Jurnal Peduli Masyarakat Volume 6 Nomor 3. September 2024 e-ISSN 2721-9747. p-ISSN 2715-6524 http://jurnal. com/index. php/JPM INOVASI MANAJEMEN LINGKUNGAN HIDUP DENGAN MODEL TAKAKURA SEBAGAI PROENVIRONMENTAL BEHAVIOUR UNTUK MENINGKATKAN KAPABILITAS DAN KETERAMPILAN WARGA BINAAN Mika Vernicia Humairo1*. Dian Puspitaningtyas Laksana1. Ikhwanul Ihsan Armalid2. Sila Kriscahyanti1. Jihan Alfin Salsabila1 Fakultas Ilmu Keolahragaan. Universitas Negeri Malang. Jalan Semarang No. 5 Malang. Jawa Timur 65145. Indonesia Fakultas Psikologi. Universitas Negeri Malang. Jalan Semarang No. 5 Malang. Jawa Timur 65145. Indonesia *vernicia. fik@um. ABSTRAK Permasalahan sampah menjadi isu global yang semakin mendesak di Indonesia. Sampah merupakan salah satu residu yang pasti dihasilkan oleh setiap makhluk hidup, aik sampah organic maupun sampah Upaya daur ulang sampah menjadi salah satu Upaya manajemen sampah. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan warga binaan pemasyarakatan (WBP) dalam mengelola sampah organik menggunakan metode Takakura di Lapas Perempuan Kelas IIA Kota Malang. Metode Takakura dipilih karena dinilai sederhana dan efektif dalam mengolah sampah organik menjadi Metode Takakura menggunakan alat dan bahan yang sederhana, mudah, dan murah sehingga dapat dilakukan oleh setiap Masyarakat untuk mengelola sampah organic. Kegiatan ini diikuti oleh 40 WBP di lapas Perempuan kelas IIA Kota Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan partisipatif dengan melibatkan WBP dalam kegiatan sosialisasi, demonstrasi, dan praktik langsung pembuatan Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan WBP dalam mengelola sampah organik. Partisipasi aktif WBP dalam kegiatan ini menunjukkan adanya minat dan kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah yang baik. Implementasi metode Takakura diharapkan dapat mengurangi volume sampah organik di Lapas, meningkatkan kualitas lingkungan, serta memberikan keterampilan baru bagi WBP yang dapat bermanfaat setelah mereka kembali ke masyarakat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa metode Takakura merupakan solusi yang efektif untuk mengatasi permasalahan sampah organik di lingkungan lapas dan dapat direplikasi di lembaga pemasyarakatan lainnya. Kata kunci: kompos. pengelolaan sampah. warga binaan pemasyarakatan ENVIRONMENTAL MANAGEMENT INNOVATION USING THE TAKAKURA MODEL AS PROENVIRONMENTAL BEHAVIOR TO IMPROVE THE CAPABILITY AND SKILLS OF INTEGRATED CITIZENS ABSTRACT Waste management has become an increasingly urgent global issue in Indonesia. Waste is a residue that is produced by every living creature, both organic and anorganic waste. Waste recycling efforts are one of the waste management. This study aims to increase the awareness and ability of correctional inmates in managing organic waste through the Takakura method at the Women's Penitentiary Class IIA Malang City. The Takakura method was chosen because it is considered simple and effective in processing organic waste into compost. The Takakura method used simple, cheap, and easy tools and materials so that it can be used by every community to manage organic waste. This activity was attended by 40 inmates in class IIA women's prison in Malang City. This study uses a participatory approach by involving inmates in Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. September 2024 Global Health Science Group socialization activities, demonstrations, and direct practice of making compost. The results of the study show that this activity has successfully increased the knowledge and skills of inmates in managing organic The active participation of inmates in this activity indicates an interest and awareness of the importance of good waste management. The implementation of the Takakura method is expected to reduce the volume of organic waste in the prison, improve environmental quality, and provide new skills for inmates that can be beneficial after they return to society. This study concludes that the Takakura method is an effective solution to address the