Analisis Kausalitas Tingkat Suku Bunga. Inflasi. Pertumbuhan Ekonomi dan Konsumsi Rumah Tangga di Indonesia Tahun 1992-2022 Causality Analysis of Interest Rate. Inflation. Economic Growth and Household Consumption in Indonesia 1992-2022 Aagym Fauzan Mahdi1. Afdal Samsuddin2 Program Studi Ekonomi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Bangka Belitung. Indonesia Coresponding Email: m. afdal@ubb. Article history: Submitted: May 15, 2024 | Revised: June 10, 2024 | Accepted: June 29, 2024 Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah ntuk mengetahui perngaruh inflasi, tingkat suku bunga, dan pertumbuhan ekonomi terhadap konsumsi rumah tangga di Indonesia mulai dari tahun 1992 sampai dengan tahun 2022. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini ialah metode analisis Vector Autoregressive (VAR). Hasil dari penelitian ini menunjukan secara parsial variabel inflasi, tinkat suku bunga, pertumbuhan ekonomi. terdapat hubungan kausalitas yang kompleks antara variabel ekonomi yang Kebijakan moneter yang menaikkan suku bunga dapat membantu menurunkan inflasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang stabil. Inflasi yang tinggi dapat menyebabkan Bank Indonesia menaikkan suku bunga dan mendorong konsumsi rumah tangga. Pertumbuhan ekonomi yang kuat dapat meningkatkan pendapatan rumah tangga dan mendorong konsumsi. Peningkatan konsumsi rumah tangga dapat meningkatkan permintaan barang dan jasa, yang pada akhirnya dapat mendorong inflasi. Kata kunci: Tingkat Suku Bunga. Inflasi. Pertumbuhan Ekonomi dan Konsumsi Rumah Tangga Abstract The aim of this research is to determine the influence of inflation, interest rates and economic growth on household consumption in Indonesia from 1992 to 2022. The research method used in this research is the Vector Autoregressive (VAR) analysis method. The results of this research partially show the variables of inflation, interest rates, economic growth. there is a complex causal relationship between the economic variables analyzed. Monetary policy that increases interest rates can help reduce inflation and encourage stable economic growth. High inflation can cause Bank Indonesia to raise interest rates and encourage household consumption. Strong economic growth can increase household income and encourage Increased household consumption can increase demand for goods and services, which in turn can encourage inflation. Keywords: Interest Rates. Inflation. Economic Growth and Household Consumption Pendahuluan Konsumsi rumah tangga merupakan komponen penting dalam perekonomian Indonesia. Konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi yang signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan berperan penting dalam mendorong pertumbuhan Konsumsi pribadi seringkali mendapat perhatian khusus karena: Konsumsi pribadi memberikan kontribusi terbesar terhadap pendapatan nasional. Di belahan dunia lain, konsumsi swasta menyumbang setengah dari pendapatan nasional. Kedua bentuk EISSN 2961-9394 Volume Nomor Bulan Tahun Halaman : January-June : 2024 : 63-82 konsumsi tersebut mempunyai pengaruh penting terhadap naik turunnya perekonomian dari tahun ke tahun. Ketika konsumsi dan tabungan jangka panjang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi (Sukirno, 2. Menurut (Illahi. Adry, rian, 2. yang mengutip dari (Rahardja dan Manurung, 2. banyak faktor yang mempengaruhi tingkat konsumsi pribadi dalam suatu rumah tangga pada umumnya. Faktor-faktor tersebut dapat dikategorikan menjadi faktor ekonomi, faktor demografi, dan faktor non-ekonomi. Faktor ekonomi yang mempengaruhi tingkat konsumsi rumah tangga antara lain pendapatan rumah tangga, aset rumah tangga, jumlah barang tahan lama di masyarakat, suku bunga, ekspektasi masa depan, dan kebijakan pemerintah untuk mengurangi ketimpangan distribusi Faktor demografi yang mempengaruhi tingkat konsumsi meliputi ukuran dan komposisi populasi. Sedangkan faktor non ekonomi yang paling besar pengaruhnya terhadap tingkat konsumsi adalah faktor sosial budaya seperti kebiasaan makan, perubahan etika dan nilai untuk ditiru kelompok masyarakat lain. Berdasarkan data World Bank konsumsi rumah tangga memiliki kontribusi yang besar terhadap pertumbuhan ekonomi. Konsumsi menjadi salah satu sumber utama pertumbuhan ekonomi dan menjadi indikator kesejahteraan masyarakat. Pengeluaran konsumsi rumah tangga menjadi salah satu faktor ekonomi yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi . iranthi, 2. Konsumsi rumah tangga dapat menjadi penentu fluktuasi kegiatan ekonomi suatu negara. Konsumsi rumah tangga di Indonesia memberikan sumbangan pendapatan lebih dari 50 % dari jumlah pendapatan nasional. Konsumsi juga memeberikan dampak pada kegiatan kegiatan ekonomi yang lainnya dari satu waktu ke waktu (Sudirman, 2. Konsumsi Rumah Tangga (%) Konsumsi Rumah Tangga (%) Gambar 1 Tingkat Konsumsi Rumah Tangga di Indonesia Tahun 1992-2022 Tingkat bunga, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi merupakan faktor-faktor makroekonomi yang dapat memengaruhi konsumsi rumah tangga. Tingkat bunga yang tinggi umumnya akan menyebabkan rumah tangga menunda konsumsi karena biaya pinjaman yang lebih mahal. Naik turunnya inflasi membawa berbagai gejolak pada Suku bunga yang tinggi