PARADOKS Jurnal Ilmu Ekonomi Vol. 9 No. 3, 2026 e-ISSN : 2622-6383 Pengaruh Current Ratio. Debt to Asset Ratio, dan Debt to Equity Ratio Terhadap Profitabilitas pada Perusahaan Telekomunikasi yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2020-2024 Oktavia 1. Ari Agung Nugroho 2. Darman Saputra 3 oktaviaoktaav@gmail. com1, ari-nugroho@ubb. id2, darman-saputra@ubb. Program Studi Manajemen. Universitas Bangka Belitung. Indonesia 1,2,3 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh likuiditas dan solvabilitas terhadap profitabilitas pada sektor telekomunikasi Indonesia yang bersifat padat modal . apital intensiv. Selama periode 2020Ae2024, industri telekomunikasi menghadapi dinamika pemulihan ekonomi pascapandemi yang memengaruhi stabilitas rasio keuangan perusahaan. Variabel independen yang digunakan adalah Current Ratio (CR). Debt to Asset Ratio (DAR), dan Debt to Equity Ratio (DER), dengan Return on Asset (ROA) sebagai variabel dependen. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif asosiatif dengan teknik purposive sampling, menghasilkan 10 perusahaan sampel dengan total 200 observasi berbasis data laporan keuangan kuartalan. Analisis data menggunakan regresi data panel melalui EViews 13, di mana hasil pemilihan model terbaik melalui Uji Chow dan Uji Hausman menunjukkan Fixed Effect Model (FEM) sebagai model yang paling sesuai. Hasil penelitian secara parsial menunjukkan bahwa CR tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA . 0,8. DAR tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA . 0,4. , sedangkan DER berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA . 0,0. Secara simultan, ketiga variabel berpengaruh signifikan terhadap ROA dengan nilai Adjusted R-Squared sebesar 54,97%. Temuan ini menyarankan manajemen perusahaan untuk melakukan restrukturisasi modal guna menjaga tingkat DER tetap optimal demi keberlanjutan profitabilitas. Kata Kunci: Current Ratio. Debt to Asset Ratio. Debt to Equity Ratio. Profitabilitas. Return on Asset. Perusahaan Telekomunikasi. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Pendahuluan Industri telekomunikasi di Indonesia merupakan sektor strategis yang berperan vital dalam mendukung pertumbuhan ekonomi digital dan konektivitas nasional. Sektor ini tidak hanya berfungsi sebagai penyedia layanan komunikasi dasar, tetapi juga menjadi fondasi bagi kemajuan perdagangan elektronik dan berbagai layanan digital lainnya (Ramli, 2. Perusahaan-perusahaan telekomunikasi dituntut untuk terus berinovasi dan beradaptasi dengan dinamika pasar yang sangat kompetitif, khususnya dalam mengelola struktur keuangannya di tengah karakteristik industri yang bersifat padat modal . apital intensiv. Pemilihan periode 2020Ae2024 didasarkan pada pertimbangan bahwa rentang waktu tersebut merepresentasikan fase yang dinamis, dimulai dari masa pandemi COVID19 yang meningkatkan kebutuhan layanan data dan konektivitas digital, hingga periode pemulihan ekonomi dan percepatan transformasi digital pascapandemi. Kondisi ini menyebabkan perubahan signifikan pada pola penggunaan jaringan, kebutuhan investasi Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 49 infrastruktur, serta kebijakan pendanaan perusahaan telekomunikasi (Brigham & Houston. Berdasarkan data empiris perusahaan telekomunikasi yang terdaftar di BEI periode 2020Ae2024, terdapat dinamika yang nyata pada aspek likuiditas, solvabilitas, dan Current Ratio (CR) mengalami tren penurunan konsisten dari 86,80% pada 2020 menjadi 62,96% pada 2024. Debt to Asset Ratio (DAR) meningkat bertahap dari 50,51% menjadi 60,25%. Debt to Equity Ratio (DER) berfluktuasi namun stabil di kisaran 145Ae160%. Sementara itu. Return on Asset (ROA) berfluktuasi dari 2,34% pada 2020 turun ke 0,73% pada 2021, kemudian meningkat pada 2022Ae2023, dan kembali menurun menjadi 1,28% pada Dinamika ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara kebijakan likuiditas, strategi pendanaan, dan hasil profitabilitas yang