P-ISSN 1412-0380 E-ISSN 2615-272X PRABANGKARA Jurnal Seni Rupa dan Desain Volume 23 Nomor 2. Desember 2019 p 90 - 99 Tema Cerita Tantri Pada Lukisan Kaca Anak-anak Di Komunitas Batu Belah Art Space Di Desa Lepang. Klungkung Sri Supriyatini Jurusan seni Rupa Murni. FSRD. ISI Denpasar srisupriyatini58@gmail. Tujuan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk mengenalkan kembali cerita lokal Bali yang mengandung pendidikan moral sebagai tema lukisan pada benda-benda pakai seperti gelas, piring, mangkuk yang nantinya dapat sebagai benda cinderamata, serta dapat bersinergi membangun industri kreatif pada komunitas ini, yang diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja. Cerita dipilih adalah AuPedanda Baka serta Kura-kura dan AngsaAy yang mengandung nilai pendidikan etika dan moral, yaitu nilai kejujuran, toleransi, kerja keras dan gotong royong. Nilai ini diperlukan masyarakan terutama generasi muda sebagai tonggak identitas bangsa. Komunitas lukis kaca Batubelah Art Space berdiri sejak tahun 2007 atas prakarsa seniman I Wayan Sujana AuSukluAy. Anggota komunitas ini terdiri dari anak-anak usia 8- 18 tahun. Komunitas ini mempunyai spesifikasi produk memanfaatkan kaca limbah, seperti bekas pintu, jendela, lampu kapal, genteng kaca sebagai media melukis. Permasalahan yang dihadapi dari anggota komunitas ini setelah dewasa mereka tidak melukis lagi, tetapi mereka bekerja atau kuliah di luar bidang seni, alasannya karena tidak dapat mengandalkan nafkah dari menjual lukisan kaca. Sejak berdirinya sampai sekarang komunitas Batubelah telah berpameran sebanyak 7 kali di beberapa galeri ternama Bali. Penemuan permasalahan itu, maka perlu diadakan pembinaan lewat program Pengabdian Masyarakat dengan memasukan tema cerita Tantri. Kata kunci: lukisan kaca, tantri, komunitas batubelah The purpose of community service is to reintroduce local Balinese stories that contain moral education through the paintings on disposable items such as glass, plates, bowls which can later be as souvenir items. It can also build creative industries in this community, which are expected to create more jobs. The selected story is AuPedanda Baka and Tortoise and GeeseAy which contain the values of AUAU ethical and moral education, namely the value of honesty, tolerance, hard work and mutual cooperation. This value is needed by the community, especially the younger generation as a milestone for national identity. The Batubelah glass painting community was founded in 2007 on the initiative of artist I Wayan Sujana AuSukluAy. Members of this community consist of children aged 8-18 years. This community has product specifications by utilizing glasswaste, such as used doors, windows, ship lights, glass tiles as a medium for painting. The problems faced by members of this community is they do not paint anymore when they grew up. They work or study outside the field of art. The reason behind it is that they cannot rely on their living from selling glass paintings. Since its establishment until now the Batubelah community has exhibited 7 times in several famous Balinese galleries. Discoveryof the problem, it is necessary to provide guidance through the Community Service program with the theme, the Tantri story. Keywords: glass painting, tantri, batubelah community Proses review : 2 - 30 september 2019, dinyatakan lolos 25 oktober 2019 Volume 23. Nomor 2. Desember 2019 PENDAHULUAN Artikel ini berangkat dari ketertarikan penulis untuk meneliti tentang anak-anak yang mempunyai ketertarikan melukis di atas media kaca. Diantara ramai dan hiruk-pikuknya permainan anak-anak masa kini yang lebih tertarik bermain dengan gaged atau alat elektronik lainnya, ternyata masih ada sekelompok anak-anak yang mengembangkan bakat artistiknya dengan bermain warna, garis, bentuk di atas kaca, bukan di atas kertas, kanvas, atau media lukis konvensional lainnya. Ketertarikan serta keunkan dari komunitas lukis kaca anak-anak ini menggerakkan penulis untuk mengadakan penelitian yang akhirnya lolos dalam program mengabdian kepada masyarakat program PKM yang didanai oleh DRPM Kemenristek Dikti tahun 2019 dengan judul AuPenerapan Managemen Pemasaran dan Tema Cerita Tantri Pada Komunitas Lukis Kaca Batubelah. Di Dusun Lepang. Kecamatan Banjarangkan. Kabupaten KlungkungAy. Kebudayaan Bali memiliki daya tarik estetik yang berbeda dengan daerah lain di Indonesia, karena tradisi kesenian yang ditopang oleh adat istiadat dan budaya yang menyatu dengan kehidupan masyarakatnya. Tentu saja ini sebagai aset kegiatan budaya termasuk di dalamnya seni rupa, sekaligus sebagai potensi kreatif yang terbuka dan dapat dikembangkan oleh seniman-seniman muda dalam aktivitas seninya, misalnya seni lukis, patung, maupun kerajinan. Begitu juga yang terjadi pada anak-anak di desa Lepang, sebagai generasi penerus yang membangun desanya dengan daya cipta kreatifnya yang dimiliki