Ahad: Multidisciplinary Journal of Islamic Studies vol . No. 2025:54-68. ISSN . x-x, https://journal. id/index. php/ahad/ DOI: https://doi. org/ 10. 64131 /ahad. Strategi Pengembangan Religius Culture Peserta Didik MTs Al-fatimiyah Maya SayyidahA AUniversitas Sunan Drajat Lamongan. Indonesia mayasayidah@gmail. Submitted: 04 Juni 2025 Accepted: 05 Juni 2025 Published: 09 Juni 2025 Abstract This study aims to determine how the development of religious culture for students. The subjects of this study were students of MTs. Al-Fathimiyah Banjarwati Paciran Lamongan. The type of research used is Qualitative, which produces data and is analyzed using descriptive methods. The data collected using interview techniques. Observation, and documentation. The results of this study are that there are several developments of Religious Culture in MTs. Al-Fathimiyah includes 5 dimensions, dimensions of belief, dimensions of practice, dimensions of experience, dimensions of knowledge and dimensions of consequences Keywords: Strategic. Religius Culture. Student This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright A 2025 by Author PENDAHULUAN Dari Abu Darda: Aku mendengar Nabi Muhammad saw berkata. AuTidak ada sesuatu yang diletakkan pada timbangan (Mizan di hari pembalasa. yang lebih berat daripada akhlak yang mulia. Dan sesungguhnya orang yang berakhlak mulia bisa mencapai derajat orang yang berpuasa dan shalatAy. (HR. Tirmidz. Dari hadist di atas dapat dipahami bahwa, ajaran Islam sangat memberikan perhatian besar kepada akhlaq (Religius cultur. Dengan adanya implementasi Religius Culture dapat meningkatkan kembali pendidikan karakter, maka peserta didik akan menjadi generasi yang unggul bukan hanya dalam bidang keilmuan tapi juga karakternya dengan dilandasi pondasi yang kuat dari nilai- nilai keagamaan. pendidikan karakter pada intinya bertujuan membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan yang Maha Esa berdasarkan pancasila. Menurut Koentjaraningrat, upaya pengembangan budaya ada tiga tataran, yaitu tataran nilai yang dianut, tataran praktik keseharian dan tataran simbolsimbol. Budaya memberikan contoh atau teladan yang baik kepada peserta didik. Menurut Clock & Stark ada Lima macam dimensi keberagamaan, yaitu: Dimensi Keyakinan Dimensi praktik Dimensi pengalaman Dimensi pengetahuan agama Dimensi konsekuens Tradisi/ budaya memiliki beberapa fungsi, yang antara lain dapat difungsikan sebagai wadah ekspresi keagamaan, dan alat pengikat kelompok. Dari berbagai dimensi yang diatas, peserta didik disekolah diharapkan akan sampai ke dimensi tertinggi yaitu mempunyai pengetahuan agama yang cukup lalu mengamalkan hingga merasakan efek baik dari ke istiqomahannya dalam melaksanakan ajaran islam . dengan demikian pengembangan Budaya Religius di sekolah akan sangat membantu menanamkan kebiasaan baik dalam hidupnya yang mana hal tersebut dapat berpengaruh pada prilakunya. Religius menurut Islam disini mempunyai makna bahwa menjalankan ajaran agama secara menyeluruh dari semua aspek kehidupan bagi setiap muslim baik dalam berpikir, bersikap maupun bertindak. Untuk itu perlu adanya penekanan terhadap semua aspek kehidupan setiap muslim supaya dalam bertindak seseorang harus sesuai dengan apa yang telah diperintahkan Allah sesuai dengan ajaran Islam. Sedangkan Culture . berasal dari bahasa Sansakerta AubudhayahAy bentuk jamak dari budhi yang artinya akal atau segala sesuatu yang berkaitan dengan akal