problem of organic waste in prison environments and can be replicated in other correctional institutions. Keywords: community inmates. Takakura. waste management PENDAHULUAN Saat ini permasalahan sampah masih menjadi topik hangat dan masih terus diupayakan Dengan meningkatnya jumlah penduduk saat ini maka jumlah produksi sampah tentu akan meningkat juga (Saipullah et al. , 2. Setiap tahunnya, rata Ae rata sampah yang dihasilkan oleh setiap masyarakat di negara berkembang mencapai setengah ton (Jouhara et al. Diperkirakan bahwa akan terjadi peningkatan timbulan sampah hingga 2,2 milyar ton per tahun (Irmawartini et al. , 2. Sedangkan Indonesia tercatat per bulan Juni 2024 telah menghasilkan 25,1 juta ton timbulan sampah tahunan dengan 8,5 juta ton sampah belum terkelola dan masih mencemari lingkungan. Dari keseluruhan sampah tersebut sebanyak 41,76% sampah merupakan sampah sisa makanan dan 46,73% sampah bersumber dari rumah tangga (KLHK. Permasalahan ini dapat mempengaruhi upaya pemerintah dalam mencapai target SDGAos nomor 11 (Taufik, 2. Upaya pengelolaan sampah di negara berkembang saat ini masih cukup rendah dan belum Pengelolaan sampah yang buruk dapat menjadi penyebab masalah lingkungan yang serius baik secara global maupun lokal (Salam et al. , 2. (Salam, 2. Upaya yang dilakukan pemerintah kota Malang dalam menangani permasalahan sampah salah satunya ialah dengan implementasi Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2021 Tentang Pengelolaan Sampah di Kota Malang. Namun dalam pengimplementasian perda tersebut masih terdapat banyak kendala sehingga tidak berjalan dengan optimal (Saraswati et al. , 2. Dalam penelitian Saraswati dkk . disimpulkan bahwa tantangan utama dalam pelaksanaan kebijakan Perda Nomor 7 Tahun 2021 ini ialah masih kurangnya upaya pemberdayaan masyarakat. Dengan pengetahuan serta kesadaran masyarakat yang rendah tentunya memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pelaksanaan kebijakan pemerintah dalam menangani sampah (Diniah, 2. Sedangkan menurut penelitian Sekarsari . dijelaskan bahwa sistem pengelolaan sampah di Kota Malang masih belum berjalan dengan merata. Selain itu sampah rumah tangga belum menjadi prioritas dalam kegiatan pengelolaan sampah (Sekarsari & Trianti, 2. Demikian juga dengan sistem pengelolaan sampah yang ada di Lapas Perempuan Kelas IIA Kota Malang, dimana sistem pengelolaan sampah masih terbatas pada sistem pengumpulan, pengangkutan dan pembuangan (Wahyudi et al. , 2. Lembaga Pemasyarakatan (Lapa. Perempuan Kelas IIA Kota Malang memiliki luas tanah 780 meter persegi dengan luas bangunan 4. 102 meter persegi (Profil Lapas Perempuan Kelas IIA MALANG, 2. Berdasarkan luas wilayahnya. Lapas Perempuan Kelas IIA memiliki daya tampung sejumlah 164 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) saja namun tercatat per tahun 2018 terdapat 618 WBP dengan 93 petugas yang menghuni Lapas Perempuan Kelas IIA Kota Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. September 2024 Global Health Science Group Malang (Mulyono, 2. Data tersebut menunjukkan bahwa jumlah WBP yang ada di Lapas Perempuan Kelas IIA Kota Malang telah melebihi kapasitas hunian . ver capacit. Over capacity merupakan keadaan jumlah penghuni melebihi jumlah kapasitas tempat huni sehingga menimbulkan kepadatan hunian (Sugema, 2. Dengan keadaan yang padat penghuni ini pastinya akan mempengaruhi kualitas lingkungan yang ada di Lapas Perempuan Kelas IIA Kota Malang. Salah satu permasalahan yang timbul ialah adanya penumpukan sampah domestik di lingkungan Lapas Perempuan Kelas IIA. Kualitas lingkungan yang buruk serta adanya penumpukkan sampah dapat menyebabkan terjadinya masalah kesehatan apabila tidak dikelola dengan baik (Mulyono, 2. Selain sebagai salah satu upaya pengelolaan sampah, kegiatan ini termasuk dalam upaya mendukung tercapainya SDGs pada poin 3 (Good Health and Well-bein. , 5 . ender equit. , dan 13 . limate actio. Upaya yang dilakukan untuk permasalahan sampah yang tidak terkelola di lingkungan Lapas Perempuan Kelas IIA ialah melalui sosialisasi