Managerial: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 01 No. : April Journal homepage https://ejournal. id/index. php/managerial/index STRATEGI TRANSFORMATIF-INTEGRATIF PESERTA DIDIK DI PONDOK PESANTREN Ali Mufron1. Al Amin2 1 STAI Nahdlatul Ulama (STAINU) Pacitan 2 STAI Nahdlatul Ulama (STAINU) Pacitan Email: Alimufron86@gmail. com1, amin@gmail. Received: 09-04-2023 DOI: Accepted: 15-04-2023 Published: 30-04-2023 Abstrak: This research is motivated by the view that the practice of Islamic education, especially in Tremas Islamic boarding schools which is often seen as being monotonous, indoctrinating, teacher-centered, top-down, centralized, mechanical, verbal, cognitive, and the mission of education has been misleading. The method used by the author in this study is a qualitative approach with a case study type. Based on the results of the study, it can be concluded that the personality transformation of students through an integrated learning process between religious science, social, and science and technology is carried out in formal, informal, and non-formal. Kata Kunci: Transformative strategies. Students. Islamic boarding schools. PENDAHULUAN Perubahan di segala dimensi kehidupan merupakan cita-cita bangsa Indonesia ditengah kompetisi dan tantangan global. Civil society sebagai terjemahan masyarakat madani merupakan tujuan utama bangsa Indonesia sepenuhnya belum terealisasi secara nyata. Disisi lain bangsa ini masih dihadapkan dengan segudang problematika yang segera mendapatkan transformasi fundamental pada segala aspek kehidupan, baik dari aspek kemadirian masyarakat, kebebasan, persamaan, ekonomi, politik, budaya, dan juga pendidikan. Konsep masyarakat madani merupakan tuntutan baru yang memerlukan berbagai torobosan di dalam berpikir, penyusunan konsep, serta tindakan-tindakan. Dengan kata lain, dalam menghadapi perubahan masyarakat dan zaman. Audiperlukan suatu paradigma baru di dalam menghadapi tuntutan-tuntutan yang baruAy, demikian kata filsuf Kuhn. Karena menurut Kuhn, apabila tantangan-tantangan baru tersebut dihadapi dengan menggunakan paradigma lama, maka segala usaha yang dijalankan akan memenuhi kegagalanAy. Kunci utama dalam merubah paradigma tersebut adalah pendidikan, karena pendidikan merupakan senjata yang paling ampuh untuk melakukan transformasi fundamental. Prakteknya pendidikan tidak berfungsi sebagai proses transformasi pada diri peserta didik dan masyarakat. Bahkan, praktek pendidikan seringkali menjadi biang terjadinya problem sosial. Hal ini antara lain dapat dilihat dari Managerial: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 01 No. : April Ali Mufron1. Al Amin2. Strategi Transformatif-Integratif Peserta Didik Di Pondok Pesantren adanya kenyataan bahwa proses pendidikan yang ada cenderung berjalan monoton, indoktrinatif, teacher-centered, top-down, sentralistis, mekanis, verbalis, kognitif, dan misi pendidikan telah misleading. Tidak berdayanya . pendidikan Islam tersebut menjadi keprihatinan bersama, mulai dari pakar dan praktisi pendidikan di lembaga pendidikan formal, tokoh masyarakat hingga orang tua di rumah. Pendidikan . hususnya agam. dianggap tidak cukup efektif memberikan kontribusi dalam penyelesaian masalah. Bahkan, ia menjadi part of the problem. Konsep kurikulum yang selalu mengalami perubahan sebagai ikhtiyar dalam beradaptasi dengan dunia global belum sepenuhnya diimplemetasikan secara masif sehingga masih menimbulkan banyak