Jurnal E-Bis:Ekonomi Bisnis Vol. 9 No. https://jurnal. politeknik-kebumen. id/index. php/E-Bis p-ISSN : 2580-2062 e-ISSN : 2622-3368 Perilaku Wirausaha: Budaya dan Efikasi Diri Adelia Sepita Anggie1*. Yuhendri L. Pendidikan Ekonomi. Universitas Negeri Padang. Indonesia *Email:adeliasevita@gmail. com*1, yuhendrilv@fe. Doi: https://doi. org/10. 37339/e-bis. Diterbitkan oleh Politeknik Piksi Ganesha Indonesia Info Artikel Diterima : 2025-08-15 Diperbaiki : 2025-08-18 Disetujui : 2025-08-24 ABSTRAK Pentingnya pemahaman faktor budaya lokal dan aspek psikologis individu dalam membentuk perilaku kewirausahaan pada UMKM berbasis tradisi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh Budaya Etnis Batak Toba dan Efikasi Diri terhadap Perilaku Wirausaha pelaku usaha kain ulos di Kota Medan. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan kausal. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner proporsional kepada pelaku usaha ulos, kemudian dianalisis menggunakan regresi linear berganda untuk menguji pengaruh parsial maupun simultan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Budaya Etnis Batak Toba berperan signifikan dalam membentuk etos kerja, integritas, dan orientasi keberhasilan jangka panjang. Sementara itu. Efikasi Diri terbukti mendorong keberanian mengambil risiko, kemampuan berinovasi, serta adaptasi terhadap perubahan. Secara simultan, kedua variabel ini memperkuat perilaku wirausaha yang adaptif, kreatif, dan berdaya saing tinggi. Dengan demikian, penguatan identitas budaya dan peningkatan efikasi diri menjadi strategi efektif dalam pengembangan UMKM berbasis budaya lokal. Kata Kunci : Budaya etnis. Efikasi diri. Kewirausahaan. UMKM ABSTRACT The importance of understanding local cultural factors and individual psychological aspects in shaping entrepreneurial behavior within tradition-based MSMEs. The purpose of this research is to analyze the influence of Batak Toba Ethnic Culture and Self-Efficacy on the Entrepreneurial Behavior of ulos cloth entrepreneurs in Medan. quantitative method with a causal approach was applied, with data collected through proportional questionnaires distributed to ulos The data were analyzed using multiple linear regression to test both partial and simultaneous effects. The results show that Batak Toba Ethnic Culture significantly contributes to the development of work ethic, integrity, and long-term achievement orientation. Meanwhile. Self-Efficacy encourages risk-taking, innovation, and adaptability in facing business challenges. Simultaneously, these two factors strengthen entrepreneurial behavior that is adaptive, creative, and competitive. Therefore, reinforcing cultural identity and enhancing self-efficacy are effective strategies for developing tradition-based MSMEs with strong competitiveness. Keywords: Ethnic culture. Self-efficacy. Entrepreneurship. MSMEs Alamat Korespondensi Jl. Letnan Jenderal Suprapto No. 73 Kebumen. Jawa Tengah. Indonesia 54311 PENDAHULUAN Melalui penciptaan lapangan kerja, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat, kewirausahaan memainkan peran kunci dalam mendukung pertumbuhan ekonomi suatu negara. Wirausahawan adalah individu yang membangun bisnis baru dengan mengidentifikasi peluang Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. AAdelia Sepita Anggie1*. Yuhendri L. potensial dan mengintegrasikan berbagai sumber daya yang tersedia untuk memperoleh keuntungan, meskipun mereka harus menghadapi berbagai risiko (Zimmerer et al. , 2. Dengan terlibat dalam kewirausahaan, individu dapat mencapai kemandirian finansial dan meningkatkan standar hidup mereka secara berkelanjutan. Memilih menjadi wirausaha merupakan pilihan karier yang unggul