pikiran, nilai-nilai dan sikap mental. Budi daya berarti memberdayakan sebagaimana dalam bahasa inggris dikenal dengan dengan Culture yang artinya mengolah atau mengerjakan sesuatu yang kemudian berkembang sebagai cara manusia mengaktualisasikan rasa . , karasa . dan karya-karyanya . Religius culture dalam konteks ini berarti proses pembiasaan suasana Religus dalam kegiatan kegiatan sehari-hari yang terdapat kehidupan di madrasah dan di masyarakat, yang bertujuan untuk menumbuh kembangkan nilai-nilai agama Islam yang diperoleh siswa dari hasil pembelajaran di sekolah, agar menjadi bagian yang menyatu dalam perilaku siswa sehari-hari dalam lingkungan sekolah atau METODE Dalam penelitian ini peneliti mengunakan pendekatan Kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif yaitu suatu penelitian yang analisis datanya hanya sampai pada deskripsi variabel satu demi satu. instrumen penelitian yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Sedangkan prosedur pengumpulan data dengan menggunakan metode observasi, metode wawancara dan metode dokumentasi. Analisis data dalam peneltian ini terdiri dari langkah reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Dimensi Religius Culture Yang Dikembangkan Keberagamaan atau Religiusitas dapat diwujudkan dalam berbagai sisi kehidupan manusia. Aktivitas beragama tidak hanya terjadi ketika seorang melakukan perilaku ritual . , tetapi juga ketika melakukan aktivitas lain yang didorong oleh kekuatan supranatural. Bukan hanya yang berkaitan dengan aktifitas yang tampak dan dapat dilihat dengan mata, tetapi juga aktivitas yang tidak tampak dan terjadi dalam hati seseorang. Dari data di lapangan, dapat dikemukakan bahwa pengembangan religius culture di MTs. Al-Fatimiyah meliputi: Pengamalan agama yang dianutnya. Dimensi praktik dalam agama islam dapat dilakukan dengan menjalankan ibadah seperti : Membaca DoAoa terlebih dahulu sebelum memulai pelajaran. Melaksanakan sholat jamAoah dilakukan setiap hari oleh pendidik dan peserta didik. Meskipun melaksanakannya setiap hari, hal ini bertujuan untuk melatih para siswa agar terbiasa beribadah pada pagi hari, berdzikir, bertahmid, bertakbir menghada Allah, karena sholat dhuha merupakan bagian kekuatan untuk memperoleh rizki. Selain itu juga shalat dhuha berjamaah ini untuk membiasakan shalat berjamaah dari sejak dini sehingga nantinya akan terbiasa ketika sudah berada di lingkungan tempat tinggalnya. Sholat JamaAoah Dhuhur, bagi yang berhalangan membaca sholawat nariyah, sholat jamaAoah dhuhur dilakukan setiap hari oleh pendidik dan peserta didik. Setiap hari kegiatan ini dilakukan supaya peserta didik menjadi Menghafal al-QurAoan dan MurojaAoah (Mengulang-ngulan. bacaan Dibekali ilmu agama yang kuat dengan memahami makna atau isi kandungan yang terdapat dalam ayat Al-QurAoan serta mempelajari kitabkitab kuning Disiplin selalu istiqomah dalam menjalankan rutinitas setiap hari seperti shalat dhuha, zakat, puasa,haji . agi yang mamp. Dimensi pengalaman, dimensi ini berisikan dan memperhatikan fakta bahwa semua agama mengandung pengharapan-pengharapan tertentu, meski tidak tepat jika dikatakan bahwa seorang yang beragama dengan baik pada suatu waktu akan mencapai pengetahuan subjektif dan langsung mengenai kenyataan terakhir bahwa ia akan mencapai suatu kontak dengan kekuatan spiritual. Misalnya seorang merasa dekat dengan Tuhan, seseorang merasa takut berbuat dosa, seseorang merasakan doAoa nya dikabulkan oleh tuhan, suka