ENVIRONMENTAL INSIGHT JOURNAL e-ISSN 3090-6105 Volume 1. Number 2. Page 105 - 119. July 2025 Hubungan Kondisi Curah Hujan dan Kualitas Udara Ambien terhadap Kejadian Penyakit ISPA di Sorow ako Provinsi Sulaw esi Selatan Correlation of Rainfall Conditions and Ambient Air Quality with The Incidence of Acute Respiratory Infections (ARI) In Sorowako. South Sulawesi Siti Halimah Tusaddiah 1*). Radjali Amin2. Rukmini2. Chafid Fandeli2. Nasirudin2 1 Environmental Department. P T. Vale Indonesia Tbk. Sorowako. South Sulawesi. Indonesia Lingkungan. Fakultas P ascasarjana. Institut Teknologi Yogyakarta. Yogyakarta. Indonesia 2 P rogram Studi Magister Ilmu *) Corresponding Article history: Received: 20 March 2025 Revised: 16 May 2025 Accepted: 30 July 2025 Kata kunci: Curah hujan Kualitas udara ISPA Pencemar udara author: imhakhay@gmail. ABSTRAK ISPA sering menjadi penyakit dengan jumlah penderita Pada tahun 2022. Puskesmas Nuha mencatat 3759 kasus ISPA, menempatkannya sebagai penyakit terbanyak. Kualitas udara dan kondisi curah hujan, dapat mempengaruhi kesehatan dan jumlah kasus ISPA. Curah hujan membantu menurunkan konsentrasi polutan udara melalui deposisi basah. Penelitian ini mengkaji korelasi antara curah hujan, kualitas udara, dan tingginya penderita ISPA di Sorowako. Penelitian ini menggunakan metode potong lintang, yaitu suatu penelitian yang bertujuan untuk mempelajari dinamika hubungan antar a faktor risiko dengan efek. Kualitas udara dinilai berdasarkan konsentrasi SO2. PM10. PM2,5 dan tingkat curah hujan yang kemudian dihubungkan dengan penyakit ISPA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata curah hujan di Sorowako pada tahun 2022 hingga 2023 adalah sebesar 247,30 mm per bulan. Sedangkan rata-rata konsentrasi PM2,5 adalah 19,48 g/m3. PM10 adalah 22,18 g/m3 dan SO2 sebesar 8,99 g/m3. Rata rata penderita penyakit ISPA per bulan di Sorowako pada rentang tersebut adalah sebanyak 292 orang. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara beberapa parameter kualitas udara dengan kejadian penyakit ISPA. Pengaruh curah hujan juga tidak secara signifikan menjelaskan variabilitas dalam kejadian ISPA. Hal ini mengindikasikan bahwa terdapat faktor lain yang dapat berkontribusi pada kejadian ISPA. ABSTRACT Siti Halimah Tusaddiah et a l. / Environmental Insight Journal. Vol. No. July 2025 ENVIRONMENTAL INSIGHT JOURNAL e-ISSN 3090-6105 Volume 1. Number 2. Page 105 - 119. July 2025 Keywords: Rainfall Air quality ARI Air pollutants Acute Respiratory Infections (ARI) often had the highest number of cases in a region. In 2022, the Nuha Health Center recorded 3,759 ARI cases, making it the most prevalent disease. Air quality and meteorological conditions, such as rainfall, could impact health and ARI incidence. Rainfall helped reduce air pollutant concentrations through wet deposition, affected air quality in Sorowako. This study examined the correlation between rainfall, air quality, and the high incidence of ARI in Sorowako. The research employed a cross-sectional method, which aimed to explore the dynamics between risk factors and Air quality was assessed based on SOCC. PM10. PM2. concentrations, and rainfall levels, which were then correlated to ARI The results indicated that the average rainfall in Sorowako from 2022 to 2023 was 247. 30 mm per month. The average concentrations of PM2. PM10, and SOCC were 19. 48 g/mA, 22. 18 g/mA, and 8. g/mA, respectively. The average monthly ARI cases were 292. The analysis showed no significant relationship between air quality parameters (SOCC. PM10. PM2. and ARI incidence. Rainfall also did not significantly explain the variability in ARI cases, indicating other factors may contribute to ARI occurrence. PENDAHULUAN Komponen yang ada di udara memiliki fungsi yang berbeda. Apabila susunan udara mengalami perubahan dari kondisi normal, hal ini akan mengganggu kehidupan manusia, hewan, dan tumbuhan, sehingga udara tersebut dianggap telah tercemar (Mulyono, 2. Pencemaran udara adalah masuknya substansi atau kombinasi berbagai substansi ke dalam udara sehingga menciptakan gangguan, kerugian, atau memiliki potensi merugikan terhadap kesehatan dan kehidupan manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, atau benda, serta menciptakan ketidaknyamanan (Nurmayanti dan Purwoko, 2. Zat-zat pencemar atau polutan yang terdapat di udara bebas dapat berasal dari alam maupun dari aktivitas manusia. Sorowako merupakan sebuah daerah yang terletak di ujung utara Provinsi Sulawesi Selatan. Kabupaten Luwu Timur. Kecamatan Nuha. Berdasarkan data Disdukcapil Kabupaten Luwu Timur tahun 2022, kabupaten ini memiliki luas wilayah 944,98 kmA dengan jumlah penduduk sebanyak 306. 