Jurnal Kesehatan Ilkmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) ANALISIS ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN LANSIA HIPERTENSI DENGAN TERAPI INOVASI RENDAM KAKI DENGAN AIR HANGAT DAN JAHE DI DESA SINABUN I Gusti Putu Aris WiraprasatyaA. I Dewa Ayu RismayantiA. Ni Made Dwi Yunica AstrianiA Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Buleleng wiraprasatya10@gmail. ABSTRAK Seiring bertambahnya usia, risiko seseorang mengalami penyakit kardiovaskular juga cenderung Salah satu kondisi kardiovaskular yang umum dan menjadi perhatian utama dalam dunia kesehatan adalah hipertensi. Memasuki usia 40 tahun ke atas, kerja jantung menjadi lebih berat dalam memompa darah karena elastisitas pembuluh darah menurun, menyebabkan pembuluh menjadi lebih kaku dan keras. Tekanan darah tinggi merupakan penyakit tidak menular yang menempati peringkat ketiga di kawasan Asia Tenggara dan menjadi salah satu penyebab utama kematian secara global. Penelitian studi kasus merupakan penelitian yang mengeksplorasi serta mengevaluasi pelaksanaan asuhan keperawatan pada lansia penderita hipertensi melalui terapi inovatif berupa rendaman kaki menggunakan air hangat yang dicampur jahe di Desa Sinabun. Setelah dilakukan intervensi, klien (Tn. B) menunjukkan perkembangan positif. Klien menyatakan telah memahami penjelasan yang diberikan oleh perawat dan berkomitmen untuk rutin melakukan kontrol kesehatan. Tekanan darahnya menurun, tubuh terasa lebih rileks, serta keluhan sakit kepala dan rasa berat di tengkuk mulai mereda. Secara umum, klien tampak memahami kondisinya, tidak lagi terlihat bingung, tampak lebih tenang, dan mulai menerapkan saran-saran yang diberikan oleh perawat. Tekanan Darah (TD): 130/90 mmHg. Nadi (N): 89 kali/menit. Frekuensi Napas (RR): 20 kali/menit. Suhu (S): 36,3AC dengan masalah telah teratasi dan planning: lanjutkan intervensi yang telah diberikan dan pertahankan kondisi klien yang sudah , dorong klien untuk tetap melanjutkan pengobatan ke fasilitas pelayanan Kesehatan, anjurkan klien untuk terus menjaga kesehatan secara mandiri. Sarankan untuk rutin melakukan terapi rendam kaki menggunakan air hangat dan jahe. Kata kunci : Hipertensi. Rendam Kaki. Air Hangat Jahe ABSTRACT As age increases, the risk of a person experiencing cardiovascular disease also tends to increase. One of the common cardiovascular conditions and a major concern in the world of health is hypertension. Entering the age of 40 years and above, the heart works harder in pumping blood because the elasticity of blood vessels decreases, causing the vessels to become stiffer and harder. High blood pressure is a non-communicable disease that ranks third in the Southeast Asia region and is one of the leading causes of death globally. Case study research is a study that explores and evaluates the implementation of nursing care for elderly people with hypertension through innovative therapy in the form of foot soaks using warm water mixed with ginger in Sinabun Village. After the intervention, the client (Mr. showed positive developments. The client stated that he had understood the explanation given by the nurse and was committed to routinely carrying out health checks. His blood pressure decreased, his body felt more relaxed, and complaints of headaches and a feeling of heaviness in the nape of his neck began to subside. In general, the client seemed to understand his condition, no longer looked confused, looked calmer, and began to apply the suggestions given by the nurse. Blood Pressure (BP): 130/90 mmHg. Pulse (N): 89 times/minute. Respiratory Rate (RR): 20 times/minute. Temperature (S): 36. with the problem has been resolved and planning: continue the intervention that has been given and maintain the client's improved condition. , encourage the client to continue treatment to the Health service facility, advise the client to continue to maintain their health independently. Suggest routinely doing foot soak therapy using warm water and ginger. Keywords : Hypertension. Foot