88 JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Desember 2025, p. TRANSFORMASI PRAKTIK AKUNTANSI BERBASIS TEKNOLOGI PADA USAHA MIKRO. KECIL DAN MENENGAH (UMKM) (STUDI BIDANG USAHA COFFEE SHOP DI KABUPATEN PURWOREJO) Krisna Ikhsan Hadyan1*. Zuhrotun2. Sujatmika3 1,2,3 Universitas Pembangunan Nasional AuVeteranAy Yogyakarta hadyan@gmail. ABSTRACT This study aims to describe the transformation of technology-based accounting practices among micro, small, and medium enterprises (MSME. in the coffee shop sector in Purworejo Regency. qualitative descriptive approach with a case study design was employed. Data were collected through in-depth interviews, direct observation, and limited documentation involving six coffee shop MSME owners responsible for financial recording. Data analysis was conducted using thematic analysis following the qualitative data analysis procedures proposed by Creswell and Poth, including data organization, coding, theme development, and interpretation. The findings indicate that the transformation of digital accounting practices among coffee shop MSMEs occurs gradually, as reflected in the shift from manual record-keeping to the use of simple digital accounting applications in accordance with the needs and experiences of business owners. The accounting practices observed vary, ranging from manual bookkeeping to the use of basic digital applications and point-of-sale Although digital recording facilitates daily transaction management, most MSMEs have not yet prepared formal financial statements in accordance with SAK EMKM. Keywords: MSMEs, accounting practices, digital accounting, coffee shop, qualitative research ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan transformasi praktik akuntansi berbasis teknologi pada Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) coffee shop di Kabupaten Purworejo. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan dokumentasi terbatas terhadap enam pelaku UMKM coffee shop yang terlibat langsung dalam pencatatan keuangan usaha. Analisis data dilakukan menggunakan analisis tematik yang mengacu pada tahapan analisis data kualitatif menurut (Creswell & Poth, 2. , meliputi pengorganisasian data, pengkodean, pengembangan tema, dan interpretasi Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi praktik akuntansi digital pada UMKM coffee shop berlangsung secara bertahap, yang tercermin dalam peralihan dari pencatatan manual menuju penggunaan aplikasi digital sederhana sesuai dengan kebutuhan dan pengalaman pelaku Praktik pencatatan keuangan yang diterapkan menunjukkan variasi, baik dalam bentuk pencatatan manual, penggunaan aplikasi pencatatan sederhana, maupun pemanfaatan sistem POS. Meskipun pencatatan digital membantu pelaku usaha dalam mengelola transaksi harian, sebagian besar UMKM belum menyusun laporan keuangan secara formal sesuai dengan SAK EMKM. Kata kunci: UMKM, praktik akuntansi, akuntansi digital, coffee shop, penelitian kualitatif ISSN: 1412 - 3681 . ISSN: 2442 - 4617 . , https://journal. id/index. php/jmb JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Desember 2025, p. PENDAHULUAN Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memiliki peran strategis dalam perekonomian global, khususnya dalam penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi (Runde et al. Ussif & Salifu, 2. Bank Dunia . mencatat bahwa UMKM mencakup sekitar 90% unit usaha di dunia, menyerap lebih dari 50% tenaga kerja global, serta berkontribusi hingga 40% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di negara berkembang. Di Indonesia, kontribusi UMKM bahkan lebih dominan, yakni sekitar 60,5% terhadap PDB nasional dan hampir 97% terhadap penyerapan tenaga kerja (Niaga. Asia, 2023. Kontan. id, 2. Data tersebut menegaskan bahwa kualitas pengelolaan UMKM, termasuk dalam aspek akuntansi dan pencatatan keuangan, berimplikasi