072 jiwa. Mengingat jumlah penduduk yang banyak dan akan terus bertambah, kebutuhan pemantauan kualitas udara akan menjadi semakin penting untuk memastikan bahwa udara tetap sehat dan aman bagi masyarakat. Salah satu dampak signifikan yang timbul akibat aktivitas manusia adalah terbentuknya gas-gas berbahaya seperti sulfur dioksida (SO . Gas ini terbentuk saat terjadi pembakaran bahan bakar fosil yang mengandung sulfur (Sudrajat, 2. Dampak selanjutnya adalah potensi terbentuknya partikulat di udara dalam bentuk PM10 dan PM2,5 yang dapat mempengaruhi tingkat kesehatan udara di lingkungan Berdasarkan data dari Puskesmas Kecamatan Nuha Sorowako, tercatat bahwa penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan kasus penyakit terbanyak pada tahun 2022. ISPA merupakan salah satu dampak dari adanya Siti Halimah Tusaddiah et a l. / Environmental Insight Journal. Vol. No. July 2025 ENVIRONMENTAL INSIGHT JOURNAL e-ISSN 3090-6105 Volume 1. Number 2. Page 105 - 119. July 2025 pencemaran udara (Situmorang, 2. ISPA menyerang bagian pernapasan atas, di antaranya hidung, tenggorokan, hingga paru-paru. Penyakit ini termasuk dalam golongan air borne disease, yaitu penyakit yang ditularkan melalui udara (Lalu et al. ISPA dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, termasuk pencemaran Udara merupakan komponen yang secara tidak langsung membawa partikel debu dan tetesan cairan yang mengandung mikroorganisme berbahaya yang dapat mempengaruhi kesehatan manusia (Sudarmo, 2. Curah hujan yang tinggi dapat meningkatkan kelembaban udara, menciptakan kondisi yang mendukung pertumbuhan mikroorganisme. Selain itu, genangan air yang muncul akibat curah hujan berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya mikroorganisme patogen. Mikroorganisme ini kemudian dapat tersebar melalui udara saat air menguap atau diserap oleh tanah. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko penyakit yang ditularkan melalui udara, terutama dalam lingkungan yang tidak optimal (Fadilah & Priyono, 2. Oleh karena itu, melihat tingginya angka kejadian penyakit ISPA di Sorowako, maka dirasa perlu untuk dilakukan kajian lebih lanjut mengenai hubungan kondisi curah hujan dan kualitas udara ambien terhadap kejadian penyakit ISPA di Sorowako. BAHAN DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di wilayah Kecamatan Nuha. Kabupaten Luwu Timur. Provinsi Sulawesi Selatan, tepatnya di Sorowako. Gambar 1 menunjukkan Citra Satelit Daerah Sorowako. Titik Pemantauan Udara Ambien Sorowako merupakan wilayah konsesi PT. Vale Indonesia Tbk. , yang menjadi pusat utama operasi penambangan dan pengelolaan nikel. Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa data kondisi curah hujan, data parameter pencemar udara yaitu SO2. PM10 dan PM2,5, dan data kejadian penyakit ISPA dari tahun 2022 dan 2023, dengan waktu penelitian berlangsung mulai pertengahan tahun 2023 hingga tahun 2024. Metode Pengumpulan Data Penelitian ini menggunakan data sekunder yang terdiri dari data curah hujan yang berasal dari Laporan Klimatologi Bulanan PT. Vale Indonesia Tbk. , kemudian data konsentrasi udara ambien untuk parameter SO2. PM10 dan PM2,5 yang berasal dari Laporan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (RKL/RPL) PT. Vale Indonesia Tbk. , dan data kejadian penyakit ISPA dari laporan kegiatan program ISPA UPTD Puskesmas Nuha. Seluruh data bersifat kuantitatif yang merupakan data dari bulan Januari hingga Desember tahun 2022 dan 2023. Data yang terkumpul dikelompokkan dan dirata-ratakan menjadi data per bulan dan diolah dengan menggunakan perangkat pengolah data SPSS. Siti