Madinah : Jurnal Studi Islam ISSN : 1978-659X (Printe. ,: 2620-9497 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/madinah Volume 11. Nomor 2. Desember Madinah. JSI by IAI TABAH is licensed under a Creative CommonsAttribution- NonCommercial 4. 0 International License Naskah masuk Diterima Diterbitkan 09-Mei-2024 28 Oktober 2024 10 Desember 2024 DOI : https://doi. org/10. 58518/madinah. DEKONSTRUKSI GELAR HAJI: ANALISIS SOSIOLOGIS TENTANG STRATIFIKASI SOSIAL DAN DAMPAKNYA DI MASYARAKAT Armeta Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung. Indoensia E-mail: metaarmeta12@gmail. Daffa Nasywa Afriani Universitas Pendidikan Indonesia Bandung E-mail: nasywa0525@gmail. Indra Abdul Majid Universitas Pendidikan Indonesia Bandung E-mail: indraabdulmajid89@gmail. Renitadewi Kusumah Wardani. Universitas Pendidikan Indonesia Bandung E-mail: renitadewiw@gmail. Siti Komariah Universitas Pendidikan Indonesia Bandung E-mail: sitikomariah@upi. Pandu Hyangsewu Universitas Pendidikan Indonesia Bandung E-mail: hyangsewu@upi. ABSTRAK: Dalam hal agama ibadah haji merupakan sebuah rasa beriman dan religius kita kepada Allah SWT, melalui kisah sejarah yang panjang istilah penggunaan AuGelar HajiAy ini ternyata Nabi Muhammad SAW tidak menggunakan gelar tersebut. Menjadi suatu kebudayaan bagi masyarakat Indonesia menggunakan atau menyematkan gelar ini bagi seseorang yang telah melaksanakan ibadah haji. Seakan memberikan raung dan posisi tersendiri, ternyata gelar haji ini memicu banyak pandangan atau perspektif yang berbedabeda khususnya pada salah satu wilayah desa dan kota di Jawa barat. Berdasarkan 226 Armeta et. Dekonstruksi gelar haji. Madinah : Jurnal Studi Islam ISSN : 1978-659X (Printe. ,: 2620-9497 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/madinah Volume 11. Nomor 2. Desember uraian tersebut peneliti tertarik ini mengkaji bagaimana pandangan masyarakat terkait pemberian gelar haji kepada seseorang yang telah melaksanakan ibadah haji dengan penelitian jenis pendekatan kualitatif berupa studi pustaka serta menghimpun data pelengkapnya berupa wawancara langsung bersama beberapa informan yang berbeda-beda. Dari hasilnya sendiri terdapat perbedaan pandangan ataupun ketimpangan sosial terkait masyarakat desa menganggap bahwa gelar haji itu penting dan bagi masyarakat kota penggunaan gelar haji tidaklah begitu Namun demikian setelah dikaji lebih dalam, walau penggunaan gelar haji tidaklah wajib digunakan namun gelar ini menjadi sebuah simbol status sosial yang penting, melihat dari lingkungan yang ditempati dan juga niat dari individu tersebut serta bagaimana hal ini menjadi sebuah budaya lokal Kata Kunci: Gelar Haji. Ketimpangan Sosial. Stratifikasi Sosial. ABSTRACT: In terms of religion, the Hajj pilgrimage is a sense of our faith and religion to Allah SWT, through a long historical story of the use of the term "Hajj Title" it turns out that the Prophet Muhammad SAW did not use the title. It has become a culture for Indonesians to use or pin this title for someone who has performed the pilgrimage. As if it gives its own roar and position, it turns out that this Hajj title triggers many different views or perspectives, especially in one of the villages and cities in West Java. Based on this description, the researcher is interested in examining how the community views the awarding of the title of Hajj to someone who has performed the Hajj pilgrimage with a qualitative approach in the form of a literature study and collecting complementary data in the form of direct interviews with several different informants. From the results themselves, there are differences in views or social inequality related to the village community considering that the title of Hajj is important and for the city community the use of the title of Hajj is not so important. However, after a deeper study, although the use of the title Hajj is not mandatory, this title becomes an important symbol of social status, seeing from the environment occupied and also the intention of the individual and how this becomes a local Keywords: Hajj Title. Social Stratification and Social Inequality. PENDAHULUAN Manusia secara kodrat terlahir sebagai makhluk sosial, hal ini disebabkan karena tidak ada makhluk sosial yang mampu untuk hidup sendiri. Kita membutuhkan bantuan baik itu dari manusia maupun makhluk hidup lainnya, dengan demikian di kehidupan sehari-hari kita pasti melakukan interaksi kemudian hal ini ditunjukan sebuah simbol komunikasi atau tanda. Melalui simbol tersebut tidak menutup kemungkinan bahwa manusia merupakan makhluk yang 1 Setiap simbol ataupun status yang dimiliki oleh manusia tercipta dimulai dari ide dan tiap gagasan yang mereka miliki, keberagaman ide tersebut diantaranya seperti agama, kesenian, agama dan nilai-nilai sosial lainnya. 