menolong, bekerjasama, sedekah, berlaku jujur, menjaga lingkungan hidup, menjaga amanah, tidak mencuri, tidak korupsi, tidak menipu, tidak berjudi, tidak minum-minuman yang memabukkan, mematuhi norma-norma islam dalam prilaku sosial, berjuang untuk hidup sukses menurut ukuran islam dan Dimensi pengetahuan agama yang mengacu pada harapan bahwa orang-orang yang beragama paling tidak memiliki sejumlah minimal pengetahuan mengenai dasar-dasar keyakinan, ritus-ritus, kitab suci dan tradisi . Dimensi ini menunjukkan dalam islam menunjuk kepada seberapa tingkat pengetahuan dan pemahaman muslim terhadap ajaran-ajaran agamanya terutama mengenai pokok agamanya, sebagaimana termuat dalam kitab sucinya,. Hal ini berhubungan dengan aktivitas seseorang untuk mengetahui ajaran-ajaran dalam Dimensi konsekuensi, dimensi ini mengacu pada identifikasi akibat-akibat keyakinan keagamaan, praktik, pengalaman, dan pengetahuan seseorang dari hari ke hari. Berkaitan dengan dimensi pengetahuan agama yang mengacu kepada harapan bahwa orang-orang yang beragama paling tidak memiliki dasar-dasar tradisi/budaya. Dari kelima aspek Religiulitas di atas semakin tinggi penghayatan dan pelaksanaan seseorang terhadap kelima dimensi tersebut. Religiusitasnya. Tingkat Religiusitasnya seseorang akan tercemin dari sikap prilakunya sehari-hari yang mengarah kepada prilaku yang sesuai dengan tuntutan agama. Temuan diatas tersebut sejelan dengan teori Clock & Stark dalam bukunya American Piety : The Nature of Religius Commitmen ada lima macam dimensi keberagamaan, yang meliputi lima dimensi: Dimensi keyakinan : kepercayaan mengenai tuhan, malaikat, kitab, nabi dan rasul, hari kiamat, surga neraka dan lain-lain. Keyakinan tersebut sudah tertanam dalam diri peserta didik dengan adanya mata pelajaran yang berhubungan dengan hal tersebut seperti : Aqidah akhlaq. Fiqih. Al-QurAoan Hadis serta kitab-kitab kuning. Dimensi Praktik : Melaksanakan sholat jamAoah dhuha dilakukan setiap hari oleh pendidik dan peserta didik. Sholat JamaAoah Dhuhur, bagi yang berhalangan membaca sholawat nariyah, melakaksankan Puasa, peserta didik membaca Al-QurAoan dengan menggunakan mic di kantor madrasah. Dimensi Pengalaman : berakhlakul karimah . opan santu. displin dalam melaksanakan kegiatan apapun, melaksanakan amar maAoruf nahi munkar, bertaqwa kepada Allah, selalu mematuhi peraturan di madrasah dan di pondok Pesantren, tidak melanggar peraturan yang ditetapkan oleh madrasah dan pondok pesantren Dimensi pengetahuan agama: menghafalkan Al-QurAoan. MurojaAoah. Mudarasa (Proses saling memperdengarkan bacaan secara berpasanga. Resitasi atau penugasan bagi peserta didik yang sudah mencapai target hafalan tetentu, mempelajari makna atau isi kandungan dari Al-QurAoan. Dimensi konsekuensi : sikap dan prilaku dari peserta didik . ata kram. yang tercermin dari diri peserta didik. ketika ada peserta didik yang berprilaku kurang sopan, tidak sesuai dengan norma-norma yang ada di madrasah maka akan diberikan sanksi. Seperti: berteriak, mencuri, berkelahi dengan temannya. Srategi Pengembangan Religius Cultur Peserta Didik Adapun upaya atau strategi dalam pengembangan Religius Culture di MTs. Al-Fathimiyah terdiri dari : Menanamkan kebiasan- kebiasan yang baik Strategi dalam meningkatkan pengembangan Religius Culture berbasis pendidikan Al-QurAoan di madrasah Al-Fathimiyah dengan menanamkan kebiasaan yang baik (Berakhlaqul Karima. kepada peserta Semua Stakeholder yang di madrasah