membuat masyarakat mengkonsumsi lebih sedikit dan lebih memilih berinvestasi (Wiranthi, 2. Tingkat inflasi dapat mempengaruhi daya beli, masyarakat umumnya menjadi kurang produktif karena adanya peningkatan barang, dan sebagian besar bahan baku yang digunakan merupakan produk dari negara lain yang bersumber dari luar negeri atau melalui impor sehingga akan terus berlangsung dalam jangka waktu tertentu. Jika pendapatan tidak meningkat maka daya beli masyarakat akan menurun, pendapatan riil menurun, dan konsumsi juga menurun(Almayaa et al. , 2. Inflasi, di sisi lain, dapat menurunkan daya beli rumah tangga dan mendorong mereka untuk menabung lebih banyak dan konsumsi lebih sedikit. Menurut Putong . yang dilansirkan oleh (Susanto, 2. didalam jurnalnya yaiti ``Inflasi adalah proses kenaikan harga-harga umum secara terus-menerus. '' Sebaliknya kebalikan dari inflasi adalah deflasi. Artinya, pada tahap awal terjadi kelangkaan barang karena harga terus turun dan daya beli masyarakat meningkat, namun pada tahap kedua jumlah barang bertambah seiring dengan pembelian masyarakat. Dan kinerja akan menurun. Inflasi dapat diklasifikasikan menjadi empat kelompok: inflasi ringan, inflasi sedang, inflasi berat, dan hiperinflasi. Inflasi sedang terjadi ketika harga naik kurang dari 10% per tahun, inflasi sedang terjadi antara 10% dan 30% per tahun, dan inflasi parah terjadi antara 30% dan 100% per tahun. Hiperinflasi, atau inflasi yang tidak terkendali, terjadi ketika harga-harga berakhir. Pertumbuhan ekonomi yang positif umumnya meningkatkan pendapatan rumah tangga dan mendorong mereka untuk meningkatkan konsumsi. Menurut Sukirno . yang dikutip oleh (Sudirman, 2. yaitu pertumbuhan ekonomi pada kegiatan ekonomi sebenarnya berarti perkembangan keuangan atas produk dan jasa yang diterapkan dalam suatu negara seperti: Peningkatan produksi barang-barang industri, pembangunan infrastruktur, peningkatan jumlah sekolah, peningkatan produksi sektor jasa, peningkatan produksi barang modal. Namun, sangat sulit untuk memberikan gambaran lengkap tentang pertumbuhan ekonomi yang dicapai dengan menggunakan berbagai jenis data produksi. Untuk memberikan gambaran kasar mengenai pertumbuhan ekonomi suatu negara, tingkat pertumbuhan riil pendapatan nasional selalu dijadikan ukuran. Pertumbuhan ekonomi juga berkaitan dengan proses peningkatan produksi barang dan jasa dalam aktivitas ekonomi suatu masyarakat. Kita dapat mengatakan bahwa pertumbuhan menyangkut pembangunan dalam satu dimensi dan diukur dengan peningkatan output dan pendapatan. Memahami hubungan antara tingkat bunga, inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan konsumsi rumah tangga sangat penting untuk merumuskan kebijakan ekonomi yang Kebijakan yang tepat dapat membantu menjaga stabilitas ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Landasan Teori Konsumsi Rumah Tangga Konsumsi mengambil istilah dari dua bahasa yang berbeda, yaitu Bahasa Belanda dan Bahasa Inggris. Dalam istilah dari Bahasa Belanda, konsumsi berasal dari EISSN 2961-9394 Volume Nomor Bulan Tahun Halaman : January-June : 2024 : 63-82 kata consumptie yaitu segala kegiatan yang dipergunakan dengan tujuan untuk mengambil kegunaan pada suatu produk dan jasa. Sedangkan dari Bahasa Inggris, konsumsi berasal dari kata consumption yang berarti pemakaian, menggunakan, pemanfaatan, dan atau pengeluaran. Konsumsi adalah pengeluaran yang dilakukan rumah tangga atas barang dan jasa akhir dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhannya(Sitohang, 2. Seperti yang diketahui, cakupan konsumsi ini sangat luas dan tidak terbatas hanya pada satu benda maupun jasa tertentu. Jika dijabarkan kedalam penjelasan ekonomi makro, maka konsumsi dapat diartikan sebagai variabel makro ekonomi yang dilambangkan dengan huruf AuCAy yaitu singkatan dari consumption. Consumption disini dikategorikan ke dalam klasifikasi konsumen rumah tangga, yaitu pembelanjaan barang atau jasa dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan atau melakukan pembelian berdasarkan pendapatan yang dimiliki atau diperoleh( Sudirman, 2. Pengeluaran Rumah Tangga adalah semua pengeluaran rumah tangga keluarga dan perseorangan serta lembaga-lembaga swasta bukan perusahan untuk membeli barang dan jasa-jasa yang lansung dapat dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan. Pengeluaran rumah tangga salah satu indikator kesejahteran individu dan sosial Tingkat pengeluaran rumah tangga menunjukan tingkat perkembangan sistem ekonomi secara keseluruhan. Faktor-faktor tersebut dapat diklasifikasikan menjadi faktor ekonomi, faktor demografi, dan faktor non ekonomi. Faktor-faktor ekonomi yang mempengaruhi tingkat konsumsi rumah tangga adalah pendapatan rumah tangga, kekayaan rumah tangga, jumlah barang konsumsi tahan lama dalam masyarakat, tingkat bunga, perkiraan tentang masa depan, dan kebijakan pemerintah dalam mengurangi ketimpangan distribusi pendapatan( Illahi, 2. Teori konsumsi Keynes mengedepankan tentang analisis perhitungan statistik, serta membuat hipotesa berdasarkan observasi kasual. Keynes menganggap perhitungan fluktuasi ekonomi negara dapat dihitung berdasarkan besarnya konsumsi dan pendapatan belanja rumah tangga. Pada pengeluaran rumah tangga, selalu terdapat pengeluaran