sejak dini melalui lukis kaca. Keberadaan seni lukis kaca di Indonesia termasuk di Bali saat ini cenderung terpinggirkan, kurang mendapat apresiasi luas bila dibanding dengan seni rupa lainnya. Kebanyakan masyarakat kurang menghargai lukisan kaca ini karena dianggap sebagai sebuah gambar atau kerajinan kuno peninggalan tradisi masa lampau, dengan bentuk dan tema yang dianggap kurang modern, yang akhirnya kurang diminati. Komunitas lukis kaca Batubelah Art Space salah satunya, terletak di dusun Lepang Kangin, desa Takmung, kecamatan Banjarangkan. Kabupaten Klungkung. Komunitas lukis kaca Batubelah Art Space berdiri tahun 2007, diprakarsai oleh perupa I Wayan Sujana yang lebih dikenal dengan nama kesenimannya Suklu, dengan tujuan mewadahi anakanak dan masyarakat di sekitar dusun Lepang yang memiliki ketertarikan di bidang seni rupa. Suklu mengumpulkan anak-anak untuk belajar melukis di studionya dengan memberi kebebasan dalam memilih berbagai macam media, seperti kertas, kanvas, dengan pensil, carcoal, cat akrilik. Dalam proses PRABANGKARA Jurnal Seni Rupa dan Desain pembelajaran. Sujana memberi modul cara menggambar wayang, manusia, membuat sketsa, setiap hari Sabtu dan Minggu. Sejak berdirinya 12 tahun yang lalu sampai sekarang, kelompok ini telah 7 kali mengadakan pameran di galeri-galeri terkenal Bali. Sampai saat ini komunitas Batubelah Art space mempunyai anggota aktif 15 orang anak, terdiri 10 orang perempuan dan 5 orang laki-laki, sedangan apabila akan ada kegiatan pameran anggotanya dapat bertambah lebih banyak. Umur anggota yang termuda 8 tahun dan yang tertua 18 tahun. Jenis produk yang dihasilkan dari komunitas ini adalah lukisan kaca yang memanfaatkan bahan limbah kaca seperti pintu, jendela, peralatan rumah tangga, lampu bekas, botol bekas, geteng kaca, dan limbah kaca lainnya. Pemanfaatan limbah kaca ini selain sebagai bentuk kebebasan dalam memakai media, sekaligus sebagai sarana pelestarian lingkungan. Dari bahan limbah yang dipandang orang tidak ada gunanya lagi, hanya sebagai sampah, tetapi oleh komunitas ini dijadikan seni yang bernilai tinggi. Penekanan kebebasan berekspresi dalam berkarya yang dikedepankan, akhirnya sering menimbulkan permasalahan-permasalahan bagi pelukis anak-anak yang beranjak dewasa, semakin bertambah usianya, mereka mulai perpikir kritis tentang masa depannya dalam berkesenian, sehingga timbul pertanyaan-pertanyaan untuk apa karya itu diciptakan. Pada akhirnya setelah dewasa mereka memilih bekerja yang cepat menghasilkan uang, seperti sebagai pegawai swasta, satpam, karyawan di kapal pesiar, maupun mahasiswa yang kuliah di bidang non-seni. Hal ini menjadi permasalahan dalam keberlanjutan seni lukis kaca di komunitas ini. Seni tidak sebatas berekspresi dengan keindahan dan estetika semata, tetapi ada tujuan dan kegunaan yang lain, salah satunya dapat digunakan sebagai hiasan interior rumah, sebagai penunjang keberlangsungan hidup seseorang, sarana mencari nafkah dan menghidupkan perekonomian keluarga, sampai untuk pendidikan moral bagi masyarakat. Berangkat permasalahan di atas, maka dalam program Pengabdian kepada Masyarakat ini diajukan usulan untuk membina dan memberi solusi, bahwa seni lukis kaca dapat dijadikan benda seni yang mempunyai nilai jual, misalnya sebagai hiasan interior, souvenir khas Bali, sebagai sarana pendidikan moral bagi generasi muda, dan dapat mendukung program yang dicanangkan pemerintah tentang industri kreatif. Budaya Bali mempunya warisan cerita Tantri yang bernilai luhur, dipilih sebagai tema pada lukisan kaca, sekaligus sebagai sarana pendidikan moral bagi anak-anak dan masyarakat luas, bahwa Tantri sebagai salah satu bentuk kearifan budaya lokal Sri Supriyatini (Tema Cerita Tantri. dan media pendidikan moral. Cerita Tantri sangat perlu dibangkitkan kembali mengingat fenomena kehidupan sosial saat ini ditandai dengan globalisasi dan kemajuan teknologi komunikasi yang sangat pesat, menjadikan dunia tanpa batas, keterbukaan tanpa sekat, sehingga peristiwa yang terjadi pada masyarakat dunia saat ini dengan mudah diketahui, seperti maraknya pelanggaran hukum, lunturnya nilai etika dan moral yang melanda bangsa kita, seperti korupsi, penyebaran berita bohong atau hoax, fitnah, etos kerja menurun, kenakalan remaja, persekusi serta melupakan ajaran moral yang telah diajarkan oleh nenek moyang kita beberapa abad yang lampau. Permasalahan yang kedua adalah minimnya pengetahuan untuk memasarkan hasil produk secara maksimal, sehingga hasil produksi kurang diminati dan dikenal masyarakat luas, karena cara memasarkan belum mengenal secara online lewat media sosial yang sedang marak saat ini. Berdasarkan hasil diskusi dengan kedua mitra yaitu ketua komunitas lukis kaca Wayan Sujana Suklu dan direktur CV AuBatubelahAy Ni Nyoman Sartini, maka permasalahan yang dihadapi terbagi menjadi dua aspek yaitu aspek tematik dalam karya seni lukis kaca, manajemen