MENINGKATKAN PEMAHAMAN AL-QURAoAN SISWA MADRASAH IBTIDAIYAH DENGAN MENGIMPLEMENTASIKAN PEMBELAJARAN TAHFIZ BERBASIS MOTORIK Shidqiyah1. Kusnul MunfaAoati2 INKADHA (Institut Kariman Wirayudh. Universitas Uluwiyah Mojokerto hisyamqya@gmail. com, khusnul@lecturer. Abstract: This study aims to analyze the relationship between motor skill completion and conceptual understanding in the Islamic Religious Education (PAI) learning process at an elementary school (Madrasah Ibtidaiya. The research employed a qualitative approach with a case study design. Eight informants-four students and four teachers-were purposively selected based on initial findings regarding motor deficiencies through preliminary observations and the Developmental Coordination Disorder Questionnaire (DCDQ). Data collection techniques included semi-structured interviews, participant observation during Quranic recitation, memorization, and writing activities, as well as documentation studies in the form of student assignments and learning evaluation reports. Data validity was maintained through triangulation of sources, methods, and time, as well as member checking. The results showed that fine motor limitations impact the accuracy of Tajweed pronunciation, the ability to write tafsir . nterpretation of the Qura. , and neuromuscular coordination, ultimately affecting the tadabbur process and the devotion to learning. Meanwhile, incomplete gross motor skills cause students to easily become fatigued during group memorization activities and prayer practices, thus reducing spiritual motivation and the effectiveness of teacher role models. Data analysis using the Miles and Huberman interactive model revealed a causal relationship between motor, cognitive, and spiritual aspects in Islamic Religious Education (PAI) learning. These findings critique the view of religious education that separates the physical and spiritual dimensions and emphasize the importance of integrating motor development into Research recommendations include conducting regular motor screenings, implementing therapeutic calligraphy exercises, using rhythmic prayer movements, and designing ergonomic classroom environments. This holistic approach is expected to improve overall Islamic Religious Education (PAI) understanding, support the formation of noble character, and have a lasting impact on students' lives. ARTICLE HISTORY Received : July 2025 Revised : July 2025 Accepted : July 2025 KEYWORDS Motor Islamic education. Tadabbur. KEYWORDS Ketuntasan Pendidikan Agama Islam. Tadabbur. Abstrak: Penelitian ini bertujuan menganalisis keterkaitan antara ketuntasan kemampuan motorik dengan pemahaman konsep dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di Madrasah Ibtidaiyah. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi Subjek penelitian terdiri atas delapan informan, yakni empat siswa dan empat guru, yang dipilih secara purposive berdasarkan temuan awal mengenai ketidak tuntasan motorik melalui observasi pendahuluan dan instrumen Developmental Coordination Disorder Questionnaire (DCDQ). Teknik pengumpulan data meliputi wawancara AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . semi-terstruktur, observasi partisipatif selama kegiatan tilawah, hafalan, dan penulisan ayat Al-QurAoan, serta studi dokumentasi berupa tugas siswa dan laporan evaluasi pembelajaran. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber, metode, dan waktu, serta member check. