52 Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 DOI http://dx. org/10. 36722/sh. Representasi Politik dan Agama dalam Film Boy From Heaven Sosiologi Sastra Alan Swingewood Nur Asiyah Batubara1* Sastra Arab. Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Sumatera Utara. Jl. Universitas No. Kota Medan, 20155. Penulis untuk Korespondensi/E-mail: nurasiyah@students. Abstract Ae Boy From Heaven is a SwedishAeEgyptian film directed by Tarik Saleh that explores social conflicts, particularly the interplay between politics and religion. The purpose of this study is to reveal how political and religious dynamics are represented in the power struggle. This research employs Alan SwingewoodAos sociology of literature, which focuses on social issues reflected in literary works. The method used is descriptive qualitative because it allows the researcher to portray events and phenomena as they occur. The primary data source is the film Boy From Heaven by Tarik Saleh. The research findings indicate that the state carries out interventions through surveillance, manipulation, and control over religious scholars within the socio-political context. The study concludes that the film not only reflects the socio-political realities in Egypt but also criticizes the abuse of power and political interference in religious Abstrak - Film Boy From Heaven merupakan salah Satu film Swedia-Mesir karya Tarik Saleh yang mengangkat isu konflik sosial dalam masyarakat yaitu politik dan agama. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis representasi politik dan agama dalam perebutan kekuasaan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah sosiologi sastra Alan Swingewood yang berkaitan dengan permasalahan sosial yang terjadi dalam masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Deskriptif Kualitatif, karena dapat menggambarkan peristiwa atau kejadian apa yang sedang diteliti. Sumber data yang digunakan yakni film Boy From Heaven karya Tarek Saleh. Temuan penelitian mengindikasikan bahwa negara melakukan intervensi melalui pengawasan, manipulasi dan pengendalian terhadap ulama dalam konteks sosial-politik. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa film itu tidak hanya mencerminkan realitas sosial-politik di Mesir, melainkan juga mengkritik penyalahgunaan kekuasaan serta campur tangan politik terhadap otoritas keagamaan. Keywords - Alan Swingewood. Boy From Heaven. Politics and Religion. Representation. Sociological Literature. PENDAHULUAN gama dan negara merupakan dua entitas penting yang sama-sama berperan dalam kehidupan manusia, meskipun keduanya membawa fungsi sosial yang berbeda. Menurut Hasan ( 2. , dalam perjalanan sejarah, hubungan keduanya mengalami dinamika karena agama yang semula berdiri sejajar dengan negara kemudian bergeser mengikuti arah kekuasaan sehingga posisinya dapat dimanfaatkan oleh penguasa. Dalam kondisi seperti itu, nilai-nilai agama yang seharusnya menjadi pedoman moral masyarakat berpotensi mengalami distorsi. Meskipun politik dan agama memiliki peran yang berbeda, pada kenyataannya agama sering dimanfaatkan untuk kepentingan politik, sehingga nilaiAcnilai yang semestinya menjadi pedoman moral justru dijadikan alat dalam perebutan kekuasaan (Sonjaya & Diningrat, 2. Sejalan dengan itu, (Wingarta et al. , 2. menjelaskan bahwa politik identitas berbasis agama sering digunakan oleh aktor politik untuk meraup dukungan elektoral dan dapat memicu polarisasi serta konflik sosial yang mengancam kualitas demokrasi Indonesia. Lebih jauh, (Sukri Ali, 2. menunjukkan bahwa politisasi agama dalam kontestasi politik