mengenai pengelolaan dan pengolahan sampah menggunakan metode Takakura kepada WBP di Lapas Kelas IIA Malang. Dalam sosialisasi ini disajikan materi mengenai pengelolaan dan pengolahan sampah organik terutama sampah dapur yang dapat menghasilkan barang berdaya guna. Pengolahan sampah organik menggunakan metode Takakura dapat menghasilkan pupuk organik yang memiliki fungsi dan manfaat serta memiliki nilai jual. Selain pemaparan materi juga dilaksanakan praktik pengolahan sampah menggunakan metode Takakura melalui permainan sehingga diharapkan dapat membantu peserta Warga Binaan Pemasyarakatan untuk memahami penerapan metode Takakura ini. Metode Takakura merupakan metode pengomposan sederhana dengan bahan sampah organik skala rumah tangga (Hananingtyas et al. , 2. Berdasarkan penelitian Dodi Saputra . , dinyatakan bahwa pengolahan sampah menjadi kompos atau pupuk organik menggunakan metode Takakura dinilai lebih efektif dibandingkan metode pengomposan sejenis (Hutagalung et al. , 2. Selain itu, sejalan dengan tujuan dari Lembaga Pemasyarakatan yang tercantum dalam Undang-undang No 12 Tahun 1995 bahwa Lembaga Pemasyarakatan bertugas dalam membantu dan membina Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) untuk mampu memperbaiki diri, bertanggung jawab, serta membina WBP untuk dapat diterima kembali di masyarakat (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan, 1. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian yaitu untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan warga binaan pemasyarakatan (WBP) dalam mengelola sampah organik menjadi kompos menggunakan metode Takakura di Lapas Perempuan Kelas IIA Kota Malang. METODE Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan di Lapas Perempuan Kelas IIA Kota Malang pada bulan Juni 2024 ini menggunakan metode partisipatif dan edukatif dengan tahapan yang Tahap pertama melakukan melakukan koordinasi dan kerjasama dengan pihak Lapas Perempuan Kelas IIA Kota Malang untuk menjalin kerjasama dan merumuskan rencana kegiatan pengabdian masyarakat. Tahapan berikutnya adalah melakukan studi pendahuluan untuk memahami permasalahan pengelolaan sampah di Lapas Perempuan Kelas IIA Kota Malang dan kebutuhan edukasi bagi warga binaan. Setelah selesai melakukan studi pendahuluan maka dilakukan survei lokasi Lapas Perempuan Kelas IIA Kota Malang untuk mengidentifikasi sarana dan prasarana yang tersedia. Tahap ketiga yaitu melakukan pengajuan permohonan izin kepada pihak Lapas Perempuan Kelas IIA Kota Malang untuk penggunaan fasilitas seperti ruangan dan peralatan pendukung. Setelah itu dilanjutkan dengan mempersiapkan alat dan bahan yang Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. September 2024 Global Health Science Group dibutuhkan untuk pelaksanaan metode Takakura, seperti keranjang, tutup keranjang, kardus, bantal sekam, kompos jadi, kain penutup, dan sampah organik. Pembuatan bantal sekam dan keranjang takakura dilakukan secara manual dengan memasukkan sekam ke dalam kain yang telah dijahit. Sedangkan untuk pembuatan keranjang takakura dilakukan dengan menjahit kardus ke dalam keranjang takakura. Tahap berikutnya adalah uji coba keranjang takakura dengan melakukan uji coba penyusunan keranjang Takakura sesuai dengan urutan meletakkan bantal sekam di dasar keranjang, melapisi keranjang bagian dalam dengan kardus dan mengikatnya dengan tali, mengisi keranjang dengan starter/kompos jadi setebal 5 cm . , memasukkan sampah ke dalam keranjang Takakura, menambahkan bantal sekam, dan menutupnya dengan kain. Dengan dilakukan uji coba ini maka diketahui bahwa keranjang takakura sudah siap untuk digunakan dalam pembinaan warga lapas dalam pengabdian masyarakat. Pada proses pelaksanaannya sebelum proses pembuatan kerajang takakura, diberikan penyuluhan kepada warga binaan Lapas Perempuan Kelas IIA Kota Malang tentang pentingnya pengelolaan sampah dan manfaat metode Takakura. Kemudian secara bersama dipandu untuk melakukan praktik pengolahan sampah menggunakan metode Takakura kepada warga binaan Lapas Perempuan Kelas IIA Kota