Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 1 Juli 2024 Hal : 13 - 22 Available Online at jurnal. id/focus PENGELOLAAN SAMPAH BERBASIS STAKEHOLDERS DI DAERAH PARIWISATA Johan Immanuel Aritonang1*. Rudi Saprudin Darwis2. Meilanny Budiarti Santoso3 1Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial. FISIP Universitas Padjadjaran, 2,3Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial. FISIP Universitas Padjadjaran Article history Received : 14 Juni 2024 Revised : 5 Juli 2024 Accepted : 6 Juli 2024 *Corresponding author Email : 1johan21001@mail. No. doi: 10. 24198/focus. ABSTRAK Pengelolaan sampah di daerah pariwisata menjadi fokus penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan Artikel pengelolaan sampah berbasis stakeholders di daerah pariwisata dengan melibatkan berbagai pihak yang memiliki kepentingan dalam industri pariwisata. Konsep Pentahelix digunakan sebagai landasan kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, masyarakat, dan media dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang efektif dan berkelanjutan. Melalui metode deskriptif kualitatif dan studi literatur, artikel ini menganalisis peran masing-masing pemangku kepentingan serta sistem pengelolaan sampah mandiri berbasis masyarakat dan pemanfaatan teknologi. Hasilnya menunjukkan perlunya kerjasama aktif dalam menerapkan pendekatan holistik dalam penanganan sampah pariwisata. Kata kunci: Pengelolaan sampah, daerah pariwisata. Pentahelix, kolaborasi stakeholders, keberlanjutan ABSTRACT Waste management in tourism areas is an important focus in maintaining environmental sustainability and community This article examines stakeholder-based waste management in tourism areas by involving various parties who have an interest in the tourism industry. The Pentahelix concept is used as the basis for collaboration between government, industry, academia, community, and media in creating an effective and sustainable waste management system. Through descriptive qualitative method and literature study, this article analyzes the role of each stakeholder as well as the communitybased independent waste management system and technology The results show the need for active cooperation in implementing a holistic approach in handling tourism waste. Key word: Waste management, tourism area. Pentahelix, stakeholder collaboration, environmental sustainability. PENDAHULUAN Hingga saat ini, industri pariwisata masih sangat penting bagi perkembangan ekonomi global. Pariwisata mendorong pertumbuhan ekonomi yang berdampak pada kehidupan jutaan orang. Pada tahun 2017, sector pariwisata Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 1 Juli 2024 Hal : 13 - 22 Available Online at jurnal. id/focus mengurangi stres di tempat kerja, dan memupuk toleransi melintasi batas-batas negara (Crotti & Misrahi, 2. Indonesia, selama tahun 2016, sektor jasa melaporkan peningkatan PDB (Produk Domestik Brut. yang signifikan sekitar 4,03%, atau sebesar Rp. 500,19 triliun, dengan peningkatan devisa PDB antara Rp. 176 hingga 184 triliun, dan mempekerjakan sekitar 12 ribu orang (Kementerian Pariwisata, 2. Data yang disajikan di sini menunjukkan bahwa pariwisata kesejahteraan masyarakat. Prospek pariwisata di Indonesia sangat menjanjikan dikarenakan potensi Indonesia dalam industry pariwisata yang sangat besar dengan didukung oleh keindahan alam, warisan budaya dan beragam destinasi wisata. Pariwisata di Indonesia akan membawa manfaat baik di bidang ekonomi maupun bidang sosial bagi Indonesia melalui upaya pelestarian keindahan alam, warisan budaya, dan masyarakat lokal, sektor pariwisata Indonesia memiliki kesempatan