FR-UBM-9. 9/V0. Jurnal Psibernetika Vol. 17 (No. : 87 Ae 94. Th. p-ISSN: 1979-3707 e-ISSN: 2581-0871 Versi Online: http://journal. id/index. php/psibernetika DOI: 10. 30813/psibernetika. Hasil Penelitian GAMBARAN CYBERBULLYING VICTIMIZATION PADA REMAJA DI MEDIA SOSIAL INSTAGRAM Cyberbullying Victimization of Adolescents on Instagram Andrha Octora Wiwansyah Putri. Regina Yunita Fitri. Khiyara Hidayatul Makna. Miranda Helvira. Briliana Falasifa Shofrotun. Liliyana Sari. * . Departemen Psikologi. Fakultas Kedokteran. Universitas Andalas . Program Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir. Universitas Sains Al-QurAoan Wonosobo Diterima 13 Agustus 2023 / Disetujui 20 Desember 2024 ABSTRACT Cyberbullying is an aggressive behavior which can happen on virtual world. This study aimed to investigate the level of cyberbullying experienced by adolescents . nown as cyberbullying victi. , especially on Instagram. A total of 119 subjects aged 12-21 years and actively using social media Instagram were recruited using a purposive sampling technique. Research data was collected using the Cyber Victim and Bullying Scale (Cetin et al. , 2. after going through the adaptation process. The descriptive statistical analysis results showed that the majority of subjects experienced cyberbullying on Instagram at a low level . 6%), while other subjects were at a moderate level . 4%). The research subjects also stated that cyberbullying behaviours experienced were generally wrong accusations, insults, and messages containing sexual elements or threats. Based on these results, the cyberbullying experienced by adolescents on Instagram was in a low category. However, supervision from parents in the use of social media still needs to be strengthened to prevent cyberbullying incidents among adolescents. Keywords: Cyberbullying, cybervictim, adolescents. Instagram ABSTRAK Cyberbullying merupakan salah satu perilaku agresif yang dapat terjadi di dunia maya. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat cyberbullying yang dialami oleh remaja . isebut dengan cyberbullying victi. , khususnya di media sosial Instagram. Sejumlah 119 subjek berusia 12-21 tahun dan aktif menggunakan media sosial Instagram direkrut dengan menggunakan teknik purposive sampling. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan Cyber Victim and Bullying Scale (Cetin et al. , 2. setelah melalui proses adaptasi ke bahasa Indonesia. Hasil analisis statistik deskriptif menunjukkan bahwa mayoritas subjek mengalami cyberbullying di media sosial Instagram pada tingkat rendah . ,6%) sedangkan sisanya berada pada tingkat sedang . ,4%). Subjek menyatakan bahwa perilaku cyberbullying yang dialami adalah tuduhan yang tidak benar, penghinaan, dan kiriman pesan mengandung unsur seksual atau ancaman. Berdasarkan hasil tersebut, fenomena cybervictim remaja di media sosial Instagram berada pada kategori rendah. Namun demikian, pengawasan orang tua terhadap remaja dalam penggunaan media sosial masih perlu dilakukan untuk menghindari terjadinya cyberbullying. Kata Kunci: : cyberbullying, cybervictim, remaja. Instagram FR-UBM-9. 9/V0. Jurnal Psibernetika Vol. 17 (No. : 87 Ae 94. Th. p-ISSN: 1979-3707 e-ISSN: 2581-0871 Versi Online: http://journal. id/index. php/psibernetika DOI: 10. 