perlu dikaji secara empiris. Penelitian terdahulu menunjukkan inkonsistensi hasil mengenai pengaruh CR. DAR, dan DER terhadap ROA. (Syafitri & Rutlan, 2. menemukan CR tidak berpengaruh signifikan, sementara DAR berpengaruh negatif signifikan. (Lukito & Hasanudin, 2. menemukan hasil serupa. Di sisi lain, (Nadhifa & Budiyanto, 2. justru menemukan CR berpengaruh positif signifikan terhadap profitabilitas. Inkonsistensi ini menunjukkan bahwa hubungan antara rasio keuangan dan profitabilitas bersifat kontekstual dan dipengaruhi oleh karakteristik industri yang diteliti. Kesenjangan penelitian tersebut menunjukkan bahwa belum ada kajian komprehensif yang secara khusus menganalisis ketiga rasio ini pada sektor telekomunikasi Indonesia menggunakan data kuartalan pasca-pandemi. Penelitian ini hadir untuk mengisi kekosongan tersebut dengan menggunakan 200 observasi data kuartalan periode 2020Ae 2024, yang jauh lebih komprehensif dibandingkan penelitian sebelumnya. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Current Ratio (CR). Debt to Asset Ratio (DAR), dan Debt to Equity Ratio (DER) terhadap profitabilitas yang diukur dengan Return on Asset (ROA), baik secara parsial maupun simultan, pada perusahaan telekomunikasi yang terdaftar di BEI periode 2020Ae2024. Trade-Off Theory (Kraus & Litzenberger, 1. menjadi landasan teoritis utama penelitian ini, yang menyatakan bahwa perusahaan menyeimbangkan manfaat tax shield dari utang dengan biaya financial distress. Teori ini menjelaskan mengapa penggunaan utang yang berlebihan, yang tercermin dalam nilai DER dan DAR yang tinggi, dapat berdampak negatif terhadap profitabilitas. Sementara itu, hubungan CR dengan ROA dijelaskan melalui konsep trade-off antara likuiditas dan profitabilitas (Horne & Wachowicz, 2. , di mana CR yang terlalu tinggi dapat mencerminkan aset lancar yang menganggur dan tidak produktif sehingga menekan ROA. Metode Analisis Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif asosiatif untuk menguji pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen secara statistik. Populasi penelitian adalah 22 perusahaan telekomunikasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2020Ae2024. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria: . perusahaan telekomunikasi yang terdaftar di BEI. menyajikan laporan keuangan kuartalan secara lengkap selama 2020Ae2024. laporan keuangan disajikan dalam satuan rupiah. Berdasarkan kriteria tersebut diperoleh 10 perusahaan Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 50 Tabel 1. Sampel Penelitian No. Kode Perusahaan GHON GOLD TLKM ISAT LINK CENT BALI TOWR JAST EXCL Nama Perusahaan Gihon Telekomunikasi Indonesia Visi Telekomunikasi Infrastruktur Tbk Telkom Indonesia (Perser. Tbk. Indosat Tbk. Link Net Tbk. Centrama Telekomunikasi Indonesia Bali Towerindo Sentra Tbk. Sarana Menara Nusantara Tbk. Jasnita Telekomindo Tbk. XLSMART Telecom Sejahtera Sumber: w. id, 2026 Penelitian ini menggunakan data kuartal selama 5 tahun pengamatan . 0Ae2. , sehingga setiap perusahaan menghasilkan 20 titik data . kuartal y 5 tahu. , dan total observasi sebesar 200. Data bersumber dari laporan keuangan yang dipublikasikan di Variabel independen terdiri dari: . Current Ratio (CR) = Aset Lancar / Utang Lancar y 100%. Debt to Asset Ratio (DAR) = Total Utang / Total Aset y 100%. Debt to Equity Ratio (DER) = Total Utang / Total Ekuitas y 100%. Variabel dependen adalah profitabilitas yang diukur dengan Return on Asset (ROA) = Laba Bersih Setelah Pajak / Total Aset y 100%. Teknik analisis data menggunakan regresi data panel dengan perangkat lunak EViews 13. Sebelum analisis regresi, dilakukan transformasi logaritma terhadap variabel CR. DAR, dan DER (LOGCR. LOGDAR. LOGDER) untuk memenuhi asumsi normalitas. Pemilihan model regresi data panel dilakukan melalui dua tahap pengujian: Uji Chow untuk memilih antara Common Effect Model (CEM) dan Fixed Effect Model (FEM), serta Uji Hausman untuk memilih antara FEM dan Random