problem. Sebenarnya kalau merujuk pada kemajuan Islam Momen lain yang juga perlu dicermati dari sejarah pendidikan Islam adalah ketika peradaban Islam mengalami masa kejayaan . olden age. yang antara lain ditandai oleh semaraknya berbagai temuan dalam bidang ilmu pengetahuan, baik yang termasuk kategori al-'ulum al-naqliyyah maupun al-'ulum al-'aqliyyah. Periode ini terjadi ketika peradaban Islam berada di bawah pemerintahan Dinasti Abbasiyah di Baghdad, khususnya masa Harun al-Rasyid dan al-Makmun, dan Bani Umayah di Andalusia. Pendidikan saat ini juga masih mendapatkan tantangan yang tidak mudah, apalagi dihadapkan dengan revolusi 4. 0 yang menuntut adanya kesesuaian out put pendidikan dengan out come atau dunia kerja. Apalagi dalam dunia pendidikan Islam yang notabene dikenal dengan pendidikan agama tentu revolusi industri tersebut menjadi pekerjaan serius yang segera diselesaikan sehingga lulusannya bisa beradaptasi dengan dunia kerja yang sarat dengan kompetisi. Fokus dalam penelitian ini adalah proses transformasi siswa atau santri di Pondok Tremas Pacitan yang merupakan salah satu pondok pesantren berbasis pada pendalaman kitab kuning, bagaimana pesantren tersebut dapat bertanfomasi dan beradaptasi dengan perubahan zaman sehingga lulusanya dapat berkompetisi pada percaturan global. HASIL DAN PEMBAHASAN Transformasi dalam konteks pendidikan hakikatnya banyak dijelaskan dalam al QurAan dengan menggunakan bahasa min al-. ulumat ila al-nur. Konsep min al-. ulumat ila al-nur bukan sekadar konsep dari al QurAan yang dipakai oleh pembawa acara pengajian atau protokol pengajian umum, tetapi konsep itu sangat berarti dalam perspektif manajemen pendidikan Islam. Konsep min al-. ulumat ila al-nur tidak serta merta berarti menyamakan kondisi peserta didik, guru, karyawan, maupun kepala sekolah/madrasah/pimpinan PTAI, dan pengawas, separah makna zulumat . ebodohan, buta, kekafiran, kedurhakaan, dan kesesata. , melainkan konsep tersebut hanya ingin ditiru atau diadaptasi dan diaktualisasikan menjadi proses transformasi yang sangat ideal, yaitu dari al-zulumat menjadi al-nur. Menurut pendapat al-Razi bahwa Allah Swt. mengeluarkan dari kekufuran menuju cahaya iman karena kekufuran bisa menutup mata dan hati dalam melihat hakikat kebenaran. Tafsir kalimat yukhrijuhum min al-. ulumat ila Managerial: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 01 No. : April p-ISSN: 0000-0000 e-ISSN: 0000-0000 Journal homepage https://ejournal. id/index. php/managerial/index Ali Mufron1. Al Amin2. Strategi Transformatif-Integratif Peserta Didik Di Pondok Pesantren al-nur adalah bahwa Allah mengeluarkan mereka . rang mukmi. dari kegelapan kekufuran menuju cahaya keimanan. Dengan petunjuk dan taufik Allah, mereka mampu keluar dari kegelapan kekufuran, maksiat, kekaburan, kebimbangan hingga segala kelemahan menuju cahaya iman, taat, keyakinan hingga cahaya kekuatan yang jelas lagi nyata. Menurut al-Mawardi, kalimat ini mengandung dua pengertian yaitu Allah mengeluarkan hamba-Nya yang beriman dari kegelapan kesesatan menuju cahaya petunjuk atau mengeluarkannya dari kegelapan siksaan api neraka menuju cahaya pahala surga. Kondisi kebodohan, kezaliman, dan kedurhakaan yang dilukiskan oleh al QurAan merupakan majaz dari kondisi buruknya proses pendidikan pada sebuah lembaga pendidikan yang tentunya akan berimplikasi terhadap peserta Peserta didik mempunyai cara atau gaya belajar yang berbeda-beda, terkadang banyak guru yang