30813/psibernetika. Hasil Penelitian PENDAHULUAN cyberbullying dapat berupa tindakan seperti fitnah, ancaman, hingga hinaan yang disampaikan melalui pesan, media sosial, email, atau situs (Giovanni, 2. Menurut yNetin et al. , tiga dimensi cyberbullying yaitu: . cyber verbal bullying merupakan tindakan cyberbullying dalam bentuk verbal yang seperti menghina, menghujat, menyebarkan gosip, membuat candaan mempermalukan atau tidak pantas, hingga mengancam orang lain yang dianggap sebagai korban di media sosial. hiding identityyaitu menutupi atau menyembunyikan identitas asli, bahkan menggunakan identitas sebagai orang lain. cyber forgery yaitu menyebarkan hal-hal yang memalukan korban, seperti menyebarkan foto dan video pribadi atau menunjukkan karakter fisik korban dengan cara yang memalukan dan tidak sopan. Sebuah studi terhadap remaja di 42 negara menemukan bahwa penggunaan media cyberbullying baik sebagai korban maupun pelaku (Craig et al. , 2. Hasil riset Polling Indonesia bersama Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJ. melaporkan bahwa 49% pengguna media sosial atau dikenal dengan istilah netizen pernah Sementara itu, survei U-Report . pada tahun 2019 menunjukkan bahwa sebanyak 777 responden mengalami tindakan cyberbullying, dimana 71% tindakan ini terjadi di jejaring sosial, sebanyak 19% pada aplikasi chatting, sebanyak 5% pada aplikasi game online, sebanyak 1% pada aplikasi youtube, dan 4% pada aplikasi lainnya. Lebih jauh lagi, data UNICEF . melaporkan bahwa 41% remaja Indonesia pernah mengalami tindakan cyberbullying. Saat ini, salah satu media sosial yang paling banyak digunakan dan diminati oleh remaja adalah Instagram (Candra & Rozana. Berdasarkan data We Are Social . Instagram memiliki pengguna aktif sebanyak 1,45 miliar di dunia dan sebanyak Pada era globalisasi, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat pesat sehingga mampu menjangkau seluruh aspek kehidupan manusia. Salah satu bagian perkembangan teknologi yang sangat dekat dengan kehidupan manusia adalah Internet (Giovanni, 2. Internet adalah suatu sistem jaringan komputer global yang mengakses berbagai informasi di seluruh dunia (Syarifudin et al. , 2. Internet tidak hanya digunakan orang dewasa, namun juga digunakan oleh remaja hingga anak-anak (Aulia, 2. Sejak terjadinya pandemi pada awal tahun 2020 yang menyebabkan terbatasnya ruang gerak individu, penggunaan internet semakin meningkat, khususnya pada durasi waktu yang dihabiskan individu di media Berdasarkan data, pengguna Internet per Januari tahun 2022 adalah sekitar 4,95 miliar orang di dunia, sedangkan di Indonesia berjumlah 204,7 juta orang (Datareportal. Dengan meningkatnya popularitas internet, salah satu dampak negatif atau cyberbullying (Mutma, 2. Cyberbullying merupakan perilaku agresif yang disengaja dan berulang dalam konteks sosial kepada individu yang tidak dapat membela dirinya dengan mudah, dilakukan dengan perangkat teknologi digital, ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku dan korban (Hellsten, 2017. Kowalski et al. Menurut Hidajat et al. merendahkan atau melecehkan orang lain dengan mengirimkan pesan teks yang negatif hingga menyebarkan video/foto yang dianggap mempermalukan korban. Selain itu, *Korespondensi Penulis: E-mail : liliyana92s@gmail. FR-UBM-9. 9/V0. Jurnal Psibernetika Vol. 17 (No. : 87 Ae 94. Th. p-ISSN: 1979-3707 e-ISSN: 2581-0871 Versi Online: http://journal. id/index. php/psibernetika DOI: 10. 30813/psibernetika. Hasil Penelitian 99,9 juta di Indonesia per April 2022. Selain itu. Indonesia merupakan negara keempat yang memiliki pengguna aktif Instagram terbanyak di dunia di mana remaja merupakan kelompok terbesar (NapoleonCat. Berdasarkan hasil studi yang dilakukan UNICEF . , sebesar 70% remaja Indonesia menggunakan Instagram untuk berkomunikasi dengan teman secara Sementara itu, berdasarkan hasil riset Mutma . Instagram merupakan media sosial yang paling banyak digunakan respondennya saat melakukan penelitian terkait cyberbullying. Oleh karena itu. Instagram menjadi wadah yang paling sering digunakan