Malang. Setelah proses pembuatan keranjang selesai dilakukan peserta diberikan kesempatan untuk melakukan diskusi dan tanya jawab untuk memperkuat pemahaman warga binaan tentang metode Takakura dan pengelolaan Tahapan berikutnya yakni melakukan monitoring terhadap keberhasilan pembuatan pupuk dalam keranjang takakura tersebut. Monitoring ini dilakukan dengan mengukur suhu dan kelembaban pupuk setiap minggunya. Kegiatan ini nantinya akan dibantu oleh mitra dan panitia pelaksana sehingga monitoring bisa berjalan secara rutin dan terpadu. Tahap terakhir adalah melakukan evaluasi terhadap proses pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat, meliputi kesesuaian dengan rencana, keefektifan metode, dan partisipasi warga binaan. Evaluasi terhadap hasil kegiatan pengabdian masyarakat, meliputi tingkat pengetahuan dan keterampilan warga binaan dalam pengelolaan sampah menggunakan metode Takakura. HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan hunian yang padat di lingkungan Lapas Perempuan Kelas IIA Kota Malang menjadi salah satu penyebab banyaknya timbulan sampah tidak terkelola. Berdasarkan luas wilayahnya. Lapas Perempuan Kelas IIA hanya memiliki daya tampung sejumlah 164 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) saja namun tercatat per tahun 2018 terdapat 618 WBP dengan 93 petugas yang menghuni Lapas Perempuan Kelas IIA Kota Malang (Profil Lapas Perempuan Kelas IIA MALANG, 2. Untuk mengatasi permasalahan ini diperlukan upaya pemberdayaan warga binaan pemasyarakatan yang ada di Lapas Kelas IIA Kota Malang. Melalui pemberdayaan warga binaan pemasyarakatan dengan kegiatan sosialisasi dan penyuluhan disertai praktik dinilai dapat meningkatkan pengetahuan serta kesadaran dari warga binaan pemasyarakat untuk mampu mengolah sampah yang dihasilkan oleh Lapas Perempuan Kelas IIA Kota Malang (Kurniasih et , 2. Selain itu kegiatan pemberdayaan ini juga dapat memberikan pengalaman sebagai bekal bagi warga binaan pemasyarakatan untuk kembali ke dalam lingkungan masyarakat. Hal ini sesuai tujuan dari Lembaga Pemasyarakatan yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang pemasyarakatan. Pelaksanaan kegiatan ini melalui beberapa tahapan diantaranya ialah tahap perencanaan, tahap persiapan, serta tahap pelaksanaan. Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. September 2024 Global Health Science Group Pada tahap perencanaan tim pengabdian melaksanakan kunjungan yang dimaksudkan untuk mencari dan menelaah permasalahan yang ada di lingkungan Lapas Perempuan Kelas IIA Kota Malang. Dari hasil kunjungan tersebut diperoleh permasalahan yang ada di Lapas Perempuan Kelas IIA Kota Malang ialah permasalahan adanya tumpukan sampah organik. Dari hasil wawancara pada saat kunjungan tersebut diungkapkan bahwa pihak Lapas masih mengalami kesulitan dalam menangani sampah organik yang kian menumpuk. Berdasarkan hasil kunjungan tersebut, maka tim pengabdian melaksanakan koordinasi serta diskusi dengan pihak Lapas Perempuan Kelas IIA Kota Malang mengenai rancangan dan bentuk kegiatan yang akan dilaksanakan sebagai upaya penyelesaian masalah tumpukan sampah yang ada di Lapas Perempuan Kelas IIA Kota Malang sehingga kegiatan yang akan dilaksanakan nanti dapat menjadi upaya yang solutif. Rancangan kegiatan yang diperoleh dari hasil diskusi ialah kegiatan pemberdayaan meliputi penyuluhan mengenai pengolahan sampah organik menjadi kompos menggunakan metode Takakura. Kegiatan penyuluhan ini meliputi pemaparan materi berupa buku panduan dan video informatif yang disertai dengan praktik penerapan metode Takakura. Hasil rancangan kegiatan ini kemudian disajikan dalam bentuk proposal. Setelah melalui tahap perencanaan, tahapan yang perlu dilaksanakan selanjutnya ialah tahap persiapan kegiatan. Pada tahap persiapan kegiatan ini, tim pengabdian menjalin komunikasi dengan pihak Lapas Perempuan Kelas IIA Kota Malang untuk memperlancar proses koordinasi sehingga kegiatan yang akan dilaksanakan dapat berjalan dengan baik. Pada tahap ini tim pengabdian melaksanakan survey lokasi untuk menganalisis