untuk konsumsi walaupun tidak memiliki pendapatan. Hal ini disebut sebagai pengeluaran konsumsi otonomus atau autonomus consumption (Sudirman. Inflasi Menurut Bank Indonesia, inflasi adalah harga-harga yang meningkat secara terus menerus (Bank Indonesia, 2. Inflasi adalah suatu keadaan atau proses dimana harga-harga barang pada umumnya mengalami kenaikan dan berlangsung terus Ada tiga komponen yang harus dipenuhi agar dapat dikatakan terjadi inflasi. yaitu kenaikan harga, kenaikan harga umum, dan kenaikan harga terus menerus(Sihotan, 2. Inflasi merupakan permasalahan yang ada pada setiap negara, yang dapat menentukan tingkat kesejahteraan masyarakat di negara itu sendiri. Ketika terjadinya kenaikan harga tetapi tidak diikuti dengan kenaikan pendapatan, maka pendapatan riil masyarakat akan menurun (Bunga, 2. Menurut Putong . menyatakan bahwa AyInflasi adalah proses kenaikan harga-harga umum secara terus menerusAy. Sedangkan kebalikan dari inflasi adalah deflasi, yaitu penurunan harga secara terus menerus, akibatnya daya beli masyarakat bertambah besar, sehingga pada tahap awal barang-barang menjadi langka, akan tetapi pada tahap berikutnya jumlah barang akan semakin banyak karena semakin berkurangnya daya beli masyarakat. Inflasi dapat digolongkan menjadi empat golongan, yaitu inflasi ringan, sedang, berat, dan hiperinflasi. Inflasi ringan terjadi apabila kenaikan harga berada di bawah angka 10% setahun, inflasi sedang antara 10%-30% setahun, inflasi berat antara 30%-100% setahun dan hiperinflasi atau inflasi tak terkendali terjadi apabila kenaikan harga berada di atas 100%(Susato dkk. , 2. Inflasi merupakan suatu kejadian yang menggambarkan situasi dan kondisi dimana harga barang mengalami kenaikan dan nilai mata uang mengalami pelemahan, dan jika ini terjadi terus menerus maka akan mengakibatkan pada memburuknya kondisi ekonomi secara menyeluruh serta mampu mengguncang tatanan stabilitas politik suatu negara (Mankiw. , 2. Inflasi adalah keadaan ekonomi dimana terjadi kenaikan harga- harga barang secara menyeluruh serta terjadi dalam waktu yang cukup lama. Menurut al- Maghrizi sebagaimana yang dikutip oleh Amalia inflasi adalah kenaikan harga yang terjadi terus menerus dan pada saat itu persediaan barang dan jasa mengalami kelangkaan, sementara konsumen harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk mendapatkan barang maupun jasa yang sama (Amalia, 2. Tingkat Bunga Suku bunga adalah harga dari penggunaan uang atau bisa juga dipandang sebagai sewa atas penggunaan uang untuk jangka waktu tertentu. Atau harga dari meminjam uang untuk menggunakan daya belinya dan biasanya dinyatakan dalam persen (%). Bagi orang yang meminjam uang, bunga merupakan denda yang harus dibayarkan untuk mengkonsumsi penghasilan sebelum diterima. Bagi orang yang memberikan pinjaman, bunga merupakan imbalan karena menunda konsumsi sekarang hingga waktu dari piutang(Susanto. , 2. Di Indonesia kebijakan dalam menetapkan tingkat suku bunga dipegang oleh otoritas Bank Indonesia setelah melakukan rapat bulanan dewan gubernur yang kemudian diumumkan kepada publik. Suku bunga diimplementasikan pada operasi moneter yang dilakukan Bank Indonesia melalui pengelolaan likuiditas . iquidity managemen. di pasar uang untuk mencapai sasaran operasional kebijakan moneter(Aldiansyah et al. Menurut Shaw . dan McKinnon . , elemen terpenting dalam pembangunan ekonomi adalah liberalisasi keuangan. Tindakan ini akan menghilangkan distorsi seperti yang dilakukan pemerintah Indonesia pada tanggal 1 Juni 1983 melalui deregulasi perbankan. Pemerintah menghapuskan plafon kredit dan memberikan kewenangan penuh kepada setiap bank untuk menentukan tingkat suku bunganya. Suku bunga yang sering disebut BI rate merupakan kebijakan moneter yang ditetapkan oleh Bank Indonesia dan diumumkan kepada masyarakat. Sejak Agustus 2016. Bank Indonesia telah memperketat kerangka operasi moneter dengan memperkenalkan BI 7-Day (Revers. Repo Rate sebagai suku bunga acuan baru atau suku bunga kebijakan pengganti BI rate. Repo BI 7 Hari (Terbali. Rate atau suku bunga kebijakan baru digunakan karena dianggap mampu memberikan dampak langsung pada pasar uang, perbankan, dan sektor riil(Wahidin dkk. , 2. Pertumbuhan Ekonomi EISSN 2961-9394 Volume Nomor Bulan Tahun Halaman : January-June : 2024 : 63-82 Pertumbuhan ekonomi merupakan metrik penting untuk menentukan tingkat keberhasilan suatu negara. Setiap negara bertujuan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang maksimal untuk maju sebagai suatu bangsa. Produk domestik bruto, baik atas dasar harga saat ini maupun harga konstan, merupakan salah satu indeks paling signifikan untuk menentukan keadaan keuangan dari waktu ke waktu(Maranl. , 2. Secara umum, pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai peningkatan kemampuan dari perekonomian suatu negara dalam halmem produksi barang-barang dan jasa-jasa. Pertumbuhan ekonomi adalah salah satu indicator yang amat penting dalam melakukan analisis tentang pembangunan ekonomi yang terjadi pada suatu negara. Pertumbuhan ekonomi menunjukkan sejauh mana aktivitas perekomian akan menghasilkan tambahan pendapatan masyarakat pada suatu periode tertentu. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, seperti daya beli masyarakat, pengeluaran pemerintah, inflasi dan sebagainya(Utami. , 2. Pertumbuhan ekonomi adalah sebuah proses dari perubahan kondisi perekonomian yang terjadi di suatu negara secara berkesinambungan untuk menuju keadaan yang dinilai lebih baik selama jangka waktu tertentu. Pertumbuhan ekonomi merupakan masalah ekonomi dalam jangka Biasanya pertumbuhan ekonomi dipakai untuk mengukur tingkat prestasi dari perkembangan suatu ekonomi(Aldiansyah et al. , 2. Metode penelitian Penelitian ini akan menggunakan metode kuantitatif dengan menggunakan data panel dari tahun 1992 hingga 2022. Data akan dianalisis dengan menggunakan model regresi Vector Autoregression (VAR). Hasil dan Pembahasan Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antar variabel yaitu tingkat bunga. Inflasi, pertumbuhan ekonomi dan konsumi rumah tangga di Indonesia. Dari keempat variabel tersebut akan dilihat apakah ada berhubungan timbal balik antar variabel atau hanya berhubungan satu arah antar variabel atau tidak berhubungan sama sekali antar variabel. Pada penelitian ini di gunakan data time series yaitu 30 tahun di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode Time Series VAR. Ada beberapa tahap pengujian pada metode VAR tersebut. Uji Akar Root (Uji Root Tes. Pada uji akar root dapat dilihat stasioner atau tidak stasioner data pada variabel yang di gunakan. Data pada penelitian ini menggunakan data time series maka disebut dengan time series root test dengan menggunakan uji Levin Lin Chu. Im Pesaran. ADFFisher dan PP-Fisher atau Summary. Dari uji tersebut apabila data tidak stasioner pada tingal level maka dapat melanjutkan uji tersebut dengan cara menstasionerkan pada tingkat first different atau second different. Pada tabel dibawah merupakan hasil output dari panel root test yang menandakan bahwa data stasioner pada tingkat level. Data dikatakan stasioner apabila probabilitas < 0. Dengan bukti pada uji Auqmented Dickey-Fuller test statistic memiliki nilai probabilitas pada tingkat level sebesar 0. 0000 yang menandakan bahwa data pada variabel Konsumsi Rumah Tangga menunjukan bahwa data stasioner pada tingkat first different yaitu dengan probabilitas 0. 0000 < 0. Tabel 1. panel root test Null Hypothesis: D(KR) has a unit root Exogenous: Constant Lag Length: 0 (Automatic - based on SIC, maxlag=. Augmented Dickey-Fuller test statistic Test critical values: 1% level 5% level 10% level t-Statistic Prob. Selanjutnya dapat dilihat pada tabel dibawah merupakan hasil output dari uji root test dengan menggunakan uji Auqmented Dickey-Fuller test statistic untuk melihat stasioner atau tidaknya data. Data dikatakan stasioner apabila probabilitas < 0. Dengan bukti pada uji Auqmented Dickey-Fuller test statistic memiliki nilai probabilitas pada tingkat level sebesar 0. 0000 yang menandakan bahwa data pada variabel Inflasi menunjukan bahwa data stasioner pada tingkat first different yaitu dengan probabilitas 0000 < 0. Tabel 2. Hasil output dari uji root test dengan menggunakan uji Auqmented DickeyFuller test statistic Null Hypothesis: D(IN) has a unit root Exogenous: Constant Lag Length: 0 (Automatic - based on SIC, maxlag=. Augmented Dickey-Fuller test statistic Test critical values: 1% level 5% level 10% level t-Statistic Prob. Pada tabel dibawah merupakan hasil output dari panel root test yang menandakan bahwa data stasioner pada tingkat level. Data dikatakan stasioner apabila probabilitas < 0. Dengan bukti pada uji Auqmented Dickey-Fuller test statistic memiliki nilai probabilitas pada tingkat level sebesar 0. 0000 yang menandakan bahwa data pada variabel Tingkat Bunga menunjukan bahwa data stasioner pada tingkat first different yaitu dengan probabilitas 0. 0000 < 0. EISSN 2961-9394 Volume Nomor Bulan Tahun Halaman : January-June : 2024 : 63-82 Tabel 3. Hasil output dari panel root test yang menandakan bahwa data stasioner pada tingkat level Null Hypothesis: D(TB) has a unit root Exogenous: Constant Lag Length: 0 (Automatic - based on SIC, maxlag=. Augmented Dickey-Fuller test statistic Test critical values: 1% level 5% level 10% level t-Statistic Prob. Selanjutnya dapat dilihat pada tabel dibawah merupakan hasil output dari uji root test dengan menggunakan uji Auqmented Dickey-Fuller test statistic untuk melihat stasioner atau tidaknya data. Data dikatakan stasioner apabila probabilitas < 0. Dengan bukti pada uji Auqmented Dickey-Fuller test statistic memiliki nilai probabilitas pada tingkat level sebesar 0. 0000 yang menandakan bahwa data pada variabel Pertumbuhan Ekonomi menunjukan bahwa data stasioner pada tingkat first different yaitu dengan probabilitas 0. 