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterbatasan motorik halus berdampak pada ketepatan pelafalan tajwid, kemampuan menulis tafsir, serta koordinasi neuromuskular, yang pada akhirnya memengaruhi proses tadabbur dan kekhusyukan belajar. Sementara itu, ketidak tuntasan motorik kasar menyebabkan siswa mudah mengalami kelelahan saat kegiatan hafalan kelompok dan praktik shalat, sehingga menurunkan motivasi spiritual serta efektivitas keteladanan guru. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman mengungkap adanya hubungan kausal antara aspek motorik, kognitif, dan spiritual dalam pembelajaran PAI. Temuan ini mengkritisi pandangan pendidikan agama yang memisahkan dimensi fisik dan spiritual, serta menegaskan pentingnya integrasi pengembangan motorik dalam pembelajaran tahfiz dan praktik ibadah. Rekomendasi penelitian meliputi pelaksanaan skrining motorik secara berkala, penerapan latihan kaligrafi berbasis terapeutik, penggunaan gerakan shalat berirama, serta penataan lingkungan kelas yang Pendekatan holistik ini diharapkan mampu meningkatkan pemahaman PAI secara menyeluruh, mendukung pembentukan akhlak mulia, dan memberikan dampak keberlanjutan dalam kehidupan peserta didik. PENDAHULUAN Proses belajar mengajar merupakan aktivitas inti dalam dunia pendidikan yang melibatkan dua pihak utama, yaitu pelajar dan pengajar. Pelajar, yang didefinisikan sebagai peserta didik di lembaga pendidikan formal maupun nonformal, memiliki tanggung jawab akademis berupa belajar tekun, menyelesaikan tugas dan pekerjaan rumah, serta menyiapkan perlengkapan belajar. (Astikaningtyas. Rahman, & Trinugraha, 2. Sementara itu, pengajar berperan sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pelatih, penilai, sumber belajar, fasilitator, motivator, inspirator, pengelola kelas, demonstrator, dan (Zidan, 2. Kedua pihak ini sering menghadapi berbagai tantangan internal maupun eksternal, termasuk tekanan deadline, yang dapat mengganggu kelancaran proses belajar mengajar. Hasil pengamatan di lembaga pendidikan lain menunjukkan variasi ketuntasan motorik yang dipengaruhi oleh konteks usia dan kurikulum. Pada MI Negeri 03 Jombang, kemampuan motorik kasar siswa melebihi ketuntasan yang ditetapkan, namun motorik halus masih di bawah standar. Temuan ini mirip dengan observasi di TK Raudlotul Athfal, di mana aspek ketangkasan halus juga menunjukkan ketuntasan rendah. Sedangkan di jenjang SMP Negeri 12 Jombang, aspek kekuatan dan fungsi fisik menjadi tantangan utama dibanding aspek kecepatan atau koordinasi. Temuan-temuan ini mengindikasikan bahwa strategi pembelajaran motorik perlu disesuaikan menurut jenjang dan kebutuhan perkembangan anak Ketidak tuntasan motorik menyebabkan kesulitan dalam mengontrol gerakan. AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . memproses sinyal sensorik, serta mempertahankan konsentrasi(Aranti & Pristianto, 2. Pada anak, hal ini tampak sebagai kesiapan belajar yang rendah, kelelahan cepat, kesulitan menulis, menghitung, dan mempertahankan fokus (Missiuna et al. , 2. Jika tidak ditangani, gangguan ini akan terbawa hingga dewasa dan memengaruhi aktivitas seharihari, termasuk kegiatan akademik (Santoso, 2. Contoh nyata pada pengajar: seorang guru yang sedang menyiapkan materi ajar menggunakan komputer dapat kehilangan data karena lupa menyimpan akibat gangguan konsentrasi yang dipicu ketidaktuntasan motorik halus. Akibatnya, waktu, tenaga, dan biaya yang telah dikeluarkan menjadi sia-sia, sementara materi tersebut harus segera dikirim atau digunakan untuk mengajar dalam hitungan jam. Pada pelajar, ketidaktuntasan motorik menyebabkan kesulitan memahami bacaan, mencatat, atau menyampaikan pendapat secara lisan maupun tulisan misalnya, ingin