dalam perilaku cyberbullying (Mutma, 2. dimana cyberbullying pada Instagram biasanya berupa hujatan atau komentar jahat dan penyebaran berita hoax yang bertujuan untuk mempermalukan seseorang. Penelitian Mutma memberikan komentar negatif pada postingan orang lain merupakan tindakan cyberbullying yang paling sering terjadi di Instagram. Perilaku ini juga sering terjadi pada public figure seperti artis, penyanyi, hingga tokoh pemerintah (Putri, 2. Meskipun menyebabkan luka fisik secara langsung, individu yang mengalami pengalaman cyberbullying umumnya akan memberikan dampak psikologis yang cukup signifikan kepada korban, seperti depresi, harga diri dan kepercayaan diri menurun, frustrasi, serta adanya keinginan untuk mengakhiri hidup, bahkan bunuh diri (Fitransyah & Waliyanti. Hinduja & Patchin, 2. Selain itu, remaja yang mengalami cyberbullying biasanya merasa tidak berdaya, takut, dan cemas karena mereka tidak mengetahui cara untuk menghentikan perundungan yang dialami di media sosial (Hoff & Mitchell. Penelitian terkait cyberbullying pada Instagram sebelumnya telah dilakukan, tetapi hanya berfokus pada komentar jahat di Instagram salah satu tokoh publik, seperti pasangan Lesti Kejora dan Rizky Billar (Firstiyanti. Nissa Sabyan (Rachmayanti & Candrasari, 2. , atau analisis komentar agresif pada akun gosip di Instagram (Indrawan, 2. Penelitianpenelitian tersebut juga umumnya melakukan analisis konten terhadap komentar-komentar pada postingan figur publik tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini akan menggunakan sudut pandang korban cyberbullying atau dikenal dengan istilah cybervictim dengan tujuan untuk menggambarkan fenomena cyberbullying yang dirasakan oleh remaja di media sosial Instagram berdasarkan teori psikologi, serta mengetahui pandangan remaja terkait cyberbullying yang pernah dialaminya saat mengakses Instagram. METODE PENELITIAN Sejumlah 119 subjek direkrut dengan non-probability sampling yaitu purposive sampling dimana peneliti menetapkan beberapa kriteria subjek. Kriteria subjek penelitian ini adalah remaja berusia 12-21 tahun dan aktif menggunakan media sosial Instagram. Hal ini dikarenakan Instagram adalah media sosial yang paling sering terjadi tindakan cyberbullying (Mutma. Sebelum berpartisipasi, subjek diminta untuk mengisi informed consent atau lembar kesediaan mengikuti penelitian. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah Cyber Victim and Bullying Scale dari yNetin et al. untuk mengukur tingkat cyberbullying yang dialami oleh remaja di media sosial Instagram. Skala ini merupakan skala Likert yang terdiri atas 22 aitem mengukur tiga dimensi yaitu cyber verbal bullying . yberbullying secara verba. , hiding identity . enyembunyikan identita. , and cyber forgery . enyebarkan informasi Terdapat tujuh pilihan respon mulai dari Sangat Tidak Sesuai . hingga Sangat Sesuai . Semakin tinggi skor yang didapat pada skala ini, maka FR-UBM-9. 9/V0. Jurnal Psibernetika Vol. 17 (No. : 87 Ae 94. Th. p-ISSN: 1979-3707 e-ISSN: 2581-0871 Versi Online: http://journal. id/index. php/psibernetika DOI: 10. 30813/psibernetika. Hasil Penelitian semakin tinggi cyberbullying yang dialami oleh subjek. Contoh aitem adalah: AuMendapat kiriman postingan yang menyinggung di InstagramAy. Skala ini memiliki reliabilitas yang sangat baik yaitu Alpha Cronbach 0,970. Selain alat ukur tersebut, peneliti juga melakukan pengumpulan data kualitatif untuk mendapat gambaran tentang fenomena cyberbullying di Instagram, khususnya pada Beberapa pertanyaan yang diajukan adalah penyebab terjadinya cyberbullying, perasaan ketika mengalami cyberbullying, tindakan saat mengalami cyberbullying, dan bantuan yang