Jurnal Pendidikan Multidisipliner Volume 8 Nomor 7, Juli 2025 ISSN: 27342488 PENDIDIKAN IMAN YANG PEDULI: STUDI TEOLOGIS LUKAS 10:30–37 TENTANG BELAS KASIHAN DALAM PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN Apresel Adiva Pinem1, Bangun, Bangun2 Email: apreseladiva@student.uhn.ac.id1, bangun@uhn.ac.id2 Universitas HKBP Nommensen Medan ABSTRACT This research aims to explore the meaning of mercy as a tangible expression of the Christian faith through a theological study of the parable of the good Samaritan in Luke 10:30–37, and relate it to the implementation of these values in the context of Christian Religious Education (PAK). This parable presents an act of mercy as central to a true faith response, transcending ethnic, religious, and cultural boundaries. In an era of education that tends to be academic and cognitive, this study emphasizes the importance of integrating affective and ethical dimensions in PAK learning, especially the formation of characters who car, empathize, and actively help others. This research method is qualitative with a theological-biblical approach and practical reflection, which relies on the exegesis of the text of Luke 10:30–37 and an analysis of its relevance to the curriculum and practice of Christian education. The results of this study show that acts of mercy are not just social ethics, but a manifestation of faith that is alive and centered on God's love. Therefore, PAK must be a means of forming students who not only know about Christ, but also live like Christ—with active and unbounded love. The theological and pedagogical implications of this study confirm that a transformative PAK must form a faith that cares about the suffering of others, to be a light in the midst of a world divided by differences and indifference. Keywords: Compassion, Luke 10:30–37, Christian Faith, Christian Religious Education, Character, Love, Transformation. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi makna belas kasihan sebagai ekspresi nyata dari iman Kristen melalui studi teologis atas perumpamaan orang Samaria yang baik hati dalam Lukas 10:30– 37, serta mengaitkannya dengan implementasi nilai-nilai tersebut dalam konteks Pendidikan Agama Kristen (PAK). Perumpamaan ini menampilkan tindakan belas kasihan sebagai pusat dari respons iman yang sejati, menembus batas etnis, agama, dan budaya. Dalam era pendidikan yang cenderung akademik dan kognitif, penelitian ini menekankan pentingnya mengintegrasikan dimensi afektif dan etis dalam pembelajaran PAK, khususnya pembentukan karakter yang peduli, empatik, dan aktif menolong sesama. Metode penelitian ini bersifat kualitatif dengan pendekatan teologis-biblika dan refleksi praktis, yang bertumpu pada eksegesis teks Lukas 10:30–37 serta analisis relevansinya terhadap kurikulum dan praktik pendidikan Kristen. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa tindakan belas kasihan bukan hanya etika sosial, tetapi merupakan manifestasi iman yang hidup dan berpusat pada kasih Allah. Oleh karena itu, PAK harus menjadi sarana pembentukan peserta didik yang bukan hanya tahu tentang Kristus, tetapi juga hidup seperti Kristus—dengan kasih yang aktif dan tanpa batas. Implikasi teologis dan pedagogis dari penelitian ini menegaskan bahwa PAK yang transformatif harus membentuk iman yang peduli terhadap penderitaan sesama, menjadi terang di tengah dunia yang terpecah oleh perbedaan dan ketidakpedulian. Kata Kunci: Belas Kasihan, Lukas 10:30–37, Iman Kristen, Pendidikan Agama Kristen, Karakter, Kasih, Transformasi. 