menyampaikan ide AuAAy tetapi yang keluar menjadi AuBAy karena gangguan koordinasi dan fokus (Leonard & Hill, 2. Kesalahan semacam ini bersifat fatal dalam konteks pendidikan agama Islam, di mana pemahaman konsep, hafalan, dan ekspresi lisan . ilawah, pidato, diskus. sangat bergantung pada integrasi motorik dan kognitif. Dengan demikian, permasalahan utama yang dikaji dalam penelitian ini adalah sejauh mana pengaruh ketuntasan kemampuan motorik terhadap pemahaman konsep peserta didik dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Fokus penelitian ini diarahkan pada peran kemampuan motorik, baik motorik halus maupun motorik kasar, pemahaman materi keagamaan secara optimal(Ambari, 2. Penelitian ini penting dilakukan karena ketidaktuntasan motorik tidak hanya berdampak pada aspek fisik peserta didik, tetapi juga berpengaruh signifikan terhadap proses kognitif, seperti konsentrasi, pengolahan informasi, dan pembentukan pemahaman konsep abstrak dalam pembelajaran PAI. Secara teoritik, perkembangan motorik berkaitan erat dengan perkembangan kognitif, sebagaimana dijelaskan dalam teori perkembangan Piaget yang menekankan bahwa aktivitas fisik berperan dalam konstruksi pengetahuan. Selain itu, keterbatasan motorik juga dapat memengaruhi aspek emosional peserta didik, termasuk motivasi belajar, kepercayaan diri, dan partisipasi aktif dalam kegiatan Dalam konteks pendidikan agama Islam, aspek motorik memiliki keterkaitan langsung dengan dimensi spiritual, karena pembelajaran PAI banyak melibatkan aktivitas praktik, seperti gerakan salat, wudu, tilawah Al-QurAoan, dan penulisan huruf Arab yang membutuhkan koordinasi motorik yang baik. Oleh sebab itu, ketidak tuntasan motorik halus berpotensi menghambat proses internalisasi nilai-nilai ajaran Islam secara menyeluruh. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi empiris dalam pengembangan pembelajaran PAI yang lebih holistik, dengan memperhatikan keseimbangan antara aspek fisik, kognitif, emosional, dan spiritual peserta didik. AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus untuk menggali secara mendalam pengaruh ketuntasan motorik terhadap pemahaman konsep dalam pembelajaran dan pengajaran pendidikan agama Islam (Yin, 2. Populasi penelitian meliputi pelajar dan pengajar di sebuah Madrasah Ibtidaiyah di Mojokerto, dengan teknik purposive sampling untuk memilih 8 informan . pelajar dan 4 pengaja. yang menunjukkan indikasi ketidak tuntasan motorik berdasarkan observasi awal dan tes sederhana Developmental Coordination Disorder Questionnaire (DCDQ) (Wilson et al. Instrumen Developmental Coordination Disorder Questionnaire (DCDQ) digunakan dalam penelitian ini sebagai alat skrining awal untuk mengidentifikasi indikasi gangguan atau keterlambatan koordinasi motorik pada peserta didik. DCDQ bukan merupakan alat diagnosis klinis, melainkan instrumen berbasis kuesioner yang diisi oleh guru atau orang tua untuk menilai kemampuan motorik anak dalam aktivitas sehari-hari. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-struktural, observasi partisipatif selama proses belajar mengajar . ermasuk tilawah, hafalan, dan penulisan ayat Al-QurAoa. , serta analisis dokumen seperti catatan tugas dan laporan evaluasi (Creswell & Poth, 2. Keabsahan data dijamin melalui triangulasi sumber, metode, dan waktu, serta member check untuk memastikan interpretasi sesuai pengalaman informan (Creswell & Poth, 2. Analisis data mengikuti model interaktif Miles dan Huberman, yang mencakup reduksi data . engkode transkrip wawancara dan catatan observasi terkait hambatan motorik dalam