Halimah Tusaddiah et a l. / Environmental Insight Journal. Vol. No. July 2025 ENVIRONMENTAL INSIGHT JOURNAL e-ISSN 3090-6105 Volume 1. Number 2. Page 105 - 119. July 2025 Gambar 1. Citra Satelit Daerah Sorowako: Titik Pemantauan Udara Ambien Uji Statistik Prosedur atau tahap analisis data penelitian terbagi menjadi tiga tahap yaitu analisis deskriptif, analisis korelasi, dan analisis regresi. Analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan karakteristik utama dari data tanpa membuat kesimpulan yang lebih Data curah hujan, kualitas udara, dan kejadian ISPA akan dianalisis secara deskriptif untuk memahami tren dan pola data selama periode penelitian. Uji normalitas digunakan untuk menentukan apakah data sampel mengikuti distribusi Uji normalitas dilakukan dengan metode Kolmogorov-Smirnov dan ShapiroWilk. Nilai p yang dihasilkan dari uji ini menunjukkan sejauh mana data menyimpang dari distribusi normal. Nilai p lebih besar dari 0,05 mengindikasikan bahwa data tidak secara signifikan berbeda dari distribusi normal. Analisis korelasi untuk mengukur dan menentukan kekuatan serta arah hubungan antara dua atau lebih variabel. Uji korelasi Pearson atau Spearman akan digunakan untuk mengevaluasi hubungan an tara kondisi curah hujan, konsentrasi polutan udara (SOCC. PM10. PM2,. dengan kejadian ISPA. Untuk data yang normal akan dianalisis dengan metode Pearson Product Moment (PPM), sedangkan untuk data yang tidak normal akan dianalisis dengan metode uji statistik non parametrik Spearman Rank . Korelasi PPM dilambangkan dengan ketentuan bahwa nilai r tidak lebih dari harga (-1 O r O . Apabila nilai r = -1 artinya korelasinya negatif sempurna, r = 0 artinya tidak ada korelasi, dan r = 1 berarti korelasinya sangat kuat. Analisis regresi untuk memahami hubungan antara satu variabel dependen dan satu atau lebih variabel independen. Regresi linier berganda digunakan untuk memodelkan pengaruh curah hujan dan kualitas udara secara simultan terhadap kejadian ISPA. Model ini akan membantu mengidentifikasi seberapa besar kontribusi masing-masing variabel independen terhadap peningkatan atau penurunan kejadian ISPA. Siti Halimah Tusaddiah et a l. / Environmental Insight Journal. Vol. No. July 2025 ENVIRONMENTAL INSIGHT JOURNAL e-ISSN 3090-6105 Volume 1. Number 2. Page 105 - 119. July 2025 HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan data dari stasiun pemantauan curah hujan PT. Vale Indonesia Tbk. kondisi curah hujan di Sorowako pada tahun 2022 hingga 2023 digambarkan pada Tabel 1 berikut. Tabel 1. Data Curah Hujan Sorowako menurut Bulan Periode 2022 -2023 Curah Hujan Tahun Curah Hujan Tahun Bulan 2022 . Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Tabel 1 menunjukkan perbedaan variasi curah hujan antara periode 2022 Pada tahun 2022, secara umum curah hujan relatif konsisten dengan beberapa bulan menunjukkan tingkat curah hujan sedang hingga tinggi, terutama di awal tahun. Namun curah hujan tahun 2023 menunjukkan variasi yang lebih ekstrim. Pada awal tahun, curah hujan di tahun 2023 lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2022 untuk bulan Januari hingga Maret, tetapi mulai meningkat tajam pada bulan April dan Mei. Pada pertengahan tahun, tepatnya bulan Mei 2023, terjadi peningkatan curah hujan yang sangat signifikan yaitu 732,1 mm, jauh lebih tinggi daripada bulan Mei 2022 yang sebesar 304,6 mm. Hal ini menunjukkan adanya anomali cuaca atau perubahan pola hujan (BMKG, 2. Menariknya, pada bulan September hingga Desember 2023, curah hujan cenderung lebih tinggi daripada tahun 2022, dengan Desember 2023 mencapai 520 mm, lebih dari tiga kali lipat curah hujan di Desember 2022 yang sebesar 167,2 mm. Hasil pengukuran parameter pencemar udara ambien Sorowako yang dilakukan oleh PT. Vale Indonesia Tbk. pada tahun 2022 dan 2023 untuk parameter SO2. PM10 dan PM2,5, menunjukkan nilai rata-rata bulanan berada di bawah baku Standar baku mutu yang digunakan adalah berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 22 tahun 2021, lampiran VII tentang Pen yelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup bagian Baku Mutu Udara Ambien. Tabel 2. Data Pengukuran Parameter Pencemar menurut Bulan Periode 2022 -2023 Tahun 2022 Tahun 2023 Bulan SO2 PM10 PM2,5 SO2 PM10 PM2,5 (AAg/m . (AAg/m . (AAg/m . (AAg/m . (AAg/m . (AAg/m . Januari 13,82 26,94 26,06 9,71 25,38 21,50 Siti Halimah Tusaddiah et a l. / Environmental Insight Journal. Vol. No. July 2025 ENVIRONMENTAL INSIGHT JOURNAL e-ISSN 3090-6105 Volume 1. Number 2. Page 105 - 119. July 2025 Bulan Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Baku Mutu Tahun 2022 SO2 PM10 PM2,5 (AAg/m . (AAg/m . (AAg/m . 