produksi serta pemasaran. Dengan demikian permasalahan tentng seni lukis kaca anakanak perlu diteliti lebih dalam lagi. TINJAUAN TENTANG SENI LUKIS KACA Gambar kaca atau glass painting adalah lukisan di atas kaca, secara teknik pengerjaan berbeda dengan teknik melukis biasa yang menggunakan kertas atau Teknik melukis kaca berbanding terbalik yaitu saat mengoleskan warna di atas kaca dikerjakan dari arah belakang, sehingga dalam proses pengerjaannya perlu kehati-hatian, serius, dan terkadang cemas bila warna tidak sesuai yang diharapkan. Seni lukis kaca berkembangan dari abad ke-12, biasanya diterapkan untuk menghiasi jendela-jendela katedral-katedral besar seperti katedral Chartres. Amien, dan Rheims di Paris dan sebagian negara di Eropa. Pada perkembangan berikutnya penerapan gambar kaca berubah menjadi stained glass atau gambar kaca patri dengan bingkai lempengan timah, menurut Janson . the miraculous effect of stained glass windows, with their Aucontinuous lightAy efek khas dari lukisan kaca terletak saat terkena sinar matahari yang menimbulkan warna-warna indah dan menakjubkan. Di Indonesia, konon seni lukis kaca sudah ada sejak abad ke-19, tetapi bukan karya orang Indonesia melainkan karya pelukis Eropa. China dan Jepang, yang dibawa oleh pedagang Eropa maupun China Volume 23. Nomor 2. Desember 2019 Gambar 1. Hasil lukis kaca komunitas Batubelah Art Space, memanfaatkan limbah kaca bekas ke Indonesia. Lukisan-lukisan itu terpasang pada rumah loji orang Belanda dan para hartawan China, biasanya dilukis secara realis, dengan objek manusia (Hermanu, 2017:4-. , sekitar tahun 1930-an di Jawa bekembang lukisan kaca dengan tema legenda rakyat, wayang, maupun objek binatang mitologi dalam ajaran Islam. Puncak kejayaan gambar kaca antara tahun 1950 sampai 1970-an, lukisan ini sebagai hiasan interior dan bagian dari arsitektur bangunan rumah adat Jawa. Seiring modernisasi yang melanda masyarakat perkotaan hingga pedesaan di Jawa, rumah Limasan dan Joglo diganti dengan rumah tembok yang tidak memerlukan lagi hiasan lukisan kaca. Di Bali, orang lebih mengenal asal sentra lukisan kaca dari desa Nagasepaha Buleleng, yang dipelopori oleh Jro Dalang Diah . , dengan tema wayang Bali yang menjadi ciri khasnya, fungsinya sebagai hiasan rumah maupun tempat suci masyarakat Bali. Keahlian yang bersifat otodidak dari Jro dalang Diah tersebut diwariskan turun temurun kepada anak cucu dan tetangganya, antara lain dikembangkan oleh salah satu cucunya. I Ketut Santosa hingga sekarang, sehingga menjadi komunitas lukis kaca dari desa Nagasepaha Buleleng. Desa Takmung mempunyai potensi kerajinan seni ukir, seni lukis, uang kepeng, membuat jajanan Bali dan pertanian, objek wisata pantai Sedayu dan Lepang, yang sering digunakan untuk pagelaran seni tingkat nasional maupun internasional, hal itu menjadi salah satu modal artistik dari anak-anak desa Lepang untuk menyalurkan hasrat seninya lewat kelompok lukis kaca Batubelah Art Space. Komunitas ini aktif mengadakan pelatihan setiap hari Sabtu dan Minggu, mereka telah mengadakan pameran selama 7 kali yaitu di Pura Silapegat Lepang. Art Center Denpasar. Monumen Klungkung. Gaya Fushion Galleri. Bentara Budaya Bali, dan terakhir April 2019 yang lalu di Balinese Master. Aesthetic DNATrajectories of Balinese Visual Art, di Nusa Dua Bali. Pameran Balinese Master merupakan ajang bergengsi dari seniman dan kelompok berdarah Bali, yang mempresentasikan hasil karya seni patung, lukis, instalasi, gambar, yang mengeksplorasi seni dan estetika dengan nilai-nilai budaya dan kepercayaan Bali. Jika ditinjau dari undangan-undangan pameran yang telah dilaksanakan selama ini, ternyata dapat memotivasi Volume 23. Nomor 2. Desember 2019 anak-anak utuk tetap menggeluti dunia lukis kaca, karena lewat ajang pameran, selain menjadi dikenal di masyarakat juga dapat sebagi ajang menjual karya seni yang pada akhirnya dapat sebagai tambahan Meskipun budaya Bali mendukung akan lahirnya kreativitas dari para seniman, tetapi kreatifitas tetap tidak dapat tumbuh dan berkembang bila tidak ada Aupribadi-pribadi kreatifAy, yaitu pribadi dan tindakannya mampu memproduksi ide baru dan inovasi-inovasi (Piliang, 2018:. , hal ini tampak pada pribadi Wayan Sujana Suklu dalam memotivasi dan mendorong kreativitas anak-anak di desanya untuk berolah seni. Menurut Ketua pengelola Bentara Budaya Bali Warih Wisatsana . AuMemang sejak tahun 2007. Komunitas Batubelah di bawah binaan seniman Sujana Suklu melakukan berbagai aktivitas transfer of knowlwge, mendorong anan-anak sekitar desa Lepang. Klungkung untuk mengembangkan minat dan bakatnya. Generasi seni lukis kaca Batubelah boleh dikata berbeda titik berangkatnya dengan para pendahulunya dari Nagasepaha. Buleleng. Mereka melihat medium kaca dengan keleluasan ekspresi dan ciri warna lepas bebas, mencerminkan imajinasi yang tidak terkungkung. Karena kebebasan ekspresi yang