1 Nasruddin. AuInterpretasi Makna Haji Yang Melekat Pada Masyarakat Bugis,Ay Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan 4, no. : 1Ae7. 227 Armeta et. Dekonstruksi gelar haji. Madinah : Jurnal Studi Islam ISSN : 1978-659X (Printe. ,: 2620-9497 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/madinah Volume 11. Nomor 2. Desember Dikarenakan simbol dan status ini begitu melekat di dalam kehidupan manusia, dari tiap simbol ini memiliki makna dan arti salah satunya berada di dalam praktek keagamaan yaitu ibadah haji 2. Indonesia merupakan negara yang hampir mayoritas penduduknya beragama islam, dengan adanya pelaksanaan ibadah haji dari waktu ke waktu lapisan atau stratifikasi sosial dalam masyarakat begitu Dalam hal Agama bahwa ibadah haji merupakan bentuk dari rasa beriman dan religius kita kepada Allah, namun terdapat sebuah sejarah panjang dan menarik terkait penggunaan gelar haji yang begitu eksis di kalangan indonesia, dan yang mengejutkan bahwa Rasulullah sendiri tidak menggunakan AuGelar HajiAy tersebut, akan tetapi pemberian gelar haji untuk masyarakat indonesia bisa memberikan ruang dan posisi tersendiri. Namun, berbeda dengan masyarakat Provinsi Jawa Barat yang memiliki pandangan berbeda-beda terkait tentang gelar haji tersebut. Khususnya pembagian pandangan masyarakat desa di Jawa barat yaitu Desa Kawali dan pandangan masyarakat kota khususnya di Buah Batu terhadap gelar haji. Secara garis besar gelar haji di Jawa Barat ini masih ada berpendapat pro dan kontra. Sebagian masyarakat masih menganggap bahwa gelar haji sebagai modal sosial seseorang yang dianggap tinggi. Bahkan adapun yang menganggap bahwa gelar haji merupakan ajang perlombaan dalam segi kekayaan. Namun, ada juga yang tidak berpendapat sama dengan pernyataan sebelumnya. Indonesia merupakan negara yang terdiri atas masyarakat perdesaan dan perkotaan di dalamnya. Menurut (Zuraidah, 2022 dalam kamus Poerwadarminta . ) desa merupakan Ausekelompok rumah di luar kota yang merupakan kesatuan, kampung . i luar kot. A 2 dusun atau udik . alam arti daerah pedalaman sebagai lawan dari kot. Ay. Desa menurut kamus tersebut merupakan pengertian dalam arti fisik. Istilah desa dalam rembug desa, yang berarti fisik, masyarakat dan Istilah lain yang memiliki pengertian hampir sama adalah Menurut (Chairul et. al, 2018 dalam The Random House Dictionary . ), village merupakan: Aua small community or group of house in a rural area usually smaller than a town and sometimes incorporated as a municipalityAy Pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa masyarakat desa adalah masyarakat kecil dan juga sering disebut dengan komunitas pedesaan. Komunitas pedesaan adalah komunitas yang anggotanya tinggal bersama di suatu lokasi tertentu. Setiap orang merasa menjadi bagian dari kelompoknya. Kehidupannya mencakup hal-hal yang mewakili tanggung jawab bersama, dan setiap orang merasa berkewajiban untuk Norma-norma tertentu seringkali mereka pegang bersama. Ciri - 2 Nasruddin. AuInterpretasi Makna Haji Yang Melekat Pada Masyarakat Bugis. Ay 3 Aldhania Uswatun Hasanah. AuKolonialisasi Gelar Haji: Inisiasi Belanda Waspadai Perlawanan Umat,Ay Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan 17, no. 4 (July 18, 2. : 2712. 4 Ken Izzah Zuraidah. AuStratifikasi Sosial Masyarakat Petani Desa Berdasarkan Kepemilikan Tanah,Ay Pepatudzu : Media Pendidikan dan Sosial Kemasyarakatan 18, no. 1 (May 15, 2. : 95. 228 Armeta et. Dekonstruksi gelar haji. Madinah : Jurnal Studi Islam ISSN : 1978-659X (Printe. ,: 2620-9497 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/madinah Volume 11. Nomor 2. Desember Ciri dari Masyarakat desa adalah sederhana, mudah curiga, menjunjung tinggi, kekeluargaan, perasaan minder, suka gotong royong dan religius 5 Sedangkan, berbanding sangat jauh dengan masyarakat Perkotaan Masyarakat perkotaan sering disamakan dengan masyarakat modern atau maju. Masyarakat perkotaan juga sering disamakan dengan masyarakat perdesaan yang biasa disebut dengan komunitas adat, terutama dari segi budaya. Ciri-ciri masyarakat modern atau maju adalah hubungan antar manusia hampir seluruhnya didasarkan pada pertimbangan kepentingan pribadi, hubungan dengan masyarakat lain bersifat terbuka dan saling mempengaruhi. Mereka meyakini ilmu pengetahuan dan teknologi bermanfaat dalam meningkatkan kualitas hidup. Komunitas perkotaan berbeda karena perbedaan pekerjaan dan keterampilan sebagai fungsi dari pendidikan dan pelatihan tingkat pendidikan masyarakat perkotaan relatif tinggi dibandingkan masyarakat pedesaan. Peraturan dan perundang-undangan yang berlaku pada masyarakat perkotaan menekankan pada peraturan dan undang-undang formal yang bersifat kompleks. Sistem perekonomian yang diterapkan pada masyarakat perkotaan pada umumnya