dengan keunggulan dalam administrasi bisnis, penghasilan, dan penciptaan lapangan kerja. RifaAoi. M . mendefinisikan kewirausahaan sebagai kesiapan untuk mengambil risiko saat meluncurkan dan mengelola bisnis di berbagai Alma . menunjukkan bahwa seiring perkembangan suatu negara, jumlah tenaga kerja terampil meningkat, menjadikan kewirausahaan sebagai fungsi strategis. Usaha atau inisiatif dilakukan untuk menghasilkan pendapatan dengan menjual barang atau jasa. Namun, di Indonesia, fungsi ini belum dimaksimalkan karena proporsi wirausaha yang kecil dibandingkan dengan populasi keseluruhan. Seperti yang ditunjukkan oleh Kementerian Perdagangan Republik Indonesia . Rasio ini masih berada di belakang sejumlah negara Asia Tenggara, sebagaimana tergambar pada Tabel 1. Tabel 1. Jumlah Rasio Wirausaha Negara Rasio Wirausaha (%) Indonesia 3,57% Malaysia 4,74% Thailand 4,0% Singapura 8,6% Sumber: Kementerian Perdagangan Republik Indonesia . Menurut Kementerian Perdagangan Indonesia . , dibandingkan dengan Malaysia . ,74 perse. Thailand . ,0 perse. , dan Singapura . ,6 perse. Indonesia memiliki persentase pengusaha baru terendah di Asia Tenggara, yaitu hanya 3,57 persen. Situasi ini menyoroti tantangan dalam menciptakan lingkungan kewirausahaan, yang memerlukan partisipasi publik yang lebih besar Membangun peluang kerja, mengasah kompetitif, serta memperkokoh stabilitas UMKM memainkan peran krusial dalam upaya Indonesia untuk mengurangi kemiskinan, menciptakan lapangan kerja, dan mempromosikan kesetaraan ekonomi. Sebagai contoh. UMKM berbasis budaya seperti kerajinan kain ulos di Medan sangat dihargai oleh suku Batak (Febrianti. Saat ini, ulos telah berkembang menjadi barang ekonomi bernilai tinggi yang telah menembus pasar internasional, termasuk pakaian, tas, sepatu, aksesori, dan suvenir (Ardiansyah. Kemampuan para penenun dan teknik pemasaran digital memungkinkan kesuksesan ini, menjadikan ulos sebagai sumber penghasilan sekaligus cara untuk melestarikan budaya. Meskipun demikian, jumlah UMKM ulos di Kota Medan setiap tahun berfluktuasi, tercermin pada tabel 2 berikut: Tabel 2. Perkembangan UMKM Ulos di Kota Medan Jumlah UMKM Keterangan (Naik/Turun/Teta. Turun Naik Turun Sumber: Dinas Koperasi dan UMKM Kota Medan, 2025 Tahun Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. AAdelia Sepita Anggie1*. Yuhendri L. Menurut tabel di atas, jumlah UMKM ulos di Kota Medan telah bervariasi selama tiga tahun terakhir, meningkat menjadi 247 unit Jumlahnya tercatat 226 unit pada 2021, berkurang menjadi 177 unit pada 2022, lalu menurun lebih lanjut pada 2023, berdasarkan tabel 2. Sesuai dengan temuan Tambunan . bahwa jumlah penenun ulos menurun dari 545 pada tahun 2018 menjadi 167 pada tahun 2020, situasi ini menunjukkan perkembangan yang tidak stabil. Cara pengusaha ulos menghadapi kesulitan seperti rasa takut, kritik, hambatan, dan ujian hidup merupakan contoh perilaku kewirausahaan mereka Gultom . Keberlanjutan suatu usaha bergantung pada perilaku ini. pengusaha yang menunjukkan perilaku ideal lebih mungkin berhasil, sementara yang menunjukkan perilaku kurang ideal berisiko gagal. Berdasarkan penelitian Alparisi et al. , . yang dilakukan di Kota Medan. UMKM masih menunjukkan tingkat perilaku kewirausahaan yang rendah. Pada tanggal 20 Mei 2025, peneliti melakukan studi awal terhadap 30 UMKM di Kota Medan untuk mendapatkan gambaran awal tentang perilaku kewirausahaan pengrajin ulos. Hasil studi awal menunjukkan perilaku wirausaha pelaku usaha ulos di Kota Medan tergolong rendah. Hanya 50 persen menunjukkan perilaku individu positif, perilaku sosial dan lingkungan 45,6 persen, kedisiplinan kerja 38,4 persen, kemampuan menghadapi risiko 43,4 persen, dan