12,10 15,90 15,69 10,90 15,14 15,03 5,64 15,80 15,56 8,28 16,55 16,36 9,40 20,90 20,06 12,67 29,20 28,27 14,74 19,12 16,14 13,53 32,52 28,29 16,17 27,25 23,42 11,92 32,75 29,17 12,80 25,18 21,79 Tahun 2023 SO2 PM10 PM2,5 (AAg/m . (AAg/m . (AAg/m . 5,57 17,70 15,06 8,05 19,01 17,09 10,27 23,06 20,66 8,76 22,85 18,32 3,38 23,80 19,45 4,82 25,13 22,21 2,00 11,20 4,10 2,30 20,25 18,11 5,34 22,75 23,16 6,41 21,90 9,50 7,23 22,14 22,40 Tabel 2 menunjukkan konsentrasi SO2 tahun 2022 berfluktuasi antara 5,64 AAg/mA pada bulan April hingga 16,17 AAg/mA pada bulan Oktober. Semua nilai berada jauh di bawah baku mutu yang ditetapkan yaitu 150 AAg/mA, menunjukkan bahwa tingkat SO2 relatif aman sepanjang tahun. Sedangkan pada tahun 2023, konsentrasi SO2 menurun dibandingkan tahun 2022, dengan nilai terendah terjadi pada bulan Agustus sebesar 2,00 AAg/mA dan tertinggi pada bulan April sebesar 10,27 AAg/mA. Penurunan ini dapat disebabkan oleh perubahan aktivitas mobilisasi, industri, atau kondisi cuaca yang mempengaruhi dispersinya. Tahun 2022, nilai PM10 bervariasi dari 15,14 AAg/mA pada bulan Maret hingga 32,75 AAg/mA pada bulan November. Semua nilai berada di bawah baku mutu 75 AAg/mA, menunjukkan kondisi udara yang relatif bersih untuk partikulat kasar. Sedangkan pada tahun 2023, konsentrasi PM10 cenderung sedikit lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, dengan nilai tertinggi pada bulan Januari sebesar 25,38 AAg/mA dan terendah pada bulan Agustus sebesar 11,20 AAg/mA. Seperti SO2, penurunan ini dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan kontrol emisi yang lebih baik. Konsentrasi PM2,5 pada tahun 2022, berada di kisaran 15,03 AAg/mA pada bulan Maret hingga 29,17 AAg/mA pada bulan November. Semua nilai berada di bawah baku mutu 50 AAg/mA, namun konsentrasi PM2,5 lebih mengkhawatirkan karena ukurannya yang lebih kecil dan lebih mudah masuk ke sistem pernapasan manusia. Sedangkan pada tahun 2023, konsentrasi PM2,5 cenderung lebih rendah dibandingkan tahun 2022, dengan nilai tertinggi pada bulan Oktober sebesar 23,16 AAg/mA dan terendah pada bulan Agustus sebesar 4,10 AAg/mA. Penurunan signifikan ini dapat mengindikasikan adanya pengurangan sumber emisi atau peningkatan kualitas udara. Secara keseluruhan, terjadi penurunan konsentrasi untuk ketiga parameter pencemar udara ini pada tahun 2023 dibandingkan dengan tahun 2022. Meskipun konsentrasi polutan berada di bawah baku mutu, pemantauan rutin tetap diperlukan, terutama mengingat dampak kesehatan jangka panjang dari paparan SO2 dan partikel halus seperti PM2,5 yang bisa berkontribusi terhadap penyakit pernapasan. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berkomitmen untuk memberikan informasi mutu udara yang tepat dan akurat kepada masyarakat dalam Siti Halimah Tusaddiah et a l. / Environmental Insight Journal. Vol. No. July 2025 ENVIRONMENTAL INSIGHT JOURNAL e-ISSN 3090-6105 Volume 1. Number 2. Page 105 - 119. July 2025 rangka upaya pengendalian pencemaran udara. Berikut hasil perhitungan ISPU yang telah diatur pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor 14 tahun 2020 tentang Indeks Standar Pencemar Udara. Tabel 3. Hasil Perhitungan ISPU di Sorowako Periode 2022 -2023 Tahun 2022 Tahun 2023 Bulan ISPU Kategori ISPU Kategori Januari Sedang Sedang Februari Baik Baik Maret Baik Sedang April Baik Sedang Mei Sedang Sedang Juni Sedang Sedang Juli Sedang Sedang Agustus Sedang Baik September Sedang Sedang Oktober Sedang Sedang November Sedang Baik Desember Sedang Sedang Tabel 3 menunjukkan, pada tahun 2022 kualitas udara dalam kategori "Sedang" mendominasi sepanjang tahun, dengan ISPU berkisar antara 