adalah perekonomian pasar yang berdasarkan pada nilai-nilai moneter, persaingan dan nilai-nilai inovatif lainnya. Di antara kedua kelompok tersebut terdapat perbedaan yang signifikan sehingga dua kelompok tersebut memiliki pola pikir yang berbeda dalam memandang suatu hal seperti pandangan dua kelompok tersebut terhadap gelar haji yang disandang. Padahal Indonesia merupakan negara yang mayoritas agamanya muslim. Sebuah kewajiban seorang muslim dalam melaksanakan ibadah haji. Hal ini ditandai dengan adanya 5 rukun islam yang harus dipenuhi oleh seorang muslim. Ibadah haji sendiri merupakan salah satu bagian dari rukun serta tiang agama Islam. Tidak sempurna keislaman seseorang sampai dirinya melaksanakan ibadah haji. Bila seluruh syarat haji sudah terpenuhi pada seseorang, maka seseorang tersebut tidak baik menunda dalam berhaji sebab perintah Allah SWT beserta Rasul (Pribadi, 2. Salah satu ritual keagamaan yang wajib bagi umat islam adalah menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekkah. Dalam buku (Aminah, 2. Kitab Hadits Bukhari dan muslim dari Umar R. bahwa Nabi SAW mengatakan AuIslam dibangun di atas lima pilar, yaitu . Bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah SWT dan bahwa Muhammad SAW adalah utusan Allah, . Tegakkan sholat, . Keluarkan Zakat, . Puasa di bulan Ramadhan, . Melaksanakan Haji ke rumah Allah SWT (Pribadi, 2. Ibadah haji dapat dilakukan asal memenuhi syarat seperti muslim yang baligh, berakal, mampu baik dalam segi materi maupun fisik, memiliki keilmuan, dan kesanggupan beribadah dengan benar. Haji merupakan rukun agama islam yang terakhir dan menjadi salah satu tiang agama di dalam islam. Kebanyakan umat Islam berharap bisa melaksanakan Muhamad Chairul et al. AuPemahaman Untuk Desa,Ay ResearchGate . : 1Ae3, https://doi. org/10. 31219/osf. io/jsx9k. 6 Bela Fitri Wulandari. GELAR HAJI SEBAGAI STRATIFIKASI SOSIAL PADA MASYARAKAT. JISA: Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama Prodi Sosiologi Agama Fakultas Ilmu Sosial UIN SU Medan, vol. 6, 2023. 229 Armeta et. Dekonstruksi gelar haji. Madinah : Jurnal Studi Islam ISSN : 1978-659X (Printe. ,: 2620-9497 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/madinah Volume 11. Nomor 2. Desember ibadah haji dan umrah karena begitu banyak keutamaan yang terkait dengan Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang sudah melaksanakan hajinya pun masih ingin berkesempatan untuk melakukannya kembali lebih dari sekali. Walaupun haji hanya diwajibkan sekali seumur hidup, tidak ada kewajiban untuk Namun, terdapat implikasi bahwa haji dapat dan bahkan dianjurkan untuk dilakukan secara berulang. Namun, esensi dari pengulangannya adalah sebagai amalan sunnah sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi. Indonesia, haji mempunyai peranan yang sangat penting. Terbukti Indonesia merupakan pemasok haji terbesar di seluruh dunia, dengan meningkatnya haji di masyarakat, maka haji cenderung menempati stratifikasi tertentu di masyarakat. Dengan demikian, hal tersebut dapat mengakibatkan terjadinya pergeseran persepsi di masyarakat dalam memandang orang yang berstatus haji. Ada isu baru terkait gelar haji. Artinya, gelar haji . isingkat H. ) secara perlahan dan tanpa disadari oleh masyarakat, dapat membawa perubahan bagi masyarakat lain berupa munculnya kelas-kelas sosial dalam kehidupan masyarakat Meskipun Tuhan menciptakan manusia pada hakikatnya sama, namun realitas sosial menunjukkan bahwa kelompok individu dinilai berbeda-beda berdasarkan keutamaan yang dimilikinya. Keunggulan tersebut berupa kekayaan, kekuasaan, warisan . , dan pendidikan. Pola pengelompokan masyarakat muncul ketika adanya perbedaan penilaian antara satu kelompok dengan kelompok lainnya berdasarkan apa yang dianggap lebih baik. Pola pengelompokan yang ada dalam suatu masyarakat dari waktu ke waktu menimbulkan perbedaan status sosial. setiap orang hidup pada akhirnya memiliki perbedaan status sosial individu dalam masyarakat. Hal ini menimbulkan suatu kelas yang disebut masyarakat dalam terminologi sosiologi atau stratifikasi sosial berbasis kelas. 7 Pada beberapa masyarakat Indonesia saat ini, pemberian gelar haji seringkali dianggap sebagai bentuk penghormatan dan telah menjadi suatu fenomena retradisionalisasi. hal ini dikarenakan dalam menjalankan ibadah haji, individu tersebut harus mampu memenuhi syarat-syarat yang telah Seperti contoh, fenomena yang dijumpai di kehidupan masyarakat Bone di daerah Bugis. pada umumnya, mereka melaksanakan ibadah haji karena didasari oleh adanya rasa kompetitif yang disebut sebagai refleksi budaya siri. Selain itu, tingginya jumlah jemaah haji dapat dipakai untuk mengukur tingkat ketaqwaan dan perekonomian masyarakat. 