langsung terhadap keberlanjutan ekonomi. Pada tingkat regional. Kabupaten Purworejo menunjukkan karakteristik perekonomian yang sangat bergantung pada UMKM. Data Badan Pusat Statistik mencatat rata-rata pertumbuhan ekonomi Kabupaten Purworejo sebesar 5,21% selama periode 2021Ae2023. Hasil Sensus Ekonomi menunjukkan bahwa lebih dari 99% unit usaha di daerah ini tergolong sebagai usaha Struktur tersebut menggambarkan keterbatasan kapasitas pengelolaan usaha dan pemanfaatan teknologi yang masih menjadi tantangan utama. Dibandingkan dengan Kabupaten Magelang dan Kabupaten Kebumen yang memiliki pertumbuhan ekonomi relatif lebih tinggi dan struktur usaha yang lebih beragam. Kabupaten Purworejo merepresentasikan daerah nonmetropolitan yang berada dalam fase transisi pengembangan UMKM. Oleh karena itu. Kabupaten Purworejo secara empiris relevan dijadikan objek penelitian untuk mengkaji dinamika pengelolaan UMKM dalam menghadapi tuntutan profesionalisasi dan digitalisasi. Salah satu subsektor UMKM yang mengalami perkembangan pesat adalah industri coffee Pertumbuhan industri coffee shop terjadi baik secara global maupun nasional seiring meningkatnya konsumsi kopi dan popularitas kopi spesialti (Najaf et al. , 2. Di Kabupaten Purworejo, perkembangan coffee shop mengikuti tren tersebut, di mana usaha ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat menikmati kopi, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup serta ruang interaksi dan produktivitas, khususnya bagi generasi muda dan pekerja professional (Lee, 2. Perkembangan ini berdampak pada meningkatnya volume dan kompleksitas transaksi keuangan, sehingga menuntut pengelolaan keuangan yang lebih sistematis. Namun demikian, praktik pengelolaan keuangan UMKM masih menghadapi berbagai Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pelaku UMKM cenderung menggunakan metode pencatatan manual atau konvensional, belum mengacu pada standar akuntansi yang berlaku, serta belum memanfaatkan teknologi secara optimal (Musah, 2017. Prempeh et al. Kondisi tersebut juga tercermin di Kabupaten Purworejo, di mana data Bakesbangpol . menunjukkan bahwa mayoritas UMKM masih berada pada skala mikro dengan keterbatasan akses terhadap teknologi dan sumber daya pendukung. Padahal, sistem akuntansi yang memadai berperan penting dalam menyediakan informasi keuangan yang akurat dan tepat waktu untuk mendukung pengambilan keputusan usaha (Zotorvie et al. , 2. Seiring meningkatnya tuntutan efisiensi dan daya saing, transformasi praktik akuntansi berbasis teknologi menjadi kebutuhan strategis bagi UMKM. Digitalisasi akuntansi memungkinkan otomatisasi pencatatan transaksi, pengelolaan data yang lebih terstruktur, serta peningkatan kualitas informasi keuangan (Ganyam & Ivungu, 2. Pemerintah daerah Kabupaten Purworejo juga telah menunjukkan komitmen dalam mendorong pengembangan UMKM melalui berbagai program pelatihan dan pendampingan yang diselenggarakan oleh Dinas KUKMP . Meskipun demikian, keberhasilan transformasi tersebut sangat bergantung pada kesiapan, pemahaman, dan kondisi nyata yang dihadapi oleh pelaku UMKM, khususnya pada subsektor coffee shop. TRANSFORMASI PRAKTIK AKUNTANSI BERBASIS TEKNOLOGI PADA USAHA MIKRO. KECIL DAN MENENGAH (UMKM) Krisna Ikhsan Hadyan 1. Zuhrotun 2. Sujatmika 3 JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Desember 2025, p. Hingga saat ini, kajian empiris yang secara khusus mengkaji transformasi praktik akuntansi berbasis teknologi pada UMKM coffee shop di daerah nonmetropolitan masih relatif terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk mengkaji praktik akuntansi berbasis teknologi yang dijalankan oleh UMKM coffee shop di Kabupaten Purworejo, kendala yang dihadapi, serta strategi adaptasi yang diterapkan oleh pelaku usaha. Dengan pendekatan kualitatif, penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman kontekstual