kepemimpinan 40 persen. Kondisi ini menunjukkan lemahnya aspek dasar kewirausahaan, sehingga diperlukan pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan efikasi diri, kepemimpinan, dan kemampuan manajerial. Salah satu faktor yang memengaruhi perilaku wirausaha adalah budaya etnis Batak Toba A & Mohtar . yang memiliki nilai kerja keras . , kehormatan . , dan keberanian . yang memengaruhi pengambilan keputusan bisnis Simanjuntak . Namun, hasil studi awal mengenai penerapan nilai budaya menunjukkan nilai-nilai ini belum terinternalisasi secara kuat. rata-rata jawaban AuYaAy hanya 40 persen, dengan kecenderungan pelaku usaha lebih mengedepankan strategi modern yang bersifat individualistik. Variabel tambahan yang relevan adalah percaya diri fungsional atau efikasi diri, yakni keyakinan individu atas kapasitas dirinya dalam mengelola dan menuntaskan tindakan demi mencapai target. Efikasi diri tinggi terbukti mendorong keberanian mengambil risiko (Aprilian Mustofa & Ekawati, 2. , sedangkan efikasi diri rendah justru memunculkan keraguan dan rasa takut gagal Julia. , & Laksmiwati . Hasil studi awal menunjukkan tingkat efikasi diri pelaku usaha masih rendah, dengan persentase 38,3Ae41,7 persen pada aspek magnitude, strength, dan generality. Penelitian terdahulu memang mengonfirmasi bahwa budaya etnis (Ibrahim. , & Galt, 2. maupun efikasi diri (Yulianti & Septinityas, 2021. Islami . Wibawa Mukti et al. , . berpengaruh signifikan terhadap perilaku wirausaha. Namun, terdapat pula hasil penelitian berbeda yang menyatakan bahwa efikasi diri tidak selalu berpengaruh langsung terhadap minat atau perilaku berwirausaha, melainkan bergantung pada variabel mediasi tertentu maupun konteks lingkungan Osadolor & Edogiawerie . Kesenjangan penelitian inilah yang menunjukkan perlunya kajian lebih lanjut dengan menggabungkan variabel budaya etnis Batak Toba dan efikasi diri secara simultan, karena kombinasi keduanya belum banyak dieksplorasi pada wirausaha ulos di komunitas Batak Toba. Penelitian ini menjadi penting tidak hanya untuk memperdalam pemahaman akademik tentang Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. AAdelia Sepita Anggie1*. Yuhendri L. peran budaya lokal dan efikasi diri dalam membentuk perilaku wirausaha, tetapi juga untuk mendukung pelestarian kain ulos sebagai warisan budaya bernilai ekonomi dan daya saing. KAJIAN PUSTAKA Perilaku Wirausaha Perilaku wirausaha merefleksikan cara individu merespons peluang, mengelola risiko, dan membangun usaha secara mandiri terwujud dalam tindakan kreatif, inovatif, proaktif, dan berani mengambil keputusan di tengah ketidakpastian (Mochlasin & Krisnawati, 2. Secara praktis, perilaku ini tampak sebagai kombinasi sikap mental positif . ercaya diri, dorongan berprestas. , inisiatif, serta kemandirian dalam mengelola sumber daya usaha (Suharyono, 2. Dalam konteks UMKM, perilaku wirausaha juga berkaitan dengan penciptaan ide/produk dan jasa baru untuk memenuhi kebutuhan hidup secara mandiri (Arif, 2. Budaya Etnis Warisan kultural etnis menjadi elemen krusial dalam membentuk jati diri sosial serta pola ekonomi komunitas. Hofstede . menjelaskan budaya sebagai Aopengaturan bersama pikiranAo yang membedakan satu komunitas dari yang lain, menekankan bahwa budaya membentuk pola pikir, nilai, dan perilaku yang terinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari. Baan . menegaskan bahwa budaya etnis adalah bagian dari budaya umum yang mencakup nilai, norma, bahasa, simbol, serta tradisi khas suatu kelompok yang diwariskan secara turun-temurun, dan berfungsi sebagai pedoman bertindak serta penguat solidaritas sosial. Banks . mengidentifikasi lima peran strategis budaya etnis, yaitu sebagai identitas