Jurnal Riset Media Keperawatan ISSN: 2527-368X (Prin. 2621-4385 (Onlin. Hubungan Self Efficacy dan Kecerdasan Emosional terhadap Burnout pada Perawat Di RSUD Pakuhaji Intan Miftahul Aini1. Martono Diel2. Ayu Pratiwi3 1,2,3 Universitas Yatsi Madani. Jl. Aria Santika No. RT. 005/RW. Margasari. Kec. Karawaci,Tangerang. Banten, *intan. miftahul272@gmail. *corresponding author Abstrak Latar Belakang: Burnout merupakan kelelahan fisik, mental dan emosional yang terjadi karena stres yang diderita dalam jangka waktu yang lama, yang menuntut keterlibatan emosional yang tinggi. self efficacy yang tinggi membantu individu untuk menyelesaikan tugas dan mengurangi burnout yang berkaitan dengan kemampuannya untuk mengendalikan diri dan kecerdasan emosional membantu perawat untuk memahami emosi yang terjadi baik pada diri sendiri maupun orang lain sehingga menjadi lebih enganged dan kecenderungan burnout yang dialami akan rendah. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self efficacy dan kecerdasan emosional terhadap burnout pada perawat. Metode: metode dalam penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional, teknik pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling dengan jumlah responden 97 perawat RSUD Pakuhaji. Data dikumpulkan melalui kuesioner. Analisa data dilakukan menggunakan analisa univariat dan bivariat dengan uji Chi-Square. Hasil analisis statistik uji Chi-Square didapatkan ada hubungan antara self efficacy . =0,. dan kecerdasan emosional . =0. terhadap burnout pada perawat di rsud pakuhaji. Hasil dari keseluruhan didapatkan ada hubungan yang signifikan antara self efficacy dan kecerdasan emosional terhadap burnout pada perawat di RSUD Pakuhaji. Kata kunci: Self efficacy. Kecerdasan emosional. Burnout Relationship Between Self Efficacy and Emotional Intelligence To Burnout In Nurses At Pakuhaji Hospital Abstract Background: Burnout is physical, mental and emotional exhaustion that occurs due to stress suffered over a long period of time, which demands high emotional involvement. High self efficacy helps individuals to complete tasks and reduce burnout related to their ability to control themselves and emotional intelligence helps nurses to understand emotions that occur both in themselves and others so that they become more engaged and the tendency for burnout experienced will be low. Objective: This study aims to determine the relationship between self efficacy and emotional intelligence to burnout in nurses. Method: the method in this study uses a cross sectional approach, the sampling technique uses a total sampling technique with a total of 97 respondents at Pakuhaji Hospital. Data were collected through Data analysis was carried out using univariate and bivariate analysis with the Chi-Square test. The results of the Chi-Square statistical analysis showed that there was a relationship between self-efficacy . = 0. and emotional intelligence . = 0. on burnout in nurses at Pakuhaji Regional Hospital. The overall results showed that there was a significant relationship between self-efficacy and emotional intelligence on burnout in nurses at Pakuhaji Regional Hospital Keywords: Self-efficacy. Emotional intelligence. Burnout PENDAHULUAN Rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang memberikan layanan gawat darurat, rawat inap, dan rawat jalan. Sebagai penyedia layanan kesehatan, rumah sakit menyediakan pertolongan bagi masyarakat yang membutuhkan penanganan darurat maupun pengobatan sesuai dengan jenis penyakit pasien (Lestari & Wreksagung. Salah satu tenaga medis utama di rumah sakit adalah perawat, yang memiliki peran penting karena berinteraksi langsung dengan pasien lebih sering dibandingkan tenaga medis lainnya. Dalam pelaksanaan keterampilan yang tinggi