harus dapat menjadi contoh atau panutan yang baik keapada peserta didk dalam bertindak. Religius Culture dapat menjadikan wahana sebagai pendidkan karakter, karakter anak didik akan dapat dibentuk dan kualitas pendidikan akan mampu ditingkatkan dengan peserta didik dalam melakukan pembelajaran dengan metode pembiasaan yang nantinya perlahan-lahan membawa perubahan sehingga nilai Religius akan langsung ter-include kedalam diri peserta didik, dengan peserta didik melakukan kegiatan yang merupakan bagian dari Budaya Religius. Mengakkan Disiplin Disiplin merupakan cara untuk mengajarkan kepada anak-anak prilaku moral yang diterima kelompok. Tujuannya adalah memberitahukan kepada peserta didik, prilaku mana yang baik dan mana yang buruk dan mendorongnya untuk berprilaku sesuai norma-norma yang ada di Madrasah. Dalam penerapan disiplin yang dilakukan oleh MTs. Al-Fathimiyah sudah terlaksana dengan baik dengan melalui jadwal, absensi yang telah di sediakan dan evaluasi. Ada 3 unsur penting dalam disiplin, yaitu peratuan dan hukum yang berfungsi sebagai pedoman bagi penilaian yang baik, hukuman bagi pelanggaran peraturan dan hukum, dan hadiah unuk prilaku yang baik atau usaha untuk berprilaku sosial yang baik. Selama awal masa kanak-kanak, aspek pendidikan dari disiplin harus ditekankan dan hukuman hanya di berikan ketika kalau terbukti anak-anak mengerti apa yang diharapkan, terlebih kalau ia sengaja melanggar harapan-harapan ini. Disiplin harus ditekankan dan hukumannya hanya diberikan kepada peserta didik yang terbukti melanggar norma-norma yang ada di madrasah. Sanksi-sanksi Pengontrolan dan pengawasan yang dilakukan terhadap peserta didik yang melanggar norma atau aturan yang sudah ditetapkan oleh pihak madrasah berupa sanksi yang bersifat mendidik bukan sansksi kekerasan fisik. Adapun macam sanksi nya seperti teguran secara halus, diberi peringatan, panggilan orang tua. Sanksi tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran terhadap peserta didik yang nantinya dapat menberikan arahan dan bimbingan terhadap terhadap pertumbuhan sikap dan tingkah laku peserta didik menjadi lebih baik lagi. Dalam penerapan Religius Culure berbasis pendidikan AlQurAoan di madrasah Al-Fathimiyah , ketika peserta didik pulang ke rumah (Libura. ada kerja sama terhadap orang tua (Wali Muri. bahwasanya peserta didik harus tetap MururojaAoah Al-QurAoan walaupun satu baris dan kedua orang tuanya harus dapat mengontrol Tata tertib peserta didik atau aturan dasar ketika peserta didik mekakukan tingkah laku tidak sesuai dengan norma yang ada di madrasah, maka peserta didik di madrasah Al-Fathimiyah wajib mempunyai buku pegangan pelanggaran (Buku Sak. masingmasing, setiap peserta didik yang melanggar peraturan atau melakukan hal-hal yang kurang baik seperti : teriak-teriak, ghosob, tidak menempatkan barang pada tempatnya dll, maka akan ditulis di buku pelanggaran tersebut dan sebaliknya jika ada peserta didik yang berprestasi maka akan diberikan reward . , setiap pelanggaran dan peserta didik yang berprestasi mempunyai pointpoint tersendiri. Kegitan Ekstrakuikuler Kegiatan ekstrakulikuler di MTs. Al-Fathimiyah dilaksankan pada hari selasa dan jumAoat siang. Adapun bentuk kegiatannya adalah terdiri dari : Paramuka. Tilawah Al-QurAoan . eni baca AlQurAoa. , rebana, kaligrafi . eni menulis ara. , jurnalistik, hasta karya dan tata boga. Dengan diadakannya ekstrakulikuler di madrasah ini supaya peserta didik dapat mengetahui atau