kurang memperhatikan cara memahamkan mata pelajaran tertentu kepada siswanya. Akibatnya materi pelajaran kurang bisa Kunci utama dalam upaya memahamkan materi adalah dengan meraih perhatian siswa sehingga informasi yang disampaikan bisa diserap dengan baik. Guru menyampaikan urgensi tujuan materi sehingga siswa benarbenar siap menerima seluruh materi yang akan disampaikan. Pengajaran pada anak hendaknya dilakukan secara berangsur-angsur, setapak demi setapak, dan sedikit demi sedikit. Pertama-tama guru menjelaskan permasalahan yang prinsipil mengenai setiap cabang pembahasan yang diajarkan, keterangan yang diberikan haruslah bersifat umum, dan menyeluruh, dengan memperhatikan kemampuan akal dan kesiapan pelajar memahami apa yang diajarkan kepadanya. Ibnu Khaldun menerangkan. AuKetahuilah bahwa mengajar pengetahuan pada pelajar hanya efektif jika dilakukan berangsur-angsur, setapak demi setapak, dan sedikit demi sedikit. Ay Guru mengulangi ilmu yang diajarkan itu agar daya peningkatan anak meningkat daya pemahamannya. Seperti dituliskan: AuKeahlian hanya bisa diperoleh melalui perulangan perbuatan yang membekas sesuatu di dalam otak, pengulangan-pengulangan lebih jauh membaawa kepada kesediaan jiwa, dan pengulangan lebih lanjut menimbulkan keahlian, dan tertanam dalam. Guru menyampaikan gambaran materi secara sederhana sehingga siswa dapat menggambarkan materi secara umum, agar lebih mudah diutamakan memberikan contoh atau permisalan hal-hal yang sering dialami siswa dalam kehidupan sehari-hari. Di samping itu guru tidak menyampaikan materi dengan tergesa-gesa, tetapi dilakukan dengan sabar, telaten, dan mengulang materi jika terdapat siswa yang belum memahami apa yang disampaikan. Guru juga harus mampu mentransformasi kemampuan daya serap materi yang lambat menjadi cepat. Daya serap merupakan kemampuan atau kekuatan untuk melakukan sesuatu untuk bertindak dalam menyerap Kemampuan daya serap setiap siswa sangat berbeda-beda. Banyak siswa yang gagal menghadapi ujian akhir disebabkan karena kurangnya memahami materi pelajaran. Pendampingan dari orang tua sangat diharapkan sehingga siswa termotivasi untuk mengkaji dan memahami materi. Masih banyak orang tua yang salah memahami perannya dalam pendidikan. Mereka Managerial: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 01 No. : April p-ISSN: 0000-0000 e-ISSN: 0000-0000 Journal homepage https://ejournal. id/index. php/managerial/index Ali Mufron1. Al Amin2. Strategi Transformatif-Integratif Peserta Didik Di Pondok Pesantren hanya menyerahkan pendidikan anak kepada sekolah atau madrasah. Padahal pendidikan utama dan yang paling utama adalah pada lingkungan keluarga . Keteladanan orang tua lebih diutamakan daripada apa yang diucapkannya karena siswa akan lebih merasa percaya karena dicontohkan terlebih dahulu oleh orang tuanya. Orang tua harus meyakinkan kepada anaknya bahwa setiap anak akan mampu menguasai seluruh materi pelajaran dengan mudah jika sungguh-sungguh dalam belajar. Selama proses belajar mengajar di kelas diharapkan setiap guru selalu memberikan stimulus, dan dorongan kepada siswanya untuk selalu ulet dalam Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara memberikan penjelasan konkret di akhir materi dan memberikan reward kepada siswa yang berprestasi dalam upaya menumbuhkan motivasi untuk selalu meningkatkan prestasinya di masa yang akan datang. Pemberian reward juga sebagai motivasi bagi siswa yang lain untuk mendapatkan