53 PENDAHULUAN Dalam konteks kehidupan masyarakat modern saat ini, kasih sering kali semakin melemah. Banyak orang terjebak dalam rutinitas yang begitu menyita pikiran, waktu, dan tenaga, serta terperangkap dalam kehidupan yang semakin individualistis, yang telah mengakibatkan penurunan kualitas hubungan antarindividu. Kasih, yang seharusnya menjadi landasan utama dalam interaksi sosial, sering kali terabaikan. Dalam situasi ini, kasih tidak hanya sebuah perasaan, tetapi juga tindakan nyata yang melibatkan komitmen untuk peduli kepada orang lain (Djone Georges Nicolas dkk., 2022). Perumpamaan ini menjadi cermin yang memantulkan tantangan kasih, moral, dan spiritual yang masih sangat relevan dengan konteks kehidupan masa kini (Nicolas dkk., 2022). Di tengah dunia yang semakin terpolarisasi dan individualistis, kisah Orang Samaria yang Murah Hati mengajak setiap orang untuk merefleksikan kembali makna sesungguhnya dari mengasihi sesama dan bagaimana setiap orang dapat mewujudkannya dalam tindakan nyata. Dalam dunia yang semakin kompleks ini, tindakan kasih dapat membantu membangun jembatan di antara perbedaan dan menciptakan ruang bagi dialog konstruktif. Di sinilah Pendidikan Agama Kristen memegang peran strategis, yaitu sebagai sarana pembentukan karakter dan spiritualitas peserta didik yang berlandaskan pada kasih yang aktif, empatik, dan inklusif. Melalui kisah Orang Samaria yang Murah Hati, PAK tidak hanya mengajarkan nilai kasih sebagai doktrin, tetapi juga mendorong peserta didik untuk mewujudkan kasih itu dalam praktik nyata, khususnya dalam relasi sosial sehari-hari. Yesus menyampaikan salah satu perumpamaan yang paling berkesan dan mendalam tentang makna kasih melalui kisah Orang Samaria yang Murah Hati. Perumpamaan ini muncul sebagai jawaban atas pertanyaan seorang ahli Taurat yang menguji Yesus dengan pertanyaan, "Siapakah sesamaku manusia?" Pertanyaan itu pada hakikatnya menciptakan batasan dan cakupan kasih yang harus ditunjukkan kepada sesama. Melalui tokoh Orang Samaria, yang notabene berasal dari kelompok yang dipandang rendah oleh masyarakat Yahudi pada masa itu, Yesus mendemonstrasikan bahwa komitmen etis kasih melampaui sekat-sekat sosial dan prasangka budaya yang telah mengakar.(No & No, 2025) Kesenjangan dalam literatur dan praktik terkait Perumpamaan Orang Samaria yang Murah Hati (Lukas 10:25–37) mencerminkan perlunya eksplorasi lebih mendalam terhadap dimensi sosial, teologis, dan psikologis dari narasi ini. Meskipun perumpamaan ini telah menjadi subjek kajian teologis yang luas, terdapat beberapa area yang belum sepenuhnya terbahas. Salah satu kesenjangan utama adalah kurangnya penelitian yang menghubungkan pesan etis kasih dalam perumpamaan ini dengan perilaku prososial dalam masyarakat kontemporer. Studi terhadap eksperimen Darley dan Batson, yang menguji hubungan antara tekanan waktu dan tindakan membantu, memberikan wawasan awal tentang bagaimana nilainilai dalam perumpamaan tersebut dapat memengaruhi tindakan manusia. Namun, penelitian serupa yang lebih kontekstual, misalnya dalam situasi sosial modern seperti krisis kemanusiaan atau ketidakadilan sistemik, masih sangat terbatas Kesenjangan tersebut muncul pertanyaan penelitian yang relevan untuk dijawab. Bagaimana pesan perumpamaan ini dapat diterapkan untuk memahami perilaku prososial di masyarakat modern? Apa saja akar penyebab ketidakadilan sosial yang dapat diidentifikasi melalui analisis kritis terhadap narasi ini? Bagaimana konsep "sesama" dalam perumpamaan ini dapat diperluas untuk mencakup kelompokkelompok terpinggirkan? Pertanyaanpertanyaan tersebut tidak hanya membantu menjembatani kesenjangan dalam literatur, tetapi juga mendorong refleksi teologis dan sosial yang lebih mendalam. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis secara naratif dan teologis perumpamaan Orang Samaria yang Murah Hati dalam Lukas 10:25–37. Tulisan ini diharapkan dapat menjawab konsep kasih yang didefinisikan dan diwujudkan dalam konteks lintas batas sosial dan religius. Tindakan orang Samaria tersebut menunjukkan bahwa kasih sayang melampaui 54 batas etnis dan agama. Perumpamaan ini menantang pendengarnya untuk mempertimbangkan kembali definisi mereka tentang siapa yang dianggap sebagai sesama. Orang-orang yang diharapkan dapat membantu orang Samaria dalam kesesakannya, seperti para imam dan Lewi, telah gagal dalam tugas mereka sebagai sosok yang mengenal hukum Allah. Hal kontras terjadi ketika Samaria menunjukkan belas kasih dan kebaikan. Pembalikan ini tidak hanya menyoroti kegagalan moral dari mereka yang memiliki otoritas religius, tetapi juga mendefinisikan ulang siapa yang layak mendapatkan kasih dan perhatian. ME TODE PE NE LITIA N Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka (library research) dan tafsir naratif-teologis terhadap Lukas 10:30–37. Penelusuran data dilakukan melalui analisis terhadap sumber-sumber primer berupa Alkitab dan literatur sekunder seperti buku-buku teologi, jurnal akademik, dan hasil-hasil penelitian terdahulu yang relevan. Pendekatan tafsir naratif digunakan untuk mengkaji unsur-unsur struktural teks, termasuk penokohan, alur, dan ironi naratif, guna mengungkap makna teologis dan etis dari perumpamaan Orang Samaria yang Murah Hati. Analisis ini dilengkapi dengan refleksi teologis dan pedagogis dalam konteks Pendidikan Agama Kristen, guna mengeksplorasi bagaimana nilai belas kasihan dalam teks dapat diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran iman yang transformatif dan kontekstual. Pendekatan ini bertujuan menghasilkan pemahaman mendalam mengenai pesan kasih lintas batas sosial dalam perumpamaan serta relevansinya dalam membentuk karakter iman peserta didik. i i i i i HASIL DAN PEMBAHASAN Imam Imam dalam perumpamaan Yesus di Lukas 10:33-37 berfungsi sebagai wakil spiritual yang seharusnya menjadi teladan dalam menunjukkan kasih dan belas kasihan. Namun, dalam konteks cerita, ia justru mengabaikan penderitaan sesama. Ketika melihat seorang musafir yang terluka dan tergeletak di pinggir jalan, imam tersebut memilih untuk melewatinya dari seberang jalan, menunjukkan sikap acuh tak acuh terhadap kebutuhan mendesak orang lain. Tindakan ini mencerminkan prioritasnya terhadap keselamatan dan kemurnian ritualnya sendiri, yang lebih penting baginya daripada memberikan pertolongan kepada orang yang membutuhkan.Perilaku imam ini menggambarkan sikap umum yang sering kali terjadi di kalangan pemimpin agama pada masa itu. Mereka terjebak dalam rutinitas ritual dan hukum, sehingga kehilangan esensi dari ajaran kasih yang seharusnya menjadi inti dari iman mereka (Tambun, 2024). Dalam konteks hukum Taurat, imam mungkin merasa bahwa menyentuh atau membantu orang yang terluka dapat menajiskan dirinya secara ritual, sehingga ia lebih memilih untuk menjaga kemurnian dirinya daripada menunjukkan belas kasih kepada sesama. Ini menunjukkan bahwa kepatuhan pada hukum tidak selalu sejalan dengan tindakan kasih (Nicolas et al., 2022). Dalam perumpamaan ini, Yesus mengajarkan bahwa kasih kepada sesama harus melampaui batasanbatasan yang ditetapkan oleh hukum atau tradisi. Ketika Yesus menggambarkan tindakan seorang Samaria yang baik hati yang justru dianggap sebagai musuh oleh orang Yahudi, maka Yesus menunjukkan bahwa kasih tidak mengenal batasan identitas atau status sosial. Tindakan orang Samaria yang merawat orang yang terluka mencerminkan apa artinya menjadi sesama manusia, yaitu bertindak dengan belas kasih tanpa memikirkan konsekuensi bagi diri sendiri. Melalui kisah ini, Yesus menantang pendengarNya, termasuk bahwa tindakan kasih adalah manifestasi dari iman dan merupakan panggilan untuk bertindak demi kebaikan orang lain. Dengan demikian, imam dalam perumpamaan ini berfungsi sebagai peringatan akan bahaya dari ritualisme yang kaku dan kurangnya perhatian terhadap kebutuhan sesama. Ajaran