lokal juga menjadi strategi untuk memengaruhi preferensi Received: 03 December 2025. Accepted: 02 March 2026. Published: 31 Mrch 2026 Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 pemilih dan memperkuat dukungan terhadap kandidat tertentu. Karena itu, relasi antara agama dan politik perlu dikaji secara hati- hati agar ajaran agama tidak kehilangan fungsi etisnya ketika berhadapan dengan kepentingan kekuasaan. Pada kenyataannya hubungan antara politik dan agama tidak hanya terjadi di dunia nyata, namun juga merupakan gambaran dalam karya sastra dan media populer seperti film. Film merupakan gambaran realita sosial yang berkembang di tengahtengah masyarakat yang disajikan melalui gambar dan audio visual (Sobur, 2. Film mempunyai fungsi sebagai penyampaian budaya . ultural Sebagaimana yang dijelaskan oleh (Lippmann, 2. yang mengatakan Auworld outside and pictures in our headAoAo, film bukan hanya sekadar penyampaian realita namun juga dapat membentuk cara pandang penonton terhadap realita tersebut. Dalam komunikasi, film mampu mengkonstruksi realitas sosial melalui praktik representasi, cerita dalam film adalah konstruksi pembuatnya dan penonton yang memproduksi makna tersebut (Christya, 2. Lebih lanjut, teori kultivasi menyatakan bahwa paparan jangka panjang terhadap narasi film dapat membentuk persepsi penonton tentang dunia nyata (Gerbner, 2. Film membuka interpretasi orang atau penikmatnya, melalui gambar & audio visual yang disajikan (Rachman, 2. Studi-studi sebelumnya yang berkaitan dengan kajian sosiologi sastra memberikan wawasan awal bagi peneliti dalam melakukan penelitian ini. Beberapa hasil penelitian terdahulu yang relevan akan dipaparkan berikut ini sebagai pijakan teoritis dan empiris. Seperti, hasil penelitian dari Reza Dwi Oktafianti dan Haris Shofiyuddin dengan judul AuKonflik Sosial dalam Ruang Domestik pada Film Ipar Adalah Maut: Sosiologi Sastra Alan SwingewoodAy menjelaskan bahwa dalam film tersebut mencerminkan bagaimana perselingkuhan dan dampak psikologi serta sosial yang muncul dalam realita sosial masyarakat (Oktafianti & Shofiyuddin, 2. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Nensilianti et al. dengan judul Aurefleksi sosial dalam novel manusia & badainya . erjalanan menuju puli. karya syahid muhammad . ajian sosiologi sastra alan swingewoo. Ay juga membahas refleksi sosial, seperti kekerasan dalam rumah tangga dan dampaknya terhadap kesehatan mental, sesuai dengan teori Alan Swingewood. Penelitian sejalan dengan teori sosiologi sastra Alan Swingewood yang mengatakan bahwa sosiologi adalah pendekatan ilmiah yang menekankan analisis objektif terhadap manusia dan masyarakat, lembaga sosial, serta proses-proses sosial. Sementara itu, sastra juga sering menyoroti kehidupan masyarakat, adaptasi mereka terhadap lingkungan dan keinginan untuk mengubah hidup. Alan Swingewood mengemukakan tiga pendekatan utama dalam memahami karya sastra sebagai produk sosial. Ketiga pendekatan yaitu sastra sebagai cerminan masyarakat, sastra sebagai dokumen sosial dan sastra sebagai kritik sosial. Ketiga pendekatan ini bertujuan menganalisis hubungan antara karya sastra dan masyarakat, baik sebagai cerminan, dokumen, maupun alat kritik sosial (Oktafianti & Shofiyuddin. Studi-studi sebelumnya telah banyak mengkaji realitas sosial dalam karya sastra dan film menggunakan pendekatan sosiologi, khususnya sosiologi sastra Alan Swingewood, seperti penelitian mengenai konflik domestik dan isu kekerasan dalam rumah tangga (Oktafianti & Shofiyuddin, 2024. Nensilianti, et al. , 2. , namun kajian yang secara spesifik menganalisis