penghargaan yang serupa. Di samping itu agar siswa dapat menyerap materi pelajaran dengan mudah, guru selalu membudayakan kebiasaan baik dalam belajar, dan selalu membantu siswa ketika mendapatkan kesulitan belajar, baik dilakukan secara individu maupun secara kelompok. Proses pendidikan harus dapat menumbuhkan kreativitas siswa. Dikatakan Ibnu Khaldun: AuBahwa pengajaran merupakan suatu kemahiranAy. Orang tua dan guru adalah teladan utama. Apa yang disampaikan dan dilakukan menjadi cermin bagi siswa karena siswa yang pasif lebih banyak menerima informasi dari apa yang dilihat dan didengarkan. Oleh karena itu, orang tua dan guru harus bersinergi memberikan stimulus agar siswa yang pasif dapat baradaptasi dan berinteraski dengan lingkungannya secara mudah. Mereka juga harus memberikan sentuhan dan perhatian kepada anaknya secara khusus dengan sabar sehingga menarik perhatiannya untuk menumbuhkan motivasi dan kepercayaan bahwa dirinya adalah anak yang terampil. samping itu di dalam proses belajar mengajar seorang guru lebih memberikan perhatian khusus, dan memberikan kesempatan lebih kepada siswanya yang pasif dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan terlebih dahulu. Kesulitan belajar juga bisa disebabkan karena wawasan yang sempit. Wawasan sempit berkaitan dengan sikap seorang siswa merespon hal yang ada di sekitarnya. Sikap merupakan suatu kecenderungan untuk mereaksi suatu hal, orang atau benda dengan suka, tidak suka atau acuh tak acuh. Banyak siswa menemui kesulitan dalam berpikir dan berargumentasi ketika proses belajar mengajar. Hal ini disebabkan karena sempitnya wawasan siswa. Dalam konteks ini perlu upaya agar siswa dapat memperluas wawasan dan Siswa adalah generasi bangsa yang akan hidup di masa yang akan datang. Jadi, siswa harus dipersiapkan sejak dini agar menjadi insan yang siap berkompetisi di era globlalisasi. Dewasa ini, siswa lebih banyak disibukkan dengan bermain game, pergaulan bebas, dan melakukan kegiatan-kegiatan yang menghabiskan waktu secara sia-sia. Guru dan orang tua harus bersinergi memberikan dorongan kepada siswa untuk memanfaatkan waktu dengan cara rajin membaca materi yang ada kaitannya dengan mata pelajaran yang sedang dikaji. Kegiatan Managerial: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 01 No. : April p-ISSN: 0000-0000 e-ISSN: 0000-0000 Journal homepage https://ejournal. id/index. php/managerial/index Ali Mufron1. Al Amin2. Strategi Transformatif-Integratif Peserta Didik Di Pondok Pesantren membaca ini bisa dilakukan di perpustakaan sekolah atau madrasah, di perpusakaan pribadi di rumah dan juga bisa melalui media digital. Apalagi di era sekarang, pemerolehan informasi lebih mudah dengan mengeksplor ilmu pengetahuan melalui media digital. Sikap malas juga terkadang muncul pada siswa dalam belajar. merupakan jenis penyakit mental yang dapat merugikan siswa. Siswa yang diliputi rasa malas akan kehilangan motivasinya dalam menyelesaikan tugastugas belajarnya, tidak disiplin, menunda-nunda pekerjaan. Malas berimplikasi pada psikisnya, yaitu akan mudah terganggu, sensitif, kacau pikirannya, tidak bersemangat dan kehilangan produktivitas belajarnya. Hal itu diakibatkan sistem nilai yang ada dalam diri siswa membuatnya berperilaku malas dalam segala aktivitas-aktivitas belajarnya. Sikap malas bukan berarti sesuatu yang baku, tidak bisa diubah. Orang tua, keluarga, guru dan lingkungannya sangat mempengaruhi dalam mengubah persepsi siswa untuk