0000 < 0. Tabel 4. hasil output dari uji root test dengan menggunakan uji Auqmented DickeyFuller test statistic Null Hypothesis: D(PE) has a unit root Exogenous: Constant Lag Length: 0 (Automatic - based on SIC, maxlag=. Augmented Dickey-Fuller test statistic Test critical values: 1% level 5% level 10% level t-Statistic Prob. Uji Kointegration Uji kointegritas merupakan sebuah uji analisis yang berguna untuk mengetahui apakah terjadi atau tidak terjadi keseimbangan jangka panjang yaitu terdapat kesamaan dan hubungan stabilitas antar variabel di dalam penelitian ini. Hasil output variabel dikatakan terkointegrasi apabila memiliki probabilitas < 0. Apabila model tersebut terkointegrasi maka model akan dianalisis dengan menggunakan metode VECM. Dan apabila model tersebut tidak terkointegrasi maka model akan dianalisis dengan menggunakan metode VAR. Berikut merupakan hasil output Uji Kointegritas: TAbel 5. Hasil output Uji kointegritas Date: 05/15/24 Time: 09:05 Sample . : 1998 2022 Included observations: 25 after adjustments Trend assumption: Linear deterministic trend Series: D(KR,. D(IN,. D(PE,. D(TB,. Lags interval . n first difference. : 1 to 3 Unrestricted Cointegration Rank Test (Trac. Hypothesized No. of CE. Eigenvalue Trace Statistic Critical Value Prob. None * At most 1 * At most 2 At most 3 Trace test indicates 2 cointegrating eqn. at the 0. 05 level * denotes rejection of the hypothesis at the 0. 05 level **MacKinnon-Haug-Michelis . p-values Pada tabel diatas merupakan hasil output dari uji kointegritas keempat variabel. Dari hasil output tersebut terlihat bahwa keempat hipotesis pada persamaan tersebut memiliki hasil probabilitas yang lebih besar dari 0. 05 ( >0. namun ada satu variabel probabiltasnya dibawah 0. 05 (< 0. karena variabel yang memiliki probabilitas lebih besar dari 0. 05 lebih banyak maka dapat dikatakan bahwa persamaan ini tidak Oleh sebab itu, ketiga variabel harus menggunakan metode VAR pada tingkat first differences. Uji lag optimum Uji lag optimum ini berguna untuk menentukan jumlah lag optimum yang akan digunakan pada penelitian. Uji lag optimum ini sangat diperlukan dalam uji kointegritas dan uji kausalitas granger agar meperoleh hasil prediksi yang lebih akurat pada penelitian ini. Pada model VAR, penentuan jumlah lag ditentukan oleh beberapa kriteria , yaitu :Likelihood Ratio (LR). Final Prediction Error (FPE). Akaike Information Criteria (AIC). Schwars Information Criterion (SIC), dan Hanna Quinn Information Criterion (HQ). Dari beberapa kriteria tersebut dapat dilihat dari nilai minimum. EISSN 2961-9394 Volume Nomor Bulan Tahun Halaman : January-June : 2024 : 63-82 Tabel 6. Uji lag optimum VAR Lag Order Selection Criteria Endogenous variables: D(KR,. D(IN,. D(PE,. D(TB,. Exogenous variables: C Date: 05/15/24 Time: 09:21 Sample: 1992 2022 Included observations: 26 Lag LogL FPE AIC Pada tabel diatas dapat dilihat bahwa tanda (*) paling banyak didapat pada lag 3. Tanda (*) menandakan bahwa nilai tersebut yang paling minimum atau terkecil. Dari hasil tersebut mennjukan bahwa lag yang paling akurat digunkan pada penelitian ini yaitu pada lag 3. Uji Kausaliti Granger Pada uji kausalitas granger ini memiliki tujuan yaitu untuk melihat sebab dan akibat pada setiap variabel. Hubungan kausalitas tersebut bisa terjadi satu arah antar satu variabel dengan variabel lainnya, atau terjadi hubungan dua arah antar variabel yang satu dengan variabel yang lainnya. Pada uji kausalitas grager ini menggunakan lag optimum yang telah didapatkan hasilnya pada uji lag yang telah dilakukan sebelumnya. Pada uji lag sebelumnya diperoleh hasil yang akurat pada lag 3. Maka pada saat menentukan hubungan kaulitas antar variabel maka digunakan uji Granger Causality Test pada lag 3. Pada tabel diatas merupakan hasil dari Uji Causality Granger yang menjelaskan Konsumsi rumah tangga memiliki hubungan kausalitas satu arah dengan variabel Dari hasil analisis Granger Causality dapat diasumsikan bahwa hubungan antar kedua variabel diterima. Konsumsi rumah tangga tidak memiliki hubungan kausalitas satu arah maupun dua arah dengan variabel pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Dengan begitu dari hasil analisis Granger Causality dapat disimpulkan bahwa kedua variabel ditolak Konsumsi rumah tangga memiliki hubungan kausalitas satu arah dengan variabel tingkat suku bunga. Dari hasil analisis Granger Causality dapat diasumsikan bahwa hubungan antar kedua variabel diterima. Tabel 7. Hasil dari Uji Causality Granger VAR Granger Causality/Block Exogeneity Wald Tests Date: 05/15/24 Time: 09:22 Sample: 1992 2022 Included observations: 27 Dependent variable: D(KR,. Excluded Chi-sq Prob. D(IN,. D(PE,. D(TB,. All Excluded Chi-sq Prob. D(KR,. D(PE,. D(TB,. All Excluded Chi-sq Prob. D(KR,. D(IN,. D(TB,. All Excluded Chi-sq Prob. D(KR,. D(IN,. D(PE,. All Dependent variable: D(IN,. Dependent variable: D(PE,. Dependent variable: D(TB,. Uji estimasi var Estimasi model vector autoregression (VAR) dapat dilakukan apabila semua syarat yang dibutuhkan telah terpenuhi. Pada uji kointegritas hasil yang diperoleh yaitu data tidak terkointegritas. Oleh sebab itu kita memilih estimasi model vector autoregression (VAR). Untuk melihat hasil estimasi model VAR, dapat diketahui EISSN 2961-9394 Volume Nomor Bulan Tahun Halaman : January-June : 2024 : 63-82 dengan membandingkan t-statistik hasil estimasi terhadap nilai t-tabel yang ada dan dapat dilihat hubungan antar variabel penelitian seperti tabel 8. Tabel 8 Estimasi model vector autoregression (VAR) Vector Autoregres s ion Es tim ates Date: 05/15/24 Tim e: 09:25 Sam ple . djus te. : 1997 2022 Included obs ervations : 26 after adjus tm ents Standard errors in ( ) & t-s tatis tics in [ ] D(KR,. D(IN,. D(PE,. D(TB,. D(KR(-. [-0. [-0. [ 0. [ 0. D(KR(-. [-0. [-0. [-0. [ 0. D(KR(-. [-2. [ 2. [-2. [-2. D(IN(-. [-1. [ 0. [-1. [-0. D(IN(-. [-0. [-0. [-0. [ 1. D(IN(-. [-2. [ 2. [-2. [-3. D(PE(-. [-1. [ 