menilai kemampuan akademis, sosial, emosional, budaya, moral dan kemampuan rokhaninya selain itu ada nilai kreativitas dapat mengekspresikan kemampuan kreativitasnya dapat mengekspresikan kemampuan denagn cara mencoba sesuatu yang ada dalam pemikirannya dan dapat mengembangkan bakat dan minatnya. Memberikan Motivasi dan dorongan Memberikan peserta didik merupakan hal yang sangat perlu dilakukan supaya peserta didik lebih semangat lagi dalam belajar melaksanakan kegatan-kegiatan dan menghafal Al-QurAoan di MTs. Al-fathimyah, guru-guru terutama wali kelas selalu memberikan motivasi serta dukungan kepada peserta didik supaya lebih giat lagi belajarnya, lebih disiplin, dengan memberikan reward atau hadiah kepada peserta didik ketika peserta didik telah mencapai pembelajaran yang maksimal supaya peserta didik lebih semangat lagi dalam belajar. PPTQ . rogram Pelatihan Terjemah Al-QurAoa. Program ini dilaksanakan diluar jam pembelajaran di madrasah yang di ajarkan oleh guru Tahfidz. Dalam program ini peserta didik tidak hanya menghafal Al-QurAoan saja tapi menghafal dan mendalami makna dan isi kandungan di dalam Al-QurAoan yang nantinya dapat diimplemtasikan kepada Masayarakat. Dalam proses pembelajarannya guru mengulang- terlebih dahulu kemudian menyuruh peserta didik meniruknnya, setelah mengulang-ngulang per kata kemudian per ayat, vocab tersebut tidak boleh ditulis dibuku melainkan harus disimpan dalam otak, program PPTQ dilaksankan 1 minggu 2 kali yakni pada malam senin dan Rabu. PPTQ adalah program dari LPTQ lembaga yang manaungi Pembelajan Al-QurAoan, yang dilaksanakan diluar jam pembelajaran di madrasah yang di ajarkan oleh guru Tahfidz. Evaluasi Evaluasi Tahfidz Al-QurAoan di Mts. Fathimiyah dilaksanakan secara kooperatif dengan LPTQ sebagai pelaksana kegiatan. Pelaksanaan evaluasi dilakukan dua kali tiap semester, yakni pada tengah dan akhir semester. pelaksanaan evaluasi dilakukan secara tertutup dan terbuka, evaluasi tertutup dilakukan dengan metode simaAoan bertingkat. Tingkat pertama dinilai dari guru tahfidz, sedangkan tingkat kedua dinilai oleh pengasuh pesantren. Adapun ujian tahfidz terbuka dilaksanakan dengan sistem MHQ (Musabaqoh Hifdzul QurAoa. Pendukung dan penghambat pengembangan Religius Culture Faktor Pendukung MTs. Al-Fathimiyah Berada dalam naungan yayasan Pondok Pesantren yang berbasis Al-QurAoan yang sangat mempermudah dalam penerapan Religius Culture berbasis pendidikan Al-QurAoan, karena kebiasan nilai-nilai religiusnya dalam berprilaku masih terkontrol dan diawasi oleh penguruspengurus di pondok pesantren. Kegiatan Aekegiatan yang terdapat dalam pesantren ikut mendukung dalam pengembangan religius culture berbasis pendidikan Al-QurAoan. Media atau alat peraga sangat membantu dalam dalam dalam meningkatkan kualitas membaca Al-QurAoan seperti, papan Tulis, penghapus, spidol, serta guru-guru atau tenaga pendidik yang sudah ikut sertivikasi dalam membaca Al-QurAoan. Tenaga pendidik (Gur. mempunyai peran sangat penting didalam kelas Mendidik, mengevaluasi pembelajaran. Di MTs. Al-Fathimiyah wali kelas nya sebagai guru takhfid dan harus mendampingi peserta didiknya sampai lulus madrasah, jadi wali kelas di MTs. Al-Fathimiyah tidak hanya sebatas satu tahun melainkan harus sampai lulus dari madrasah supaya dapat mengetahui kemajuan dan perkembangan peserta didik dalam membaca dan menghafal Al-QurAoan, selain itu dibantu dengan guru pendamping tahfidz dari santri senior yang siap