untuk pertumbuhan yang berkelanjutan (LSPR News, 2. Pada tahun 2015, tercatat bahwa jumlah wisatawan mancanegara mengalami peningkatan sebanyak 10,4 juta, sementara jumlah wisatawan nusantara 255,20 (Kementerian Pariwisata. Peningkatan potensi pariwisata di Indonesia yang telah dilakukan dengan baik. Namun, perlu diakui bahwa pertumbuhan jumlah wisatawan yang signifikan setiap tahun juga berpotensi meningkatkan volume sampah yang dihasilkan, memberikan tantangan tambahan dalam pengelolaan lingkungan (Dewi. , 2. Meskipun signifikan pada sector ekonomi, penting untuk memperhatikan upaya pengelolaan negatifnya terhadap masyarakat sekitar dan lingkungan (Martina, 2. Keindahan pariwisata di Indonesia tersebar di berbagai wilayahnya. Namun, di balik keindahan destinasi wisata tersebut, terdapat dampak negatif yang dapat merugikan manusia dan lingkungan, yaitu masalah sampah. Sesuai dengan UndangUndang No. 18 tahun 2008, sampah didefinisikan sebagai sisa kegiatan seharihari mengandung unsur tertentu. Menurut Davis dan Cornwell . 8: . Ausampah padatAy digunakan untuk menghaluskan tikungan yang telah dibuat dan dapat terdiri dari beberapa jenis zat, baik yang berbahaya maupun tidak. Secara umum, menyebabkan masalah serius di daerah yang terkena dampak, yang mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan mereka. Sebuah survei yang dilakukan pada tahun 2016 oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang bekerja sama dengan Kelompok Mahasiswa Pecinta Alam mengungkapkan bahwa 453 ton sampah dihasilkan di wilayah selatan hutan Sampel ini dihasilkan oleh 150. pengunjung setiap tahunnya (Kementerian Lingkungan Hidup, 2. Berdasarkan kedatangan wisatawan ke suatu destinasi wisata berkaitan erat dengan peningkatan jumlah sampah yang dihasilkan (Dewi. , 2. Banyak tempat wisata yang tidak memiliki sistem yang dapat diandalkan untuk menangani sampah. Beberapa di antaranya bahkan tidak memiliki tempat yang konsisten untuk membuang sampah. Akibatnya, para pengunjung sering kali membuang sampah sembarangan (Pustek. Oleh karena itu, pengelolaan sampah di daerah pariwisata menjadi aspek penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. Menurut Undang-Undang No. Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Menurut Peraturan Pemerintah No. Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 1 Juli 2024 Hal : 13 - 22 Available Online at jurnal. id/focus Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, sampah dianggap sebagai masalah nasional yang memerlukan pendekatan yang komprehensif dan seimbang dari awal hingga akhir. Program ini bertujuan untuk kesejahteraan ekonomi serta menurunkan biaya pembuangan sampah rumah tangga. Salah satu strategi yang paling efektif untuk menangani masalah sampah adalah dengan menerapkan 3R: reduce . , reuse . enggunakan kembal. , dan recycle . endaur diungkapkan oleh Fitri. Wibowo. , & Ariyanto. Prinsip ini menjadi dasar dalam pembuangan sampah dari sumbernya dengan tujuan mengurangi jumlah sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Langkah pertama yang paling penting dalam menerapkan 3R adalah dimulai dari Environmental Services Program . 