0. [-1. [ 0. D(PE(-. [-0. [-0. [-0. [ 0. D(PE(-. [-2. [ 1. [-2. [-1. D(TB(-. [-1. [ 1. [-1. [-1. D(TB(-. [-0. [-0. [-0. [ 0. D(TB(-. [-2. [ 2. [-2. [-2. [-0. [-0. [-0. [ 0. Determ inant res id covariance . of adj. Determ inant res id covariance Log likelihood Akaike inform ation criterion Schwarz criterion Num ber of coefficients R-s quared Adj. R-s quared Sum s q. res ids F-s tatis tic Log likelihood Akaike AIC Schwarz SC Mean dependent Pada tabel 8 diatas menunjukan bahwa pada lag 1, 2, dan 3 konsumsi rumah tangga memiliki hubugan yang negatif pada dirinya sendiri. Dapat disimpulkan bahwasannya tingkat konsumsi rumah tangga rendah pada periode sebelumnya dan tidak mengalami perubahan yang signifikan pada periode sekarang. Tabel diatas juga menunjukan bahwa tingkat inflasi pada lag 2 memiliki hubungan pada dirinya sendiri, sedangkan lag 1 dan lag 3 memiliki hubungan yang Hal ini berarti tingkat inflasi tinggi pada periode sebelumnya maka memberikan dampak pada periode sekarang. Selanjutnya pada tabel diatas juga menunjukan bahwa pertumbuhan ekonomi memiliki hubungan negatif pada dirinya sendiri. Hal ini berarti pertumbuhan ekonomi rendah pada periode sebelumnya dan tidak mengalami perubahan yang signifikan pada periode sekarang. Dan selanjutnya pada tabel diatas juga menunjukan bahwa tingkat bunga memiliki hubungan yang positif pada lag 2, sedangkan lag 1 dan lag 3 memiliki hubungan yang positif. Hal ini berarti tingkat bunga tinggi pada periode sebelumnya maka memberikan dampak pada periode sekarang. Uji stabilitas Uji stabilas merupakan salah satu uji yang dilakukan pada model VAR. Uji stabilitas dilakukan berguna untuk melihat kestabilatasas model VAR untuk melakukan uji analisis Impluse Response Function (IRF) dan Variance Decomposition (VD). Jika pada uji ini hasilnya stabil maka hasil analisis IRF dan VD bisa dikatakan valid. Uji stabilitas dapat dilakukan dengan menggunakan VAR Stability Condition Check. Pada hasil tersebut dikatakan stabil atau tidak stabilnya apabila nilai Inverse Root Of AR Characteristic Polynomial berada didalam lingkaran semuanya. Inverse Roots of AR Characteristic Polynomial Gambar 2. hasil uji Impluse Reseon Function (IRF) dan Variance Decomposition (VD) EISSN 2961-9394 Volume Nomor Bulan Tahun Halaman : January-June : 2024 : 63-82 Pada Gambar 2 diatas dapat dilihat bahwa titik karakteristik AR berada pada dalam dan masih menyentuh lingkaran semuanya. Hal ini dapat diartiksn babhwa model VAR yang dilakukan terbukti stabil. Maka dapat dikatakan hasil uji Impluse Reseon Function (IRF) dan Variance Decomposition (VD) tepat atau valid. Uji impluse response funtion Impulse Respon Fuction (IRF) merupakan suatu uji yang melacak efek perubahan satu standar deviasi dari salah satu inovasi disatu variabel terhadap nilai saat ini dan juga nilai masadepan pada sebuah variabel lai dalam sistem persamaan VAR. Metode pengujian ini dapat digunkaan untuk mengetahui respon pada suatu variabel endogen terhadap variabel tertentu, karena shock pada variabel suatu variabel pertama tidak hanya berpengaruh terhadap variabel itu, akan tetapi dapat ditansmisikan kepada seluruh variabel endogen yang lainnya dengan cara melalui struktur dinamik atau struktur lag yang terdapat dalam metode VAR. Dalam analisis ini dapat diketahui respon positif atapun respon negatif pada satu variabel terhadap variabel yang lainnya. Pada jangka pendek respon tersebut biasanya cukup signifikan dan lebih cendrung berubah. Sedangkan pada jangka panjang respon tersebut cendrung konsisten dan juga terus mengecil. Impluse response Fuction memilki hasil yang tergantung kepada pada ordering dari seri variabel yang akan digunakan dalam penghitungannya. Pada penelitian ordinering yang digunakan yaitu infrastruktur telekomunikasi, pertumbuhan ekonomi dan pembangunan ekonomi. Berikut merupakan hasil output eviews dari Impulse Response Function : Berdasarkan gambar 3 dibawah ini grafik dapat terlihat bahwa tingkat suku bunga, inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan konsumsi rumah tangga di Indonesia memiliki hubungan yang dinamis. Uji Impulse Response Function (IRF) digunakan untuk menganalisis hubungan tersebut dan mengukur respons variabel satu sama lain terhadap guncangan. Pada grafik menunjukan bahwa guncangan positif pada tingkat suku bunga (DITB) akan menyebabkan respons negatif yang signifikan terhadap inflasi (DIIN) dan pertumbuhan ekonomi (DIPE). Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan moneter yang menaikkan suku bunga dapat membantu menurunkan inflasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang stabil. Guncangan positif pada inflasi (DIIN) akan menyebabkan respons positif yang signifikan terhadap tingkat suku bunga (DITB) dan konsumsi rumah tangga (DIKR). Hal ini menunjukkan bahwa inflasi yang tinggi dapat menyebabkan Bank Indonesia menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi, dan juga dapat mendorong konsumsi rumah tangga karena ekspektasi inflasi yang tinggi. Guncangan positif pada pertumbuhan ekonomi (DIPE) akan menyebabkan respons positif yang signifikan terhadap konsumsi rumah tangga (DIKR). Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang kuat dapat meningkatkan pendapatan rumah tangga dan mendorong konsumsi. Guncangan positif pada konsumsi rumah tangga (DIKR) akan menyebabkan respons positif yang signifikan terhadap inflasi (DIIN). Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan konsumsi rumah tangga dapat meningkatkan permintaan barang dan jasa, yang pada akhirnya dapat mendorong inflasi. Berdasarkan analisis IRF, dapat disimpulkan bahwa tingkat suku bunga, inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan konsumsi rumah tangga di Indonesia memiliki hubungan yang dinamis. Kebijakan moneter yang menaikkan suku bunga dapat membantu menurunkan inflasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang stabil. Inflasi yang tinggi dapat menyebabkan Bank Indonesia menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi, dan juga dapat mendorong konsumsi rumah tangga karena ekspektasi inflasi yang tinggi. Pertumbuhan ekonomi yang kuat dapat meningkatkan pendapatan rumah tangga dan mendorong konsumsi. Peningkatan konsumsi rumah tangga dapat meningkatkan permintaan barang dan jasa, yang pada akhirnya dapat mendorong inflasi. Response to Cholesky On e S. Innovation s A 2 analytic as ymptotic S. Response of D(KR,. to D(KR,. Innovation Response of D(KR,. to D(IN,. Innovation Response of D(KR,. to D(PE,. Innovation Response of D(KR,. to D(TB,. Innovation Response of D(IN,. to D(KR,. Innovation Response of D(IN,. to D(IN,. Innovation Response of D(IN,. to D(PE,. Innovation Response of D(PE,. to D(KR,. Innovation Response of D(PE,. to D(PE,. Innovation Response of D(TB,. to D(KR,. Innovation Response of D(TB,. to D(PE,. Innovation Response of D(TB,. to D(TB,. Innovation Response of D(TB,. to D(IN,. Innovation Response of D(PE,. to D(TB,. Innovation Response of D(PE,. to D(IN,. Innovation Response of D(IN,. to D(TB,. Innovation Gambar 3. Tingkat suku bunga, inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan konsumsi rumah tangga di Indonesia . Uji Variance Decomposition Uji Kontribusi atau yang disebut juga dengan Variance Decomposition (VD) berguna untuk menjelaskan pergerakan variabel akibat dari shock variabel itu sendiri dan berdampak pada pergerakan variabel lain secara beruntun. VD juga menjelaskan mana variabel yang memiliki peran shock dalam menjelaskan variansi perubahan disuatu variabel. Dengan kata lain, dalam hasil VD tersebut dapat diketahui seberapa EISSN 2961-9394 Volume Nomor Bulan Tahun Halaman : January-June : 2024 : 63-82 pentingkah variabel tersebut dapat mempengaruhi variabel yang lain. Jika nilai dekomposisidari shock suatu varibel semakin tinggi maka semakin pentinglah variabel Berikut merupakan hasil dari uji Variance Decomposition (VD): Tabel 9. hasil dari uji Variance Decomposition (VD) Variance Decomposition of D(KR,. Period D(KR,. D(IN,. D(PE,. D(TB,. Variance Decomposition of D(IN,. Period D(KR,. D(IN,. D(PE,. D(TB,. Variance Decomposition of D(PE,. Period D(KR,. D(IN,. D(PE,. D(TB,. Variance Decomposition of D(TB,. Period D(KR,. D(IN,. D(PE,. D(TB,. Cholesky One S. Cholesky ordering: D(KR,. D(IN,. D(PE,. D(TB,. Pada tabel diatas merupakan hasil output dari eviews yang memperlihatkan bahwa pengaruh antar variabel tersebut. Tabel menjelaskan bahwa variabel konsumsi rumah tangga yang diukur dari KR menunjukan pada periode pertama perkiraan eror Variance seluruhnya . %) yang dijelaskan oleh variabel itu sendiri. Hal ini berarti tingkat probability konsumsi rumah tangga dipengaruhi oleh dirinya sendiri dibandingkan dengan shock yang terjadi oleh variabel lainnya yaitu pertumbuhan ekonomi dan pembangunan ekonomi. Pada viriabel Inflasi yang diukur dengan IN. Menunjukan bahwa pada Inflasi tidak di pengaruhi oleh dirinya sendiri dibandingkan dengan variabel lain yang memiliki perkiraan eror variance 49. Pada variabel pertumbuhan ekonomi menunjukan pada periode pertama bahwa error variance sebesar 3. 20% yang ditunjukan oleh dirinya sendiri, begitu juga tingkat bunga menunjukan padaperiode pertama bahwa error variance sebesar 1. hal ini berarti bahwa probability pertumbuhan ekonomi dan tingkat bunga tidak dipengaruhi oleh dirinya sendiri dibandingkan dengan shock yang terjadi pada varibel konsumsi rumah tangga. Simpulan Berdasarkan hasil analisis Granger Causality dan Impulse Response Function (IRF) terhadap data di Indonesia periode 1992 hingga 2022, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan kausalitas yang kompleks antara tingkat suku bunga (TB), inflasi (IN), pertumbuhan ekonomi (PE), dan konsumsi rumah tangga (KR). Pada hubungan Kausalitas Konsumsi rumah tangga (KR) dan inflasi (IN): Terdapat hubungan kausalitas satu arah dari KR ke IN. Hal ini menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga dapat mempengaruhi inflasi. Peningkatan konsumsi rumah tangga dapat meningkatkan permintaan barang dan jasa, yang pada akhirnya dapat mendorong inflasi. Konsumsi rumah tangga (KR) dan pertumbuhan ekonomi (PE): Tidak terdapat hubungan kausalitas antara TB dan PE. Hal ini menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga tidak secara langsung mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, dan sebaliknya. Konsumsi rumah tangga (KR) dan tingkat suku bunga (TB): Terdapat hubungan kausalitas satu arah dari TB ke KR. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat suku bunga dapat mempengaruhi konsumsi rumah tangga. Kenaikan tingkat suku bunga dapat menyebabkan biaya pinjaman dan tabungan meningkat, yang pada akhirnya dapat mengurangi daya beli rumah tangga dan menurunkan konsumsi. Inflasi (IN) dan pertumbuhan ekonomi (PE): Terdapat hubungan kausalitas dua arah antara IN dan PE. Hal ini menunjukkan bahwa inflasi dan pertumbuhan ekonomi saling Inflasi yang tinggi dapat menghambat pertumbuhan ekonomi, dan Inflasi (IN) dan tingkat suku bunga (TB): Terdapat hubungan kausalitas satu arah dari IN ke TB. Hal ini menunjukkan bahwa inflasi dapat mempengaruhi tingkat suku bunga. Bank Indonesia dapat menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi yang tinggi. Pertumbuhan ekonomi (PE) dan tingkat suku bunga (TB): Tidak terdapat hubungan kausalitas antara PE dan TB. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak secara langsung mempengaruhi tingkat suku bunga, dan sebaliknya. Pada Analisis Impulse Response Function (IRF) Guncangan positif pada tingkat suku bunga (TB) akan menyebabkan respons negatif yang signifikan terhadap inflasi (IN) dan pertumbuhan ekonomi (PE). Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan moneter EISSN 2961-9394 Volume Nomor Bulan Tahun Halaman : January-June : 2024 : 63-82 yang menaikkan suku bunga dapat membantu menurunkan inflasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang stabil. Guncangan positif juga pada inflasi (IN) akan menyebabkan respons positif yang signifikan terhadap tingkat suku bunga (TB) dan konsumsi rumah tangga (KR). Hal ini menunjukkan bahwa inflasi yang tinggi dapat menyebabkan Bank Indonesia menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi, dan juga dapat mendorong konsumsi rumah tangga karena ekspektasi inflasi yang tinggi. Dan guncangan positif pada pertumbuhan ekonomi (PE) akan menyebabkan respons positif yang signifikan terhadap konsumsi rumah tangga (KR). Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang kuat dapat meningkatkan pendapatan rumah tangga dan mendorong konsumsi. Dan yang terakhir guncangan positif pada konsumsi rumah tangga (KR) akan menyebabkan respons positif yang signifikan terhadap inflasi (DIIN). Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan konsumsi rumah tangga dapat meningkatkan permintaan barang dan jasa, yang pada akhirnya dapat mendorong inflasi. Daftar Rujukan Aldiansyah. Inda. , & Rahma. Pengaruh Sukuk . Inflasi . Suku Bunga . Dan Pertumbuhan Ekonomi. , 663Ae676. Bunga. , & Terhadap. No Title. Harga. Dunia. Tangga. , & Pertumbuhan. Jurnal Ilmu Ekonomi ( JIE ). , 262Ae278. Inflasi. Tukar. Bunga. Wisatawan. Wahidin. Khairunnisa. Wulandari. Putra. Inflasi. Tukar. Bunga. Wisatawan. , & Pemerintah. Pengeluaran Pemerintah dan Investasi Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia ? 207(Icemac 2. , 132Ae141. Inflasi. Bunga. , & Tukar. Pengaruh inflasi, tingkat suku bunga, dan nilai tukar terhadap pertumbuhan ekonomi indonesia. Jumlah. Beredar. Indonesia. , & Utami. Determinan Jumlah Uang Beredar. Tingkat Bunga, dan Inflasi terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia. 15, 45Ae64. No Title. 1(Septembe. , 549Ae556. Penelitian. Asia. Ekonomi. Pinjaman. Produk. Regional. Ekonomi. , & Union. 1 Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Widya Dharma Pontianak . Indonesia Abstrak Perkenalan. 2021, 37Ae Rupiah. , & Rumah. Analisis Pengaruh Suku Bunga ,. 2013, 81Ae91. https://doi. org/10. 51386/25815946/ijsms-v3i6p106 Vol. PENGARUH KONSUMSI RUMAH TANGGA. INVESTASI TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI PROVINSI JAMBI Sudirman. Alhudori Fakultas Ekonomi. Universitas Batanghari. , 81Ae91. Wihastuti. PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA: Determinan dan Prospeknya. Jurnal Ekonomi & Studi Pembangunan, 9. , 30660. Aldiansyah. Inda. , & Rahma. Pengaruh Sukuk . Inflasi . Suku Bunga . Dan Pertumbuhan Ekonomi. , 663Ae676. Bunga. , & Terhadap. No Title. Harga. Dunia. Tangga. , & Pertumbuhan. Jurnal Ilmu Ekonomi ( JIE ). , 262Ae278. Inflasi. Tukar. Bunga. Wisatawan. Wahidin. Khairunnisa. Wulandari. Putra. Inflasi. Tukar. Bunga. Wisatawan. , & Pemerintah. Pengeluaran Pemerintah dan Investasi Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia ? 207(Icemac 2. , 132Ae141. Inflasi. Bunga. , & Tukar. Pengaruh inflasi, tingkat suku bunga, dan nilai tukar terhadap pertumbuhan ekonomi indonesia. Jumlah. Beredar. Indonesia. , & Utami. Determinan Jumlah Uang Beredar. Tingkat Bunga, dan Inflasi terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia. 15, 45Ae64. No Title. 1(Septembe. , 549Ae556. Penelitian. Asia. Ekonomi. Pinjaman. Produk. Regional. Ekonomi. , & Union. 1 Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Widya Dharma Pontianak . Indonesia Abstrak Perkenalan. 2021, 37Ae Rupiah. , & Rumah. Analisis Pengaruh Suku Bunga ,. 2013, 81Ae91. https://doi. org/10. 51386/25815946/ijsms-v3i6p106 Vol. PENGARUH KONSUMSI RUMAH TANGGA. INVESTASI TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI PROVINSI JAMBI Sudirman. Alhudori Fakultas Ekonomi. Universitas Batanghari. , 81Ae91. Wihastuti. PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA: Determinan dan Prospeknya. Jurnal Ekonomi & Studi Pembangunan, 9. , 30660. EISSN 2961-9394 Volume Nomor Bulan Tahun Halaman : January-June : 2024 : 63-82