Effect Model (REM). Uji asumsi klasik mencakup uji normalitas (Jarque-Ber. , uji multikolinearitas (VIF), dan uji heteroskedastisitas (White tes. Pengujian hipotesis dilakukan melalui Uji F . Uji T . , dan koefisien determinasi (Adjusted RA). Hasil dan Pembahasan Hasil Penelitian Statistik Deskriptif Tabel 2. Statistik Deskriptif Mean Median Maximum Minimum Std. Dev. Skewness Kurtosis LOGCR LOGDAR LOGDER ROA Jarque-Bera Probability Sum Sum Sq. Dev. Observations Sumber: Data diolah, 2026 Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 51 Berdasarkan Tabel 2, variabel LOGCR memiliki nilai rata-rata 4,001 dengan standar deviasi 0,838. LOGDAR memiliki rata-rata 3,827 dengan standar deviasi 0,679. LOGDER memiliki rata-rata 4,656 dengan standar deviasi 1,026. ROA memiliki rata-rata 1,445% dengan nilai minimum -29,430% dan maksimum 12,300%, mencerminkan variasi kinerja profitabilitas yang sangat besar antar perusahaan telekomunikasi selama periode Pemilihan Model dan Uji Asumsi Klasik Tabel 3. Hasil Pemilihan Model Regresi Data Panel Uji Prob. Keputusan Uji Chow 0,0000 FEM terpilih vs CEM Uji Hausman 0,041 FEM terpilih vs REM Model Final Ae Fixed Effect Model (FEM) Sumber: Data diolah, 2026 Berdasarkan Tabel 3. Uji Chow menghasilkan probabilitas 0,0000 < 0,05 sehingga FEM terpilih dibandingkan CEM. Uji Hausman menghasilkan probabilitas 0,041 < 0,05 sehingga FEM kembali terkonfirmasi sebagai model final. Hasil uji asumsi klasik menunjukkan bahwa seluruh asumsi terpenuhi: data residual berdistribusi normal (Jarque-Bera prob. = 0,1005 > , tidak terdapat multikolinearitas . eluruh VIF < . , dan tidak terdapat heteroskedastisitas . eluruh prob. White test > 0,. Hasil Regresi Data Panel (FEM) Tabel 4. Hasil Estimasi Fixed Effect Model Variable LOGCR LOGDAR LOGDER R-squared Adjusted R-squared Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. Sumber: Data diolah, 2026 Berdasarkan Tabel 4, persamaan regresi yang terbentuk adalah: ROA = 20,671 Ae 0,096 LOGCR 0,630 LOGDAR Ae 4,564 LOGDER. Nilai Adjusted R-Squared sebesar 54,97% menunjukkan bahwa ketiga variabel independen mampu menjelaskan 54,97% variasi ROA, sedangkan 45,03% sisanya dijelaskan oleh variabel lain di luar model. Pembahasan Pengaruh Current Ratio (CR) terhadap ROA. Berdasarkan hasil Uji T. CR memperoleh nilai probabilitas sebesar 0,8378 yang lebih besar dari 0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa CR tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA, sehingga H1 diterima. Kondisi ini sesuai dengan karakteristik industri telekomunikasi yang bersifat padat modal, di mana perusahaan lebih berfokus pada pengelolaan aset tetap berupa infrastruktur jaringan sehingga perubahan aset lancar tidak berdampak langsung pada profitabilitas. CR yang terlalu tinggi justru dapat mencerminkan aset lancar yang menganggur dan tidak dimanfaatkan secara produktif, sehingga menurunkan profitabilitas akibat tingginya opportunity cost (Weston & Copeland, 2. Hasil ini konsisten dengan temuan (Syafitri & Rutlan, 2. dan (Istiqomah et al. , 2. , yang menunjukkan CR tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA. Pengaruh Debt to Asset Ratio (DAR) terhadap ROA. Variabel DAR memperoleh nilai probabilitas sebesar 0,4566 yang lebih besar dari 0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa DAR tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA, sehingga H2 diterima. Tidak signifikannya DAR dapat dijelaskan karena dalam industri telekomunikasi yang padat modal, penggunaan Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 52 utang untuk membiayai investasi infrastruktur merupakan strategi yang sudah terkalkulasi dan menjadi bagian integral dari kebijakan pendanaan perusahaan (Ross et al. , 2. Hal ini sesuai dengan Trade-Off Theory di mana perusahaan mampu menyeimbangkan manfaat tax shield dengan biaya financial distress sehingga perubahan nilai DAR tidak menghasilkan dampak signifikan terhadap ROA. Hasil ini konsisten dengan (Alfiani, 