dikedepankan. Suklu memberi kebebasan pada anak-anak desa untuk melakukan aktivitas kreatif, sekaligus juga sebagai alih generasi bagi seni lukis kaca . awancara penulis dengan Wayan Sujana Suklu, di Stusio Batubelah, 15 Oktober 2. Tema-tema yang diangkat oleh anak-anak di komunitas ini adalah tentang kehidupan sehari-hari di lingkugannya, seperti pergi ke Pura, ke pasar, alam, dan binatang. CERITA TANTRI DI BALI Melihat potensi yang dipunyai anak-anak komunitas seni lukis kaca Batubelah, penulis merasa tertarik untuk memperkenalkan kembali cerita Tantri dalam bentuk cerita binatang . yang telah dilupakan oleh sebagian generasi muda di Bali. Tantri awalnya dalam bentuk seni sastra, diterjemhkan oleh para seniman Bali menjadi bentuk seni rupa, seni tari, drama tradisional, kidung yang sering mengiringi saat upacara ritual agama Hindu. Visualisasi dari dongeng itu dapat ditemui pada relief bangunan pura, istana, seni patung, lukisan, wayang, dan prasi atau ilustrasi tradisional yang menggunakan media daun lontar. Lebih dari delapanpuluh tahun yang lalu. Hooykaas seorang penulis Belanda mempromosikan cerita Tantri yang berasal dari Jawa ke Eropa, seperti ditegaskan oleh Marijke J. Klokke . sebagai berikut. PRABANGKARA Jurnal Seni Rupa dan Desain In 1929. Hooykaas defended his thesis Tantri, de Middel-Javaansche Pancatantra-bewerking at the University of Leiden. In that study he inventoried all surviving Indonesia Pancatantra version that were know at that time. He focused his research on three texts called Middle Javanese version. These are prose texts colled Tantri Kmandaka and two metrical adaptations known as Kidung Tantri Demung and Kidung Tantri Kadiri. He also explored their relationships to India. Thai, and Laotian Pancatantra Keberadaan cerita Tantri di Bali telah diteliti sebelumnya oleh Hooykas, . alam Marijke J. Klokke, 1993:. AuSculpture and paintings are for instance found at Pura Taman Ayun. Pura Sada in Kapal, the Kertagosa in Klungkung, and a Bale kulkul at Pura Penataran Santi Buana in Mataram LombokAy . 3: . Artinya sebelum tahun 1929, cerita Tantri telah dimaknai oleh para seniman Bali, dari teks naskah sastra ke dalam karya seni rupa, baik dalam bentuk relief, patung dan lukisan. Dongeng Tantri sampai sekarang masih dapat dilihat dari peninggalan lukisan yang terdapat di bangunan kuno Kerta Gosa yang terletak di kompleks peninggalan kerajaan Klungkung, didirikan oleh raja Klungkung pertama. Dewa Agung Jambe pada abad Dipilihnya fabel, karena fabel dikenal oleh masyarakat di seluruh dunia, baik bangsa yang sudah maju maupun yang baru berkembang, di belahan bumi Barat maupun Timur. Kepopuleran fabel disebabkan kandungan nilai yang penuh dengan ajaran moral, mendidik manusia ke arah kebaikan perilaku dan kesempurnaan akal budi, kearifan budaya lokal, serta kepercayan terhadap agama. Dengan demikian fabel bersifat universal, mengandung pesan moral, sebagai gambaran sifat manusia di dunia, yang dapat melampaui sekat-sekat waktu, suku bangsa, ras dan Negara. Fenomena kehidupan sosial dan politik yang berkembang semakin marak dengan berita yang beraneka Dari meningkatnya berita berita di media sosial, media cetak yang sangat mudah untuk diakses oleh siapapun, mempercepat tersebarnya berita berita termasuk di dalamnya berita yang dinilai negatis, seperti korupsi, penganiayaan, unsur SARA, fitnah, perundungan, pencemaran, sampai adu domba. Akhir-akhir ini di Indonesia sering digegerkan dengan berita yang tidak benar . , seperti MCA (Muslim Cyber Arm. Saracen, yang berusaha memecah belah dengan isu yang berbau SARA 1. Jika dicermati, ternyata nenek moyang kita dari beberapa abad lampau telah mampu untuk menarasikan kehidupan Sri Supriyatini (Tema Cerita Tantri. Volume 23. Nomor 2. Desember 2019 Gambar 2. Pelukis Wayan Sujana Suklu, penggagas berdirinya Komunitas Lukis Kaca Batu Belah Gambar 3. Sebagian Anggota Komunitas Lukis Kaca anak-anak Batubelah Art Space sosial pada masa itu dengan dongeng-dongeng yang menggambarkan tentang perilaku manusia yang menyimpang dari tatanan norma yang berlaku dan disepakati masyarakat. Dongeng itu digambarkan dengan penggambaran kehidupan para binatang yang berperilaku bagaikan manusia. Warisan dongeng-dongeng itu menjadi ciri kearifan budaya lokal yang mengandung unsur pendidikan moral. proses pewarnaan dengan menggunakan warna cat besi maupun cat khusus untuk mewarnai kaca, sampai proses finishing. METODE Metode yang dilakukan dalam kegiatan melukis di Batu Belah Art Space dengan cara bimbingan dan pendampingan langsung dari intruktur kepada anakanak dengan memperhatikan situasi yang santai, diselingi humor, menampilkan contoh-contoh gambar, maupun dimulai dengan beberpa cerita yang dapat merangsang imajinasi anak. Anak-anak dikenalkan kembali dengan cerita Tantri karena hampir sebagian besar anak-anak tidak mengenal cerita Lewat metode bercerita diharapkan