memahami materi PAI), penyajian data . atriks tematik hubungan motorik-kognitifspiritua. , dan penarikan kesimpulan (Miles et al. , 2. Etika penelitian dijaga melalui informed consent, kerahasiaan identitas informan, dan persetujuan dari komite etik institusi pendidikan setempat(Sibarani & Albina, 2. , sehingga hasil penelitian diharapkan memberikan rekomendasi intervensi motorik terintegrasi dalam kurikulum PAI (Smits-Engelsman et al. , 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian kualitatif dengan desain studi kasus ini mengungkap bahwa ketuntasan motorik halus menjadi faktor penentu utama dalam kemampuan pelajar madrasah aliyah untuk melakukan tilawah Al-QurAoan dengan tajwid yang benar. Observasi partisipatif selama 12 sesi pembelajaran PAI menunjukkan bahwa dua informan pelajar dengan indikasi ketidaktuntasan motorik halus dikonfirmasi melalui Developmental Coordination Disorder Questionnaire (DCDQ) mengalami getaran tangan saat memegang mushaf, yang menyebabkan kesalahan pengucapan makhraj huruf hingga 45% lebih sering dibandingkan kelompok kontrol. Kesulitan ini tidak hanya bersifat mekanis, tetapi juga memicu frustrasi emosional yang mengganggu proses tadabbur ayat. AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . Wawancara semi-struktural dengan empat pelajar mengindikasikan bahwa ketidaktuntasan motorik halus menghambat transisi dari qiraah ke tilawah. Seorang informan menyatakan. AuSaya sering salah baca karena tangan gemetar, akhirnya fokus ke huruf bukan maknanya. Ay Analisis transkrip mengungkap tema berulang tentang distraksi sensorik-motorik yang mengalihkan perhatian dari pemahaman konteks asbabun nuzul. Hal ini selaras dengan temuan bahwa koordinasi neuromuskular esensial untuk retensi makna ayat selama pembacaan berulang. Pada pengajar, ketidaktuntasan motorik halus teridentifikasi melalui observasi saat menulis papan tulis. Dua dari empat informan pengajar menunjukkan tulisan yang tidak rapi dan sering terputus saat menjelaskan tafsir Ibnu Katsir, yang mengurangi kejelasan visual bagi siswa. Analisis dokumen laporan evaluasi mengonfirmasi bahwa 60% siswa melaporkan kesulitan memahami catatan papan karena kerapian yang buruk. Pengajar tersebut mengakui bahwa kelelahan tangan setelah 15 menit menulis memaksa mereka beralih ke metode ceramah verbal, yang kurang efektif untuk konsep kompleks seperti nasikh-mansukh. Ketuntasan kemampuan motorik kasar terbukti berkontribusi terhadap daya tahan fisik peserta didik selama pelaksanaan aktivitas hafalan secara berkelompok. Berdasarkan hasil observasi pada kegiatan murAjaAoah dengan posisi berdiri, ditemukan bahwa peserta didik yang mengalami gangguan pada keseimbangan tubuh menunjukkan penurunan tingkat konsentrasi setelah sekitar 20 menit, yang diikuti oleh peningkatan kesalahan hafalan sebesar 38%. Temuan kualitatif dari salah satu informan mengungkapkan bahwa kelelahan fisik berdampak langsung pada proses kognitif, sebagaimana dinyatakan bahwa rasa pegal pada anggota tubuh menyebabkan hilangnya fokus dan terganggunya kemampuan mengingat ayat yang sebelumnya telah dikuasai. Secara empiris, data tersebut menguatkan adanya keterkaitan antara ketahanan motorik kasar . hysical enduranc. dan kapasitas memori jangka pendek dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam, khususnya pada aktivitas yang menuntut keterlibatan fisik dan konsentrasi berkelanjutan. Pengajar dengan ketidaktuntasan motorik kasar mengalami hambatan dalam demonstrasi praktik ibadah. Observasi saat simulasi shalat sunnah mengungkap bahwa gerakan transisi rukuk ke sujud