1: . menyatakan bahwa keberhasilan program pengelolaan dan daur ulang sampah terlihat jelas pada fase ini. Tanpa pembuangan sampah dapat menjadi sulit, besar, dan berpotensi membahayakan lingkungan dan kesehatan masyarakat. Penelitian menyeimbangkan interaksi antara zat organik dan non-organik. Sampel bahan organik, seperti sayuran dan buah-buahan, tidak dapat dicerna secara sempurna tetapi dapat diubah menjadi komposisi yang Sebaliknya, bahan non-organik seperti plastik, kayu, dan logam dapat didaur ulang menjadi bahan baru yang bermanfaat (Sulistiyorini. Darwis. , & Gutama. , 2. Dalam artikel ini, penulis akan mengkaji pengelolaan sampah berbasis Hal ini penting karena melibatkan berbagai pihak yang memiliki kepentingan dan peran dalam upaya pengelolaan sampah di destinasi wisata. Para pemangku kepentingan ini meliputi pemerintah daerah, pengusaha pariwisata, masyarakat lokal, organisasi lingkungan, dan wisatawan. Kolaborasi di antara para pemangku kepentingan ini menjadi kunci pengelolaan sampah yang efektif. Menurut Iqbal . 7: . , pemangku kepentingan dapat berasal dari berbagai entitas seperti organisasi, komunitas, kelompok sosial ekonomi, pemerintah, atau lembaga yang mewakili beragam dimensi Pengelompokan pemangku kepentingan dapat dibagi menjadi tiga kategori, yaitu pemangku kepentingan utama, penunjang, dan kunci, sesuai dengan konsep yang diusulkan oleh Crosby . Pemangku kepentingan utama adalah mereka yang secara langsung terkena dampak positif maupun negatif dari suatu aktivitas. Pemangku kepentingan penunjang adalah pihak yang berperan sebagai perantara dalam pelaksanaan kepentingan kunci adalah individu atau kelompok yang memiliki pengaruh signifikan atau kepentingan utama terkait kelancaran suatu kegiatan (Iqbal, 2. Setiap pemangku kepentingan dalam pengelolaan sampah memiliki karakteristik Peran pemangku kepentingan seperti pemerintah dan sektor swasta adalah untuk mendukung, membimbing, dan mengawasi pelaksanaan kegiatan pengelolaan sampah. Pentingnya memperjelas batasan peran mereka adalah untuk memastikan bahwa masyarakat tidak terlalu bergantung pada bantuan pihak lain dalam pengelolaan Melalui peran ini, diharapkan kesadaran dan pemahaman yang memadai dalam mengelola sampah, sehingga mereka dapat menjadi pihak yang peduli dan memiliki pengetahuan yang cukup untuk (Marhumah. , 2. Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 1 Juli 2024 Hal : 13 - 22 Available Online at jurnal. id/focus Oleh kepentingan dalam pengelolaan sampah di daerah pariwisata merupakan komponen Partisipasi dari berbagai pihak, seperti pemerintah daerah, pelaku usaha, lembaga pendidikan, masyarakat, dan media massa, dapat membentuk sinergi tantangan kompleks dalam pengelolaan sampah (Arif. Sumarmi. Mutia. , & Prasad. , 2. Topik pengelolaan sampah berbasis pemangku kepentingan di daerah pariwisata diharapkan dapat meningkatkan urgensi bagi para peneliti Penelitian ini tidak hanya membantu sampah di destinasi wisata, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam upaya mencapai pariwisata yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Konsep pentahelix menjadi landasan untuk menciptakan strategi yang holistik dan efektif dalam menangani tantangan pengelolaan sampah di daerah pariwisata. Kolaborasi antara masyarakat, dan media akan memperkuat keberlanjutan lingkungan di destinasi Upaya memberikan dampak nyata, seperti peningkatan kesadaran masyarakat dan wisatawan tentang pentingnya pengelolaan sampah, implementasi sistem pengelolaan sampah yang lebih efisien dan ramah lingkungan, serta peningkatan kualitas lingkungan di kawasan wisata. Dengan kepentingan, diharapkan muncul solusi inovatif dan berkelanjutan yang dapat diterapkan di berbagai destinasi wisata, memberikan manfaat ekonomi tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan. METODE Penelitian ini menggunakan metodologi deskriptif kualitatif melalui kajian literatur berdasarkan artikel dan jurnal yang diakses melalui Google Scholar. Dalam artikel ini, penulis menganalisis jurnal dan artikel yang berkaitan dengan studi kemiskinan kepentingan di kawasan Pariwisata. Menurut Walidin. Saifullah, dan Tabrani . , penelitian kualitatif adalah proses mempelajari fenomena manusia atau sosial dengan cara membuat diagram yang kompleks dan terperinci yang dinyatakan dalam bentuk bahasa, menggambarkan pola-pola yang tidak konsisten yang berasal dari data, dan dilakukan pada lingkungan yang bersahabat. Studi atau tinjauan literatur, menurut Fink . , adalah proses yang metodis, jelas, dan dapat diulang untuk menemukan, menilai, dan mengumpulkan karya-karya yang sudah jadi dan terdokumentasi oleh akademisi, praktisi, dan peneliti. Peneliti dapat memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang pokok bahasan dengan memeriksa teori-teori yang relevan, ide-ide yang diterima, dan temuan penelitian sebelumnya melalui pendekatan studi Peneliti dapat menggali lebih dalam, meletakkan dasar yang kuat, dan menemukan ide-ide baru yang dapat menghasilkan penemuan yang signifikan dengan meninjau literatur secara cermat. Teknik pengumpulan data penelitian ini menggunakan data sekunder. Data sekunder adalah informasi yang diperoleh dengan cepat oleh peneliti dengan menggunakan ringkasan yang telah ada sebelumnya dan telah disetujui dari organisasi lain. Sumber data sekunder dapat berupa dokumen yang telah dipublikasikan, arsip, catatan, atau laporan. Dalam konteks ini, peneliti menggunakan data yang sudah ada untuk lebih meninjau dan menganalisis materi yang telah dipublikasikan sebelumnya (Ali Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 1 Juli 2024 Hal : 13 - 22 Available Online at jurnal. id/focus Mohammad, 2. Statistik orde dua yang menunjukkan jumlah puncak koneksi Wisatawan dan jumlah data yang dihasilkan oleh koneksi Wisatawan ke daerah Wisata pinggiran. Melalui artikel ini, pengelolaan sampah berbasis stakeholders di daerah pariwisata mengadopsi pendekatan yang melibatkan berbagai pihak yang memiliki kepentingan dalam industry pariwisata. Dengan konsep pentahelix, yang menggabungkan lima pilar utama yaitu pemerintah, industry, akademisi, masyarakat dan media, menjadi landasan untuk pengelolaan tersebut. Ruang lingkup permasalahan mencakup berbagai aspek, mulai dari peningkatan volume sampah akibat aktivitas pariwisata hingga dampak lingkungan dan sosial yang Peningkatan wisatawan sering kali berkontribusi pada peningkatan produksi sampah yang dapat mengancam keberlanjutan lingkungan. Selain itu, infrastruktur pengelolaan sampah yang tidak memadai, kurangnya kesadaran akan pentingnya daur ulang, serta tantangan dalam implementasi kebijakan oleh pemerintah juga menjadi bagian dari permasalahan yang perlu diselesaikan (Sutrisnawati. , & Purwahita. , 2. Dalam menghadapi tantangan ini, kolaborasi aktif antara pemerintah, industri pariwisata, akademisi, masyarakat lokal, dan media sangatlah penting untuk mengembangkan solusi yang holistik dan berkelanjutan dalam pengelolaan sampah di destinasi HASIL DAN PEMBAHASAN Pertukaran dapat terjadi di berbagai sektor, yang paling terkenal adalah sektor Karena peran aktifnya dalam mempromosikan lingkungan, budaya lokal, dan adat istiadat suatu daerah, sektor ini memiliki potensi keuntungan yang tinggi. Parawisata, baik domestik maupun wisatawan untuk berbagai tujuan seperti liburan atau studi (Adfuza. , 2. Pencemaran di tempat wisata biasanya disebabkan oleh para pekerja wisata yang tidak menghargai lingkungan. Mereka biasanya membuang sampah sembarangan saat makan, berjalan-jalan, atau dari Tata tertib dan rumah pembuangan sampah pun diabaikan, sehingga sampah berserakan di tempat sepanjang jalan. Dampak negatif terhadap lingkungan sekitar kawasan wisata sering kali disebabkan oleh perilaku pekerja wisata di kawasan wisata alam (Darmawan, , & Fadjarajani. , 