ada pesan-pesan moral dari cerita Tantri tang dapat menarik perhatian anak. Jenis kegiatan ini termasuk dalam kategori pemberdayaan masyarakat melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM). Guna memberdayakan komunitas Batubelah Art Space perlu dilakukan penyuluhan dan pembinaan serta tindakan langsung ke lapangan dengan mempraktekkan membuat lukisan dengan tema cerita Tantri, ada 4 cerita yang dipilih yaitu cerita AuSerigala Pengadudomba. Kura-kura dan Angsa. Pedanda Baka, dan Gajah Kalah dengan Binatang kecilAy. Dari cerita itu diambil nilai-nilai tentang saling menghormati dengan sesama, toleransi, kepatuhan pada nasehat baik, jujur, kerja keras, dan gotong Diawali dengan membuat contoh-contoh tokoh karakter dalam cerita yang dipilih, seperti tokoh singa, lembu, serigala, burung bangau, angsa, kura-kura dan gajah, kemudian dilanjutkan dengan tahapah-tahapan melukis, mulai dari membuat sketsa di atas kerta, memindahkan sketsa di atas kaca. Masalah kedua dihadapi komunitas lukis kaca Batubelah yaitu manajemen produksi, menghadirkan pakar dibidang manajemen yang akan memberi solusi keperlangsungan dan berkembangnya CV Batubelah yang tidak berkembang. Mangacu pada pokok permasalahan tersebut, maka solusi yang ditawarkan kepada mitra adalah memberikan pelatihan, pembinaan. Metode yang digunakan untuk melaksanakan pengabdian ini adalah metode pemberdayaan yang dilakukan melalui empat tahapan yaitu . Sosialisasi, mengadakan pertemuan dengan pimpinan Batubelah Art Space dan CV Batubelah beserta anak didik, untuk memperkenalkan kembali cerita Tantri. Koordinasi, dengan menentukan jadwal kerja, memutuskan tema yang dipilih, tekni dan media yang akan dipakai. Pelatihan, dimulai dari proses sketsa sampai, memindahkan desain, dan proses mewarna. Pendampingan praktek lapangan, menyertakan pakar di bidang lukis kaca yang sudah berpengalaman menggeluti bidang ini selama puuhan tahun, dengan cara memberi contoh teknik mengerjakan lukis kaca yang benar. Membangun pencontohan sentra kerajinan lukis kaca di Bali lewat pameran maupun promosi lewat media sosial seperti FB dan Instagram. ANALISIS DAN INTERPRETASI CERITA TANTRI Sebetulnya cerita yang dipilih dalam proses pengabdian kepada masyarakat adalah 4 kisah AuSerigala Pengadudomba. Pedanda Baka. Kura-kura dan Angsa. , dan Gajah Kalah dengan Binatang kecilAy, tetapi karena sampai saat ini proses PKM belum selesai, masih dalam proses maka hanya dapat ditampilkan 2 cerita saja yaitu kisah Pedanda Baka. Kura-kura dan Angsa. Dongeng ini dipilih karena terdapat kandungan pendidikn moral yang sangat berguna Volume 23. Nomor 2. Desember 2019 bagi anak-anak untuk berperilaku yang baik, menjaaga persaudaraan, patuh dengan perintah dari orang tua, kerja keras, jujur, dan tidak sombong. Cerita-cerita ini sangat relefan dengan fenomena sosial masyarakat Indonesia yang mulai luntur akan pendidikan moral yang telah ditanamkan oleh nenek moyang kita, sehingga lahir sifat-sifat sombong, curang, menghalalkan berbagai cara untuk mencapai tujuan hidup, kenakalan remaja, serta banyak lagi pelanggaran etika dan moral yang menyertainya. Adapun dongeng-dongeng yang dipilih adalah: Dongeng Serigala Pengadudomba atau sering disebut kisah Candapinggala yang mengkisahkan seekor singa yang menjadi raja dan memimpin para binatang yang hidup di dalam hutan. Candapinggala memerintah dengan adil dan bijaksana, dan mempunyai perdana menteri seekor serigala yang bernama Sambada. Pada suatu hadi di kerajaan tersehut kehadiran seekor lembu yang gagah perkasa. Lembu Nandaka menarik perhatian raja Candapinggala, sehingga tumbuh bersahabatan, saling mengasihi, saling percaya dan kerjasama. Sikap itu menimbulkan rasa cemburu bagi Sambada, sehingga serigala itu mencari akal dengan cara menghasut, mengadudomba, dan menimbulkan perpecahan dan permusuhan, perkelahian antara singa dan lembu, sampai keduanya mati bersama. Kesempatan itu digunakan oleh serigala untuk dpat memakan daging kedua binatang itu sampai kekenyanyan dan akhirnya serigala mati Pesan yang disampaikan dari cerita itu adalah jangan suka mengadudomba hubungan persaudaraan atau pertemanan, akibatnya akan celaka semua. Dongeng AuPedanda BakaAy sering dinyanyikan saat kegiatan ritual agama Hindu Bali, disebut kidung AuKidung CangakAy atau nyanyian denganAy tembang MacapatAy tentang kisah burung bangau atau cangak. Dikisahkan seekor burung bangau bernama Baka, yang hidup di sekitar danau Malini yang indah, dikelilingi oleh pepohonan yang rindang, bunga teratai dan tumbuhan air, dan didiami oleh binatang-binatang air, seperti ikan, udang, dan kepiting. Konon I Baka, adalah seekor bangau yang malas, tamak, penuh tipu muslihat dan tidak puas dengan apa yang di dapat saat berburu ikan di telaga itu. Kemudian dia mempunyai niat untuk menipu penghuni telaga, dengan berpura-pura sebagai pendeta, atau dalam bahasa Bali disebut