diharapkan ketika mengalami Instrumen penelitian ini disebar dengan menggunakan Google Form secara daring melalui media sosial kepada individu yang memenuhi kriteria. Data menggunakan analisis statistik deskriptif untuk menggambarkan kategorisasi tingkat cyberbullying pada subjek penelitian. Analisis data dilakukan dengan bantuan software Sedangkan data kualitatif diolah dengan mengkategorisasikan jawaban subjek ke dalam beberapa tema besar. Gambaran berdasarkan data demografis seperti jenis kelamin, usia, durasi penggunaan Instagram per hari, dan pembuatan akun Instagram. Subjek penelitian ini berasal dari 17 provinsi di Indonesia, seperti Sumatera Barat. Jawa Barat. Jakarta. Jawa Timur. Jawa tengah. Sumatera Utara, dan lain-lain. Tabel 1. Sebaran Demografis Subjek Penelitian Jumlah Persentase Laki-laki 29,4% Perempuan 70,6% 5,9% Jenis Kelamin Usia . 12 Ae 14 18 Ae 21 83,3% Penggunaan Identitas Asli di Instagram 70,6% Tidak 29,4% Penggunaan Instagram . Baru . -4 tahu. 26,9% Sedang . -8 tahu. 65,5% Lama . -12 tahu. Durasi Akses Instagram . er < 3 jam 52,9% 3 Ae 5 jam 36,1% > 5 jam 10,9% Total Berdasarkan sebaran demografis subjek penelitian, mayoritas subjek berjenis kelamin perempuan . ,6%) dan berusia remaja akhir . ,3%). Sekitar 65,5% subjek telah memiliki akun Instagram selama 5-8 tahun, diikuti oleh pengguna baru . -4 tahu. sebesar 26,9%. Sebagian besar subjek mengakses Instagram selama kurang dari 3 jam per hari . ,9%), diikuti dengan penggunaan selama 3-5 jam 36,1%. Mayoritas menggunakan identitas asli di Instagram ,6%) menggunakan identitas asli. Dalam menentukan kategorisasi pada perilaku cyberbullying remaja di Instagram, nilai rata-rata . dan standar deviasi hipotetik perlu dihitung terlebih dahulu. Tabel 2 menunjukkan hasil perhitungan skor hipotetik variabel cyberbullying. Dengan hasil min . , mak . , mean . dan SD . Berdasarkan skor tersebut, maka kategorisasi tingkat cyberbullying yang dirasakan oleh subjek penelitian di media sosial Instagram dapat dilihat pada Tabel 3 berikut ini. HASIL DAN PEMBAHASAN Demografis 15 Ae 17 Kategori Skor FR-UBM-9. 9/V0. Jurnal Psibernetika Vol. 17 (No. : 87 Ae 94. Th. p-ISSN: 1979-3707 e-ISSN: 2581-0871 Versi Online: http://journal. id/index. php/psibernetika DOI: 10. 30813/psibernetika. Hasil Penelitian Tinggi X Ou 110 Sedang 66 O X < 110 Rendah X < 66 tingkat cyberbullying pada mahasiswa China berada pada tingkat rendah. Berdasarkan hasil analisis pertanyaan terbuka oleh responden untuk menggali informasi dan mendukung hasil penelitian yang telah dianalisis secara kuantitatif. Menurut subjek yang pernah mengalami cyberbullying, penyebab pelaku melakukan cyberbullying adalah adanya perasaan iri dan dendam, kontrol diri yang rendah, faktor keluarga dan pola asuh orang tua, anonimitas yang tinggi, atau hanya mengikuti perilaku orang lain di media sosial tersebut. Hasil ini sejalan dengan temuan dari Elsaesser et al. bahwa perilaku cyberbullying berhubungan dengan kurangnya dukungan dan pengawasan orang tua kepada individu. Selain itu. Liu & Zu . juga menemukan bahwa cyberbullying disebabkan oleh berbagai faktor psikologis yang dirasakan pelaku, seperti empati, narsisme, harga diri, depresi, dan kecemasan. Penelitian ini juga menemukan bahwa pelaku cyberbullying yang dialami subjek di Instagram dapat berasal dari orang terdekat dan orang tidak dikenal . Hal ini juga didukung oleh hasil penelitian Wolak et al. yang menyebutkan bahwa setidaknya 43% korban cyberbullying berasal dari orang yang terdekat seperti teman dan sekitar 57% mereka menyebut pelakunya adalah orang yang tidak dikenal atau orang asing. Kemudian, bentuk-bentuk cyberbullying yang subjek terima seperti