dan harus bekerja dalam sistem shift karena pelayanan rumah sakit berlangsung selama 24 jam (DallAoOra. Ball. Reinius, & Griffiths, 2. Burnout adalah sindrom kelelahan fisik, mental, dan emosional yang muncul karena stres berkepanjangan, terutama pada pekerjaan yang membutuhkan keterlibatan emosional yang intens. Perawat yang mengalami burnout umumnya menunjukkan gejala kelelahan emosional, depersonalisasi, dan penurunan prestasi kerja. Fenomena burnout ini sering dijumpai pada perawat di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia, yang memiliki beban kerja tinggi akibat tugastugas tambahan di luar peran utamanya sebagai perawat (Ningrum. Sulistiyani, & Imawati, 2024. WHO, 2. Hal ini berdampak pada kesehatan, motivasi, dan kualitas pelayanan perawat kepada pasien. Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa tingkat burnout pada perawat cukup Sebagai contoh, sebuah penelitian di Manado menemukan bahwa 83,6% dari 61 perawat memiliki tingkat burnout yang tinggi, dan penelitian lain di Tangerang mencatat 99,16% perawat usia 27-34 tahun mengalami burnout (Bayu. Susita, & Parimita, 2023. Tamrin, 2. Perawat yang memiliki tingkat self-efficacy atau keyakinan diri tinggi umumnya mampu mengatasi burnout dengan lebih baik, sedangkan perawat dengan self-efficacy rendah lebih rentan terhadap stres dan penurunan kualitas pelayanan (Sari. Suyasa. Nuryanto, & Sagitarini, 2. Self-efficacy adalah keyakinan individu terhadap kemampuan dalam menjalankan tugas untuk mencapai tujuan tertentu. Selfefficacy yang tinggi dapat membantu kesempatan, bukan ancaman, sehingga mereka mampu bertahan di situasi kerja yang sulit (Afifah & Kusuma, 2. Individu dengan self-efficacy yang kuat juga lebih mampu mengatur emosi, sehingga mereka dapat mengatasi tekanan kerja dan menghadapi burnout dengan lebih Oleh karena itu, self-efficacy menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas profesionalisme perawat dan meminimalkan dampak burnout (Mahsunah & Musbikhin. Kecerdasan emosional juga menjadi komponen penting dalam mencegah burnout pada perawat. Kecerdasan emosional memungkinkan perawat untuk mengenali dan mengelola emosi mereka sendiri serta memahami perasaan orang lain, sehingga dapat menciptakan hubungan yang lebih positif dengan pasien (Rumbo & Panggabean, 2. Dengan demikian, emosional yang baik cenderung memiliki tingkat burnout yang lebih rendah dan mampu menghadapi tekanan kerja dengan lebih efektif (Fairuza & Maryatmi, 2. Berdasarkan hal-hal tersebut, penelitian mengenai hubungan self-efficacy dan kecerdasan emosional dengan burnout pada perawat dapat memberikan wawasan yang penting bagi manajemen rumah sakit untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas Vol. 8 No. 2 December 2025 | 125 pelayanan perawat. BAHAN DAN METODE Penelitian ini menggunakan metode crosectional untuk menganalisis hubungan antara faktor penyebab dan akibat dengan pendekatan observasional, dilaksanakan di RSUD Pakuhaji pada Juli 2024. Sampel adalah seluruh perawat RSUD Pakuhaji . yang memenuhi kriteria inklusi dan Instrumen pengumpulan data berupa kuesioner yang mencakup variabel self-efficacy, kecerdasan emosional, dan burnout, dengan skala Likert untuk Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square dengan bantuan SPSS. Validitas dan reliabilitas instrumen telah diuji dengan Pearson Product Moment dan Alpha Cronbach. Penelitian ini mematuhi etika penelitian, termasuk persetujuan responden . nformed kerahasiaan data. HASIL DAN PEMBAHASAN Berikut adalah hasil dan pembahasan mengenai hubungan antara self-efficacy, kecerdasan emosional, dan tingkat burnout pada perawat di RSUD Pakuhaji: Table 1. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Karakteristik Perawat di RS Pakuhaji Karakteristik Frekuensi Presentase Responden . = . (%) Usia Usia Remaja Usia Dewasa Usia Lanjut Total Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Total Pendidikan D3 Keperawatan Sarjana Keperawatan Profesi Ners Total 126 | Pages 124-131 Berdasarkan hasil pada tabel 1, dari 97 responden seluruhnya berusia dewasa yaitu antara 20-60 tahun sebanyak 97 responden . %). Perawat yang bekerja di RS Pakuhaji mayoritas berjenis kelamin perempuan sebanyak 86 responden . ,7%) serta mayoritas memiliki pendidikan terakhir profesi ners sebanyak 79 responden . ,4%). Penelitian oleh Emiliana. Nugraha, & Susilawati . menunjukkan bahwa pada kelompok usia 20-29 tahun, individu cenderung memiliki kecerdasan emosional sedang dalam aspek kesadaran diri dan pengelolaan emosi, tetapi memiliki tingkat tinggi pada motivasi, keterampilan sosial, dan empati. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun pengelolaan diri masih dalam tahap pengembangan, individu di usia ini unggul dalam membangun hubungan sosial dan empati. Sementara itu. Gurning. Syam, & Setiawan . menyatakan bahwa perempuan memiliki keunggulan dalam keterampilan komunikasi, memungkinkan mereka untuk lebih mudah mengungkapkan perasaan dan menunjukkan empati, yang bermanfaat dalam interaksi sosial dan Namun. Rewo. Puspitasari, & Winarni . menemukan bahwa dari 55 responden lulusan D3 Keperawatan, sebanyak 75,3% memiliki kecerdasan emosional baik, menandakan bahwa pendidikan juga berperan signifikan dalam Menurut Emiliana et al. , . , tingkat pendidikan mempengaruhi kemampuan individu untuk memecahkan masalah menggunakan kecerdasan spiritual dan Dengan demikian, faktor usia, perawat, terutama dalam aspek motivasi, keterampilan sosial, dan empati (Emiliana et , 2022. Gurning et al. , 2021. Rewo et al. Table 2. Distribusi Frekuensi Self Efficacy Perawat di RS Pakuhaji Self Efficacy Frekuensi Persentase Rendah Sedang Tinggi Total Berdasarkan hasil pada tabel 2, dari 97 responden mayoritas memiliki self efficacy yang rendah sebanyak 52 responden ,6%) mempunyai self efficacy yang tinggi hanya sebanyak 13 responden . ,4%). Self-efficacy, seseorang terhadap kemampuannya dalam menghadapi tugas dan tantangan, memiliki peran penting dalam kinerja individu di berbagai bidang. Penelitian menunjukkan bahwa self-efficacy yang rendah berdampak kesejahteraan individu. Menurut Salendu. Jaata. Effendy, & Amir . , individu dengan self-efficacy rendah cenderung merasa tidak mampu menghadapi tugas yang menantang, sehingga mengurangi motivasi dan prestasi mereka. Di bidang pendidikan, siswa dengan self-efficacy rendah lebih berisiko mengalami kegagalan akademik dan cenderung menghindari tugas sulit, sebagaimana ditunjukkan oleh penelitian (Larengkeng. Gannika, & Kundre. Hal ini membuat mereka rentan terhadap kecemasan akademik yang bisa semakin menghambat kinerja mereka. Dalam konteks pekerjaan, self-efficacy perkembangan karier dan menurunkan kepuasan kerja. Karyawan dengan selfefficacy rendah cenderung menghindari tanggung jawab lebih besar dan kurang proaktif mencari peluang pengembangan, yang dapat menyebabkan stagnasi karier serta rendahnya kepuasan kerja (Alverina & Ambarwati. Pada keperawatan, self-efficacy yang rendah berpotensi memengaruhi kualitas pelayanan dan perkembangan karier. Karena itu, intervensi seperti pelatihan, mentoring, dan dukungan psikologis dianggap penting untuk meningkatkan self-efficacy, sehingga kesejahteraan dalam berbagai aspek kehidupan (Alverina & Ambarwati, 2020. Larengkeng et al. , 2019. Salendu et al. Table 3. Distribusi Frekuensi Kecerdasan Emosional Perawat di RS Pakuhaji Kecerdasan Frekuensi Persentase Emosional Rendah Sedang Tinggi Total Berdasarkan hasil pada tabel 3, dari 97 responden mayoritas memiliki kecerdasan emosional yang rendah