selalu memberikan stimulus, dorongan dan arahan dalam melawan rasa malas siswa. Sikap malas yang dibiarkan terus menerus akan memunculkan pemikiran beku. Pikiran beku terjadi saat siswa tidak punya gairah untuk mengerjakan sesuatu, termasuk belajar, mati ide, dan gagasannya. Hal ini terjadi di saat pikiran mencapai tingkat kejenuhan yang menyebabkan pikiran tidak mampu mencerna ide-ide kreatif. Kondisi ini tentu segera mungkin dicarikan solusinya karena akal adalah bank data yang didalamnya terdapat beberapa pengetahuan yang didapat melalui pengalaman belajar siswa. Jika bank data tidak dapat berfungsi sesuai fitrahnya, maka akan menimbulkan dampak negatif bagi perkembangan siswa. Dalam melaksanakan proses belajar mengajar, guru harus mampu menumbuhkan pola pikir kritis siswanya. Berpikir kritis dapat membantu seorang siswa memecahkan persoalan dalam proses belajarnya. Agar siswa berpikir kritis dibutuhkan keterampilan kerangka dan cara berpikir yang baik sehingga mampu mencairkan pemikiran beku siswa. Menurut Rasyid Rida. Muhammad Abduh juga menerapkan kedua metode mengajar gurunya itu. Mula-mula ia membaca matan kitab, kemudian menjelaskan pengertian matan tersebut secara ringkas. Setelah itu ia memberikan kesempatan untuk bertanya kepada anak didik untuk bertanya. Sedangkan dihubungkan dengan masalah-masalah ilmiah, sehingga terkesan bahwa pelajaran tersebut seolah-olah pelajaran logika. Pembiasaan dan keteladan positif guru dan orang di lingkungan keluarga dan sekolah seperti hidup disiplin, menghargai waktu, dan pola hidup sehat harus selalu Pembiasaan dan keteladanan ini akan membentuk budaya positif dan memotivasi siswa untuk selalu berperilaku hidup rajin, giat dan disiplin dalam belajar. Kedisiplinan merupakan tata kerja seseorang yang sesuai dengan aturan dan norma yang telah disepakati sebelumnya. Kedisiplinan di sekolah/madrasah sangat menentukan keberhasilan siswa di masa depannya karena kedisiplinan akan menciptakan proses pembelajaran yang baik. Kedisiplinan dapat terealisasi dengan baik bergantung pada sistem yang Managerial: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 01 No. : April p-ISSN: 0000-0000 e-ISSN: 0000-0000 Journal homepage https://ejournal. id/index. php/managerial/index Ali Mufron1. Al Amin2. Strategi Transformatif-Integratif Peserta Didik Di Pondok Pesantren diimplementasikan lembaga pendidikan sehingga membentuk sebuah budaya yang baik. Upaya mentransformasi siswa agar disiplin dengan cara membantu siswa melayani perbedaan yang dimiliki siswanya agar dapat mengembangkan potensi dirinya. Disamping itu kepala sekolah/ madrasah, guru, dan karyawan hendaknya memberikan teladan yang baik untuk selalu berperilaku disiplin sebagai upaya prefentif. Dengan demikian, pola hidup disiplin siswa di sekolah/madrasah secara otomatis akan menjadi sebuah karakter dan budaya yang diimplementasikan dalam hidup sehari-hari. Memberikan bimbingan pada anak akan menjadi sangat baik apabila diberikan sejak kecil, bukan pada saat anak telah tumbuh menjadi Orang tua hendaknya memberikan bimbingan sesuai dengan ajaran agama Islam sehingga anak terbiasa hidup sesuai dengan norma akhlak yang diajarkan oleh agama. Hakikatnya tidak ada siswa yang bodoh, yang ada adalah siswa yang belum tahu. Sikap malas faktor penyebab siswa menjadi tidak tahu. Siswa harus senantiasa disadarkan bahwa sikap malas akan membuat dirinya tidak dapat menggapai masa depan gemilang. Maka dari itu, mulailah dari