memantau, mengawasi kegiatan sehari-jari peserta didik. LPTQ (Lembaga Pengembangan Tahfidz QurAoa. Lembaga LPTQ yaitu lembaga yang menaungi seluruh pendidikan yang berhubungan dengan Al-QurAoan di yayasan pondok pesantren AlFathimiyah membantu dalam proses pegembangan pendidikan AL-QurAoan di madrasah, yang mempelajari pembelajaran Al-QurAoan (Tahfid. Tajwid, tahsin, dan terjemah serta makna dalam Al-QurAoan. Faktor Penghambat Baground peserta didik berbeda-beda, lingkungan dari peserta didik juga berbeda-beda ,bahkan sebagian ada yang mempunyai latar belakang pendidikan dasar tanpa Al-QurAoan yang meneyebabkan peserta didik mengalami kesulitan dalam membaca Al-QurAoan, oleh karena itu ketika ada peserta didik baru, tidak langsung masuk ke Madrasah melainkan harus dikarantina terlebih dahulu selama satu bulan setengah untuk memperbaiki bacaan Al-QurAoanya serta tajwidnya sebelum lanjut pada jenjang selanjutnya yaitu hafalan. Hambatan lain yang dialami oleh peserta didik yaitu : mengantuk, malas. Peserta didik dalam melaksankan Pengembangan Religius Culture berbasis pendidikan Al-QurAoan terkadang merasakan bosan dan jenuh dikarena waktu belajar yang padat antara di Pondok Pesantren dan di madrasah. Kemampuan peserta didik berbeda-beda terkadang ada peserta didik yang sulit dalam menghafal tapi lancar bacaannya dan ada yang lancar bacaanya tapi sulit dalam menghafal KESIMPULAN Pengembangan Religius Culture di MTs. Al-Fathimiyah Banjarwati Paciran Lamongan. MTs. Al-Fathimiyah adalah madrasah yang yang berada dalam naungan Yayasan Pondok Pesantren. Kegiatan Religius culture di MTs. Al-Fathimiyah sudah terlaksana dengan baik dan dilakukan dengan istiqomah. Untuk menjalankan Religius Culture madrasah bekerja sama dengan yayasan. kegiatan Religius Culture di MTs. Al-Fathimiyah ada lima dimensi tersebut meliputi : Dimensi Keyakinan Dimensi praktik Dimensi pengalaman Dimensi pengetahuan Dimensi konsekuaensi Adapun strategi dalam pengembangan Religius Culture MTs. Al-Fathimiyah Banjarwati Paciran Lamongan meliputi: Menanamkan kebiasaan yang baik Menegakkan disiplin kepada peserta didik Sanksi- sanksi Memberikan motivasi dan dukungan Ekstrakulikuler PPTQ ( Pelatihan Penerjemah Al-QurAoa. Evaluasi DARTAR PUSTAKA Abudin Nata. Pendidikan dalam Perspektif Al-QurAoan. Jakarta: Prenadamedia Group, 2016. Abudin Nata. Pendidikan dalam Perspektif Al-QurAoan. Jakarta: Prenadamedia Group, 2016. Ahmad Ahmad. Metodologi Pengajaran Agama Islam. Bandung: Remaja: Rosda Karya, 2004. Bambang Syamsul Arifin. Psikologi Agama. Bandung: CV Pustaka Setia, 2015. Departemen Agama RI. Al-QurAan dan Tafsirnya (Edisi yang Disempurnaka. Jakarta: Lentera Abadi, 2010. Khudhari Umar, pengantar study Al-QurAoan. Bandung: Al-MaAoarif, 1987. Koentjaraningrat. Kebudayaan. Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006. MasAoudi Fathurrohman. Cara Mudah Menghafal Al-QurAoan Dalam Satu Tahun. Yogyakarta: Elmatera, 2012. Muhammad Fathurrohman,Aupengembanan Budaya Religius Dalam Meningkatkan Mutu PendidikanAy. TAAoALLUM. Vol 04 No. 01 (Juni 2. Munawwar Khalil, kembali kepada Al-QurAoan dan sunnah. Jakarta: Bulan Bintang. Omar Mohammad Al-Toumy Al-Syaibani diterjemahkan oleh Hasan Langgulung. Falsafah Pendidikan Islam. Penerbit Bulan Bintang. Jakarta, 1979. Quraish Shihab. Membumikan QurAoan. Bandung: Mizan Media Utama, 1994. Toto Tasmara. Membudayakan Etos Kerja. Jakarta: Gema Insani. Toto Tasmara. Membudayakan Etos Kerja Islami. Jakarta: Gema Insani.