kebutuhan sarana dan prasarana pendukung kegiatan. Pada tahap ini juga dilaksanakan persiapan media penyuluhan berupa buku panduan penerapan metode Takakura serta alat bahan dalam penerapan metode Takakura. Metode Takakura merupakan metode pengomposan sederhana dengan bahan sampah organik skala rumah tangga (Hananingtyas et al. , 2. Penggunaan metode Takakura ini dinilai praktis dan sederhana serta dapat membantu mengurangi bau dari proses pengomposan sampah organik dibandingkan metode lain. Hal ini dikarenakan proses pengomposan menggunakan metode Takakura menggunakan proses fermentasi aerob (Adnan et al. , 2. Proses fermentasi aerob ini dilakukan oleh mikroba pengurai. Pada prinsip fermentasi aerob ini perlu adanya oksigen supaya mikroba pengurai tidak mati. Hasil dari pengomposan fermentasi ini menghasilkan air, unsur hara, humus, serta energi (Tarigan & Dukabain, 2. Gambar 1. Buku Panduan Takakura Alat dan bahan yang diperlukan dalam penerapan metode Takakura ini meliputi keranjang berpori dan berpenutup, kardus, bantalan sekam, kompos jadi, kain hitam penutup, larutan EM4, serta sampah organik yang akan diolah (Tarigan & Dukabain, 2. Keranjang yang berpori Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. September 2024 Global Health Science Group berfungsi sebagai jalur keluar masuknya udara, sedangkan penutup dan kardus pelapis berfungsi untuk melindungi keranjang Takakura dari serangan serangga serta mengatur kelembaban Supaya sampah organik bisa terfermentasi dengan baik dan cepat maka dapat ditambahkan kompos jadi dan juga larutan EM4 sebagai sumber mikroba pengurai (Zamhari. Dalam kegiatan penyuluhan ini juga terdapat media berupa buku panduan penerapan metode Takakura yang mencakup penjelasan mengenai proses pengomposan menggunakan metode Takakura dari tahap persiapan, pengomposan, hingga tahap panen. Setelah seluruh kebutuhan serta sarana prasarana dan media penyuluhan sudah disiapkan, maka tahap selanjutnya ialah tahap pelaksanaan. Kegiatan penyuluhan ini dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 4 Juni 2024 di gedung aula pertemuan Lapas Perempuan Kelas IIA Kota Malang. Terdapat 40 warga binaan pemasyarakatan Lapas Perempuan Kelas IIA Kota Malang yang ikut serta dalam penyuluhan ini dengan pendampingan dari petugas yang berwenang. Kegiatan penyuluhan ini diawali dengan sambutan dengan kata sambutan dari Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Kota Malang. Ibu Yunengsih. Bc IP. Sos. , dilanjut dengan kata sambutan dari perwakilan tim pengabdian. Ibu Mika Vernicia Humairo. setelah kata sambutan disampaikan, kegiatan dilanjutkan dengan pemberian cinderamata dari pihak Universitas Negeri Malang kepada pihak Lapas Perempuan Kelas IIA Kota Malang. Kemudian pada inti kegiatan dilaksanakan penyampaian materi pengomposan menggunakan metode Takakura. Gambar 2. Sesi Materi Penyampaian materi ini menggunakan media berupa buku panduan dan video informatif yang dipaparkan oleh Ibu Mika Vernicia Humairo. Materi yang disampaikan meliputi jenis sampah, sumber sampah, karakteristik sampah, serta metode yang dapat dilakukan untuk mengolah sampah. Salah satu metode yang mudah dan sederhana yang dapat digunakan untuk mengolah sampah organik ialah metode pengomposan Takakura. Pemateri juga menyampaikan cara kerja, tahapan-tahapan, serta produk dari metode pengomposan Takakura. Dalam proses penyampaian materi ini tampak seluruh peserta kegiatan memiliki ketertarikan terhadap materi yang dibawakan. Hal ini terlihat pada saat peserta memperhatikan pemateri dengan seksama serta banyak dari peserta yang mengajukan pertanyaan pada saat sesi tanya jawab. Takakura merupakan salah satu metode pengelolaan sampah yang sederhana dan cukup efektif untuk skala rumah tangga (Rosmala et al. , 2. Praktik pengolahan sampah menjadi kompos menggunakan metode Takakura dengan menggunakan alat dan bahan yang mudah dan sederhana dapat menjaga lingkungan, mengurangi volume sampah, dan juga menghasilkan produk yang berguna dan bermanfaat, serta bernilai ekonomi (Lando et al. , 2. Selain