yang lebih mendalam mengenai dinamika transformasi praktik akuntansi UMKM. KAJIAN PUSTAKA Teori Technology Acceptance Model (TAM) Technology Acceptance Model (TAM) yang dikembangkan oleh Davis . banyak digunakan untuk menilai bagaimana pengguna menerima dan menggunakan teknologi (Khan & Siddiqui, 2. Model ini menekankan dua konsep utama, yaitu perceived usefulness (PU) dan perceived ease of use (PEOU), yang berperan pada sikap pengguna, niat perilaku, dan penggunaan aktual teknologi. Dalam konteks UMKM. TAM membantu memahami persepsi pelaku usaha terhadap manfaat dan kemudahan sistem informasi akuntansi digital (Zotorvie et al. , 2. Beberapa penelitian menunjukkan relevansi TAM dalam konteks UMKM, misalnya (Saputro & Haryanto, 2. menemukan bahwa PU signifikan terhadap niat penggunaan aplikasi akuntansi pada UMKM makanan dan minuman di Jawa Tengah, sementara (Zotorvie et al. , 2. menekankan PU dan PEOU sebagai determinan utama adopsi teknologi, dengan dukungan faktor eksternal seperti literasi digital, pelatihan, dan infrastruktur teknologi. Dengan demikian. TAM relevan digunakan untuk mengeksplorasi persepsi dan kendala pelaku UMKM coffee shop dalam penerapan akuntansi digital di Purworejo. Konsep Dasar UMKM Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008. UMKM diklasifikasikan menurut modal usaha dan hasil penjualan tahunan. Usaha Mikro memiliki modal hingga Rp50. Usaha Kecil Rp50. 000AeRp500. 000, dan Usaha Menengah Rp500. 000AeRp10. 000 (UU No. 20/2. UMKM memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia, menyumbang 99,9% unit usaha dan menyerap 97% tenaga kerja (Said & Soi, 2. , mendorong pertumbuhan inklusif, serta membuka lapangan kerja di daerah pedesaan (Tambunan, 2. Meski demikian. UMKM menghadapi tantangan akses pembiayaan, pemasaran, infrastruktur, adopsi teknologi, dan keterampilan manajerial (Said & Soi, 2025. Zotorvie et al. , 2. Dalam sektor coffee shop, penerapan sistem operasional yang jelas dan terstruktur diperlukan untuk efektivitas operasional (Najaf et al. Purwanto, 2. SAK EMKM SAK EMKM disusun untuk memenuhi kebutuhan pelaporan keuangan UMKM yang belum mampu mengikuti SAK ETAP (IAI, 2. Laporan keuangan terdiri atas laporan posisi keuangan, laporan laba rugi, dan catatan atas laporan keuangan (IAI, 2016:. SAK EMKM menggunakan basis akrual, mengakui aset tetap berdasarkan biaya perolehan, tidak mengatur instrumen keuangan kompleks, dan ditujukan untuk entitas tanpa akuntabilitas publik TRANSFORMASI PRAKTIK AKUNTANSI BERBASIS TEKNOLOGI PADA USAHA MIKRO. KECIL DAN MENENGAH (UMKM) Krisna Ikhsan Hadyan 1. Zuhrotun 2. Sujatmika 3 JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Desember 2025, p. Praktik Akuntansi dan Pelaporan Keuangan UMKM Praktik akuntansi penting untuk pengambilan keputusan bisnis dan pertumbuhan usaha (Nsoke et al. , 2021. Zotorvie et al. , 2. Pelaku UMKM harus menguasai pencatatan transaksi, penghitungan aset, penggajian, dan penyusunan laporan tahunan sesuai regulasi (Jayawardane & Gamlath, 2. Informasi keuangan yang berkualitas harus memenuhi karakteristik faithful representation, verifiability, timeliness, comparability, dan understandability (IASB, 2. Efektivitas sistem akuntansi bergantung pada kemampuan memenuhi kebutuhan informasi pengambil keputusan, baik internal maupun eksternal (Ganyam & Ivungu, 2019. Nsoke et al. , 2021. Qubbaja & Talameh, 2020. Zotorvie et al. Transformasi Digital dalam Praktik Akuntansi UMKM Transformasi digital mengubah model bisnis dan praktik akuntansi dari manual ke berbasis teknologi untuk meningkatkan efisiensi, akurasi, dan transparansi (Musah, 2017. Zotorvie et , 2. Kendala utama meliputi keterbatasan SDM berkompetensi akuntansi, rendahnya literasi digital, serta resistensi terhadap perubahan (Prempeh et al. , 2022. Sangalang & Fampo, 2. Penerapan teknologi informasi meningkatkan kualitas laporan keuangan