2. dan (Saragih, 2. Pengaruh Debt to Equity Ratio (DER) terhadap ROA. Variabel DER memperoleh nilai t-Statistic sebesar -5,263 dengan probabilitas 0,0000 yang lebih kecil dari 0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa DER berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA, sehingga H3 Arah pengaruh negatif bermakna semakin tinggi DER, semakin rendah ROA yang dicapai perusahaan. Hal ini disebabkan oleh tingginya beban bunga yang harus ditanggung akibat besarnya proporsi utang terhadap ekuitas, sehingga menekan laba bersih dan ROA (Husnan & Pudjiastuti, 2. Dalam sampel penelitian ini, perusahaan seperti EXCL. ISAT. TOWR, dan CENT mencatatkan DER yang sangat tinggi . Ae531%) sepanjang 2020Ae2024, sehingga beban bunga terbukti menekan ROA secara signifikan. Hasil ini konsisten dengan (Shidqi et al. , 2. serta (Chandra et al. , 2. yang menunjukkan DER berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA. Pengaruh Simultan CR. DAR, dan DER terhadap ROA. Berdasarkan Uji F, nilai F-statistic sebesar 21,250 dengan probabilitas 0,0000 < 0,05 menunjukkan bahwa CR. DAR, dan DER secara simultan berpengaruh signifikan terhadap ROA, sehingga H4 diterima. Meskipun secara parsial hanya DER yang signifikan, kombinasi ketiga variabel secara bersama-sama memberikan pengaruh yang bermakna terhadap profitabilitas. Hal ini sesuai dengan pandangan bahwa profitabilitas merupakan hasil interaksi kompleks antara pengelolaan likuiditas dan struktur modal (Brigham & Houston, 2. Hasil ini konsisten dengan (Anggereni & Asnahwati, 2. , (Syafitri & Rutlan, 2. , (Lukito & Hasanudin, 2. , serta (Istiqomah et al. , 2. yang membuktikan bahwa kombinasi rasio likuiditas dan solvabilitas secara simultan berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas. Simpulan dan Saran Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa: . Current Ratio (CR) tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA secara parsial . 0,8378 > , sehingga H1 diterima. Debt to Asset Ratio (DAR) tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA secara parsial . 0,4566 > 0,. , sehingga H2 diterima. Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA . 0,0000 < 0,05. = -4,. , sehingga H3 diterima. CR. DAR, dan DER secara simultan berpengaruh signifikan terhadap ROA (F-stat = 21,250. = 0,0. dengan Adjusted R-Squared sebesar 54,97%, sehingga H4 diterima. Temuan penelitian ini memberikan kontribusi empiris bahwa pada industri telekomunikasi Indonesia yang bersifat padat modal. DER merupakan faktor determinan utama profitabilitas. Tingginya dominasi utang terhadap ekuitas terbukti menekan kemampuan perusahaan menghasilkan laba. Implikasi manajerial dari penelitian ini adalah perusahaan telekomunikasi perlu melakukan restrukturisasi modal secara bertahap untuk menjaga DER pada tingkat yang optimal. Bagi investor, nilai DER hendaknya menjadi perhatian utama dalam proses analisis sebelum pengambilan keputusan investasi. Penelitian ini memiliki keterbatasan pada penggunaan tiga variabel independen yang hanya mampu menjelaskan 54,97% variasi ROA. Peneliti selanjutnya disarankan untuk menambahkan variabel seperti Total Asset Turnover (TATO). Net Profit Margin (NPM), atau ukuran perusahaan. memperluas periode penelitian dan jumlah sampel. mempertimbangkan penggunaan variabel moderasi seperti kondisi makroekonomi . ingkat suku bunga dan inflas. untuk memperdalam pemahaman mengenai mekanisme pengaruh rasio keuangan terhadap profitabilitas perusahaan telekomunikasi. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 53 Ucapan Terimakasih Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Ari Agung Nugroho. MBA selaku Pembimbing Utama dan Bapak Darman Saputra. Sc. selaku Pembimbing Pendamping atas bimbingan, arahan, dan masukan yang sangat berarti dalam penyelesaian penelitian ini. Terima kasih juga kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bangka Belitung atas dukungan fasilitas dan akademis yang diberikan. Referensi