relasi politik dan otoritas keagamaan dalam konteks lembaga pendidikan Islam kontemporer seperti yang direpresentasikan dalam film Boy From Heaven masih relatif terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya mengisi hal tersebut dengan menggunakan kerangka sosiologi sastra sebagai cerminan, dokumen dan kritik sosial. Salah satu film yang menyoroti tema tersebut adalah film boy from heaven . karya Tarik Saleh. Film tersebut mengilustrasikan bagaimana kehidupan seorang mahasiswa di universitas ternama yaitu Al azhar. Kairo yang terjebak dalam konflik politik yang melibatkan lembaga agama dan kekuasaan Film tersebut memperlihatkan bahwasanya agama tidak terlepas dari hubungan politik dan begitu juga sebaliknya, kekuasaan politik sering memanfaatkan agama sebagai alat untuk perebutan Hal ini relevan dengan kajian tentang peran media dan representasi politik di wilayah Timur Tengah (Ghannam, 2. Dengan demikian, film Boy from Heaven bukan hanya sekadar kisah fiktif, tetapi juga menggambarkan realitas sosial dan politik yang mendesak untuk dikaji khususnya konflik agama dan politik dalam institusi keagamaan seperti yang dianalisis dalam studi terbaru (Aji & Harani, 2. Dalam memahami lebih dalam makna sosial dalam film tersebut, diperlukan metode yang dapat melihat keterkaitan antara karya sastra dengan struktur sosial yang mendasarinya. Teori sosiologi sastra yang Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 dikemukakan oleh Alan Swingewood memberikan rancangan yang sesuai untuk menganalisis hal ini. Sosiologi merupakan kajian yang bersifat ilmiah yang bersifat objektif mengenai kehidupan manusia dalam masyarakat, termasuk lembaga-lembaga serta proses sosial yang ada di dalamnya. Melalui sosiologi, dapat dipahami bagaimana masyarakat Menurut Alan Swingewood (Marwantina, 2. Sastra sebagai cerminan sosial menempatkan karya sastra sebagai refleksi langsung dari berbagai aspek kehidupan masyarakat, termasuk struktur sosial, konflik, hubungan keluarga dan perkembangan sosial lainnya. Dengan pendekatan ini, film Boy From Heaven dapat diteliti sebagai representasi dari interaksi antara ideologi agama dan kekuasaan politik di masyarakat. Meskipun sastra dan sosiologi berpotensi saling perkembangan yang sangat lambat dan belum mapan karena resistensi kuat dari kritikus sastra yang bersikeras pada pendekatan intrinsik serta buruknya kualitas sebagian besar kajian sosiologi sastra awal. Para penentang berargumen bahwa perbedaan metode dan sifat unik karya sastra membuat sosiologi tidak relevan untuk analisis mendalam, sementara ahli sosiologi sastra cenderung menggunakan sastra sekadar sebagai dokumen atau cermin dari keadaan sosial. Meskipun demikian, sosiologi tetap dipandang krusial untuk melengkapi pemahaman yang utuh tentang sastra, terutama dalam mengaitkan unsur-unsur tematik karya dengan konteks sejarah dan sosialnya. Dengan menelaah berbagai lembaga sosial seperti ekonomi, agama, dan politik yang menjadi bagian dari struktur sosial, kita dapat melihat bagaimana manusia menyesuaikan diri dengan lingkungannya melalui proses sosialisasi dan pembudayaan (Sapardi Djoko Damono, 1. Tujuan dari penelitian ini adalah berfokus pada analisis representasi hubungan politik dan agama dalam film Boy From Heaven menggunakan perspektif sosiologi sastra Alan Swingewood. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana film mampu menjadi media introspektif terhadap realitas sosial-politik yang kompleks, sekaligus mengungkap cara pandang masyarakat terhadap hubungan antara agama dan kekuasaan. METODE Penelitian ini menggunakan Desain Kualitatif dengan Pendekatan Deskriptif Analitis, berfokus pada penjelasan makna simbol dan pesan sosial yang terkandung dalam objek utama yaitu film Boy From Heaven . karya Tarik Saleh. Penelitian ini mengkaji objek lewat unsur naratif dan sinematik plot, tokoh, percakapan, serta elemen visual dengan kriteria tematik dan kontekstual yang menonjolkan hubungan kuasa antara pelaku politik dan otoritas Data dipilih berdasarkan adegan, dialog, karakter dan simbol visual yang memuat wacana legitimasi, ideologi, serta intervensi kekuasaan dalam ranah politik dan agama. Sumber data berupa teks film sebagai dokumen audiovisual, diperoleh melalui studi dokumentasi dengan menonton film berulangAculang . lose viewin. , mencatat secara sistematis dan menelaah literatur pendukung sebagai data sekunder. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif-kualitatif melalui tahapan identifikasi unsur film, dilanjutkan dengan klasifikasi dan penafsiran makna sosial adegan berdasarkan teori Sosiologi Sastra Alan Swingewood untuk mengkaji fungsi film sebagai cerminan, dokumen dan kritik sosial, sehingga mampu memberikan pemahaman mendalam mengenai representasi politik dan agama dalam konteks sosial yang lebih luas. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil dan Pembahasan dalam penelitian ini menggunakan tiga konsep teori sosiologi sastra oleh Alan Swingewood yaitu sastra sebagai cerminan masyarakat, sastra sebagai dokumentasi sosial dan sastra sebagai kritik sosial. Ketika konsep tersebut digunakan untuk melihat bagaimana representasi politik dan agama dalam film boy from heaven menggunakan teori sosiologi sastra Alan Swingewood dalam konteks masyarakat muslim Film ini bukan hanya menyajikan cerita tetapi juga menggambarkan kondisi sosial dan politik yang kompleks melalui adegan, goalog, serta symbol-simbol visual tertentu sebagai berikut. Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 Representasi Agama Lembaga Berpengaruh dalam Kekuasaan (Refleksi Sosia. Gambar 1. Imam Besar Berpidato di Hadapan Mahasiswa Al-Azhar Film tersebut juga menggambarkan bagaimana lembaga keagamaan ternyata tidak berdiri sendiri melainkan terhubung dengan urusan politik negara. Hal tersebut terlihat jelas pada gambar 2 yang menggambarkan setelah wafatnya imam besar dan terdengar ke telinga pemerintahan. Kolonel Ibrahim pun melakukan rapat dengan aparat keamanan negara yang membahas tentang siapa yang akan menjadi imam besar selanjutnya setelah wafatnya imam besar sebelumnya. Pada adegan tersebut memperlihatkan bahwa negara menganggap bahwa jabatan imam besar sangat penting dan berpengaruh bagi stabilitas politik negara. Sebagaimana yang terlihat pada gambar 3. Teori pertama Swingewood menekankan bahwa karya sastra merupakan cerminan langsung dari struktur sosial Masyarakat dalam film, hal ini diperlihatkan pada gambar 1. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwasanya film dapat menggambarkan eratnya hubungan antara agama dan politik di Mesir. Sebagaimana yang terlihat pada gambar 1 ketika Imam Besar berpidato di depan mahasiswa Universitas AlAcAzhar dan menyebut institusi tersebut sebagai Aumercusuar dunia IslamAy, ia tidak hanya menegaskan otoritas religiusnya, tetapi juga menyoroti peran politis lembaga keagamaan sebagai sumber legitimasi moral dan sosial. Menurut sudut pandang sosiologi sastra Alan Swingewood, teks ini menggambarkan struktur kekuasaan dalam Masyarakat, dengan demikian AlAcAzhar digambarkan bukan sebagai entitas netral, melainkan sebagai lembaga yang memengaruhi pembentukan ideologi, menentukan arah sosial dan secara simbolis memberikan