Jurnal Elektro dan Telkomunikasi ANALISIS PRIORITAS PEMILIHAN INFRASTRUKTUR BLUE GREEN CITIES MENGGUNAKAN METODE SIMPLE ADDITIVE WEIGHTING (SAW) DI KECAMATAN MEDAN SELAYANG. KOTA MEDAN Fikri AuzaAoi Ikhwan Program Studi Teknik Sipil. Universitas Pembangunan Panca Budi Medan. Sumatra Utara. Indonesia ABSTRAK Kecamatan Medan Selayang merupakan salah satu kecamatan di Kota Medan yang mengalami permasalahan banjir Setidaknya ada tujuh titik banjir yang ditemui di kawasan tersebut. Hingga saat ini, penanggulangan yang dilakukan ialah menambah ukuran saluran drainase yang telah ada sebelumnya, dimana penanggulangan ini masih bersifat sistem drainase konvensional yang bersandarkan pada grey infrastructure. Maka dari itu dipandang perlu untuk mencari suatu metode baru dalam menyelesaikan permasalahan banjir perkotaan yang bersifat lebih keberlanjutan, dimana air hujan dapat mengalir dan tidak menyebabkan banjir, namun juga memiliki kesempatan untuk diserap kedalam lapisan tanah untuk menambah cadangan air tanah. Blue Green Cities merupakan salah satu metode yang dapat menyelesaikan permasalahan-permasalahan tersebut. Setidaknya terdapat 18 metode yang berada dilingkup Blue Green Cities, oleh karenanya diperlukan analisis pengambil keputusan untuk memilih manakah infrastruktur yang paling tepat untuk diterapkan di Kecamatan Medan Selayang. Pengambilan keputusan dilakukan dengan metode Simple Additive Weighting (SAW) dan diperoleh urutan sebagai berikut: urutan pertama dengan nilai 130 diduduki oleh permeable pavement, rain garden, xeriscaping dan sumur resapan. Adapun urutan terakhir diduduki oleh riparian buffer dengan perolehan nilai sebesar 28,5. Kata Kunci: Metode Simple Additive Weighting (SAW). Blue Green Cities. Banjir Perkotaan. PENDAHULUAN Kecamatan Medan Selayang merupakan salah satu kecamatan yang memiliki nilai strategis di Kota Medan. Hal ini dikarenakan letaknya yang diapit oleh Kecamatan Medan Sunggal dan Kecamatan Medan Baru, dimana sebagian besar dari wilayah Kecamatan Medan Sunggal difungsikan sebagai kawasan perekonomian sedangkan didalam wilayah Kecamatan Medan Baru berdiri pusat pendidikan. Universitas Sumatra Utara. Dikarenakan hal ini. Kecamatan Medan Selayang menjadi salah satu pilihan favorit masyarakat Kota Medan dalam memilih kawasan tempat tinggal atau permukiman. Saat ini lebih dari 70 % dari keseluruhan luas wilayah Kecamatan Medan Selayang difungsikan sebagai kawasan permukiman. Sementara sisa wilayah lainnya di dalam kecamatan tersebut difungsikan sebagai zona ekonomi, zona jasa, serta ruang terbuka hijau (Dinas Perkimtaru Kota Medan, 2. Pertambahan penduduk setiap tahunnya di Kecamatan Medan Selayang membuat permintaan kawasan permukiman juga terus meningkat disetiap Hal ini secara langsung turut mengubah penggunaan tata guna lahan di Kecamatan Medan Selayang. Keadaan ini secara tidak langsung ikut serta mengubah siklus hidrologi di kawasan tersebut terutamanya terkait dengan koefisien limpasan . unoff coefficien. Perubahan nilai koefisien limpasan akan sangat berdampak terhadap perubahan aliran limpasan permukaan dan juga aliran stormwater. Hal ini mengakibatkan seringnya terjadi banjir perkotaan dan juga genangan air hujan di beberapa titik di Kecamatan Medan Selayang. Pemerintahan Kota Medan melalui