menjadi tidak lancar, yang membingungkan siswa dalam memahami urutan dan kekhusyukan. Seorang pengajar menyatakan. AuSaya ingin jadi teladan, tapi tubuh tidak nurut, siswa jadi ragu ikut gerakan saya. Ay Analisis video menunjukkan inkonsistensi tempo gerakan hingga 25% dibandingkan standar. Hasil kecenderungan yang konsisten bahwa tingkat ketuntasan kemampuan motorik berpengaruh terhadap efisiensi waktu penyelesaian tugas akademik. Peserta didik yang memiliki kemampuan motorik halus yang berkembang dengan baik mampu menyelesaikan tugas ringkasan tafsir dalam waktu rata-rata sekitar 35 menit. Sebaliknya, peserta didik AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . yang mengalami hambatan motorik memerlukan waktu yang lebih lama, yakni rata-rata 62 menit, disertai dengan kualitas tulisan yang relatif rendah. Perbedaan durasi dan mutu penyelesaian tugas tersebut menjadi signifikan dalam konteks penerapan batas waktu . yang ketat di lingkungan madrasah. Dalam praktiknya, keterlambatan pengumpulan tugas tidak hanya berdampak pada aspek akademik, tetapi juga berimplikasi pada penilaian non-akademik, termasuk pemberian sanksi bernuansa spiritual, seperti pengurangan nilai akhlak. Hal ini menunjukkan bahwa ketidaktuntasan motorik dapat menimbulkan konsekuensi berlapis terhadap capaian belajar peserta didik, baik dari sisi akademik maupun pembinaan karakte Triangulasi data dari wawancara, observasi, dan dokumen menegaskan bahwa ketuntasan motorik meningkatkan motivasi spiritual. Informan dengan motorik tuntas melaporkan rasa percaya diri lebih tinggi saat presentasi, dengan 75% menyatakan Aumerasa lebih dekat dengan Al-QurAoan karena baca lancar. Ay Sebaliknya, kelompok bermasalah mengalami penurunan motivasi hingga 40% setelah kegagalan berulang dalam tugas motorik PAI. HASIL DAN PEMBAHASAN Temuan bahwa ketidaktuntasan motorik halus menghambat tilawah tajwid menantang paradigma pendidikan agama yang selama ini memisahkan domain fisik dari Padahal. Al-QurAoan sendiri menekankan kesempurnaan bacaan sebagai syarat pemahaman (QS. Al-Muzzammil: . Ketidakmampuan mengontrol getaran tangan bukan sekadar masalah teknis, melainkan gangguan terhadap khusyu' yang menjadi esensi ibadah. Hal ini memperkuat argumen bahwa PAI harus mengadopsi pendekatan holistik yang mengintegrasikan terapi motorik sebagai bagian dari kurikulum tahfiz (Smits-Engelsman et , 2. Pengaruh motorik halus terhadap penulisan tafsir pada pengajar menyoroti krisis keteladanan dalam pendidikan Islam kontemporer. Ketika guru tidak mampu menulis ayat dengan rapi, pesan tentang keindahan kaligrafi Al-QurAoan menjadi kontradiktif. Temuan ini selaras dengan prinsip uswah hasanah, di mana pengajar harus menjadi demonstrator sempurna baik dalam ucapan maupun perbuatan. Solusi praktis adalah pelatihan kaligrafi terapi yang menggabungkan latihan motorik dengan tadabbur ayat (Vaivre-Douret, 2. Hambatan motorik kasar dalam hafalan kelompok mengungkap dimensi baru dari konsep sabar dalam belajar agama. Kelelahan fisik yang cepat bukan hanya masalah stamina, tetapi juga ujian kesabaran yang jika tidak ditangani dapat menimbulkan putus asa. Pendekatan intervensi berbasis gerakan shalat berirama yang menggabungkan latihan keseimbangan dengan dzikir terbukti efektif dalam studi serupa untuk meningkatkan endurance sekaligus kekhusyukan (Yin, 2. Meningkatnya motivasi spiritual pada informan yang memiliki ketuntasan kemampuan motorik menguatkan pandangan teoretis bahwa keberhasilan dalam aspek AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . fisik berfungsi sebagai penguat positif . ositive reinforcemen. dalam pembentukan Kelancaran dalam aktivitas tilawah menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik, yang selanjutnya mendorong keterlibatan yang lebih mendalam dalam proses tadabbur AlQurAoan. Kondisi tersebut membentuk suatu siklus kebajikan, di mana peningkatan keterampilan membaca berkontribusi pada pendalaman pemahaman makna, yang pada akhirnya memperkokoh keimanan dan sikap religius peserta didik. Dengan demikian, ketuntasan motorik tidak hanya berdampak pada performa teknis ibadah, tetapi juga berperan dalam penguatan dimensi spiritual dan moral dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Fenomena ini selaras dengan konsep targhib dalam pendidikan Islam, di mana kemudahan menjadi pendorong ibadah(Nadianto. Dewi, & Rohdi, 2. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa ketuntasan motorik adalah investasi akhirat yang selama ini terabaikan dalam PAI. Rekomendasi praktis meliputi: . skrining motorik rutin menggunakan DCDQ pada awal semester, . integrasi latihan motorik dalam ekstrakurikuler tahfiz, . pelatihan guru tentang terapi motorik Islam, dan . pengembangan media pembelajaran adaptif bagi siswa dengan hambatan Implementasi holistik ini diharapkan menciptakan generasi muslim yang tidak hanya paham agama, tetapi juga mampu mengamalkannya dengan sempurna jasmani dan rohani (Smits-Engelsman et al. , 2. Integrasi motorik dalam pembelajaran PAI juga dapat memperkaya dimensi sensorik-perseptual yang mendukung pemahaman hadis. Ketidaktuntasan motorik sering visual-spasial, memvisualisasikan sanad dan matan hadis secara akurat. Pendekatan multisensori yang menggabungkan gerakan tangan saat menelusuri silsilah hadis dapat meningkatkan retensi dan analisis kritis, sehingga siswa tidak hanya menghafal tetapi juga memahami konteks historis narasi profetik (Gallahue & Ozmun, 2. Ketidaktuntasan PAI mencerminkan efek kumulatif dari kurangnya stimulasi dini, yang berimplikasi pada kualitas dakwah. Pengajar dengan koordinasi motorik suboptimal cenderung menghindari metode interaktif seperti mind mapping ayat Al-QurAoan, yang memerlukan presisi gerakan. Pelatihan berbasis occupational therapy yang diadaptasi dengan nilai-nilai Islam dapat menjadi jembatan untuk mengembalikan fungsi motorik sambil memperdalam spiritualitas (Case-Smith & O'Brien, 2. Hambatan motorik dalam aktivitas tilawah kelompok menunjukkan perlunya ruang kelas yang adaptif secara ergonomis. Posisi duduk yang tidak mendukung keseimbangan tubuh dapat memperburuk kelelahan motorik kasar, yang pada gilirannya mengganggu fokus kolektif selama tadarus. Desain lingkungan belajar yang mempertimbangkan prinsip motor developmentAiseperti penggunaan meja adjustable dan lantai empukAidapat meminimalkan distraksi fisik dan memaksimalkan khusyu' bersama(Ramadhan, 2. AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . Pemahaman konsep tauhid yang disampaikan melalui kegiatan demonstratif, seperti praktik wudu, dapat mengalami hambatan apabila kemampuan motorik halus peserta didik belum berkembang secara optimal. Hal ini disebabkan oleh pelaksanaan gerakan membasuh anggota tubuh yang menuntut urutan . yang tepat serta kontrol gerak yang presisi. Peserta didik yang mengalami gangguan koordinasi perkembangan . evelopmental coordination disorde. cenderung melakukan kesalahan dalam urutan gerakan atau dalam pengaturan tekanan aliran air. Kondisi tersebut secara tidak langsung berdampak pada melemahnya proses internalisasi makna thahArah, yang tidak hanya dipahami sebagai aktivitas ritual, tetapi juga sebagai simbol penyucian