itu, upaya Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. September 2024 Global Health Science Group pengelolaan sampah dengan teknik dan hasil yang baik dapat mendukung upaya implementasi SDGs poin 3 dan 13. Pengelolaan sampah yang baik dapat menjadi salah satu upaya mitigasi terhadap perubahan iklim melalui penurunan efek greenhouse gass (Madden et al. , 2. Selain kompos, biogas juga menjadi salah satu produk bermanfaat yang dapat dihasilkan dari pengolahan sampah organik. Pengelolaan sampah menjadi biogas juga merupakan salah satu upaya mitigasi dari perubahan iklim yaitu dengan memanfaatkan gas metan (Becker et al. , 2. Setelah penyampaian materi dan sesi tanya jawab kegiatan dilanjutkan dengan praktek penerapan pengomposan menggunakan metode Takakura. Praktek ini dilakukan secara berkelompok. Dari 40 peserta yang hadir kemudian dibagi menjadi 5 kelompok dengan masing-masing kelompok beranggotakan 8 orang. Pada saat praktek merangkai keranjang Takakura terlihat dari sebagian besar peserta dapat merangkainya dengan lancar. Hal ini terlihat dari susunannya yang benar serta tahapannya yang tepat. Setelah penyampaian materi dan praktik, kegiatan dilanjutkan dengan pembagian konsumsi dan diakhiri dengan penutupan dan doa. Gambar 3. Sesi Praktek Dengan terlaksananya kegiatan ini harapannya warga binaan pemasyarakatan mendapatkan ilmu pengetahuan serta pengalaman dalam mengolah sampah menggunakan metode Takakura. Sehingga warga binaan pemasyarakatan Lapas Perempuan Kelas IIA Kota Malang mampu menerapkan metode ini untuk membantu mengurangi tumpukan sampah organik yang ada di Lapas Perempuan Kelas IIA Kota Malang. Selain itu kegiatan ini juga dapat menjadi pengalaman dan bekal keterampilan bagi warga binaan pemasyarakat Lapas Perempuan Kelas IIA Kota Malang sebelum kembali ke dalam lingkungan masyarakat. Kegiatan penyuluhan dan pendampingan pengelolaan sampah menjadi salah satu upaya yang cukup baik untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan Masyarakat dalam mengolah sampah. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Humairo . , yang menunjukkan bahwa terjadi peningkatan perilaku masyarakat di Kelurahan Burengan dalam memilah sampah sebanyak 30% sebelum dan sesudah dilakukan penyuluhan dan pendampingan. Kegiatan pengolahan sampah organik merupakan salah satu upaya pengelolaan sampah yang dapat bersifat keberlanjutan. Hal ini harus didukung dengan adanya kebijakan dari pihak lapas dalam pengelolaan sampah, dimulai dari pemilahan sampah organik dan anorganik, pengangkutan juga harus diperhatikan, serta pelatihan dan monitoring pengolahan sampah organik serta anorganik (Ng et al. , 2. SIMPULAN Kegiatan pengabdian masyarakat ini berhasil meningkatkan kesadaran dan kemampuan warga binaan pemasyarakatan di Lapas Perempuan Kelas IIA Kota Malang dalam mengelola sampah organik melalui metode Takakura. Dengan kondisi over kapasitas penghuni, permasalahan sampah organik menjadi sangat krusial. Melalui sosialisasi, demonstrasi, dan praktik langsung. Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. September 2024 Global Health Science Group warga binaan dapat memahami pentingnya pengelolaan sampah dan mampu menerapkan metode Takakura. Selain mengurangi volume sampah, kegiatan ini juga memberikan keterampilan berharga bagi warga binaan yang dapat dimanfaatkan setelah mereka kembali ke masyarakat. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa metode Takakura dapat menjadi solusi yang efektif untuk mengatasi masalah sampah organik di lingkungan lapas dan dapat direplikasi di lembaga pemasyarakatan lainnya. UCAPAN TERIMAKASIH Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Negeri Malang yang telah membantu dalam mencukupi dana dalam rangka pelaksanaan kegiatan pengabdian ini. Serta kami juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada mitra kami. Lapas Perempuan Kelas IIA Kota Malang dan Kanwil Kementerian Hukum dan HAM Provinsi Jawa Timur atas kerja sama juga kesempatan kepada kami untuk dapat melaksanakan kegiatan pengabdian ini. DAFTAR PUSTAKA