sebanyak 51 responden . ,6%) sedangkan perawat yang mempunyai kecerdasan emosional tinggi hanya sebanyak 13 responden . ,4%). Kecerdasan emosional yang tinggi berperan penting dalam meningkatkan interpersonal, dan kinerja di tempat kerja. Menurut Emiliana et al. , . , individu dengan kecerdasan emosional tinggi dapat lebih memahami serta mengelola emosi mereka dan orang lain, sehingga lebih mampu membangun hubungan yang sehat dan merespons situasi emosional secara Di tempat kerja, kecerdasan emosional yang tinggi terkait dengan kemampuan menangani stres, adaptasi komunikasi, dan manajemen konflik yang lebih baik (Gurning et al. , 2. Selain itu, kecerdasan emosional yang tinggi berkontribusi pada kesejahteraan mental dan fisik. Pratiwi. Edmaningsih. Yulia, & Fauzi . menemukan bahwa individu dengan kecerdasan emosional tinggi memiliki tingkat depresi dan kecemasan yang lebih rendah serta strategi koping yang efektif, yang berkorelasi dengan gaya hidup sehat. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan kebutuhan untuk meningkatkan kecerdasan emosional di kalangan perawat, mengingat peran pentingnya dalam kinerja profesional dan kesehatan mental. Program pengembangan kecerdasan emosional direkomendasikan Vol. 8 No. 2 December 2025 | 127 untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan kesejahteraan di sektor ini (Emiliana et al. Gurning et al. , 2021. Pratiwi et al. Table 4. Distribusi Frekuensi Burnout Perawat di RS Pakuhaji Burnout Frekuensi Persentase Rendah Tinggi Total Berdasarkan hasil pada tabel 4, dari 97 responden mayoritas memiliki burnout yang tinggi sebanyak 96 responden . %) sedangkan perawat yang mempunyai tingkat burnout yang rendah hanya sebanyak 1 responden . %). Burnout yang tinggi adalah kondisi serius yang dapat memengaruhi kinerja individu, terutama di lingkungan kerja yang menuntut interaksi intensif, seperti tenaga kesehatan, guru, dan pekerja sosial. Menurut Widhianingtanti & van Luijtelaar . , burnout ditandai oleh tiga dimensi: kelelahan emosional, depersonalisasi, dan penurunan prestasi pribadi. Kelelahan emosional mengacu pada perasaan terkuras mencerminkan sikap sinis atau negatif terhadap orang lain, dan penurunan prestasi pribadi terkait dengan turunnya perasaan kompetensi dalam pekerjaan. Kondisi burnout yang tinggi ini tidak hanya menurunkan kualitas kesehatan mental dan fisik, tetapi juga berdampak buruk pada produktivitas dan kinerja organisasi secara keseluruhan (Kaunang. Heri Susanti, & Sumarni, 2. Burnout juga memiliki implikasi serius bagi kesehatan fisik dan mental individu. Arif & Wijono . menyatakan bahwa tingkat burnout yang tinggi meningkatkan kardiovaskular, dan gangguan imun, serta berpotensi memicu depresi dan kecemasan. Situasi ini mengkhawatirkan, terutama di kalangan tenaga kesehatan, dengan data menunjukkan bahwa 99% responden perawat mengalami burnout tinggi. Kondisi 128 | Pages 124-131 ini menandakan adanya krisis kesehatan mental dan produktivitas yang serius, yang dapat mengganggu kualitas pelayanan kesehatan dan memperburuk lingkungan Oleh karena itu, diperlukan intervensi mendesak melalui manajemen stres, dukungan sosial, perbaikan keseimbangan kerja-kehidupan, dan kebijakan organisasi yang mendukung kesejahteraan karyawan (Arif & Wijono, 2022. Kaunang et al. Widhianingtanti & van Luijtelaar. Table 5. Hubungan Self Efficacy Terhadap Burnout Pada Perawat di RS Pakuhaji Variabel Burnout pSelf Rendah Tinggi Total Efficacy f Rendah 52 100 52 100 Sedang 32 100 32 100 0,038 Tinggi 1 7,7 12 92,3 13 100 Berdasarkan tabel 5 didapatkan perawat yang memiliki self efficacy rendah dengan tingkat burnout yang tinggi sebanyak 52 responden . %) dan nilai uji chisquare yaitu p-value 0,038. P-value yang didapatkan <0,05, maka dapat disimpulkan