Proceedings Series on Social Sciences & Humanities. Volume 20 Prosiding Pertemuan Ilmiah Bahasa & Sastra Indonesia (PIBSI XLVI) Universitas Muhammadiyah Purwokerto ISSN: 2808-103X Tantangan Bahasa Aglunatif di Era VUCA (Visi Blommaert tentang Perkembangan Bahas. Rusdhianti Wuryaningrum Universitas Jember ARTICLE INFO ABSTRACT Article history: Penelitian ini membahas perkembangan bahasa Indonesia sebagai bahasa aglutinatif, dengan penciri morfologi. Keberadaan affix telah cukup kuat membentuk bahasa Indonesia dengan ciri aglutinatifnya. Tujuan penelitian ini adalah menyintesis beberapa pendapat pakar dengan pijakan pandangan Blommaert tentang kebijakan bahasa dan identitas bahasa. Penelitian ini merangkum riset tentang penggunaan bahasa oleh netizen. Hasil perkembangan keaglutinatifan bahasa Indonesia tersebut dikaji berdasarkan empat poin perihal perkembangan bahasa yang dikemukakan oleh Blommaert yaitu bahasa negara sebagai proses idiologikal, sociolinguistic truism, rezim sociolinguistic memiliki definisi bahasa secara mandiri, terdapat perbedaan antara language community dan speech DOI: 30595/pssh. Submitted: June 20, 2024 Accepted: November 10, 2024 Published: November 30, 2024 This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Keywords: Bahasa Aglutinatif. Bahasa di era VUCA. Sosiolinguistik Corresponding Author: Rusdhianti Wuryaningrum Universitas Jember Jl. Kalimantan Tegalboto No. Jember. Jawa Timur 68121. Indonesia Email: rusdhiyanti. fkip@unej. PENDAHULUAN Bahasa nasional yang bertahan dan terus diajarkan tetap mempunyai masalah dengan konsistensi penuturnya karena sifat dinamis bahasa. Arus perubahan tidak bisa dibendung lagi. Demikian pula pada era VUCA Era Vuca adalah era yang mewadahi perkembangan teknologi yang mengakibatkan volatile, uncertain, complex, and ambigous (VUCA) (Syafrony, 2. VUCA atau dalam deskripsi bahasa Indonesia adalah mudah berubah, tidak pasti, kompleks, dan ambigu menjadi penciri semua aspek atau lini kehidupan, termasuk interaksi Bahasa adalah bagian yang terdampaki oleh era ini. Masuknya kosa kata baru, pergeseran makna, atau begitu cepatnya perubahan cara-cara orang menyampaikan maksud dalam ilokusi atau berbagai tindak tutur adalah bagian VUCA. Baru saja, kita dihadapkan pada sikap terbiasanya kita memasukkan lema berdasarkan berbagai pertimbangan yang tampak top down, kini kita dihadapkan pada situasi adanya lema dalam kamus yang diciptakan oleh pengguna media sosial yang kemudian ditelusur kebenarannya dari berbagai aspek sosial dan budaya untuk diterima sebagai kosa kata baru. Ini adalah bagian perkembangan VUCA yang tidak bisa dihindari. Fakta lain, bertahun-tahun kita belajar konteks kata dengan memperhatikan penutur atau partisipan tutur dalam konteks yang dikemukaka Dell Hymes, kini kita harus beradaptasi dengan pseudo identity partisipan tutur di media sosial. Hal tersebut menimbulkam kompleksitas, di satu sisi, dan perkembangan serta visi baru di sisi lain. Wilhelm von Humboldt mengenalkan bahasa aglutinatif, pada awalnya, untuk menunjukkan ciri morofologi bahasa-bahasa di dunia, seperti bahasa bosque. Korea. Jepang, dan Indonesia. Demikian pula halnya Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X dengan bahasa Arab dan bahasa Turki. Bahasa Turki disebut sebagai bahasa agulitinatif karena letak kata dan akhiran-akhirannya yang saling berurutan dan bersambungan satu dengan yang lain, menyebabkan hampir menyatunya antara kata dengan morfem-morfem yang ada (Makodamayanti & Subiyanto, 2. Bahasa aglutinatif membentuk kata dengan penggambungan morfem. Ciri morfemis tersebut menjadi bagian penting dalam materi belajar bahasa. Dalam aglutinatif terdapat gambaran karakteristik tiap bahasa. Keberadaan aglutinatif selain berhadapan dengan morfofonemik juga berhadapan dengan kelaziman Kaidah morfofonemik menempatkan