laman resmi pemerintahannya pada bulan Juli 2024 mengumumkan setidaknya ada tujuh titik lokasi banjir yang tersebar di seluruh Kecamatan Medan Selayang. Kota Medan (Pemerintah Kota Medan, 2. Diantara solusi yang dijalankan dalam menanggulangi banjir di kawasan Kecamatan Medan Selayang ialah melakukan perubahan dimensi saluran drainase yang telag ada. Saluran-saluran drainase tersebut diperbesarkan kembali dengan harapan mampu menampung debit banjir perkotaan. Namun, solusi ini merupakan solusi yang masih bersandarkan pada sistem drainase konvensional yang tergolong dalam grey infrastructure, serta dianggap tidak memberikan dampak positif terhadap pembangunan berkelanjutan dimasa yang akan datang. Penggunaan sistem drainase konvensional juga memberikan dampak terhadap cadangan air tanah dimasa hadapan. Hal ini dikarekan sistem drainase konvensional memiliki sistem kerja mengelola air hujan yang menjadi limpasan untuk segera Jurnal Elektro dan Telkomunikasi dialirkan menuju saluran akhir utama sehingga air hujan tidak memiliki kesempatan untuk menyerap kembali ke dalam lapisan tanah dan menjadi cadangan air tanah. Maka dari itu dipandang perlu untuk mencari suatu solusi lain dan baru dalam menyelesaikan permasalahan banjir, khususnya banjir perkotaan di kawasan Kecamatan Medan Selayang. Solusi yang bersifat pembangunan berkelanjutan dan memberikan dampak positif terhadap alam dan lingkungan di masa yang akan datang. Diantara konsep pembangunan berkelanjutan yang kini banyak dikenali ialah konsep Blue Green Cities (BGC). Konsep ini tidak hanya dapat digunakan dalam menanggulangi banjir perkotaan tetapi juga menjadi solusi dalam meningkatkan cadangan air tanah dan membawa dampak yang positif bagi lingkungan. Blue Green Cities telag diterapkan di beberapa kota besar di dunia, diantaranya ialah dalam penanggulangan banjir perkotaan yang diakibatkan oleh aliran permukaan dan stormwater di Toronto dan Portland. Amerika Serikat (Briz. Selain itu juga telah diterapkan di Zagreb. Kroasia dalam menanggulangi banjir perkotaan dan mengelola sumber daya air secara berkelanjutan (Maksimovic, 2. Didalam konsep Blue Green Cities (BGC) terdapat banyak jenis infrastruktur yang masing-masing memiliki fungsi tersendiri dan kriteria penempatan serta variable pendukung yang berbeda-beda. Oleh sebab itu diperlukan suatu analisis pengambilan keputusan dalam menentukan jenis infrastruktur apa yang paling sesuai untuk diterapkan di Kecamatan Medan Selayang. Kota Medan. Pemilihan ini selanjutnya akan ditentukan dengan menggunakan analisis pengambil Keputusan berkonsep Multliple Attribute Decision Making (MADM) dengan metode yang dipilih ialah metode Simple Additive Weighting (SAW). Metode Simple Additive Weighting (SAW) merupakan salah satu metode yang biasa digunakan dalam pemilihan infrastruktur terkait manajemen sumber daya air dan juga permasalahan terkait hidrologi (Velazquez Et Al, 2. Penelitian terkait metode Simple Additive Weighting (SAW) pernah dilakukan oleh Agustian, dkk . dalam menganalisis prioritas rehabilitasi jaringan irigasi di aliran Sungai Jompo. Jember. Jawa Timur. Penelitian lainnya yang terkait dengan Simple Additive Weighting (SAW) juga pernah dilakukan oleh Putri . dalam mengambil keputusan prioritas dalam rehabilitasi bendung