48 hingga 67. Bulan dengan ISPU tertinggi adalah November sebesar 67 dan bulan dengan ISPU terendah adalah Maret sebesar 48, yang termasuk dalam kategori "Baik". Tahun 2023 sama seperti tahun 2022, kategori "Sedang" juga mendominasi, namun terdapat beberapa bulan dengan kategori "Baik", seperti Februari. Agustus, dan November. ISPU tertinggi terjadi pada bulan Juli sebesar 66, sedangkan ISPU terendah tercatat di bulan Agust us sebesar 13, yang menunjukkan kualitas udara yang sangat baik pada bulan tersebut. Bulan Maret dan April 2022, terdapat peningkatan ISPU yang menyebabkan peralihan kategori dari "Baik" menjadi "Sedang". Ini menunjukkan adanya penurunan kualitas udara. Sebaliknya, di bulan Agustus dan November 2023. ISPU menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Terutama di bulan Agustus, dimana ISPU turun dari 51 (Sedan. pada 2022 menjadi 13 (Bai. Ini mungkin disebabkan oleh faktor cuaca yang lebih bersih atau intervensi lingkungan yang efektif. Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyakit yang sering terjadi pada anak, yaitu berupa penyakit batuk pilek pada balita. Namun pada rentang usia lebih tinggi juga menunjukkan jumlah penderita yang cukup tinggi. Tabel 4. Cakupan Pasien ISPA di Puskesmas Nuha Sepanjang Periode 2022 -2023 Tahun 2022 Tahun 2023 Bulan Usia 0-5 Usia > 5 Jumlah Usia 0-5 Usia > 5 Jumlah Tahun Tahun Penderita Tahun Tahun Penderita Januari Februari Maret April Siti Halimah Tusaddiah et a l. / Environmental Insight Journal. Vol. No. July 2025 ENVIRONMENTAL INSIGHT JOURNAL e-ISSN 3090-6105 Volume 1. Number 2. Page 105 - 119. July 2025 Bulan Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Usia 0-5 Tahun Tahun 2022 Usia > 5 Jumlah Tahun Penderita Tahun 2023 Usia 0-5 Usia > 5 Jumlah Tahun Tahun Penderita Secara umum dapat terlihat pada Tabel 4, jumlah penderita ISPA menunjukkan variasi sepanjang tahun baik pada tahun 2022 maupun 2023. Pada tahun 2022, puncak jumlah penderita terjadi pada bulan Agustus dengan 551 kasus, juga pada tahun 2023, puncaknya terjadi pada bulan Agustus dengan 431 kasus. Hal ini menunjukkan bahwa pada kedua tahun tersebut, terdapat peningkatan signifikan dalam jumlah kasus pada bulan yang sama. Data menunjukkan adanya pola musiman dalam kejadian ISPA, dengan jumlah penderita cenderung meningkat selama bulan-bulan tertentu, seperti bulan Agustus. Pada tahun 2022, terdapat peningkatan tajam di bulan tersebut, yang terkait dengan perubahan cuaca dan kondisi lingkungan yang mempengaruhi kesehatan pernapasan. Sebaliknya, bulan-bulan seperti April dan Mei menunjukkan penurunan jumlah kasus yang signifikan. Analisis Deskriptif Penelitian ini menyajikan analisis deskriptif untuk konsentrasi polutan udara seperti SOCC. PM10, dan PM2,5 beserta Indeks Kualitas Udara, jumlah kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), dan kondisi curah hujan selama periode pengamatan. Parameter SO2 PM10 PM2,5 ISPU ISPA Curah Hujan Tabel 5. Data Statistik Deskriptif Minimum Maksimum Mean 2,00 16,17 8,99 11,20 32,75 22,18 4,10 29,17 19,48 13,23 67,13 53,48 291,79 247,30 Std. Dev 4,01 5,42 5,84 11,43 95,52 163,71 Pada Tabel 5, diperoleh data SO2 rata-rata sebesar 8,99 AAg/mA, menunjukkan konsentrasi rata-rata SO2 di udara selama periode pengamatan, standar deviasi sebesar 4,01 g/mA, mengindikasikan seberapa besar variasi atau penyebaran konsentrasi SOCC dari rata-rata. Rentang nilai: 2,00 Ae 16,17 AAg/mA, menggambarkan kisaran konsentrasi SO2 yang terukur dari yang terendah hingga tertinggi. PM10 diperoleh rata-rata sebesar 22,18 AAg/mA, standar deviasi 5,42 AAg/mA, rentang nilai: 11,20 Ae 32,75 AAg/mA. PM2,5 diperoleh nilai rata-rata sebesar 19,48 AAg/mA, standar deviasi 5,84 AAg/mA, rentang nilai: 4,10 Ae 29,17 AAg/mA. Indeks Kualitas Udara Siti Halimah Tusaddiah et a l. / Environmental Insight Journal. Vol. No. July 2025 ENVIRONMENTAL INSIGHT JOURNAL e-ISSN 3090-6105 Volume 1. Number 2. Page 105 - 119. July 2025 diperoleh rata-rata sebesar 53,48, standar deviasi 11,43, rentang nilai: 13,23 Ae 67,13. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) diperoleh rata-rata sebesar 291,79 kasus, standar deviasi 95,52 kasus, dan rentang kasus: 151 Ae 551 kasus. Curah hujan diperoleh rata-rata sebesar 247,30 mm, standar deviasi 163,71 mm, rentang nilai: 43,6 Ae 732,1 mm. Uji Normalitas Berdasarkan hasil uji normalitas selanjutnya dapat dianalisis distribusi normal dari masing-masing parameter menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov dan Shapiro-Wilk. Parameter SO2 PM10 PM2,5 ISPU ISPA Curah Hujan Tabel 6. Data Hasil Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov Shapiro-Wilk Statistik 0,100 0,069 0,140 0,248 0,126 0,144 Sig. 0,200 0,200 0,200 0,001 0,200 0,200 Statistik 0,973 0,983 0,956 0,782 0,944 0,899 Sig. 0,735 0,943 0,369 0,000 0,205 0,020 Berdasarkan Tabel 6, pada data SO2, nilai p (Sig. ) untuk uji KolmogorovSmirnov dan Shapiro-Wilk lebih besar dari 0,05, menunjukkan bahwa distribusi data SO2 tidak signifikan berbeda dari distribusi normal. Dengan kata lain, data SO2 mengikuti distribusi normal. Nilai p PM10 untuk kedua uji normalitas (Kolmogorov-Smirnov dan ShapiroWil. lebih besar dari 0,05, menunjukkan bahwa data PM10 tidak signifikan berbeda dari distribusi normal. Data PM10 mengikuti distribusi normal. PM2,5 memiliki nilai p untuk uji Kolmogorov-Smirnov dan Shapiro-Wilk lebih besar dari 0,05, menunjukkan bahwa data PM2,5 tidak signifikan berbeda dari distribusi normal. Data PM2,5 mengikuti distribusi normal. Indeks Kualitas Udara memiliki nilai p untuk kedua uji normalitas (Kolmogorov-Smirnov dan Shapiro-Wil. kurang dari 0,05, menunjukkan bahwa data Indeks Kualitas Udara tidak mengikuti distribusi normal. Data ini tidak terdistribusi Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) memiliki nilai p untuk uji Kolmogorov-Smirnov dan Shapiro-Wilk lebih besar dari 0,05, menunjukkan bahwa data ISPA tidak signifikan berbeda dari distribusi normal. Data ISPA mengikuti distribusi normal. Curah Hujan memiliki nilai p untuk uji Kolmogorov-Smirnov lebih besar dari 0,05, menunjukkan bahwa data Curah Hujan tidak signifikan berbeda dari distribusi normal menurut uji ini. Namun, nilai p untuk uji Shapiro-Wilk kurang dari 0,05, menunjukkan bahwa data Curah Hujan tidak mengikuti distribusi normal menurut uji Hasil ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian dengan distribusi normal pada data Curah Hujan. Analisis Korelasi Siti Halimah Tusaddiah et a l. / Environmental Insight Journal. Vol. No. July 2025 ENVIRONMENTAL INSIGHT JOURNAL e-ISSN 3090-6105 Volume 1. Number 2. Page 105 - 119. July 2025 Dalam analisis korelasi Pearson, dilakukan pengujian terhadap hubungan antar beberapa parameter lingkungan seperti SOCC. PM10. PM2,5. Indeks Kualitas Udara, dan curah hujan dengan kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Hasil uji ini memberikan gambaran mengenai kekuatan dan arah hubungan antara parameter parameter tersebut, serta tingkat signifikansi statistik yang menunjukkan sej auh mana hubungan tersebut dapat dianggap bermakna. SO2 Pearson Correlation Sig. -taile. PM10 Pearson Correlation Sig. -taile. PM2,5 Pearson Correlation Sig. -taile. ISPU Pearson Correlation Sig. -taile. ISPA Pearson Correlation Sig. -taile. Curah Pearson Hujan Correlation Sig. -taile. Tabel 7. Data Statistik Uji Korelasi SO2 PM10 PM2,5 ISPU 0,474 0,518 0,510 ISPA 0,244 Curah Hujan 0,079 0,019 0,010 0,879 0,011 0,745 0,250 0,083 0,715 -0,209 0,019 0,518 0,879 0,000 0,000 0,947 0,701 -0,007 0,328 -0,209 0,010 0,510 0,000 0,745 0,947 0,000 0,972 -0,123 0,327 -0,112 0,011 0,244 0,000 0,083 0,000 -0,007 -0,123 0,567 0,604 -0,326 0,250 0,079 0,701 -0,209 0,972 -0,209 0,567 -0,112 -0,326 0,120 0,715 0,328 0,327 0,604 0,120 0,474 Korelasi antara SO2. PM10. PM2,5 dengan Indeks Kualitas Udara Hasil analisis uji korelasi pada Tabel 7 menunjukkan bahwa PM2,5 memiliki korelasi yang sangat kuat dengan Indeks Kualitas Udara . = 0,. , menunjukkan bahwa peningkatan PM2,5 secara signifikan mempengaruhi penurunan kualitas udara. Ini konsisten dengan penelitian yang menunjukkan bahwa PM2,5 adalah indikator utama dari kualitas udara yang buruk dan berhubungan dengan berbagai masalah kesehatan (HEI, 2. SO2 dan PM10 juga memiliki korelasi signifikan dengan Indeks Kualitas Udara, tetapi dengan