2. Sampah pariwisata mengacu pada limbah yang dihasilkan dari area wisata, baik dari pengunjung maupun aktivitas (Dewi. Masyarakat dan wisatawan seringkali kurang sadar dalam memilah, mengurangi, dan memanfaatkan sampah secara efektif. Banyak produk menggunakan kemasan yang tidak dapat didaur ulang, yang akhirnya meningkatkan jumlah sampah. Selain itu, pemilahan sampah belum menjadi kebiasaan di kalangan masyarakat. Manajemen sampah yang buruk dapat menimbulkan beban besar dan masalah Namun, jika dikelola dengan baik, sampah dapat menjadi aset berharga bagi pemerintah dan masyarakat (Rizki. Manajemen berkelanjutan memerlukan partisipasi aktif dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, sektor swasta. LSM, dan pengguna layanan (Dewi. , 2. Penanganan sampah memerlukan pendekatan terpadu dan kolaboratif agar dapat memberikan manfaat signifikan bagi masyarakat, baik dari segi ekonomi, kesehatan, maupun lingkungan, serta mendorong perubahan perilaku. Kolaborasi menjadi kunci utama dalam pengelolaan sampah, dengan salah satu metode yang dapat diterapkan adalah pendekatan penta- Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 1 Juli 2024 Hal : 13 - 22 Available Online at jurnal. id/focus Penta-helix adalah pendekatan yang sering digunakan untuk mengembangkan sinergi antara berbagai instansi terlibat, dengan tujuan mendukung pencapaian tujuan yang diinginkan (Andrianti, 2. Melalui metode ini, sinergi antar instansi kerjasama yang lebih efektif dalam mendukung program pengelolaan sampah. Pentahelix Dalam Pengelolaan Sampah di Daerah Pariwisata Sumber: Internet Source Pemerintah Pemerintah memiliki peran krusial sebagai regulator dan pengawas dalam mengelola program pariwisata. Fungsinya pembuatan regulasi, pengembangan, serta dukungan terhadap kemitraan dengan sektor swasta. Selain itu, pemerintah juga mengkoordinasikan berbagai pemangku kepentingan yang terlibat dalam program kesinambungan dan keberlanjutan program yang berlangsung (Putra. , & Raharjo. , 2. Industri Dalam kerangka konsep Pentahelix, sektor bisnis atau perusahaan memiliki peran penting sebagai fasilitator yang memberikan bantuan dalam bentuk teknologi dan pendanaan. Tujuannya adalah untuk menciptakan nilai tambah dan pembangunan yang berkelanjutan di daerah pariwisata. Salah satu cara yang implementasi program Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai wujud dari tanggung jawab sosial perusahaan terhadap masyarakat di sekitarnya (Putra. & Raharjo. , 2. Akademisi Dalam konteks konsep Pentahelix, peran akademisi sangat penting sebagai pencetus ide untuk menganalisis potensi yang dimiliki oleh masyarakat dan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar, yang dapat dikembangkan lebih lanjut. Selain itu, mereka juga berperan sebagai pendidik yang bertugas menyampaikan konsep dan teori yang relevan sesuai permasalahan yang sedang berkembang dalam konteks pariwisata di daerah tersebut (Putra. , & Raharjo. Masyarakat Dalam konsep Pentahelix, komunitas atau masyarakat memegang peran sebagai akselerator yang terdiri dari individuindividu yang memiliki minat yang sama dalam pengembangan masyarakat. Mereka berfungsi sebagai penghubung antara berbagai pihak yang terlibat dalam program untuk membantu kelancaran jalannya program yang dilakukan oleh masyarakat. Selain itu, komunitas juga berperan penting dalam mempromosikan kegiatan atau program yang mereka laksanakan (Putra, , & Raharjo. , 2. Media Dalam konteks konsep Pentahelix, media memiliki peran sebagai expender, yang berarti mereka bertugas mendukung publikasi dan promosi untuk menciptakan citra merek yang baik. Melalui peran ini, media