legitimasi bagi kekuasaan politik di dunia Islam. Gambar 3. Aparat berkata AuCalon Kita untuk Menjadi Imam Besar BerikutnyaAoAo Scene pada gambar 3 semakin memperjelas akan ikut campurnya negara ke dalam lembaga Sebagaimana ketika salah satu lembaga keamanan negara mengatakan Aucalon kita untuk menjadi imam besar berikutnyaAoAo, pada pernyataan tersebut dapat dilihat bagaimana konflik antara politik dan agama yang dimana pihak pemerintahan menginginkan imam besar selanjutnya harus berasal dari pihak mereka yang memiliki pandangan yang sama dengan pemerintahan Mesir. Dengan demikian lembaga keamanan negara mencoba untuk mendapatkan kekuasaan harus sesuai dengan yang mereka inginkan bagaimanapun caranya. Film sebagai dokumen Realitas Sosial Menurut teori Alan Swingewood yang kedua, film juga berfungsi sebagai dokumen sosial (Social Documen. yang merekam kondisi sosial pada masyarakat tertentu. Dalam film ini diperlihatkan secara jelas bagaimana negara masuk ke ruang Gambar 2. Rapat Kolonel Ibrahim & Aparat Keamanan Negara Setelah Imam Besar Wafat Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 Gambar 4. Adam Disusupkan Sebagai Mata-Mata Scene pada gambar 4 memperlihatkan setelah Adam dipaksa menjadi mata mata oleh kolonel ibrahim dan disuruh untuk menyusu lebih jauh ke dalam berbagai kelompok keagamaan dan terlibat dengan banyak orang di kampusnya. Hal tersebut menunjukkan politisasi agama bagaimana keamanan atau lembaga negara bukan hanya mengawasi lembaga agama dari luar tapi juga mengutus mata mata atau informan untuk mengendalikan atau mencari tahu apa yang terjadi di dalam lembaga keagamaan secara diam diam. Bentuk dokumentasi sosial juga terlihat jelas pada gambar 5. melakukan pembunuhan atas zizo yang sebenarnya bukan dia yang melakukannya. Pada scene tersebut menggambarkan bagaimana aparat keamanan negara dapat melakukan sesuatu dengan sesuka mereka bahkan dengan mengancam rakyat kecil agar tunduk kepada mereka yaitu Adam agar mengakui kesalahan yang tidak ia perbuat. Hal tersebut menggambarkan praktik penyalahgunaan kekuasaan yang sering terjadi dalam masyarakat. Temuan ini menemukan kesesuaian dengan studi Reza Dwi Oktafianti dan Haris Shofiyuddin . yang menunjukkan bahwa film dapat menggambarkan konflik sosial yang nyata termasuk intervensi kekuasaan dalam kehidupan masyarakat. Gambar 6. Adam Diintimidasi Polisi agar Mengaku Membunuh Zizo Padahal tidak yang Melakukannya Pendekatan Kritik Sosial (Social Criticis. dan Implikasi Teori ketiga Swingewood menyebutkan bahwa karya sastra dapat menjadi kritik sosial. Film ini memberikan kritik yang kuat terhadap praktik penyalahgunaan kekuasaan di dalam negara. Gambar 5. Rapat Kolonel Ibrahim dengan Para Ulama dan Dialog AuPresiden Nasser mencoba mengubah AlAzhar menjadi lembaga negaraAy Scene pada gambar 5 memperlihatkan ketika kolonel Ibrahim mengadakan rapat dengan para ulama AlAzhar. Kolonel ibrahim pada scene tersebut bertanya kapan pengumuman imam besar berikutnya namun ada seorang ulama yang memberikan pernyataan bahwa AuPresiden Nasser mencoba mengubah AlAzhar menjadi lembaga negaraAoAo, pernyataan tersebut memperkuat bahwasanya film tersebut merekam sejarah atau situasi nyata yaitu bagaimana pemerintahan Mesir sebelumnya dan sekarang selalu berupaya untuk mengubah dan mengontrol lembaga pendidikan khususnya Al-Azhar. Bukan hanya itu saja Pada scene gambar 6 juga terlihat jelas bagaimana film boy from heaven memperlihatkan dokumentasi sosial ketika aparat keamanan memaksa adam untuk mengaku Gambar 7. Adam Dipaksa Menjalankan Perintah Kolonel Ibrahim Scene pada gambar 7 terlihat ketika