kekuatan yang lebih rendah dibandingkan dengan P M2,5. SO2 adalah gas polutan utama yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil dan aktivitas industri. Paparan SO2 dapat mengiritasi saluran pernapasan dan mempengaruhi fungsi paru-paru, serta dapat berkontribusi terhadap pembentukan partikel halus (PM) di atmosfer (World Health Organization, 2. Siti Halimah Tusaddiah et a l. / Environmental Insight Journal. Vol. No. July 2025 ENVIRONMENTAL INSIGHT JOURNAL e-ISSN 3090-6105 Volume 1. Number 2. Page 105 - 119. July 2025 Partikel-partikel ini adalah komponen utama polusi udara. PM10 termasuk partikel dengan diameter kurang dari 10 mikrometer, sedangkan PM2,5 memiliki diameter kurang dari 2,5 mikrometer. Partikel-partikel ini dapat menembus saluran pernapasan dan mencapai paru-paru, serta dapat mempengaruhi kesehatan secara serius (Pope et al. , 2. Korelasi antara Curah Hujan dan Konsentrasi Polutan Udara Hasil analisis korelasi pada Tabel 7 tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara curah hujan dan konsentrasi SO2 . = 0,079, p = 0,. Ini menunjukkan bahwa SO2 tidak terpengaruh secara langsung oleh curah hujan, atau bahwa faktor -faktor lain seperti sumber emisi lebih berperan dalam menentukan konsentrasi SO2 di Sorowako. Terdapat korelasi negatif antara curah hujan dan PM10 . = -0,209, p = 0,. , namun tidak signifikan. Ini mengindikasikan bahwa walaupun curah hujan bisa menurunkan konsentrasi PM10, efeknya mungkin tidak konsisten atau dipengaruhi oleh faktor lain seperti aktivitas industri atau kondisi meteorologi lainnya. Korelasi antara curah hujan dan PM2,5 juga negatif dan tidak signifikan . = 0,209, p = 0,. Ini menunjukkan bahwa curah hujan tidak secara signifikan mempengaruhi konsentrasi PM2,5, mungkin karena PM2,5 lebih stabil di udara atau pengaruh curah hujan tidak cukup besar untuk mempengaruhi konsentrasi secara Korelasi antara Kualitas Udara dan ISPA Berdasarkan hasil analisis Tabel 7, tidak ditemukan korelasi signifikan antara SO2 dan kejadian ISPA . = 0,244, p = 0,. Ini menunjukkan bahwa meskipun SO2 merupakan polutan berbahaya, efeknya terhadap ISPA mungkin tidak terlalu kuat di wilayah ini, atau mungkin ada faktor lain yang mempengaruhi kejadian ISPA. Korelasi antara PM10 dan ISPA adalah positif . = 0,083, p = 0,. dan tidak Ini menunjukkan bahwa PM10 tidak memiliki pengaruh langsung yang kuat terhadap kejadian ISPA dalam data ini. Korelasi antara PM2,5 dan ISPA adalah negatif . = -0,007, p = 0,. , menunjukkan tidak ada hubungan signifikan. Ini bisa berarti bahwa faktor lain selain PM2,5 lebih berpengaruh terhadap ISPA, atau bahwa data tidak menunjukkan efek langsung yang kuat. Secara keseluruhan, hasil uji korelasi menunjukkan bahwa tidak ada korelasi signifikan antara SO2. PM10, dan PM2,5 dengan kejadian ISPA, meskipun terdapat hubungan negatif lemah dengan PM2,5. Ini menunjukkan bahwa faktor -faktor lain, seperti infeksi musiman atau variabilitas lokal dalam kesehatan populasi, berperan lebih besar dalam menentukan tingkat ISPA daripada polusi udara secara langsung. ISPA termasuk berbagai infeksi yang mempengaruhi saluran pernapasan, dari infeksi virus seperti flu hingga infeksi bakteri yang lebih serius. Paparan terhadap polusi udara, khususnya PM2,5. SO2, dan PM10, juga dapat memperburuk kondisi ini dengan mengiritasi saluran pernapasan dan menurunkan sistem kekebalan tubuh jika konsentrasinya melebihi kapasitas perlindungan sistem imun (Dockery & Pope, 1. Menurut WHO, efek kesehatan dari paparan PM10 dalam waktu singkat dapat mempengaruhi radang paru-paru. ISPA, gangguan pada sistem kardiovaskuler. Siti Halimah Tusaddiah et a l. / Environmental Insight Journal. Vol. No. July 2025 ENVIRONMENTAL INSIGHT JOURNAL e-ISSN 3090-6105 Volume 1. Number 2. Page 105 - 119. July 2025 bahkan hingga mengalami kematian. Sementara dalam jangka panjang PM10 dapat meningkatkan gejala gangguan saluran pernapasan bawah, eksaserbasi asma, penurunan fungsi paru pada anak-anak, peningkatan obstruktif paru-paru kronis, penurunan fungsi paru-paru pada orang dewasa, penurunan rata-rata tingkat harapan hidup terutama kematian yang diakibatkan oleh penyakit