diri sendiri sehingga timbul kesadaran perilaku untuk melawan sikap malas tanpa adanya paksaan dari orang lain, menghilangkan kebiasaan yang tidak bermanfaat, dan tidak menunda-nunda waktu. Lingkungan di luar rumah dan sekolah juga harus diantisipasi sejak dini, karena pergaulan anak di lingkungan dia hidup juga sangat menentukan Kenakalan remaja sebagai suatu hal yang tidak menyenangkan dalam kehidupan sosial disebabkan oleh hal yang menyentuh beberapa hal ada permasalahan kenakalan remaja yang menyentuh masalah material dan adapula masalah kenakalan remaja yang menyangkut masalah psikologi, namun secara sederhana ada ahli yang berpendapat bahwa kenakalan remaja disebabkan oleh hal-hal yang berada diluar individu itu Pendidikan di sekolah atau madrasah adalah sebuah proses pendewasaan anak. Proses ini tentu tidak mudah dan selalu menghadapi Akan tetapi, bukan berarti tidak ada solusi. Efektif dan tidaknya jalan keluar kenakalan siswa bergantung bagaimana guru mengaplikasikan sebuah strategi, dan sabar dalam melakukan proses pendewasaan siswa karena membutuhkan tahapan-tahapan. Label anak nakal di sekolah ataupun madrasah sebenarnya akan membuat siswa nakal semakin bangga bahwa dirinya merasa hebat dan ingin mendapatkan pengakuan lebih dari temantemannya. Maka dari itu, sebisa mungkin seluruh warga sekolah menghilangkan label nakal kepada siapapun siswa yang selalu melakukan Hakikatnya setiap anak yang lahir dalam keadaan fitrah seperti kertas Maka yang akan mewarnai kertas tersebut adalah lingkungannya. Senada dengan pendapat John Locke yang mengatakan Aujiwa manusia seperti kertas kosong yang terbebaskan dari segala jenis karakter, pengalaman adalah yang mengisi kertas kosong tersebut. Ay Lingkungan yang dimaksud adalah tempat dimana siswa hidup dan berinteraksi, seperti lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat. Jika dia berada dalam lingkungan yang baik, maka Managerial: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 01 No. : April p-ISSN: 0000-0000 e-ISSN: 0000-0000 Journal homepage https://ejournal. id/index. php/managerial/index Ali Mufron1. Al Amin2. Strategi Transformatif-Integratif Peserta Didik Di Pondok Pesantren dia akan menjadi baik pula. Berkaitan dengan fitrah. Nabi Muhammad saw. bersabda sebagai aEaEaaIaOaEaOaOOaEaEaOaaEaOaNaONaOaaIaOA:aCaEaOaEaaEEaEaOaEEaEaOaOaaOaaEaIA:aIaEaaOaIaOaCaEA )AaOaOIaIaOaOaOIaIaOaa(OaIaONaEIOaOEONCOA AuDari Aswad bin SariA berkata: Bersabda Nabi Saw. : Setiap bayi yang terlahir dilahirkan dalam keadaan suci . emiliki kecenderungan beragama tauhi. , maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi. Majusi atau nasrani. Aya Qomar mengatakan bahwa Aupeserta didik harus senantiasa dibimbing, diarahkan, dibantu, difasilitasi, distimulasi, didorong dan diberikan pengalaman agar mampu melakukan transformasi ke arah sesuatu yang serba positif, baik menyangkut kecerdasaan, pengetahuan, wawasan, sikap, keterampilan, perilaku, akhlak dan sebagainya. Ay Peserta didik memiliki fitrah yang belum mencapai tingkat kedewasaan dalam intelektualitas, mental, dan Maka, mereka harus senantiasa dibimbing dan diarahkan untuk mencapai kematangan kepribadiannya. Aliran Progresivisme mementingkan perlunya ada progres yang seluas mungkin untuk menyampampaikan ajaran atau pengetahuan kepada anak didik, kemudian dikritik oleh Bagley, bukan hanya proses yang penting, melainkan isi. Isi yang sembarangan akan menjadikan pendidikan tidak Untuk itu, perlu