AuPedandaAy. Baka, mengenakan pakain yang menyerupai pendeta, seperti tutup kepala atau surban, dalam bahasa bali disebut kethu berwarna putih, berkalung tasbih atau genetri, membawa gentha. Sambil berdiri di pinggir danau, serta mulutnya berguman, seolah membaca mantra-mantra tertentu, si pendeta palsu menyatakan, bahwa sebentar lagi kolam tersebut mau didatangi manusia yang akan menjaring seluruh ikan di danau, sehingga membuat resah para ikan. I Baka berusaha meyakinkan penghuni kolam agar mau dipindahkan PRABANGKARA Jurnal Seni Rupa dan Desain Gambar 4. Srigala Menghasut Singa. Fabel Tantri. Prasi. Lukisan di atas Daun Rontal ini sebagai Lampiran Bibliotheca Javanica 2 Karya Hooykaas (Sumber: Kamajaya. Candapinggala, 1. Gambar 5. Serigala Sambada dan Lembu Nandaka. Fabel Tantri. Lukisan Kamasan sebagai hiasan plafon gedung Kertagosa. Klungkung Bali (Foto: Sri Supriyatin. ke danau lain yang lebih aman, karena manusia tidak bisa menjamahnya. Pernyataannya itu bisa meyakinkan para penghuni danau, maka diterbangkanlah ikan-ikan itu satu-persatu, sampai tinggal seekor kepiting tua yang masih tertinggal. Si ketam/kepiting meminta kepada Baka, agar mau memindahkan dirinya, keinginan kepiting dipenuhi. Ketam diterbangkan sambil berpegangan leher Baka. Beberapa saat setelah terbang, ketam menengok ke bawah, dilihatnya banyak tulang belulang ikan berserakan di atas batu pipih, hal itu disadari bahwa selama ini Baka menipu teman-temannya, bukannya di pindahkan ke telaga lain, tetapi dimakan habis satu-persatu. Tanpa pikir panjang ketam meminta Baka untuk mengembalikan ke telaga semula, begitu sampai di telaga, ketam menjepit leher Baka sampai putus dan matilah dia. Dongeng ini mengandung nilai pendidikan agar manusia tidak bermalas-malasan, serakah dan penuh tipu daya. Seperti gambar burung bangau lehernya dicapit ketam. Meskipun secara alamiah kehidupan bangau memakan ikan dan binatang-binatang air, seperti katak, siput, udang, ketam, tetapi dalam cerita ini perilaku bangau menyimpang dari kebiasaan, yaitu sifat malas yang menimbulkan niat tidak baik untuk memperdaya para ikan. Secara naratif, burung bangau berpura-pura menjadi tokoh yang berbudi baik bagaikan seorang pendeta. Ia menunjukkan belas kasih dan rasa prihatin terhadap ikan yang ada di telaga. Si bangau menjalankan tipu dayanya sehingga penghuni telaga habis dilahapnya. Hanya seekor ketam yang tiggal di telaga, ia pun diterbangkan oleh si bangau, si ketam dengan cara berpegangan pada lehernya, tetapi dalam perjalanan ternyata ketam mengetahui kebohongan Si ketam melihat kepala dan tulang-tulang ikan berserakan di batu datar di puncak gunung. Sri Supriyatini (Tema Cerita Tantri. Gambar 6. Pedanda Baka. Kisah Bangau. Ikan dan Ketam, fabel Tantri. Lukisan Ttradisional Bali gaya Batuan. Koleksi Museum Puri Lukisan. Ubud Bali, (Foto: Sri Supriyatin. Oleh karena itu si ketam marah dan leher bangau dicapit sehingga si bangau mati, karena itulah bangau mendapat hasil atas buah perbuatannya. Kisah AuBangau. Ikan, dan KetamAy, jika ditafsirkan kembali dengan bentuk, material, teknik baru, pemaknaan baru yang berhubungan dengan fenomena di lingkungan masyarakat yang terjadi saat ini, seperti ajaran moral agar manusia berperilaku jujur, bekerja keras, dapat memahami bahwa, sifat serakah akan berakibat buruk bagi kehidupan dan bermasyarakat. Kura-kura dan Angsa, yang mengkisahkan seekor kura-kura yang mempunyai keinginan bisa terbang. Keinginannya itu diutarakan oleh dua ekor angsa yang sering ditemui di telaga tempat mereka mencari makan. Si angsa mau menolong dengan syarat kura-kura harus patuh sarang dan perintah angsa. Setelah mereka sepakati bersama, kedua angsa itu menerbangkan kura-juta dengan cara menggigit sebatang ranting kayu. Sesampainya di atas, si kura-kura merasa takjub, namun di bawah sudah menunggu seekor anjing yang mengejek, dikatakan bahwa si angsa menerbangkan kotoran kerbau. Mendengar ejekan itu, si kura-kura marah dan akan menjawab ejekan anjing, dengan membuka mulutnya sehingga lepas pegangannya, kura-kura jatuh ke tanah, pecah tempurungnya dan secepatnya si anjing memakannya. Inti dari cerita itu agar seseorang mau menepati janji, dan menuruti saran baik dari teman maupun Gajah Kalah dengan Binatang kecil, gajah dikenal sebagai binatang tubuhnya besar, karena bentuk tubuhnya itu, gajah menjadi ikon kekuatan yang super, atau jumbo. Dengan kekuatan tenaga dan geraknya, gajah terkadang dapat mencelakai binatang-binatang yang lebih kecil tanpa memengetahuinya, sehingga para binatang kecil yang menanggung kesengsaraan dari ulah si gajah. Tetapi dalam cerita Tantri, gajah sering berulah semaunya sendiri, dan mencelakai binatang yg lebih kecil. Dalam kehidupan masyarakat Volume 23. Nomor 2. Desember 2019 Gambar 7. Suasana memperkenalkan dan mendongeng cerita Tantri pada anak-anak sekarang, dimana kekuatan bisa dalam bentuk tubuh, materi, kekuasaan, yang