Soak. Warm Water Ginger Vol. 10 No. 1 Juni 2025 Jurnal Kesehatan Ilkmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) PENDAHULUAN Seiring bertambahnya usia, risiko kardiovaskular juga cenderung meningkat. Salah satu kondisi kardiovaskular yang umum dan menjadi perhatian utama dalam dunia kesehatan adalah hipertensi. Memasuki usia 40 tahun ke atas, kerja jantung menjadi lebih berat dalam memompa darah karena elastisitas pembuluh darah menurun, menyebabkan pembuluh menjadi lebih kaku dan keras. Tekanan darah tinggi merupakan penyakit tidak menular yang menempati peringkat ketiga di kawasan Asia Tenggara dan menjadi salah satu penyebab utama kematian secara global. Di Indonesia, hipertensi menjadi tantangan tersendiri mengingat tingginya jumlah penduduk yang mengidap penyakit ini (Alfatimah. Astuti . menyebutkan bahwa hipertensi, yang dikenal juga sebagai silent killer, merupakan kondisi meningkatnya tekanan darah, dengan hasil pemeriksaan menunjukkan tekanan sistolik melebihi 140 mmHg dan diastolik lebih dari 90 mmHg. Meskipun kasus hipertensi cukup tinggi, masih banyak penderita yang tidak memeriksakan kesehatannya. Hal ini disebabkan oleh kekhawatiran terhadap efek samping obat hipertensi serta rasa jenuh dalam mengonsumsinya. Selain itu, rendahnya kesadaran masyarakat terhadap menyebabkan mereka enggan untuk melakukan pemeriksaan ke fasilitas Akibatnya, tekanan darah pada penderita sering tidak terkontrol dan memperburuk kondisi mereka. Gaya hidup yang tidak sehat, seperti kurang olahraga, kebiasaan merokok, serta asupan gizi yang Vol. 10 No. 1 Juni 2025 tidak memadai, turut berkontribusi dalam meningkatkan risiko hipertensi (Prima & Oktaini, 2. Menurut data dari World Health Organization (WHO) tahun 2018, angka prevalensi hipertensi secara global mencapai 22% dari seluruh populasi dunia. Wilayah dengan prevalensi tertinggi adalah Afrika, yaitu sebesar 27%, sementara Asia Tenggara menempati posisi ketiga dengan tingkat prevalensi mencapai 25% dari total populasi (Maulidah et al. , 2. Meskipun jumlah penderita hipertensi cukup tinggi, upaya pengendalian tekanan darah masih sangat rendah, dengan kurang dari seperlima penderita yang melakukan langkahlangkah pengelolaan kondisi tersebut (Nonasri, 2. Berdasarkan Riskesdas hipertensi di Indonesia yang diperoleh melalui pengukuran langsung pada penduduk di berbagai provinsi mencapai 34,11% (Riskesdas, 2. Sementara itu, hasil Riskesdas Provinsi Bali tahun yang sama menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi berdasarkan pengukuran di tingkat kabupaten sebesar 29,97%. Jika dilihat dari karakteristik usia, kelompok umur 55Ae64 tahun memiliki prevalensi sebesar 44,97%, kelompok usia 65Ae74 tahun sebesar 51,85%, dan pada kelompok usia 75 tahun ke atas mencapai 56,21%. Berdasarkan jenis kelamin, prevalensi hipertensi pada laki-laki sebesar 31,05% dan pada perempuan sebesar 28,91% (Riskesdas Bali, 2. Menurut data Profil Kesehatan Buleleng tahun 2021, hipertensi tercatat sebagai penyakit dengan jumlah kasus tertinggi di antara sepuluh penyakit utama di Kabupaten Buleleng, dengan total 887 kasus. Dari jumlah tersebut, 20. Jurnal Kesehatan Ilkmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) kasus . ,6%) dialami oleh laki-laki dan menyatakan bahwa rendaman air jahe 136 kasus . ,4%) oleh Perempuan. hangat pada kaki efektif terhadap Fernalia dan Devi Listiana . penurunan tekanan darah lansia di Desa mengemukakan bahwa hipertensi yang Bangsal Kabupaten Mojokerto. Berdasarkan uraian yang tertera di tidak ditangani dengan cepat dan tepat dapat menimbulkan komplikasi serius, atas, maka peneliti tertarik melakukan seperti stroke, gangguan fungsi ginjal, studi kasus dengan judul AuAnalisis Asuhan Keperawatan Pada Pasien Lansia gangguan penglihatan, hingga kematian. Sementara itu, menurut Andari et al. Hipertensi Dengan Terapi Inovasi Rendam . , penanganan hipertensi dapat Kaki Dengan Air Hangat Dan Jahe Di Desa SinabunAy. dilakukan melalui tiga pendekatan: farmakologis, non Ae farmakologis, atau Pendekatan 2. METODE