Yesus menekankan bahwa keselamatan tidak hanya diperoleh melalui pengetahuan atau kepatuhan pada hukum, tetapi juga melalui tindakan 55 kasih yang nyata terhadap orang lain(Nainggolan, 2022) Dalam konteks Pendidikan Agama Kristen, perumpamaan tentang Imam dan Orang Samaria ini tidak hanya menjadi kisah etis-moral, tetapi juga sarana pedagogis yang sangat penting untuk menanamkan nilai belas kasihan dan kepedulian sosial kepada peserta didik. Pendidikan iman tidak cukup hanya dengan pengetahuan doktrinal atau hafalan ayat, melainkan harus membentuk karakter dan sensitivitas terhadap penderitaan sesama. Guru PAK dapat menggunakan kisah ini sebagai titik tolak pembelajaran kontekstual yang mengajak siswa merefleksikan tindakan kasih dalam kehidupan nyata—baik di sekolah, keluarga, maupun masyarakat. Dengan demikian, iman yang diajarkan bukan bersifat abstrak, melainkan mengakar dalam tindakan nyata yang meneladani kasih Kristus. Orang Samaria dalam perumpamaan yang diceritakan oleh Yesus di Lukas 10:25-37 merupakan tokoh yang tidak terduga. Dalam konteks masyarakat Yahudi pada masa itu, orang Samaria sering dianggap sebagai musuh dan sosok yang rendah, karena mereka berasal dari latar belakang yang berbeda dan memiliki praktik keagamaan yang dianggap tidak murni. Namun, dalam narasi ini, orang Samaria justru muncul sebagai pahlawan etis akan kasih yang mumpuni. Ketika seorang musafir jatuh ke tangan penyamun dan terluka parah, dua tokoh penting, seorang imam dan seorang Lewi, yang seharusnya menjadi contoh dalam menunjukkan kasih dan belas kasihan, akhirnya memilih untuk mengabaikan korban tersebut. Mereka melewati korban itu dari seberang jalan, menunjukkan sikap acuh tak acuh terhadap penderitaan sesama. Dalam kontras yang mencolok, orang Samaria yang datang kemudian tergerak oleh belas kasihan ketika melihat korban tersebut. Tindakan ini menunjukkan bahwa kasih tidak mengenal batasan etnis atau status social Orang Samaria tidak hanya melihat penderitaan orang yang terluka; ia mengambil tindakan konkret untuk membantu. Ia membalut luka-lukanya dengan minyak dan anggur, mengangkatnya ke atas keledai tunggangannya, dan membawanya ke tempat penginapan untuk dirawat. (Rahayu et al., 2023) Tindakan-tindakan ini menggambarkan kasih yang nyata dan penuh pengorbanan. Dalam konteks ini, Yesus menekankan bahwa tindakan kasih adalah esensi dari iman. Perumpamaan ini menggugah pendengar untuk merenungkan kembali siapa sesama mereka dan bagaimana seharusnya bertindak terhadap orang lain, terutama terhadap mereka yang membutuhkan. Orang Samaria menjadi simbol dari kasih yang melampaui batasan-batasan sosial dan budaya. Dengan memilih seorang Samaria sebagai pahlawan dalam kisah ini, (Stevanus, 2020). Yesus menantang pandangan stereotipikal masyarakat Yahudi terhadap orang Samaria dan menunjukkan bahwa siapa pun dapat menjadi alat kasih Allah. Melalui kisah orang Samaria yang baik hati, Yesus mengajarkan bahwa tindakan kasih tidak tergantung pada identitas atau latar belakang seseorang, tetapi pada kemampuan untuk merasakan belas kasihan dan bertindak demi kebaikan orang lain. Ini merupakan panggilan bagi setiap individu agar tidak hanya memahami ajaran moral, tetapi juga menerapkannya dalam tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, perumpamaan ini tetap relevan sebagai pengingat akan pentingnya kasih kepada sesama manusia tanpa memandang perbedaan(Dalam & Orang, 2024) Kasih yang Melampaui Batas Pertama komitmen etis kasih membutuhkan tindakan nyata yang melampaui sekadar perasaan atau teori. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali terjebak dalam rutinitas dan kesibukan yang membuat kita mengabaikan kebutuhan orang lain di sekitar kita (Tambun & Raulina, 2023). Sebagaimana yang telah dilakukan oleh orang Samaria yang menghentikan langkah dan urusannya demi menolong korban, kita juga perlu mengambil langkah konkret untuk membantu mereka yang membutuhkan. Hal ini bisa dimulai dengan hal-hal sederhana seperti meluangkan waktu untuk mendengarkan kesulitan orang lain, memberikan bantuan langsung ketika melihat seseorang dalam kesusahan, atau mengambil inisiatif untuk membantu tanpa diminta. Tindakan-tindakan kecil ini, ketika dilakukan dengan tulus, dapat 56 membuat perbedaan besar dalam kehidupan orang lain (Stevanus, 2020) Kedua, praxis etis kasih menuntut kita untuk keluar dari zona nyaman dan melampaui berbagai batasan sosial, budaya, atau pribadi yang sering kali membatasi interaksi dengan orang lain. Sebagaimana yang dilakukan oleh orang Samaria yang menolong orang Yahudi meskipun ada permusuhan di antara kedua kelompok, kita juga dipanggil untuk mengatasi prasangka dan stereotip yang mungkin terbangun di tengah-tengah perbedaan yang ada. Ini berarti membuka diri untuk membangun persahabatan dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda, menghargai keragaman, dan berani mengambil risiko demi menolong orang lain. Dalam dunia yang semakin terpolarisasi, sikap ini menjadi sangat penting untuk membangun jembatan pemahaman dan menciptakan masyarakat yang lebih inklusif (Rahayu dkk., 2023). Ketiga, transformasi etis kasih bersifat komprehensif dan berkelanjutan, tidak setengahsetengah atau sekadar bantuan sementara (Tambun & Raulina, 2023). Orang Samaria dalam perumpamaan tersebut tidak hanya memberikan pertolongan pertama, tetapi juga memastikan perawatan berkelanjutan dengan membawa korban ke penginapan dan menjamin biaya perawatannya (Santo, 2024). Hal ini mengajarkan kita untuk memiliki komitmen jangka panjang dalam membantu orang lain, tidak hanya memberikan bantuan sepintas lalu. Ini bisa berarti terlibat dalam solusi jangka panjang untuk masalah yang dihadapi orang lain, membangun sistem dukungan yang berkelanjutan, dan bersedia menginvestasikan waktu, tenaga, serta sumber daya untuk membantu mereka yang membutuhkan. Dengan demikian, kasih yang diberikan dapat memberikan dampak yang lebih bermakna dan transformatif dalam kehidupan orang lain(Kerygma et al., 2025) Kasih menuntut orang-orang percaya berkorban demi orang lain, dan menekankan keutamaan melayani dibanding dilayani seperti yang diungkapkan Kristus sendiri yang menyatakan hadir di dunia dengan tujuan melayani dan bahkan mempersembahkan nyawa untuk semua orang, bukan untuk dilayani Hal tersebut disepakati oleh Edwin yang menyatakan bahwa orang percaya sebagai wakil Kristus mempunyai tanggung jawab menjadi menjelmakan anugerah Allah di tengah dunia melalui kasih dengan memprioritaskan kepentingan sesama di atas kepentingan diri sendiri, sebab kasih menolak perzinaan, pembunuhan, pencurian, keinginan atas milik sesama (G., 2021). Oleh karena itu, justru menjadi suatu anomali dan bahkan ironis apa bila seseorang yang membuat pengakuan dirinya sebagai orang percaya di dalam Kristus Yesus, hidup tidak berbeda dengan nilai dunia ini. Dengan demikian, perumpamaan Orang Samaria yang Murah Hati tidak hanya mengajarkan nilai moral dan spiritual, tetapi juga memberikan kontribusi penting dalam pembangunan manusia secara holistik. Pendidikan iman yang peduli, sebagaimana dicontohkan dalam kisah ini, mendorong pengembangan empati, tanggung jawab sosial, dan kesadaran akan kemanusiaan yang utuh yang menjadi fondasi utama dalam membangun masyarakat yang adil dan berbelas kasih (Bangun et al., n.d.) KESIMPULAN Melalui kisah orang Samaria yang murah hati, orang Kristen belajar bagaimana bersikap dan memperlakukan sesamanya sebagai sahabat, sebagai sesama manusia tanpa membuat pembedaan. Dengan demikian, telah terjawab bahwa sesama manusia adalah semua orang tanpa mempedulikan