terkadang disalahgunakan, dan pada akhirnya perbuatannya itu merugikan masyarakat yang lebih lemah atau rakyat jika itu dalam suatu pemerintahan daerah atau negara. Esensi dari cerita ini adalah, menyombongkan akan kekuatannya, tindakannya merugikan dan tidak menghiraukan mahkluk lain, menindas yang lebih Tetapi meski si burung dan kawan-kawannya lemah, asal mau bekerjasama untuk melawan kekuasan, dan kesombongan, pasti akan berhasil mengalahkannya. Yang merasa besar, kuat, berkuasa, tidak perlu bersikap arogan, karena percaya akan hukum sebab-akibat dari perbuatan yang telah dilakukan, begitu juga yang lemah, tidak perlu berkecil hati dan menyerah pada keadaan, semua harus dilakukan secara bersama-sama. Jika dicermati dalam cerita itu ada nilai perjuangan yang dan gotong royong yang dimiliki oleh para binatang kecil. Nilai itu dipakai untuk mengalahkan kekuatan besar, kewenang-wenangan, arogansi, dan penindasan, sehingga kekuatan sekecil apapun jika disatukan secara bersama akan menghasilkan kekuatan besar. Hal ini mengingatkan penulis tentang ajaran pesan-pesan kebijakan yang terdapat dalam kebudayaan Bali yaitu tentang 6 . musuh utama manusia yang disebut Sad Ripu. Menurut Dewa gede Alit Udayana . 0: . , pada setiap manusia bersemayam 6 musuh utama, yang apabila tidak dikendalikan dengan benar akan membawa bencana . agi diri sendiri atau orang lai. yang disebut Sad Ripu. Sad dalam bahasa Sanskerta artinya enam dan Ripu artinya musuh. Keenam musuh itu adalah: kama . mbisi yang tak terkendal. , lobbha . , krodha . , moha . , matsarya . ombong, iri hati, congka. Keenam sifat buruk itu tercermin dalam tingkah arogansi seperti sifat si gajah. Menyimak dari kisah keempat dongeng tersebut, bahwa dongeng termasuk di dalamnya cerita rakyat dapat digunakan untuk melakukan pendidikan Volume 23. Nomor 2. Desember 2019 Gambar 9. Lukisan Kaca di atas genteng, cerita Pedanda Baka, 2019 karakter secara luas dengan cara melakukan pembacaan transkripsi secara reflektif. Pembacaan secara reflektif ini terkait dengan upaya menemukan beberapa materi yang dapat digunakan sebagai bahan perenungan sehingga ditemukan nilai-nilai tertentu yang hendak diajarkan melalui sebuah cerita. Nilainilai tersebut dapat berupa nilai yang memiliki unsur moralitas seperti pesan untuk melakukan kebaikan, kejujuran, berbesar hati, tidak tamak pada kekayaan, kesetiaan, berjiwa besar dan ketangguhan dalam menghadapi tantangan. Hal itu sesuai dengan pesan Presiden Joko Widodo saat menyampaikan kuliah umum di ISI Denpasar, pada tanggal 23 Juni 2018, seperti dikutip harian Kompas. AuJadilah karya-karya seni sebagai sumber inspirasi pemersatu bangsa, pemersatu suku-suku yang ada di bangsa ini. Jadilah seni sebagai sumber energi peradaban bangsa. Antusias dari anak-anak untuk mengetahui lebih dalam tentang cerita Tantri membuat imajinasi dan kreatifitas anak berkembang dengan pesat. Salah satu contoh di bawah ini hasil kolaborasi dari anak-anak yang disusun menjadi rangkaian susunan genteng kaca menjadi seni instalasi yang menarik. Kumpulan karya anak-anak ini akhirnya dapat lolos dalam seleksi pameran besar AuArt BaliAy Balinese Master. Aesthetic DNATrajectories of Balinese Visual Art, di Nusa Dua Bali, 25 April 2019. Pameran ini diikuti oleh para tokoh-tokoh perupa, seperti I Gusti Nyoman Lempad. Nyoman Gunarsa. Nyoman Erawan, made Jirna, dan masih banyak lagi perupa terkenal di Bali. Merupakan suatu kebanggaan tersendiri bahwa komunitas lukis kaca anak-anak dari Batubelah Art Space diundang dalam sebuah pameran yang bergengsi dengan tajuk AuBalinese MasterAy. Sebagian dari hasil pelatihan lukis kaca dipamerkan dan disandingkan denga karya-karya seniman terkenal dari Bali seperti Nyoman Gunarsa. Nyoman Erawan. Made Jirna dan maestro lainnya, sehingga memberikan keyakinan pada anak-anak peserta pelatihan untuk berkarya lebih kreatif lagi. PRABANGKARA Jurnal Seni Rupa dan Desain Gambar 8. Suasana membuat sketsa gambar di atas Untuk meningkatkan ketrampilan teknis maupun penguasaan media. Komunitas Lukis Kaca Batu Belah melibatkan instruktur yang mempunya pengalaman di bidang seni lukis kaca baik dri Bali maupun dari luar Bali, seperti Ni Nyoman Sartini dan Sriatie Ratnaningsih, serta pakar dalam bidang seni rupa seperti I Wayan Sujan. Imade Jana . eduanya dosen ISI Denpasa. Ni Nyoman Sartini mempunyai pengalaman melukis di atas kaca sejak 12 tahun yang lalu. Sartini yang berasal dari Ubud, tumbuh dan berkembang di lingkungan seni tradisi Bali terutama seni lukis yang melekat pada dirinya, sehingga modal kretifitas keseniannya terus berkembang dengan mencoba berbagai media dan tema dalam lukisannya. Keahlian sartini dalam melukis kaca dengan teknik pelukisan dari sisi bagian dalam yang memerlukan ketrampilan dan ketelitian, ditularkan kepada anak-anak Batu Belah dengan sabar dan pendekatan seorang ibu, sehingga anak didiknya merasa aman dan nyaman