PENELITIAN farmakologis melibatkan penggunaan obat Desain penelitian yang digunakan Namun, pengobatan ini dalam penelitian ini adalah studi kasus. belum sepenuhnya efektif karena berisiko Penelitian menimbulkan kekambuhan serta efek penelitian yang mengeksplorasi suatu samping jangka panjang. Oleh karena itu, permasalahan air dengan batasan yang perubahan perilaku menuju pola hidup rinci, memiliki pengumpulan data yang sehat menjadi strategi penting dalam mendalam dan mencakup berbagai sumber menjaga tekanan darah tetap stabil dan Penelitian studi kasus dibatasi Menurut Sari & Effendy, 2021 oleh waktu dan tempat, dan kasus yang Penanganan yang dilakukan yaitu dengan diteliti adalah kejadian, kegiatan atau cara terapi non farmakologis, salah satunya Untuk menganalisis untuk dengan terapi rendaman kaki air jahe keperawatan pada lansia penderita Menurut Sari & Effendy, 2021 dalam hipertensi melalui terapi inovatif berupa jurnalnya menyatakan bahwa terapi rendaman kaki menggunakan air hangat merendam kaki dengan air jahe hangat yang dicampur jahe di Desa Sinabun. bertujuan untuk memperlancar sirkulasi darah dan terbukti cukup efektif dalam 3. HASIL membantu menurunkan tekanan darah. Masalah keperawatan merupakan hasil Proses terapi ini dilakukan selama 15 dari suatu penilaian klinis terhadap respons Air hangat sendiri memberikan efek individu terhadap kondisi kesehatan atau fisiologis yang positif bagi tubuh, terutama tahapan kehidupan yang sedang atau dalam memperbaiki aliran darah. Terapi ini berpotensi terjadi. Tujuan dari diagnosis praktis dan dapat dilakukan kapan saja di keperawatan adalah untuk mengenali respons pasien terhadap kondisi atau Hasil penelitian dari Sari & Effendy, 2021 yang berjudul AuPengaruh Pemberian Rendaman Air Jahe Pada Kaki Terhadap Masalah kesehatan saat ini menjadi Penurunan Tekanan Darah Pada LansiaAy salah satu ancaman utama bagi kehidupan Vol. 10 No. 1 Juni 2025 Jurnal Kesehatan Ilkmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) Berbagai jenis gangguan mencegah timbulnya penyakit hipertensi kesehatan ditemukan di lingkungan dan kurang paham apa itu hipertensi. Sementara itu, data objektif menunjukkan Hipertensi termasuk dalam bahwa pasien tampak lemas dan bertanya Ae kategori penyakit tidak menular. bertanya, dengan tekanan darah 160/80 Indonesia, prevalensi hipertensi tercatat mmHg, denyut nadi 90 kali per menit, suhu sebesar 34,11%, sementara di Bali tubuh 36AC, dan frekuensi napas 20 kali per prevalensinya berdasarkan jenis kelamin adalah 31,05% pada laki-laki dan 28,91% Berdasarkan pada perempuan. Jika tidak dikendalikan keperawatan terhadap Tn. B, ditemukan atau ditangani secara tepat, hipertensi dapat adanya permasalahan yang berkaitan menimbulkan komplikasi serius seperti dengan keluhan utama, yaitu hipertensi stroke, gagal ginjal, gangguan penglihatan, yang telah dialami selama satu tahun bahkan dapat menyebabkan kematian Gejala yang sering dirasakan (Riskesdas, 2. Salah satu gejala mencakup pusing, sakit kepala, serta rasa hipertensi adalah nyeri akut, yaitu berat di bagian belakang kepala . ketidaknyamanan yang dirasakan dalam Tn. B juga menyatakan bahwa ia kurang bentuk nyeri, baik sebagai respons sensorik memahami cara mencegah hipertensi dan maupun emosional akibat kerusakan tidak memiliki pengetahuan yang cukup jaringan yang nyata ataupun fungsional. mengenai penyakit tersebut. Berdasarkan Nyeri ini bisa muncul secara tiba-tiba atau temuan ini, masalah keperawatan utama perlahan, dengan tingkat intensitas yang yang diidentifikasi adalah Manajemen bervariasi dari ringan hingga berat, dan Kesehatan Keluarga yang Tidak Efektif. biasanya berlangsung kurang dari tiga Diagnosis ini berkaitan dengan banyaknya Jika tidak ditangani dengan baik, tuntutan yang dihadapi, yang dibuktikan nyeri ini dapat mengganggu aktivitas dengan pernyataan klien bahwa ia tidak sehari-hari secara signifikan. memahami kondisi kesehatannya, serta Saat saya mengunjungi rumah klien, adanya peningkatan tanda vital, yaitu dilakukan proses pengkajian yang