difitnah, diancam hingga dikirimi hal-hal yang berbau seksual. Hal serupa juga diungkapkan dalam penelitian Barus dan Dwiana . bahwa bentuk cyberbullying yang biasanya diterima oleh remaja di kota Medan adalah penyebaran rumor yang tidak benar terkait dirinya, ancaman, hingga komentar yang tidak baik di kolom komentar postingan milik korban. Subjek yang pernah mendapatkan cyberbullying di Instagram umumnya memberikan respon yang beragam, mulai dari mengabaikan, berpikir positif, hingga ingin Pada Tabel 3 di atas, sebanyak 103 responden . ,6%) remaja di Indonesia mengalami tingkat cyberbullying yang Sementara, remaja yang mengalami cyberbullying pada tingkat sedang sebanyak 16 responden . ,4%). Sedangkan, tidak ada responden yang mengalami cyberbullying pada tingkat tinggi. Dengan demikian, gambaran fenomena remaja yang mengalami cyberbullying di Instagram berada pada kategori rendah. Berdasarkan jawaban subjek pada pertanyaan terbuka, subjek merasa bahwa penyebab terjadinya cyberbullying di media Instagram adalah adanya perasaan iri dan benci, kontrol diri yang rendah pada pelaku, faktor pola asuh orang tua, anonimitas yang tinggi, keinginan pelaku untuk menunjukkan kekuatan, atau karena pelaku meniru orang Umumnya, cyberbullying yang dialami subjek adalah tuduhan tidak benar terkait hal-hal personal . eperti orientasi seksua. , penghinaan terhadap fisik dan kepribadian, kiriman pesan yang mengandung unsur seksual, dan/atau ancaman dari orang asing. Ketika mengalami cyberbullying, subjek berharap bahwa pelaku cyberbullying akan mendapatkan hukuman yang setimpal dan dirinya mendapat perlindungan dan dukungan dari lingkungan sekitarnya, seperti keluarga, sahabat, dan Berdasarkan hasil analisis data, mayoritas remaja pengguna Instagram di Indonesia yang mengalami cyberbullying berada pada kategori rendah dengan jumlah 103 orang atau sekitar 86,6%. Sementara itu, 13,4% remaja pengguna Instagram di Indonesia mengalami cyberbullying pada kategori sedang. Hasil ini sama dengan temuan dari Zhong et al. bahwa FR-UBM-9. 9/V0. Jurnal Psibernetika Vol. 17 (No. : 87 Ae 94. Th. p-ISSN: 1979-3707 e-ISSN: 2581-0871 Versi Online: http://journal. id/index. php/psibernetika DOI: 10. 30813/psibernetika. Hasil Penelitian melaporkan pada pihak berwajib. Sejalan dengan temuan ini, remaja yang mengalami cyberbullying biasanya bersikap apatisme yaitu tidak peduli, menonaktifkan akun Instagram, memberi perlawanan kepada pelaku, atau melakukan upaya pencegahan seperti melaporkan kepada guru (Barus & Dwiana, 2016. Whittaker & Kowalski, 2. Tidak hanya itu, subjek pada penelitian ini juga mengharapkan dukungan dan bantuan dari orang-orang terdekatnya, sehingga tindakan cyberbullying ini bisa ditindaklanjuti menuju proses hukum. Hal ini dikarenakan pengalaman sebagai korban cyberbullying . pada remaja dapat memberikan dampak negatif, baik secara fisik maupun psikologis, sehingga bantuan yang diharapkan oleh korban dapat mencegah dampak buruk cyberbullying (Kumala & Sukmawati, 2. Terlepas dari beberapa temuan penting, penelitian ini memiliki beberapa kelemahan, yaitu mayoritas subjek berasal dari Sumatera Barat, sehingga penelitian selanjutnya dapat memperhatikan sebaran subjek di berbagai menunjukkan keterwakilan pada populasi. Selain itu, penelitian ini hanya berfokus pada media sosial Instagram saja, sehingga penelitian selanjutnya dapat menginvestigasi fenomena cyberbullying pada media sosial lainnya, seperti Twitter atau Tiktok yang juga diminati oleh remaja. iri atau dendam dan kontrol diri yang rendah. Dengan demikian, pengawasan orang tua masih perlu dilakukan terhadap penggunaan meminimalisir terjadinya cyberbullying. DAFTAR PUSTAKA