pada Bendung Cokrobedog. Pendowo dan Pijenan. TINJAUAN PUSTAKA Multiple Attribute Decision Making (MADM) Pengambilan keputusan merupakan salah satu dasar yang penting dalam menyelesaikan permasalahan yang Diantara contoh dalam mengambil keputusan tersebut ialah menentukan tahapan prioritas dalam memugar suatu infrastruktur yang telah ada, melakukan perbaikan pada saluran irigasi di beberapa Daerah Irigasi atau menentukan infrastruktur apa yang paling tepat untuk diterapkan dalam suatu kawasan untuk menyelesaikan permasalahan utama di kawasan tersebut. Multiple Attribute Decision Making (MADM) merupakan salah satu konsep yang dapat digunakan dalam metode pengambilan keputusan dengan mengginakan beberapa variabel dan kriteria (Alinezhad. Diantara metode-metode yang paling umum digunakan dari konsep Multiple Attribute Decision Making (MADM) ialah: metode Simple Additive Weighting (SAW) dan metode Technique for Order of preference by similarity to idela solution (TOPSIS) (Hwang et al, 1. Simple Additive Weighting (SAW) Metode Simple Additive Weighting (SAW) merupakan salah satu dari sekian metode yang terhimpun dalam konsep Multiple Attribute Decision Making (MADM) yang digunakan dalam mengambil keputusan. Metode ini dikenal secara luas karena dapat mencari penyelesaian masalah dengan kriteria yang terukur dan berbagai alternatif yang telah ditetapkan. Berikut Langkah-langkah dalam mengambil keputusan melalui metode Simple Additive Weighting (SAW) dijelaskan dalam tahapan sebagai berikut (Ahmad, dkk, 2. Menetukan kriteria yang akan dijadikan dasar pengambilan keputusan. Menentukan peringkat kesesuaian untuk setiap alternatif bagi setiap kriteria. Membangun matriks keputusan berdasarkan kriteria yang telah dipilih dan menormalkannya menggunakan Persamaan . bagi kriteria benefit dan menggunakan Persamaan . bagi kriteria cost. Tahapan ini akan menghasilkan matriks R yang dinormalisasi. persamaan yang digunakan jika atribut bersifat keuntungan . ycuycnyc ycycnyc = ycAycaycuycnycuycnyc Pers. dan, menggunakan persamaan berikut jika atribut bersifat biaya . Pers. Jurnal Elektro dan Telkomunikasi ycAycnycuycnycuycnyc ycUycnyc hasil akhir akan diperoleh dari proses pemeringkatan yang melibatkan perkalian matriks ternormalisasi R dengan vektor bobot dan menjumlahkan nilainya. Nilai tertinggi dipilih sebagai alternatif atau solusi yang paling optimal. Perangkingan hasil akhir dapat dilakukan dengan menggunakan Persamaan . sebagai ycycnyc = ycu ycOycn = Oc ycyc ycycnyc yc=ycn Pers. Blue Green Cities (BGC) Blue Green Cities (BGC) merupakan salah satu metode yang menggabungkan infrastruktur hijau . reen infrastructur. dengan manajemen sumber daya air . lue infrastructur. untuk menciptakan kembali siklus hidrologi yang lebih alami pada suatu kawasan (Vilalta, 1. Blue Green Cities (BGC) juga berfungsi sebagain infrastruktur dalam menanggulangi permasalahan-permasalahan terkait hidrologi, seperti: banjir perkotaan dan juga peningkatan Cadangan air tanah (Lawson, 2. Berikut diantara metode-metode yang terdapat di dalam konsep Blue Green Cities (Ikhwan, 2. yang akan disajikan secara lebih lengkap dalam Tabel 1, sebagai berikut: Tabel 1. Jenis-jenis Blue Green Cities Jenis Blue Green Cities Keterangan Bioretention taman hujan yang dilengkapi dengan