dan pengambilan keputusan, namun memerlukan dukungan pelatihan, infrastruktur, dan kebijakan yang mendukung (Ganyam & Ivungu, 2. Faktor-Faktor Transformasi Praktik Akuntansi Faktor internal yang berperan terhadap transformasi praktik akuntansi antara lain pengetahuan dan kompetensi pemilik/manajer, kapasitas keuangan dan sumber daya, serta kesiapan internal organisasi (Ganyam & Ivungu, 2019. Jayawardane & Gamlath, 2020. Prempeh et al. , 2. Faktor eksternal mencakup ketersediaan infrastruktur dan stabilitas jaringan, dukungan pemerintah dan kebijakan, serta akses ke konsultan dan penyedia teknologi (Ganyam & Ivungu, 2019. Zotorvie et al. , 2. Kedua faktor tersebut berperan dalam keberhasilan adopsi teknologi akuntansi di UMKM, khususnya coffee shop di Purworejo. Penelitian Terdahulu Gap Literatur Penelitian terdahulu mengenai praktik akuntansi pada UMKM umumnya masih berfokus pada aspek konvensional, seperti kepatuhan terhadap standar akuntansi dan efektivitas pencatatan manual. Studi oleh Musah . Nsoke et al. , dan Prempeh et al. menunjukkan bahwa praktik pembukuan yang baik dapat meningkatkan kinerja UMKM, namun masih terbatas pada sistem pencatatan tradisional dan belum membahas digitalisasi secara mendalam. Beberapa penelitian telah menyoroti manfaat penerapan teknologi dalam akuntansi, misalnya penggunaan Accounting Information System (AIS) dan layanan keuangan digital, yang dapat meningkatkan efisiensi pelaporan dan pengambilan keputusan (Khan & Siddiqui, 2019. Zotorvie et al. , 2. Namun, kajian tersebut bersifat umum dan belum banyak mengeksplorasi bagaimana transformasi digital diterapkan oleh pelaku UMKM coffee shop. Selain itu, studi mengenai isu makro seperti kebijakan, pendanaan, dan infrastruktur teknologi untuk mendukung UMKM lebih banyak dibahas oleh Ganyam & Ivungu . Qubbaja & Talameh . , dan Runde et al. , bukan pada penerapan langsung praktik akuntansi Di Indonesia. Saputro & Haryanto . meneliti faktor yang mempengaruhi niat TRANSFORMASI PRAKTIK AKUNTANSI BERBASIS TEKNOLOGI PADA USAHA MIKRO. KECIL DAN MENENGAH (UMKM) Krisna Ikhsan Hadyan 1. Zuhrotun 2. Sujatmika 3 JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Desember 2025, p. penggunaan aplikasi akuntansi berbasis Technology Acceptance Model (TAM), namun masih terbatas pada niat penggunaan dan belum menggambarkan secara konkret penerapan serta tantangan sistem digital di lapangan. Dengan demikian, masih terdapat kesenjangan penelitian . iterature ga. terkait transformasi praktik akuntansi berbasis teknologi pada UMKM coffee shop, terutama dalam konteks penerapan nyata, faktor pendorong, hambatan, dan dampaknya terhadap efektivitas pencatatan dan pelaporan keuangan. Gap Metode Sebagian besar penelitian terdahulu menggunakan pendekatan kuantitatif, seperti survei dan analisis regresi (Jayawardane & Gamlath, 2020. Musah, 2017. Prempeh et al. , 2. , atau model TAM untuk menjelaskan adopsi sistem digital (Khan & Siddiqui, 2019. Saputro & Haryanto, 2. Pendekatan ini memberikan gambaran empiris terukur, tetapi kurang mampu menangkap proses, pengalaman, dan tantangan yang dialami pelaku usaha dalam transformasi digital akuntansi. Penelitian kualitatif yang menekankan pengalaman dan dinamika penerapan teknologi masih Beberapa studi oleh Said & Soi . dan Zotorvie et al. menunjukkan pentingnya pendekatan kualitatif untuk memahami konteks digitalisasi UMKM, namun belum fokus pada sektor coffee shop yang berkembang dan mulai mengadopsi teknologi. Oleh karena itu, terdapat gap metode yang perlu diisi, yaitu kurangnya penelitian kualitatif yang menggali secara mendalam proses transformasi praktik akuntansi berbasis teknologi pada UMKM coffee shop. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk memperoleh pemahaman komprehensif tentang pengalaman pelaku usaha, faktor penghambat, dan dampak penggunaan teknologi terhadap praktik akuntansi. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan desain studi kasus. Pendekatan ini dipilih untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai praktik akuntansi yang diterapkan oleh pelaku UMKM coffee shop serta proses transformasi pencatatan keuangan berbasis teknologi dalam konteks usaha mikro. Studi kasus digunakan karena penelitian berfokus pada fenomena kontemporer yang terjadi dalam konteks nyata dan dibatasi oleh wilayah serta karakteristik usaha tertentu (Creswell & Poth, 2. Subjek penelitian adalah pemilik atau pengelola UMKM coffee shop di Kabupaten Purworejo yang terlibat langsung dalam pencatatan dan pengelolaan keuangan usaha. Objek penelitian difokuskan pada praktik akuntansi, baik yang dilakukan secara manual maupun berbasis teknologi digital. Penelitian dilaksanakan pada November hingga Desember 2025. Pemilihan informan dilakukan secara purposive sampling, dengan kriteria pelaku usaha yang melakukan pencatatan keuangan dan terlibat dalam pengambilan keputusan usaha. Proses penentuan informan berkembang menggunakan snowball sampling, hingga diperoleh kecukupan data . ata saturatio. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur, observasi, serta dokumentasi terbatas, berupa buku kas, struk transaksi, dan tampilan aplikasi pencatatan keuangan atau POS. Analisis data dilakukan menggunakan analisis tematik, mengacu pada prosedur analisis data kualitatif menurut (Creswell & Poth, 2. Proses analisis meliputi pengorganisasian dan persiapan data, pengkodean data, pengelompokan kode menjadi kategori dan tema, penyusunan deskripsi tematik, serta interpretasi makna temuan penelitian. TRANSFORMASI PRAKTIK AKUNTANSI BERBASIS TEKNOLOGI PADA USAHA MIKRO. KECIL DAN MENENGAH (UMKM) Krisna Ikhsan Hadyan 1. Zuhrotun 2. Sujatmika 3 JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Desember 2025, p. Proses analisis dilakukan secara simultan sejak pengumpulan data hingga penulisan hasil Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber dan teknik, serta member checking untuk memastikan keterlacakan dan konsistensi proses penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Praktik dan Metode Pencatatan Keuangan UMKM Coffee Shop Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik pencatatan keuangan pada UMKM coffee shop masih dilakukan melalui dua pendekatan utama, yaitu pencatatan manual dan pencatatan berbasis aplikasi digital. Temuan ini menggambarkan kondisi UMKM yang berada pada tahap adaptasi terhadap praktik pencatatan keuangan yang lebih sistematis. Hal tersebut sejalan dengan (Musah, 2. yang menyatakan bahwa sebagian besar UMKM masih menjalankan pencatatan keuangan sederhana sesuai dengan kapasitas dan kebutuhan usaha. Responden yang menggunakan aplikasi pencatatan keuangan digital melakukan pencatatan transaksi secara langsung pada saat pesanan diterima. Proses ini dilanjutkan dengan penarikan laporan pada akhir operasional harian sebagai dasar pemantauan pemasukan usaha. Praktik tersebut menunjukkan adanya upaya pelaku UMKM untuk menata pencatatan keuangan secara lebih terstruktur, meskipun masih terbatas pada pencatatan transaksi kas. Kondisi ini sejalan dengan temuan (Zotorvie et al. , 2. yang menggambarkan bahwa penerapan praktik akuntansi pada UMKM umumnya dimulai dari digitalisasi transaksi harian sebelum berkembang ke tahap penyusunan laporan keuangan yang lebih lengkap. Pemanfaatan fitur aplikasi seperti pencatatan penjualan, pencatatan pengeluaran, serta penarikan laporan harian menunjukkan bahwa pelaku UMKM menggunakan teknologi sebagai alat bantu operasional. Hal ini selaras dengan pandangan (Ganyam & Ivungu, 2. yang menyebutkan bahwa sistem informasi akuntansi pada UMKM berfungsi sebagai sarana pendukung dalam menyediakan informasi keuangan yang lebih tertata. Sebaliknya, responden yang masih menggunakan pencatatan manual menjalankan pencatatan