latar belakang sosialnya—siapa pun, yakni tidak terbatas oleh ras, etnis, agama maupun budaya. Hukum kasih melampaui batas ras, etnis, agama, budaya, dan atribut sosial lain, seperti yang ditunjukkan dalam perumpamaan tersebut. Hal inilah yang dituntut dari kehidupan kristiani, bagaimana pun keadaan dan di mana pun, tampil sebagai seorang Samaria yang murah hati bagi sesama dan untuk ‘kebaikan bersama’ dan terlebih lagi sebagai wujud kesaksian bagi nama Kristus. Orang Kristen seyogianya selalu berpandangan 57 positif terhadap sesama apa pun agama, kepercayaan, etnis, budaya, tradisi, dan status sosialnya. Sikap demikian akan mencegah ketegangan-ketegangan dan konflik dengan sesama. Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh, dapat disimpulkan bahwa kemerosotan nilai kasih merupakan persoalan baru yang memengaruhi kehidupan orang percaya di masa kini oleh karena dua penyebab: pertama, orang percaya belum sepenuhnya mendedikasikan hidup mereka untuk memuliakan Allah. Yakni, tujuan kehidupan yang dihidupi oleh sebagian orang percaya bukanlah untuk memuliakan Kristus, tetapi justru untuk kepentingan diri sendiri. Kedua, orang percaya terpengaruh arus sistem dunia, yakni dengan perlahan-lahan memperlihatkan hasrat mengikuti gaya kehidupan hedon-materialistik yang terpusat pada kepentingan sendiri maupun berperilaku secara amoral dalam hal seksual seperti dunia pada umumnya. Sehingga menjadi batu sandungan dan bergeser dari misi Allah. Oleh karena itu, diperlukan penguatan pembinaan baik secara spiritual maupun secara karakter melalui pelayanan pastoral dengan program khusus seperti pemuridan dan program gereja yang lainnya, dalam rangka mengembangkan dan meningkatkan kualitas kehidupan orang percaya sehingga melalui tindakan kasih yang nyata, umat Allah hadir menjadi saksi dan surat yang terbuka dari Kristus Yesus kapan pun dan di mana pun berada. Pendidikan Agama Kristen memiliki tanggung jawab strategis dalam menanamkan nilai kasih yang melampaui batas sosial kepada peserta didik, bukan hanya sebagai ajaran normatif, tetapi sebagai praktik nyata dalam kehidupan. Melalui pendekatan pedagogis yang kontekstual dan transformatif, PAK harus membentuk pribadi yang tidak hanya mengenal kasih secara teoritis, tetapi juga menjadikannya sebagai gaya hidup. Sebab tanpa kasih, kekristenan tidak ada arti dan relevansinya pasti dipertanyakan, karena mendedikasikan hidup kepada Allah dan memuliakan nama-Nya merupakan respon yang benar dan tepat atas kasih-Nya yang telah diterima oleh setiap orang yang ada di dalam Kristus Yesus. DAFTAR PUSTAKA Bangun, B., Siregar, S. I. I., & Rajagukguk, W. (2025). Human Development Index and Junior Secondary National Exam Scores in Indonesia. International Journal of Environmental Sciences, 11(4s), 930-937. Kerygma, P. T., Diakonia, D. A. N., Woen, V., Victoria, E., Barail, S., & Waruwu, N. (2025). KASIH DALAM TRITUGAS GEREJA : PENDEKATAN TEO-. 9(1), 163–172. Nainggolan, D. (2022). Jurnal Impresi Indonesia ( JII ). 1(6). https://doi.org/10.36418/jii.v1i6.85 Nicolas, D. G., Manaroinsong, T., & Putro, L. J. W. (2022). The Irony of the Crisis of Love in Today ’ s Christ Followers Ironi Krisis Kasih Dalam Komunitas Pengikut Kristus Masa Kini. 2(5), 2479–2496. No, V., & No, M. (2025). Jurnal Teologi & Pelayanan Kerusso Belas Kasih Tanpa Batas : Refleksi Naratif-Teologis atas Lukas 10 : 25 – 37 dalam Konteks Kontemporer. 10(1), 75–88. Rahayu, Y. F., Utomo, K., Arifianto, Y. A., Tinggi, S., Nusantara, T., Tinggi, S., & Sangkakala, T. (2023). Gereja Menyikapi Radikalisme di Era Disruptif. 9(2), 110–120. Stevanus, K. (2020). Memaknai Kisah Orang Samaria yang Murah Hati Menurut Lukas 10 : 25-37 sebagai Upaya Pencegahan Konflik. 4666, 1–13 Dalam, K., & Orang, N. (2024). Manna Rafflesia. 2(April 2023), 116–127. 58