9 Status sosial individu dalam masyarakat menimbulkan suatu kelas yang disebut masyarakat dalam terminologi sosiologi atau stratifikasi sosial berbasis kelas. Seseorang yang bergelar haji sendiri dalam realitanya akan menempati stratifikasi sosial yang lebih dalam masyarakat, 7 Abdul Rasyad. AuAoHAJIAo ANTARA KEWAJIBAN AGAMA ATAU SEBAGAI MODAL SOSIAL (STUDI PADA MASYARAKAT DESA SURADADI KECAMATAN TERARA),Ay UIN MATARAM . : 1Ae18. 8 Subair. AuSIMBOLISME HAJI ORANG BUGIS: MENGUAK MAKNA IBADAH HAJI BAGI ORANG BUGIS DI BONE. SULAWESI SELATAN,Ay Jurnal Sosial dan Keagamaan 3, no. : 3Ae19. 9 Bela Fitri Wulandari. GELAR HAJI SEBAGAI STRATIFIKASI SOSIAL PADA MASYARAKAT. JISA: Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama Prodi Sosiologi Agama Fakultas Ilmu Sosial UIN SU Medan, vol. 6, 2023. 230 Armeta et. Dekonstruksi gelar haji. Madinah : Jurnal Studi Islam ISSN : 1978-659X (Printe. ,: 2620-9497 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/madinah Volume 11. Nomor 2. Desember dengan kata lain meskipun ibadah ini adalah bagian dari kepercayaan umat beragam islam namun dalam pandangan banyak orang predikat gelar haji melahirkan lapisan status dan penghormatan yang tinggi di masyarakat. Gelar haji sebagai dimensi keberhasilan dan pencapaian mempunyai tempat tertentu atas pemikiran warga terhadap dirinya. Serta, telah berangkat ke tanah suci dan masuk ke dalam kategori orang yang sanggup secara ekonomi. Sedangkan warga yang belum bergelar haji, masuk ke dalam kategori kelas menengah dan menengah kebawah. Tidak heran masyarakat berlomba dalam menunaikan ibadah haji agar memiliki gelar serta status sosial yang lebih tinggi. Berdasarkan uraian tersebut, memicu ketertarikan untuk mengkaji pandangan masyarakat desa dan kota terhadap gelar haji yang diberikan bagi seseorang yang telah melaksanakan ibadah haji. Dengan maraknya fenomena ini, bisa dibilang seseorang yang bergelar haji menempatkan sebuah posisi sosial yang lebih dalam pada masyarakat. Gelar haji berdasarkan gambaran yang dipaparkan ini mempunyai makna yang ganda. Selain berfokus pada makna beribadah tetapi hal ini juga sebagai sarana untuk menaikan status sosial di dalam masyarakat. Atau bisa jadi sebagai sebuah ritual keagamaan yang mungkin dianggap sebagai meningkatkan nilai strata individu yang berada di dalam masyarakat tersebut. Menurut menyatakan bahwa stratifikasi sosial merupakan sebuah pembeda dalam kelas individu ataupun kelompok di suatu masyarakat. Kemudian menempatkan sosok individu ini di tiap posisi kelas yang berbeda-beda dengan disesuaikan antara hak dan kewajiban antar individu di setiap lapisan sosialnya. Selain itu, peneliti terdahulu menganggap bahwa sistem stratifikasi ini membagi tiap individu dan kelompok masyarakat dari kelas tertinggi, sedang, hingga ke Dalam hal ini dapat dikaitkan dengan pandangan oleh salah satu ahli terkenal yaitu Max Weber yang menyatakan bahwa sistem stratifikasi ini bisa menggolongkan tiap masyarakat berdasarkan ekonomi, sosial dan partai politik. Semua manusia yang berada di dunia ini dianggap sebagai makhluk yang sederajat, tetapi kenyataannya tidak demikian. Adanya sebuah pelapisan di setiap individu atau kelompok masyarakat menjadikan terbentuknya sebuah sistem sosial, tetapi begitu sistem stratifikasi sosial ini dengan sengaja dibentuk atas untuk mendapatkan satu tujuan bersama. Menurut (Chozin & Prasetyo, 2. mengungkapkan bahwa masyarakat memiliki suatu kehidupan yang dapat dihargai dan bernilai. Hal tersebut dapat dilihat bagaimana mereka memiliki sebuah kepandaian baik akademik atau nonakademik, banyaknya harta yang dimiliki, kekuasaan, lalu pekerjaan yang dimiliki, 10 Muhammad Khairul Anuar. Nanik Rahmawati, and Rahma Syafitri. AuMakna Gelar Haji Bagi Masyarakat Kelurahan Kasu Kecamatan Belakang Padang Kota Batam,Ay Aufklarung: Jurnal Pendidikan. Sosial dan Humaniora 3, no. : 163Ae168. 11 Wulandari. GELAR HAJI SEBAGAI STRATIFIKASI SOSIAL PADA MASYARAKAT, vol. 6, p. 12 SAHLAN et al. AuStudi Masyarakat Sosial Dalam Persfektif Kelompok Sosial Dan Stratifikasi Sosial,Ay Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia 1, no. : 11Ae18. 13 Sabriani et al. AuFenomena Stratifikasi Sosial Pendidikan Pada Universitas Muhammadiyah Makassar,Ay Jurnal Penelitian dan Penalaran 10, no. : 90Ae103, dalam Magfirah, 2022. 