konsistensi bahasa dengan perubahan fonem sebagai hasil proses morfologis, sedangkan kelaziman menunjukkan kebiasaan kata digunakan dan aspek ketidakadaan kata tersebut dalam suatu bahasa. Kata dikarenakan, misalnya, sesungguhnya adalah kata yang tak lazim digunakan. Sebelum berbicara tentang ketidaklazimannya, sebaiknya kita bicara tentang ketepatan secara kaidah terlebih dahulu. Tentu saja, untuk membahasnya kita dapat menerapkan konsep morfologi pada kelas kata nomina dan verba, bukan pada Karena adalah konjungsi. Penghentian dan pengimbauan untuk tidak menggunakan kata tersebut tidak mudah dilakukan di era VUCA, era ketaidakpastian arus penyebaran informasi. Boleh jadi sebuah unggahan di media massa, misal pada https://w. id telah dilakukan, tetapi arus pengguna kata tersebut tidak terbendung di media sosial dan dalam komunikasi nyata. Dari kasus satu ini, dapat dipelajari bahwa tantangan bahasa di era VUCA adalah arus interaksi penuturnya. Makalah ini membahas keberadaan bahasa aglutinatif yang merupakan karakteristik bahasa Indonesia. Kondisi aglutinatif bahasa menjadi bagian penting baik dalam pembelajaran bahasa di sekolah dan perguruan Keaglutinatifan bahasa Indonesia banyak mengalami perubahan, bisa juga disebut mengalami pergeseran. Kondisi VUCA memberikan adanya bentukan kata baru, termasuk perubahan pada bentukan kata. Pandangan politik bahasa dan identitas bangsa perlu digali untuk melihat kondisi ini secara harafiah. Artikel ini menyajikan pandangan Jan Blommaert tentang kebijakan bahasa nasional dan identitas bangsa. Penelitian ini merapkan sintesis pada fenomena kebahasaan aglutinatif. Kajian yang diterapkan untuk membahas fenomena perubahan masyarakat tentang keaglutinatifan tersebut dibahas atau disentesis dengan pandangan Blommaert . Kajian ini diharapkan dapat memberikan pandangan perkembangan bahasa di masyarakat. Dengan demikian, kajian ini akan memberikan informasi sosiolinguistik. Informasi ini akan memberikan cara pandang terhadap perkembangan morfologi bahasa Indonesia sebagai bagian penting keaglutinatifan bahasa. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menekankan pada kajian fenomena bahasa di masyarakat . dalam aspek penggunaan bahasa aglutinatif. Sintesis dalam penelitian ini adalah upaya menemukan tema fenomena dan meringkasnya dalam makna yang lebih bernas atau condensed meaning (Cini, 2007. Martienssen & Warlimont (Eds. ), 2. Topik yang ditemukan akan dikaji dari pandangan Blommaert. Data penelitian ini diperoleh dengan mengobservasi penggunaan aspek-aspek morfologis yang merupakan penciri keaglutinatifan bahasa. Dari hasil observasi ini diperoleh fenomena pembentukan kata dalam bahasa Indonesia, terutama oleh generasi muda dalam media sosial. Data tersebut akan ditentukan temanya lalu dibahas berdasarkan pandangan Blommaert . tentang perkembangan bahasa di masyarakat. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada bagian ini dipaparkan data hasil penelitian yang menunjukkan perkembangan bahasa Indonesia. Data tersebut akan digunakan sebagai pijakan dalam menyintesis pendapat pakar tentang perkembangan bahasa. Hasil Penelitian Dari hasil observasi di lapangan, baik dalam ruang maya dan ruang nyata, diperoleh peristiwa anglisisme. Salah satunya adalah riset yang dilakukan Syahid et. Pada riset tersebut ditemukan proses morfologis yang berkembang saat ini. Anglisisme Anglisisme adalah penggunaan kata bahasa Inggris yang digabung dengan prefiks informal bahasa Indonesia Nge- seperti pada kata ngegame, ngefly, ngelike, dan lain sebagainya yang kerap muncul dalam media sosial Twitter atau X. Tabel 1. Proses Afiksasi Anglisisime Proses Afiksasi Contoh Nge- Verba Bahasa Inggris ngelike, ngerequest, ngeshare, ngedistract Nge- Nomina Bahasa Inggris ngejudge, ngejokes, ngedate, ngegame, ngegift Nge- Adjektiva Bahasa