terdapat hubungan self efficacy terhadap burnout pada perawat di RS Pakuhaji. Penelitian korelasi negatif antara self-efficacy dan burnout pada perawat psikiatri. Studi oleh Alverina & Ambarwati . melaporkan koefisien korelasi sebesar r = -0,359 . < 0,. , yang berarti semakin tinggi selfefficacy, semakin rendah burnout yang dialami perawat, dan sebaliknya. Hal serupa ditemukan oleh Arif & Wijono . , yang menunjukkan self-efficacy berkontribusi efektif sebesar 45,85% terhadap burnout, sementara faktor lain seperti dukungan sosial dan jenis kelamin menyumbang 54,17% dari variasi burnout. Penelitian Larengkeng et al. , . juga menyebutkan bahwa keyakinan diri perawat dalam menghadapi tekanan kerja berperan penting dalam membangun self-efficacy, yang dapat mencegah kelelahan fisik dan emosional atau burnout. Studi di RS Pakuhaji menemukan bahwa 100% perawat dengan self-efficacy rendah mengalami burnout tinggi . -value 0,038 < 0,. , mendukung temuan sebelumnya mengenai hubungan negatif antara self-efficacy dan burnout pada tenaga Temuan ini mengindikasikan bahwa peningkatan self-efficacy pada perawat dapat menjadi strategi efektif untuk mengurangi burnout dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Dengan selfefficacy yang lebih tinggi, perawat lebih mampu mengatasi tekanan kerja dan mempertahankan kesejahteraan emosional, sehingga risiko burnout dapat diminimalkan (Alverina & Ambarwati, 2020. Arif & Wijono, 2022. Larengkeng et al. , 2. Table 6. Hubungan Kecerdasan Emosional Terhadap Burnout Pada Perawat di RS Pakuhaji Variabel Burnout Kecerdasan Rendah Tinggi Total Emosional f % Rendah 0 0 100 51 100 0,03 Sedang 100 33 100 Tinggi 1 7,7 12 92,3 13 100 Berdasarkan tabel 6 didapatkan perawat yang memiliki kecerdasan emosional rendah dengan tingkat burnout yang tinggi sebanyak 51 responden . %) dan nilai uji chi square yaitu p-value 0,038. P-value yang didapatkan <0,05, maka dapat disimpulkan terdapat hubungan kecerdasan emosional terhadap burnout pada perawat di RS Pakuhaji. Penelitian kecerdasan emosional memiliki hubungan erat dengan tingkat stres dan burnout pada Pratiwi et al. , . menemukan emosional tinggi atau sedang mengalami stres yang lebih rendah, terutama selama pandemi COVID-19 di RSU Kabupaten Tangerang. Sebaliknya, perawat dengan kecerdasan emosional rendah cenderung mengalami stres yang lebih tinggi. Studi oleh Emiliana et al. , . mengidentifikasi emosional tinggi menunjukkan performa yang baik dalam dimensi kesadaran diri, motivasi, empati, dan keterampilan sosial, meskipun pengelolaan emosi mereka masih perlu ditingkatkan. Hasil penelitian di RS Pakuhaji mengonfirmasi adanya korelasi negatif antara kecerdasan emosional dan burnout, dengan 100% perawat yang memiliki mengalami burnout tinggi . -value 0,050 O 0,. Hal ini memperkuat temuan kecerdasan emosional berperan penting dalam menurunkan risiko stres dan Berdasarkan temuan-temuan ini, pengembangan kecerdasan emosional dalam aspek kesadaran diri, motivasi, pengelolaan emosi menjadi strategi penting untuk meningkatkan kesejahteraan dan kinerja perawat di lingkungan kerja yang menuntut (Emiliana et al. , 2022. Pratiwi et , 2. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa karakteristik responden perawat di RS Pakuhaji seluruhnya berada dalam rentang usia dewasa 20-60 tahun . %), dengan mayoritas berjenis kelamin . ,7%) pendidikan terakhir profesi ners . ,4%). Sebagian besar perawat memiliki selfefficacy yang rendah . ,6%) dan kecerdasan emosional yang rendah . ,6%), serta mengalami burnout yang tinggi . %). Selain itu, terdapat hubungan signifikan antara self-efficacy dan burnout, serta antara kecerdasan emosional dan burnout pada perawat, dengan nilai p-value sebesar 0,038 untuk kedua hubungan tersebut. DAFTAR PUSTAKA