231 Armeta et. Dekonstruksi gelar haji. Madinah : Jurnal Studi Islam ISSN : 1978-659X (Printe. ,: 2620-9497 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/madinah Volume 11. Nomor 2. Desember bahkan dalam ilmu keagamaan pun banyak orang yang mengklasifikasikan kepandaian tersebut. Oleh karena itu dengan kemampuan yang dimiliki oleh tiap individu ini bisa mengarahkan mereka ke dalam suatu kelompok kelas, status ataupun levelnya. Dari sistem stratifikasi sosial dibedakan menjadi 2 pelapisan yaitu tertutup dan terbuka. Stratifikasi sosial tertutup melihat kemampuan masyarakat dari kasta dan perbedaan ras maka sulit untuk individu ini untuk dikenal, dan dapat bergerak baik keatas maupun kebawah. Berbeda dengan sistem pelapisan sosial terbuka, masyarakat diberikan kebebasan untuk meningkatkan atau memperkenalkan kualitas dirinya dengan usaha yang ia miliki. Dengan begitu apabila dalam kondisi beruntung mau dilihat secara langsung dan tidak langsung ia akan dikenal dan dihormati atau disegani, bila tidak maka ia bisa saja jatuh ke dalam lapisan sosial yang rendah atau berada dibawahnya. METODE Metode yang digunakan dalam penelitian ini merupakan jenis kualitatif melalui studi pustaka dan teknik wawancara. Tahapan penelitian dilaksanakan dengan menghimpun sumber kepustakaan, baik primer maupun sekunder. Penelitian ini melakukan klasifikasi data berdasarkan formula penelitian (Darmalaksana, 2. Selain menggunakan sumber kepustakaan, penelitian ini dilengkapi dengan teknik wawancara secara offline dan online, dengan tujuan penelitian kualitatif ini peneliti ingin mengungkapkan makna dari sebuah fenomena dan fakta yang akan dikaji melalui wawancara. Tahap pertama yang dilakukan dalam penelitian ini adalah penentuan lokasi penelitian, teknik yang digunakan, dan informan kunci yang akan di Sumber dalam penelitian ini didukung dengan adanya hasil dari proses wawancara yang dilakukan terhadap informan yang dituju. Informan kunci dalam wawancara yang dilakukan berjumlah 6 orang dengan rentang usia 19 sampai 59 tahun. Data hasil studi pustaka dan hasil studi lapangan ditampilkan sebagai temuan penelitian, diabstraksikan untuk mendapatkan informasi yang utuh, dan diinterpretasi hingga menghasilkan pengetahuan untuk penarikan Informan yang dipakai untuk penelitian ini merupakan sampel dari kedua kelompok masyarakat yakni masyarakat perdesaan dan perkotaan. Sampel kelompok masyarakat pedesaan yang diambil merupakan 3 warga dari Desa Kawali. Kecamatan Ciamis. Kabupaten Jawa Barat. Yang terdiri atas 2 orang remaja dan 1 orang lanjut usia. Sedangkan, sampel kelompok masyarakat perkotaan merupakan 3 warga dari kota Buah Batu. Kota Bandung yang terdiri atas 2 orang remaja dan 1 orang lansia. Untuk sampel yang diambil dari masyarakat desa merupakan individu yang berada pada status ekonomi menengah ke bawah. Abdullah Chozin and Taufan Adi Prasetyo. AuPENDIDIKAN MASYARAKAT DAN STRATIFIKASI SOSIAL DALAM PRESPEKTIF ISLAM,Ay Jurnal MambaAoul AoUlum 17, no. : 62Ae 73, https://doi. org/10. 2188/jea. JE201602160. 15 Miza Nina Adlini et al. AuMETODE PENELITIAN KUALITATIF STUDI PUSTAKA,Ay Jurnal Pendidikan Edumaspul 6, no. : 974Ae980. 232 Armeta et. Dekonstruksi gelar haji. Madinah : Jurnal Studi Islam ISSN : 1978-659X (Printe. ,: 2620-9497 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/madinah Volume 11. Nomor 2. Desember Sementara, sampel yang diambil dari masyarakat kota merupakan individu yang berada pada status menengah ke atas. Instrumen wawancara yang digunakan adalah menyebarkan 4 buah pertanyaan kepada informan yang dilakukan secara daring, melalui via telepon whatsapp. Bentuk pertanyaan yang disebarkan kepada pihak informan yaitu: Apakah menurut anda gelar haji merupakan pembeda dalam masyarakat? Apakah wajib bagi seseorang untuk menyematkan gelar haji pada namanya? Dan apa alasan rasional anda terhadap hal itu? Menurut anda, apakah ada alasan tertentu mengenai keinginan seseorang untuk disematkan gelar haji sebelum namanya? Bagaimana pandangan anda terhadap seseorang yang ingin disematkan gelar haji sebelum namanya? HASIL DAN PEMBAHASAN Status sosial tidak hanya berperan dalam sistem kelas sosial, tetapi juga merupakan perwujudan suatu unsur dalam konsep sosiologi. Dalam kasus sistem sosial, status sosial menjadi bentuk standar sistem hierarki dan mempunyai implikasi penting. Status sosial juga merupakan tempat seseorang dapat bersentuhan dengan orang lain dalam masyarakat, baik dalam hal gengsi, hubungan, maupun lingkungan hak dan tanggung jawab Selain merupakan bentuk rukun islam dan ibadah wajib, haji perlahan-lahan berevolusi menjadi sebuah sistem simbol yang bersifat kompleks. Di kalangan masyarakat, seorang yang telah menunaikan haji akan memperoleh gelar atau penghargaan secara otomatis dari masyarakat. Setelah kehajiannya tersebut, ia dituntut untuk merubah perilakunya sesuai dengan status sosial yang diperolehnya tersebut, serta secara otomatis dianggap masuk ke dalam golongan masyarakat kelas atas. Sistem pelapisan dalam masyarakat dapat bersifat tertutup dan terbuka. sistem tertutup dapat diartikan sebagai pembatas kemungkinan orang berpindah dari satu lapisan ke lapisan lainnya dalam bentuk gerakan ke atas atau ke bawah. Saat ini, fenomena stratifikasi sosial berlangsung dengan cepat dalam masyarakat. Terutama, terdapat bentuk