Adam bertemu dengan Kolonel Ibrahim pertama kalinya. Adam dipaksa untuk mengikuti perintahnya yaitu untuk menjadi informan berikutnya. Adam tidak diberikan pilihan apapun dan dia terpaksa mengikuti perintah dari kolonel ibrahim kalau tidak dirinya akan bernasib sama dengan zizo informan sebelumnya yang telah dibunuh dari kalangan lembaga keamanan negara itu sendiri. Pada scene tersebut Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 mengkritik negara yang memanfaatkan rakyat kecil sebagai alat untuk mencapai tujuan politik demi kepentingan mereka sendiri tanpa menghiraukan nasib rakyat kecil. Gambar 8. Syekh Buta Ditahan dan Memberi Nasihat Moral Kepada Kolonel Ibrahim dalam Film Boy from Heaven . Kritik semakin jelas ketika Syekh Buta ditahan oleh aparat keamanan negara dikarenakan isu hoaks dirinya sebagai pembunuh Zizo, asisten nya sendiri yang dengan hal itu dirinya tersingkirkan untuk menjadi calon kandidat imam besar, namun saat Kolonel Ibrahim mengunjungi Syekh Negm alias Syekh Buta di penjaga tahanan dan mengobrol dengan syekh buta saat itu Syekh Buta mengatakan AuSi pembunuh akan membawa korbannya di punggungnya untuk selamanyaAoAo. Pernyataan tersebut dibaca sebagai kritik terhadap aparat yang menindas ulama yang tidak bersalah demi mempertahankan kekuasaan. Puncak kritik sosial muncul pada gambar 9. lembaga pemerintahan. Dengan demikian pada scene tersebut mengkritik bagaimana lembaga keagamaan yang seharusnya independen justru malah dipolitisasi oleh negara sehingga keputusan yang lahir bukan lagi murni berdasarkan integritas keagamaan namun melahirkan hasil yang sudah direkayasa politik. Hal ini sejalan dengan penelitian Nensilianti et al. yang menunjukkan bahwa karya sastra tidak hanya mencerminkan realitas, ketidakadilan dan penyimpangan sosial. KESIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa film Boy From Heaven . berhasil merepresentasikan dan mengkritik hubungan kompleks antara kekuasaan politik dan otoritas keagamaan di dunia Islam Melalui lensa sosiologi sastra Alan Swingewood, film ini berfungsi sebagai cerminan sosial yang memperlihatkan lembaga agama (AlAzha. telah diintervensi dan dijadikan arena perebutan perebutan kekuasaan. Lebih dari itu, berbagai adegan menunjukkan praktik politisasi agama, mulai dari pengawasan lembaga keagamaan, penyusupan informan, manipulasi proses pemilihan, hingga tekanan dan kekerasan terhadap individu seperti Adam yang dipaksa terlibat dalam konflik Selain mencerminkan realitas sosial-politik masyarakat Mesir, film ini juga memberikan kritik tajam terhadap penyalahgunaan kekuasaan oleh aparat negara yang menundukkan otoritas keagamaan demi stabilitas dan agenda politik. Dengan demikian, film ini tidak hanya menggambarkan kondisi sosial yang kompleks, tetapi juga mengungkap ketegangan struktural antara agama dan negara. UCAPAN TERIMA KASIH Gambar 9. Blebawi Terpilih sebagai Imam Besar Melalui Voting yang Direkayasa Scene diatas memperlihatkan ketika blebawi akhirnya terpilih menjadi imam besar Al-Azhar berikutnya, walaupun sebelumnya prosesnya sudah dimanipulasi oleh lembaga negara atau aparat keamanan namun pemilihan tetap dilakukan secara voting oleh para ulama, namun aparat negara sebelumnya sudah melakukan penyaringan informasi, mempengaruhi ulama tertentu dan menyingkirkan kandidat yang tidak sejalan dengan Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat dan memberikan kontribusi dalam penelitian, khususnya kepada Bapak Zulfan Lubis, selaku dosen mata kuliah Sosiolinguistik yang telah membimbing dan memberikan arahan serta masukan kepada peneliti. DAFTAR PUSTAKA