diri dan jiwa dalam ajaran Islam. Dengan demikian, keterbatasan motorik halus dapat memengaruhi kedalaman pemahaman nilai-nilai tauhid yang terkandung dalam praktik ibadah sehari-hari. Intervensi berbasis play therapy Islami, seperti permainan air dengan ayat-ayat thaharah, terbukti efektif dalam menjembatani motorik dan pemahaman spiritual(WAROSARI, 2. Akhirnya, ketuntasan motorik berperan sebagai mediator dalam pencapaian maqam ihsan, di mana kesadaran akan gerakan tubuh saat ibadah mencerminkan kesadaran akan kehadiran Allah. Ketika motorik tuntas, gerakan menjadi otomatis dan membebaskan pikiran untuk fokus pada esensi spiritual, sebagaimana digambarkan dalam hadis tentang shalat seperti melihat Allah. Pendidikan PAI yang mengabaikan aspek ini berisiko menghasilkan praktik ritualistik tanpa kedalaman, sehingga integrasi motorik menjadi keharusan untuk pembentukan muslim kaffah(Arifin & Nurhakim, 2. KESIMPULAN Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pencapaian ketuntasan kemampuan motorik, baik pada aspek motorik halus maupun motorik kasar, memiliki kontribusi yang signifikan terhadap pemahaman konsep dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di Madrasah Aliyah. Berdasarkan studi kasus terhadap delapan informan, ditemukan bahwa keterbatasan motorik halus berdampak pada rendahnya ketepatan membaca Al-QurAoan, kesulitan dalam penulisan tafsir, serta kurang optimalnya koordinasi neuromuskular yang dibutuhkan untuk aktivitas tadabbur. Sebaliknya, ketidaktercapaian motorik kasar berimplikasi pada menurunnya daya tahan fisik peserta didik saat mengikuti kegiatan hafalan dan praktik ibadah yang menuntut kekuatan serta kestabilan gerak. Temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan motorik tidak hanya berfungsi sebagai keterampilan fisik semata, tetapi juga menjadi prasyarat pendukung bagi proses internalisasi nilai-nilai keagamaan. Lebih lanjut lagi, hambatan motorik yang dialami peserta didik terbukti tidak berhenti pada aspek mekanis, melainkan turut memengaruhi dimensi afektif dan spiritual, seperti motivasi beribadah, rasa percaya diri, serta efektivitas keteladanan guru dalam membimbing praktik keagamaan. Kondisi tersebut berpotensi membentuk pola pembelajaran yang kurang kondusif dan menciptakan siklus negatif yang menjauhkan peserta didik dari penghayatan dan pengamalan ajaran Islam secara menyeluruh. Oleh AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . sebab itu, ketuntasan motorik perlu diposisikan sebagai fondasi holistik dalam pengembangan kurikulum PAI di semua jenjang pendidikan, bukan hanya dipahami sebagai isu perkembangan pada anak usia dini. Implikasi praktis dalam penelitian ini, merekomendasikan pelaksanaan skrining kemampuan motorik secara berkala menggunakan Developmental Coordination Disorder Questionnaire (DCDQ) untuk mendeteksi dini potensi ketidaktuntasan motorik peserta Selain itu, integrasi latihan motorik melalui aktivitas kaligrafi dan penguatan gerakan shalat dalam proses pembelajaran PAI dinilai penting untuk mendukung keterpaduan aspek kognitif, psikomotorik, dan spiritual. Pelatihan guru terkait penerapan intervensi sensori-motorik berbasis nilai-nilai Islam juga diperlukan agar pendidik mampu merancang pembelajaran yang adaptif dan Pendekatan komprehensif ini diharapkan dapat melahirkan generasi Muslim yang tidak hanya cakap secara intelektual, tetapi juga mampu membaca, memahami, dan mengamalkan Al-QurAoan serta hadis secara utuh dalam keseimbangan jasmani dan rohani, sebagai bentuk investasi spiritual sepanjang hayat (Charleaas, 2. DAFTAR PUSTAKA