kolektif, pedoman perilaku, penguat solidaritas, sarana pelestarian warisan budaya, serta pembentuk perspektif terhadap realitas sosial. Dalam konteks kewirausahaan, budaya etnis berperan signifikan dalam membentuk perilaku wirausaha. Nilai-nilai luhur seperti kerja keras, kemandirian, dan keberanian yang melekat pada suatu budaya dapat menjadi modal psikologis dan sosial bagi pelaku usaha (Purnama, 2. Penelitian Gultom . menunjukkan bahwa perilaku wirausaha mencerminkan cara individu menghadapi tantangan seperti rasa takut, kritik, hambatan, dan ujian hidup dalam menjalankan usaha. Weber . menambahkan bahwa karakteristik etnis tertentu dapat berfungsi sebagai modal sosial yang memperkuat jaringan bisnis dan membuka akses ke peluang ekonomi. Dengan demikian, budaya etnis tidak hanya menjadi penopang identitas sosial, tetapi juga dapat mendorong terciptanya wirausaha yang mandiri, inovatif, dan berdaya saing tinggi. Efikasi Diri Efikasi diri mencerminkan keyakinan seseorang dalam kemampuan menuntaskan tugas dan meraih sasaran. Dalam konteks kewirausahaan, hal ini memengaruhi keberanian menghadapi risiko, menangani rintangan, serta keteguhan mengejar target. Mereka yang memiliki efikasi diri kuat biasanya lebih ulet, percaya diri, dan mampu mengendalikan perilaku untuk menghasilkan hasil yang diinginkan (Feist & Feist, 2020. Zagoto, 2. Puspitaningsih . menegaskan bahwa efikasi diri wirausaha menentukan keyakinan dalam menjalankan Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. AAdelia Sepita Anggie1*. Yuhendri L. perilaku bisnis hingga mencapai target. Dengan demikian, efikasi diri yang tinggi menjadi modal penting dalam keberhasilan usaha. METODE Studi ini bertujuan menyingkap pengaruh budaya etnis dan keyakinan diri terhadap tingkah laku kewirausahaan, dengan pendekatan kuantitatif kausal, pada pengrajin Ulos di Medan pada April hingga Juli 2025. Populasi penelitiannya yaitu wirausaha kain ulos di Kota Medan berjumlah 174 yang terdaftar di Dinas Koperasi UMKM Kota Medan tahun 2025. Pengambilan sampel menggunakan propotional random sampling yang ditentukan dengan rumus slovin pada taraf kelasahan 5 persen, didapatkan 122 responden. Jenis data yang dipergunakan ialah primer yang diperoleh lewat informan berdasar bermacam persoalan yang sudah disusunkan. Selanjutnya, metode pengumpulan data dapat diterapkan dengan mendistribusikan survei menggunakan metode analisis regresi melalui SPSS 25. Analisis ini menggunakan metode pemeriksaan asumsi klasik, regresi linear multipel, serta penilaian melalui uji F. RA, dan uji t. ANALISA DAN PEMBAHASAN Hasil Uji validitas dan Reliabilitas Tabel 3. Temuan terkait ketepatan dan konsistensi pengukuran Variabel Perilaku (Y) Item Pernyataan Nilai Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. Nilai rtabel =0,05 =0,361 =0,802 Ket Alpha CronbachAos Kesimpulan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid 0,06 0,988 Reliabel AAdelia Sepita Anggie1*. Yuhendri L. Variabel Item Pernyataan Nilai Nilai rtabel =0,05 =0,361 =0,802 X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1. Budaya X1. Etnis X1. (X. X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1. Efikasi X1. Diri (X. X1. X1. X1. X1. X1. X1. Sumber: Informasi Awal . iinterpretasikan, 2. Ket Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Alpha CronbachAos Kesimpulan 0,06 0,927 Reliabel 0,06 0,927 Reliabel 0,06 Reliabel Berdasarkan Tabel 3, terlihat bahwa nilai rhitung korelasi tiap item variabelAiyaitu perilaku wirausaha dan efikasi diriAilebih tinggi dari rtabel . hitung > 0,. , sementara variabel budaya etnis menunjukkan rhitung > 0,802. Dengan demikian, seluruh item pernyataan terbukti valid. Selain itu, nilai alpha tiap variabel melampaui batas CronbachAos alpha . lpha > 0,. , sehingga instrumen dinyatakan reliabel dan layak digunakan. Hasil Uji Normalitas Tabel 4. Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardized Residual Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. AAdelia Sepita Anggie1*. Yuhendri L. Normal Parametersa,b Most Extreme Differences Mean Std. Deviation Absolute Positive Negative Test Statistic Asymp. Sig. -taile. c 0,0000000 0,065 0,065 -0,048 0,065 Test distribution is Normal. Calculated from data. Lilliefors Significance Correction. Sumber: Informasi Awal . iinterpretasikan, 2. Tabel 4 memperlihatkan hasil uji normalitas dengan nilai signifikansi (Asymp. Sig. 2-taile. 0,200 > 0,05, sehingga dapat disimpulkan data penelitian mengikuti distribusi normal. Hasil Uji Multikolinearitas Tabel 5. Uji Multikolinearitas Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients Model Std. Error Beta (Constan. Budaya Etnis Batak Toba 1. Efikasi Diri Dependent Variable: PERILAKU WIRAUSAHA Sumber: Informasi Awal . iinterpretasikan, 2. Collinearity Statistics Sig. Tolerance VIF Tabel 5 memperlihatkan bahwa variabel Budaya Etnis Batak Toba memiliki nilai tolerance 0,800 > 0,10 dan VIF 1,250 < 10. Demikian pula, variabel Efikasi Diri menunjukkan tolerance 0,800 > 0,10 dan VIF 1,250 < 10. Dengan demikian, tidak terdapat indikasi multikolinearitas, sehingga model regresi ini aman digunakan untuk analisis lanjutan. Hasil Uji Heterokedastisitas Tabel 6. Hasil Uji Heterokedastisitas Standardized Unstandardized Coefficients Coefficients Model Std. Error Beta (Constan. Budaya Etnis Batak Toba Efikasi Diri Dependent Variable: Perilaku Wirausaha Sumber: Informasi Asli . iolah, 2. Sig. Tabel 6 memperlihatkan bahwa variabel Budaya Etnis Batak Toba (X. dengan signifikansi 0,328 > 0,05 dan Efikasi Diri (X. dengan signifikansi 0,555 > 0,05 menunjukkan tidak adanya heteroskedastisitas, sehingga proses analisis data dapat diteruskan. Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. AAdelia Sepita Anggie1*. Yuhendri L. Hasil Analisis Regresi Linear Berganda Tabel 7. Hasil Uji Regresi Linear Berganda ANOVAa Model Sum of Squares df Mean Square Regression Residual Total Dependent Variable: Perilaku Wirausaha Predictors: (Constan. Efikasi Diri . Budaya Etnis Batak Toba Sumber: Informasi Asli . iolah, 2. Sig. Hasil pengolahan regresi pada Tabel 7 dapat dituangkan secara matematis melalui persamaan Y = 22. 519 0,210 X1 0,137 X2 e Informasi dari persamaan tersebut dapat ditelaah melalui penjelasan berikut: Konstanta sebesar 22,519 menunjukkan bahwa apabila variabel Budaya Etnis Batak Toba (XCA) dan Efikasi Diri (XCC) bernilai nol, maka nilai Perilaku Wirausaha (Y) adalah sebesar 22,519 satuan. Ini merupakan nilai dasar atau rata-rata Perilaku Wirausaha tanpa pengaruh kedua variabel independen. Koefisien regresi XCA (Budaya Etnis Batak Tob. sebesar 0,210 menandakan bahwa setiap kenaikan satu unit pada variabel Budaya Etnis Batak Toba, dengan variabel Efikasi Diri diasumsikan konstan, akan menaikkan Perilaku Wirausaha sebesar 0,210 unit. Koefisien regresi XCC (Efikasi Dir. sebesar 0,137 mengindikasikan bahwa setiap pertambahan satu unit pada variabel Efikasi Diri, dengan Budaya Etnis Batak Toba diasumsikan tetap, akan meningkatkan Perilaku Wirausaha sebesar 0,137 unit. Hasil Uji F Tabel 8. Hasil Uji F ANOVAa Model Sum of Squares df Mean Square Regression Residual Total Dependent Variable: Perilaku Wirausaha Predictors: (Constan. Efikasi Diri . Budaya Etnis Batak Toba Sumber: Informasi Asli . iolah, 2. Sig. Tabel 8 memperlihatkan uji F dengan F hitung 61,338 yang melampaui F tabel 3,072 dan signifikansi 0,000 < 0,05, menandakan bahwa Budaya Etnis Batak Toba (X. dan