dengan menulis pemasukan dan pengeluaran pada media buku. Proses rekapitulasi dilakukan pada akhir hari atau saat closing dengan menjumlahkan transaksi yang tercatat. Praktik ini sangat bergantung pada ketelitian dan konsistensi pelaku usaha. Temuan ini sejalan dengan (Prempeh et al. , 2. yang menggambarkan bahwa pencatatan manual pada UMKM cenderung memiliki keterbatasan dalam menjaga kelengkapan dan ketepatan data transaksi. Pertimbangan Pemilihan Metode Pencatatan Keuangan Pertimbangan pelaku UMKM dalam memilih metode pencatatan keuangan menunjukkan adanya perbedaan cara pandang terhadap penggunaan teknologi. Dalam kerangka Technology Acceptance Model (TAM) yang dikemukakan oleh Davis . , penerimaan teknologi dipahami melalui persepsi atas kegunaan dan kemudahan penggunaan. Responden pengguna aplikasi digital memandang pencatatan keuangan berbasis aplikasi sebagai metode yang praktis dan membantu dalam merapikan data transaksi. Persepsi tersebut mencerminkan pandangan bahwa aplikasi pencatatan keuangan dapat digunakan sebagai alat untuk mempermudah pengelolaan transaksi harian dan pemantauan keuangan usaha. Hal ini sejalan dengan penelitian (Khan & Siddiqui, 2. yang menggambarkan bahwa pelaku UMKM menerima penggunaan teknologi ketika teknologi tersebut dirasakan selaras dengan kebutuhan operasional usaha. Responden yang telah menggunakan aplikasi digital sejak awal usaha menunjukkan adanya upaya untuk membangun sistem pencatatan keuangan yang lebih tertata sejak usaha mulai TRANSFORMASI PRAKTIK AKUNTANSI BERBASIS TEKNOLOGI PADA USAHA MIKRO. KECIL DAN MENENGAH (UMKM) Krisna Ikhsan Hadyan 1. Zuhrotun 2. Sujatmika 3 JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Desember 2025, p. Praktik ini mendukung temuan (Zotorvie et al. , 2. yang menekankan pentingnya kesadaran awal pelaku UMKM terhadap pencatatan keuangan sebagai bagian dari keberlanjutan usaha. Sementara itu, responden yang masih menggunakan pencatatan manual memandang metode tersebut sebagai cara yang masih sesuai dengan kondisi usaha saat ini. Volume transaksi yang belum terlalu tinggi, keterbatasan jaringan internet, serta kebiasaan mencatat secara manual menjadi alasan utama mempertahankan metode tersebut. Selain itu, muncul pula kehati-hatian dan keraguan untuk beralih ke pencatatan digital karena keterbatasan pemahaman dan kesiapan operasional. Kondisi ini sejalan dengan temuan (Musah, 2017. Qubbaja & Talameh, 2. yang menggambarkan bahwa adopsi teknologi pada UMKM berlangsung secara bertahap dan sangat bergantung pada kesiapan pelaku usaha. Kendala. Risiko, dan Keterbatasan dalam Praktik Pencatatan Keuangan Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap metode pencatatan keuangan memiliki kendala dan keterbatasan tersendiri. Pada pencatatan digital, kendala yang muncul meliputi keterbatasan fitur pada aplikasi versi gratis, gangguan sistem, serta ketergantungan pada perangkat pendukung seperti gawai dan printer. Temuan ini selaras dengan Ganyam dan (Ganyam & Ivungu, 2019. Zotorvie et al. , 2. yang menyatakan bahwa penerapan sistem akuntansi berbasis teknologi pada UMKM masih dihadapkan pada keterbatasan infrastruktur dan dukungan teknis. Pada pencatatan manual, kendala utama yang ditemui adalah lupa mencatat transaksi, kesalahan perhitungan, serta waktu yang lebih lama dalam menyusun laporan. Responden juga menyampaikan bahwa kondisi kelelahan pada saat closing berpotensi mengurangi ketelitian dalam proses rekapitulasi. Kondisi ini sejalan dengan temuan (Prempeh et al. , 2. yang menggambarkan bahwa pencatatan manual memiliki keterbatasan dalam menjaga konsistensi dan keakuratan data keuangan. Risiko ketidaksesuaian antara catatan dan uang fisik yang muncul pada pencatatan manual menunjukkan lemahnya mekanisme pengendalian pencatatan. Hal ini mendukung pandangan (Jayawardane & Gamlath, 2. yang menekankan bahwa praktik