stratifikasi terbuka. Setiap individu memiliki kesempatan untuk menempati berbagai kedudukan dalam masyarakat. Dalam sistem stratifikasi terbuka, semua orang memiliki kesempatan untuk mencapai posisi tertentu sesuai dengan usaha dan kemampuan mereka, dan mereka dapat mengubah kedudukan mereka sesuai dengan keinginan dan usaha mereka. Sebaliknya, dalam sistem stratifikasi tertutup seperti dalam sistem kasta, seseorang terikat pada kedudukan yang ditentukan oleh kelahiran dan keturunan. Misalnya, seseorang yang lahir dalam keluarga brahmana akan terbatas dalam interaksi sosialnya hanya dengan sesama kasta brahmana, dan tidak memiliki kesempatan untuk mencapai kedudukan yang lebih tinggi di luar kastanya. Dalam konteks ini, sistem stratifikasi tertutup seperti sistem kasta menghambat mobilitas sosial dan interaksi antar-kelompok dalam masyarakat 233 Armeta et. Dekonstruksi gelar haji. Madinah : Jurnal Studi Islam ISSN : 1978-659X (Printe. ,: 2620-9497 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/madinah Volume 11. Nomor 2. Desember Seseorang yang bergelar haji, menempati stratifikasi sosial yang lebih di artinya, gelar yang diberikan kepada mereka yang telah kembali dari tanah suci saat menjalankan ibadah haji, mengubah hierarkinya tersendiri di mata dengan kata lain, orang yang telah selesai menunaikan ibadah haji cenderung lebih diistimewakan. Walaupun sebagian dari masyarakat yang telah melaksanakan ibadah haji menganggap gelar haji tidak terlalu penting untuk disematkan pada nama mereka, beberapa di antara mereka merasa AoperluAo menyematkan gelar haji dikarenakan merasa memiliki langkah yang lebih dibanding yang lain. Hal ini disebabkan karena mereka memandang bahwa simbol haji mempunyai banyak manfaat. terutama karena cara memperolehnya yang tidak muda, serta membutuhkan banyak pengorbanan baik dari segi fisik maupun Hasil informan dari wawancara memiliki perbedaan yang lumayan signifikan terhadap gelar haji yang disandang oleh seseorang yang telah pulang dari ibadah haji. Keterangan Masyarakat Perkotaan Informan 1. SR . Tahu. : Menurut informan mengenai gelar haji itu tidak ada pengaruhnya untuk menjadi suatu pembeda dalam status sosial di dalam masyarakat, terlebih lagi beliau merupakan sosok yang sudah pernah berangkat ke tanah suci sebanyak dua kali. Dia merasa sama saja. Tidak ada rasa pembeda status sosial atau lainnya. Menurutnya, status sosial itu bukan dari diri sendiri tapi karena orang lain yang memberikan. Itulah sebabnya mengapa gelar haji itu menjadi sesuatu yang luar biasa dalam pandangan masyarakat. Untuk penyematan gelar haji, menurutnya bukanlah suatu kewajiban. Tetapi mungkin saja penting bagi orang lain yang memang merasa itu penting untuk menyematkan gelar haji. Hal ini bisa dibilang sebagai suatu "penghargaan" bahwa orang tersebut sudah pernah melaksanakan ibadah haji. Pandangannya mengenai orang lain yang menginginkan disematkan gelar hajinya itu bukan suatu masalah karena gelar ini adalah hak seseorang tersebut, mungkin hal ini bisa dilihat dari bagaimana proses menjalani ibadah haji yang tidak gampang, lalu cukup melelahkan dikarenakan perjalanan yang sangat jauh. Namun, haji itu merupakan ibadah wajib bagi yang mampu dan termasuk ke dalam rukun islam. Maka dari situ menurut informan orang yang ingin menggunakan gelar hajinya itu jatuhnya seperti "niat beribadah namun mengejar gelar" akan tetapi tidak masalah karena itu merupakan hak orang tersebut. Informan 2. MC . : status sosial itu bukan suatu keharusan ataupun semata-mata membuat gelar atau status agama. Menurutnya, status sosial itu terbentuk dan tercermin dari sebuah sikap, karakter, maupun kontribusi positif yang dilakukan oleh orang tersebut kepada masyarakat. Gelar haji hanyalah sebuah "kata-kata", bukan sebuah keterangan sifat seseorang yang menjadi suatu pembeda dari yang lain. Menurutnya, penyematan gelar haji pada seseorang itu bukanlah suatu kewajiban, bahkan di dalam agama islam saja tidak ada perintah untuk menggunakan gelar haji. Seharusnya tidak perlu digunakan. Namun, kita kembalikan lagi kepada orang yang sudah menunaikan ibadah haji ingin 234 Armeta et. Dekonstruksi gelar haji. Madinah : Jurnal Studi Islam ISSN : 1978-659X (Printe. ,: 2620-9497 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/madinah Volume 11. Nomor 2. Desember disematkan atau tidak? Menurut informan, penggunaan gelar haji yang dipakai oleh orang lain itu "sah-sah" saja. Hal ini dapat menjadi suatu wujud rasa syukur orang tersebut kepada Allah karena telah diberikan kesempatan untuk menunaikan ibadah haji. Namun demikian penggunaan gelar haji itu rasanya menurut informan hanya dilakukan oleh orang Indonesia saja. Karena informan sendiri merupakan keturunan Pakistan-Belanda. Beliau sempat bertanya dengan salah satu keluarganya