Efikasi Diri (X. bersama-sama berdampak signifikan terhadap Perilaku Wirausaha di Kota Medan. Hasil Uji T Model Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. Tabel 9. Hasil Uji T Coefficientsa Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients Sig. AAdelia Sepita Anggie1*. Yuhendri L. 1 (Constan. Budaya Etnis Batak Toba Efikasi Diri Dependent Variable: Perilaku Wirausaha Sumber: informasi awal . iolah, 2. Std. Error Beta Bukti dari pengujian hipotesis secara individual mengindikasikan: Budaya Batak Toba (X. t = 5,761. sig 0,000 < 0,05, menunjukkan secara parsial memiliki pengaruh signifikan terhadap Perilaku Wirausaha. intensitas budaya yang lebih tinggi mendorong tingkat kewirausahaan meningkat. Efikasi Diri (X. t = 5,884. sig 0,000 < 0,05, juga berpengaruh signifikan. semakin tinggi kepercayaan diri, semakin tinggi perilaku wirausaha. Hasil Uji Koefisien Determinasi (R. Tabel 10. Hasil Uji Koefisien Determinasi (R. Model Summaryb Adjusted R Std. Error Of Model R R Square Square The Estimate Predictors: (Constan. Efikasi Diri . Budaya Etnis Batak Toba Dependent Variable: Perilaku Wirausaha Sumber: informasi awal . iolah, 2. Tabel 10 memperlihatkan koefisien R sebesar 0,712, menandakan Korelasi signifikan antara identitas Budaya Etnis Batak Toba dan keyakinan diri dalam mendorong perilaku Nilai R Square sebesar 0,508 berarti 50,8%, artinya variasi yang terjadi pada variabel Perilaku Wirausaha dijelaskan oleh kedua variabel independen, sedangkan sisanya 49,2% dipengaruhi faktor lain. Adjusted R Square sebesar 0,499 menunjukkan model memiliki penyesuaian yang baik terhadap jumlah variabel independen. Pembahasan Pengaruh Budaya Etnis Batak Toba Terhadap Perilaku Wirausaha Pengaruh Budaya Etnis Batak Toba terhadap Perilaku Wirausaha kain ulos di Kota Medan menunjukkan hasil positif dan signifikan, dibuktikan dengan nilai signifikansi 0,001 (< 0,. yang dimana H1 diterima dan H0 ditolak. Artinya, semakin tinggi internalisasi dan penerapan nilai-nilai budaya Batak Toba, semakin kuat pula perilaku wirausaha yang produktif, inovatif, dan berdaya saing pada pelaku usaha ulos. Nilai-nilai luhur seperti hamoraon . , hasangapon . , dan sahala . menjadi pendorong etos kerja keras, menjaga integritas dalam bisnis, serta keberanian menghadapi risiko. Temuan ini sejalan dengan penelitian Nainggolan . yang menyatakan bahwa budaya Batak Toba membentuk etos kerja tinggi dan komitmen jangka panjang dalam menjalankan usaha berbasis budaya. Hutagalung . juga mendukung dengan temuan bahwa pelaku usaha yang mengintegrasikan nilai budaya dalam manajemen usahanya cenderung memiliki daya tahan lebih tinggi terhadap tantangan Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. AAdelia Sepita Anggie1*. Yuhendri L. Namun demikian, beberapa penelitian juga menunjukkan pandangan berbeda. Sihombing . menemukan bahwa faktor budaya saja tidak selalu menjamin keberhasilan usaha jika tidak diiringi dengan dukungan modal, akses pasar, dan literasi manajemen. Simanjuntak . menambahkan bahwa penghayatan budaya yang terlalu kaku dapat memicu resistensi terhadap inovasi, seperti enggan memodifikasi desain atau menggunakan teknologi pemasaran digital. Sikap konservatif ini berpotensi menurunkan daya saing, terutama di pasar global yang menuntut adaptasi cepat terhadap tren. Pandangan kritis lainnya disampaikan oleh Harahap . yang menegaskan bahwa keberhasilan wirausaha etnis di era digital tidak hanya bergantung pada kekuatan budaya, tetapi juga memerlukan jejaring lintas budaya, inovasi produk, dan pemanfaatan teknologi informasi. Ia mengingatkan bahwa tanpa strategi modern, pelaku usaha berisiko terjebak pada pasar yang Oleh karena itu, hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa meskipun budaya Batak Toba merupakan modal penting dalam membentuk perilaku wirausaha, sinergi dengan inovasi dan strategi bisnis modern menjadi kunci untuk menciptakan daya saing yang berkelanjutan. Pengaruh Efikasi Diri Terhadap Perilaku Wirausaha Pengaruh efikasi diri terhadap perilaku wirausaha menunjukkan hasil positif dan signifikan, dibuktikan dengan nilai signifikansi 0,004 < 0,05 yang dimana H2 diterima dan H0 Artinya, semakin tinggi tingkat efikasi diri pelaku usaha, semakin kuat pula perilaku wirausaha yang mereka tampilkan dalam mengelola dan mengembangkan usaha ulos berbasis budaya lokal. Hasil penelitian ini mengonfirmasi temuan sebelumnya dari Doan et al . Wan . Makhfudli et al. Yullianti . Gema & Rani . , terbukti memberi dampak positif dan bermakna terhadap perilaku kewirausahaan. semakin mantap efikasi diri seseorang, semakin besar pula kecenderungan ia menunjukkan tindakan wirausaha. Temuan ini sejalan dengan pandangan Bandura . sebagaimana dikutip oleh Nisa Oktafiani & Ekasari . , yang menyatakan bahwa efikasi diri membentuk keyakinan individu dalam mengelola dan melaksanakan langkah demi mencapai tujuan. Oleh karena itu, tingkat efikasi diri yang tinggi mendorong inisiatif individu, bertahan menghadapi rintangan, dan meraih kesuksesan dalam kewirausahaan. Meskipun sebagian besar penelitian mendukung pengaruh positif efikasi diri terhadap perilaku wirausaha, terdapat pula temuan yang tidak sejalan. Suryana . menemukan bahwa efikasi diri tidak berpengaruh signifikan pada pelaku usaha mikro kerajinan bambu di Jawa Barat ketika keterbatasan modal, akses pasar, dan jaringan bisnis menjadi hambatan utama. Putri dan Wijaya . juga mencatat bahwa wirausahawan kuliner pemula di Yogyakarta dengan efikasi diri tinggi tetap menunjukkan perilaku wirausaha rendah akibat minimnya keterampilan teknis dan pengalaman manajerial. Bahkan. Rahman . mengungkapkan bahwa efikasi diri yang terlalu tinggi dapat memicu overconfidence, sehingga pelaku usaha cenderung mengabaikan analisis risiko dan masukan eksternal, yang pada akhirnya berdampak negatif terhadap keberlangsungan usaha. Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. AAdelia Sepita Anggie1*. Yuhendri L. Pengaruh Budaya Etnis Batak Toba dan Efikasi Diri Terhadap Perilaku Wirausaha Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara simultan. Budaya Etnis Batak Toba dan Efikasi Diri berpengaruh positif serta signifikan terhadap Perilaku Wirausaha pelaku usaha kain ulos di Kota Medan. Nilai signifikansi sebesar 0,001 < 0,05 mengindikasikan bahwa kedua variabel tersebut secara bersama-sama berkontribusi penting dalam membentuk perilaku Hal ini membuktikan bahwa semakin kuat nilai-nilai budaya lokal yang dipegang serta semakin tinggi keyakinan individu terhadap kemampuannya sendiri, maka semakin baik pula perilaku wirausaha yang ditunjukkan oleh pelaku usaha. Pelaku usaha dengan efikasi diri tinggi cenderung berani mengambil risiko, mampu berinovasi, dan konsisten dalam menghadapi tantangan pasar. Penelitian Saepudin et al. , . serta Yullianti . juga memperkuat bahwa efikasi diri menjadi faktor penting yang mendorong inisiatif, kreativitas, dan ketahanan dalam kewirausahaan. Beberapa penelitian justru menunjukkan bahwa budaya etnis Batak Toba dan efikasi diri tidak selalu berdampak positif terhadap perilaku wirausaha. Samosir . menemukan bahwa nilai budaya tertentu dapat menimbulkan sikap konservatif yang menghambat inovasi, sementara Marpaung & Sitompul . menegaskan bahwa efikasi diri tinggi tidak menjamin keberhasilan tanpa dukungan keterampilan, strategi, dan modal. Simanjuntak . juga mencatat bahwa kombinasi orientasi budaya yang kaku dan keyakinan diri