meliputi tekanan darah 160/90 mmHg dan denyut data subjektif dan objektif. Data subjektif nadi 90 kali per menit. diperoleh melalui wawancara langsung dengan pasien yang mencakup aspek- 4. PEMBAHASAN Hipertensi merupakan salah satu jenis aspek seperti identitas, keluhan utama, penyakit kardiovaskular yang sering menjadi permasalahan kesehatan utama. Berdasarkan hasil pengkajian terhadap terutama pada kelompok usia lanjut dan klien (Tn. B), diperoleh informasi bahwa usia paruh baya. Seiring bertambahnya usia, khususnya setelah usia 40 tahun, hipertensi sejak satu tahun lalu. Gejala jantung harus bekerja lebih keras untuk yang sering dirasakan antara lain pusing, memompa darah karena kekakuan dan sakit kepala, dan rasa berat pada bagian Jika belakang kepala . Tn. B juga hipertensi tidak dikendalikan dengan baik mengatakan kurang mengerti cara untuk dan tidak mendapatkan penanganan yang Vol. 10 No. 1 Juni 2025 Jurnal Kesehatan Ilkmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) tepat, kondisi ini dapat menimbulkan komplikasi serius seperti stroke, gagal ginjal, gangguan penglihatan, bahkan bisa menyebabkan kematian (Fernalia & Devi Listiana, 2. Peningkatan tekanan darah pada pasien hipertensi umumnya dipengaruhi oleh pola hidup yang tidak sehat, seperti minimnya aktivitas fisik, kebiasaan merokok, serta kurangnya asupan makanan Akibat dari gaya hidup tersebut, penderita hipertensi sering mengalami masalah keperawatan berupa nyeri akut. Nyeri akut ini merupakan salah satu bentuk ketidaknyamanan yang muncul akibat lonjakan tekanan darah dan, jika tidak segera ditangani, dapat mengganggu aktivitas pasien secara signifikan (Prima & Oktaini, 2. Untuk mengontrol tekanan darah sekaligus mengurangi nyeri akut pada penatalaksanaan yang tepat. Terdapat dua pendekatan dalam penanganan hipertensi dan nyeri akut, yaitu secara farmakologis non-farmakologis. Pendekatan farmakologis dilakukan melalui pemberian obat, namun penggunaan obat dalam jangka panjang dapat menimbulkan efek samping bagi tubuh (Oktaria, 2. Oleh karena itu, dibutuhkan alternatif nonfarmakologis yang lebih efektif, salah satunya melalui terapi rendam kaki menggunakan air hangat dan jahe. Menurut (Apriyani, 2. terapi rendam kaki dengan air hangat adalah merendam kaki . pada larutan hangat memberikan sirkulasi, mengurangi edema, meningkatkan sirkulasi otot, rendam kaki akan menimbulkan respon sistemik terjadi karena mekanisme vasodilatasi atau pelebaran pembuluh6 Vol. 10 No. 1 Juni 2025 Rendam kaki dengan air hangat dapat dikombinasikan dengan bahan bahan herbal salah satunya jahe, jenis jahe yang dikenal masyarakat yaitu jahe emprit . ahe kunin. , jahe sunti . ahe mera. , jahe gajah . ahe bada. tetapi jahe yang digunakan untuk obat obatan adalah jahe merah, dikarenakan jahe merah mengandung lebih tinggi minyak atsiri dibanding dengan jahe Berdasarkan hasil pengkajian yang dilakukan oleh peneliti, diagnosis keperawatan utama yang ditemukan pada klien (Tn. B) adalah Manajemen Kesehatan Keluarga yang Tidak Efektif. Oleh karena itu, intervensi keperawatan dilaksanakan dengan tujuan untuk memberikan edukasi terkait penyakit hipertensi, langkahlangkah penanganannya, serta membantu perbaikan tekanan darah dan frekuensi denyut nadi Setelah dilakukan selama kurang lebih 15 menit, tahap selanjutnya adalah evaluasi. Hasil evaluasi pada klien (Tn. B) menunjukkan adanya penurunan keluhan, di mana klien menyatakan bahwa sakit kepala dan rasa berat di tengkuk telah berkurang serta merasa lebih rileks. Selain itu, klien juga telah memahami cara pencegahan dan penanganan hipertensi melalui metode non-farmakologis, seperti terapi rendam kaki dengan air hangat yang dicampur jahe. Hasil pemeriksaan menunjukkan tekanan darah 130/90 mmHg, denyut nadi 89 kali per menit, laju napas 20 kali per menit, dan suhu tubuh 36,3AC. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa terapi rendam kaki menggunakan air hangat dan jahe terbukti efektif dalam membantu menurunkan tekanan darah dan meredakan Jurnal Kesehatan Ilkmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) nyeri yang dialami klien. tahun terbit antara 2018 hingga 2021. Temuan ini sejalan dengan hasil Kelima penelitian oleh Muksin dan rekan-rekan menunjukkan bahwa sebelum dilakukan . yang menunjukkan bahwa terapi terapi rendam kaki menggunakan air jahe rendam kaki dengan air hangat yang hangat, tekanan darah sistolik peserta dicampur jahe memiliki pengaruh berkisar antara 149,05Ae153,35 mmHg dan signifikan dalam menurunkan tekanan tekanan diastolik antara 78,69Ae97,06 darah pada penderita hipertensi. Selain itu, mmHg. Setelah terapi diberikan, tekanan terapi ini juga bermanfaat dalam darah menurun dengan kisaran sistolik mengurangi rasa nyeri pada otot-otot kaki, antara 124,74Ae140,12 mmHg dan diastolik karena dapat merangsang produksi antara 75,95Ae84,88 mmHg. Seluruh jurnal endorfin Ai yaitu zat kimia dalam sistem tersebut menunjukkan adanya efektivitas saraf yang berfungsi sebagai analgesik dari terapi rendam kaki air jahe, yang alami atau pereda nyeri. dibuktikan secara statistik dengan nilai pPenelitian lain yang dilakukan oleh value < 0,05, menandakan bahwa terapi ini Nurpratiwi. Hidayat, dan Putri . signifikan dalam membantu menurunkan mengungkapkan bahwa terapi rendam kaki tekanan darah pada pasien hipertensi. Terapi merendam kaki dengan air jahe dengan air hangat dan jahe memiliki berbagai manfaat, di antaranya dapat hangat bertujuan untuk memperlancar membantu menurunkan tekanan darah dan sirkulasi darah dan terbukti cukup efektif meredakan nyeri. Hal ini terjadi karena saat dalam membantu menurunkan tekanan partisipan menjalani terapi rendam kaki. Proses terapi ini dilakukan selama aliran darah menjadi lebih lancar, otot-otot 15 menit. Air hangat sendiri memberikan menjadi lebih rileks, stres berkurang, serta efek fisiologis yang positif bagi tubuh, tubuh terasa hangat. Efek ini juga terutama dalam memperbaiki aliran darah. merangsang keluarnya keringat, yang Terapi ini praktis dan dapat dilakukan kapan saja di rumah (Sari & Effendy, kenyamanan dan relaksasi tubuh. Temuan dalam penelitian ini juga diperkuat oleh studi yang dilakukan oleh KESIMPULAN DAN SARAN Bunda dan rekan-rekan . berjudul Setelah dilakukan intervensi, klien AuPengaruh Terapi Rendam Kaki dengan (Tn. B) menunjukkan perkembangan Air Jahe Hangat terhadap Penurunan Klien menyatakan telah memahami Tekanan Darah pada HipertensiAy. Dalam penjelasan yang diberikan oleh perawat literature review tersebut, artikel-artikel dan berkomitmen untuk rutin melakukan dikumpulkan melalui Google Scholar kontrol kesehatan, dengan didampingi oleh dengan rentang tahun 2018Ae2020. Strategi Klien juga melaporkan bahwa pencarian menggunakan kata kunci seperti tekanan darahnya menurun, tubuh terasa hipertensi, penurunan tekanan darah, dan lebih rileks, serta keluhan sakit kepala dan terapi rendam kaki dengan air jahe hangat. rasa berat di tengkuk mulai mereda. Secara Dari hasil pencarian, ditemukan 5 jurnal yang memenuhi kriteria inklusi, dengan kondisinya, tidak lagi terlihat bingung. Vol. 10 No. 1 Juni 2025 Jurnal Kesehatan Ilkmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) tampak lebih tenang, dan mulai menerapkan saran-saran yang diberikan oleh perawat. Tekanan Darah (TD): 130/90 mmHg. Nadi (N): 89 kali/menit. Frekuensi Napas (RR): 20 kali/menit. Suhu (S): 36,3AC dengan masalah telah teratasi dan planning: lanjutkan intervensi yang telah diberikan dan pertahankan kondisi klien yang sudah membaik. , dorong klien untuk tetap melanjutkan pengobatan ke fasilitas pelayanan Kesehatan, anjurkan klien untuk terus menjaga kesehatan secara mandiri. sarankan untuk rutin melakukan terapi rendam kaki menggunakan air hangat dan Hasil ini diharapkan dapat menjadi referensi atau pertimbangan bagi rekan sejawat perawat dalam menentukan tindakan keperawatan, termasuk dalam penerapan terapi komplementer seperti terapi rendam kaki dengan air hangat dan jahe pada pasien hipertensi. serta dapat diaplikasikan secara praktis dan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. REFERENSI