dipilih warisan sosial dengan proses bagaimana menyampaikan nilai esensialnya kepada anak didik. Dalam konteks ini, pendidikan merupakan salah satu media untuk mengembangkan potensi peserta didik. Maka dari itu, lembaga pendidikan harus mampu menghadirkan proses pembelajaran yang berkualitas sehingga potensi peserta didik dapat berkembang secara maksimal. Proses tranformasi kepribadian peserta didik di Pondok Tremas Pacitan dilakukan melalui tiga hal. Pertama. Proses transformasi melaui pendidikan Pondok Tremas lembaga pendidikan yang dalam penyelengaraan pendidikannya mengintregasikan konsep pendidikan integratif, yaitu memadukan antara pendidikan agama, pendidikan umum dan pendidikan Al-Abrasyi mengatakan bahwa Aupendidikan Islam sebagai suatu proses untuk mempersiapakan manusia supaya hidup dengan sempurna dan bahagia, mencintai tanah air, tegap jasmaninya, sempurna budi pekertinya, teratur pikirannya, halus perasaanya, mahir dalam pekerjaanya dan manis tutut katanya baik lisan maupun tulisan. Ay Senada dengan pendapat ini, bahwa tujuan pendidikan di kedua lembaga adalah mencetak insan al-kamil yang memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional-sosial, kecerdasan spiritual dan kecerdasan kinestetik. Upaya yang dilakukan untuk mentransformasi kepribadian peserta didik dalam pendidikan formal yaitu sebagai berikut. Sorogan. Setiap siswa diwajibkan mengikuti kegiatan sorogan di kelas. Setiap siswa dituntut untuk memiliki pemikiran kritis, insiatif dan ulet karena mereka harus membacakan dan menjelaskan kitab kuning dihadapan gurunya secara face to face. Metode Managerial: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 01 No. : April p-ISSN: 0000-0000 e-ISSN: 0000-0000 Journal homepage https://ejournal. id/index. php/managerial/index Ali Mufron1. Al Amin2. Strategi Transformatif-Integratif Peserta Didik Di Pondok Pesantren sorogan ini tetap dipertahankan karena dapat menjalin hubungan harmonis antara guru dan siswa. Di samping itu, para guru dapat membimbing siswanya secara makasimal karena bersifat diktatik-metodik. Ketika siswa menemukan kesalahan, maka guru dapat membetulkannya secara langsung. Kedua, pembelajaran klasikal di kelas. Proses pembelajaran di kelas dengan mengintregrasikan antara ilmu pengetahuan agama dan ilmu umum. Meskipun di kedua lembaga tersebut adalah lembaga pendidikan pondok pesantren, tetapi tidak menutup diri dengan perkembangan sains dan Sedangkan metode pembelajaran yang diaplikasikan berbasis active learning, seperti metode ceramah, diskusi, tanya jawab, inquiri, pemecahan masalah . roblem based learnin. dan demonstrasi. Dengan active learning siswa dapat memberikan jawaban atau pendapat, dapat menjawab atau menemukan lebih dari satu dan siswa diizinkan untuk memberikan pendapat atas jawaban. Perbedaan yang mendasar dari kedua lembaga dalam proses pembelajaran adalah bahasa pengantar yang digunakan. Di Pondok Tremas menggunakan bahasa Indonesia, dan bahasa Jawa melalui pemusatan penguasaan kitab Metode-metode ini digunakan agar peserta didik dapat memahami materi pelajaran, memiliki sikap kreatif-inovatif, sikap optimisme, memiliki keterampilan personal dan memiliki pemikiran kritis Ketiga. Study club. Setiap siswa atau santri diwajibkan mengikuti kegiatan belajar bersama yang dilaksanakan pada malam hari. Kegiatan ini dimaksudkan agar mereka mengulang materi pelajaran yang sudah disampaikan dan sekaligus mempersiapkan materi pelajaran untuk hari