854 JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Mei 2025 Sosialisasi Kesehatan Mental pada Pemuda AM GPM Petra Ranting Siloam di Kota Ambon Vernando Yanry Lameky1. Mevi Lilipory2. Nenny Parinussa3. Syulce Luselya Tubalawony4. Grace Jeny Wakanno5 Program Studi Keperawatan. Fakultas Kesehatan. Universitas Kristen Indonesia Maluku. Indonesia E-mail: vernandoyanrylameky@gmail. Article History: Received: 17 April 2025 Revised: 01 Mei 2025 Accepted: 06 Mei 2025 Keywords: kesehatan mental, pemuda, evidence-based practice Abstract: Kesehatan mental merupakan aspek esensial dalam perkembangan pemuda, terutama di tengah dinamika sosial dan psikologis yang Kegiatan sosialisasi ini dilaksanakan oleh Angkatan Muda GPM Petra Ranting Siloam sebagai upaya peningkatan literasi kesehatan mental melalui pendekatan edukatif dan partisipatif. Tujuan kegiatan adalah untuk meningkatkan pemahaman peserta terkait konsep kesehatan mental, faktor risiko, tanda gangguan, serta pendekatan penanganan berbasis bukti. Metode pelaksanaan mencakup pre-test, penyampaian materi melalui media PowerPoint interaktif, diskusi kelompok, serta simulasi teknik intervensi seperti deep breathing, healing touch, dan penggunaan holding cross. Evaluasi dilakukan melalui post-test untuk mengukur efektivitas kegiatan. Hasil pre-test menunjukkan hanya 5% peserta berada pada kategori pemahaman baik, sementara 95% lainnya kurang. Namun, setelah intervensi edukatif, terjadi peningkatan signifikan: 85% peserta mencapai kategori baik dan hanya 15% yang masih kurang. Hasil ini pembelajaran berbasis konteks dan interaktif, serta mendukung teori Health Belief Model dan Self-Care Deficit dalam memahami perubahan perilaku Selain itu, penggunaan media visual PowerPoint dan keterlibatan aktif peserta memperlambat kurva lupa . orgetting curv. , memperkuat retensi informasi, serta menumbuhkan kesadaran kolektif mengenai pentingnya kesehatan mental di kalangan pemuda gerejawi. PENDAHULUAN Kesehatan mental merupakan aspek penting dalam kehidupan seseorang, yang mencakup kesejahteraan emosional, psikologis, dan sosial. Pada masa remaja dan awal dewasa, individu mengalami berbagai perubahan signifikan yang memengaruhi cara mereka berpikir, merasakan, a. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Mei 2025 dan berperilaku (Diego, 2. Masa ini juga menjadi periode krusial dalam pembentukan identitas, penyesuaian sosial, serta pengambilan keputusan penting dalam hidup. Karena itu, perhatian terhadap kesehatan mental pemuda menjadi suatu keharusan agar mereka mampu berkembang secara optimal dan menjalani hidup yang produktif (Barimbing et al. , 2. Kondisi kesehatan mental yang buruk dapat menyebabkan berbagai permasalahan seperti depresi, kecemasan, gangguan tidur, hingga keinginan menyakiti diri sendiri atau bahkan bunuh Data dari Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Ambon menunjukkan bahwa pada tahun 2023 tercatat sebanyak 9. 637 pasien dengan gangguan jiwa menjalani pengobatan (Arfah et al. Di sisi lain, beberapa kasus bunuh diri yang terjadi di kalangan pemuda di wilayah Maluku, seperti di Batu Meja Ambon dan Ohoiluk Maluku Tenggara, menjadi bukti bahwa persoalan kesehatan mental tidak dapat diabaikan dan perlu mendapatkan respons cepat serta preventif dari berbagai pihak. Pemuda yang mengalami gangguan mental sering kali tidak menyadari kondisi yang mereka alami, atau bahkan enggan mencari bantuan karena adanya stigma dan kurangnya literasi kesehatan mental. Ketidaktahuan ini menyebabkan banyak remaja menghadapi tekanan hidup sendirian tanpa dukungan yang memadai, sehingga risiko dampak buruk semakin tinggi. sinilah peran penting edukasi dan intervensi dini melalui kegiatan sosialisasi, baik dalam lingkungan pendidikan, keluarga, maupun komunitas keagamaan. Sebagai komunitas gerejawi yang peduli terhadap masa depan generasi muda. Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AM GPM) Petra Ranting Siloam mengambil bagian dalam upaya edukasi kesehatan mental. Kegiatan ini menjadi bentuk nyata pelayanan yang tidak hanya bersifat rohani, tetapi juga menyentuh aspek psikososial dan kesejahteraan emosional anggota jemaat, khususnya pemuda. Pendekatan spiritual yang dipadukan dengan edukasi ilmiah diharapkan dapat membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya kesehatan mental. Sosialisasi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada para pemuda mengenai konsep kesehatan mental, faktor-faktor yang mempengaruhinya, serta cara mengenali tanda-tanda gangguan mental yang umum terjadi di usia muda (Farika et al. , 2. Selain itu, peserta juga diperkenalkan dengan berbagai metode terapi dan pendekatan penanganan yang berbasis bukti . vidence-based practic. , termasuk terapi psikologis, medis, dan komplementer seperti deep breathing exercises (Toussaint et al. , 2. , healing touch therapy (Lameky et al. , 2. , guided imagery (Lewis-Croswell, 2. , holding cross (Liu et al. , 2. Melalui kegiatan pengabdian masyarakat ini, diharapkan pemuda AM GPM Petra tidak hanya menjadi lebih peka terhadap isu kesehatan mental, tetapi juga memiliki keberanian untuk membuka diri, saling mendukung, serta mengakses layanan profesional bila dibutuhkan. Kegiatan ini menjadi langkah awal membangun komunitas yang peduli dan responsif terhadap kesejahteraan mental anggotanya, sebagai bagian integral dari misi gereja dalam memulihkan dan memberdayakan umat. METODE Kegiatan ini diselenggarakan pada tanggal 10 April 2025 dalam rangkaian Kebaktian Pemuda AM GPM Petra Ranting Siloam. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif dan edukatif, dengan penyampaian materi dilakukan melalui presentasi visual berbasis PowerPoint yang interaktif dan dirancang sesuai dengan tingkat pemahaman peserta (Lameky & Nugroho, 2. Jumlah peserta yang hadir sebanyak 20 orang, terdiri dari pemuda-pemudi a. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Mei 2025 berusia 19 hingga 30 tahun. Sebelum sesi penyampaian materi dimulai, dilakukan pengukuran pengetahuan awal . re-tes. menggunakan google forms untuk menilai tingkat pemahaman peserta mengenai topik kesehatan mental. Pre-test ini menjadi dasar evaluasi efektivitas kegiatan edukatif yang dilakukan. Materi yang disampaikan disusun secara sistematis berdasarkan kajian ilmiah terkini dan praktik berbasis bukti . vidence-based practic. Pokok bahasan mencakup: definisi kesehatan mental, faktor-faktor risiko internal dan eksternal, tanda-tanda gangguan mental, jenis gangguan umum yang sering dialami pemuda, pendekatan terapi . sikologis, medis, komplemente. , strategi pencegahan, serta praktik pemulihan yang dapat diakses secara sederhana di komunitas. Setelah sesi penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi terbuka dan tanya jawab, serta pembagian kelompok kecil untuk melakukan simulasi praktik evidence-based. Setiap kelompok diberikan panduan untuk mempraktikkan teknik seperti deep breathing exercises . atihan pernapasan dala. , healing touch therapy . erapi sentuha. , guided imagery . isualisasi terpand. , dan penggunaan holding cross sebagai media refleksi dan penguatan spiritual. Peserta diberi ruang untuk berbagi pengalaman pribadi, mengutarakan pendapat, serta mengajukan pertanyaan yang relevan dengan kondisi yang mereka hadapi sehari-hari. Diskusi