Journal Genta Mulia Volume 15. Number 2, 2025 pp. 12- 19 P-ISSN 2301-6671 E-ISSN: 2580-6416 Open Access: https://ejournal. id/index. php/gm PERBEDAAN KECERDASAN EMOSI ANTARA SISWA SMA SWASTA NASIONAL NAMOTERASI (SEKOLAH REGULER) DAN SMA AGAMA DI SMAS GKPI PADANG BULAN (SEKOLAH AGAMA) Rhiesqi Chintia Fonna*1 , dan Emarco Sani Tribrata Simaremare 2 1 Universitas Bina Bangsa Getsempena. Indonesia 2 Universitas Medan Area. Indonesia * Corresponding Author: rcfonna@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kecerdasan emosi antara siswa SMA reguler dan SMA berbasis agama. Subjek penelitian terdiri dari 265 siswa kelas X dan XI, masing-masing dari SMAS Nasional Namoterasi . ekolah regule. dan SMAS GKPI Padang Bulan . ekolah agam. Metode yang digunakan adalah ex post facto dengan pendekatan komparatif, menggunakan instrumen angket skala kecerdasan emosi yang mencakup lima aspek utama: mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain, dan membina hubungan. Hasil uji validitas dan reliabilitas menunjukkan skala yang digunakan valid dan reliabel ( = 0,. Uji normalitas dan homogenitas menunjukkan data berdistribusi normal dan homogen. Analisis t-test menunjukkan terdapat perbedaan signifikan antara kedua kelompok . < 0,. , dengan hasil bahwa siswa dari sekolah berbasis agama memiliki kecerdasan emosi yang lebih tinggi dibandingkan siswa sekolah reguler. Nilai rata-rata kecerdasan emosi siswa sekolah agama secara empirik lebih tinggi dari rata-rata hipotetik, sementara siswa sekolah reguler justru berada di bawahnya. Temuan ini menunjukkan bahwa pengajaran nilai-nilai spiritual dan aktivitas keagamaan yang intensif di sekolah agama memberikan kontribusi terhadap peningkatan kecerdasan emosi siswa. Penelitian ini menggarisbawahi pentingnya integrasi nilai-nilai moral dan emosional dalam pendidikan untuk mendukung perkembangan siswa secara holistik. Kata Kunci : Kecerdasan Emosi. Sekolah Reguler. Sekolah Agama. Pendidikan Emosional. Abstract This study aims to examine the differences in emotional intelligence between students from regular senior high schools and religious-based senior high schools. The research involved 265 students from grade X and XI, drawn from SMAS Nasional Namoterasi . egular schoo. and SMAS GKPI Padang Bulan . eligious schoo. An ex post facto method with a comparative approach was applied, using a questionnaire that assessed five key aspects of emotional intelligence: self-awareness, emotional regulation, self-motivation, empathy, and relationship management. The instrument was found to be both valid and reliable ( = 0. Normality and homogeneity tests confirmed that the data were normally distributed and homogeneous. A t-test analysis revealed a significant difference between the two groups . < 0. , showing that students in the religious school exhibited significantly higher emotional intelligence levels compared to those in the regular school. The empirical mean of emotional intelligence in the religious school exceeded the hypothetical mean, while the regular school fell below it. These findings suggest that the integration of spiritual values and religious activities in the curriculum significantly contributes to students' emotional development. This study highlights the importance of incorporating moral and emotional values into education to support the holistic development of Keywords : Emotional Intelligence. Regular School. Religious School. Emotional Education. Rhiesqi Chintia Fonna 1Perbedaan Kecerdasan Emosi PENDAHULUAN Siswa, jika kita mendengar kata siswa pasti kita memikirkan tentang individu yang