sistem pipa peresapan air hujan kedalam Bioswale saluran terbuka yang ditanami berbagai jenis vegetasi dengan tujuan mengumpulkan air hujan dari limpasan jalan raya. Constructed Wetland konstruksi lahan basah buatan. Drainase Porous saluran drainase yang mampu meresapkan air kedalam tanah. Ecosystem Planning perencanaan pengembangan kawasan baru yang mempertimbangkan keadaan alami sekitar dan saluran drainase. Filter Strip lahan dengan rangkaian tanaman yang bertujuan menahan laju limpasan dan menyaring sedimen air limpasan. Green Roof konstruksi atap yang dirancang dengan tutupan vegetasi dan mampu menahan sementara air hujan. Green Wall struktur vertikal dengan tutupan vegetasi. Hedgerow tanaman yang disusun menyerupai struktur dinding dengan tujuan mengurangi erosi tanah akibat limpasan air hujan. Kolam Detensi kolam penampungan air hujan bersifat sementara sebelum air kembali Kolam Retensi kolam penampungan air hujan bersifat permanen, air hujan akan ditahan dan Perforated Pipe pipa bawah tanah dengan lubang kecil yang mengalirkan air hujan kedalam Permeable Pavement jenis tutupan permukaan yang terbuat dari bahan khusus berupa bahan yang mampu meresapkan air hujan. Jurnal Elektro dan Telkomunikasi Jenis Blue Green Cities Keterangan Rain Garden area lanskap yang ditumbuhi vegetasi yang berfungsi mengumpulkan dan menyerapkan air hujan dari atap perumahan. Rainwater Harvesting pemanenan air hujan. Riparian Buffer lahan pada sempadan sungai yang ditutupi vegetasi dengan tujuan menahan laju limpasan permukaan. Sumur resapan sumur dengan dinding dan dasar yang mampu meresapkan air. Tree Canopy serangkaian pohon pada sisi jalan yang dibagian bawahnya terdapat saluran drainase dan juga sistem pipa peresapan. Xeriscaping lahan yang ditanami satu jenis vegetasi yang sama, dengan tujuan pengurangan limpasan air hujan. METODOLOGI PENELITIAN Lokasi Penelitian Lokasi penelitian terletak di Kecamatan Medan Selayang. Kota Medan. Kecamatan Medan Selayang memiliki luasan wilayah seluas 23,79 km2 atau setara dengan 8,97% dari luas keseluruhan Kota Medan. Kecamatan Medan Selayang terdiri dari enam kelurahan, yaitu: Asam Kumbang. Beringin. Padang Bulan Selayang I. Padang Bulan Selayang II. Sempakata, dan Tanjungsari. Adapun Kelurahan Padang Bulan Selayang II merupakan kelurahan dengan kawasan terluas di dalam wilayah Kecamatan Medan Selayang. Peta Kecamatan Medan Selayang selanjutnya dilampirkan pada Gambar 1, sebagai berikut. Gambar 1. Peta Kecamatan Medan Selayang Jurnal Elektro dan Telkomunikasi Tahapan Analisis Metode Simple Additive Weighting (SAW) Adapun Langkah-langkah yang dilakukan dalam analisis metode Simple Additive Weighting (SAW) ialah sebagai berikut (Ahmad, 2. menentukan alternatif yang akan digunakan, dalam hal ini merujuk kepada berbagai jenis infrastruktur yang ada dalam naungan konsep Blue Green Cities. menentukan kriteria yang akan menjadi dasar dalam pengambilan keputusan. pemberian bobot kepada masing-masing kriteria. Dimana, setiap kriteria yang ada memiliki bobot yang berbeda-beda tergantung pada tingkat kepentingannya. Semakin berpengaruh kriteria tersebut terhadap pengambilan keputusan maka akan semakin besar nilainya, dan begitu juga sebaliknya. Bobot yang tertinggi ialah 30 dan yang terendah ialah 10. Nilai bobot