yakni bibinya yang memang asli orang Belanda. Menurut keterangan bibinya, disana baik orang yang telah melaksanakan haji tidak ada di namanya terdapat keterangan "Hj. " atau apapun itu. Menurutnya gelar haji itu bagaikan penghargaan dari orang lain untuk seseorang yang sudah melaksanakan haji. Tetapi memang gelar haji tidak perlu untuk disematkan. Informan 3. NN . : Menurutnya, status sosial dari penggunaan gelar haji itu tidak berpengaruh sama sekali. Gelar haji hanya satu kata yang memang bukan kata sifat. Gelar haji tidak menggambarkan apajkah kamu orang baik, shaleh, dan pandai agama. Menurutnya, gelar haji juga bukan suatu kewajiban. berpandangan aneh ketika ada seseorang yang memang ingin digelar haji sebelum Berbeda dengan gelar yang seperti prof, doktor, dokter, dan gelar akademik lainnya. Berbeda dengan gelar ibadah seperti haji. Apabila seseorang ingin digelar haji, maka ia berniat untuk dipandang di depan sosial. Menurutnya, seseorang yang ingin digelar haji, maka ia bukan berniat untuk beribadah. Tapi untuk berusaha terlihat tinggi di kehidupan sosial. Hal ini tentu saja berbalik ke individu itu sendiri. Budaya Indonesia yang memang terbiasa untuk menggelar haji terhadap orang-orang yang telah melaksanakan ibadah haji. Dan apabila ia bertanya kepada orang lain, mengapa terbiasa untuk menggunakan gelar tersebut, kebanyakan dari mereka tidak memiliki alasan untuk hal itu. Keterangan Masyarakat Perdesaan Informan 1. LN . : Haji merupakan pembeda dalam status sosial di Menurutnya, gelar haji tidak wajib untuk disematkan karena gelar merupakan tanda saja. Tidak perlu menunjukkan bahwa ia telah melaksanakan Untuk baik atau buruknya penyematan gelar haji sebenarnya tergantung niat individunya. Adapun beberapa oknum yang memang ingin disematkan gelar haji pada namanya. Adapun memang kebiasaan masyarakat yang memang ingin bermaksud menghargai dan menghormati seseorang yang telah menunaikan ibadah haji. Kemudian haji juga membutuhkan finansial yang tidak sedikit. Tentunya kalau hal ini terjadi di desa, akan menjadi kebanggaan tersendiri karena sudah menunaikan ibadah haji. Namun, beberapa oknum yang terkadang ingin menunjukkan status hajinya supaya lebih dihormati, menimbulkan stratifikasi pada masyarakat. Khususnya masyarakat desa. Informan 2. RP . Tahu. : Haji merupakan faktor pemicu stratifikasi sosial. Menurutnya, gelar haji juga bukan merupakan suatu hal yang wajib. Apabila dibandingkan dengan ibadah yang lain seperti shalat, apakah seseorang wajib diberi gelar shalat? Hal ini dipengaruhi oleh niatnya masing-masing. Apabila niatnya merujuk pada pamer, menunjukkan derajat haji dia, itu jelas salah. Hal ini termasuk kepada riya, adapun orang yang memang ingin merasa dihormati atau 235 Armeta et. Dekonstruksi gelar haji. Madinah : Jurnal Studi Islam ISSN : 1978-659X (Printe. ,: 2620-9497 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/madinah Volume 11. Nomor 2. Desember Memang tidak bisa dipungkiri, haji merupakan ibadah yang tidak mudah, membutuhkan proses di dalamnya. beberapa orang menyebut nama dengan gelar haji mungkin untuk menghargai. Namun dengan adanya gelar haji secara tidak langsung apabila niatnya tidak bagus itu akan timbul stratifikasi sosial. karena merasa dia lebih tinggi dari aspek finansial. Bahkan tak sedikit orang yang merasa lebih tinggi derajat keimanannya. Terkadang beberapa orang ingin menunjukkan gelar haji itu. Adapun orang yang memang tidak apa-apa apabila tidak disebut haji sebelum namanya. Informan 3. R . Tahu. : Haji menunjukan adanya perbedaan kelas ekonomi dalam masyarakat . Menurutnya, gelar haji itu tidak wajib untuk disematkan dalam nama orang yang sudah melaksanakan ibadah haji karena tidak ada dalil atau hadist. pandangan tentang penyematan gelar haji ini di balikin lagi dengan individu nya bertujuan apa. Hasil dari seluruh informan diatas menyatakan perbedaan yang signifikan. Hasil di atas sesuai dengan teori yang dinyatakan oleh Max Weber bahwa perbedaan kelas sosial mengenai pandangan gelar haji dapat perbedaan dari segi ekonomi, lingkungan sosial, dan budaya di masyarakat tersebut sehingga hal ini relevan dengan rumusan masalah. Dalam lingkungan masyarakat, pandangan masyarakat desa mengenai haji, orang yang memiliki status gelar haji memiliki kelas sosial yang lebih tinggi dan cenderung mengakibatkan ketimpangan kelas Selain itu, gelar haji dapat menjadi modal sosial bagi dirinya untuk dihormati di wilayahnya sehingga aktif dalam kegiatan masyarakat atau kelompok. Sedangkan, pandangan masyarakat kota memandang bahwa orang yang memiliki status gelar haji hanyalah sekedar gelar saja. Setiap lingkungan masyarakat senantiasa mempunyai pandangan tertentu terhadap hal penghargaan tertentu dalam masyarakat yang bersangkutan. penghargaan yang lebih tinggi