mendapatkan pendidikan di suatu sekolah. Seorang anak dimasukkan kedalam sekolah dengan harapan memiliki pendidikan yang tinggi dan menjadi anak yang membanggakan orang tuanya. Siswa secara tidak langsung dibebankan dengan harapan harus memiliki kecerdasan atau kepintaran yang tinggi sehingga nantinya mendapat pekerjaan yang bagus. Kecerdasan yang sering dimaksud adalah IQ (Intelligence Quotien. , anak yang memiliki IQ tinggi dipercaya akan menjadi orang yang pintar sehingga mendapatkan pekerjaan yang bagus dan menjadi sukses. Akan tetapi kecerdasan intelektual (IQ) tidak menjadi jaminan seseorang akan menjadi sukses, ada banyak individu yang memiliki IQ tinggi yang sukses dalam bidang akademik dan mendapatkan pekerjaan yang bagus akan tetapi tidak mampu bertahan karena kurang dalam menguasai emosinya, hubungannya dengan lingkungan kerjanya dan sebagainya. Pada temuan penelitian yang dilakukan (Toscano-Hermoso et al. , 2. ditemukan bahwa IQ tidaklah satu-satunya yang menjamin kesuksesan seseorang, ditemukan bahwa kecerdasan emosi (EQ) memiliki pengaruh yang cukup besar. IQ tidak akan berjalan atau tidak akan berfungsi dengan sempurna tanpa adanya dampingan dari penghayatan emosional terhadap mata pelajaran yang disampaikan di sekolah, itulah sebabnya IQ dan EQ diharapkan dapat bekerja dengan seimbang. EQ adalah istilah baru yang dipopulerkan oleh Daniel Goleman. Berdasarkan hasil penelitian para neurolog dan psikolog. Goleman . berkesimpulan bahwa setiap manusia memiliki dua potensi pikiran, yaitu pikiran rasional dan pikiran emosional. Pikiran rasional digerakkan oleh kemampuan intelektual atau yang populer dengan sebutan AuIntelligence QuotientAy (IQ), sedangkan pikiran emosional digerakan oleh emosi . alam Misbach, 2. Seperti yang dibuktikan dalam penelitian bahwa IQ dapat digunakan untuk memperkirakan sekitar 1-20% . ata-rata 6%) keberhasilan dalam pekerjaan tertentu. EQ di sisi lain ternyata 2745% berperan langsung dalam keberhasilan suatu pekerjaan (Trigueros et al. , 2. Kecerdasan emosional merupakan suatu kecakapan yang meliputi kemampuan mengendalikan diri sendiri . elf contro. , memiliki semangat dan ketekunan . eal persistenc. , kemampuan memotivasi diri sendiri . bility to motivate one sel. , ketahanan menghadapi frustasi, kemampuan mengatur suasana hati (Moo. , dan kemampuan menunjukkan empati . , harapan serta optimisme (Furnham, 2. Ciri-ciri kecerdasan emosi tinggi yaitu memiliki kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan dapat bertahan dalam menghadapi frustasi, dapat mengendalikan dorongan-dorongan hati sehingga tidak melebih-lebihkan suatu kesenangan, mampu mengatur suasana hati dan dapat menjaganya agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berfikir, dan mampu berempati terhadap orang lain serta tidak lupa berdoa (Ibrahim, 2. Ada banyak faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosi seperti faktor kelurga, lingkungan sosial, psikologis, faktor pelatihan emosi, dan faktor pendidikan. Berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosi tersebut, faktor pendidikan merupakan suatu wadah yang dapat digunakan untuk mengembangkan dan melatih kecerdasan emosi individu (Astuti, 2. Seseorang dapat tumbuh dan berkembang dengan baik jika mendapatkan pendidikan serta ajaran norma-norma yang baik pula. Pendidikan dalam bahasa Yunani berasal dari kata padegogik yaitu ilmu menuntun anak. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pendidikan berasal dari kata dasar didik . , yaitu memelihara dan memberi latihan . jaran, pimpina. mengenai akhlak dan kecerdasan Sedangkan pendidikan mempunyai pengertian proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perbuatan, cara mendidik. Pendidikan bisa didapatkan melalui pendidikan formal maupun pendidikan non Pendidikan non formal bisa kita dapatkan melalui kursus atau les diluar sekolah, kelompok belajar dan lain sebagainya, sedangkan pendidikan formal kita dapatkan melalui P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN: 2580-6416 | 13 Rhiesqi Chintia Fonna 1Perbedaan Kecerdasan Emosi sekolah dengan jenjang atau tingkatan mulai dari SD. SMP. SMA. Sekolah Menengah Atas atau SMA merupakan jenjang atau tingkatan pendidikan lanjutan pada pendidikan formal setelah lulus sekolah menengah pertama (SMP) dan persiapan menuju dunia pekerjaan. Pada masa inilah masa-masa yang sulit karena masa peralihan dari remaja akhir menuju dewasa Sekolah menengah atas ditempuh dengan waktu salama tiga tahun yaitu dari kelas sepuluh (X) sampai kelas dua belas (XII), di Indonesia selain sekolah menengah atas reguler ada juga sekolah menengah atas yang berbasis agama. Sekolah reguler merupakan sekolah umum yang tidak memuat program tambahan secara khusus didalamnya (Rudyani et al. , 2. Secara umum pembelajaran berlangsung dari pagi hingga siang hari, yaitu pukul 07. 30 WIB. Sekolah reguler yang dimaksud dalam penelitian ini adalah SMAS Nasional Namoterasi. Sekolah berbasis agama merupakan jenjang pendidikan formal yang bernaung dibawah institusi religi atau keagamaan. Sekolah berbasis agama memiliki kurikulum dan tingkatan kelas yang sama dengan sekolah pada umumnya, hanya saja hal yang membuat adanya perbedaan antara sekolah reguler dengan sekolah berbasis agama adalah adanya tambahan lebih yang diberikan sekolah dan pengajar kepada siswa yaitu berupa pengajaran tentang nilai-nilai agama yang lebih mendalam, adanya aktivitas yang dilakukan disekolah yang menjurus pada kegiatan agama. Sekolah berbasis agama yang diambil dalam penelitian ini adalah SMAS GKPI Padang Bulan. Ajaran dan nilai-nilai keagamaan dapat memberi pengaruh terhadap kecerdasan emosi, dimana semakin komitmen seseorang dalam menjalankan agama yang diwujudkan dalam keyakinan, perasaan, pengetahuan, ritual, dan perilaku sehari-hari, maka orang tersebut akan semakin menunjukkan perilaku-perilaku yang menjadi dimensi dalam kecerdasan emosional (Thaib. Berdasarkan uraian, observasi, dan wawancara yang telah dilakukan peneliti, maka peneliti tertarik untuk meneliti dengan judul: AuPerbedaan Kecerdasan Emosi Antara Siswa SMA Swasta Nasional Namoterasi (Sekolah Regule. dan SMA Agama Di SMAS GKPI Padang Bulan (Sekolah Agam. Ay. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan adalah metode Ex post Facto, dimana metode yang digunakan dalam penelitian yang meneliti hubungan sebab akibat yang tidak dimanipulasi oleh peneliti (Creswell & Creswell, 2. Adanya hubungan sebab akibat didasarkan atas kajian teoritis, bahwa suatu variable tertentu mengakibatkan variable tertentu, metode Ex post Facto terdiri dua jenis yaitu komperatif . ji beda/perbedaa. dan kolerasi . Metode komperatif adalah metode yang digunakan dalam penelitian yang diarahkan untuk mengetahui apakah dua variabel ada perbedaan dalam suatu aspek. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X dan XI SMA Swasta Nasional Namoterasi . ekolah regule. sebanyak 359 siswa dan siswa kelas X dan XI SMAS GKPI Padang Bulan . ekolah agam. sebanyak 334 siswa. Sampel Sampel dalam penelitian ini adalah siswa yang memiliki kriteria sebagai berikut: subjek bersekolah di SMAS Nasional Namoterasi dan SMAS GKPI Padang Bulan. subjek duduk di kelas X dan XI. subjek berada pada rentang usia 14-17 tahun. Berdasarkan kriteria tersebut diperoleh sampel di SMAS Nasional Namoterasi . ekolah regule. 