Inggris Nge- Adverbia Bahasa Inggris Nge- Verba Bahasa Inggris -in ngelikein, ngesharein, ngefollowin, ngecheatin Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X Proses Afiksasi Nge- Nomina Bahasa Inggris -in Nge- Adjektiva Bahasa Inggris -in Nge- Adverbia Bahasa inggris -in Nge- Verba Bahasa Inggris -ing Nge- Nomina Bahasa Inggris -ing Nge- Adjektiva Bahasa Inggris -ing Nge- Adverbia Bahasa Inggris -ing Contoh ngespamin, ngegiftin, ngestalkin, ngeprankin ngefullin, ngeprivatein, ngeclosein, ngeupin, ngedownin, ngewelcomein, ngeratein ngepacking, ngeposting, ngescanning ngeghosting, ngebranding, ngebooking Prefix Nge- adalah prefix tidak formal yang oleh penutur dinalogikan sehingga mewujudkan kata-kata baru dalam bahasa Indonesia ragam informal yang kadang digunakan dalam situasi formal. Pada saat forum diskusi, mahasiswa menggunakan salah satu kata tersebut atau menggunakan prefix informal tersebut pada kata bahasa Indonesia, misalnya*ngejelasin, *ngedegerin, dll. 2 Kata Bahasa Indonesia Sufix . dverb of manne. Dalam percakapan di media sosial sering dijumpai penggunaan kata yang yang dibentuk dengan kata bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, seperti *jujurly. Kata tersebut digunakan untuk menyampaikan pernyataan AusejujurnyaAy atau Au secara jujurAy. Dua fenomena tersebut adalah persoalan pembentukan kata. Faktanya, masih banyak penggunaan kata yang digunakan oleh netizen yang berasal dari bahasa Inggris yang dicampurkan dalam kalimat bahasa Indonesia. Mungkin hal tersebut bisa terkategori code mixing. Raksang . meyebutkan dalam era media sosial, code mixing tampil dalam kehidupan sehari-hari, dalam interaksi seprofesi, pada interaksi kelas sosial yang berbeda, tingkat ekonomi, umur, dan jenis kelamin. Hal tersebut menunjukkan adanya perubahan yang signifikan bahasa di masyarakat. Pembahasan Inti dari kajian ini bukan temuan tersebut, melainkan sintesis dari pendapat Jan Blommaert tentang aspek Beberapa poin berikut adalah diskusi tentang pandangan Blommaert tentang bahasa dan bangsa dalam konteks penggunakan bahasa nasional di masyarakat. Ulasan ini disarikan dari pandangan Blommaert . dalam topik Language Policy and National Identity. Dalam beberapa bagian perlu disandingkan juga pendapat lain untuk menguatkan hasil sintesis. Bahasa dan Negara adalah Proses Idiologikal Riset Lowenberg . melaporkan bahwa salah satu faktor yang cenderung berkorelasi tinggi dengan kejadian rasisme dan kekerasan di negara multibahasa dan multietnis adalah persoalan status bahasa terbaik dan bahasa mana yang paling tinggi nilainya. Hal tersebut dapat diamati pada status penutur bahasa di Eropa. Dengan alasan itu, di banyak negara multibahasa non-Barat yang sebelumnya dijajah oleh Inggris atau Amerika Serikat, seperti Nigeria. India, dan Filipina, bahasa bekas kolonial. Inggris, tetap dipertahankan karena dianggap netral, bukan bahasa utama dari beberapa kelompok etnis yang sering berkonflik. Malaysia mengungkapkan bahwa melalui transfer leksikal dari bahasa lain atau bahasa yang lebih dominan secara politik persoalan bahasa nasional dapat diatasi. Bahasa Inggris dapat dinetralkan dalam kasus Malaysia. Hal tersebut sebenarnya dapat berkontribusi pada pelembagaan kesenjangan di antara kelompok etnis yang bersaing. Dari uraian tersebut, dapat diketahui bahwa pemilihan bahasa adalah proses idiologikal, termasuk penentuan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Namun, jika membahas persoalan pergeseran bahasa karena era VUCA maka masalah kuasa penutur akan lebih dominan sebagai pertimbangan. Citra suatu bangsa dapat diidentifikasi dari cara masyarakatnya berbahasa (Blommaert, 2. Bahasa sebagai persoalan identitas membentuk linguistik dan proses sosial. Topik fokus ideologi linguistik mungkin pernah beberapa saat diidentikkan dengan AuperjuanganAy