terhadap hal-hal tertentu, akan menempatkan hal tersebut pada kedudukan yang lebih tinggi dari hal-hal lainnya. Selain berfungsi sebagai identitas didalam masyarakat, haji juga berperan sebagai perantara untuk mendapatkan gengsi. Status sosial menjadi faktor paling pertama terkait dengan bergesernya motivasi dalam melaksanakan haji. Seseorang yang dianggap sudah selesai menunaikan ibadah haji maka pandangan masyarakatnya akan menganggap dalam perekonomiannya mampu, sehingga terjadinya peningkatan status sosial. Hal tersebut membuat suatu anggapan bahwa terjadinya pergeseran motivasi haji yang awalnya itu ibadah menjadi sebuah motivasi untuk mendapatkan status sosial yang tinggi. Anggapan ini dibuktikan dengan adanya kebiasaan masyarakat saat melaksanakan acara kenduri atau selamatan untuk memberikan privilege atau keistimewaan bagi mereka yang memiliki gelar haji, misalnya adanya penyediaan kursi khusus dan pemberian berkat yang dibedakan dari masyarakat biasa. 16 Sebagai umat muslim ibadah Haji merupakan sebuah kewajiban bagi umat muslim di seluruh dunia bagi yang mampu. Oleh sebab itu 16 Wulandari. GELAR HAJI SEBAGAI STRATIFIKASI SOSIAL PADA MASYARAKAT, vol. 6, p. 236 Armeta et. Dekonstruksi gelar haji. Madinah : Jurnal Studi Islam ISSN : 1978-659X (Printe. ,: 2620-9497 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/madinah Volume 11. Nomor 2. Desember umat muslim di dunia banyak sekali berharap agar bisa menunaikan ibadah haji dengan bepergian ke tanah suci mekkah. Terkhusus umat muslim di Indonesia menganggap bahwa haji sudah lama mempunyai peran yang penting. hal ini dibuktikan dalam berbagai media yang menyatakan bahwa selama satu setengah abad terakhir, terbukti besarnya minat masyarakat untuk melaksanakan ibadah haji dalam setiap tahunnya. sebagaimana firman allah dalam surah ali-imran ayat 97: A aEa eO aN a aOA a a A aI aI eA AeUE aO aI eI aEA a a A a ac eE a eOA a AA a caAcEaE aEaO EIA a a eO aN O UU a aO IU acICa aI a e aNO aeI io aO aI eI a aEaN aEIa aIIU aO a NA AO a aI eE Ea aIOe aIA a aAcEEA a acaI NA cU aAIA Artinya: AuDan . i antar. kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barangsiapa mengingkari . haji, maka ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya . idak memerlukan sesuat. dari seluruh Ay KESIMPULAN Gelar haji menjadi fenomena yang kompleks dalam masyarakat dan telah menjadi pemicu stratifikasi sosial pada masyarakat Indonesia, terutama di kalangan masyarakat desa dan kota. Masyarakat desa dan kota memiliki perbedaan yang signifikan dari berbagai aspek dalam kehidupan sosial. Hal ini menimbulkan pandangan dan pemahaman yang berbeda terhadap suatu hal. Salah satunya yaitu gelar haji yang didapatkan oleh masyarakat. Meskipun dalam agama Islam, gelar haji tidak diwajibkan, tetapi penggunaannya telah menjadi simbol status sosial yang penting. Hal ini dipengaruhi oleh lingkungan yang ditempati oleh individu Dalam masyarakat perkotaan, gelar haji cenderung tidak dianggap sebagai pembeda status sosial. Sementara di masyarakat desa, penggunaannya dapat menjadi pemicu stratifikasi sosial. Terlepas dari hal ini, penggunaan gelar haji masih sangat dipengaruhi oleh niat individu dan budaya lokal. Oleh karena itu, penting untuk memahami kompleksitas makna sosial dan agama yang terkait dengan gelar haji dalam konteks masyarakat Indonesia. BIBLIOGRAFI Abdul Rasyad. AuAoHAJIAo ANTARA KEWAJIBAN AGAMA ATAU SEBAGAI MODAL SOSIAL (STUDI PADA MASYARAKAT DESA SURADADI KECAMATAN TERARA). Ay UIN MATARAM . : 1Ae18. Chairul. Muhamad. Basrun Umanailo. Idrus Hentihu. Mohammad Faisal Sangadji, and Nurhaya Yusuf. AuPemahaman Untuk Desa. Ay ResearchGate . : 1Ae3. https://doi. org/10. 31219/osf. io/jsx9k. 237 Armeta et. Dekonstruksi gelar haji. Madinah : Jurnal Studi Islam ISSN : 1978-659X (Printe. ,: 2620-9497 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/madinah Volume 11. Nomor 2. Desember Chozin. Abdullah, and Taufan Adi Prasetyo. AuPENDIDIKAN MASYARAKAT DAN STRATIFIKASI SOSIAL DALAM PRESPEKTIF ISLAM. Ay Jurnal MambaAoul AoUlum 17, no. : 62Ae73. https://doi. org/10. 2188/jea. JE201602160. Hasanah. Aldhania Uswatun. AuKolonialisasi Gelar Haji: Inisiasi Belanda Waspadai Perlawanan Umat. Ay Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan 17, 4 (July 18, 2. : 2712. Muhammad Khairul Anuar. Nanik Rahmawati, and Rahma Syafitri. AuMakna Gelar Haji Bagi Masyarakat Kelurahan Kasu Kecamatan Belakang Padang Kota Batam. Ay Aufklarung: Jurnal Pendidikan. Sosial dan Humaniora 3, no. : 163Ae Nasruddin. AuInterpretasi Makna Haji Yang Melekat Pada Masyarakat Bugis. Ay Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan 4, no. : 1Ae7. Nina Adlini. Miza. Anisya Hanifa Dinda. Sarah Yulinda. Octavia Chotimah, and Sauda Julia Merliyana. AuMETODE PENELITIAN KUALITATIF STUDI PUSTAKA.