Selain itu, para siswa dapat berpartisipasi dalam kelompok belajar membantu meningkatkan tingkat kepercayaan dan kenyamanan mereka di kelas, menunjukkan manfaat akademik dan sosial dari partisipasi kelompok belajar, mampu mengidentifikasi kebutuhan dukungan belajar mereka di awal semester, mengidentifikasi siswa yang dapat mendukung dan membantu pembelajaran, menegosiasikan keanggotaan dan peran kelompok. Jadi, dengan study club para siswa dapat menambah pemahaman terhadap materi pelajaran karena mengulang kembali materi yang sudah dipelajari dan mereka dapat berdiskusi dengan teman sejawat. Dengan demikian, dapat menumbuhkan jiwa sosial dan sikap inklusifnya. Proses transformasi melaui pendidikan informal. Colin Latchem berpendapat bahwa Auada tiga bentuk pembelajaran informal: insidental dan sederhana, di mana fakta-fakta baru, ide-ide dan perilaku dipelajari tanpa upaya sadar atau pengetahuan eksplisit tentang apa yang sedang dipelajari. reaktif, di mana pembelajaran eksplisit tetapi hampir spontan. dan disengaja, di mana ada niat yang jelas untuk memperoleh pengetahuan atau keterampilan Ay Para siswa di kedua situs adalah seorang santri, setelah selesai melaksanakan proses pembelajaran di kelas mereka mempunyai kewajiban lain yaitu kegiatan di asrama. Kegiatan di asrama sangat beragam seperti salat lima waktu berjamaah, pembacaan Alquran, pembacaan al-barzanji, pengajian kitab, diskusi . , isit. atsah, dzibaiyyah, khitabiyyah dan pelatihan Bila>l. Kegiatan tersebut menumbuhkan kecerdasan spiritual . kha>q al-kari>ma. , sikap disiplin, keserdahanaan, mandiri, toleran dan rasa percaya diri. Managerial: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 01 No. : April p-ISSN: 0000-0000 e-ISSN: 0000-0000 Journal homepage https://ejournal. id/index. php/managerial/index Ali Mufron1. Al Amin2. Strategi Transformatif-Integratif Peserta Didik Di Pondok Pesantren Proses transformasi melaui pendidikan nonformal. Pendidikan nonformal dalam konteks ini adalah kegiatan ekstrakurikuler. Adapun kegiatan ekstrakurikuler siswa di Pondok Tremas adalah Muha>. Fata al-Munta. JamAiyah al-QurraA wa al-Huffa. Community Access Point . dan Attarmasie English Course . ursus bahasa Inggri. dan masih banyak lagi kegiatan yang lain. Antovska dan Kostov mengatakan bahwa Audengan keterlibatan siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler, kepuasan akan minat mereka tersalurkan, pada saat yang sama secara positif memengaruhi perkembangan lengkap kepribadian mereka. Juga, nilai-nilai yang dapat diterima secara sosial terbentuk, yang selanjutnya akan berkontribusi pada perkembangan setiap AyKegiatan mengembangkan bakat, minat, mengembangkan potensi, menumbuhkan mentalitas dan melatih kepemimpinannya. Selain itu, dapat menumbuhkan jiwa sosial peserta didik karena mereka belajar mempraktikan keterampilan sosial, internalisasi nilai-nilai sosial dan moral. KESIMPULAN Transformasi positif-konstruktif pertama difokuskan kepada peserta Mereka harus selalu dididik, dibina, dibimbing, dan diarahkan potensinya menjadi insan kamil, yaitu anak yang mempunyai kecerdasan intelektutal, emosional, sosial, spiritual serta kinestetik. Upaya melakukan transformasi kepribadian peserta didik di Pondok Tremas melalui proses pembelajaran yang terintegrasi antara al-ilmu dinniyah . lmu agam. , al-ilmu insaniyyah . lmu sosia. , dan al-ilmu kauniyyah . baik dilaksanakan pada pendidikan formal, informal, dan nonformal. DAFTAR PUSTAKA