mempertahankan kaidah, termasuk keberadaan bahasa Indonesia dengan ciri aglutinatifnya, salah satunya adalah persoalan morfologi. Hal tersebut tidak serta merta menjadi senjata yang ampuh. Idiologi linguistik di era VUCA, tentu berbeda. Sekarang, arus kuat pengguna bahasa sudah bisa disebut didominasi oleh netizen dan menjadi bias. Jika bahasa nasional akan mengarahkan pada homogenitas budaya maka perdebatan tidak akan pernah selesai. Representasi ideologis bahasa dilakukan oleh anggota masyarakat biasa serta lembaga resmi dan elit, termasuk akademisi (Woolard, 2. Situasi diglosia pada era VUCA tidak sempat lagi dimasalahkan. Kini, perdebatan itu tidak lagi ada. Yang ada hanya menertibkan penggunaan bahasa karena perkembangan zaman membawa penciri bahasa Indonesia yang khas. Kiranya, pernyataan Jacquemet . bahwa pengalaman globalisasi budaya, dan kekacauan sosiolinguistik yang ditimbulkannya, tidak dapat dipahami hanya melalui visi distopik bencana linguistik, namun menuntut kita juga mempertimbangkan kualitas rekombinan dari pencampuran bahasa, hibridisasi, dan percampuran bahasa dalam wujud kreolisasi. Hal itu sangat tepat kita gunakan untuk menyikapi perubahan Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X karakter aglutinatif bahasa Indonesia. Ada tantangan pada kondisi aglutinatif tersebut karena telah berkembang dan tak pasti, berdasarkan kegemaran masyarakat penggunanya. Multilingual adalah Sociolinguistic Truism Melihat anglisisme pada tabel 1 di artikel ini menunjukkan pada kesadaran kita akan kebenaran Blommaert . menyatakan bahwa kebenaran sosilinguistik atau sociolinguistic truism adalah fakta bahwa masyarakat membutuhkan multilingualisme baik pada kode maupun pada genre, variasi, atau setidaknya pada gaya tutur meskipun persepsi dirinya adalah monolingulis. Data di atas menunjukkan bahwa prefix informal, yang mungkin saja dipengaruhi oleh bahasa Jawa, yaitu -Nge- adalah bagian dari kebutuhan untuk menjadi multilingualis. Era VUCA menyempurnakannya dengan kondisi pencampuran dan semakin memperkuat Multilingualisme di era VUCA tidak pernah stabil. Itu berkembang penuh dinamika sejalan dengan meningkatnya pergerakan orang melintasi batas negara, dan perkembangan pesat bentuk-bentuk komunikasi yang dapat diakses dan tidak dapat lagi memperhitungkan wilayah. Dua hal yang dapat diamati adalah pergerakan masayarakat global dan pengembangan serta ketersediaan komunikasi digital (Moyer, 2. Dari pendapat tersebut kita belajar, isu tentang bahasa aglutinatif adalah suatu wadah saja. Bagaimana ciri tersebut direalisasikan adalah masalah kebenaran sosiolinguistik. Bahasa adalah fakta sosial menempati proses ini setara dengan multilingualisme adalah adalah kebenaran sosiolinguistik. Rezim Sociolinguistic memiliki Definisi Bahasa secara Mandiri Masyarakat adalah pemegang kuasa dalam penentuan bahasa. Bahasa yang digunakan masyarakat menentukan masa depan bahasa tersebut. Yang bisa dipastikan adalah satuan yang disebut bahasa itu. Misalnya, di Jawa Timur, ada bahasa Using yang disebut AubahasaAy. Pengajuannya sebagai bahasa daerah tidak bisa diterima karena parameter linguistiknya belum bisa mengategorikannya sebagai bahasa, melainkan sebuah dialek. Lalu, apakah ini berhenti? Tentu saja tidak. Di daerahnya. Banyuwangi. Using atau bahasa Using diajarkan dalam muatan lokal siswa SD dan disebut bahasa. Masyarakat Using (Banyuwang. tetap menyebutnya sebagai bahasa bukan dialek. Di sinilah peran kebijakan masyarakat tersebut. Politik bahasa dapat diselesaikan dengan Secara umum. Using dikenal sebagai bahasa bukan dialek. Dari sini, bisa jadi bahasa tersebut bukan bahasa sebagai satuan linguistik, melainkan cara berbicara atau basa . Kisyani, 2. Uraian di atas membahas masalah satuan linguistik dengan masyrakat sebagai penentunya. Jika dikaitkan dengan era VUCA tidak jauh