dalam Perlunya Instruktur pelukis kaca yang sudah berpengalaman akan menambah keyakinan dan semangan peserta pelatihan dalam berkarya seni. Maka dipilih Ibu Srieati Ratnaningsih, mempunyai kemampuan dan pengalaman dalam dunia seni kerajinan, seperti membuat kerajinan dari paper clay, decopig, dan terakhir lukis kaca yang telah ditekuni selama lebih dari 10 tahun. Karya-karya yang dihasilkan bersifat ornamentik, rumit dan unik, serta memerlukan ketekunan yang tinggi dalam mewujudkan sebuah Selain berbagi pengalaman dalam melukis kaca. Sriatie juga memperkenalkan teknik baru dalam melukis dengan media kaca, yaitu menggunakan cat Vitrail khusus untuk mewarnai kaca, serta teknik pelukisan dari sisi bagian luar kaca. Keberagaman material, teknik dan tema yang dikembangkan pada komunitas Batu Belah berkat bimbingan para instruktur, praktisi seni dan pendidik Sri Supriyatini (Tema Cerita Tantri. Gambar 10. Lukisan Kaca, cerita Kura-kura dan Angsa. Gambar 11. Karya instalasi dari anak-anak komunitas Batu Belah, susunan lukisan kaca pada genteng. Pameran Seni Rupa Balinese Master. Aesthetic DNATrajectories of Balinese Visual Art, di Nusa Dua Bali. April 2019 seni, menghasilkan keberagaman interpretasi wujud karya serta teknik yang mereka ungkap. Perkembangan dan ketersediaan warna untuk lukisan kaca memberi pilihan kepada pelukis kaca untuk bereksperiman dengan teknik, warna, dan bentuk. Lukisan kaca tidak hanya sebagai seni murni dari ekspresi senimannya, tetapi dapat juga sebagai benda seni yang dapat digunakan sehari-hari, seperti hiasan yang diterapkan pada gelas, piring, mangkuk, botol, vas, dan media kaca yang lain. Selain memperindah dari benda yang dihasilkan, akan memberi nilai tambah pada nilai benda seni yang diciptakan. SIMPULAN Dongeng merupakan salah satu media tradisional yang pernah populer di Indonesia. Sebagai warisan leluhur, dongeng patut mendapat perhatian dari berbagai pihak demi menjaga kelestariannya. Upaya inventarisasi, penelitian, penyebaran, dan penerbitan sebaiknya dilakukan secara terencana dengan baik dan berkelanjutan. Keberadaan dongeng-dongeng di Indonesia harus dipublikasikan lagi secara intens agar generasi muda semakin mencintai kearifan budaya Indonesia lewat berbagai wujud kesenian, salah satunya seni lukis anak-anak. Volume 23. Nomor 2. Desember 2019 Gambar 12. Pelukis kaca Sriatie Ratnaningsih dan koleksi pribadi lukisan kaca di atas botol dan vas kaca Gambar 13. Pelukis kaca Ni Nyoman Sartini Kandungan pendidikan moral yang ada pada dongeng Tantri sebagai refleksi dari sifat-sifat manusia yang baik maupun buruk saling simultan. Pendidikan moral dan etika yang terkandung di dalamnya dapat dimaknai sebagai nilai-nilai luhur kearifan lokal yang patut dijalankan sebagai tuntunan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, akhirnya dapat menjadi media untuk membangun karakter Visualisasi dongeng Tantri pada seni lukis kaca di komunitas Batu Belah Art Space dapat menjadi modal dasar dalam pengembangan industri kreatif, dengan cara memperkenalkan ke masyarakat lewat pameran, penjualan, baik konvensional maupun online,sehingga keberadaan dongeng Tantri dapat dinikmati oleh berbagai kalangan di masyarakat, dan keberlangsungan seni lukis kaca terjaga keberlanjutannya. Perlu penggalian cerita-cerita rakyat yang ada di Indonesia, serta diperkenalkan lagi bagi generasi penerus sebagai pendidikan etika dan moral, serta inspirasi dalam menciptakan sebuah karya seni. Mendorong generasi muda untuk mengembangkan daya kreatifitasnya dalam menciptakan karya-karya seni, serta memberi keyakinan bahwa dengan meng- Volume 23. Nomor 2. Desember 2019 PRABANGKARA Jurnal Seni Rupa dan Desain Piliang. Yasraf Amir, . Medan Kreativitas. Memahami Dunia Gagasan. Cantrik Pustaka. Yogyakarta. Wisatsana. Warih, . Wajah Zaman dalam Kaca. Katalog Pameran Lukisan. Bentara Budaya Bali. Harian Kompas. Minggu, 24 Juni 201 Wawancara penulis dengan Wayan Sujana Suklu, di Studio Batu Belah, 15 Oktober 2018. Gambar 14. Contoh hasil kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat pada Komunitas Lukis Kaca Batu Belah oleh Sri Supriyatini geluti dunia kreatifitas dapat menjajikan sebagai lahan mencari penghasilan yang menguntungkan, sehingga industri kretif yang dicanangkan pemerintah dapat berjalan dengan baik dan menjajikan. DAFTAR RUJUKAN Darmayasa. Panca Tantra. Kisah Kebajikan dalam Nitisastra, penerbit Manih Geni. Denpasar. Hermanu, . Wajah Zaman dalam Kaca. Katalog Pameran Lukisan. Bentara Budaya Jakarta Janson. W, . Histori of Art, revised Sixth Edition. Pearson prentice hall. New Jersey Kamajaya, . Candapinggala. Kisah Persahabatan Singa dan Lembu. Yogyakarya. UP Indonesia Marijke J. Klokke . , dalam buku yang berjudul The Tantri Reliefs on Ancient Javanese Candi. Dikutip kembali oleh Sri Supriyatini, dalam Disertasi AuTantri. Interpretasi Nilai Perjuangan Perempuan Bali Masa Kini, hal.