pada masing-masing kriteria ditentukan sebagaimana tertera dalam Tabel 2, sebagai berikut: Tabel 2. Bobot untuk masing-masing kriteria Simbol Keterangan Bobot Fungsi Reduce Runoff Zona Penempatan Luas Bangunan Operasional & Pemeliharaan Biaya Fungsi dari masing-masing infrastruktur menempati bobot tertinggi: 30, dikarenakan tujuan akhir dari analisis ini ialah mencari infrastruktur yang paling tepat dalam mengurangi aliran limpasan permukaan . educe runof. , diikuti oleh zona penempatan dan juga luas bangunan, mengingat wilayah Kecamatan Medan Selayang merupakan kawasan padat penduduk dan hampir secara keseluruhan didominasi oleh kawasan permukiman, maka dari itu kriteria zona penempatan dan luas bangunan diperhitungan secara seksama dengan pemberian bobot yang tinggi, yaitu 25 untuk masing-masing kriteria tersebut. menentukan nilai kecocokan setiap alternatif untuk masing-masing kriteria, dimana nilai yang diberikan ialah berkisar antara 1 sampai dengan 5. menyusun kembali nilai kecocokan ke dalam bentuk matriks keputusan. menentukan masing-masing kriteria termasuk ke dalam jenis benefit . atau cost . Keseluruhan kriteria termasuk benefit, terkecuali biaya yang dikategorikan sebagai cost. menggunakan Persamaan . dan juga Persamaan . untuk mendapatkan matriks ternormalisasi. mengalikan hasil matriks ternormalisasi dengan setiap nilai bobot kriteria dengan menggunakan Persamaan . , sehingga didapatkan hasil akhir dari metode Simple Additive Weighting (SAW). HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam analisis ini digunakan 18 metode yang ada di dalam naungan konsep Blue Green Cities, dimana infrastruktur tersebut disusun kembali dan disajikan dalam Tabel 3, sebagai berikut: Tabel 3. Jenis infrastruktur Blue Green Cities yang akan digunakan. Simbol Jenis Blue Green Cities Bioswale Constructed Wetland Green Roof Green Wall Rainwater Harvesting Kolam Detensi Jurnal Elektro dan Telkomunikasi Simbol Jenis Blue Green Cities Filter Strip Hedgerow Perforated Pipe A10 Permeable Pavement A11 Rain Garden A12 Bioretention A13 Riparian Buffer A14 Tree Canopy A15 Kolam Retensi A16 Xeriscaping A17 Sumur Resapan A18 Drainse Porous Selanjutnya untuk setiap alternaitf akan diberikan nilai kecocokan berdasarkan kriteria yang telah Nilai kecocokan untuk setiap alternatif dan kriteria ditampilkan dalam Tabel 4, sebagaimana disajikan berikut ini. Tabel 4. Nilai kecocokan untuk setiap kriteria dan alternatif Kriteria Bobot Jenis Infrastruktur Blue Green Cities A1 A2 A3 A4 A5 A6 A7 A10 A11 A12 A13 A14 A15 A16 A17 Seterusnya masing-masing alternatif yang telah diberikan nilai kecocokan berdasarkan kriteria yang ditentukan disusun kembali menjadi sebuah matriks keputusan. Hasil matriks keputusan tersebut ditampilkan sebagaimana tertera dalam Tabel 5, sebagai berikut: Tabel 5. Matriks keputusan A10 A11 A12 A13 A14 A18 Jurnal Elektro dan Telkomunikasi A15 A16 A17 A18 Matriks keputusan tersebut kemudian dianalisis menggunakan Persamaan . dan Persamaan . sehingga menghasilkan matriks baru yang dinamakan matriks ternormalisasi. Hasil dari matriks ternormalisasi tersebut ditampilkan pada Tabel 6, sebagai berikut. Tabel 6. Matriks ternormalisasi. 