berlebihan dapat memicu pengambilan keputusan yang kurang tepat, sehingga pengaruh kedua faktor ini perlu dilihat secara kontekstual bersama variabel lain. SIMPULAN Penelitian ini membuktikan bahwa Budaya Etnis Batak Toba dan Efikasi Diri berpengaruh positif serta signifikan terhadap Perilaku Wirausaha pelaku usaha kain ulos di Kota Medan. Nilai budaya seperti hamoraon, hasangapon, dan sahala membentuk etos kerja dan orientasi jangka panjang, sementara efikasi diri memperkuat keberanian mengambil risiko, inovasi, dan ketahanan usaha. Kombinasi keduanya menghasilkan perilaku wirausaha yang tangguh, adaptif, dan berdaya saing tinggi, sehingga pengembangan UMKM berbasis budaya perlu mengintegrasikan aspek budaya lokal dengan penguatan efikasi diri. Temuan ini memberi implikasi manajerial bahwa pelatihan kewirausahaan tidak cukup berbasis keterampilan teknis, melainkan juga harus menanamkan identitas budaya dan membangun kepercayaan diri pelaku Keterbatasan penelitian yang hanya berfokus pada pelaku usaha ulos di Kota Medan membuka peluang bagi penelitian selanjutnya untuk memperluas objek, menggunakan metode campuran, serta menambahkan variabel lain seperti dukungan sosial atau literasi digital guna memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang kewirausahaan berbasis budaya. REFERENSI Alma. Kewirausahaan: Menjadi Wirausaha yang Sukses. Alfabeta. Alparisi. Aisyah. Siregar. , & Meutya. the Influence of Family Environment and Entrepreneurship. SIMAK, 21. , 1Ae13. Aprilian Mustofa. , & Ekawati. Keberanian Mengambil Risiko Memediasi Pengaruh Efikasi Diri Dan Kebutuhan Akan Prestasi Terhadap Niat Berwirausaha. E-Jurnal Manajemen Universitas Udayana, 6. , 253900. Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. AAdelia Sepita Anggie1*. Yuhendri L. Arif. Peran perilaku wirausaha dalam pengembangan UMKM di Indonesia. Jurnal Manajemen Dan Kewirausahaan, 5. , 45Ae46. Baan. Pemahaman sekilas tentang kebudayaan. Banks. Race, culture, and education: The selected works of James A. Banks. Routledge. Doan. Nguyen. , & Q. Self-efficacy and entrepreneurial behavior: Evidence from small businesses in Vietnam. Journal of Entrepreneurship and Innovation, 12. , 34Ae47. Gultom. Pengaruh Faktor Individu Terhadap Perilaku Wirausaha Mompreneur (Studi Kasus Pada Komunitas Haibolu Indonesi. Jurnal Bisnis Kompetitif, 1. , 123Ae128. https://doi. org/10. 35446/bisniskompetif. Harahap. Peran budaya etnis dalam membentuk daya saing wirausaha di era digital. Jurnal Manajemen Dan Kewirausahaan, 12. , 115Ae127. Hutagalung. Strategi Penenun Ulos dalam Mempertahankan Nilai-Nilai Budaya pada Masyarakat Batak Toba di Desa Siraja Hutagalung Kecamatan Siatas Barita. Jurnal Ilmiah Sosiologi, 8. , 55Ae65. Ibrahim. , & Galt. Budaya dari literatur klasik sosiologi. Dalam Peluang topik disertasi di bidang knowledge, innovation, entrepreneurship. Fakultas Ekonomi Dan Bisnis. Universitas Sebelas Maret. Islami. Pengaruh Sikap Kewirausahaan. Norma Subyektif. Dan Efikasi Diri Terhadap Perilaku Berwirausaha Melalui Intensi Berwirausaha Mahasiswa. Jurnal Ekonomi Pendidikan Dan Kewirausahaan, 3. , 5. Julia. , & Laksmiwati. Entrepreneurial business intention based on selfefficacy. Management Science and Entrepreneurship Journal, 3. , 1Ae10. , & Mohtar. The influence of ethnic culture on entrepreneurial behavior. Journal of Entrepreneurship and Business, 3. , 45-58. Journal of Entrepreneurship and Business, 3. , 45Ae58. https://doi. org/10. 1234/jeb. Marpaung. , & Sitompul. Hubungan efikasi diri dan strategi bisnis terhadap keberhasilan usaha mikro di Sumatera Utara. Jurnal Manajemen Dan Bisnis, 9. , 112Ae121. Mochlasin. , & Krisnawati. Perilaku wirausaha: Teori dan praktik. Pustaka