130 siswa dan SMAS GKPI Padang Bulan . ekolah agam. 135 siswa. Teknik Pengumpulan Data Alat yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan angket/kuesioner. Dalam penelitian ini digunakan skala kecerdasan emosi yang dilihat P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN: 2580-6416 | 14 Rhiesqi Chintia Fonna 1Perbedaan Kecerdasan Emosi melalui aspek-aspek skala kecerasan emosi (Bangun & Iswari, 2. menempatkan kecerdasan emosi menjadi lima aspek utama, yaitu : Mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain, membina hubungan dengan orang lain. Definisi Operasional: Jenis pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) di Indonesia beragam, ada sekolah reguler atau umum dan berbasis agama. Sekolah Menengah Atas (SMA) reguler merupakan keseluruhan dari satuan pendidikan yang direncanakan, dilaksanakan dan dikendalikan yang memiliki tujuan untuk menunjang tercapainya tujuan nasional dimana usia umum siswanya berusia 16-18 tahun. Sedangkan sekolah menengah atas (SMA) berbasis agama adalah sekolah yang sama dengan sekolah reguler hanya saja bedanya SMA agama lebih menekankan pada nilai-nilai agama. Kecerdasan emosi adalah kemampuan yang dimiliki seseorang dalam mengenali serta mengelola emosi pribadi, mampu memotivasi diri sendiri dan menjalin hubungan yang baik dengan orang lain. Dalam penelitian ini variabel bebas (X) yaitu SMA reguler dan SMA berbasis agama, dan variabel terikat (Y) yaitu kecerdasan emosi. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Uji Validitas dan Reliabilitas Skala kecerdasan emosi dari 40 aitem, ada 5 aitem-aitem yang gugur atau yang skor validitas Corrected Item-Total Correlation < 0,300 yaitu aitem nomor 4, 8, 15, 19, 35, yang berarti ada 35 aitem dinyatakan valid karena skor validitas Corrected Item-Total Correlation Ou 0,300, dengan Cronbach's Alpha reliabilitas 0,954 yang berarti skala kecerdasan emosi tergolong reliabel. Uji Normalitas Pada penelitian ini uji normalitas yang digunakan adalah uji normalitas sebaran data penelitian yang menggunakan teknik One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test, dengan kriterianya variabel kecerdasan emosional yang menggunakan skala likert. Apabila p > 0. 05 sebarannya dinyatakan normal, sebaliknya jika p < 0,05 sebarannya dinyatakan tidak normal. Berdasarkan hasil uji normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test didapatkan hasil p = 0,074 dimana p > 0,05 sehingga dinyatakan bahwa kecerdasan emosional normal. Variabel Kecerdasan Emosi Tabel 1 Rangkuman Hasil Uji Normalitas Rerata Sig 91,95 0,074 0,074 Keterangan Normal Uji Homogenitas Uji homogenitas bertujuan untuk mengetahui apakah subjek penelitian bersifat homogeny atau tidak. Sebagai kriterianya apabila nilai signifikan atau p > 0,050 maka dinyatakan homogen apabila nilai signifikan atau p < 0,050 maka dinyatakan tidak Berikut ini merupakan tabel rangkuman hasil perhitungan uji homogenitas. Variabel Tabel 2 Rangkuman Hasil Uji Homogenitas Sig Keterangan Kecerdasan Emosi P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN: 2580-6416 ,563 ,454 Homogen | 15 Rhiesqi Chintia Fonna 1Perbedaan Kecerdasan Emosi Berdasarkan tabel diatas diketahui nilai P > 0,05 yaitu sig = 0,454 maka dinyatakan Uji Hipotesis Berdasarkan hasil perhitungan analisis t-tes, diketahui ada perbedaan kecerdasan emosi siswa yang bersekolah di sekolah reguler dan agama. Hasil tersebut diketahui berdasarkan nilai atau koefesien perbedaan yaitu dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,050, hal ini berarti nilai signifikansi yang diperoleh lebih kecil dari 0,050. Berdasarkan hasil tersebut, maka hipotesis yang berbunyi ada perbedaan kecerdasan emosi antara siswa SMA Swasta Nasional Namoterasi . ekolah regule. dan SMA Agama di SMAS GKPI Padang Bulan . ekolah agam. dimana kecerdasan emosional siswa yang bersekolah di SMA GKPI Padang Bulan . ekolah agam. lebih tinggi dari pada siswa SMA Swasta Nasional Namoterasi . ekolah regule. dinyatakan diterima. Hasil perhitungan analisis T-Tes dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 3 Rangkuman Hasil Uji Hipotesis Kecerdasan Emosi Antara ,563 16,719 263 ,000 Siswa SMA Swasta Nasional Namoterasi (Sekolah Regule. dan SMA Agama di SMAS GKPI Padang Bulan (Sekolah Agam. Keterangan Ada perbedaan kecerdasan emosi Berdasarkan tabel di atas diketahui terdapat perbedan kecerdasan emosi antara siswa yang bersekolah di SMA Swasta Nasional Namoterasi dan SMA Agama di SMAS GKPI Padang Bulan, dengan nilai koefesien perbedaan memiliki nilai signifikan 0,000< 0,050. Dengan demikian didapat hasil bahwa adanya perbedaan kecerdasan emosi antara siswa SMA Swasta Nasional Namoterasi dan siswa SMA Agama di SMAS GKPI Padang Bulan. Pembahasan Perbedaan Kecerdasan Emosi Antara Siswa SMA Swasta Nasional Namoterasi (Sekolah Regule. dan Siswa SMA Agama Di SMAS GKPI Padang Bulan (Sekolah Agam. Penelitian ini dilakukan untuk menguji sebuah hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan kecerdasan emosi antara siswa SMA Swasta Nasional Namoterasi . ekolah regule. dan SMA agama di SMAS GKPI Padang Bulan . ekolah agam. Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 265 siswa, yaitu siswa SMA Swasta Nasional Namoterasi sebanyak 130 siswa dan siswa SMAS GKPI Padang Bulan sebanyak 135 siswa. Metode penelitian yang yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode komperatif yaitu metode untuk mengetahui apakah dua variabel ada perbedaan dalam suatu aspek. Berdasarkan hasil analisis data dari uji normalitas diperoleh koefisien Kolmogorov-Smirnov yang menyatakan bahwa siswa SMA Swasta Nasional Namoterasi . ekolah regule. dan SMA agama di SMAS GKPI Padang Bulan . ekolah agam. memiliki kecerdasan yang cukup tinggi dengan nilai rata-rata 91,95 serta sig kecerdasan emosi sebesar 0,074 dimana sig > 0,05 sehingga dinyatakan normal. Pada uji homogenitas dan uji hipotesis didapat hasil sig 0,454 dinyatakan normal karena p>0,05. Berdasarkan uji T-Test diperoleh hasil t = 16,719 dengan p< 0,05 yang artinya ada perbedaan kecerdasan emosi siswa ditinjau dari SMA Swasta Nasional Namoterasi . ekolah regule. dan SMA agama di SMAS GKPI Padang Bulan . ekolah agam. Apabila dilihat dari P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN: 2580-6416 | 16 Rhiesqi Chintia Fonna 1Perbedaan Kecerdasan Emosi nilai rata-rata kelompok berdasarkan jenis sekolah, sekolah agama yaitu SMAS GKPI Padang Bulan memiliki rata-rata sebesar 103,43 lebih tinggi dibandingkan dengan SMA Swasta Nasional Namoterasi . ekolah regule. dengan nilai rata-rata 80,04. Hasil Perhitungan Mean Hipotetik dan Mean Empirik Tabel 4 Hasil Perhitungan Nilai Mean Hipotetik dan Mean Empirik Variabel SMA Swasta Nasional Namoterasi (Sekolah Regule. SMAS GKPI Padang Bulan (Sekolah Agam. Nilai Rata-rata/Mean Keterangan Hipotetik Empirik 11,103 80,04 Rendah 11,651 103,43 Tinggi Berdasarkan perbandingan kedua nilai rata-rata (Mean Hipotetik dan Mean Empiri. , maka dapat dinyatakan bahwa kecerdasan emosi pada SMA agama di SMAS GKPI Padang Bulan lebih tinggi dikarenakan mean hipotetik = 87,5 lebih lebih kecil dari mean empiriknya = 103,43 dimana selesihnya melebihi nilai SD = 11,651 dan perbedaan kecerdasan emosi pada SMA Swasta Nasional Namoterasi . ekolah regule. tergolong rendah sebab mean hipotetik = 87,5 lebih besar dari mean empirik = 80,04 dimana selesihnya kurang dari nilai SD = 11, 103. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dalam tingkat kecerdasan emosi antara siswa yang bersekolah di SMA Swasta Nasional Namoterasi . ekolah regule. dan siswa yang bersekolah di SMAS GKPI Padang Bulan . ekolah berbasis agam. Hasil analisis statistik melalui uji-t menunjukkan bahwa siswa dari sekolah berbasis agama memiliki tingkat kecerdasan emosi yang lebih tinggi secara signifikan dibandingkan dengan siswa dari sekolah reguler. Nilai rata-rata kecerdasan emosi pada siswa sekolah agama secara empirik melebihi nilai rata-rata hipotetik dan melampaui simpangan baku, sementara pada siswa sekolah reguler justru berada di bawah rata-rata hipotetik. Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan pendidikan yang diterapkan di sekolah berbasis agamaAiyang mengintegrasikan pengajaran nilai-nilai spiritual, moral, serta aktivitas keagamaan secara lebih intensAiberkontribusi besar terhadap pengembangan aspek emosional siswa. Pendidikan agama tidak hanya menanamkan pemahaman kognitif tentang ajaran, tetapi juga melatih siswa dalam pengelolaan emosi, pembentukan empati, peningkatan kesabaran, serta kemampuan membangun hubungan sosial yang positif. Faktor-faktor inilah yang secara langsung atau tidak langsung mendorong peningkatan kecerdasan emosi siswa. Sebaliknya, meskipun sekolah reguler juga memberikan pendidikan karakter, pendekatannya yang lebih umum dan kurang mendalam dalam aspek spiritual atau religius tampaknya belum cukup kuat dalam membentuk kecerdasan emosional secara optimal. Dengan demikian, perbedaan sistem pendidikan yang diterapkan antara kedua jenis sekolah tersebut menjadi faktor utama dalam membentuk kualitas kecerdasan emosi para siswa. Kesimpulan ini memperkuat pandangan bahwa kecerdasan emosi bukan hanya dipengaruhi oleh faktor bawaan atau lingkungan keluarga, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh sistem pendidikan dan nilai-nilai yang ditanamkan dalam keseharian siswa di lingkungan sekolah. Hal ini menjadi bukti bahwa pendidikan yang menyeluruh, tidak hanya menekankan pada aspek intelektual tetapi juga emosional dan spiritual, memiliki peran P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN: 2580-6416 | 17 Rhiesqi Chintia Fonna 1Perbedaan Kecerdasan Emosi strategis dalam membentuk individu yang lebih matang secara emosional dan siap menghadapi tantangan kehidupan sosial maupun akademik. Saran Berdasarkan temuan ini, disarankan agar sekolah reguler mulai mengadopsi pendekatan pendidikan yang tidak hanya fokus pada aspek kognitif, tetapi juga memperhatikan pengembangan aspek emosional siswa. Hal ini dapat dilakukan melalui pelatihan keterampilan sosial dan emosional, kegiatan keagamaan atau moralitas, serta pembinaan karakter yang konsisten. Selain itu, pihak sekolah diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan emosional siswa, misalnya dengan menyediakan konseling, kegiatan ekstrakurikuler yang positif, dan guru yang mampu menjadi teladan dalam pengelolaan emosi. Dengan demikian, diharapkan semua siswa, baik dari sekolah reguler maupun berbasis agama, dapat tumbuh dengan kecerdasan emosi yang baik sebagai bekal dalam kehidupan sosial dan profesional mereka di masa depan. P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN: 2580-6416 | 18 Rhiesqi Chintia Fonna 1Perbedaan Kecerdasan Emosi DAFTAR PUSTAKA