pencatatan keuangan yang sederhana sering kali belum mampu memberikan gambaran keuangan usaha secara Pemantauan Keuangan Usaha dan Penilaian atas Praktik Pencatatan Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan metode pencatatan keuangan tercermin dalam cara pelaku UMKM memantau kondisi keuangan usahanya. Responden pengguna aplikasi digital memanfaatkan laporan harian, mingguan, dan bulanan yang tersedia dalam aplikasi sebagai sarana pemantauan pemasukan usaha. Ketersediaan laporan secara rutin membantu pelaku usaha dalam melihat perkembangan pemasukan dari waktu ke waktu. Hal ini sejalan dengan kerangka kualitas informasi akuntansi yang dikemukakan oleh IASB . , khususnya terkait keterpahaman dan ketepatan waktu informasi. Sementara itu, responden pengguna pencatatan manual memantau keuangan usaha melalui rekapitulasi berkala dan perbandingan catatan antar periode. Meskipun metode ini masih dapat dijalankan sesuai kondisi usaha, proses pemantauan membutuhkan waktu yang lebih panjang dan bergantung pada ketelitian pelaku usaha. Temuan ini sejalan dengan (Nsoke et , 2. yang menggambarkan bahwa praktik pencatatan yang lebih sederhana cenderung menghasilkan informasi keuangan yang terbatas untuk evaluasi usaha. TRANSFORMASI PRAKTIK AKUNTANSI BERBASIS TEKNOLOGI PADA USAHA MIKRO. KECIL DAN MENENGAH (UMKM) Krisna Ikhsan Hadyan 1. Zuhrotun 2. Sujatmika 3 JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Desember 2025, p. Kebutuhan Dukungan dalam Peningkatan Praktik Pencatatan Keuangan UMKM Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh responden menunjukkan adanya kebutuhan dukungan dalam upaya meningkatkan praktik pencatatan keuangan usaha. Dukungan yang diharapkan mencakup pelatihan pencatatan keuangan digital, pendampingan penggunaan aplikasi, serta peningkatan pemahaman dasar pencatatan keuangan. Temuan ini sejalan dengan (Prempeh et al. , 2. dan (Zotorvie et al. , 2. yang menekankan pentingnya pendampingan berkelanjutan bagi UMKM dalam mengembangkan praktik akuntansi. Responden yang telah menggunakan pencatatan digital mengharapkan adanya pelatihan lanjutan dan dukungan teknis dari penyedia aplikasi, khususnya terkait pembaruan sistem dan pengembangan fitur. Sementara itu, responden yang masih menggunakan pencatatan manual mengharapkan pendampingan awal yang bersifat bertahap agar proses transisi dapat dilakukan sesuai kesiapan usaha. Kondisi ini menunjukkan bahwa peningkatan praktik pencatatan keuangan pada UMKM tidak hanya berkaitan dengan penggunaan teknologi, tetapi juga dengan kesiapan sumber daya manusia dan dukungan lingkungan usaha. SIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa praktik pencatatan keuangan pada UMKM coffee shop masih dilakukan melalui dua pendekatan utama, yaitu pencatatan manual dan pencatatan berbasis aplikasi digital. Pencatatan manual umumnya digunakan oleh pelaku usaha dengan volume transaksi terbatas dan dijalankan secara sederhana melalui media buku, sedangkan pencatatan digital digunakan sebagai alat bantu untuk mencatat transaksi secara langsung dan menyusun laporan harian. Penggunaan aplikasi pencatatan keuangan digital dipandang sebagai sarana untuk merapikan data transaksi dan memudahkan pemantauan pemasukan usaha, meskipun praktik yang dijalankan masih terbatas pada pencatatan kas masuk dan keluar. Sementara itu, pencatatan manual menunjukkan keterbatasan dalam menjaga kelengkapan data dan efisiensi rekapitulasi, terutama pada saat aktivitas usaha meningkat. Pemilihan metode pencatatan keuangan mencerminkan kesiapan, kebiasaan, dan kebutuhan operasional masing-masing pelaku UMKM. Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa baik pencatatan manual maupun digital memiliki kendala dan keterbatasan, sehingga diperlukan dukungan berupa pelatihan dan pendampingan yang sesuai dengan kondisi dan tahap perkembangan usaha UMKM. DAFTAR PUSTAKA