membantu dalam memperkuat eksposur dan popularitas berbagai kegiatan atau program yang dilaksanakan, sehingga memperkuat citra destinasi pariwisata yang Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 1 Juli 2024 Hal : 13 - 22 Available Online at jurnal. id/focus terkait (Putra. , & Raharjo. Dalam konteks pengelolaan sampah di daerah pariwisata, konsep Pentahelix memberikan landasan yang kuat untuk kolaborasi antara berbagai pemangku Pemerintah memegang peran utama sebagai regulator dan pengawas dalam mengelola program pariwisata, termasuk pengelolaan sampah. Industri atau sektor bisnis berperan sebagai fasilitator yang memberikan bantuan dalam bentuk teknologi dan pendanaan untuk menciptakan pembangunan berkelanjutan. Sementara itu, akademisi menjadi pencetus ide dan pendidik yang menyampaikan konsep relevan dalam pengembangan pariwisata, termasuk pengelolaan sampah. Komunitas atau masyarakat di daerah pariwisata berperan sebagai akselerator yang menghubungkan berbagai pihak dan mempromosikan program pengelolaan Peran media sebagai expender juga penting dalam mendukung publikasi dan promosi untuk memperkuat citra destinasi pariwisata. Dengan kerjasama yang kokoh antara semua pemangku kepentingan ini, sistem pengelolaan sampah di daerah pariwisata dapat dikelola secara efektif demi menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan yang menjadi daya tarik utama bagi para wisatawan. Sistem Pengelolaan Sampah di Daerah Pariwisata Sistem pengelolaan sampah di daerah pariwisata merupakan aspek yang krusial untuk memelihara kebersihan dan pariwisata tersebut. Sejumlah langkah dapat diambil dalam pengelolaan sampah perencanaan yang terencana dengan baik, pemisahan sampah di sumbernya, serta penyediaan sistem pengumpulan dan pengangkutan yang efisien. Selain itu, penting juga untuk memastikan adanya fasilitas perlakuan dan pembuangan sampah yang memadai, seperti pengolahan sampah secara tepat, serta mengedukasi masyarakat dan pihak terkait tentang pentingnya pengelolaan sampah yang baik. Kolaborasi dengan sektor swasta dapat memperkuat infrastruktur dan teknologi yang diperlukan dalam pengelolaan Pemantauan dan evaluasi secara berkala perlu dilakukan untuk menemukan potensi perbaikan atau peningkatan yang diperlukan dalam sistem pengelolaan sampah tersebut. Integrasi pengelolaan sampah dalam konsep ekowisata juga dapat mendorong kesadaran lingkungan dan menjaga kebersihan selama kunjungan Dengan menerapkan sistem pengelolaan sampah yang baik, destinasi pariwisata dapat menjaga keindahan alamnya dan memberikan pengalaman positif bagi pengunjung, serta memberikan dampak positif bagi masyarakat lokal dan lingkungan sekitarnya. Upaya Pengelolaan Sampah di Daerah Pariwisata Dalam menghadapi kekhawatiran atas peningkatan jumlah sampah, langkahlangkah yang tepat diperlukan untuk menimbulkan dampak negatif yang lebih Beberapa tindakan yang dapat diambil sebagai bagian dari upaya penanganan sampah antara lain adalah sebagai berikut: Menggunakan sistem pengelolaan sampah swadaya berbasis masyarakat mengurangi masalah sampah. Dalam kampanye ini, partisipasi aktif dari masyarakat umum menjadi fokus utama. Sebagai sumber utama sampah, rumah tangga dan masyarakat luas memiliki peran yang sangat penting dalam upaya penanganan sampah. Kampanye ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat sehingga masyarakat akan lebih kooperatif dalam memecahkan masalah terkait pengelolaan sampah (Cecep Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 1 Juli 2024 Hal : 13 - 22 Available Online at jurnal. id/focus Dani Sucipto, 2. Langkah pertama yang paling penting adalah meningkatkan kesadaran dan edukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan, terutama Masyarakat berpartisipasi aktif dalam praktik 3R (Reduce. Reuse. Recycl. , yaitu mengurangi penggunaan produk plastik sesering mungkin, menggunakan produk yang ramah lingkungan, dan memisahkan sampah organik dan anorganik di rumah Selanjutnya, sampah yang telah dibuang dapat didaur ulang, seperti sampah organik yang dapat digunakan sebagai komposisi pupuk tanaman dan sampah anorganik yang dapat dijual ke bank sampah. Barang-barang yang tidak dapat digunakan dalam jangka waktu yang lebih lama kemudian dibuang ke Tempat Penampungan Sampah (TPS) sesuai dengan jadwal yang telah disepakati. Melalui lingkungan dan memahami dampak buruk sampah bagi kehidupan manusia dapat (Sutrisnawati. , & Purwahita. , 2. Strategi kedua yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah sampah adalah penggunaan teknologi dalam pembuangan sampah, yang dapat memberikan dampak kesejahteraan masyarakat. Sebagai contoh, program Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS) yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Klungkung merupakan sebuah inovasi teknologi yang mengintegrasikan teknologi ke dalam proses pengelolaan Melalui TOSS, sampah diurai briketisasi/peletisasi, dan gasifikasi untuk menghasilkan briket dan pelet yang dapat digunakan sebagai bahan baku untuk memasak dan menghasilkan energi listrik. Diharapkan program ini tidak hanya membantu masalah kemiskinan di wilayah tersebut, tetapi juga dapat menjadi sumber pendapatan pengganti bagi masyarakat Klungkung. Dengan demikian, penerapan teknologi tepat guna dalam pengelolaan sampah berpotensi besar memberikan manfaat bagi masyarakat dan berperan dalam pembangunan lingkungan yang berkelanjutan dan sehat (Sutrisnawati. , & Purwahita. , 2. SIMPULAN Pengelolaan sampah di destinasi pariwisata menjadi aspek yang sangat penting dalam menjaga kebersihan, pelestarian lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat setempat. Dalam kerangka ini, konsep Pentahelix memberikan dasar yang kuat untuk kolaborasi antara berbagai masyarakat, dan media. Kolaborasi ini menjadi kunci dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang efektif dan Dengan peran masingmasing pihak, seperti pemerintah sebagai regulator, industri sebagai fasilitator, akademisi sebagai penemu ide, masyarakat sebagai penggerak, dan media sebagai penyebar informasi, pengelolaan sampah di destinasi pariwisata dapat diatur dengan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Untuk pariwisata, langkah-langkah berikut perlu Pertama, perlu ditingkatkan kolaborasi antara berbagai pemangku kepentingan melalui pertemuan rutin, proyek bersama, dan komunikasi terbuka. Kedua, kesadaran dan edukasi masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah yang baik perlu ditingkatkan melalui kampanye penyuluhan, pelatihan, dan program pendidikan. Ketiga, pemanfaatan teknologi yang sesuai dalam pengelolaan sampah, seperti implementasi sistem daur ulang, penggunaan mesin pengolah sampah, dan inovasi produk ramah Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 1 Juli 2024 Hal : 13 - 22 Available Online at jurnal. id/focus lingkungan dari sampah. Keempat, perlu pengelolaan sampah berbasis pemangku kepentingan, termasuk insentif bagi industri yang berkontribusi dalam program CSR, dan regulasi yang mengatur pemisahan sampah di sumbernya. Dengan menerapkan langkah-langkah tersebut, diharapkan pengelolaan sampah di destinasi pariwisata dapat meningkat secara signifikan, yang pada gilirannya akan mendukung pelestarian alam, pertumbuhan ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh. DAFTAR PUSTAKA