1,00 0,80 1,00 1,00 4,00 1,00 0,20 0,20 0,25 1,00 1,00 1,00 0,60 0,75 2,00 0,20 1,00 0,60 0,75 2,00 0,80 0,80 1,00 1,00 4,00 1,00 0,40 0,20 0,25 1,00 0,60 0,80 1,00 1,00 4,00 0,20 0,40 0,60 0,75 3,00 1,00 0,80 1,00 0,50 3,00 A10 1,00 1,00 1,00 1,00 4,00 A11 1,00 1,00 1,00 1,00 4,00 A12 1,00 1,00 1,00 0,75 4,00 A13 0,20 0,20 0,20 0,25 1,00 A14 1,00 1,00 0,60 0,75 3,00 A15 1,00 0,40 0,20 0,25 1,00 A16 1,00 1,00 1,00 1,00 4,00 A17 1,00 1,00 1,00 1,00 4,00 A18 1,00 1,00 1,00 0,75 3,00 Kemudian hasil daripada matriks ternormalisasi dianalisis dengan menggunakan Persamaan . sebagaimana telah dijelaskan pada sub pembahasan sebelumnya, sehingga didapatkan hasil akhir dari analisis metode Simple Additive Weighting (SAW) yang disajikan dalam Tabel 7, sebagai berikut. Tabel 7. Hasil akhir dari analisis metode Simple Additive Weighting (SAW) Alternatif Hasil 125,00 52,50 97,50 73,50 119,00 57,50 113,00 68,50 110,00 A10 130,00 A11 130,00 Jurnal Elektro dan Telkomunikasi A12 127,50 A13 28,50 A14 107,50 A15 57,50 A16 130,00 A17 130,00 A18 117,50 Untuk memudahkan dalam melihat urutan hasil akhir. Tabel 7 akan disusun kembali berdasarkan peringkat dari nilai akhir tertinggi hingga ke nilai akhir terendah dan disajikan dalam Tabel 8, sebagai berikut. Tabel 8. Peringkat hasil akhir. Alternatif Hasil Keterangan A10 130,00 Permeable Pavement A11 130,00 Rain Garden A16 130,00 Xeriscaping A17 130,00 Sumur Resapan A12 127,50 Bioretention 125,00 Bioswale 119,00 Rainwater Harvesting A18 117,50 Drainase Porous 113,00 Filter Strip 110,00 Perforated Pavement A14 107,50 Tree Canopy 97,50 Green Roof 73,50 Green Wall 68,50 Hedgerow 57,50 Kolam Detensi A15 57,50 Kolam Retensi 52,50 Constructed Wetland A13 28,50 Riparian Buffer Dari hasil analisis didapati bahwasanya, urutan pertama yang paling sesuai untuk diterapkan di Kecamatan Medan Selayang dengan kriteria yang ditentukan, ialah sebagai berikut: permeable pavement, rain garden, xeriscaping dan sumur resapan. Keempatnya menduduki urutan pertama dengan nilai akhir sebesar 130. Adapun urutan kedua ditempati oleh bioretention dengan perolehan nilai akhir sebesar 127,5. Dan urutan ketiga dengan nilai akhir sebesar 125 diduduki oleh bioswale. Berdasarkan hasil tersebut, dapat diketahui bahwa infrastruktur Blue Green Cities yang paling tepat untuk diterapkan di wilayah Kecamatan Medan Selayang yang hampir 70% kawasannya dimanfaatkan sebagai kawasan permukiman dan bertujuan utama dalam menanggulangi aliran permukaan . educe runof. ialah permeable pavement, rain garden, xeriscaping dan sumur resapan. Keempat infrastruktur tersebut umumnya memiliki nukuran yang sesuai untuk diterapkan di kawasan permukiman, serta dapat dibangun dengan biaya yang terjangkau dan perawatan setelahnya tergolong mudah sehingga dapat dipahami masyarakat umum. KESIMPULAN Hasil analisis pengambilan keputusan melalui metode Simple Additive Weighting (SAW) menunjukan bahwa: permeable pavement, rain garden, xeriscaping dan sumur resapan merupakan bangunan yang paling sesuai untuk diterapkan di wilayah Kecamatan Medan Selayang dengan perolehan nilai akhir sebesar 130. Adapun infrastruktur Jurnal Elektro dan Telkomunikasi Blue Green Cities yang paling tidak sesuai untuk diterapkan di kawasan Kecamatan Medan Selayang ialah constructed wetland dan riparian buffer yang masing-masing memperoleh nilai akhir sebesar 52,5 dan 28,5. DAFTAR PUSTAKA