berbeda, bagaimana bahasa berkembang saat ini dengan wujud dan fungsinya menunjukkan kemajuan rezim sosiolinguistik. Ketika suatu komunitas mengikuti gaya anak-anak Jaksel (Jakarta Selata. pada pemilihan kata, pembentukan kata, dan campur kode bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia, adalah masa yang tidak bisa dibendung. Komunitas tersebut berada di wilayah yang bahkan jauh dari Jaksel. Era VUCA menempatkan dialek Jaksel sebagai dialek yang mengidentifikasi anak-anak muda bahkan orang-orang Bias sekali untuk dibedakan identifikasi pemilikan suatu dialek. Masyarakat adalah pemilik kuasa dalam mendefinisikan bahasa. Oleh karena itu, kiranya pendapat Blommaert bahwa rezim sosiolinguistik menguasai pemaknaan bahasa adalah suatu hal yang tepat untuk menggambarkan situasi bahasa aglutinatif saat ini. Terdapat Perbedaan antara Language Community dan Speech Community Blommaert . mengutip pendapat Silverstein bahwa language community . asyarakat bahas. dan speech community . asyarakat tutu. perlu dibedakan, bahkan sekarang sudah tidak bisa ditemukan lagi batasan masyarakat bahasa tersebut karena arus interaksi sosial yang tinggi. Dalam paparannya. Silverstein mengungkapkan bahwa masyarakat bahasa . memikirkan standar penggunaan bahasa, karakteristik bahasa yang tepat atau sesuai, perkembangan yang tidak melebihi kaidah terlalu jauh. Speech community atau masayarakat tutur, dalam pandangan Silverstein, adalah masyarakat yang memgembangkan bahasa sesuai dengan arus interaks. Frasa menarik dari pandangan Blommaert . ini adalah blind spots for sociolinguistic phenomena, tidak berlebihan jika ini digunakan menggambarkan bahasa di era VUCA. Ketika perubahan dan ketidakpastian bentuk bahasa dan keberpihakan masyarakat tidak jelas adalah area tak kasat mata dalam fenomena Nicolay . memerinci bahwa objek kajian bahasa dicirikan oleh heterogenitas bentuk, variabilitas, dan multiplisitas sistem dan bahasa. Variasi dalam segala bentuknya merupakan realitas yang harus dianalisis dan dipahami guna memahami cara kerja in 'Things Linguistic'. Dalam era VUCA ini, heterogenitas bentuk bervariasi, berkembanga tidak konsisten, mengikut makna VUCA tersebut. Karena itu, pilihannyaAi mengacu pada pendapat di atasAiadalah mendeskripsikannya, menentukan makna perkembangannya. KESIMPULAN Pada era VUCA, bahasa dengan ciri aglutinatif, sangat rawan untuk berkembang secara tidak pasti . karena perubahan arus digital menyebabkan interaksi sosial tak terbatas. Sintesis antara data, pendapat Blommaert, dan pendapat beberapa pakar di atas dapat diperoleh simpulan bahwa . bahasa sebagai proses idiologis pada upaya menempatkan proses penentuan dan penetapan bahasa melalui jalan penetralan dari unsur suku yang terdapat dalam negara tersebut atau mengambil bahasa kelompok suku terdekat yang diterima oleh Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X Namun hal itu tidak berlaku bagi arus bahasa di era VUCA ini. Ketika proses idiologis melibatkan masyarakat, perkembangan bahasa pun menjadi ketentuan masyarakat. Perkembangan bahasa dalam era VUCA adalah sociolinguistic truism. Masyarakat yang monolingual sekali pun, akan berkembang sejalan dengan kebutuhan menjadi mulitilingualis. Jika definisi suatu konstruksi disebut bahasa atau perubahan dalam bahasa itu sangat bergantung pada masyarakat maka era VUCA adalah era rezim sociolinguistik. masyarakat bahasa bisa jadi berbeda dengan masyarakat tutur, dalam definisi perkembangan yang dikemukakan para linguis. Masyarakat tutur dengan representasi bahasa sebagai fakta sosial dan masyarakat bahasa adalah masyarakat yang menggunakan bahasa tertentu dengan kaidah-kaidah yang diyakininya sebagai sebagai kaidah yang tepat. Kiranya definisi ini dapat memberikan gambaran bahwa era VUCA memberikan warna baru dalam wujud aglutinatifnya DAFTAR PUSTAKA