cardiopulmonary dan probabilitas kejadian kanker paru-paru (Hadi, 2. Particulate Matter (PM) salah satu bahan pencemar yang terdiri dari campuran kompleks partikel seperti debu, kotoran, asap, dan cairan yang ditemukan di udara dengan ukuran kecil, sehingga sering tidak kasad mata namun dalam ketebalan atau tingkat tertentu maka akan sangat mudah terlihat atau tercium. Jenis partikulat PM2,5 banyak diteliti karena efeknya yang dapat menembus hingga ke bagian paru-paru paling dalam dan kandungannya dapat beredar dalam aliran darah (Azizah, 2019. Indiana Department of Environmental Management, 2. Berbagai material yang terkandung dalam PM2,5 ini dapat menyebabkan berbagai gangguan saluran pernafasan seperti ISPA, kanker paru-paru, kardiovaskular, kematian dini, dan penyakit paru-paru obstruktif kronis (Novirsa et , 2012. WHO, 2. PM2,5 dapat menembus pertahanan sistem saluran pernapasan manusia sehingga dapat terikat oleh darah manusia melalui pertukaran udara pada alveolus di paru-paru. Partikulat dapat mengendap dalam saluran pernafasan melalui beragam mekanisme fisik antara lain sedimentasi, impaksi, difusi, intersepsi, dan elektronik presipitasi (Brown, 2. Analisis Regresi Linier Berganda Analisis regresi linier berganda dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh beberapa variabel independen, yaitu konsentrasi SO2. PM10. PM2,5, dan curah hujan, terhadap kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Sorowako. Berikut data regresi linier berganda disajikan pada Tabel 8. Tabel 8. Data Regresi Linier Berganda Parameter Sig. ANOVA 0,173 SO2 0,078 PM10 0,463 PM2,5 0,179 Curah Hujan 0,055 Keterangan: Sig. = Signifikan Hasil regresi menunjukkan bahwa model regresi secara keseluruhan tidak signifikan, yang ditunjukkan oleh nilai p sebesar 0,173. Hal ini berarti bahwa variabelvariabel tersebut secara kolektif tidak dapat memprediksi secara signifikan kejadian ISPA di wilayah ini. Variabel curah hujan hampir mencapai signifikansi dengan nilai p sebesar 0,055, menunjukkan adanya pengaruh negatif terhadap kejadian ISPA. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan curah hujan dapat berkontribusi pada penurunan kasus ISPA, kemungkinan melalui mekanisme pengendalian atau pembersihan polutan udara oleh hujan. Temuan ini konsisten dengan beberapa studi sebelumnya Siti Halimah Tusaddiah et a l. / Environmental Insight Journal. Vol. No. July 2025 ENVIRONMENTAL INSIGHT JOURNAL e-ISSN 3090-6105 Volume 1. Number 2. Page 105 - 119. July 2025 yang menyatakan bahwa curah hujan dapat mempengaruhi konsentrasi polutan udara, yang pada gilirannya mempengaruhi kualitas udara dan kesehatan pernapasan masyarakat setempat (Duan et al. , 2. Parameter SO2. PM10, dan PM2,5 berhubungan signifikan dengan kualitas udara, namun hubungan langsung dengan kejadian ISPA tidak ditemukan signifikan dalam model regresi. Ini mungkin menunjukkan bahwa polusi udara adalah salah satu faktor penyebab penyakit tetapi tidak satu-satunya penentu kejadian ISPA, atau mungkin variabilitas lokal dan faktor lain yang lebih mempengaruhi hasil tersebut. SIMPULAN DAN SARAN Dari analisis yang telah dilakukan, hasilnya menunjukkan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara konsentrasi SOCC. PM10, atau PM2,5 dengan kejadian ISPA. Ini mungkin menunjukkan bahwa udara polutan ini tidak secara langsung mempengaruhi kejadian ISPA di wilayah Sorowako. Hasil regresi juga menunjukkan bahwa model yang menggabungkan curah hujan dan konsentrasi udara polutan tidak secara signifikan menjelaskan variabilitas dalam kejadian ISPA. Ini mengindikasikan bahwa kemungkinan ada faktor lain selain udara polutan yang diukur, dapat berkontribusi pada kejadian penyakit ISPA. Oleh karena itu, disarankan untuk melakukan kajian lanjutan yang mencakup evaluasi sistem pengendalian emisi di PT. Vale Indonesia Tbk. untuk menilai efektivitasnya dalam menjaga kualitas udara ambien dan kajian lanjut terhadap variabel lain seperti kepadatan hunian, tingkat kebersihan lingkungan, kebiasaan merokok, status gizi, dan ventilasi rumah, guna mengidentifikasi faktor lain yang mungkin lebih berperan dalam kejadian penyakit ISPA. DAFTAR PUSTAKA